BAB FOUR (Riots in class)

Suasana di koridor utama sekolah masih terasa hening dan mencekam setelah kepergian Zaky dan geng Chaos Killer—Bima, Mikail, Jordan, Omile, dan Narendra. Aza masih terpaku di tempatnya berdiri, jemarinya terkepal kuat di balik rok seragamnya, berusaha menetralkan detak jantungnya yang berpacu tak karuan. Rasa marah bercampur kaget masih memenuhi pikirannya.

"Duh, dasar cowok menyebalkan! Apa sih masalahnya dia sampai bicara seenaknya gitu?" gerutunya dalam hati, mencoba menenangkan diri. "Aza, kamu putri Alveric. Jangan hancurkan prinsipmu cuma karena orang gak jelas kayak dia."

Dengan langkah tegap meski hatinya masih bergemuruh, Aza akhirnya melanjutkan langkahnya menuju ruang guru. Setelah mengurus administrasi dan menerima buku paket, Pak Hermansyah—Kepala Sekolah yang berwibawa itu—memintanya untuk segera masuk ke kelas karena pelajaran sebentar lagi akan dimulai.

"Azalia, selamat datang di STPI. Saya harap kamu bisa beradaptasi dengan baik dan menjaga nama baik sekolah maupun keluargamu," ucap Pak Hermansyah ramah namun tegas.

"Terima kasih, Pak. Saya akan berusaha semaksimal mungkin," jawab Aza sopan, membungkuk sedikit sebelum akhirnya keluar dari ruangan itu menuju kelas XI-IPA.

 

Sesampainya di depan pintu kelas, suasana yang tadinya riuh rendah seketika menjadi hening. Semua mata tertuju padanya. Aza mengetuk pintu pelan, lalu masuk dengan gaya berjalan yang sangat anggun, membuat semua orang terpana melihat kecantikannya yang luar biasa.

"Permisi, selamat pagi semuanya. Perkenalkan nama saya Azalia Senjanafea Gralind Alveric, panggil saja Aza. Saya murid pindahan dari Jerman. Senang bertemu dengan kalian," ucapnya dengan suara yang lembut namun jelas, disertai senyum tipis yang sangat manis namun tetap menjaga jarak.

Seluruh kelas terdiam sesaat, takjub dengan aura yang dipancarkan gadis di depan mereka.

"Wah, cantik banget sumpah..."

"Suaranya lembut banget, kayak putri keraton..."

"Silakan duduk di tempat yang kosong, Aza," kata guru yang sedang mengajar.

Aza mengangguk patuh. Matanya mengedar mencari kursi kosong. Tiba-tiba, seorang cowok berkacamata dengan penampilan rapi dan sopan berdiri dari bangku depannya dan menghampirinya.

"Halo, Aza. Gue Kenzo, ketua kelas di sini. Kalau mau duduk di sebelah gue gapapa kok, itu kosong, atau mau duduk dengan putri, juga gapapa" kata cowok itu ramah sambil tersenyum hangat.

Aza tersenyum balik, "Oh, terima kasih banyak, Kenzo. Tapi mungkin aku duduk bersama putri saja."

Aza pun duduk di sebelah Putri.

"Halo Aza, aku Putri Andriani, panggil saja aku Putri ". Sapa Putri.

"Oh, hai. Aku Aza".

Tidak lama kemudian, bel istirahat berbunyi. Baru saja Aza hendak merapikan bukunya, tiba-tiba lima orang gadis dengan gaya yang sangat stylish dan cantik mendekatinya dengan antusias. Itu adalah Geng Gril Slayy Beautifull.

"Eh, lo Aza kan?! Gila, gila! Cantiknya beneran asli kayak di cerita dongeng ya!" seru Jessi Alexandria yang paling ceria.

"Gue Jessi, ini Naymil Zhaviriana, Angelin Casandra, Nian Dewistami, sama Putri Andriani, yang duduk disebelah lo. Pasti udah kenalan lah ya. Senang banget akhirnya ada anggota baru yang secakep lo!" sambung Jessi bersemangat.

Aza terkejut tapi senang, ternyata tidak semua orang di sini menatapnya sinis. "Halo... aku Aza. Senang banget kenalan sama kalian."

"Woi, jangan pada kerubutin dong, kasian orangnya," cewek bernama Angelin menepuk bahu teman-temannya pelan. "Santai aja Za, di sini lo aman sama kita. Siapa yang berani ganggu lo, urus sama kita!" tambahnya sambil berkedip menggoda.

Aza tertawa kecil, merasa sedikit lega. Ternyata mendapatkan teman baru tidak sesulit yang dia bayangkan. Namun, kebahagiaannya itu tidak berlangsung lama. Tiba-tiba suasana kelas menjadi sedikit mencekam lagi.

Masuklah seorang gadis dengan dandanan yang sangat mencolok, wajahnya cantik tapi tatapannya tajam dan penuh dominasi. Di belakangnya ada dua cewek lain yang tampak mengikutinya setia. Itu adalah Jasmine Azarasya, Yoona, dan Zeline—Geng Quintessons.

Jasmine berjalan santai tapi penuh percaya diri menuju meja Aza. Matanya menatap Aza dari ujung kaki sampai ke ujung kepala dengan tatapan menilai yang sangat tidak suka.

"Oh, jadi ini ya murid baru yang bikin heboh satu sekolah pagi ini?" suara Jasmine terdengar manja tapi menusuk. "Hai, gue Jasmine. Dan lo harus ingat baik-baik satu hal..."

Jasmine mendekatkan wajahnya ke arah Aza, "Zaky Gavindra itu pacar gue. Jadi jangan harap lo bisa main mata atau bikin muka manis di depan dia kayak yang lo lakuin tadi di koridor. Ngerti? Lo pikir cuma karena lo cantik dan kaya, lo bisa rebut apa yang jadi milik gue?"

Jessi dan teman-temannya langsung siap siaga, "Heh Jas, jangan sembarangan ya! Baru dateng langsung ngegas!" seru Naymil.

Tapi Aza tidak terlihat takut sedikitpun. Dia menatap mata Jasmine tenang, "Saya tidak punya niat apa-apa dengan siapa pun di sini, termasuk pacar kamu. Saya datang ke sini untuk belajar, bukan untuk merebut apa yang bukan milik saya. Jadi tolong jangan menuduh seenaknya."

Jawaban Aza yang dingin dan tegas membuat Jasmine terkejut. Tidak biasanya ada orang yang berani melawannya. "Hah! Berani banget ya lo ngomong gitu?! Lo kira lo siapa?! Cuma anak pindahan doang! Gue ingetin ya, mantan-mantan Zaky kayak Nala, Alina, Kemala, Noomi, sama Rina aja pada gak berani macam-macam sama gue, apalagi lo!"

"Cukup, Jasmine!"

Tiba-tiba sebuah suara berat dan berwibawa memecah keributan itu. Semua orang menoleh ke pintu. Berdiri di sana seorang pemuda tampan dengan postur tinggi besar, mengenakan jas OSIS yang rapi. Itu adalah Keanu Dominic Cassarius, Ketua OSIS yang terkenal sangat adil dan disegani bahkan oleh guru-guru sekalipun.

"Di kelas jangan ribut. Kalau ada masalah selesaikan dengan baik-baik. Aza adalah murid baru, hargai dia," ucap Keanu tegas tanpa menatap siapa-siapa secara khusus, tapi auranya membuat Jasmine mundur perlahan dengan kesal.

Keanu lalu menoleh ke arah Aza, senyum tipis terukir di bibirnya, "Selamat datang, Aza. Kalau ada apa-apa di sekolah ini, bisa lapor ke saya atau ke pengurus OSIS."

Aza mengangguk hormat, "Terima kasih, Kak Keanu."

Setelah Keanu pergi, Jasmine mendengus kesal, "Huft, dasar sok suci! Gue peringatin sekali lagi ya Aza, hati-hati!" katanya lalu pergi diikuti Yoona dan Zeline.

Siang harinya, saat jam pelajaran Olahraga di lapangan yang diasuh oleh Pak Budi, suasana kembali menjadi tontonan menarik. Tidak jauh dari situ, terlihat Zaky sedang duduk santai di atas bangku panjang bersama geng Chaos Killer. Mereka tampak tidak peduli dengan pelajaran, sibuk dengan dunia mereka sendiri, tapi mata Zaky sesekali melirik ke arah barisan tempat Aza berdiri.

"Bro, itu cewek baru yang lo omongin tadi pagi ya? Cantik sih, tapi mukanya kaku banget kayak patung," celetuk Bima Aditya sambil tertawa.

"Udah biasa kali, orang kaya baru. Pasti manja," tambah Jordan.

Zaky tidak menjawab, hanya menyipitkan matanya. Dia melihat bagaimana Aza bergerak. Gadis itu terlihat sangat disiplin, mengikuti instruksi Pak Budi dengan sempurna, berbeda dengan cewek-cewek lain yang kadang bermalas-malasan. Bahkan saat Bu Kirana (Guru Matematika) atau Bu Sukma (Guru IPA) lewat, Aza selalu menyapa dengan sopan santun yang sangat terlatih.

"Ternyata bukan cuma manis doang, otaknya juga kelihatan encer ya..." gumam Zaky dalam hati. Tapi ingatan bagaimana Aza menatapnya tajam tadi pagi membuatnya kesal sekaligus penasaran.

Tiba-tiba dari arah sebaliknya, muncul sekelompok cowok lain yang tidak kalah keren dan garang. Mereka adalah Boy Squadron—Angkasa, Daren, Daniel, dan Gibran. Mereka berjalan melewati kelompok Zaky. Terjadi tatapan tajam antara kedua kubu. Mereka adalah rival abadi di sekolah ini.

"Lihat tuh, si Zaky lagi natap cewek baru. Hati-hati bro, nanti lo kalah saing lagi sama si Zaky, kasa," ucap Daren dengan nada mengejek saat lewat.

Mikail langsung berdiri, "Woy! Lo cari masalah hah?!"

"Duduk, Mikail," Zaky menahan temannya dengan satu kata, tatapannya tajam menatap punggung Angkasa yang menjauh. "Biarin aja. Mereka cuma sampah yang pengen perhatian."

Sementara itu, di tengah lapangan, Aza merasa diperhatikan oleh banyak pihak. Dia tahu dia sedang menjadi sorotan. Dia tahu Zaky ada di sana, dia tahu Jasmine juga mengawasinya dari pinggir lapangan, dan dia tahu rival-rival Zaky juga memperhatikannya.

"Dunia ini ternyata lebih rumit dari yang aku bayangkan," batin Aza. "Tapi aku tidak boleh menyerah. Aku harus membuktikan kalau aku bisa berdiri sendiri di sini."

Saat istirahat kedua, Aza sempat bertemu dengan Bu Anita, Guru BK yang juga mengajar IPS. Bu Anita memanggilnya sebentar untuk menanyakan kondisi mentalnya.

"Gimana Aza? Sudah merasa betah? Jangan sungkan kalau ada masalah atau tekanan dari teman-teman, ya cerita sama Bu Anita," kata Bu Anita dengan wajah ramah.

"Alhamdulillah baik, Bu. Cuma... agak sedikit berbeda dengan lingkungan di Jerman. Tapi saya akan berusaha beradaptasi," jawab Aza jujur.

"Bagus kalau begitu. Ingat, sekolah ini memang isinya anak-anak dari keluarga terpandang, jadi ego mereka tinggi-tinggi. Kamu harus pintar-pintar menjaga diri. Terutama soal hubungan sama siswa lain..." Bu Anita tersenyum misterius, "Khususnya yang satu itu."

Aza tahu siapa yang dimaksud Bu Anita. Zaky.

Hari pertama ini terasa sangat panjang dan melelahkan bagi Aza. Banyak karakter yang sudah dia temui, banyak konflik yang mulai tercium baunya. Dari teman yang baik seperti Kenzo, Jessi dan gengnya, sampai musuh yang jelas terlihat seperti Jasmine dan geng Quintessons. Belum lagi drama persaingan antar geng cowok Chaos Killer dan Boy Squadron, serta sosok misterius Keanu yang tampak baik tapi menyimpan banyak hal.

Sore harinya, saat mobil mewah yang dikemudikan Pak Wahyu menjemputnya, Aza bersandar lemas di jok belakang. Dia mengeluarkan ponselnya, melihat foto keluarga besar Alveric—Mama Widya, Papa Samuel, dan adiknya Qila yang masih kecil.

"Qila... Mamah, Papah... Aza kangen," bisiknya pelan. "Tapi Aza janji, Aza bakal jadi yang terbaik di sini. Aza gak bakal bikin malu nama Alveric, walau ada orang sombong kayak Zaky Gavindra Fernandez di sana!"

Di tempat lain, di sebuah ruangan besar di gedung utama sekolah, Zaky sedang berdiri memandang keluar jendela kaca raksasa, melihat mobil Aza yang mulai melaju keluar gerbang sekolah.

"Aza... Azalia... Keluarga Alveric kan?" gumamnya pelan, jemarinya mengusap dagu. "Gua benci sama perempuan seperti lo. Liat aja, permainan baru dimulai. Lo pikir lo bisa seenaknya di sini? Gue bakal bikin lo tahu rasanya."

Namun, di sudut hatinya yang paling dalam, entah mengapa bayangan mata cokelat teduh dan wajah anggun gadis itu terus saja menghantuinya, membuatnya tidak bisa fokus.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!