Sinar matahari sudah mulai menerpa permukaan kolam renang apartemen yang ditempati putri sulung Alveric itu yang terletak di kawasan Flower. Azalia Senjanafea Gralind Alveric—telah bangun sejak pukul 05.30 pagi, seperti yang dia lakukan setiap hari. Meskipun dia cukup lelah karena memang kemarin dia baru sampai di Indonesia, setelah menempuh perjalanan panjang berjam-jam meninggalkan rumah besarnya di Jerman, tapi dia tetap menjalankan rutinitasnya dengan disiplin yang tinggi. Baginya, ketertiban dan kedisiplinan adalah hal yang tak bisa ditawar-tawar, sesuatu yang sudah ditanamkan orang tuanya sejak dia masih kecil, sebagai bagian dari tanggung jawab memegang nama besar keluarga Alveric yang dihormati di mana-mana.
Setelah berolahraga ringan di sekitar kolam renang, menyempatkan diri menghirup udara pagi yang segar meski sedikit berbeda dengan udara di negara dia itu, Jerman.
Aza masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Air yang mengalir terasa menenangkan, meski di dalam hatinya ada sedikit kegelisahan yang tak bisa dia sembunyikan sepenuhnya. Hari ini adalah hari pertama dia memulai segalanya dari nol, jauh dari orang-orang yang dia kenal, jauh dari zona nyamannya. Tapi dia berjanji pada dirinya sendiri, apa pun yang terjadi, dia akan menjalani semuanya dengan baik, tak akan mempermalukan nama baik keluarga yang sudah dijaga turun-temurun.
Setelah selesai bersiap, Aza berpakaian rapi dengan seragam sekolah yang sudah disiapkan pihak sekolah dan diatur sedemikian rupa oleh asisten dia selain Pak Wahyu supir dia, yaitu Biwan. Asisten pribadi di apartemen untuk Aza dari Mamah Papah dia.
Seragam berwarna krem dengan aksen biru tua itu terlihat sangat pas di tubuhnya, membuatnya tampak makin anggun dan berwibawa. Gaya berpakaiannya tetap elegan, seperti yang selalu dia tunjukkan di mana pun berada—tak berlebihan, tapi tetap memancarkan kualitas dan keturunan yang dia miliki. Tak lupa dia merapikan rambut panjangnya yang hitam mengkilap itu, disisir rapi dan diikat dengan pita kecil berwarna senada dengan seragamnya, lalu sedikit merias wajah dengan riasan yang sangat tipis, cukup untuk menonjolkan kecantikannya alami tanpa terlihat berlebihan—sesuai dengan ajaran keluarganya tentang tata krama dan penampilan yang pantas.
"Selamat pagi, Non Aza. Sarapan sudah disiapkan di ruang makan," sapa Biwan yang sudah menunggu di ambang pintu kamar, tersenyum lembut melihat penampilan majikannya yang cantik itu.
"Pagi, Biwan. Terima kasih banyak," jawab Aza dengan nada lembut namun tetap tegas, mencerminkan sikapnya yang sopan tapi tetap berwibawa, sebagaimana layaknya seorang putri keluarga terpandang.
Selama sarapan yang dihidangkan dengan rapi—mulai dari makanan khas Indonesia yang sudah dia pelajari sedikit demi sedikit, hingga makanan yang biasa dia santap di mansion—pikiran Aza melayang jauh ke sekolah barunya. STPI, atau School Tirta Persada Internasional, adalah sekolah yang sudah sering dia dengar namanya bahkan saat dia masih berada di Jerman. Sekolah itu terkenal bukan hanya karena fasilitasnya yang lengkap dan berkualitas internasional, tapi juga karena banyak menampung anak-anak dari keluarga terpandang, pejabat, hingga pengusaha sukses dari seluruh penjuru negeri. Tempat di mana dia harus memulai hidup baru, tempat di mana dia akan menempuh pendidikan selama beberapa tahun ke depan, jauh dari rumah dan semua yang dia kenal dan cintai.
Orang tuanya bilang ini semua untuk kebaikannya—untuk melatih kemandiriannya, memperluas wawasan, dan mengajari dia memahami berbagai budaya dan lingkungan yang berbeda. Bagi mereka, ini adalah langkah penting agar Aza tumbuh menjadi sosok wanita yang kuat, cerdas, dan mampu menghadapi apa pun tantangan hidup yang nanti akan datang. Tapi bagi Aza sendiri, saat ini semua itu hanya terasa sebagai satu tugas besar lain yang harus dia jalankan dengan sempurna, sama seperti hal-hal lain dalam hidupnya yang selalu dia selesaikan dengan hasil terbaik. Dia tak ingin ada celah sedikit pun yang bisa membuat orang lain menilai dia kurang baik, apalagi sampai merusak nama harum keluarga yang sudah dijaga begitu baik.
Tiba-tiba ingatan tentang Papanya, Samuel Hariando Alveric, muncul begitu saja di kepalanya. Aza teringat pesan tegas namun penuh kasih sayang Papah sebelum dia berangkat ke Indonesia.
"Aza, ingat ya Nak. Di mana pun kamu berada, jadilah seperti bunga teratai. Indah dilihat, tapi akarnya tetap kuat tertanam di dalam lumpur. Jangan biarkan lingkungan yang buruk mengubah prinsipmu, dan jangan pernah biarkan siapa pun meremehkanmu tanpa alasan yang jelas. Berdirilah tegak, karena kamu adalah pewaris nama Alveric."
Kalimat itu terngiang kembali, membuat dada Aza terasa sesak sekaligus membara. Ia mengeratkan genggaman pada sendok di tangannya. "Papah... Mamah... Aza janji, Aza gak bakal nangis, Aza gak bakal kelihatan lemah di sini. Aza bakal buktiin kalau Aza bisa berdiri sendiri," bisiknya lirih, menatap pantulan dirinya di cermin besar ruang makan.
Sesampainya di sekolah, suasana yang ramai dan penuh semangat langsung menyambutnya. Berbeda dengan sekolahnya di Jerman yang lebih tenang, tertib, dan setiap orang berjalan dengan langkah yang teratur, di sini terasa lebih hidup—banyak siswa yang berjalan bergerombol sambil bercanda riang, ada yang sibuk berdiskusi tentang pelajaran, ada juga yang hanya berdiri di koridor sambil mengobrol santai. Semua mata seketika tertuju padanya begitu langkah kakinya menginjakkan kaki di halaman sekolah. Kecantikannya yang menawan, kulitnya yang putih bersih, sorot mata coklatnya yang teduh, gaya berpakaiannya yang elegan dan rapi, serta aura ketenangan dan keteraturan yang begitu kuat terpancar dari dirinya membuat semua orang berhenti sejenak dan menatapnya dengan tatapan tak percaya.
"Siapa itu ya? Cantik banget, kayaknya bukan murid sini deh..." bisik seorang siswi pada temannya, matanya tak lepas dari sosok Aza.
"Iya ya, belum pernah lihat sebelumnya, kayaknya orang berada ya, atau mungkin orang luar negeri?" jawab temannya dengan nada kagum.
"Gila, cantiknya kayak putri banget. Kayak di film-film deh," tambah siswa lain yang juga ikut menatap.
Bisik-bisik kekaguman itu terdengar jelas di telinga Aza, tapi dia tak menghiraukannya sedikit pun. Sudah biasa baginya menjadi pusat perhatian di mana pun dia berada, jadi tatapan dan bisikan seperti itu tak akan mengganggu ketenangannya. Dia terus berjalan tegap dengan langkah yang teratur, pandangan lurus ke depan, menuju ruang guru untuk mengurus administrasi masuk dan bertemu dengan wali kelasnya.
"Haduh, masa iya sih, aku gak ada yang bimbing gitu. Masa harus jalan sendiri ke temu guru. Haduh, baru hari pertama aja begini...sangat heboh", ucap Aza ke dirinya sendiri.
Baru saja dia hendak melangkah menuju tangga utama yang mengarah ke lantai dua, tiba-tiba suara yang heboh tadi terdengar dari arah koridor di ujung sana, langsung hening sejenak.
"Tiba tiba banget langsung sepi, kenapa!", Aza menengok ke belakang.
Banyak siswa siswi yang ada di sana tiba tiba menyingkir, memberi jalan seolah orang yang datang itu adalah orang yang paling berkuasa di tempat itu.
Di sana, berjalan sekelompok 6 siswa laki-laki dengan gaya yang santai tapi tetap memancarkan wibawa yang tinggi, dan di barisan paling depan—berjalan dengan langkah yang mantap dan tatapan yang tajam, terdapat seorang pemuda yang membuat semua orang di sekitarnya seketika terdiam dan menatapnya dengan berbagai perasaan—ada yang kagum, ada yang takut, ada juga yang terpesona.
Wajah putihnya yang bersih, mata sipit khas keturunan Tionghoa yang dipadukan dengan warna biru langit yang langka dan memukau itu langsung dikenali Aza dari semua cerita yang sudah dia dengar sebelum datang ke sini. Itu dia—Zaky Gavindra Fernandez, putra tunggal pemilik sekolah ini, orang yang konon menjadi penguasa tak tertandingi di lingkungan sekolah ini. Sosok yang digambarkan orang-orang sebagai pemuda yang sangat cerdas, berbakat, sukses di usia yang masih sangat muda, tapi di sisi lain juga dikenal sangat nakal, suka bermain-main dengan perasaan wanita, dan memiliki sikap yang sangat dingin serta tak mudah didekati oleh siapa pun.
Sebenarnya, tanpa Aza sadari, sikap dingin dan kasar Zaky itu bukan tanpa alasan. Sejak kecil, Zaky tumbuh di lingkungan yang keras dan penuh tekanan. Sebagai pewaris tunggal kekayaan keluarga Fernandez, dia terbiasa melihat orang-orang di sekitarnya hanya mendekatinya karena uang atau status. Dia sering melihat perselingkuhan, kepura-puraan, dan permainan kekuasaan di dalam keluarganya sendiri. Hal itu membuatnya tumbuh menjadi pribadi yang tidak percaya pada ketulusan. Baginya, semua orang sama saja—munafik dan ingin mengambil keuntungan. Apalagi melihat Aza yang datang dengan gaya begitu sempurna, anggun, dan seolah-olah membawa dunia bersamanya, insting Zaky langsung berkata bahwa gadis ini pasti sama saja dengan yang lain—sombong, manja, dan sok suci. Itulah sebabnya dia langsung memasang tembok setinggi langit dan memilih menyerang terlebih dahulu sebelum diserang.
"Zaky Gavindra Fernandez, yang mamah ceritakan...dia...." ucap Aza dihati dia, sambil berpikir dan melihat sosok lelaki itu.
Saat mata mereka tak sengaja bertemu, senyum mengejek yang samar namun terasa menusuk seketika terbit di sudut bibir Zaky. Dia berhenti tepat di hadapan Aza, dengan jarak yang cukup dekat hingga membuat beberapa siswa di sekitarnya menahan napas, takut terjadi apa-apa. Tatapan mata birunya menatap tajam ke seluruh wajah Aza, seolah sedang menilai sosok gadis baru yang tiba-tiba menjadi pusat perhatian itu.
"Wah, tamu istimewa rupanya ya? Baru datang langsung bikin heboh satu sekolah," kata Zaky dengan nada bicara yang terdengar santai dan dingin tapi sarat dengan nada mengejek dan meremehkan, suaranya cukup keras hingga didengar oleh semua orang yang ada di sekitar mereka. "ingat baik-baik ya, Nona. Di sini aturannya gua yang buat, dan apa pun yang terjadi, gua yang paling berkuasa. Jangan harap lo bisa bertindak sesuka hati, berlagak semanis dan seanggun apa pun, seperti yang mungkin biasa lo lakukan di tempat asal lo."
Rasa kesal perlahan namun pasti merayap naik di hati Aza, menyelimuti ketenangannya yang selama ini selalu dia jaga dengan baik. Seumur hidupnya, tak pernah ada satu orang pun—entah itu teman, kenalan, bahkan orang yang lebih tua darinya—yang berani berbicara padanya dengan nada seperti ini, dengan nada yang meremehkan dan merendahkan martabatnya. Bagaimana bisa pemuda yang tampan, cerdas, dan memiliki segalanya ini bersikap begitu kasar, semena-mena, dan tak punya rasa hormat sama sekali pada orang lain? Padahal, selama ini dia selalu diajari untuk bersikap sopan, menghormati siapa pun tanpa memandang status atau kedudukan, dan menjaga sikap di mana pun berada.
Aza menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan emosi yang mulai meluap itu. Dia tak ingin terlihat lemah atau kehilangan kendali diri di depan orang banyak, apalagi di hari pertamanya di sekolah ini. Dengan tatapan yang tetap tenang, tegas, dan tak kalah tajam, dia menatap balik mata Zaky tanpa rasa takut sedikit pun.
"Maaf, sepertinya Anda salah paham besar," jawab Aza dengan nada lembut namun penuh ketegasan, suaranya terdengar jelas dan terdengar oleh semua orang di sekitar mereka. "Saya datang ke sini hanya untuk menuntut ilmu dan belajar, bukan untuk membuat keributan atau berlagak apa pun. Saya hanya akan melakukan apa yang seharusnya saya lakukan, sesuai dengan aturan sekolah yang berlaku dan norma kesopanan yang sudah saya pegang teguh sejak kecil. Tidak lebih, dan tentu saja tidak kurang. Saya takkan pernah melakukan hal-hal yang melanggar aturan atau merugikan orang lain, jadi tak ada alasan bagi siapa pun untuk melarang atau mengatur hidup saya dengan semena-mena."
Mendengar jawaban berani yang tak terduga itu, senyum di bibir Zaky malah semakin lebar—senyum yang terlihat indah mempesona, tapi terasa sangat dingin dan menusuk tulang. Selama ini, hampir tak ada satu pun orang yang berani menantang atau berbicara balik padanya dengan cara seperti itu, apalagi hanya seorang murid baru yang baru saja menginjakkan kaki di sekolah ini.
"Bagus sekali jawabannya," ucap Zaky pelan, tapi nadanya tetap penuh tekanan, matanya tak berkedip menatap tepat ke dalam mata coklat Aza. "Kita lihat saja nanti, Nona. Gua yakin, gak Lo akan mengerti siapa gua sebenarnya di sini, dan seberapa besar kekuasaan gua yang tak bisa lo lawan dengan kata-kata manis lo itu. Selamat datang di dunia yang baru, dan bersiaplah—karena hari-hari lo di sini takkan seindah dan semudah yang lo bayangkan."
Setelah mengucapkan kata-kata itu, Zaky melangkah pergi melewati sisi tubuh Aza dengan langkah yang mantap, diiringi teman-temannya Zaky yang masih menatap Aza dengan berbagai ekspresi. Semua orang mulai berbisik-bisik lagi, membicarakan apa yang baru saja terjadi, merasa tak percaya ada orang yang berani berhadapan langsung dengan Zaky yang dikenal sebagai sosok yang sulit didekati dan tak mau kalah itu.
Sementara itu, Aza masih berdiri di tempat yang sama, dadanya naik turun menahan amarah dan keterkejutan yang tiba-tiba menyerang hatinya. Rasa kesal, bingung, dan tak menyenangkan bercampur aduk menjadi satu di dalam dada. Hari pertamanya di sekolah baru—yang seharusnya menjadi awal yang indah, awal yang penuh harapan dan kesempatan untuk memulai lembaran baru dalam hidupnya—malah berubah menjadi hari yang paling tidak diinginkannya, hari yang meninggalkan kesan buruk yang begitu dalam sejak detik pertama dia menginjakkan kaki di sini.
Dan yang paling menyebalkan dari semuanya, di lubuk hatinya yang paling dalam, dia tahu betul—ini baru permulaan. Masih banyak hal yang akan dia hadapi, masih banyak kejadian tak terduga yang menantinya, dan dia harus bersiap menghadapi sosok pemuda dingin dan semena-mena itu setiap harinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 20 Episodes
Comments