BAB FIVE (Badai yang tak terlihat)

Bagi Zaky, tipe perempuan seperti Aza adalah tipe yang PALING DIA BENCI.

Dia benci cewek yang kelihatan suci, rapi, sopan, dan seolah-olah tidak punya dosa. Baginya itu semua hanyalah kepura-puraan belaka yang menjijikkan. Aza terlalu sempurna, terlalu teratur, terlalu anggun, dan itu... membuat dada Zaky terasa sesak luar biasa.

Zaky adalah tipe orang yang obsesinya akan ketertiban dan kebersihan sudah mencapai tahap yang tidak wajar. Segala sesuatu di sekitarnya harus rapi, harus simetris, harus bersih, dan harus sesuai dengan keinginannya. Kalau ada sedikit saja yang berantakan, pikirannya akan langsung kacau, jantungnya berdebar kencang, dan dia bisa kehilangan kendali atas emosinya. Dia benci hal-hal yang tidak pasti, dan dia benci hal-hal yang tidak bisa dia kendalikan.

Dan Aza? Aza adalah variabel baru yang tidak bisa dia prediksi. Aza datang dengan caranya sendiri, menatapnya dengan tatapan yang tidak takut, tidak juga tergila-gila seperti cewek-cewek lain. Itu membuat Zaky gelisah. Itu membuat dunianya yang selama ini dia bangun dengan susah payah terasa mulai goyah.

"Kenapa sih lo beda?!" geram Zaky pelan, kepalanya terasa berdenyut nyeri hebat. "Kenapa lo gak manis-manis kayak cewek lain? Kenapa lo berani nentang gue? Lo pikir dengan gaya sok suci lo itu, lo bisa dapetin apa yang lo mau? Gue tau lo sama aja kayak yang lain! Palsu! Semuanya palsu!"

Rasa sakit dan panik mulai menjalar dari ulu hati ke seluruh tubuhnya. Tangan Zaky mulai dingin dan berkeringat dingin. Napasnya terasa sedikit memendek, seolah-olah ada beban berat yang menekan dadanya, membuatnya sulit untuk bernapas dengan lega.

Dia tahu betul tanda-tanda ini. Serangan kecemasan itu mulai datang. Pikirannya yang terlalu sibuk bekerja mulai memutar bayangan-bayangan buruk, membayangkan kekacauan, membayangkan pertengkaran, membayangkan segala hal yang bisa saja salah terjadi.

Dengan gerakan cepat dan sedikit gemetar, Zaky merogoh saku dalam jaket kulitnya yang mahal. Di sana, terselip sebuah botol kecil berwarna gelap yang berisi pil-pil bulat berwarna putih dan biru.

Obat penenang.

Itu adalah satu-satunya teman setianya selain sahabat-sahabatnya. Obat itulah yang menahan badai di kepalanya agar tidak meledak. Obat itulah yang membuatnya bisa terlihat tenang dan dingin di depan semua orang. Tanpa obat ini, Zaky tahu dirinya mungkin sudah hancur berantakan sejak lama, tertindas oleh tekanan dan pikirannya sendiri yang terlalu aktif dan mencemaskan segalanya.

Zaky menuangkan satu butir pil kecil ke telapak tangannya, lalu langsung menelannya mentah-mentah. Rasa pahit langsung menyebar di lidah, tapi dia tidak peduli. Dia butuh ketenangan. Dia butuh dunianya kembali rapi dan terkendali seperti sediakala.

 

RAHASIA BESAR YANG TAK ADA YANG TAHU

Di sekolah sebesar dan sekeren STPI ini, ada banyak sekali orang yang mengaku mengenal Zaky Gavindra Fernandez.

- Para Guru, termasuk Bu Anita yang seharusnya ahli dalam membaca kondisi mental murid, mereka hanya melihat Zaky sebagai siswa yang cerdas, kaya, tapi bermasalah dalam sikap dan perilaku. Mereka pikir Zaky itu kuat, sekuat baja, dan tidak punya kelemahan apa-apa. Mereka tidak pernah menyangka bahwa di balik wajah tampan dan angkuh itu, tersimpan jiwa yang rapuh yang terus-menerus disiksa oleh pikirannya sendiri. Mereka mengira sikap dingin Zaky hanyalah masa pemberontakan remaja biasa. Mereka salah besar. Mereka tidak tahu apa-apa tentang perjuangan Zaky setiap harinya.

- Para Siswa, para penggemar, bahkan mantan-mantan pacarnya seperti Noomi, Alina, Rina, Kemala, Nala, atau bahkan pacarnya saat ini Jasmine—mereka semua hanya melihat sisi "Raja" dari Zaky. Mereka melihat dia yang galak, dia yang playboy, dia yang berkuasa dan memiliki segalanya. Mereka tidak tahu apa-apa tentang apa yang sebenarnya dia rasakan di dalam hati. Mereka tidak tahu kalau setiap malam Zaky sering terbangun keringat dingin karena mimpi buruk pertengkaran orang tuanya. Mereka tidak tahu kalau Zaky harus minum obat hanya untuk bisa tidur nyenyak, atau hanya untuk bisa tetap waras menjalani hari. Bagi mereka, Zaky hanyalah objek pujian, ketakutan, atau sekadar status sosial belaka.

TAPI... tidak dengan mereka.

Di ruangan itu, tepat di belakang Zaky, berdiri lima orang pemuda yang sudah dianggap seperti saudara kandung sendiri. Mereka adalah Bima Aditya, Mikail, Jordan, Omile, dan Narendra—Geng Chaos Killer.

Mereka diam memperhatikan punggung lebar pemimpin mereka. Tidak ada yang berbicara, tapi pandangan mata mereka saling bertukar, penuh dengan perhatian dan kekhawatiran yang mendalam.

MEREKA ADALAH SATU-SATUNYA YANG TAHU SEGALANYA.

Mereka tahu betapa parahnya kondisi mental Bos mereka. Mereka tahu betul tentang OCD yang dimiliki Zaky, yang bisa membuatnya marah besar atau panik hanya karena melihat sebuah pulpen yang posisinya miring sedikit saja, atau karena melihat lantai yang kotor. Mereka tahu betapa pentingnya obat-obatan itu bagi kehidupan Zaky, yang harus diminum rutin seperti makan.

Dan yang paling penting, merekalah yang tahu ALASANNYA.

Mereka tahu kenapa Zaky benci keributan, benci suara keras, dan benci kekacauan. Karena di rumah besar tempat dia tinggal, Tuan Ares dan Nyonya Valery—orang tua Zaky—hampir setiap hari bertengkar hebat. Suara teriakan, bantingan barang, dan pertengkaran yang tak ada habisnya itu adalah pemandangan biasa yang membuat suasana rumah terasa bagaikan neraka yang membeku. Trauma itulah yang membentuk Zaky menjadi sosok yang dingin, yang benci kekacauan, dan yang akhirnya menderita gangguan kecemasan serta obsesi aneh akan ketertiban.

"Bro..." bisik Bima pelan, suaranya terdengar berat. "Udah minum obat?"

Zaky hanya mengangguk singkat tanpa menoleh, wajahnya masih menatap lurus ke luar jendela, berusaha menahan efek obat yang mulai bekerja merelaksasi otot-ototnya yang tegang. "Udah."

Mikail menghela napas panjang, lalu berjalan mendekat dan menepuk bahu Zaky pelan namun penuh kekuatan. "Tenang aja Bro. Kita ada di sini. Selama ada kita, lo gak perlu takut. Kita bakal jaga lo, kita bakal jaga ketenangan lo. Siapa pun yang berani bikin berantakan, kita yang urus."

Zaky diam, tapi di dalam hatinya, ada rasa hangat yang sedikit muncul, meski dia berusaha menahannya. Hanya dengan kelima sahabatnya itulah dia bisa merasa sedikit aman. Hanya merekalah yang tahu kalau Zaky Gavindra Fernandez itu sebenarnya bukanlah raja yang kejam, dia hanyalah seorang anak laki-laki yang terluka, yang berusaha bertahan hidup di dunia yang keras ini dengan cara caranya sendiri.

"Aza..." gumam Zaky sekali lagi, kali ini suaranya lebih pelan, lebih lembut, namun masih menyimpan rasa benci yang bercampur rasa penasaran yang tak bisa dibohongi. "Tunggu aja. Gue gak bakal biarin lo masuk dan bikin dunianya berantakan. Gue bakal pastikan semuanya tetap rapi. Gue bakal pastikan gue yang menang."

Tapi entah mengapa, bayangan mata cokelat teduh dan senyum tipis gadis itu terus saja menghantuinya, membuatnya sadar bahwa mulai detik ini, dunianya yang selama ini rapi... mungkin memang sudah mulai rusak, dan dia tidak tahu harus bagaimana memperbaikinya.

 

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!