Langit malam yang begitu gelap dihiasi bintang-bintang yang berkelap-kelip indah di angkasa. Bumi nyaris sunyi, karena sebagian besar penduduknya telah terlelap dalam mimpi, menyisakan hanya segelintir orang yang masih terjaga menantang dinginnya malam.
Aylin pun tertidur dengan sangat pulas di atas kasur super empuk yang terasa begitu nyaman. Kasur itu sangat berbeda dengan kasur di kamar kosnya yang sudah bantat dimakan usia, hingga setiap pagi tubuhnya selalu terasa pegal dan nyeri saat bangun tidur.
Namun, Aylin tidak sadar bahwa ada sosok kecil yang sedang mengendap-endap masuk ke dalam kamarnya. Sosok itu membawa sebilah pisau tajam di tangannya, sementara tatapannya dipenuhi kebencian pekat. Anak kecil itu mengangkat tangannya perlahan tanpa ragu, bersiap menghabisi nyawa Aylin.
Ding...
"Peringatan bahaya!! Peringatan bahaya!! Nona, bangun! Atau kau akan mati untuk kedua kalinya!!" teriak sistem di dalam pikiran Aylin dengan suara nyaring.
Aylin langsung membuka matanya dengan kaget. Pandangan pertamanya langsung tertuju pada sebilah pisau yang sudah teracung ke arahnya.
"Aaa...!!!" teriak Aylin histeris sambil berguling cepat menghindari tusukan pisau yang hampir menancap di perutnya. Meski berhasil menghindar, sebagian kain baju tidurnya tetap sobek akibat terkena ujung pisau tajam itu.
"Kau harus mati!!" teriak sosok kecil tersebut dengan tatapan membunuh yang mengerikan ke arah Aylin. Aura dingin yang keluar dari tubuh anak itu membuat bulu kuduk Aylin berdiri.
"Kau siapa? Hei, anak kecil! Jangan bermain dengan benda berbahaya seperti itu! Itu sangat berbahaya!" teriak Aylin sambil mencoba merebut pisau tersebut dari tangan anak kecil itu.
Akhirnya mereka saling berebut pisau. Meski masih kecil, anak itu memiliki tenaga yang sangat kuat hingga membuat Aylin cukup kewalahan. Setelah berusaha keras, Aylin akhirnya berhasil merebut pisau tersebut, walaupun lengannya ikut tergores oleh bilah tajam itu.
Dengan napas memburu, Aylin segera menyalakan lampu kamar. Kini terlihat jelas seorang anak laki-laki berusia sekitar tujuh tahun dengan wajah yang sangat tampan. Namun, sorot matanya begitu tajam bagaikan pedang yang siap mencabik-cabik siapa saja.
"Hai, kau siapa? Kenapa masih kecil sudah ingin membunuh orang?" tanya Aylin dengan nada sedikit kesal, walaupun sebenarnya ia merasa merinding melihat aura gelap yang dipancarkan anak itu.
"Karena kau memang pantas mati, dasar nenek sihir jahat!!" bentak anak kecil itu penuh kebencian.
Kamar Aylin yang kedap suara membuat keributan sebesar apa pun tidak terdengar keluar.
Aylin mengernyit dalam. "Apa kau Kaiden, anakku?" tanyanya untuk memastikan.
Mata anak laki-laki itu langsung membelalak penuh amarah.
"Aku bukan anakmu!! Aku tidak sudi memiliki ibu sepertimu!!" teriak Kaiden dengan suara penuh kebencian.
Aylin sempat berpikir untuk mendekati Kaiden dengan lembut dan penuh kasih sayang. Namun baru saja ia melangkah satu langkah, sistem di dalam pikirannya kembali memberi peringatan keras.
"Peringatan! Peringatan! Dilarang mengubah karakter secara tiba-tiba, atau nona akan langsung dimusnahkan oleh sistem pusat!!!"
Mendengar itu, Aylin langsung menghentikan langkahnya. Ia mundur kembali sambil melipat kedua tangan di depan dada, lalu menatap Kaiden dengan wajah sombong dan penuh hinaan.
"Aku juga berpikir begitu. Mana mungkin aku memiliki anak sepertimu? Bahkan jiwamu dipenuhi kegelapan. Aku hanya mendengar dari para maid bahwa aku memiliki putra bernama Kaiden. Tapi setelah melihatmu langsung, sepertinya mereka memang membohongiku."
Kaiden mengernyit tajam. Tatapannya masih sedingin es dan setajam pedang.
Sebenarnya Aylin cukup takut melihat aura mengerikan yang dipancarkan anak itu, tetapi ia hanya berpura-pura tegar meski tangannya sedikit gemetar.
"Ada apa dengan wanita jahat ini? Apa benar kata Nanny Jubaila dia sedang hilang ingatan? Tapi dia tetap sombong seperti biasanya. Rasanya aku ingin mencabik-cabik tubuhnya, lalu melemparkan dagingnya pada anjing liar!" batin Kaiden penuh kebencian.
Aylin berdecak kesal melihat Kaiden hanya diam memelototinya. Namun pandangannya tiba-tiba tertuju pada kedua tangan Kaiden yang penuh memar merah akibat bekas cambukan.
"Ya Tuhan... Sepertinya Aylin yang asli benar-benar bukan manusia. Bagaimana dia bisa mencambuk anak tujuh tahun sekejam ini?" gumam Aylin dalam hati dengan perasaan sesak.
Tanpa sadar, Aylin langsung melangkah cepat menghampiri Kaiden dan memegang tangannya.
Kaiden tentu saja langsung berontak hebat. Tubuh kecilnya bahkan sedikit gemetar ketakutan, khawatir Aylin akan kembali menyiksanya seperti biasa. Terlebih lagi, ia baru saja ketahuan mencoba mencelakai wanita itu.
"Pasti wanita jahat ini akan menghajar ku lebih parah dari biasanya," pikir Kaiden cemas.
Namun Kaiden tidak menyangka ketika Aylin justru menariknya menuju ranjang empuk itu, lalu menggendongnya.
Kaiden terus meronta dan memberontak, tetapi tenaga Aylin jauh lebih besar. Karena panik, Kaiden langsung menggigit pundak Aylin dengan keras hingga berdarah.
Aylin yang kesal langsung melempar Kaiden ke atas kasur.
"Kau ini manusia atau anjing?! Kenapa menggigit pundak mami?! Diam di situ, atau aku akan menghukum mu berat!" ancam Aylin dengan wajah galak.
Kaiden mengatupkan giginya kuat-kuat karena marah. Wanita jahat itu ternyata tetap menyeramkan meski sudah kehilangan ingatan.
Kaiden sangat membenci keluarga ini. Ia bahkan bertekad bahwa suatu hari nanti, saat dirinya sudah cukup kuat, ia akan menghancurkan keluarganya sendiri seperti mereka menghancurkan hidupnya sekarang.
Tak lama kemudian, Aylin datang membawa kotak obat.
"Sini, mana tanganmu?" kata Aylin dengan wajah jutek.
Kaiden langsung menyembunyikan kedua tangannya di belakang tubuh. Dalam pikirannya, mungkin saja Aylin akan menyiram luka-lukanya dengan air panas atau sesuatu yang lebih menyakitkan. Baginya, wanita itu tidak mungkin berniat mengobatinya.
Aylin berdecak tidak sabar melihat tingkah Kaiden. Dengan cepat ia menarik salah satu tangan kecil itu, lalu mulai mengobati luka-luka di sana.
Sesekali Aylin melirik wajah Kaiden. Anak itu tidak menangis, tidak mengaduh, bahkan tidak meringis sedikit pun, padahal luka-luka itu pasti terasa sangat perih saat terkena obat merah.
Namun Kaiden terlihat seolah sudah terbiasa dengan rasa sakit seperti itu.
Pemandangan itu membuat hati Aylin terasa seperti diiris pelan.
Tanpa sadar, air matanya jatuh begitu saja.
Kaiden mengernyit bingung melihat air mata Aylin.
"Ada apa dengan wanita jahat ini? Dia mengobati tanganku dan bahkan menangis? Cih... buat apa berakting sedih? Toh Daddy tidak ada di sini," batin Kaiden sinis.
"Kau harus memiliki tangan yang kuat sebelum membunuhku. Aku tahu aku bukan mami yang baik untukmu. Jadi kau bebas membalasku sesukamu," kata Aylin dengan wajah tetap jutek.
Kaiden mendengus kasar. Ia segera turun dari kasur dan berlari keluar dari kamar Aylin. Namun sebelum benar-benar pergi, Kaiden menoleh dengan wajah penuh kebencian.
"Tentu saja aku akan membalasmu! Tunggu sampai tenaga dan tanganku lebih besar! Kau pasti akan habis di tanganku!" teriak Kaiden lantang.
Ia lalu menatap Aylin tajam sebelum kembali berkata, "Dan satu hal yang harus kau ingat, kau bukan mami-ku! Ibuku hanya Mommy Fahrin!!!"
Setelah mengatakan itu, Kaiden langsung pergi meninggalkan kamar. Ia sama sekali tidak akan luluh oleh sikap sok baik wanita ular itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 97 Episodes
Comments
꧁𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱𝓡𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲꧂
Anak sekecil itu sudah sangat terbiasa dengan luka fisik, meskipun yang benar-benar terluka adalah hati dan mentalnya/Frown/
2026-08-24
1
Arni Arlinawati pratiwi
ya kali emak marah sama sistem!!! ( sistem sini yu gelut yu!!!) emak yang di katain sedeng.. 😭 ingin nya ku berkata.. anak SET...AN!!! 🤬
2026-08-25
1
Miranda.
kemarin misinya harus mendapatkan hati para anggota keluarga. sekarang mau mencoba marah malah dilarang. gimana sih sistemnyaa/Pooh-pooh//Pooh-pooh/
2026-08-25
0