Uangku. Bukan Uang Kalian

Laras bersama ketiga sahabatnya baru saja menyelesaikan reservasi tiket pesawat. Besok, tepat hari Minggu jam sebelas pagi, mereka akan terbang untuk berlibur selama empat hari.

"Ras, apa suamimu nggak bakalan marah kalau kamu liburan?" tanya Erika.

"Bodo amat. Aku sudah tidak peduli lagi," jawab Laras santai.

Ketiga temannya saling lirik dan tersenyum tipis. Mereka sudah tahu segalanya tentang kehidupan rumah tangga Laras. Mereka paham bagaimana selama ini Laras dimanfaatkan oleh keluarga suaminya. Bahkan, mereka sudah berkali-kali menasihati agar Laras berhenti memanjakan keluarga suaminya, namun selama ini Laras seolah menutup telinga.

"Yakin bisa sebodoh amat itu?" goda Rani bercanda.

"Yakin, dan aku serius. Aku sudah sadar kalau Mas Arga dan keluarganya hanya memanfaatkanku. Mereka menjadikanku sumber uang. Mulai bulan ini, aku tidak mau lagi menanggung kehidupan mereka. Biaya kuliah adiknya, cicilan mobil, atau biaya-biaya lainnya. Kalaupun aku membantu, cukup sewajarnya saja," tegas Laras, membuat sahabat-sahabatnya merasa lega.

"Wah, sepertinya ada yang baru lepas dari pengaruh 'guna-guna' nih, Ran, Rik!" seloroh Andin sambil tersenyum lebar.

"Kamu benar, Din. Guna-guna dari mbah dukunnya sepertinya sudah luntur hahah," timpal Erika disambut tawa renyah mereka berempat.

Alih-alih tersinggung, Laras justru ikut tertawa. Ia merasa sindiran itu ada benarnya. Selama ini ia seolah terhipnotis, selalu menuruti apa pun kata Arga dan ibu mertuanya, Bu Ajeng.

"Sudah sore, yuk kita pulang. Jangan lupa besok jemput aku, ya!" Laras mengingatkan temannya sebelum mereka berpisah.

Sebenarnya, jam kerja Laras di hari Sabtu hanya sampai jam dua siang. Namun, ia sengaja tidak langsung pulang dan memilih menghabiskan waktu di kafe yang tak jauh dari kantornya. Ia sengaja mengabaikan pesan singkat bahkan panggilan telepon dari suaminya. Laras pulang dengan tangan hampa, tak ada makanan yang ia beli. Biasanya, jika sedang malas memasak, ia akan membelikan makanan untuk orang di rumah. Tapi kali ini tidak. Biarkan suaminya mencari makan sendiri.

**

Sementara itu, Bu Ajeng dan Tiara sudah menunggu di rumah sejak jam empat sore. Mereka bisa masuk karena Arga memang sudah memberikan kunci cadangan kepada mereka. Namun, hingga pukul setengah enam, Laras belum juga menampakkan batang hidungnya.

"Sudah jam segini istrimu belum sampai rumah, Ga? Ke mana dia? Apa dia tidak tahu kalau Ibu dan Tiara datang? Kamu sudah kasih tahu dia, kan?" cecar Bu Ajeng pada putranya.

"Sudah, Bu. Arga sudah kirim pesan, tapi belum dibaca sampai sekarang. Padahal kalau Sabtu dia pulang jam dua. Sepertinya dia sengaja, Bu. Masih marah gara-gara tadi pagi," adu Arga seperti anak kecil.

"Benar-benar istrimu itu! Kalau bukan karena gajinya yang besar, Ibu tidak akan sudi menjadikannya menantu!" omel Bu Ajeng lagi.

Arga hanya diam. Sebenarnya, ia pun tidak sungguh-sungguh mencintai Laras. Ia menikahinya hanya karena Laras memiliki pekerjaan mapan dengan gaji fantastis. Impian Arga sejak dulu adalah menikahi wanita kaya agar hidupnya enak tanpa perlu banting tulang. Meski Laras bukan anak konglomerat, gajinya sudah cukup untuk dimanfaatkan. Terbukti selama empat tahun pernikahan, Arga hanya memberi uang bulanan ala kadarnya, sementara Laras yang menanggung semua beban rumah tangga hingga biaya hidup ibu dan adiknya.

Deru mesin mobil terdengar di halaman.

"Itu suara mobil Mbak Laras," ucap Tiara tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya.

Bu Ajeng tetap duduk tegak di sofa ruang tamu, menyiapkan rentetan "kata-kata mutiara" yang sudah tersusun di kepalanya untuk menyambut sang menantu.

Di luar, Laras menghela napas panjang saat melihat mobil adiknya terparkir. "Mobil Tiara? Hah... pasti ada Ibu juga. Drama apa lagi kali ini?" gumamnya malas.

Laras turun dari mobil, menenteng tasnya, dan melangkah masuk. Ia sudah menyiapkan mental.

"Assalamualaikum," ucap Laras pelan.

"Waalaikumussalam! Dari mana saja kamu jam segini baru pulang? Pulang kerja itu seharusnya langsung ke rumah, bukan malah nongkrong tidak jelas!" sambut Bu Ajeng dengan nada tinggi.

"Aku habis kumpul sama teman kantor, Bu. Aku juga capek kerja, butuh refreshing otak," jawab Laras, berusaha tetap sopan.

"Kamu itu seorang istri. Tidak pantas nongkrong-nongkrong seperti itu. Daripada uangnya habis buat hura-hura, lebih baik buat bayar semesteran Tiara. Ingat, kamu belum bayar tagihannya!" seru Bu Ajeng lagi.

Laras menghela napas berat. Niatnya ingin langsung mandi dan istirahat, tapi justru disambut omelan tak berujung. "Bu, aku capek dan mau mandi. Tolong jangan bahas soal uang dulu. Kalau Ibu mau menginap di sini silakan, tapi maaf, aku mau ke kamar."

"Laras! Yang sopan kalau bicara sama Ibu! Ibu bicara benar, malah kamu abaikan begitu saja!" bentak Arga, mencoba membela ibunya.

Laras melirik suaminya sekilas dengan tatapan dingin. Ia malas berdebat, apalagi waktu Magrib sudah hampir tiba.

"Aku tidak mengabaikan Ibu, Mas. Tadi pagi kan sudah kujelaskan, soal semesteran dan cicilan mobil, aku tidak mau menanggungnya lagi. Untuk jatah bulanan Ibu dan Tiara, aku hanya bisa memberi sekadarnya. Lagipula ada Mas Dimas dan Mbak Maya, kenapa harus aku yang menanggung semuanya? Sudahlah, aku capek."

Laras melangkah pergi meninggalkan sekumpulan orang yang seolah tidak tahu diri itu.

"Mbak Laras, jangan lupa masak! Aku mau makan sop buntut!" teriak Tiara dengan nada memerintah.

Laras tidak menjawab. Ia terus berjalan menuju kamarnya dengan tekad yang semakin bulat untuk berhenti menanggung hidup mereka.

Laras menutup pintu kamarnya dengan kasar. Dadanya bergemuruh menahan sesak, selama ini ia tidak hanya diperas tapi juga diperlakukan tak lebih dari seorang pembantu oleh keluarga suaminya.

"Dasar anak tidak tahu sopan santun. Bisa-bisanya dia berteriak pada istri kakaknya sendiri begitu? Apa dia pikir aku ini pembantunya?" gumam Laras geram dalam kesendiriannya. Ia membandingkan dengan adiknya sendiri yang memiliki perangai jauh lebih baik daripada Tiara.

"Lagipula, aku yang punya uang, kenapa mereka yang mengatur? Ini uangku, bukan uang kalian! Mulai sekarang, aku tidak akan membiarkan kalian memanfaatkan aku lagi," tegasnya dalam monolog yang penuh tekad.

Laras sama sekali tidak berniat keluar kamar lagi malam itu. Ia segera menyibukkan diri dengan packing barang-barang yang akan dibawa berlibur sebelum beristirahat. Soal makan malam, ia sudah tidak peduli. Mereka bertiga sudah dewasa dan bisa memasak atau membeli makanan sendiri jika lapar.

Sambil merapikan koper, Laras mengambil ponsel dari tasnya. Ia segera mengirim pesan kepada Rani, meminta agar dijemput lebih awal. Laras sadar betul bahwa besok pasti akan ada drama besar jika ia pergi secara terang-terangan, maka ia memutuskan untuk berangkat jam setengah enam pagi, sebelum penghuni rumah lainnya terbangun.

Terpopuler

Comments

Anake Simbok Mdn

Anake Simbok Mdn

Larassss cinta boleh bodoh jaga ya nak No No nooo 🤣🤣🤣 4th kok jd mesin Atm, jd babu oh No no no ya Rasss🤣🤣🤣🤣

2026-04-13

0

Guntur adiguna

Guntur adiguna

bagus keputusanmu itu bagus jangan turuti kemauan benalu itu

2026-06-01

0

yuningsih titin

yuningsih titin

memamg suami Dan mertua laknat

2026-04-04

1

lihat semua
Episodes
1 Aku bukan mesin uang
2 Uangku. Bukan Uang Kalian
3 Rumah Tangga di Ujung Saldo
4 TUNGGAKAN BANK
5 Ipar Julid
6 Melihat Ipar saat Liburan
7 Rumah seperti kapal pecah
8 Oleh-Oleh
9 Keluarga Aneh
10 Diamnya Laras
11 Bertengkar
12 Siapa Angel?
13 Rumah disita Bank
14 Keluarga Toxic
15 Bau Parfum
16 Dikasi Hati minta Jantung
17 Pinjam Uang Laras
18 Kedatangan Orang Tua Laras
19 Kamu selingkuh???
20 Suami Orang, Bu !!!
21 Mendekati Keluarga Calon Suami
22 Mengikuti Arga
23 Pembalasan yang Elegant
24 Momen yang pas
25 Tidur di kamar Laras
26 Angel Hamil???
27 Tunggu Pembalasanku !!!
28 Alat mandiku hilang
29 Aku bukan mesin uang
30 Pernikahan semakin dekat
31 Mengetahui rencana Arga
32 Gosip tetangga
33 Pembalasan dimulai, Mas.
34 SAHHHHH !!!
35 Aku dimadu???
36 Mobil Tiara disita
37 Laras Shopping, Angel Iri
38 Inikan Rumah Bapak?
39 DITALAK
40 KEMALINGAN???
41 Menyindir Bu Sitti
42 Minggu yang melelahkan
43 Bu Ajeng tidak mau di penjara
44 Memarahi Angel
45 Pemilik baru
46 Melabrak Laras
47 Sindirian untuk Bi Sitti
48 Pelakor teriak pelakor
49 Angel ketahuan
50 Terbongkarnya kebohongan Angel dan Bu Sitti
51 Saling menyalahkan
52 Bu Sitti masuk RS
53 Rencana jahat Angel
54 DR Group
55 Mantan suami tak tau malu
56 Pinjam uang ke Mbak Maya
57 Rencana pindah rumah
58 Damar Wicaksono Prakoso
59 Kontrakan kumuh Bu Ajeng
60 Melabrak Laras
61 Pedofil?
62 Arga menemui Laras
63 Seperti pengemis
64 Angel seperti pembantu
65 Berpasangan dengan Damar
66 Mantra dari dukun
67 Anak kesayangan Ibu
68 Cupang
69 Apa aku anak pungut?
70 Tiba-tiba dilamar
71 Warisan yang dirahasiakan
72 Seperti backstreet saja
73 Fakta baru untuk Arga
74 Mencari surat tanah
75 Menawarkan tanah
76 Dimas Korupsi
77 Dimas dipecat
78 Akhirnya terjual juga
79 Menyusun rencana
80 Menjebak Arga
81 Hilang???
82 Mengabaikan telelpon
83 Sikap bodo amat
84 Tiara atau Ibu?
85 Hampir jatuh tempo
86 Damar dijodohkan
87 Ratih akhirnya tau
88 Kemana sertifikat tanah itu?
89 Siapa yang menjualnya?
90 Dimas dan Ratih pindah ke kontrakan
91 Ratih ketahuan selingkuh
92 Kebohongan terbongkar
93 Menceraikan Angel
94 Mencari rumah baru
95 Dendam masa lalu
96 PERGI DARI SINI !!!
97 Pindah Rumah
98 Dimas Bodoh
99 Jebakan Sarden Kadaluarsa
100 Dimas ingin cerai
101 Memutuskan hubungan keluarga
102 Kue untuk Tiara
103 Air Dukun
104 Niat busuk Bu Ajeng
105 Ada apa dengan Dimas???
106 Tidak ada karma dalam kamusku
107 Pinjam pacar?
108 Jampi Gagal
109 Jampi salah sasaran
110 Kamu bukan anakku lagi
111 Jadi pembantu di rumah Bu Sukma
112 Salam pembuka untuk Bu Ajeng
113 Roda itu berputar
114 Memutuskan Ratih
115 Ditalak Rangga
116 Kakak Adik Bernasib Sama
117 Nasib Malang Bu Ajeng
118 Aryo
119 Hadi menembak Tiara
120 Bertemu suami Siska
121 Bu Ajeng disiksa
122 Bantuan dari Arga
123 KEDATANGAN DAMAR
124 Makan siang bersama Laras
125 Kekhawatiran seorang kakak
126 Arisan di rumah Bu Sukma
127 Adu mulut Dimas dan Maya
128 Bakso pinggir jalan
129 Bertemu Laras
130 Kecurigaan Damar
131 Ternyata yang disukai Damar adalah Laras
132 Maya diusir dari rumahnya
133 Cerita dari Aryo
134 Mengumpulkan bukti
135 Damar jaga jarak
136 Siska Hamil???
137 Kejutan makan malam
138 Kebohongan Siska Terbongkar
139 Restu Pak Baskoro
140 Persaingan 3 Pria
141 Ancaman Damar
142 Menolak kerjasama dengan Siska
143 Miskin tapi sombong
144 Kenekatan Hadi
145 Benang kusut
146 Tiga Pria
147 Gila Kerja
148 Pertemuan Tiara dan Alex
149 Menjadi Kuli Bangunan
150 Hari Apes Tidak Ada yang Tahu
151 Tidak Mau Lumpuh
152 Seperti Arga
153 Dimas Menghilang
154 Buat Aku Jatuh Cinta dalam 2 Bulan
155 Maya jadi pengemis
156 Dukungan dari pusat
157 Benarkah sudah jatuh cinta?
158 Membujuk Laras
159 Hanya sebatas kakak adik
160 Ratih ditangkap polisi
161 Ancaman Maya
162 Maya VS Arga
163 Sebuah perjalanan hidup
164 Keputusan Laras
165 Bu Ajeng dan Maya Meninggal ( TAMAT )
Episodes

Updated 165 Episodes

1
Aku bukan mesin uang
2
Uangku. Bukan Uang Kalian
3
Rumah Tangga di Ujung Saldo
4
TUNGGAKAN BANK
5
Ipar Julid
6
Melihat Ipar saat Liburan
7
Rumah seperti kapal pecah
8
Oleh-Oleh
9
Keluarga Aneh
10
Diamnya Laras
11
Bertengkar
12
Siapa Angel?
13
Rumah disita Bank
14
Keluarga Toxic
15
Bau Parfum
16
Dikasi Hati minta Jantung
17
Pinjam Uang Laras
18
Kedatangan Orang Tua Laras
19
Kamu selingkuh???
20
Suami Orang, Bu !!!
21
Mendekati Keluarga Calon Suami
22
Mengikuti Arga
23
Pembalasan yang Elegant
24
Momen yang pas
25
Tidur di kamar Laras
26
Angel Hamil???
27
Tunggu Pembalasanku !!!
28
Alat mandiku hilang
29
Aku bukan mesin uang
30
Pernikahan semakin dekat
31
Mengetahui rencana Arga
32
Gosip tetangga
33
Pembalasan dimulai, Mas.
34
SAHHHHH !!!
35
Aku dimadu???
36
Mobil Tiara disita
37
Laras Shopping, Angel Iri
38
Inikan Rumah Bapak?
39
DITALAK
40
KEMALINGAN???
41
Menyindir Bu Sitti
42
Minggu yang melelahkan
43
Bu Ajeng tidak mau di penjara
44
Memarahi Angel
45
Pemilik baru
46
Melabrak Laras
47
Sindirian untuk Bi Sitti
48
Pelakor teriak pelakor
49
Angel ketahuan
50
Terbongkarnya kebohongan Angel dan Bu Sitti
51
Saling menyalahkan
52
Bu Sitti masuk RS
53
Rencana jahat Angel
54
DR Group
55
Mantan suami tak tau malu
56
Pinjam uang ke Mbak Maya
57
Rencana pindah rumah
58
Damar Wicaksono Prakoso
59
Kontrakan kumuh Bu Ajeng
60
Melabrak Laras
61
Pedofil?
62
Arga menemui Laras
63
Seperti pengemis
64
Angel seperti pembantu
65
Berpasangan dengan Damar
66
Mantra dari dukun
67
Anak kesayangan Ibu
68
Cupang
69
Apa aku anak pungut?
70
Tiba-tiba dilamar
71
Warisan yang dirahasiakan
72
Seperti backstreet saja
73
Fakta baru untuk Arga
74
Mencari surat tanah
75
Menawarkan tanah
76
Dimas Korupsi
77
Dimas dipecat
78
Akhirnya terjual juga
79
Menyusun rencana
80
Menjebak Arga
81
Hilang???
82
Mengabaikan telelpon
83
Sikap bodo amat
84
Tiara atau Ibu?
85
Hampir jatuh tempo
86
Damar dijodohkan
87
Ratih akhirnya tau
88
Kemana sertifikat tanah itu?
89
Siapa yang menjualnya?
90
Dimas dan Ratih pindah ke kontrakan
91
Ratih ketahuan selingkuh
92
Kebohongan terbongkar
93
Menceraikan Angel
94
Mencari rumah baru
95
Dendam masa lalu
96
PERGI DARI SINI !!!
97
Pindah Rumah
98
Dimas Bodoh
99
Jebakan Sarden Kadaluarsa
100
Dimas ingin cerai
101
Memutuskan hubungan keluarga
102
Kue untuk Tiara
103
Air Dukun
104
Niat busuk Bu Ajeng
105
Ada apa dengan Dimas???
106
Tidak ada karma dalam kamusku
107
Pinjam pacar?
108
Jampi Gagal
109
Jampi salah sasaran
110
Kamu bukan anakku lagi
111
Jadi pembantu di rumah Bu Sukma
112
Salam pembuka untuk Bu Ajeng
113
Roda itu berputar
114
Memutuskan Ratih
115
Ditalak Rangga
116
Kakak Adik Bernasib Sama
117
Nasib Malang Bu Ajeng
118
Aryo
119
Hadi menembak Tiara
120
Bertemu suami Siska
121
Bu Ajeng disiksa
122
Bantuan dari Arga
123
KEDATANGAN DAMAR
124
Makan siang bersama Laras
125
Kekhawatiran seorang kakak
126
Arisan di rumah Bu Sukma
127
Adu mulut Dimas dan Maya
128
Bakso pinggir jalan
129
Bertemu Laras
130
Kecurigaan Damar
131
Ternyata yang disukai Damar adalah Laras
132
Maya diusir dari rumahnya
133
Cerita dari Aryo
134
Mengumpulkan bukti
135
Damar jaga jarak
136
Siska Hamil???
137
Kejutan makan malam
138
Kebohongan Siska Terbongkar
139
Restu Pak Baskoro
140
Persaingan 3 Pria
141
Ancaman Damar
142
Menolak kerjasama dengan Siska
143
Miskin tapi sombong
144
Kenekatan Hadi
145
Benang kusut
146
Tiga Pria
147
Gila Kerja
148
Pertemuan Tiara dan Alex
149
Menjadi Kuli Bangunan
150
Hari Apes Tidak Ada yang Tahu
151
Tidak Mau Lumpuh
152
Seperti Arga
153
Dimas Menghilang
154
Buat Aku Jatuh Cinta dalam 2 Bulan
155
Maya jadi pengemis
156
Dukungan dari pusat
157
Benarkah sudah jatuh cinta?
158
Membujuk Laras
159
Hanya sebatas kakak adik
160
Ratih ditangkap polisi
161
Ancaman Maya
162
Maya VS Arga
163
Sebuah perjalanan hidup
164
Keputusan Laras
165
Bu Ajeng dan Maya Meninggal ( TAMAT )

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!