TUNGGAKAN BANK

Laras membuang napas panjang, mencoba mengusir sesak yang menggelayuti dadanya. Setibanya di destinasi impian ini, ia bertekad melupakan sejenak segala penat. Liburan kali ini harus ia nikmati sepenuhnya, tanpa gangguan.

"Ras, lapar nih. Yuk, makan duluan," rengek Rani dengan gaya bicaranya yang manja. "Biarkan saja Andin dan Erika tidur. Nanti kita take away saja buat mereka."

Laras menggeleng pelan, tetap pada pendiriannya. "Nanti mereka marah, Ran. Kamu tahu sendiri kan, mereka tadi wanti-wanti kalau makan harus bareng. Rani sudah punya rekomendasi restoran yang enak di sini."

Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka. Andin muncul dengan mata mengantuk khas orang baru bangun tidur, tangannya refleks mengusap perut.

"Emh... lapar, Ras. Kalian sudah lapar belum?" tanya Andin lirih.

"Lapar banget. " sahut Laras gemas. "Dari tadi kami nungguin kalian bangun, tapi nggak bangun-bangun juga. Lihat tuh, Rani sudah hampir pingsan kelaparan. Erika mana?"

"Dia masih di kamar mandi, baru bangun juga," jawab Andin sambil menarik kursi dan bergabung dengan mereka.

**

Sementara itu, suasana jauh dari kata damai. Tiara menatap layar ponselnya dengan geram. Bibirnya mengerucut tajam, sisa amarah karena panggilannya diabaikan.

"Menyebalkan sekali.  Tidak diangkat juga." gerutu Tiara.

Ia kemudian beralih membuka aplikasi WhatsApp. Matanya membelalak saat melihat status terbaru yang diunggah Laras lima menit lalu. Sebuah foto pemandangan pantai Lombok yang sangat indah terpampang nyata di sana.

"Bu....Lihat ini, Mbak Laras liburan ke Lombok." pekik Tiara sambil menyodorkan ponselnya ke hadapan Bu Ajeng. "Dia bikin story pantai. Bisa-bisanya dia foya-foya ke Lombok? Ke sana itu tidak cukup cuma bawa uang sepuluh juta, Bu."

Wajah Bu Ajeng seketika merah padam. Rasa iri dan amarah bercampur menjadi satu. "Bisa-bisanya dia ke Lombok? Ibu saja dari dulu kepingin ke sana belum kesampaian, ini malah dia yang berangkat. Dasar menantu durhaka. Awas saja kalau pulang, akan Ibu buat perhitungan."

Konflik ibu dan anak itu terinterupsi oleh ketukan pintu yang bertubi-tubi dari luar.

Tok! Tok! Tok!

Bu Ajeng beranjak dengan sisa kekesalannya. Saat pintu terbuka, ia tertegun melihat dua pria asing berdiri di depannya. Meski ia bisa menebak dari instansinya, Bu Ajeng tidak tahu apa motif mereka mendatangi rumahnya siang bolong begini.

"Assalamualaikum, Bu." sapa salah satu pria yang bernama Toni dengan sopan.

"Waalaikumsalam. Maaf, ada keperluan apa ya?" tanya Bu Ajeng dengan nada curiga.

"Kita bicara di dalam saja ya, Bu, biar lebih nyaman dan jelas. " saran Toni tenang.

Dengan perasaan tak menentu, Bu Ajeng mempersilakan mereka masuk. Mereka duduk berhadapan di ruang tamu yang mendadak terasa sesak oleh ketegangan.

"Mas ini dari Bank  Orange, kan? Ada apa datang ke sini?" Bu Ajeng langsung ke inti persoalan.

"Benar, Bu. Kedatangan kami terkait dengan pinjaman Ibu tujuh bulan yang lalu. Kami mencatat Ibu menjaminkan sertifikat rumah ini dengan jangka waktu dua tahun." Toni menjelaskan secara profesional. "Ini sudah masuk bulan keempat dan jatuh temponya seharusnya kemarin. Karena kemarin Minggu, maka pembayarannya bisa dilakukan hari ini."

"Terus?" Bu Ajeng menyahut singkat, jantungnya mulai berdegup kencang.

"Begini, Bu... pinjaman ini sudah jalan tujuh bulan, tapi mengapa tiga bulan terakhir Ibu tidak membayar cicilannya? Pesan pemberitahuan kami pun Ibu abaikan. Sekarang sudah masuk bulan ketiga tunggakan dan totalnya sudah hampir mencapai 47 juta rupiah." papar Toni yang seketika membuat dunia seolah runtuh bagi Bu Ajeng.

"Apa? 47 juta???" Bu Ajeng terpekik syok.

Napasnya memburu. Ia benar-benar buta soal urusan uang pinjaman dan tunggakan itu. Selama ini, ia hanya memberikan nama, sementara Maya-lah yang menggunakan uang tersebut untuk modal dagang.

"Soal cicilan bank itu, anak saya yang mengurusnya karena dia yang memakai uangnya. Tapi tidak mungkin dia tidak bayar, pasti Mas salah lihat." seru Bu Ajeng, masih mencoba menyangkal kenyataan pahit tersebut.

"Tidak mungkin kami salah, Bu. Semua data tercatat dengan jelas dan valid di dalam sistem kami." tegas Toni tanpa keraguan.

Di tengah ketegangan itu, Tiara yang sedari tadi menguping, malah merengek tanpa tahu situasi. "Terus uang kuliahku bagaimana, Bu?"

Bu Ajeng memijat pelipisnya yang berdenyut. "Hh... nanti Ibu bicara sama Masmu, Arga. Sana kamu beli makan dulu, perut Ibu lapar." Ia menyerahkan selembar uang 25 ribu rupiah.

Tiara menyambar uang itu dengan kasar. Matanya melebar melihat nominalnya. "Apa ini, Bu? 25 ribu dapat apa? Cuma dapat gorengan saja ini!"

"Terserah beli apa saja! Mau nasi goreng atau mie ayam, yang penting perut terisi!" bentak Bu Ajeng, emosinya tumpah sudah.

Tiara menyentak kakinya kesal, namun tetap melangkah keluar rumah menuju tukang mie ayam dekat pos ronda, meninggalkan ibunya yang kini terjepit di antara bayang-bayang kehilangan rumah dan pengkhianatan anak sendiri.

"Kalian tidak boleh menyita rumah ini." seru Bu Ajeng dengan suara bergetar. Matanya mulai berkaca-kaca menatap sekeliling ruangan yang telah melindunginya selama puluhan tahun. "Ini rumah saya. Kalian tidak berhak menyitanya!"

Toni menghela napas panjang, mencoba mempertahankan profesionalismenya di tengah situasi yang emosional. "Kami tidak akan melakukan penyitaan, Bu, asalkan dalam waktu satu minggu ini Ibu bisa melunasi seluruh tunggakan cicilan selama tiga bulan tersebut."

Bu Ajeng menggeleng lemah, meremas jemarinya sendiri. "Pinjaman itu memang atas nama saya, tapi bukan saya yang memakai uangnya!"

"Maaf sekali, Bu." sela Toni dengan nada tegas namun tetap sopan. "Kami hanya menjalankan tugas sesuai prosedur perjanjian yang sah. Sejak awal, rumah inilah yang menjadi jaminan dan Ibu sendiri yang menandatangani semua berkas serta perjanjiannya. Secara hukum, rumah inilah yang harus kami sita jika kewajiban tidak dipenuhi."

Tubuh Bu Ajeng mendadak lemas. Ia nyaris ambruk ke kursi di belakangnya. Rasa tidak berdaya menghimpit dadanya seperti batu besar. Ia tak pernah menyangka Maya tega mengabaikan pinjaman itu, padahal putrinya itu telah berjanji berkali-kali akan membayar cicilan tepat waktu.

Pikirannya melayang pada aset yang tersisa. Sawah satu-satunya sudah ludes dijual dan hasilnya telah dibagikan kepada anak-anaknya. Rumah ini adalah benteng terakhir, bagian yang ia persiapkan untuk masa depan Tiara. Kini, benteng itu terancam runtuh.

"Apa Ibu bisa melakukan pembayaran hari ini?" tanya Toni lagi, memutus lamunan pahit sang ibu.

"Saya tidak punya uang sebanyak itu, Mas." bisik Bu Ajeng lirih. Suaranya nyaris hilang. "Nanti saya hubungi anak saya terlebih dahulu. Biar dia ke sini untuk menjelaskan semuanya."

Toni dan rekannya mengangguk setuju. Mereka memberikan ruang bagi Bu Ajeng untuk menyelesaikan masalah internal keluarganya. Dengan tangan yang gemetar hebat, Bu Ajeng meraih ponselnya dan mencari kontak Maya.

Begitu sambungan terhubung, ia tidak lagi bisa menahan ledakan emosinya.

"Halo, Maya. Ke rumah Ibu sekarang juga! Ini penting banget." teriak Bu Ajeng, langsung pada intinya tanpa basa-basi.

Di seberang telepon, suara Maya terdengar santai, kontras dengan kepanikan ibunya. "Ada apa sih, Bu? Maya lagi sibuk di toko ini."

"Pokoknya ke rumah Ibu, SEKARANG!!!" tegas Bu Ajeng dengan nada yang tidak menerima bantahan.

"Hhuft .. iya, Bu, iya" jawab Maya akhirnya dengan nada malas.

Klik.

Sambungan terputus. Bu Ajeng menatap layar ponselnya yang gelap dengan perasaan campur aduk. Ia kini hanya bisa menunggu, berharap ada keajaiban atau setidaknya penjelasan yang masuk akal dari putri yang selama ini ia percayai.

Terpopuler

Comments

Yati Syahira

Yati Syahira

elit pingin bergaya wkwkk ekonomi sulit pingin bergaya borju

2026-02-25

1

Uthie

Uthie

Begitulah terlalu memanjakan anak😏

2026-04-07

0

Ninik Srikatmini

Ninik Srikatmini

hhhh ruwet

2026-06-20

0

lihat semua
Episodes
1 Aku bukan mesin uang
2 Uangku. Bukan Uang Kalian
3 Rumah Tangga di Ujung Saldo
4 TUNGGAKAN BANK
5 Ipar Julid
6 Melihat Ipar saat Liburan
7 Rumah seperti kapal pecah
8 Oleh-Oleh
9 Keluarga Aneh
10 Diamnya Laras
11 Bertengkar
12 Siapa Angel?
13 Rumah disita Bank
14 Keluarga Toxic
15 Bau Parfum
16 Dikasi Hati minta Jantung
17 Pinjam Uang Laras
18 Kedatangan Orang Tua Laras
19 Kamu selingkuh???
20 Suami Orang, Bu !!!
21 Mendekati Keluarga Calon Suami
22 Mengikuti Arga
23 Pembalasan yang Elegant
24 Momen yang pas
25 Tidur di kamar Laras
26 Angel Hamil???
27 Tunggu Pembalasanku !!!
28 Alat mandiku hilang
29 Aku bukan mesin uang
30 Pernikahan semakin dekat
31 Mengetahui rencana Arga
32 Gosip tetangga
33 Pembalasan dimulai, Mas.
34 SAHHHHH !!!
35 Aku dimadu???
36 Mobil Tiara disita
37 Laras Shopping, Angel Iri
38 Inikan Rumah Bapak?
39 DITALAK
40 KEMALINGAN???
41 Menyindir Bu Sitti
42 Minggu yang melelahkan
43 Bu Ajeng tidak mau di penjara
44 Memarahi Angel
45 Pemilik baru
46 Melabrak Laras
47 Sindirian untuk Bi Sitti
48 Pelakor teriak pelakor
49 Angel ketahuan
50 Terbongkarnya kebohongan Angel dan Bu Sitti
51 Saling menyalahkan
52 Bu Sitti masuk RS
53 Rencana jahat Angel
54 DR Group
55 Mantan suami tak tau malu
56 Pinjam uang ke Mbak Maya
57 Rencana pindah rumah
58 Damar Wicaksono Prakoso
59 Kontrakan kumuh Bu Ajeng
60 Melabrak Laras
61 Pedofil?
62 Arga menemui Laras
63 Seperti pengemis
64 Angel seperti pembantu
65 Berpasangan dengan Damar
66 Mantra dari dukun
67 Anak kesayangan Ibu
68 Cupang
69 Apa aku anak pungut?
70 Tiba-tiba dilamar
71 Warisan yang dirahasiakan
72 Seperti backstreet saja
73 Fakta baru untuk Arga
74 Mencari surat tanah
75 Menawarkan tanah
76 Dimas Korupsi
77 Dimas dipecat
78 Akhirnya terjual juga
79 Menyusun rencana
80 Menjebak Arga
81 Hilang???
82 Mengabaikan telelpon
83 Sikap bodo amat
84 Tiara atau Ibu?
85 Hampir jatuh tempo
86 Damar dijodohkan
87 Ratih akhirnya tau
88 Kemana sertifikat tanah itu?
89 Siapa yang menjualnya?
90 Dimas dan Ratih pindah ke kontrakan
91 Ratih ketahuan selingkuh
92 Kebohongan terbongkar
93 Menceraikan Angel
94 Mencari rumah baru
95 Dendam masa lalu
96 PERGI DARI SINI !!!
97 Pindah Rumah
98 Dimas Bodoh
99 Jebakan Sarden Kadaluarsa
100 Dimas ingin cerai
101 Memutuskan hubungan keluarga
102 Kue untuk Tiara
103 Air Dukun
104 Niat busuk Bu Ajeng
105 Ada apa dengan Dimas???
106 Tidak ada karma dalam kamusku
107 Pinjam pacar?
108 Jampi Gagal
109 Jampi salah sasaran
110 Kamu bukan anakku lagi
111 Jadi pembantu di rumah Bu Sukma
112 Salam pembuka untuk Bu Ajeng
113 Roda itu berputar
114 Memutuskan Ratih
115 Ditalak Rangga
116 Kakak Adik Bernasib Sama
117 Nasib Malang Bu Ajeng
118 Aryo
119 Hadi menembak Tiara
120 Bertemu suami Siska
121 Bu Ajeng disiksa
122 Bantuan dari Arga
123 KEDATANGAN DAMAR
124 Makan siang bersama Laras
125 Kekhawatiran seorang kakak
126 Arisan di rumah Bu Sukma
127 Adu mulut Dimas dan Maya
128 Bakso pinggir jalan
129 Bertemu Laras
130 Kecurigaan Damar
131 Ternyata yang disukai Damar adalah Laras
132 Maya diusir dari rumahnya
133 Cerita dari Aryo
134 Mengumpulkan bukti
135 Damar jaga jarak
136 Siska Hamil???
137 Kejutan makan malam
138 Kebohongan Siska Terbongkar
139 Restu Pak Baskoro
140 Persaingan 3 Pria
141 Ancaman Damar
142 Menolak kerjasama dengan Siska
143 Miskin tapi sombong
144 Kenekatan Hadi
145 Benang kusut
146 Tiga Pria
147 Gila Kerja
148 Pertemuan Tiara dan Alex
149 Menjadi Kuli Bangunan
150 Hari Apes Tidak Ada yang Tahu
151 Tidak Mau Lumpuh
152 Seperti Arga
153 Dimas Menghilang
154 Buat Aku Jatuh Cinta dalam 2 Bulan
155 Maya jadi pengemis
156 Dukungan dari pusat
157 Benarkah sudah jatuh cinta?
158 Membujuk Laras
159 Hanya sebatas kakak adik
160 Ratih ditangkap polisi
161 Ancaman Maya
162 Maya VS Arga
163 Sebuah perjalanan hidup
164 Keputusan Laras
165 Bu Ajeng dan Maya Meninggal ( TAMAT )
Episodes

Updated 165 Episodes

1
Aku bukan mesin uang
2
Uangku. Bukan Uang Kalian
3
Rumah Tangga di Ujung Saldo
4
TUNGGAKAN BANK
5
Ipar Julid
6
Melihat Ipar saat Liburan
7
Rumah seperti kapal pecah
8
Oleh-Oleh
9
Keluarga Aneh
10
Diamnya Laras
11
Bertengkar
12
Siapa Angel?
13
Rumah disita Bank
14
Keluarga Toxic
15
Bau Parfum
16
Dikasi Hati minta Jantung
17
Pinjam Uang Laras
18
Kedatangan Orang Tua Laras
19
Kamu selingkuh???
20
Suami Orang, Bu !!!
21
Mendekati Keluarga Calon Suami
22
Mengikuti Arga
23
Pembalasan yang Elegant
24
Momen yang pas
25
Tidur di kamar Laras
26
Angel Hamil???
27
Tunggu Pembalasanku !!!
28
Alat mandiku hilang
29
Aku bukan mesin uang
30
Pernikahan semakin dekat
31
Mengetahui rencana Arga
32
Gosip tetangga
33
Pembalasan dimulai, Mas.
34
SAHHHHH !!!
35
Aku dimadu???
36
Mobil Tiara disita
37
Laras Shopping, Angel Iri
38
Inikan Rumah Bapak?
39
DITALAK
40
KEMALINGAN???
41
Menyindir Bu Sitti
42
Minggu yang melelahkan
43
Bu Ajeng tidak mau di penjara
44
Memarahi Angel
45
Pemilik baru
46
Melabrak Laras
47
Sindirian untuk Bi Sitti
48
Pelakor teriak pelakor
49
Angel ketahuan
50
Terbongkarnya kebohongan Angel dan Bu Sitti
51
Saling menyalahkan
52
Bu Sitti masuk RS
53
Rencana jahat Angel
54
DR Group
55
Mantan suami tak tau malu
56
Pinjam uang ke Mbak Maya
57
Rencana pindah rumah
58
Damar Wicaksono Prakoso
59
Kontrakan kumuh Bu Ajeng
60
Melabrak Laras
61
Pedofil?
62
Arga menemui Laras
63
Seperti pengemis
64
Angel seperti pembantu
65
Berpasangan dengan Damar
66
Mantra dari dukun
67
Anak kesayangan Ibu
68
Cupang
69
Apa aku anak pungut?
70
Tiba-tiba dilamar
71
Warisan yang dirahasiakan
72
Seperti backstreet saja
73
Fakta baru untuk Arga
74
Mencari surat tanah
75
Menawarkan tanah
76
Dimas Korupsi
77
Dimas dipecat
78
Akhirnya terjual juga
79
Menyusun rencana
80
Menjebak Arga
81
Hilang???
82
Mengabaikan telelpon
83
Sikap bodo amat
84
Tiara atau Ibu?
85
Hampir jatuh tempo
86
Damar dijodohkan
87
Ratih akhirnya tau
88
Kemana sertifikat tanah itu?
89
Siapa yang menjualnya?
90
Dimas dan Ratih pindah ke kontrakan
91
Ratih ketahuan selingkuh
92
Kebohongan terbongkar
93
Menceraikan Angel
94
Mencari rumah baru
95
Dendam masa lalu
96
PERGI DARI SINI !!!
97
Pindah Rumah
98
Dimas Bodoh
99
Jebakan Sarden Kadaluarsa
100
Dimas ingin cerai
101
Memutuskan hubungan keluarga
102
Kue untuk Tiara
103
Air Dukun
104
Niat busuk Bu Ajeng
105
Ada apa dengan Dimas???
106
Tidak ada karma dalam kamusku
107
Pinjam pacar?
108
Jampi Gagal
109
Jampi salah sasaran
110
Kamu bukan anakku lagi
111
Jadi pembantu di rumah Bu Sukma
112
Salam pembuka untuk Bu Ajeng
113
Roda itu berputar
114
Memutuskan Ratih
115
Ditalak Rangga
116
Kakak Adik Bernasib Sama
117
Nasib Malang Bu Ajeng
118
Aryo
119
Hadi menembak Tiara
120
Bertemu suami Siska
121
Bu Ajeng disiksa
122
Bantuan dari Arga
123
KEDATANGAN DAMAR
124
Makan siang bersama Laras
125
Kekhawatiran seorang kakak
126
Arisan di rumah Bu Sukma
127
Adu mulut Dimas dan Maya
128
Bakso pinggir jalan
129
Bertemu Laras
130
Kecurigaan Damar
131
Ternyata yang disukai Damar adalah Laras
132
Maya diusir dari rumahnya
133
Cerita dari Aryo
134
Mengumpulkan bukti
135
Damar jaga jarak
136
Siska Hamil???
137
Kejutan makan malam
138
Kebohongan Siska Terbongkar
139
Restu Pak Baskoro
140
Persaingan 3 Pria
141
Ancaman Damar
142
Menolak kerjasama dengan Siska
143
Miskin tapi sombong
144
Kenekatan Hadi
145
Benang kusut
146
Tiga Pria
147
Gila Kerja
148
Pertemuan Tiara dan Alex
149
Menjadi Kuli Bangunan
150
Hari Apes Tidak Ada yang Tahu
151
Tidak Mau Lumpuh
152
Seperti Arga
153
Dimas Menghilang
154
Buat Aku Jatuh Cinta dalam 2 Bulan
155
Maya jadi pengemis
156
Dukungan dari pusat
157
Benarkah sudah jatuh cinta?
158
Membujuk Laras
159
Hanya sebatas kakak adik
160
Ratih ditangkap polisi
161
Ancaman Maya
162
Maya VS Arga
163
Sebuah perjalanan hidup
164
Keputusan Laras
165
Bu Ajeng dan Maya Meninggal ( TAMAT )

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!