Rumah Tangga di Ujung Saldo

"Laraaaaaas...!!!"

Pekikan melengking Bu Ajeng memecah keheningan pagi pukul tujuh. Wanita itu sudah tampil rapi, siap untuk menyantap sarapan. Namun, langkahnya terhenti kaku di depan meja makan. Tidak ada kepulan uap nasi hangat, tidak ada aroma masakan. Yang ada hanyalah tumpukan piring kotor sisa semalam yang mulai mengering, bekas makan malam tiga porsi ayam bakar yang dipesan Arga melalui grabfood.

Laras benar-benar tidak menyentuhnya. Sejak pukul setengah enam pagi, ia telah melesat pergi, dijemput oleh Rani dan Andin. Arga, yang masih terbuai mimpi, sama sekali tidak menyadari bahwa istrinya benar-benar nekat melakukan rencana liburan itu.

"Ada apa sih, Bu? Pagi-pagi sudah teriak, ganggu orang tidur saja." keluh Tiara yang muncul dari kamar tamu dengan wajah bantal dan rambut kusut.

"Lihat itu! Istri kakakmu sampai jam segini belum bangun, apalagi masak. Dasar menantu pemalas. Laraaasss,  Bangun!!" teriak Bu Ajeng lagi, urat lehernya tampak menegang.

Tiara menggaruk telinganya yang gatal karena suara cempreng ibunya. "Ya ampun, Bu. Kalau kesal tinggal gedor saja kamarnya, tidak usah teriak-teriak begitu. Sakit telinga Tiara dengarnya."

Bu Ajeng mendengus, lalu melangkah lebar menuju kamar Laras dan Arga. Pintu kayu itu menjadi sasaran kemarahannya.

Braakk! Braakk!

"Laras! Bangun! Matahari sudah tinggi, kamu masih enak-enakan tidur! Cepat bangun dan siapkan sarapan!" titahnya dengan suara lantang yang menggelegar.

Di dalam kamar, Arga mengerang. Kepalanya berdenyut mendengar keributan itu. Dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya, ia turun dari ranjang dan membuka pintu yang sudah tidak terkunci.

"Ada apa sih, Bu? Ini hari Minggu, Arga mau istirahat." ucapnya dengan mata sayu.

"Mana istrimu??? Jam segini belum kelihatan batang hidungnya. Meja makan masih berantakan dari semalam. Dasar istri tidak berguna. " cerca Bu Ajeng tanpa jeda.

Arga mengucek matanya, lalu menoleh ke arah ranjang yang sudah rapi untuk seseorang yang baru bangun tidur. Kamar mandi pun terbuka lebar dan kosong.

"Laras tidak ada, Bu. Sepertinya sudah bangun." gumam Arga pelan.

"Kalau sudah bangun, kenapa dia tidak masak? Ke mana dia?!"

"Mungkin lari pagi atau ke pasar. Biasanya kan memang begitu kalau hari Minggu." jawab Arga mencoba membela diri sekaligus mencari alasan yang logis.

Namun, insting Bu Ajeng berkata lain. Ia melirik ke arah garasi samping. "Tidak mungkin ke pasar. Motor dan mobil kantornya masih ada di garasi. Jangan-jangan dia benar-benar pergi liburan? Arga, cepat cek barang-barangnya!"

Jantung Arga mencelos. Ia teringat perdebatan mereka kemarin. Ia segera melangkah menuju lemari tempat penyimpanan koper. Kosong. Tempat itu kini hanya menyisakan ruang hampa.

"Kopernya tidak ada, Bu. Sialan, dia benar-benar pergi!" geram Arga, tangannya mengepal kuat.

"Coba periksa pakaiannya!" perintah Bu Ajeng lagi.

"Tidak bisa, Bu. Lemari pakaiannya selalu dikunci dan kuncinya dia bawa sendiri. Aku telepon saja dia. " Arga meraih ponselnya di atas nakas. Baru saja ia hendak mencari kontak istrinya, sebuah notifikasi pesan masuk muncul di layar.

[Maaf ya, Mas, aku pergi tidak pamit dulu. Kalau aku pamit, pasti kamu tidak akan kasih izin. Yang jelas, dari kemarin aku sudah bilang kalau aku mau liburan. Aku pergi empat hari Mas.]

"Kurang ajar!" Arga memaki. Rahangnya mengeras. Laras yang biasanya penurut, kini berani menentangnya secara terang-terangan.

"Laras liburan, Bu. Ini dia baru kirim pesan." ucap Arga dengan nada malas yang menyembunyikan rasa jengkel yang luar biasa.

"Menantu sialan." Bu Ajeng berteriak murka. "Dia lebih mementingkan liburan daripada membayar uang semester Tiara? Awas saja kalau kamu pulang, Laras. Ibu tidak akan memaafkanmu."

Drama kepergian Laras belum juga mereda hingga siang hari. Bu Ajeng terus menggerutu, meluapkan kekesalannya kepada siapa saja yang lewat, termasuk Dimas, putra sulungnya yang baru saja tiba.

Namun, kedatangan Dimas bukan membawa solusi, melainkan beban baru. Dimas hanya duduk diam mendengarkan keluhan ibunya tentang Laras yang 'kurang ajar', sementara pikirannya sendiri sedang carut-marut.

"Terus biaya semester Tiara bagaimana, Bu?" Tiara merengek, wajahnya ditekuk masam. "Cicilan mobilku juga sudah jatuh tempo."

Bu Ajeng menghela napas berat. "Ibu juga bingung. Dimas, kamu ada simpanan tidak? Ibu pinjam dulu untuk bayar semester dan cicilan Tiara. Nanti kalau Laras sudah pulang dan kasih uang, pasti Ibu kembalikan."

Dimas membuang napas dengan kasar. Alih-alih membantu, kedatangannya justru memiliki niat yang sama.

"Justru Dimas ke sini mau pinjam uang sama Ibu." ucap Dimas terus terang. "Dimas lagi susah, Bu. Gaji Dimas memang lumayan, tapi tidak cukup untuk gaya hidup istri Dimas. Sinta juga belum bayar SPP dua bulan, lalu sekolahnya mau ada acara jalan-jalan ke luar kota. Dimas butuh 10 juta, Bu."

Bu Ajeng terdiam. Rumah yang biasanya disubsidi oleh Laras itu kini terasa mencekam. Sang donatur telah pergi mencari ketenangannya sendiri, meninggalkan keluarga yang selama ini hanya tahu cara meminta tanpa pernah menghargai kehadirannya.

Dimas memasang wajah sepucat mungkin, sebuah topeng kesedihan yang ia rancang demi memancing iba sang ibu. Ia tahu persis bahwa Bu Ajeng masih menyimpan rahasia kecil, satu set perhiasan berharga yang bisa menjadi penyelamatnya.

Padahal, di balik alasan biaya sekolah Sinta (anaknya yang terpaksa bersekolah di tempat elit demi gengsi sang istri), tersembunyi sebuah kebohongan besar. Uang itu bukan untuk pendidikan, melainkan untuk membiayai ambisi Ratih, istrinya yang ingin berpelesir mewah bersama geng sosialitanya. Ratih dan Bu Ajeng sebenarnya adalah dua sisi dari koin yang sama,  haus akan pujian, gemar pamer, dan tak peduli dari mana uang itu berasal, asalkan keinginan mereka terpenuhi saat itu juga.

"Dimas, kamu benar-benar sesusah itu, Nak?" tanya Bu Ajeng dengan suara bergetar. "Ibu tidak punya uang tunai lagi. Sawah bagian kalian sudah ludes terjual. Harapan Ibu satu-satunya cuma Laras, tapi menantu tidak tahu diuntung itu malah pergi bersenang-senang."

"Apa Ibu benar-benar tidak punya simpanan lain?" pancing Dimas dengan nada mendesak.

Bu Ajeng terdiam, batinnya berperang. Aku hanya punya satu set perhiasan terakhir. Kalau kujual, aku pakai apa saat arisan nanti? pikirnya cemas. Namun, sedetik kemudian ia mencoba menghibur diri. "Mungkin aku bisa pakai perhiasan imitasi dulu. Lagipula, kualitasnya mirip sekali dengan yang asli. Sialan kau Laras, andai saja kau tidak pergi, aku tidak perlu mengorbankan emas ini."

"Ibu masih punya perhiasan," ucap Bu Ajeng akhirnya, menyerah pada rasa sayangnya yang pilih kasih. "Kalau kamu memang terdesak, juallah. Kasihan Sinta kalau harus malu karena belum membayar sekolah."

"Ibu! Kok malah perhiasannya dijual untuk Mas Dimas?" seru Tiara tidak terima. "Terus bagaimana dengan biaya kuliahku dan cicilan mobilku?!"

Tiara mengepalkan tangan. Rasa iri membakar dadanya. Sejak dulu, ia merasa ibunya selalu menomorsatukan Dimas dan Maya, sementara dirinya selalu dianaktirikan.

"Masalah itu gampang, nanti kita tinggal paksa Laras," jawab Bu Ajeng enteng. "Kalau kita desak terus, dia pasti akan menyerahkan uangnya."

"Terima kasih, Bu. Terima kasih banyak!" Dimas berseru girang. "Dimas janji akan segera mengembalikannya, bahkan Dimas lebihkan nanti. Sekarang kita pulang, biar hari ini juga perhiasannya bisa Dimas jual."

"Iya, Ibu bereskan barang-barang dulu." sahut Bu Ajeng sambil menoleh ke arah Tiara. "Tiara, cepat kemas barangmu. Kita pulang sekarang. Nanti kalau Laras sudah kembali, kita ke sini lagi."

"Baiklah, Bu," gumam Tiara pelan, meski hatinya masih diliputi dongkol.

Di sudut ruangan, Dimas tersenyum lebar, merasa beban berat baru saja terangkat dari bahunya. Ia bisa bernapas lega karena istrinya tidak akan murka atau mendiamkannya lagi. Lebih dari itu, ia telah lolos dari ancaman besar; Ana tidak akan jadi angkat kaki menuju rumah orang tuanya hanya karena masalah uang.

Sangat ironis.  Bu Ajeng lebih memilih mengorbankan emasnya demi menantu lain Ratih daripada membantu Tiara, dan mereka semua berencana mengeroyok Laras begitu dia pulang.

Terpopuler

Comments

-Thiea-

-Thiea-

mending kabur sekalian Laras. keluarga suamimu gaya elit hidup sulit. tinggalkan aja keluarga begitu..😑

2026-03-26

1

Guntur adiguna

Guntur adiguna

benalu benalu itu sungguh tak tahu diri semoga aja laras cerai sama arga

2026-06-01

0

Uthie

Uthie

Dasar keluarga toxic😡

2026-04-07

1

lihat semua
Episodes
1 Aku bukan mesin uang
2 Uangku. Bukan Uang Kalian
3 Rumah Tangga di Ujung Saldo
4 TUNGGAKAN BANK
5 Ipar Julid
6 Melihat Ipar saat Liburan
7 Rumah seperti kapal pecah
8 Oleh-Oleh
9 Keluarga Aneh
10 Diamnya Laras
11 Bertengkar
12 Siapa Angel?
13 Rumah disita Bank
14 Keluarga Toxic
15 Bau Parfum
16 Dikasi Hati minta Jantung
17 Pinjam Uang Laras
18 Kedatangan Orang Tua Laras
19 Kamu selingkuh???
20 Suami Orang, Bu !!!
21 Mendekati Keluarga Calon Suami
22 Mengikuti Arga
23 Pembalasan yang Elegant
24 Momen yang pas
25 Tidur di kamar Laras
26 Angel Hamil???
27 Tunggu Pembalasanku !!!
28 Alat mandiku hilang
29 Aku bukan mesin uang
30 Pernikahan semakin dekat
31 Mengetahui rencana Arga
32 Gosip tetangga
33 Pembalasan dimulai, Mas.
34 SAHHHHH !!!
35 Aku dimadu???
36 Mobil Tiara disita
37 Laras Shopping, Angel Iri
38 Inikan Rumah Bapak?
39 DITALAK
40 KEMALINGAN???
41 Menyindir Bu Sitti
42 Minggu yang melelahkan
43 Bu Ajeng tidak mau di penjara
44 Memarahi Angel
45 Pemilik baru
46 Melabrak Laras
47 Sindirian untuk Bi Sitti
48 Pelakor teriak pelakor
49 Angel ketahuan
50 Terbongkarnya kebohongan Angel dan Bu Sitti
51 Saling menyalahkan
52 Bu Sitti masuk RS
53 Rencana jahat Angel
54 DR Group
55 Mantan suami tak tau malu
56 Pinjam uang ke Mbak Maya
57 Rencana pindah rumah
58 Damar Wicaksono Prakoso
59 Kontrakan kumuh Bu Ajeng
60 Melabrak Laras
61 Pedofil?
62 Arga menemui Laras
63 Seperti pengemis
64 Angel seperti pembantu
65 Berpasangan dengan Damar
66 Mantra dari dukun
67 Anak kesayangan Ibu
68 Cupang
69 Apa aku anak pungut?
70 Tiba-tiba dilamar
71 Warisan yang dirahasiakan
72 Seperti backstreet saja
73 Fakta baru untuk Arga
74 Mencari surat tanah
75 Menawarkan tanah
76 Dimas Korupsi
77 Dimas dipecat
78 Akhirnya terjual juga
79 Menyusun rencana
80 Menjebak Arga
81 Hilang???
82 Mengabaikan telelpon
83 Sikap bodo amat
84 Tiara atau Ibu?
85 Hampir jatuh tempo
86 Damar dijodohkan
87 Ratih akhirnya tau
88 Kemana sertifikat tanah itu?
89 Siapa yang menjualnya?
90 Dimas dan Ratih pindah ke kontrakan
91 Ratih ketahuan selingkuh
92 Kebohongan terbongkar
93 Menceraikan Angel
94 Mencari rumah baru
95 Dendam masa lalu
96 PERGI DARI SINI !!!
97 Pindah Rumah
98 Dimas Bodoh
99 Jebakan Sarden Kadaluarsa
100 Dimas ingin cerai
101 Memutuskan hubungan keluarga
102 Kue untuk Tiara
103 Air Dukun
104 Niat busuk Bu Ajeng
105 Ada apa dengan Dimas???
106 Tidak ada karma dalam kamusku
107 Pinjam pacar?
108 Jampi Gagal
109 Jampi salah sasaran
110 Kamu bukan anakku lagi
111 Jadi pembantu di rumah Bu Sukma
112 Salam pembuka untuk Bu Ajeng
113 Roda itu berputar
114 Memutuskan Ratih
115 Ditalak Rangga
116 Kakak Adik Bernasib Sama
117 Nasib Malang Bu Ajeng
118 Aryo
119 Hadi menembak Tiara
120 Bertemu suami Siska
121 Bu Ajeng disiksa
122 Bantuan dari Arga
123 KEDATANGAN DAMAR
124 Makan siang bersama Laras
125 Kekhawatiran seorang kakak
126 Arisan di rumah Bu Sukma
127 Adu mulut Dimas dan Maya
128 Bakso pinggir jalan
129 Bertemu Laras
130 Kecurigaan Damar
131 Ternyata yang disukai Damar adalah Laras
132 Maya diusir dari rumahnya
133 Cerita dari Aryo
134 Mengumpulkan bukti
135 Damar jaga jarak
136 Siska Hamil???
137 Kejutan makan malam
138 Kebohongan Siska Terbongkar
139 Restu Pak Baskoro
140 Persaingan 3 Pria
141 Ancaman Damar
142 Menolak kerjasama dengan Siska
143 Miskin tapi sombong
144 Kenekatan Hadi
145 Benang kusut
146 Tiga Pria
147 Gila Kerja
148 Pertemuan Tiara dan Alex
149 Menjadi Kuli Bangunan
150 Hari Apes Tidak Ada yang Tahu
151 Tidak Mau Lumpuh
152 Seperti Arga
153 Dimas Menghilang
154 Buat Aku Jatuh Cinta dalam 2 Bulan
155 Maya jadi pengemis
156 Dukungan dari pusat
157 Benarkah sudah jatuh cinta?
158 Membujuk Laras
159 Hanya sebatas kakak adik
160 Ratih ditangkap polisi
161 Ancaman Maya
162 Maya VS Arga
163 Sebuah perjalanan hidup
164 Keputusan Laras
165 Bu Ajeng dan Maya Meninggal ( TAMAT )
Episodes

Updated 165 Episodes

1
Aku bukan mesin uang
2
Uangku. Bukan Uang Kalian
3
Rumah Tangga di Ujung Saldo
4
TUNGGAKAN BANK
5
Ipar Julid
6
Melihat Ipar saat Liburan
7
Rumah seperti kapal pecah
8
Oleh-Oleh
9
Keluarga Aneh
10
Diamnya Laras
11
Bertengkar
12
Siapa Angel?
13
Rumah disita Bank
14
Keluarga Toxic
15
Bau Parfum
16
Dikasi Hati minta Jantung
17
Pinjam Uang Laras
18
Kedatangan Orang Tua Laras
19
Kamu selingkuh???
20
Suami Orang, Bu !!!
21
Mendekati Keluarga Calon Suami
22
Mengikuti Arga
23
Pembalasan yang Elegant
24
Momen yang pas
25
Tidur di kamar Laras
26
Angel Hamil???
27
Tunggu Pembalasanku !!!
28
Alat mandiku hilang
29
Aku bukan mesin uang
30
Pernikahan semakin dekat
31
Mengetahui rencana Arga
32
Gosip tetangga
33
Pembalasan dimulai, Mas.
34
SAHHHHH !!!
35
Aku dimadu???
36
Mobil Tiara disita
37
Laras Shopping, Angel Iri
38
Inikan Rumah Bapak?
39
DITALAK
40
KEMALINGAN???
41
Menyindir Bu Sitti
42
Minggu yang melelahkan
43
Bu Ajeng tidak mau di penjara
44
Memarahi Angel
45
Pemilik baru
46
Melabrak Laras
47
Sindirian untuk Bi Sitti
48
Pelakor teriak pelakor
49
Angel ketahuan
50
Terbongkarnya kebohongan Angel dan Bu Sitti
51
Saling menyalahkan
52
Bu Sitti masuk RS
53
Rencana jahat Angel
54
DR Group
55
Mantan suami tak tau malu
56
Pinjam uang ke Mbak Maya
57
Rencana pindah rumah
58
Damar Wicaksono Prakoso
59
Kontrakan kumuh Bu Ajeng
60
Melabrak Laras
61
Pedofil?
62
Arga menemui Laras
63
Seperti pengemis
64
Angel seperti pembantu
65
Berpasangan dengan Damar
66
Mantra dari dukun
67
Anak kesayangan Ibu
68
Cupang
69
Apa aku anak pungut?
70
Tiba-tiba dilamar
71
Warisan yang dirahasiakan
72
Seperti backstreet saja
73
Fakta baru untuk Arga
74
Mencari surat tanah
75
Menawarkan tanah
76
Dimas Korupsi
77
Dimas dipecat
78
Akhirnya terjual juga
79
Menyusun rencana
80
Menjebak Arga
81
Hilang???
82
Mengabaikan telelpon
83
Sikap bodo amat
84
Tiara atau Ibu?
85
Hampir jatuh tempo
86
Damar dijodohkan
87
Ratih akhirnya tau
88
Kemana sertifikat tanah itu?
89
Siapa yang menjualnya?
90
Dimas dan Ratih pindah ke kontrakan
91
Ratih ketahuan selingkuh
92
Kebohongan terbongkar
93
Menceraikan Angel
94
Mencari rumah baru
95
Dendam masa lalu
96
PERGI DARI SINI !!!
97
Pindah Rumah
98
Dimas Bodoh
99
Jebakan Sarden Kadaluarsa
100
Dimas ingin cerai
101
Memutuskan hubungan keluarga
102
Kue untuk Tiara
103
Air Dukun
104
Niat busuk Bu Ajeng
105
Ada apa dengan Dimas???
106
Tidak ada karma dalam kamusku
107
Pinjam pacar?
108
Jampi Gagal
109
Jampi salah sasaran
110
Kamu bukan anakku lagi
111
Jadi pembantu di rumah Bu Sukma
112
Salam pembuka untuk Bu Ajeng
113
Roda itu berputar
114
Memutuskan Ratih
115
Ditalak Rangga
116
Kakak Adik Bernasib Sama
117
Nasib Malang Bu Ajeng
118
Aryo
119
Hadi menembak Tiara
120
Bertemu suami Siska
121
Bu Ajeng disiksa
122
Bantuan dari Arga
123
KEDATANGAN DAMAR
124
Makan siang bersama Laras
125
Kekhawatiran seorang kakak
126
Arisan di rumah Bu Sukma
127
Adu mulut Dimas dan Maya
128
Bakso pinggir jalan
129
Bertemu Laras
130
Kecurigaan Damar
131
Ternyata yang disukai Damar adalah Laras
132
Maya diusir dari rumahnya
133
Cerita dari Aryo
134
Mengumpulkan bukti
135
Damar jaga jarak
136
Siska Hamil???
137
Kejutan makan malam
138
Kebohongan Siska Terbongkar
139
Restu Pak Baskoro
140
Persaingan 3 Pria
141
Ancaman Damar
142
Menolak kerjasama dengan Siska
143
Miskin tapi sombong
144
Kenekatan Hadi
145
Benang kusut
146
Tiga Pria
147
Gila Kerja
148
Pertemuan Tiara dan Alex
149
Menjadi Kuli Bangunan
150
Hari Apes Tidak Ada yang Tahu
151
Tidak Mau Lumpuh
152
Seperti Arga
153
Dimas Menghilang
154
Buat Aku Jatuh Cinta dalam 2 Bulan
155
Maya jadi pengemis
156
Dukungan dari pusat
157
Benarkah sudah jatuh cinta?
158
Membujuk Laras
159
Hanya sebatas kakak adik
160
Ratih ditangkap polisi
161
Ancaman Maya
162
Maya VS Arga
163
Sebuah perjalanan hidup
164
Keputusan Laras
165
Bu Ajeng dan Maya Meninggal ( TAMAT )

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!