KUBALAS PERBUATAN SUAMI & KELUARGANYA

KUBALAS PERBUATAN SUAMI & KELUARGANYA

Aku bukan mesin uang

"Laras, kamu sudah kirim uang bulanan untuk Ibu dan Tiara?" tanya Arga sambil mengunyah sarapannya.

Seperti bulan-bulan sebelumnya selama empat tahun ini, Arga selalu menagih istrinya untuk menyokong kebutuhan ibu dan adik bungsunya. Ibu Arga adalah seorang janda, dan Tiara masih menempuh bangku perkuliahan. Meski Arga memiliki dua kakak, satu laki-laki dan satu kakak perempuan, entah mengapa seluruh beban finansial ibu dan adiknya justru dilimpahkan kepada Laras.

"Iya, Mas. Sudah," jawab Laras singkat. Ia terus mengunyah nasi gorengnya tanpa sekalipun menoleh ke arah suaminya.

Tiba-tiba, ponsel Arga bergetar. Sebuah notifikasi pesan masuk membuatnya langsung berhenti makan. Setelah membaca pesan tersebut, wajahnya berubah merah. Ia menatap Laras dengan sorot mata tajam.

"Apa maksudnya ini, Laras? Hah?" Arga menyodorkan layar ponselnya, memperlihatkan pesan protes dari ibunya.

"Maksud Mas?" tanya Laras pura-pura tidak mengerti, padahal ia tahu persis apa yang sedang dipermasalahkan suaminya.

"Kenapa kamu cuma kirimin Ibu dan Tiara masing-masing satu juta? Biasanya kamu kasih Ibu enam juta dan Tiara tiga juta. Belum lagi Tiara bilang ini waktunya bayar uang semester!" suara Arga mulai meninggi.

Sudah Laras duga, Ibu Ajeng pasti langsung melapor pada anaknya itu. Padahal baru sepuluh menit yang lalu Laras mentransfer uangnya. Cepat sekali mereka mengadu pada anaknya itu.

Selama empat tahun pernikahan, Laraslah yang memenuhi segala kebutuhan ibu mertua dan adik iparnya. Awalnya, Laras tidak keberatan karena ia menganggap itu sebagai bentuk bakti. Namun, lama-kelamaan kebaikannya justru dimanfaatkan. Arga seolah lepas tangan dan mengabaikan tugasnya sebagai kepala rumah tangga.

"Maaf, Mas. Mulai bulan ini aku hanya bisa memberi jumlah segitu. Aku juga punya banyak kebutuhan pribadi. Lagipula, masih ada Mas Dimas dan Mbak Maya yang bisa membantu. Ibu dan Tiara bukan tanggung jawab penuhku, Mas," ucap Laras tenang namun tegas.

"Laras! Kamu mau perhitungan dengan keluargaku? Gaji kamu itu besar, apa salahnya membantu mereka? Mereka itu keluarga kamu juga atau jangan-jangan uangnya mau kamu kasih ke orang tuamu sendiri?" tuduh Arga dengan nada kasar.

"Kalaupun aku mau memberi orang tuaku, itu hakku, Mas. Itu uangku sendiri. Sekarang aku tanya padamu, apa yang sudah kamu berikan untuk orang tuaku sampai kamu berani menuntutku terus-menerus?" Laras membalas telak. "Mas Dimas punya gaji yang mapan, Mbak Maya punya toko sembako besar. Mereka sanggup membantu. Jadi, satu juta dariku sudah lebih dari cukup untuk Ibu."

Brak!

Argamenggebrak meja makan, tak terima dengan argumen istrinya. Baginya, Laras sudah sangat berani dan melampaui batas. Namun, Laras tidak gentar sedikit pun.

"Laras, kamu itu istriku! Kamu harus patuh padaku. Tiara itu mau bayar uang semester. Kalau tidak bayar, dia tidak bisa ikut ujian. Jangan egois jadi orang!" Arga mencoba merendahkan suaranya, mencoba memanipulasi perasaan Laras.

"Maaf Mas, tetap tidak bisa. Aku butuh uang karena besok siang aku akan pergi berlibur dengan teman-temanku. Sekali-kali, kamulah yang bayar uang semester Tiara. Selama tiga tahun ini, aku terus yang menanggungnya," ujar Laras sambil menyudahi sarapannya.

"Gajiku mana cukup untuk bayar semester Tiara! Kamu kan tahu gajiku kecil! Untuk apa kamu liburan? Lebih baik uangnya dipakai untuk hal yang lebih penting, untuk bayar semester Tiara!" bentak Arga yang kian geram.

Laras hanya menghela napas panjang. Ia sudah muak bertengkar pagi-pagi. Ia bangkit, membawa piring dan gelas bekasnya ke wastafel, lalu mencucinya sendiri. Selama dua tahun ini, ia juga mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tanpa asisten rumah tangga demi menghemat biaya.

Selesai mencuci piring, Laras bersiap berangkat ke kantor. Namun, saat melewati Arga yang masih merengut di meja makan, ia menghentikan langkahnya.

"Oh iya, Mas. Mulai bulan ini aku juga tidak mau lagi membayar cicilan mobil Tiara. Aku sendiri pakai mobil kantor, tapi malah aku yang membayar mobil Tiara. Jangan lupa, cicilannya delapan juta dan jatuh tempo setiap tanggal tiga," ucap Laras telak.

"Apa?!"

Argatersentak. Wajahnya pucat pasi. Gajinya akan habis tak bersisa jika harus menanggung cicilan mobil itu sendirian.

"Kamu tidak bisa egois begini, Laras! Kalau cicilannya tidak dibayar, nanti mobilnya ditarik. Ayolah Laras, jangan perhitungan begini!"

"Minta tolong saja pada Mas Dimas atau Mbak Maya kalau kamu tidak punya uang. Aku berangkat dulu. Assalamualaikum," ucap Laras seraya melangkah pergi tanpa menoleh lagi.

"Laras! Laras! Sial!" teriak Arga, namun diabaikan.

Laras berjalan menuju mobilnya yang terparkir di halaman rumah sederhana namun minimalis itu. Rumah itu ada sebelum mereka menikah dan itu adalah hadiah dari Ayah Laras saat ulang tahunnya.

"Ck…. Aku nggak mau dimanfaatkan lagi sama kalian. Cukup sudah aku menanggung hidup kalian selama empat tahun ini," batin Laras mantap sambil menginjak pedal gas, meninggalkan rumah yang selama ini terasa menyesakkan itu. Arga menuju rumah ibunya saat jam makan siang.

"Istri kamu benar-benar keterlaluan Arga, masa dia kirim uang cuma satu juta buat Ibu dan Tiara. Uang segitu mana cukup untuk sebulan? Mana Tiara mau bayar semester bulan ini."

Arga menarik napas panjang sebelum akhirnya berterus terang kepada ibu dan adiknya. "Bu, sepertinya Laras lagi marah. Dia tidak mau lagi membayar uang semester Tiara dan untuk uang bulanan kalian, Laras hanya akan memberikan satu juta untuk ke depannya. Bahkan, cicilan mobil Tiara pun sudah tidak mau dia bayar lagi. Aku benar-benar pusing, Bu," akunya dengan wajah frustrasi.

"Apa?!"

Bu Ajeng dan Tiara terperanjat secara bersamaan. Keduanya merasa syok sekaligus tidak terima dengan keputusan sepihak dari Laras.

"Kurang ajar sekali Laras itu! Apa dia sudah tidak mau lagi menjadi bagian dari keluarga kita?" seru Bu Ajeng dengan nada penuh kemarahan. "Mana cukup uang satu juta untuk satu bulan? Lalu bagaimana dengan kuliah Tiara? Ibu harus bicara langsung dengannya!"

Tiara pun tak kalah sengit menimpali. "Mas, kalau mobil itu sampai ditarik, aku mau naik apa ke kampus? Selama ini aku juga ngaku sama teman-teman kalau mobil itu Mas beli cash. Mbak Laras benar-benar keterlaluan!" ucapnya tanpa rasa hormat sedikit pun pada kakak iparnya.

"Eemh... sabar yah. Sepertinya saat ini Laras lagi marah. Untuk bulan ini, minta Mas Dimas atau Mbak Maya dulu," usul Arga mencoba mencari jalan keluar.

"Tidak bisa! Kasihan kakak-kakakmu, Arga. Mereka sudah punya anak, pasti kebutuhannya besar. Cicilan mobil Tiara dan uang semesternya saja sudah sepuluh juta lebih, itu jumlah yang banyak. Ibu tidak mau membebani mereka kalau mereka sendiri yang harus menanggungnya." tegas Bu Ajeng.

Alasan itulah yang membuat Bu Ajeng enggan meminta bantuan pada anak pertama dan keduanya. Di sisi lain, ia sadar Laras bergaji besar. Hal itulah yang membuatnya selalu mengandalkan sang menantu, meskipun selama ini ia sendiri tidak pernah benar-benar menyukai Laras.

"Nanti Ibu akan ke rumahmu. Mumpung besok hari Minggu, Ibu mau menginap sekalian. Bilang pada istrimu, suruh dia pulang cepat dan siapkan makan malam yang enak," perintah Bu Ajeng lagi.

"Asyik…. Aku mau makan sop buntut buatan Mbak Laras," tambah Tiara dengan sikap manja yang kurang ajar.

Argapun mengadu lagi tentang rencana istrinya. "Tapi Laras besok mau pergi liburan sama teman-temannya."

"Apa-apaan itu? Enak sekali dia mau bersenang-senang sementara uang semester adiknya saja belum dibayar. Daripada dipakai liburan, lebih baik uangnya untuk bayar kuliah dan cicilan mobil Tiara. Nanti Ibu akan marahi dia. Seenaknya saja menghamburkan uang," ucap Bu Ajeng.

Karena jam istirahat kantor hampir usai, Arga pun pamit. Kantornya memang cukup dekat dengan rumah ibunya, hanya sekitar 15 menit perjalanan.

Setelah Arga pergi, Tiara kembali bertanya karena penasaran. "Bu, sebenarnya gaji Mbak Laras itu berapa sih?"

"Kata kakakmu sih lebih dari 40 juta, belum lagi kalau dia dapat bonus dan tunjangan. Dia kan punya jabatan tinggi di perusahaannya," jawab Bu Ajeng.

Tiara hanya bisa berdecak kagum. "Waoowh... banyak banget Bu."

Terpopuler

Comments

Guntur adiguna

Guntur adiguna

hallo salam kenal ,
dasar benalu tengik ga tahu malu

2026-06-01

1

Iisrosmayanti

Iisrosmayanti

duit duit Saha Naha maneh anu ngatur na mertua durkaka🤣 ikut emosi 😤😤😤

2026-05-10

1

Yati Syahira

Yati Syahira

benalu tapi arogan laras bodoh lama

2026-02-25

2

lihat semua
Episodes
1 Aku bukan mesin uang
2 Uangku. Bukan Uang Kalian
3 Rumah Tangga di Ujung Saldo
4 TUNGGAKAN BANK
5 Ipar Julid
6 Melihat Ipar saat Liburan
7 Rumah seperti kapal pecah
8 Oleh-Oleh
9 Keluarga Aneh
10 Diamnya Laras
11 Bertengkar
12 Siapa Angel?
13 Rumah disita Bank
14 Keluarga Toxic
15 Bau Parfum
16 Dikasi Hati minta Jantung
17 Pinjam Uang Laras
18 Kedatangan Orang Tua Laras
19 Kamu selingkuh???
20 Suami Orang, Bu !!!
21 Mendekati Keluarga Calon Suami
22 Mengikuti Arga
23 Pembalasan yang Elegant
24 Momen yang pas
25 Tidur di kamar Laras
26 Angel Hamil???
27 Tunggu Pembalasanku !!!
28 Alat mandiku hilang
29 Aku bukan mesin uang
30 Pernikahan semakin dekat
31 Mengetahui rencana Arga
32 Gosip tetangga
33 Pembalasan dimulai, Mas.
34 SAHHHHH !!!
35 Aku dimadu???
36 Mobil Tiara disita
37 Laras Shopping, Angel Iri
38 Inikan Rumah Bapak?
39 DITALAK
40 KEMALINGAN???
41 Menyindir Bu Sitti
42 Minggu yang melelahkan
43 Bu Ajeng tidak mau di penjara
44 Memarahi Angel
45 Pemilik baru
46 Melabrak Laras
47 Sindirian untuk Bi Sitti
48 Pelakor teriak pelakor
49 Angel ketahuan
50 Terbongkarnya kebohongan Angel dan Bu Sitti
51 Saling menyalahkan
52 Bu Sitti masuk RS
53 Rencana jahat Angel
54 DR Group
55 Mantan suami tak tau malu
56 Pinjam uang ke Mbak Maya
57 Rencana pindah rumah
58 Damar Wicaksono Prakoso
59 Kontrakan kumuh Bu Ajeng
60 Melabrak Laras
61 Pedofil?
62 Arga menemui Laras
63 Seperti pengemis
64 Angel seperti pembantu
65 Berpasangan dengan Damar
66 Mantra dari dukun
67 Anak kesayangan Ibu
68 Cupang
69 Apa aku anak pungut?
70 Tiba-tiba dilamar
71 Warisan yang dirahasiakan
72 Seperti backstreet saja
73 Fakta baru untuk Arga
74 Mencari surat tanah
75 Menawarkan tanah
76 Dimas Korupsi
77 Dimas dipecat
78 Akhirnya terjual juga
79 Menyusun rencana
80 Menjebak Arga
81 Hilang???
82 Mengabaikan telelpon
83 Sikap bodo amat
84 Tiara atau Ibu?
85 Hampir jatuh tempo
86 Damar dijodohkan
87 Ratih akhirnya tau
88 Kemana sertifikat tanah itu?
89 Siapa yang menjualnya?
90 Dimas dan Ratih pindah ke kontrakan
91 Ratih ketahuan selingkuh
92 Kebohongan terbongkar
93 Menceraikan Angel
94 Mencari rumah baru
95 Dendam masa lalu
96 PERGI DARI SINI !!!
97 Pindah Rumah
98 Dimas Bodoh
99 Jebakan Sarden Kadaluarsa
100 Dimas ingin cerai
101 Memutuskan hubungan keluarga
102 Kue untuk Tiara
103 Air Dukun
104 Niat busuk Bu Ajeng
105 Ada apa dengan Dimas???
106 Tidak ada karma dalam kamusku
107 Pinjam pacar?
108 Jampi Gagal
109 Jampi salah sasaran
110 Kamu bukan anakku lagi
111 Jadi pembantu di rumah Bu Sukma
112 Salam pembuka untuk Bu Ajeng
113 Roda itu berputar
114 Memutuskan Ratih
115 Ditalak Rangga
116 Kakak Adik Bernasib Sama
117 Nasib Malang Bu Ajeng
118 Aryo
119 Hadi menembak Tiara
120 Bertemu suami Siska
121 Bu Ajeng disiksa
122 Bantuan dari Arga
123 KEDATANGAN DAMAR
124 Makan siang bersama Laras
125 Kekhawatiran seorang kakak
126 Arisan di rumah Bu Sukma
127 Adu mulut Dimas dan Maya
128 Bakso pinggir jalan
129 Bertemu Laras
130 Kecurigaan Damar
131 Ternyata yang disukai Damar adalah Laras
132 Maya diusir dari rumahnya
133 Cerita dari Aryo
134 Mengumpulkan bukti
135 Damar jaga jarak
136 Siska Hamil???
137 Kejutan makan malam
138 Kebohongan Siska Terbongkar
139 Restu Pak Baskoro
140 Persaingan 3 Pria
141 Ancaman Damar
142 Menolak kerjasama dengan Siska
143 Miskin tapi sombong
144 Kenekatan Hadi
145 Benang kusut
146 Tiga Pria
147 Gila Kerja
148 Pertemuan Tiara dan Alex
149 Menjadi Kuli Bangunan
150 Hari Apes Tidak Ada yang Tahu
151 Tidak Mau Lumpuh
152 Seperti Arga
153 Dimas Menghilang
154 Buat Aku Jatuh Cinta dalam 2 Bulan
155 Maya jadi pengemis
156 Dukungan dari pusat
157 Benarkah sudah jatuh cinta?
158 Membujuk Laras
159 Hanya sebatas kakak adik
160 Ratih ditangkap polisi
161 Ancaman Maya
162 Maya VS Arga
163 Sebuah perjalanan hidup
164 Keputusan Laras
165 Bu Ajeng dan Maya Meninggal ( TAMAT )
Episodes

Updated 165 Episodes

1
Aku bukan mesin uang
2
Uangku. Bukan Uang Kalian
3
Rumah Tangga di Ujung Saldo
4
TUNGGAKAN BANK
5
Ipar Julid
6
Melihat Ipar saat Liburan
7
Rumah seperti kapal pecah
8
Oleh-Oleh
9
Keluarga Aneh
10
Diamnya Laras
11
Bertengkar
12
Siapa Angel?
13
Rumah disita Bank
14
Keluarga Toxic
15
Bau Parfum
16
Dikasi Hati minta Jantung
17
Pinjam Uang Laras
18
Kedatangan Orang Tua Laras
19
Kamu selingkuh???
20
Suami Orang, Bu !!!
21
Mendekati Keluarga Calon Suami
22
Mengikuti Arga
23
Pembalasan yang Elegant
24
Momen yang pas
25
Tidur di kamar Laras
26
Angel Hamil???
27
Tunggu Pembalasanku !!!
28
Alat mandiku hilang
29
Aku bukan mesin uang
30
Pernikahan semakin dekat
31
Mengetahui rencana Arga
32
Gosip tetangga
33
Pembalasan dimulai, Mas.
34
SAHHHHH !!!
35
Aku dimadu???
36
Mobil Tiara disita
37
Laras Shopping, Angel Iri
38
Inikan Rumah Bapak?
39
DITALAK
40
KEMALINGAN???
41
Menyindir Bu Sitti
42
Minggu yang melelahkan
43
Bu Ajeng tidak mau di penjara
44
Memarahi Angel
45
Pemilik baru
46
Melabrak Laras
47
Sindirian untuk Bi Sitti
48
Pelakor teriak pelakor
49
Angel ketahuan
50
Terbongkarnya kebohongan Angel dan Bu Sitti
51
Saling menyalahkan
52
Bu Sitti masuk RS
53
Rencana jahat Angel
54
DR Group
55
Mantan suami tak tau malu
56
Pinjam uang ke Mbak Maya
57
Rencana pindah rumah
58
Damar Wicaksono Prakoso
59
Kontrakan kumuh Bu Ajeng
60
Melabrak Laras
61
Pedofil?
62
Arga menemui Laras
63
Seperti pengemis
64
Angel seperti pembantu
65
Berpasangan dengan Damar
66
Mantra dari dukun
67
Anak kesayangan Ibu
68
Cupang
69
Apa aku anak pungut?
70
Tiba-tiba dilamar
71
Warisan yang dirahasiakan
72
Seperti backstreet saja
73
Fakta baru untuk Arga
74
Mencari surat tanah
75
Menawarkan tanah
76
Dimas Korupsi
77
Dimas dipecat
78
Akhirnya terjual juga
79
Menyusun rencana
80
Menjebak Arga
81
Hilang???
82
Mengabaikan telelpon
83
Sikap bodo amat
84
Tiara atau Ibu?
85
Hampir jatuh tempo
86
Damar dijodohkan
87
Ratih akhirnya tau
88
Kemana sertifikat tanah itu?
89
Siapa yang menjualnya?
90
Dimas dan Ratih pindah ke kontrakan
91
Ratih ketahuan selingkuh
92
Kebohongan terbongkar
93
Menceraikan Angel
94
Mencari rumah baru
95
Dendam masa lalu
96
PERGI DARI SINI !!!
97
Pindah Rumah
98
Dimas Bodoh
99
Jebakan Sarden Kadaluarsa
100
Dimas ingin cerai
101
Memutuskan hubungan keluarga
102
Kue untuk Tiara
103
Air Dukun
104
Niat busuk Bu Ajeng
105
Ada apa dengan Dimas???
106
Tidak ada karma dalam kamusku
107
Pinjam pacar?
108
Jampi Gagal
109
Jampi salah sasaran
110
Kamu bukan anakku lagi
111
Jadi pembantu di rumah Bu Sukma
112
Salam pembuka untuk Bu Ajeng
113
Roda itu berputar
114
Memutuskan Ratih
115
Ditalak Rangga
116
Kakak Adik Bernasib Sama
117
Nasib Malang Bu Ajeng
118
Aryo
119
Hadi menembak Tiara
120
Bertemu suami Siska
121
Bu Ajeng disiksa
122
Bantuan dari Arga
123
KEDATANGAN DAMAR
124
Makan siang bersama Laras
125
Kekhawatiran seorang kakak
126
Arisan di rumah Bu Sukma
127
Adu mulut Dimas dan Maya
128
Bakso pinggir jalan
129
Bertemu Laras
130
Kecurigaan Damar
131
Ternyata yang disukai Damar adalah Laras
132
Maya diusir dari rumahnya
133
Cerita dari Aryo
134
Mengumpulkan bukti
135
Damar jaga jarak
136
Siska Hamil???
137
Kejutan makan malam
138
Kebohongan Siska Terbongkar
139
Restu Pak Baskoro
140
Persaingan 3 Pria
141
Ancaman Damar
142
Menolak kerjasama dengan Siska
143
Miskin tapi sombong
144
Kenekatan Hadi
145
Benang kusut
146
Tiga Pria
147
Gila Kerja
148
Pertemuan Tiara dan Alex
149
Menjadi Kuli Bangunan
150
Hari Apes Tidak Ada yang Tahu
151
Tidak Mau Lumpuh
152
Seperti Arga
153
Dimas Menghilang
154
Buat Aku Jatuh Cinta dalam 2 Bulan
155
Maya jadi pengemis
156
Dukungan dari pusat
157
Benarkah sudah jatuh cinta?
158
Membujuk Laras
159
Hanya sebatas kakak adik
160
Ratih ditangkap polisi
161
Ancaman Maya
162
Maya VS Arga
163
Sebuah perjalanan hidup
164
Keputusan Laras
165
Bu Ajeng dan Maya Meninggal ( TAMAT )

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!