Bab 2

Tidak terasa sudah empat bulan berlalu sejak kalimat talak itu meruntuhkan hidupnya. Empat bulan sejak Azalea melangkah keluar dari rumah yang pernah ia sebut surga kecilnya. Sejak itu ia belajar menerima kenyataan bahwa cinta yang ia pertahankan dengan kesabaran ternyata tak pernah benar-benar diperjuangkan oleh suaminya.

Kini ia berdiri di depan rumah tua peninggalan orang tuanya. Dindingnya retak di beberapa bagian. Catnya mengelupas, menyisakan warna kusam yang memudar dimakan waktu. Atapnya miring sedikit ke kiri, seolah ikut memikul beban kesedihan yang selama ini menghuni tempat itu.

Namun bagi Azalea, rumah itu bukan sekadar bangunan tua. Di sanalah ia tumbuh. Di sanalah suara tawa ibunya dulu memenuhi dapur kecil setiap pagi. Di sanalah ayahnya biasa duduk di teras, menyeruput kopi hitam sambil menunggu adzan subuh. Di sanalah ia dan kakak perempuannya saling mengejar di halaman, tertawa tanpa tahu bahwa waktu akan begitu kejam memisahkan mereka.

Kini, halaman itu sunyi. Hanya suara angin yang menggerakkan dedaunan kering.

“Apa kamu tidak akan menjual rumah ini, Lea?”

Suara Abah Iip, sesepuh desa yang sudah seperti kakek sendiri baginya, membuyarkan lamunannya. Lelaki tua itu berdiri dengan tongkat kayu di tangan, memandang rumah itu dengan sorot prihatin.

Azalea tersenyum kecil. Senyum yang lembut, tapi menyimpan banyak luka.

“Tidak, Abah,” jawab Azalea pelan. “Ini satu-satunya tempat yang aku punya. Makam ibu, bapak, dan kakak juga ada di sini. Walau aku merantau ke kota pasti nanti akan pulang juga ke sini.”

Abah Iip mengangguk pelan. Matanya berkaca-kaca.

“Rumah ini memang sudah tua. Tapi kenangan di dalamnya tidak pernah hilang,” gumamnya lirih.

Azalea menunduk. Dadanya menghangat sekaligus perih.

“Nanti sesekali Abah suruh orang untuk membersihkan rumah ini,” lanjut Abah Iip. “Biar tidak terlalu terbengkalai.”

“Terima kasih, Abah.” Azalea tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana. “Kalau ada tamu dari luar kampung yang butuh tempat tinggal, pakai saja rumah ini. Asal dijaga, jangan dirusak.”

Di kampung kecil itu memang tak ada penginapan. Jika ada tamu yang datang untuk urusan atau sekadar singgah, rumah Azalea sering dijadikan tempat menginap. Rumah yang sudah tua itu masih lebih berarti daripada dirinya di mata mantan suaminya.

Sore itu, setelah menziarahi makam orang tua dan kakaknya, Azalea duduk lama di samping nisan mereka.

“Ibu … Bapak … Kak,” gumam Azalea suaranya bergetar. “Lea mau ke kota. Lea mau mulai hidup baru.”

Angin berembus pelan, menyibakkan ujung jilbabnya. “Lea tidak punya siapa-siapa lagi. Tapi Lea janji, Lea tidak akan menyerah.”.Air mata menetes, jatuh membasahi tanah makam.

Kota menyambutnya dengan panas yang menyengat dan debu yang beterbangan..Begitu turun dari terminal, Azalea menggenggam tas ranselnya erat. Dunia terasa begitu luas dan asing. Orang-orang berlalu-lalang tanpa peduli siapa ia, dari mana ia datang, dan luka apa yang ia bawa.

Sebuah musholla kecil tak jauh dari terminal, Azalea melangkah ke sana. Waktu Zuhur mau hampir habis. Ia berwudhu dengan air yang terasa hangat karena terik matahari. Lalu berdiri dalam saf paling belakang, menunaikan salat dengan hati yang penuh harap.

Dalam sujudnya, ia menangis. “Ya Allah, aku tidak meminta hidup yang mewah. Aku hanya ingin pekerjaan yang halal. Aku ingin berdiri dengan kakiku sendiri. Tolong aku.” Doanya lirih, namun penuh keyakinan.

Usai salat Azalea duduk sambil mencari lowongan pekerjaan via online hingga waktu Ashar.

Usai salat Ashar, Azalea keluar dari musholla dengan langkah yang sedikit lebih mantap. Tetangganya di kampung pernah memberi tahu beberapa lokasi kontrakan murah dan kawasan industri yang sering membuka lowongan. “Asal tidak pilih-pilih kerja,” begitu pesan mereka.

Azalea memang tak berniat memilih. Lulusan SMK sepertinya tak punya banyak opsi. Menjadi pembantu rumah tangga, cleaning service, penjaga toko atau apa pun tak masalah, asal halal.

“Jalan Rajawali,” gumam Azalea sambil memandangi papan nama jalan. Ia tidak sadar bahwa alamat yang ia cari sebenarnya Jalan Cendrawasih.

Langkah Azalea membawanya masuk ke kompleks gedung-gedung tinggi yang menjulang angkuh. Kaca-kaca besar memantulkan cahaya matahari, menyilaukan mata. Mobil-mobil mewah hilir mudik karena jam pulang kerja telah tiba.

Azalea merasa kecil. Ia berdiri di antara dunia yang tampak begitu megah, sementara dirinya hanya membawa tas lusuh dan harapan yang rapuh.

Karena bingung, ia terus berjalan menuju perempatan tak jauh dari tempatnya berdiri. Lalu, matanya menangkap sesuatu. Seorang anak perempuan kecil berlari ke tengah jalan, mengejar bola merah muda yang menggelinding bebas.

“Awas!” teriak Azalea spontan.

Namun anak itu hanya tertawa, tak memedulikan klakson yang bersahut-sahutan.

“Non Elora!” teriak seorang wanita paruh baya dari seberang jalan, suaranya panik.

Dalam hitungan detik, Azalea melihat sebuah motor melaju cepat, menyalip kendaraan lain. Tanpa berpikir panjang, tubuhnya bergerak lebih cepat dari akalnya. Ia berlari. Kakinya terasa ringan sekaligus berat. Dunia seperti melambat. Suara klakson memekakkan telinga. Angin menerpa wajahnya. Tangannya terulur.

Sekali gerakan, Azalea menyambar bola itu dan meraih tubuh kecil si anak, memeluknya erat sebelum motor itu melintas hanya beberapa jengkal dari mereka. Jantungnya berdetak liar. Kakinya gemetar saat ia menepi. Anak kecil itu menatap wajahnya lekat-lekat. Mata bulatnya besar dan bening.

“Non Elora! Kamu tidak apa-apa?!” Wanita paruh baya itu berlari menghampiri mereka.

Azalea menyerahkan anak itu dengan tangan masih gemetar. “Anaknya tidak apa-apa, Tante?” tanyanya cemas.

Wanita itu yang kemudian dipanggil Bi Minah mengangguk cepat, wajahnya pucat. “Alhamdulillah … alhamdulillah.”

Namun anak kecil itu malah mendorongnya. “Ngak mau digendong, Bi Minah!” serunya manja, mengambil bola dari tangan Azalea.

“Bibi takut Non kenapa-kenapa. Nanti Daddy marahi Bibi.” Suara Bi Minah mengecil.

“Bi Minah ganggu caja!” Elora membanting bolanya. “Aku mau main sama Daddy! Bi Minah pulang caja cana!”

Azalea terdiam. Miris. Anak sekecil itu sudah bisa membentak orang yang jelas-jelas mencemaskannya.

“Tapi Daddy bilang lagi sibuk, Non. Mainnya besok saja, ya,” bujuk Bi Minah.

“Ngak mau!” Elora menangis keras, lalu berguling, tantrum.

Tangis itu bukan hanya tangis manja. Ada rasa sepi di sana.

Azalea berjongkok perlahan di hadapan anak itu. “Nama kamu Elora?” tanyanya lembut sambil mengulurkan tangan. “Kenalkan, Tante Azalea. Panggil saja Tante Lea.”

Elora menatap Azalea.

“Elora suka main bola?” tanya Azalea, tersenyum lembut.

Elora mengusap air matanya. “Tante mau main sama aku?”

Pertanyaan itu sederhana, tetapi entah kenapa hati Azalea terasa teriris. Ia teringat betapa dulu ia berharap bisa mendengar suara anak memanggilnya “Ibu”. Namun kini, ia bahkan tak pernah diberi kesempatan.

Hari sudah sore. Azalea sebenarnya harus mencari kontrakan. Mencari alamat yang benar, tetapi melihat wajah kecil itu, ia tak tega menolak.

“Main sebentar saja, ya. Habis itu harus pulang.”

Wajah Elora langsung berbinar. Senyumnya lebar sekali.

Mereka bermain bola di parkiran gedung tinggi itu. Azalea tertawa untuk pertama kalinya sejak lama. Tawanya ringan, tulus, meski di sudut hatinya masih ada perih yang belum sembuh.

Elora berlari-lari kecil, rambutnya yang diikat dua bergoyang-goyang. Bi Minah berdiri tak jauh dari mereka, memandangi dengan rasa lega.

Azan Magrib berkumandang. Azalea menghentikan permainan. “Elora, sudah sore. Harus pulang.”

“Ngak mau! Mau main cama Tante!” Elora cemberut.

“Elora, ayo pulang!” Suara pria terdengar dari belakang.

Dalam sekejap, Elora berlari meninggalkan Azalea. “Daddy!”

Azalea menoleh. Langkahnya terhenti. Napasnya tercekat. Dunia seolah berhenti berputar.

“E-Enzo…?” gumam Azalea lirih, hampir tak terdengar.

Terpopuler

Comments

RosMa🌹🌹🌹

RosMa🌹🌹🌹

Azalea semoga hidupmu indah seindah bunga azalea

2026-02-24

1

V3

V3

Lea mlh bertemu dg mantan KK ipar nya

2026-02-24

1

Sugiharti Rusli

Sugiharti Rusli

soalnya saat dia mengajak main Elora yang sepertinya sang keponakan, kenapa dia tidak mengenali sebagai putri kakaknya yah

2026-02-24

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 Bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98
99 Bab 99
100 Bab 100
101 Bab 101
102 Bab 102
103 Bab 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab 106
107 CEO Arogan Terjebak di Desa Pedalaman
108 Novel Misi
109 Karya Nita P
110 Karya Baru
111 Penyesalan Suami
112 Kebangkitan Istri Yang Direndahkan
113 Karya Imamah Nur
114 Mahar 1 Miliar: Menikahi Pria Tuli
115 Karya Eliyona
Episodes

Updated 115 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
Bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98
99
Bab 99
100
Bab 100
101
Bab 101
102
Bab 102
103
Bab 103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab 106
107
CEO Arogan Terjebak di Desa Pedalaman
108
Novel Misi
109
Karya Nita P
110
Karya Baru
111
Penyesalan Suami
112
Kebangkitan Istri Yang Direndahkan
113
Karya Imamah Nur
114
Mahar 1 Miliar: Menikahi Pria Tuli
115
Karya Eliyona

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!