Bab 4

“Baiklah,” ucap Azalea pelan.

Satu kata itu terasa berat, tetapi juga membawa harapan. Mungkin inilah jalannya untuk lebih dekat dengan kedua keponakannya. Mungkin inilah cara Allah mempertemukannya kembali dengan potongan terakhir dari darah daging kakaknya.

Enzo menatapnya sekilas. “Sekarang kamu ikut aku ke rumah.”

Bukan ajakan. Bukan permintaan. Ini seperti perintah.

Azalea mengangguk dan mengikuti langkah pria itu menuju parkiran. Mobil hitam mengilap sudah menunggu. Ia duduk di kursi penumpang belakang, sementara Enzo menyetir sendiri.

Sepanjang perjalanan, tak ada percakapan. Hanya suara mesin mobil dan deru kendaraan lain yang terdengar. Azalea mencuri pandang ke arah Enzo lewat kaca spion. Wajah pria itu tetap datar, rahangnya tegas, matanya fokus ke jalan.

Dulu, setiap kali Jasmine bercerita tentang suaminya, yang terdengar selalu hal-hal baik. “Enzo itu memang pendiam, Lea. Tapi dia perhatian. Dia selalu ingat detail kecil.”

Namun, yang Azalea rasakan sekarang hanyalah pria yang menjaga jarak, dingin, dan terkesan angkuh.

Mobil memasuki kawasan elite dengan gerbang tinggi dan penjagaan ketat. Rumah-rumah besar berjajar rapi. Taman-taman luas dengan rumput terawat. Mobil berhenti di depan sebuah rumah megah dua lantai dengan pilar-pilar tinggi dan lampu kristal yang tampak dari luar.

Azalea terpana. Ia tak pernah membayangkan Enzo hidup semewah ini. Rumah itu seperti istana kecil.

“Turun,” ucap Enzo singkat.

Azalea mengikuti langkahnya memasuki rumah. Baru saja pintu terbuka—

PRANG!

Suara pecahan benda keras menghantam lantai membuat Azalea terlonjak kaget. Jantungnya berdegup kencang.

Sementara Enzo langsung berjalan cepat masuk ke ruang tengah. “Ada apa lagi ini?!” Suaranya meninggi, memecah suasana.

Azalea tergopoh-gopoh mengikuti. Pemandangan di ruang keluarga membuat dadanya terasa sesak. Di lantai berserakan pecahan guci besar. Sebuah tablet tergeletak dengan layar retak. Air dari vas bunga membasahi karpet mahal.

Di tengah kekacauan itu, berdiri seorang anak laki-laki berusia sekitar lima tahun, wajahnya merah karena marah. Sementara Bi Minah menunduk dengan wajah pucat.

“Tante Lea!” Elora berlari ke arah Azalea dengan wajah berbinar, seolah tak terjadi apa-apa. Ia langsung memeluk kaki Azalea erat-erat.

Azalea refleks mengangkat gadis kecil itu ke dalam pelukannya.

“Daddy, aku benci Bi Minah! Usir saja dia dari sini!” teriak Erza, menoleh tajam ke arah Enzo dan Azalea.

“Daddy, sudah aku bilang jangan bawa pengasuh baru lagi!” Nada suara Erza keras. Penuh amarah.

Azalea tercekat. Dulu, Erza kecil adalah anak yang penurut dan ceria. Ia masih ingat bagaimana bocah itu tertawa ketika bermain lumpur di sawah kampung. Kini yang berdiri di depannya adalah anak kecil dengan mata penuh perlawanan.

“Kenapa kamu ngamuk?” tanya Enzo, berdiri tepat di hadapan putranya.

“Bi Minah terlalu suka ngatur!” balas Erza dengan nada tinggi.

“Bi, ada apa sebenarnya?” tanya Enzo tanpa emosi.

“Hari ini jadwalnya les, Tuan,” jawab Bi Minah pelan. “Den Erza tidak mau berangkat.”

“Aku enggak mau belajar!” Erza berteriak lagi.

Azalea merasakan perih yang aneh di dadanya. Anak ini bukan sekadar marah, tetapi ia seperti menyimpan sesuatu.

“Ada apa ini?” Terdengar suara lembut, namun tegas terdengar dari arah tangga.

Seorang wanita elegan turun dengan langkah anggun. Rambutnya disanggul rapi. Gaunnya mahal dan wangi parfum lembut menguar.

“Apa dia ... Mami Elsa?” gumam Azalea dalam hati.

“Erza ngamuk, Ma. Dia tidak mau pergi les,” jawab Enzo singkat.

“Kalau tidak mau, ya jangan dipaksa,” ujar Mami Elsa santai. “Tidak bagus untuk perkembangan anak kalau dipaksa.”

Azalea terdiam. Alisnya sedikit mengerut. Kini ia mengerti. Rupanya di sini tak ada batasan dan tak ada ketegasan yang disertai kelembutan.

“Siapa dia?” tanya Mami Elsa, menatap Azalea dari ujung kepala sampai kaki.

“Pengasuh baru,” jawab Enzo.

Azalea menurunkan Elora perlahan dan menunduk hormat. “Assalamualaikum, Nyonya. Kenalkan, saya Azalea.”

Mami Elsa tak membalas salamnya. Tatapannya menilai. “Tidak salah kamu mencari pengasuh, Enzo?” tanyanya bertubi-tubi. “Dia lulusan mana? Sudah berpengalaman? Bagaimana kalau anak-anak malah disiksa?”

“Astaghfirullahal’adzim.” Azalea tak sengaja bergumam. Hatinya seperti ditampar.

“Inikah keluarga yang selama ini diceritakan Kak Jasmine sebagai keluarga terhormat dan hangat?”

“Aku yakin dia bisa,” jawab Enzo tegas, meski tetap tanpa ekspresi.

Mami Elsa mengangkat bahu. “Ya sudah. Mami mau pergi arisan dan peresmian salon teman.” Ia berbalik dan pergi, seolah kekacauan tadi bukan urusannya.

Rumah kembali sunyi. Azalea melangkah mendekati Erza perlahan. “Halo, Erza. Masih ingat Tante Lea?” ucapnya lembut.

Anak itu menatapnya tajam. “Siapa kamu? Jangan sok kenal. Aku enggak kenal kamu.” Kata-kata itu menusuk.

“Kakak, Tante Lea itu adiknya Mommy,” sela Elora polos. “Dia baik. Mau belmain cama aku.”

Erza terdiam sesaat, lalu kembali menatap Azalea dengan ragu.

“Mungkin kamu sudah lupa,” ucap Azalea pelan, menahan getar di suaranya. “Dulu waktu Mommy masih hidup, kamu sering dibawa ke kampung. Kita berenang di sungai, main di sawah—”

“Aku tidak ingat,” potong Erza ketus.

Azalea tersenyum tipis. “Tidak apa-apa.” Ia mengusap bahu kecil itu perlahan.

“Kak, ayo main sama Tante Lea!” ajak Elora penuh semangat.

“Tidak mau! Aku mau main game!” Erza meraih ponsel dari meja.

“Kyaaaaaa!” Elora menjerit kesal.

Azalea menatap keduanya dengan hati yang terasa hancur perlahan. Anak-anak ini bukan nakal. Mereka hanya kehilangan kasih sayang yang tulus.

Enzo kemudian berbalik pergi tanpa banyak kata. “Aku ke kantor,” ucapnya singkat.

Kini Azalea berdiri sendirian, tanpa penjelasan tugas, tanpa arahan. Hanya dua anak kecil dengan luka yang tak terlihat.

“Tante punya permainan yang lebih seru dari game,” ucap Azalea tiba-tiba.

Erza menoleh. “Apa itu?”

“Ayo ke halaman.”

Rasa penasaran mengalahkan gengsi. Di halaman samping, Azalea meminta Bi Minah menyiapkan air, sabun cair, dan beberapa lidi yang dibentuk lingkaran kecil.

“Apa itu?” tanya Erza skeptis.

“Rahasia,” jawab Azalea sambil tersenyum. Ia mencelupkan lingkaran lidi ke dalam air sabun, lalu meniup perlahan. Balon-balon sabun warna-warni melayang di udara, memantulkan cahaya sore.

Elora bertepuk tangan. “Waaa!”

Erza terpana. Untuk pertama kalinya hari itu, wajahnya tak lagi penuh amarah.

“Coba kamu tiup,” kata Azalea.

Erza ragu, tapi kemudian mencoba. Balon sabun melayang. Ia tertawa kecil. Tawa itu membuat mata Azalea berkaca-kaca.

Seharian itu mereka bermain. Berlari mengejar balon sabun. Tertawa. Makan siang bersama. Azalea membacakan dongeng sebelum tidur siang.

Saat Erza dan Elora tertidur berdampingan, wajah mereka tampak begitu polos dan begitu rapuh. Azalea duduk di samping tempat tidur mereka, menatap dalam-dalam.

“Bi Minah,” panggilnya lirih saat mereka keluar kamar.

“Iya, Mbak?”

“Anak-anak sering seperti tadi?”

Bi Minah mengangguk pelan. “Iya, Mbak. Terutama Den Erza. Kalau marah, dia lempar barang. Pernah sampai melukai tangannya sendiri.”

Azalea memejamkan mata. Hatinya sangat sakit.

“Apa mereka seperti itu karena kurang kasih sayang?” lanjut Bi Minah lirih. “Terutama kasih sayang seorang ibu.”

Kalimat itu seperti pisau. Azalea menahan napas. Ia teringat wajah Jasmine yang selalu tersenyum dan penuh semangat.

Teringat janji dalam hatinya saat itu untuk menjaga anak-anak kakaknya jika suatu hari diberi kesempatan. Kini kesempatan itu datang. Dan ia tak akan menyia-nyiakannya. Meski hatinya sendiri masih penuh luka.

Terpopuler

Comments

🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍

🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍

kurang kasih sayang seorang ibu dan kurang perhatian seorang ayah yang harusnya ada di saat mereka tumbuh kembang bukan hanya sibuk kerja dengan alasan untuk masa depan mereka tapi harusnya Enzo bisa bagi waktu juga buat ruang bercerita dengan anak²nya.

2026-06-02

1

ken darsihk

ken darsihk

Bocah ganteng 5 tahun tapi sering ngamuk , semoga setelah kehadiran aunty Lea semua nya akan berubah

2026-02-25

1

≼⊱ ƈ̤h͜͡ᵢτἅ⁵ ⊰≽

≼⊱ ƈ̤h͜͡ᵢτἅ⁵ ⊰≽

koq mamahnya Enzo gitu ya, apa jangan-jangan Jasmine meninggal karena ngebatin atau tertekan karena sikap mamah mertuanya dan Enzo juga kaya cuek banget kurang perhatian 🤔🤔

2026-08-16

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 Bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98
99 Bab 99
100 Bab 100
101 Bab 101
102 Bab 102
103 Bab 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab 106
107 CEO Arogan Terjebak di Desa Pedalaman
108 Novel Misi
109 Karya Nita P
110 Karya Baru
111 Penyesalan Suami
112 Kebangkitan Istri Yang Direndahkan
113 Karya Imamah Nur
114 Mahar 1 Miliar: Menikahi Pria Tuli
115 Karya Eliyona
Episodes

Updated 115 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
Bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98
99
Bab 99
100
Bab 100
101
Bab 101
102
Bab 102
103
Bab 103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab 106
107
CEO Arogan Terjebak di Desa Pedalaman
108
Novel Misi
109
Karya Nita P
110
Karya Baru
111
Penyesalan Suami
112
Kebangkitan Istri Yang Direndahkan
113
Karya Imamah Nur
114
Mahar 1 Miliar: Menikahi Pria Tuli
115
Karya Eliyona

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!