Bab 5

Sore itu, selepas azan Magrib berkumandang, Azalea menunaikan salat di kamar kecil yang diberikan kepadanya di lantai bawah. Ia membentangkan sajadah tipis yang selalu ia bawa sejak dari kampung. Mukena putihnya sederhana, sudah sedikit kusam, tetapi bersih dan harum sabun.

Di rumah sebesar dan semewah ini, tak ada satu pun tanda bahwa pemiliknya mengingat waktu-waktu salat. Tak ada suara azan dari alarm. Tak ada langkah tergesa menuju tempat wudhu.

Azalea berdiri, rukuk, sujud dengan khusyuk. Dalam sujudnya, ia berdoa bukan hanya untuk dirinya, tetapi untuk dua anak kecil yang kini menjadi tanggung jawabnya.

“Ya Allah, lembutkan hati mereka. Jangan biarkan mereka tumbuh tanpa mengenal-Mu.”

Air matanya menetes pelan membasahi sajadah. Saat ia mengucap salam dan melipat mukena, pintu kamar sedikit terbuka.

“Tante …?”

Suara kecil itu membuat Azalea menoleh. Erza dan Elora berdiri di ambang pintu. Rambut mereka masih sedikit basah setelah mandi sore.

“Kalian sudah makan?” tanya Azalea lembut.

Elora masuk lebih dulu, menatap sajadah di lantai dengan rasa ingin tahu. “Tante tadi ngapain?”

Azalea terdiam.

Erza ikut mendekat. “Kenapa Tante sujud-sujud begitu? Tante juga tadi kayak lagi ngomong sendiri.”

Pertanyaan itu sederhana. Namun, hati Azalea terasa diremas. Mereka tidak tahu apa yang sedang dilakukannya, tadi.

“Itu salat, Sayang,” jawab Azalea pelan.

“Salat?” Erza mengernyit. “Apa itu?”

Azalea menelan ludah. Ia mencoba menenangkan gejolak di dadanya. “Salat itu kita bicara sama Allah lewat doa-doa.”

“Allah siapa?” tanya Elora polos.

Pertanyaan itu menghantam lebih keras dari apa pun. Azalea memejamkan mata sejenak.

“Ya Allah ...."

Azalea baru sadar. Selama tiga bulan di rumah ini, tak pernah sekalipun ia melihat Enzo salat. Tak pernah mendengar Mami Elsa membaca doa. Bahkan Bi Minah pun tak pernah terlihat beribadah.

Rumah besar ini berdiri megah, tetapi terasa kosong. Kosong dari cahaya iman. Azalea meraih tangan kecil Elora dan Erza, lalu duduk di atas sajadah.

“Allah itu yang menciptakan kita,” ucap Azalea lembut. “Yang menciptakan langit, bumi, Daddy, Oma, Tante dan kalian berdua.”

Erza terdiam. “Daddy enggak pernah bilang.”

Azalea tersenyum tipis. “Sekarang Tante yang bilang.”

“Sekarang Tante mau mengaji, ya,” katanya sambil membuka mushaf kecil yang selalu ia bawa. Ia melantunkan Surah Al-Fatihah dengan suara lembut.

Ruang kamar yang biasanya dipenuhi suara game atau tangisan mendadak hening. Erza duduk bersandar di kepala ranjang. Elora memeluk bonekanya, mendengarkan dengan mata berbinar.

“Itu bahasa apa, Tante?” tanya Erza ketika Azalea selesai.

“Itu bahasa Al-Qur’an. Kitab suci umat Islam.”

“Kita Islam?” tanya Elora.

“Iya, Sayang.”

“Kok, Daddy enggak pernah ngajarin?” Erza bertanya tanpa beban.

Pertanyaan itu membuat Azalea menelan ludah. “Tante tidak tahu,” jawabnya hati-hati. “Tapi mulai sekarang, kalau kalian mau, Tante akan ajari.”

Sejak malam itu, kebiasaan baru tumbuh di rumah tersebut. Setiap azan, Azalea menggelar sajadah. Awalnya ia salat sendiri. Lalu Elora ikut menirukan gerakannya. Kemudian Erza, meski masih malu-malu.

“Tante, ayo, celita lagi,” pinta Elora setelah Azalea selesai membaca beberapa ayat pendek.

Azalea tersenyum. “Kali ini Tante ceritakan tentang Nabi Ibrahim, ya.”

Azalea menceritakan bagaimana Nabi Ibrahim mencari Tuhan, bagaimana beliau menghancurkan berhala, bagaimana kesabarannya diuji.

Erza menyela, “Berarti Nabi Ibrahim berani, ya?”

“Iya. Karena beliau percaya Allah selalu melindungi.”

“Tante, kalau marah boleh enggak?” tanya Erza suatu hari.

“Boleh,” jawab Azalea lembut. “Tapi jangan sampai menyakiti orang lain. Nabi mengajarkan kalau marah, lebih baik kita diam. Kalau masih marah, ambil wudhu.”

Erza terdiam lama.

Beberapa minggu kemudian, ketika Erza hampir melempar mainannya karena kalah bermain, tangannya berhenti di udara. Ia menoleh ke arah Azalea.

“Tante, aku marah.”

Azalea tersenyum bangga. “Ya sudah, bilang saja marahnya kenapa.”

Perlahan, rumah itu berubah. Erza tak lagi melempar barang. Elora tak lagi menjerit-jerit tanpa sebab. Mereka mulai belajar mengucap “Bismillah” sebelum makan. Mulai hafal doa-doa pendek. Mulai mengenal huruf hijaiyah.

Bi Minah yang awalnya hanya melihat, perlahan ikut duduk mendengarkan ketika Azalea mengaji. “Mbak, saya sudah lama enggak salat,” bisiknya suatu hari dengan mata berkaca-kaca.

“Belum terlambat, Bi,” jawab Azalea lembut.

Namun, perubahan itu tak luput dari telinga Mami Elsa. Awalnya ia tak peduli. Baginya, pengasuh datang dan pergi adalah hal biasa. Sampai suatu sore, ketika ia hendak turun ke dapur, ia mendengar suara Azalea dari ruang keluarga.

Sore itu hujan turun tipis, membasahi kaca-kaca besar ruang keluarga. Langit tampak kelabu, seolah ikut menyimpan rindu yang tak pernah benar-benar selesai di rumah itu.

Erza dan Elora duduk di atas karpet tebal dekat jendela. Buku gambar dan krayon berserakan di antara mereka. Azalea duduk bersila, memandangi dua wajah kecil yang kini jauh lebih tenang dibandingkan tiga bulan lalu.

“Tante .... ” Elora menengadah, memeluk boneka kelincinya. “Mommy itu cualanya kayak gimana?”

Pertanyaan itu membuat tangan Azalea yang sedang merapikan buku terhenti. Erza yang tadi pura-pura fokus menggambar, ikut menoleh. Meski wajahnya terlihat biasa, sorot matanya tak bisa menyembunyikan rasa ingin tahu yang dalam.

Azalea menelan ludah pelan. Sudah lama anak-anak itu tak pernah menyebut kata “Mommy” dengan suara selembut ini. Biasanya hanya muncul saat mereka marah atau menangis.

“Kalian kangen Mommy?” tanya Azalea lembut.

Erza mendengus kecil. “Aku enggak kangen,” jawabnya cepat, tetapi suaranya serak. “Aku cuma lupa wajahnya.”

Jawaban itu seperti belati kecil yang menusuk dada Azalea.

Elora merangkak mendekat. “Tante kan adiknya Mommy. Celita lagi, dong, tentang Mommy.”

Azalea menarik napas dalam. Ia tahu, menyebut nama Jasmine di rumah ini seperti menyentuh luka lama yang sengaja dikubur. Namun, bagaimana mungkin ia membiarkan anak-anak itu tumbuh tanpa mengenal ibunya sendiri?

“Mommy kalian ....” Suara Azalea mulai bergetar, tetapi ia berusaha tersenyum. “Cantik sekali. Senyumnya mirip Elora.”

Elora tersipu malu.

“Kalau ketawa, suaranya lembut. Mommy suka masak walaupun sering gosong,” Azalea tertawa kecil mengenang. “Dulu waktu kecil, Mommy pernah hampir membakar dapur karena lupa matikan kompor.”

Erza tanpa sadar ikut tersenyum tipis. “Mommy galak enggak?” tanyanya pelan.

Azalea menggeleng. “Mommy itu sabar. Waktu Erza kecil dan rewel semalaman, Mommy enggak tidur. Mommy gendong kamu sambil salat tahajud.”

Erza terdiam. “Mommy salat juga?” tanyanya lirih.

“Iya,” jawab Azalea, menatapnya penuh makna. “Mommy selalu salat. Dia bilang, anak-anaknya harus jadi anak yang kenal Allah.”

Elora memeluk lengan Azalea. “Mommy cayang nggak cama aku?”

Pertanyaan itu membuat suara Azalea pecah. “Sayang sekali. Mommy sering kirim foto saat hamil kamu, saat Elora masih di dalam perut. Dia bilang, ‘Lea, doakan anakku jadi anak baik, ya.’”

Erza menunduk. Tangannya yang memegang krayon gemetar. “Aku … aku pernah bikin Mommy nangis enggak?” tanyanya tiba-tiba.

Azalea meraih wajah kecil itu, mengusap pipinya perlahan. “Mommy enggak pernah nangis karena kamu nakal. Mommy cuma nangis karena kangen kampung dan karena takut enggak bisa jadi ibu yang sempurna.”

Hujan di luar semakin deras. Tanpa mereka sadari, di ujung tangga, seseorang berdiri membeku, Mami Elsa. Tangannya mencengkeram pegangan tangga kuat-kuat. Wajahnya menegang saat mendengar setiap kalimat yang keluar dari mulut Azalea.

“Mommy ingin kalian hafal doa sebelum tidur,” lanjut Azalea lembut. “Mommy ingin kalian jadi anak yang lembut hatinya.”

“Seperti Tante?” tanya Elora polos.

Azalea tersenyum sendu. “Tante cuma meneruskan apa yang Mommy kalian inginkan.”

“Cukup!”

Suara keras itu membelah suasana. Erza dan Elora tersentak. Azalea menoleh cepat.

Mami Elsa sudah berdiri di ruang keluarga, wajahnya merah padam. “Apa yang kamu lakukan?” suaranya tajam, bergetar oleh amarah yang ditahan.

Terpopuler

Comments

Tasmiyati Yati

Tasmiyati Yati

saya sebagai ibu yg menanamkan pelajaran agama sejak dini saja kewalahan ngajarin anak berakhlak baik apalagi kalau gak kenal Tuhannya sama sekali, Astaghfirullah

2026-03-01

1

Sugiharti Rusli

Sugiharti Rusli

dan sepertinya bisa jadi musuh besar di rumah besar dari anak" Jasmine adalah neneknya sendiri yang tidak menyukai karena mereka lahir dari mendiang menantunya itu,,,

2026-02-26

1

ken darsihk

ken darsihk

Eehhh si nenek kenapa marah ketika Lea menceritakan ibu dari keponakan nya
Apa si nenek tidak menyetujui pernikahan dari Enzo dan Jasmine ya

2026-02-26

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 Bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98
99 Bab 99
100 Bab 100
101 Bab 101
102 Bab 102
103 Bab 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab 106
107 CEO Arogan Terjebak di Desa Pedalaman
108 Novel Misi
109 Karya Nita P
110 Karya Baru
111 Penyesalan Suami
112 Kebangkitan Istri Yang Direndahkan
113 Karya Imamah Nur
114 Mahar 1 Miliar: Menikahi Pria Tuli
115 Karya Eliyona
Episodes

Updated 115 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
Bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98
99
Bab 99
100
Bab 100
101
Bab 101
102
Bab 102
103
Bab 103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab 106
107
CEO Arogan Terjebak di Desa Pedalaman
108
Novel Misi
109
Karya Nita P
110
Karya Baru
111
Penyesalan Suami
112
Kebangkitan Istri Yang Direndahkan
113
Karya Imamah Nur
114
Mahar 1 Miliar: Menikahi Pria Tuli
115
Karya Eliyona

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!