Muara Hati Azalea

Muara Hati Azalea

Bab 1

“Azalea Nurul Huda binti Yahya Abdulrahman, aku jatuhkan talak satu. Mulai sekarang kamu bukan istriku lagi!”

Suara Reza menggema keras di ruang tamu yang masih dipenuhi bau kapur barus dan bunga melati dari karangan duka. Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibirnya tanpa jeda dan tanpa ragu, bak petir yang membelah langit mendung di siang hari.

Azalea yang sedang duduk bersimpuh di atas sajadah tipis, masih mengenakan mukena putih karena sejak pagi tak berhenti membaca doa untuk almarhumah ibu mertuanya, tersentak hebat. Tangannya yang sejak tadi menggenggam tasbih terlepas. Butirannya berserakan di lantai, bergulir pelan seperti sisa-sisa harga dirinya yang baru saja dihancurkan. Ia menengadah perlahan.

Di hadapannya, Reza berdiri tegak. Wajahnya kaku. Tatapannya dingin. Tak ada duka, tak ada getir, tak ada penyesalan. Pria yang dulu memegang tangannya dengan gemetar saat ijab kabul itu kini tampak seperti orang asing.

Ruangan mendadak sunyi. Para pelayat yang tadi membaca tahlil kini saling berpandangan. Bisik-bisik mulai terdengar, tipis namun menyayat.

“Reza, apa yang kamu lakukan, hah?!” bentak Pak RT yang sejak tadi membantu menjamu tamu.

“Jangan sembarang kamu mengucapkan talak,” sambung Pak Usman, ustaz yang disegani warga. Sorot matanya tajam menatap Reza.

Namun, Reza hanya menarik napas pendek. “Aku menceraikan Azalea karena punya alasan.”

Nada suaranya tenang. Terlalu tenang untuk situasi sekejam ini.

Semua mata beralih kepadanya. Azalea merasakan puluhan tatapan menusuk punggungnya. Tiga tahun ia dikenal sebagai istri yang penurut, menantu yang sabar. Ia yang memandikan Bu Rosidah ketika lumpuh total. Ia yang mengganti popok wanita tua itu. Ia yang menahan muntah saat membersihkan luka. Ia yang tak pernah mengeluh meski punggungnya sering kram karena mengangkat tubuh renta itu sendirian. Kini, di hari ketujuh kematian ibu mertuanya, ia menerima talak.

“Katakan, apa alasan kamu menceraikan Lea?” tanya Bu RT dengan suara bergetar karena menahan marah.

Reza menoleh sekilas ke arah Azalea, lalu berkata datar, “Azalea itu wanita mandul. Sudah tiga tahun kami menikah, tapi dia belum juga hamil.”

Kalimat itu jatuh seperti batu besar di dada Azalea. Wajahnya memucat. Bibirnya bergetar.

“Bagaimana bisa aku cepat hamil, Mas?” Suara Azalea lirih namun jelas terdengar. “Selama tiga tahun ini kita hidup terpisah. Mas tinggal di kota, jarang pulang. Sementara aku di sini, mengurus Ibu.”

Air mata wanita cantik itu menetes tanpa bisa ia tahan. Azalea tak sedang membela diri, hanya menyampaikan kenyataan.

Bisik-bisik semakin ramai.

“Jangan-jangan Lea memang cuma dimanfaatkan ....”

“Kasihan sekali Lea ....”

Reza mendengus pelan. “Alasan tetap alasan. Faktanya kamu belum memberiku anak.”

“Sungguh tega sekali kamu, Reza!” Bu RT tak lagi mampu menahan emosinya. “Kamu menikahi Lea hanya untuk mengurus ibumu yang sakit! Setelah ibumu meninggal, kamu buang dia begitu saja?”

Pak Usman menggeleng pelan. “Wanita belum hamil belum tentu mandul. Itu urusan Allah. Sudahkah kalian periksa ke dokter? Sudahkah kamu sebagai suami menjalankan kewajibanmu dengan benar?”

Ekspresi Reza tak berubah sedikit pun.

Azalea menatap pria itu. Dulu, ia jatuh cinta pada kesederhanaan Reza. Pada janji-janji kecilnya tentang rumah tangga yang sakinah. Pada cara Reza menggenggam tangannya di bawah payung saat hujan pertama setelah mereka menikah. Kini semua itu terasa seperti mimpi yang tak pernah benar-benar ada.

“Kenapa Mas menuduh aku mandul tanpa tes dokter?” tanya Azalea lagi, suaranya semakin pecah.

“Tak perlu tes. Buang-buang uang saja,” jawab Reza ketus. “Kamu kira mudah cari uang? Kamu yang cuma diam di rumah mana tahu susahnya kerja.”

Kalimat itu lebih menyakitkan daripada talak yang baru saja ia ucapkan.

Diam di rumah?

Azalea ingin tertawa, tapi yang keluar hanya isak tertahan. Dialah yang bangun sebelum subuh, menyiapkan sarapan untuk ibu mertua yang tak bisa bangun sendiri. Dialah yang menggendong tubuh renta itu ke kamar mandi. Dialah yang menahan kantuk ketika malam-malam harus mengganti selang infus atau membersihkan muntahan.

“Astaghfirullahal’adzim!” Bu RT sampai memegang dadanya. “Kewajiban suami mencari nafkah dan memberi nafkah! Istri bukan beban!”

“Jangan merasa istri itu penghalang rezekimu,” tambah Pak Usman tegas. “Bisa jadi kemudahan yang kamu dapat selama ini karena doa istrimu.”

Namun, Reza tetap keras kepala. “Talak sudah terucap. Aku tidak akan menariknya kembali.”

Kalimat itu final.

Azalea menutup mata sejenak. Dadanya terasa sesak. Seolah udara tak lagi cukup untuk ia hirup.

Tiga tahun pengabdiannya berakhir dengan satu kalimat.

Azalea teringat malam-malam ketika ia menunggu Reza pulang, hanya untuk mendengar suaminya berkata lelah dan tertidur tanpa sepatah kata. Ia teringat bagaimana ia menahan rindu, menahan keinginan menjadi istri sepenuhnya, karena kondisi ibu mertua yang tak memungkinkan mereka tinggal bersama.

Azalea teringat ketika Reza berkata, “Sabar ya, Lea. Ibu lebih butuh kamu sekarang.”

Dan ia patuh.

“Baik,” akhirnya Azalea bersuara. Aneh, suaranya terdengar lebih tenang daripada yang ia rasakan. “Aku terima talak kamu, Mas.”

Ruangan kembali sunyi. Orang-orang ikut menahan napas dan sakit di dadanya.

“Tapi ingat,” lanjut Azalea, menatap lurus ke mata Reza, “Allah tidak tidur. Semua yang Mas lakukan kepadaku akan mendapat balasannya. Begitu juga segala hal yang aku lakukan untuk Ibu selama tiga tahun ini.”

Tangan Azalea gemetar ketika menghapus air mata. Namun, ia memaksa dirinya berdiri. Untuk pertama kalinya sejak tadi, punggungnya tegak.

“Karena Mas yang menggugat cerai, Mas urus sendiri ke pengadilan agama,” kata Azalea tegas. “Izinkan aku pergi dari rumah ini selama masa iddah.”

“Pergilah ke mana pun kamu mau,” jawab Reza tanpa beban. “Aku juga mau menjual rumah ini.”

Azalea tertegun.

Rumah ini. Rumah tempat ia belajar menjadi istri. Rumah tempat ia menangis diam-diam di dapur. Rumah tempat ia memeluk tubuh ibu mertua yang tak bisa lagi berbicara, hanya menatapnya dengan mata berkaca-kaca seolah mengucapkan terima kasih.

Rumah itu kini akan dijual. Seperti dirinya yang tak lagi dianggap bernilai.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Azalea melangkah ke kamar. Ia melepas mukenanya perlahan. Tangannya menyentuh ranjang yang dulu mereka gunakan bersama, meski lebih sering kosong di sisi suaminya. Ia mengambil koper kecil. Isinya tak banyak. Beberapa helai pakaian, mushaf Al-Qur’an, dan foto lama saat pernikahan mereka.

Dalam foto itu, Reza tersenyum hangat. Azalea memandangnya lama. Lalu, dengan tangan gemetar, ia menyelipkan foto itu ke dalam laci. Ia tak sanggup membawanya.

Ketika Azalea kembali ke ruang tamu dengan koper di tangan, para ibu memeluknya satu per satu. Tangis pecah.

“Yang sabar, Nak.”

“Kami tahu kamu sudah berbuat yang terbaik.”

“Kamu perempuan kuat.”

Bu RT memeluknya paling lama. “Kamu akan menyesal seumur hidup, Reza,” katanya lantang, menatap pria itu penuh murka. “Karena menceraikan istri yang begitu setia.”

“Aamiin!” sahut beberapa ibu serempak.

“Ini urusanku!” balas Reza tajam. “Kalian jangan ikut campur!”

Azalea tak menoleh lagi. Ia melangkah melewati ambang pintu. Langit sore itu kelabu. Angin berembus pelan, menerbangkan ujung jilbab putihnya. Setiap langkah terasa berat. Namun ia tahu, jika ia berhenti sekarang, ia akan runtuh. Di halaman rumah, ia berhenti sejenak. Menoleh untuk terakhir kalinya. Rumah itu menyimpan kenangan pahit dan manis. Tapi kini, semuanya telah usai.

Dalam hati, Azalea berbisik lirih, “Ya Allah, jika selama ini aku diuji karena kesabaranku, maka kini kuatkanlah aku karena kepergianku."

Air mata kembali jatuh. Dengan langkah tertatih namun pasti, Azalea Nurul Huda berjalan meninggalkan rumah itu, tanpa tahu ke mana ia akan pergi, tanpa tahu bagaimana esok menyambutnya. Yang ia tahu hanya satu. Hari ini, ia bukan lagi seorang istri. Dan hidupnya baru saja dihancurkan oleh satu kalimat yang diucapkan tanpa cinta.

Terpopuler

Comments

Inooy

Inooy

brlum apa apa udh menggenang nih air mata 🥺
jd ikut merasakan kesakitan Azalea,,punya suami tp hanya memanfaatkan demi mengurusi sang ibu yg lg sakit..benar2 suami durhaka yg kaya begini siih 😤

hhaaa,,bikin emosi aj nih s Rezaaa 😡
tau g Zaa, aq tuh baru melipir lg k NT nih trus g sengaja kamu mampir k beranda..g tau nya udh bikin emosi aj kamu tuuuh hhuuuu.....

2026-05-07

2

ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢

ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢

e paijo satu muka bumi juga tau kalo cari yang susah, kalo gampang ga ada yg ga bisa sekolah, penggangguran juga ga bakal banyak lagian ngatain diam di rumah lu pikir ibu lu yg sakit itu yang ngurusin siapa? lelembut kah, jelas2 isteri nya ngurusin orangtua ni laki gemblung 😒

2026-07-21

1

ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢

ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢

biarin aja bude, coba dia ganti isteri pengen tau rejeki nya masih sama apa enggak 😏 kata orang kan beda pasangan beda rejeki, nah kalo habis ini dia kere brati bener doa isteri nya yg bikin rejeki dia deres 😏

2026-07-21

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 Bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98
99 Bab 99
100 Bab 100
101 Bab 101
102 Bab 102
103 Bab 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab 106
107 CEO Arogan Terjebak di Desa Pedalaman
108 Novel Misi
109 Karya Nita P
110 Karya Baru
111 Penyesalan Suami
112 Kebangkitan Istri Yang Direndahkan
113 Karya Imamah Nur
114 Mahar 1 Miliar: Menikahi Pria Tuli
115 Karya Eliyona
Episodes

Updated 115 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
Bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98
99
Bab 99
100
Bab 100
101
Bab 101
102
Bab 102
103
Bab 103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab 106
107
CEO Arogan Terjebak di Desa Pedalaman
108
Novel Misi
109
Karya Nita P
110
Karya Baru
111
Penyesalan Suami
112
Kebangkitan Istri Yang Direndahkan
113
Karya Imamah Nur
114
Mahar 1 Miliar: Menikahi Pria Tuli
115
Karya Eliyona

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!