BAB 2. HUKUMAN

Langit di atas menara Akademi Kesatria Kerajaan Aurelius berwarna kelabu pucat ketika Elara Ravens berdiri di depan pintu kayu besar berukir lambang pedang bersilang.

Lambang kehormatan dan sumpah, tempat di mana para calon kesatria ditempa bukan hanya dengan baja, tetapi juga dengan aturan.

Tangan Elara mengepal di sisi tubuh. Bekas lecet di telapak tangannya masih terasa perih. Namun rasa perih itu tidak ada apa-apanya dibanding panas yang masih membara di dadanya.

Elara tahu mengapa ia dipanggil.

Guru yang dipukulnya tentu tidak tinggal diam.

"Elara Ravens?"

Suara penjaga di samping pintu membuat Elara menoleh. "Kepala Akademi menunggumu."

Elara menarik napas panjang.

Lalu mendorong pintu.

Ruangan Kepala Akademi luas, dipenuhi rak buku tebal dan peta pertempuran kuno yang tergantung di dinding. Di belakang meja kayu besar duduk seorang pria paruh baya dengan rambut keperakan dan sorot mata tajam namun tenang.

Kepala Akademi Armand Valerius.

Pria yang pernah memimpin pasukan kerajaan dalam tiga perang perbatasan.

Pria yang dihormati bahkan oleh Duke Alaric Ravens.

Dan satu-satunya orang di akademi ini yang tidak pernah menatap Elara dengan ekspresi kecewa atau membandingkannya dengan Evan.

"Elara?" panggil sang kepala akademi pelan.

Elara menunduk seperlunya. "Kepala Akademi."

"Duduklah," suruh Armand.

Elara menurut.

Suasana hening beberapa detik. Hanya suara jarum jam mekanik yang berdetak di sudut ruangan.

"Aku sudah mendengar laporan lengkap. Kau terlibat perkelahian dengan senior. Itu bukan hal baru di akademi ini," ulas Armand akhirnya.

Nada suara sang Kepala Akademi datar. Tidak marah atau pun menghakimi.

"Namun ... kau juga memukul seorang guru. Kau tahu apa arti tindakan itu?" tanya sang kepala Akademi.

Elara tidak menjawab.

"Memukul sesama murid adalah pelanggaran disiplin. Tapi memukul guru adalah pelanggaran terhadap tatanan kehormatan," kata Kepala Akademi.

Elara mengangkat wajahnya. "Dia tidak hanya menghina saya tapi juga ibu saya."

Armand terdiam.

"Apa pun alasannya, tidak ada yang berhak menyebut Duchess Liora Ravens seperti itu," lanjut Elara, suaranya bergetar menahan amarah.

Tatapan Armand melembut. "Aku tahu. Aku mengenal ibumu. Ia salah satu kesatria terbaik yang pernah aku lihat. Aku juga tahu, kau tidak akan menyerang tanpa alasan."

Kalimat itu membuat Elara diam.

Hening kembali menyelimuti ruangan.

"Namun, Elara. Akademi ini berdiri atas satu prinsip. Semua murid setara. Tidak peduli putra Duke, anak pedagang, atau yatim piatu dari desa." Armand menatap Elara.

Elara menggigit bibirnya.

"Jika aku membiarkan tindakanmu tanpa konsekuensi karena kau adalah putri Duke Alaric Ravens, maka keadilan di tempat ini runtuh," lanjutnya.

"Saya tidak meminta perlakuan khusus," potong Elara cepat.

"Aku tahu. Justru itulah mengapa aku menghargaimu." Armand menyandarkan tubuhnya.

Elara terdiam.

"Namun kau harus memahami bahwa kehormatan seorang kesatria bukan hanya tentang seberapa keras ia bisa menyerang. Tetapi seberapa mampu ia menahan diri," lanjut Armand.

Elara mengepalkan tangannya. "Apakah menahan diri berarti membiarkan orang merendahkan keluarga kita?" tanyanya tajam.

"Menahan diri berarti memilih waktu dan cara yang tepat untuk bertindak," kata Armand.

"Dan jika waktu itu tidak pernah datang? Jika setiap hari yang datang hanya ejekan? Perbandingan? Bisikan tentang betapa sempurnanya Evan Ravens dan betapa gagalnya saya?" suara Elara meninggi.

Nama itu menggema di ruangan.

Armand menatap Elara lama. "Aku tidak pernah melihatmu sebagai kegagalan, Elara."

Kalimat itu membuat Elara terdiam.

"Tahukah kau, mengapa aku tidak pernah membandingkanmu dengan Evan?" lanjut Armand pelan.

Elara tidak menjawab.

"Karena kau bukan Evan," ujar Armand.

Jawaban sederhana itu membuat tenggorokan Elara terasa sesak.

"Kau memiliki gaya bertarung yang berbeda. Refleksmu cepat dan analisis pertarunganmu tajam. Namun tubuhmu memiliki batas yang berbeda," Armand mengingatkan.

Batas.

Kata yang selalu Elara benci.

"Dan dunia tidak selalu adil pada batas itu," lanjut Armand.

Elara menatap meja kayu di depannya.

"Namun tetap saja. Kau telah melanggar aturan yang tidak bisa kuabaikan," suara Armand kembali tegas.

Elara menoleh cepat. "Apa maksud Anda?"

Armand menarik napas panjang. "Mau tidak mau, kau harus menerima skorsing."

Waktu seperti berhenti.

"Apa?" Elara terkejut setengah mati.

"Skorsing sementara dari seluruh kegiatan akademi," ulang Armand.

Elara membelalak. "Berapa lama?"

"Satu minggu," jawab sang Kepala Akademi.

Satu minggu?!

Tiga hari lagi adalah pertandingan kenaikan ranking. Pertandingan yang ditunggu semua murid, termasuk Elara.

Elara berdiri mendadak. "Tidak! Tiga hari lagi pertandingan ranking!"

"Aku tahu."

"Saya sudah berlatih untuk itu selama berbulan-bulan!" seru Elara tak terima.

"Dan kau seharusnya memikirkan konsekuensinya sebelum mengayunkan tinju pada seorang guru." Nada suara Armand tetap tenang, namun tegas.

Elara kembali dipenuhi amarah.

"Elara, aku tidak meragukan semangatmu. Namun jika kau tidak mampu mengendalikan emosimu, maka jalan kesatria akan menjadi jalan yang kejam bagimu," ucap Armand. Kata-kata itu terasa seperti vonis.

"Apakah Anda akhirnya mengatakan saya tidak cocok menjadi kesatria?" Elara menatap kesal pria itu.

Armand terdiam beberapa detik. "Aku mengatakan jalan ini membutuhkan lebih dari sekadar keberanian." Jawaban yang tidak langsung, namun cukup jelas.

Elara merasakan sesuatu runtuh di dalam dirinya.

"Aku tidak terima," kata Elara lirih namun keras.

"Keputusan sudah ditetapkan," tegas sang kepala akademi.

Sunyi kembali.

"Pergilah dan gunakan waktu ini untuk berpikir," ujar Armand.

Elara berdiri kaku beberapa detik, lalu berkata, "Sepertinya kualitas akademi ini sudah turun. Tidak hanya membiarkan para calon kesatria menghina kesatria lain. Tapi justru yang seharusnya dibela jadi penjahatnya. Kalian tidak pantas untuk dipanggil guru atau kesatria sama sekali."

Dan Elara berjalan keluar tanpa menoleh lagi.

Koridor akademi terasa lebih panjang dari biasanya. Langkah Elara berat. Amarah dan kekecewaan bercampur menjadi satu.

Skorsing.

Elara dilarang ikut pertandingan.

Kesempatan untuk menjadi kesatria resmi kini hilang sudah. Semua karena satu pukulan untuk membela diri.

Saat Elara berbelok di ujung koridor, sosok familiar berdiri di sana.

Rambut hitam legam yang tertata rapi. Postur tegap. Seragam kesatria yang terpasang sempurna.

Evan Ravens, kembaran Elara kini berdiri di hadapan sang gadis.

"Elara?" Suara Evan tenang, namun ada ketegangan di dalamnya.

"Ada apa?" tanya Elara datar.

"Kepala Akademi memanggilku. Katanya kau tidak hanya berkelahi, tapi juga memukul seorang guru," tuntut Evan dengan tatapan tajam.

Elara membuka mulut untuk menjelaskan.

Namun Evan memotong. "Kenapa kau harus menyelesaikan semuanya dengan kekerasan?"

Elara diam.

Nada suara Evan tidak tinggi, tapi cukup untuk menusuk. "Kau tahu ini akademi, bukan arena jalanan."

Elara menatap Evan tajam. "Kau tahu dengan pasti kenapa aku melakukan itu?"

Evan terdiam.

"Mereka merendahkanku. Mereka merendahkan Papa dan Mama," beritahu Elara.

"Aku tahu. Tapi memukul guru?" kata Evan cepat.

"Ia menghina Mama!" seru Elara.

"Kalau begitu kau bisa melapor pada Papa! Papa akan mengurusnya." suara Evan mulai meninggi.

Elara menatapnya lama. Lalu tertawa pahit.

"Kau enak bisa bicara seperti itu karena semua orang berpihak padamu," ujar Elara.

Evan mengerutkan kening.

"Kau tidak pernah merasakan berada di posisiku." Ucapan Elara mendingin.

"Elara-"

"Kau tidak pernah tahu rasanya direndahkan setiap hari! Selalu dibanding-bandingkan! Kau selalu dielu-elukan sebagai Tuan Sempurna!" seru Elara lepas kendali.

Beberapa murid yang lewat mulai melirik.

"Sedangkan aku? Aku hanya seseorang yang gagal!" suara Elara bergetar.

"Elara!" Evan berseru keras.

Suara itu menggema di koridor.

Elara terdiam.

Itu pertama kalinya Evan meninggikan suara padanya.

Evan menghela napas panjang. Bahunya sedikit turun.

"Kita tidak bisa menyelesaikan ini di sini. Kita bicarakan di rumah. Bersama Papa dan Mama," kata Evan lebih tenang.

Elara menepis tangan Evan yang hendak menyentuh lengannya. "Tidak perlu. Lebih baik kau urus saja urusanmu."

"Elara-"

"Bukankah kau sibuk dengan upacara pengangkatanmu sebagai kesatria resmi kerajaan? Jangan ganggu aku," suara Elara dingin.

Langkah Elara cepat menjauh.

"Elara?!"

Evan memanggil lagi.

Namun Elara tidak menoleh. Koridor panjang itu seolah menelan langkahnya.

Evan berdiri sendirian, rahangnya mengeras.

"Brengsek," gumam Evan pelan, bukan pada Elara, melainkan pada keadaan yang tak pernah sederhana bagi mereka berdua.

Dan di luar gedung akademi, angin musim semi berhembus lebih kencang.

Seolah tahu bahwa di antara dua anak Ravens, retakan kecil baru saja terbentuk.

Retakan yang mungkin akan mengacaukan kedekatan si kembar karena yang menyentuh harga diri, kehormatan, dan bayangan panjang dari nama besar keluarga Ravens.

Terpopuler

Comments

Na

Na

Opini Pribadi 😅 :
Satu Dari Banyaknya STRATEGI,
“Kalah/Mengalah dahulu, Baru Menang Kemudian”., Tapi Cara Tersebut Tidak Baik Dipake Pada Kehidupan Manusia Bahkan Untuk Pertandingan Pasti Langsung Kalah Tanpa Ada Kesempatan Ke-2

2026-08-20

0

Erna Masliana

Erna Masliana

betul... mereka memihak pembullyan.. akademi terlalu bobrok

2026-05-22

0

Berlian Nusantara dan Dinda Saraswati

Berlian Nusantara dan Dinda Saraswati

papa mama???
kan anak duke

2026-03-23

0

lihat semua
Episodes
1 BAB 1. ANJING GILA
2 BAB 2. HUKUMAN
3 BAB 3. KEGAGALAN
4 BAB 4. MELAWAN MONSTER
5 BAB 5. SEGEL YANG RETAK
6 BAB 6. AMBANG KEMATIAN
7 BAB 7. PILIHAN
8 BAB 8. SIUMAN
9 BAB 9. HUKUMAN DAN HARGA DIRI
10 BAB 10. KEBERANGKATAN
11 BAB 11. KERAJAAN OBERYN
12 BAB 12. AKADEMI SIHIR OBERYN
13 BAB 13. TES KECIL
14 BAB 14. TAMPARAN ELARA
15 BAB 15. HUKUMAN DAN TEMAN
16 BAB 16. CEMBURU?
17 BAB 17. BELAJAR SIHIR
18 BAB 18. DUEL
19 BAB 19. MURKA
20 BAB 20. MINTA MAAF
21 BAB 21. SERANGAN
22 BAB 22. MELAWAN
23 BAB 23. BANTUAN
24 BAB 24. MIMPI BURUK
25 BAB 25. KETAKUTAN
26 BAB 26. SORAK SORAI
27 BAB 27. PEDANG UNTUK ELARA
28 BAB 28. ELARA JADI BOCAH?!
29 BAB 29. MENGGEMASKAN
30 BAB 30. SI CADEL ELARA
31 BAB 31. RAMAINYA RUMAH
32 BAB 32. ELARA KEMBALI BESAR
33 BAB 33. LUNARIS
34 BAB 34. LATIHAN
35 BAB 35. MIASMA
36 BAB 36. RENCANA SINGKAT
37 BAB 37. MIMPI DARI ZAMAN TERLUPAKAN
38 BAB 38. SIUMAN
39 BAB 39. MENCARI TAHU
40 BAB 40. TAKDIR ELARA?
41 BAB 41. PERASAAN
42 BAB 42. KEMBALI KE AKADEMI
43 BAB 43. TENTANG TITANIA
44 BAB 44. REUNI KELUARGA
45 BAB 45. OBROLAN PARA ORANG TUA
46 BAB 46. SOSOK WANITA ASING
47 BAB 47. PENGUMUMAN UJIAN
48 BAB 48. NIAT TAK JUJUR
49 BAB 49. GANJIL
50 BAB 50. KETAHUAN
51 BAB 51. SEDIKIT PENJELASAN
52 BAB 52. ILUSI YANG TERASA NYATA
53 BAB 53. PERTANYAAN PENTING
54 BAB 54. MARAH
55 BAB 55. HARI UJIAN KENAIKAN RANK
56 BAB 56. TAHAP PERTAMA UJIAN
57 BAB 57. UJIAN TAHAP KEDUA
58 BAB 58. BANTUAN
59 BAB 59. AARON VS ELARA
60 BAB 60. MENANG!
61 BAB 61. AKHIR JAMUAN
62 BAB 62. AMBANG PILIHAN
63 BAB 63. KEMATIAN
64 BAB 64. RESTORASI
65 BAB 65. ALASAN
66 BAB 66. ASGARD DAN HARMONIA
67 BAB 67. DUKA ASGARD DAN HARMONIA
68 BAB 68. KENANGAN
69 BAB 69. SAMA SEPERTI DULU
70 BAB 70. HILANGNYA SIHIR ELARA
71 BAB 71. PERASAAN YANG KURANG
72 BAB 72. LATIHAN DAN TERIAKAN
73 BAB 73. KERIBUTAN
74 BAB 74. TERTUDUH
75 BAB 75. DIADILI
76 BAB 76. KEPUTUSAN
77 BAB 77. LELAH
78 BAB 78. KENCAN DAN YANG TAK DIDUGA
79 BAB 79. BAHAYA DATANG
80 BAB 80. SOSOK BERJUBAH DAN WYVERN
81 BAB 81. BENDA ASING DI AKADEMI
82 BAB 82. MENYERANG
83 BAB 83. MUSUH SEBENARNYA
84 BAB 84. KESATRIA DAN PENYIHIR
85 BAB 85. SIHIR AARON
86 BAB 86. JEDA HENING
87 BAB 87. AMBANG PERANG
88 BAB 88. BERKUMPUL KEMBALI
89 BAB 89. DUEL RINGAN
90 BAB 90. PERANG DIMULAI
91 BAB 91. SEMANGAT YANG MEMUDAR
92 BAB 92. SEMANGAT YANG KEMBALI
93 BAB 93. PERLAWANAN YANG KUAT
94 BAB 94. SERANGAN TERAKHIR
95 BAB 95. RAMALAN JADI NYATA
96 BAB 96. TITANIA
97 BAB 97. BANTUAN
98 BAB 98. SEKUTU TERKUAT
99 BAB 99. PETARUNG VETERAN
100 BAB 100. PELAHAP DARI NERAKA
101 BAB 101. KEAJAIBAN DATANG
102 BAB 102. PERANG BELUM USAI
103 BAB 103. TERTELAN
104 BAB 104. HUKUMAN LANGIT
105 BAB 105. SELESAINYA PERANG
106 BAB 106. PAGI SETELAH PERANG
107 BAB 107. DUKA YANG TAK SEMBUH
108 BAB 108. KEMBALI KE AKADEMI
109 BAB 109. HARI KELULUSAN
110 BAB 110. PERMINTAAN AARON
111 BAB 111. MOMEN IBU DAN PUTRINYA
112 BAB 112. HARI PERNIKAHAN
113 BAB 113. IKRAR SUCI
114 BAB 114. MALAM PERTAMA
115 BAB 115. RUMAH YANG AKAN DIRINDUKAN
116 BAB 116. PAMIT
117 SIDE STORY 1. ELARA KECIL MENUJU OBERYN
118 SIDE STORY 2. SAMPAI DI OBERYN
119 SIDE STORY 3. SANG MAHA TAHU
120 SIDE STORY 4. ELARA MENGHILANG
121 SIDE STORY 5. ELARA TERSESAT
122 SIDE STORY 6. ELARA PULANG KE RUMAH
123 SUDE STORY 7. PULANG DAN KABAR BAIK
124 SIDE STORY 8. HARI YANG DITUNGGU
125 SIDE STORY 9. KEBAHAGIAAN
Episodes

Updated 125 Episodes

1
BAB 1. ANJING GILA
2
BAB 2. HUKUMAN
3
BAB 3. KEGAGALAN
4
BAB 4. MELAWAN MONSTER
5
BAB 5. SEGEL YANG RETAK
6
BAB 6. AMBANG KEMATIAN
7
BAB 7. PILIHAN
8
BAB 8. SIUMAN
9
BAB 9. HUKUMAN DAN HARGA DIRI
10
BAB 10. KEBERANGKATAN
11
BAB 11. KERAJAAN OBERYN
12
BAB 12. AKADEMI SIHIR OBERYN
13
BAB 13. TES KECIL
14
BAB 14. TAMPARAN ELARA
15
BAB 15. HUKUMAN DAN TEMAN
16
BAB 16. CEMBURU?
17
BAB 17. BELAJAR SIHIR
18
BAB 18. DUEL
19
BAB 19. MURKA
20
BAB 20. MINTA MAAF
21
BAB 21. SERANGAN
22
BAB 22. MELAWAN
23
BAB 23. BANTUAN
24
BAB 24. MIMPI BURUK
25
BAB 25. KETAKUTAN
26
BAB 26. SORAK SORAI
27
BAB 27. PEDANG UNTUK ELARA
28
BAB 28. ELARA JADI BOCAH?!
29
BAB 29. MENGGEMASKAN
30
BAB 30. SI CADEL ELARA
31
BAB 31. RAMAINYA RUMAH
32
BAB 32. ELARA KEMBALI BESAR
33
BAB 33. LUNARIS
34
BAB 34. LATIHAN
35
BAB 35. MIASMA
36
BAB 36. RENCANA SINGKAT
37
BAB 37. MIMPI DARI ZAMAN TERLUPAKAN
38
BAB 38. SIUMAN
39
BAB 39. MENCARI TAHU
40
BAB 40. TAKDIR ELARA?
41
BAB 41. PERASAAN
42
BAB 42. KEMBALI KE AKADEMI
43
BAB 43. TENTANG TITANIA
44
BAB 44. REUNI KELUARGA
45
BAB 45. OBROLAN PARA ORANG TUA
46
BAB 46. SOSOK WANITA ASING
47
BAB 47. PENGUMUMAN UJIAN
48
BAB 48. NIAT TAK JUJUR
49
BAB 49. GANJIL
50
BAB 50. KETAHUAN
51
BAB 51. SEDIKIT PENJELASAN
52
BAB 52. ILUSI YANG TERASA NYATA
53
BAB 53. PERTANYAAN PENTING
54
BAB 54. MARAH
55
BAB 55. HARI UJIAN KENAIKAN RANK
56
BAB 56. TAHAP PERTAMA UJIAN
57
BAB 57. UJIAN TAHAP KEDUA
58
BAB 58. BANTUAN
59
BAB 59. AARON VS ELARA
60
BAB 60. MENANG!
61
BAB 61. AKHIR JAMUAN
62
BAB 62. AMBANG PILIHAN
63
BAB 63. KEMATIAN
64
BAB 64. RESTORASI
65
BAB 65. ALASAN
66
BAB 66. ASGARD DAN HARMONIA
67
BAB 67. DUKA ASGARD DAN HARMONIA
68
BAB 68. KENANGAN
69
BAB 69. SAMA SEPERTI DULU
70
BAB 70. HILANGNYA SIHIR ELARA
71
BAB 71. PERASAAN YANG KURANG
72
BAB 72. LATIHAN DAN TERIAKAN
73
BAB 73. KERIBUTAN
74
BAB 74. TERTUDUH
75
BAB 75. DIADILI
76
BAB 76. KEPUTUSAN
77
BAB 77. LELAH
78
BAB 78. KENCAN DAN YANG TAK DIDUGA
79
BAB 79. BAHAYA DATANG
80
BAB 80. SOSOK BERJUBAH DAN WYVERN
81
BAB 81. BENDA ASING DI AKADEMI
82
BAB 82. MENYERANG
83
BAB 83. MUSUH SEBENARNYA
84
BAB 84. KESATRIA DAN PENYIHIR
85
BAB 85. SIHIR AARON
86
BAB 86. JEDA HENING
87
BAB 87. AMBANG PERANG
88
BAB 88. BERKUMPUL KEMBALI
89
BAB 89. DUEL RINGAN
90
BAB 90. PERANG DIMULAI
91
BAB 91. SEMANGAT YANG MEMUDAR
92
BAB 92. SEMANGAT YANG KEMBALI
93
BAB 93. PERLAWANAN YANG KUAT
94
BAB 94. SERANGAN TERAKHIR
95
BAB 95. RAMALAN JADI NYATA
96
BAB 96. TITANIA
97
BAB 97. BANTUAN
98
BAB 98. SEKUTU TERKUAT
99
BAB 99. PETARUNG VETERAN
100
BAB 100. PELAHAP DARI NERAKA
101
BAB 101. KEAJAIBAN DATANG
102
BAB 102. PERANG BELUM USAI
103
BAB 103. TERTELAN
104
BAB 104. HUKUMAN LANGIT
105
BAB 105. SELESAINYA PERANG
106
BAB 106. PAGI SETELAH PERANG
107
BAB 107. DUKA YANG TAK SEMBUH
108
BAB 108. KEMBALI KE AKADEMI
109
BAB 109. HARI KELULUSAN
110
BAB 110. PERMINTAAN AARON
111
BAB 111. MOMEN IBU DAN PUTRINYA
112
BAB 112. HARI PERNIKAHAN
113
BAB 113. IKRAR SUCI
114
BAB 114. MALAM PERTAMA
115
BAB 115. RUMAH YANG AKAN DIRINDUKAN
116
BAB 116. PAMIT
117
SIDE STORY 1. ELARA KECIL MENUJU OBERYN
118
SIDE STORY 2. SAMPAI DI OBERYN
119
SIDE STORY 3. SANG MAHA TAHU
120
SIDE STORY 4. ELARA MENGHILANG
121
SIDE STORY 5. ELARA TERSESAT
122
SIDE STORY 6. ELARA PULANG KE RUMAH
123
SUDE STORY 7. PULANG DAN KABAR BAIK
124
SIDE STORY 8. HARI YANG DITUNGGU
125
SIDE STORY 9. KEBAHAGIAAN

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!