BAB 3. KEGAGALAN

Langit sore di atas Kerajaan Aurelius perlahan berubah keemasan ketika Elara Ravens melangkah keluar dari gerbang Akademi Kesatria.

Biasanya, selepas pelajaran, ia akan berjalan pulang menyusuri jalan batu menuju Kediaman Duke Ravens yang menjulang anggun di distrik bangsawan. Biasanya, ia akan mengatur napasnya, mengulang teknik di kepala, atau memersiapkan diri menghadapi tatapan para pelayan yang selalu terlalu hormat dan terlalu berhati-hati.

Namun hari ini, langkah sang gadis tidak mengarah ke rumah. Kakinya berbelok menuruni jalan besar yang ramai, menuju jantung ibu kota.

Elara tidak ingin pulang lalu melihat wajah Papa yang tenang namun penuh kasih. Tidak ingin melihat Mama yang mungkin akan menatapnya dengan lembut dan itu justru lebih menyakitkan.

Elara bahkan belum mau melihat Evan dengan seragam resminya yang segera akan menerima pengangkatan sebagai kesatria kerajaan. Terutama setelah pertengkaran mereka tadi.

Gadis itu bahkan tidak tahu harus berkata apa jika mereka bertanya. Mungkin Elara sedang tidak ingin mendengar apa pun tentang dirinya.

Angin sore menyibakkan rambut hitam Elara. Pasar mulai ramai oleh pedagang yang menyalakan lentera. Aroma roti hangat, sup kaldu, dan daging panggang bercampur di udara.

Langkah Elara akhirnya berhenti di depan bangunan kayu dua lantai yang tidak mewah, namun hangat.

Papan kayunya bertuliskan: 'Kuali Besi Berderak.'

Tempat makan sederhana yang sudah ia datangi sejak beberapa tahun lalu, tanpa pengawalan, tanpa identitas sebagai putri Duke, hanya sebagai Elara. Walau semua orang tahu Elara adalah putri Duke, tapi di sini semua orang melihat Elara hanyalah seorang gadis biasa.

Elara mendorong pintu.

Bel kecil di atasnya berdenting.

Suasana di dalam riuh oleh tawa dan dentingan cangkir kayu. Bau daging panggang langsung menyambutnya seperti pelukan hangat.

Beberapa pelanggan mengenalinya, menyambut Elara dengan suka cita seperti teman dekat.

Itulah yang Elara suka.

Gadis itu duduk di meja pojok dekat jendela.

"Seperti biasa!" seru Elara pada pelayan muda yang berlari kecil menghampirinya.

Tak lama kemudian, sepiring besar daging panggang dengan kentang rebus dan roti hangat diletakkan di hadapannya.

Elara menatap makanan itu. Uapnya mengepul. Aromanya menggoda.

Namun Elara hanya menusuknya pelan dengan garpu kayu.

Pikirannya kembali pada kejadian di akademi.

Skorsing.

Pertandingan ranking.

Tatapan kecewa Kepala Akademi.

Dan wajah Evan.

Elara memejamkan mata sesaat. Ia tahu Evan tidak bersalah. Ia tahu kembarannya itu hanya khawatir. Namun kata-kata Evan tadi terasa seperti penghakiman.

Kenapa kau harus melakukan semuanya dengan kekerasan?

Karena aku lelah. Karena aku selalu kalah. Karena aku tidak pernah cukup, batin Elara.

Elara menelan ludah.

Dan untuk kini rasa bersalah menyelinap pelan di antara amarahnya. Ia tidak seharusnya melampiaskan emosinya pada Evan.

Evan tidak pernah menganggap Elara demikian. Justru dunia lah yang melakukannya.

"Elara Ravens!"

Sebuah pukulan keras mendarat di punggungnya.

"AGH!" Elara tersedak hampir menjatuhkan garpunya.

Elara berbalik dengan wajah meringis.

Seorang perempuan bertubuh tinggi dengan rambut cokelat kemerahan yang digelung sembarangan berdiri di belakangnya, tangan bertolak pinggang dan senyum lebar menghiasi wajahnya. Matanya tajam seperti elang, namun penuh kehidupan.

Namanya Mirena Valen. Namun Elara memanggilnya Bibi Mirena, sang pemilik tempat makan ini.

"Kenapa kau memasang wajah murung seperti itu, Tuan Putri?" seru Mirena penuh semangat.

Elara memijat punggungnya. "Agh, Bibi! Kau itu pemilik bar atau tukang pukul sebenarnya? Kenapa pukulanmu selalu terasa sampai ke tulang?"

Mirena tertawa keras, suara tawanya memenuhi ruangan.

"Itu karena kau kurang makan! Ototmu tidak ada! Makan banyak daging! Baru bisa kuat! Lihat ini!" Mirena menepuk lengannya sendiri yang kekar.

Elara menghela napas panjang. Namun tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat.

Senyum pertama Elara hari ini.

Mirena memerhatikannya dengan mata menyipit. "Nah, itu baru wajah Elara yang kukenal. Sekarang katakan, kenapa kau yang biasa tidak diam kini wajahnya ditekuk seperti roti basi?"

Elara mendelik. "Kau membuatku terdengar seolah aku biang keributan di sini, Bibi."

Mirena menyeringai. "Bukankah memang seperti itu?"

Beberapa pelanggan tertawa kecil mengejek Elara.

Elara menatap para pelanggan yang justru semakin tertawa. "Diam kalian!"

Mirena duduk di hadapannya tanpa izin. "Jadi, apa yang terjadi? Biasanya kau datang kemari dengan cerita tentang duel yang hampir kau menangkan atau bagaimana kau mengalahkan pria dua kali ukuranmu."

Elara terdiam sejenak. Lalu berkata pelan, "Aku diskors."

Mirena membelalak. "Kau apa?"

"Diskors," ulang Elara.

"Kenapa? Bukankah tiga hari lagi ada ujian kenaikan ranking?" tanya Mirena.

Elara menusuk dagingnya lagi, tapi tak benar-benar memakannya. "Aku memukuli seniorku."

Mirena mengangguk pelan. "Bukankah itu sudah biasa."

Elara menatap Mirena dengan air muka protes. "Dan aku juga memukul seorang guru," tambahnya.

Hening.

Beberapa detik yang terasa panjang.

Lalu Mirena tertawa keras hingga hampir terjatuh dari kursinya.

"Benar-benar seperti dirimu!"

"Bibi!" Elara mendesis malu.

Mirena menyeka sudut matanya yang berair karena tertawa. "Biar kutebak. Mereka meremehkanmu lagi?"

Elara mengangguk pelan. "Dan kali ini mereka membawa-bawa soal ibuku."

Senyum Mirena perlahan memudar. Wajahnya berubah serius. Tangannya terlipat di dada.

"Oh. Kalau begitu kau tidak salah memukul mereka," kata Mirena pelan namun tegas,

Elara terkejut.

"Jika aku di sana, aku juga akan memukul mereka. Tidak peduli itu guru sekali pun," lanjut Mirena.

Beberapa pelanggan yang mendengar mengangguk setuju.

"Bukan soal mereka meremehkanmu saja. Tapi mereka berani mengungkit Duchess Liora Ravens. Salah satu pahlawan kerajaan ini," kata Mirena.

Elara menunduk. Dadanya terasa hangat sekaligus berat.

"Tapi tetap saja aku diskors," ucap Elara.

Mirena mendecak pelan. "Elara."

"Bibi, bagaimana jika aku berhenti saja menjadi kesatria? Kepala Akademi mengatakan secara tidak langsung aku tidak pantas jadi kesatria," kata Elara.

"Kau salah makan hari ini? Sejak kapan kau jadi pesimis seperti ini?" Mirena memasang wajah terkejut.

Elara mengangkat bahu lemah. "Mungkin aku memang tidak cocok. Staminaku lemah. Aku selalu kalah kalau melawan lebih dari tiga orang. Semua orang membandingkanku dengan Evan. Kurasa aku jadi pemilik bar sepertimu saja," katanya setengah bercanda.

Mirena mendengus keras. "Kalau begitu kurasa aku harus menjejalkan seluruh panggangan dagingku ke mulutmu sampai kau sadar."

Elara terkekeh.

"Menyerah bukan seperti dirimu. Bukankah kau yang berdiri di atas meja ini setahun lalu dan berteriak bahwa kau akan menjadi kesatria terhebat sepanjang masa?" lanjut Mirena.

Wajah Elara langsung memerah. "Bibi! Jangan ingatkan kejadian memalukan itu!"

Pelanggan di meja sebelah ikut tertawa.

Mirena tertawa lagi dan memukul punggung Elara sekali lagi.

"AGH! Bibi!" protes sang gadis.

"Kalau kau menyerah, aku akan benar-benar memukulmu sampai sadar! Menyerah bukan gayamu, Tun Putri!" kata Mirena.

Elara tertawa. Tawa yang lebih tulus dari sebelumnya.

Untuk sesaat, beban di dadanya terasa lebih ringan.

Namun sebuah getaran aneh menjalar di lantai kayu.

Elara mengerutkan kening. "Apa itu?"

Gelas-gelas di rak mulai bergetar.

Lentera bergoyang.

DUARR!!

Ledakan dahsyat mengguncang seluruh bangunan.

Dinding kayu hancur. Kaca jendela pecah berkeping-keping.

Elara tidak sempat berpikir. Tubuhnya terlempar ke belakang. Dunia berputar dalam sekejap.

Suara kayu patah, jeritan orang, dan debu memenuhi udara.

Lalu gelap.

Beberapa detik atau menit kemudian.

Elara membuka mata perlahan, tubuhnya terasa berat.

Debu mengaburkan pandangan gadis itu.

Elara menyadari dirinya tergeletak di lantai, tertimpa meja yang pecah dan serpihan dinding.

Sakit menjalar di seluruh tubuh Elara ketika ia mencoba bergerak

"Bibi?" suara Elara serak ketika melihat Mirena tak jauh darinya

Gadis itu memaksakan diri mengangkat meja yang menindihnya. Dengan susah payah, ia merangkak keluar.

Elara mendapati Mirena tergeletak tak sadarkan diri dengan kepala berlumur darah.

"Bibi?!"

Elara merangkak mendekat.

Namun sebelum ia sempat menyentuh Mirena ... bayangan besar menutupi cahaya senja.

Tanah kembali bergetar.

Elara menoleh perlahan.

Dan napasnya terhenti ketika netranya menatap yang tidak pernah ia sangka.

Sosok raksasa berdiri di tengah reruntuhan bar. Tubuhnya menjulang lebih tinggi dari bangunan dua lantai yang kini setengah hancur. Kulitnya kelabu seperti batu, dengan retakan merah menyala di sela-selanya. Mata kuningnya menyala buas. Taring panjang menyembul dari rahangnya.

Monster.

Bukan sekedar binatang liar. Ini makhluk kelas tinggi. Sesuatu yang biasanya hanya muncul di perbatasan kerajaan, bukannya di tengah ibu kota.

Elara melangkah maju. Setiap langkahnya menghancurkan batu dan kayu di bawahnya.

Elara membelalak. Tubuhnya gemetar, namun bukan karena takut tapi karena ia tahu keadaan terburuknya.

Gadis itu sedang diskors. Ia dilarang bertarung apalagi membawa pedang, bahkan bukan kesatria resmi.

Namun di belakang Elara, Mirena tak sadarkan diri. Dan di sekitar, orang-orang berteriak ketakutan.

Darah Ravens mengalir panas di nadi Elara. Staminanya mungkin lemah. Rankingnya mungkin rendah, namun ia tetap putri Duke Alaric Ravens.

Elara perlahan berdiri.

Tangan Elara gemetar, tapi ia menggenggam pecahan kayu panjang seperti tombak darurat. Matanya menatap monster itu tanpa berkedip.

"Kalau kau ingin menghancurkan tempat ini, kau harus melewatiku dulu," ujar Elara

Angin berhembus membawa debu dan bau asap.

Dan monster itu mengaum.

Suara yang mengguncang sisa-sisa dinding. Bersama Elara yang berada di sana.

Terpopuler

Comments

Rosita Tumbelaka

Rosita Tumbelaka

Elara dihina spt ibunya dgn versi lain...

2026-06-26

1

Dewi Ansyari

Dewi Ansyari

Astaga Elara hati2 pada monsternya nanti kamu yg celaka

2026-05-16

0

Miss Typo

Miss Typo

apa kekuatan Elara akan muncul saat melawan monster

2026-03-03

0

lihat semua
Episodes
1 BAB 1. ANJING GILA
2 BAB 2. HUKUMAN
3 BAB 3. KEGAGALAN
4 BAB 4. MELAWAN MONSTER
5 BAB 5. SEGEL YANG RETAK
6 BAB 6. AMBANG KEMATIAN
7 BAB 7. PILIHAN
8 BAB 8. SIUMAN
9 BAB 9. HUKUMAN DAN HARGA DIRI
10 BAB 10. KEBERANGKATAN
11 BAB 11. KERAJAAN OBERYN
12 BAB 12. AKADEMI SIHIR OBERYN
13 BAB 13. TES KECIL
14 BAB 14. TAMPARAN ELARA
15 BAB 15. HUKUMAN DAN TEMAN
16 BAB 16. CEMBURU?
17 BAB 17. BELAJAR SIHIR
18 BAB 18. DUEL
19 BAB 19. MURKA
20 BAB 20. MINTA MAAF
21 BAB 21. SERANGAN
22 BAB 22. MELAWAN
23 BAB 23. BANTUAN
24 BAB 24. MIMPI BURUK
25 BAB 25. KETAKUTAN
26 BAB 26. SORAK SORAI
27 BAB 27. PEDANG UNTUK ELARA
28 BAB 28. ELARA JADI BOCAH?!
29 BAB 29. MENGGEMASKAN
30 BAB 30. SI CADEL ELARA
31 BAB 31. RAMAINYA RUMAH
32 BAB 32. ELARA KEMBALI BESAR
33 BAB 33. LUNARIS
34 BAB 34. LATIHAN
35 BAB 35. MIASMA
36 BAB 36. RENCANA SINGKAT
37 BAB 37. MIMPI DARI ZAMAN TERLUPAKAN
38 BAB 38. SIUMAN
39 BAB 39. MENCARI TAHU
40 BAB 40. TAKDIR ELARA?
41 BAB 41. PERASAAN
42 BAB 42. KEMBALI KE AKADEMI
43 BAB 43. TENTANG TITANIA
44 BAB 44. REUNI KELUARGA
45 BAB 45. OBROLAN PARA ORANG TUA
46 BAB 46. SOSOK WANITA ASING
47 BAB 47. PENGUMUMAN UJIAN
48 BAB 48. NIAT TAK JUJUR
49 BAB 49. GANJIL
50 BAB 50. KETAHUAN
51 BAB 51. SEDIKIT PENJELASAN
52 BAB 52. ILUSI YANG TERASA NYATA
53 BAB 53. PERTANYAAN PENTING
54 BAB 54. MARAH
55 BAB 55. HARI UJIAN KENAIKAN RANK
56 BAB 56. TAHAP PERTAMA UJIAN
57 BAB 57. UJIAN TAHAP KEDUA
58 BAB 58. BANTUAN
59 BAB 59. AARON VS ELARA
60 BAB 60. MENANG!
61 BAB 61. AKHIR JAMUAN
62 BAB 62. AMBANG PILIHAN
63 BAB 63. KEMATIAN
64 BAB 64. RESTORASI
65 BAB 65. ALASAN
66 BAB 66. ASGARD DAN HARMONIA
67 BAB 67. DUKA ASGARD DAN HARMONIA
68 BAB 68. KENANGAN
69 BAB 69. SAMA SEPERTI DULU
70 BAB 70. HILANGNYA SIHIR ELARA
71 BAB 71. PERASAAN YANG KURANG
72 BAB 72. LATIHAN DAN TERIAKAN
73 BAB 73. KERIBUTAN
74 BAB 74. TERTUDUH
75 BAB 75. DIADILI
76 BAB 76. KEPUTUSAN
77 BAB 77. LELAH
78 BAB 78. KENCAN DAN YANG TAK DIDUGA
79 BAB 79. BAHAYA DATANG
80 BAB 80. SOSOK BERJUBAH DAN WYVERN
81 BAB 81. BENDA ASING DI AKADEMI
82 BAB 82. MENYERANG
83 BAB 83. MUSUH SEBENARNYA
84 BAB 84. KESATRIA DAN PENYIHIR
85 BAB 85. SIHIR AARON
86 BAB 86. JEDA HENING
87 BAB 87. AMBANG PERANG
88 BAB 88. BERKUMPUL KEMBALI
89 BAB 89. DUEL RINGAN
90 BAB 90. PERANG DIMULAI
91 BAB 91. SEMANGAT YANG MEMUDAR
92 BAB 92. SEMANGAT YANG KEMBALI
93 BAB 93. PERLAWANAN YANG KUAT
94 BAB 94. SERANGAN TERAKHIR
95 BAB 95. RAMALAN JADI NYATA
96 BAB 96. TITANIA
97 BAB 97. BANTUAN
98 BAB 98. SEKUTU TERKUAT
99 BAB 99. PETARUNG VETERAN
100 BAB 100. PELAHAP DARI NERAKA
101 BAB 101. KEAJAIBAN DATANG
102 BAB 102. PERANG BELUM USAI
103 BAB 103. TERTELAN
104 BAB 104. HUKUMAN LANGIT
105 BAB 105. SELESAINYA PERANG
106 BAB 106. PAGI SETELAH PERANG
107 BAB 107. DUKA YANG TAK SEMBUH
108 BAB 108. KEMBALI KE AKADEMI
109 BAB 109. HARI KELULUSAN
110 BAB 110. PERMINTAAN AARON
111 BAB 111. MOMEN IBU DAN PUTRINYA
112 BAB 112. HARI PERNIKAHAN
113 BAB 113. IKRAR SUCI
114 BAB 114. MALAM PERTAMA
115 BAB 115. RUMAH YANG AKAN DIRINDUKAN
116 BAB 116. PAMIT
117 SIDE STORY 1. ELARA KECIL MENUJU OBERYN
118 SIDE STORY 2. SAMPAI DI OBERYN
119 SIDE STORY 3. SANG MAHA TAHU
120 SIDE STORY 4. ELARA MENGHILANG
121 SIDE STORY 5. ELARA TERSESAT
122 SIDE STORY 6. ELARA PULANG KE RUMAH
123 SUDE STORY 7. PULANG DAN KABAR BAIK
124 SIDE STORY 8. HARI YANG DITUNGGU
125 SIDE STORY 9. KEBAHAGIAAN
Episodes

Updated 125 Episodes

1
BAB 1. ANJING GILA
2
BAB 2. HUKUMAN
3
BAB 3. KEGAGALAN
4
BAB 4. MELAWAN MONSTER
5
BAB 5. SEGEL YANG RETAK
6
BAB 6. AMBANG KEMATIAN
7
BAB 7. PILIHAN
8
BAB 8. SIUMAN
9
BAB 9. HUKUMAN DAN HARGA DIRI
10
BAB 10. KEBERANGKATAN
11
BAB 11. KERAJAAN OBERYN
12
BAB 12. AKADEMI SIHIR OBERYN
13
BAB 13. TES KECIL
14
BAB 14. TAMPARAN ELARA
15
BAB 15. HUKUMAN DAN TEMAN
16
BAB 16. CEMBURU?
17
BAB 17. BELAJAR SIHIR
18
BAB 18. DUEL
19
BAB 19. MURKA
20
BAB 20. MINTA MAAF
21
BAB 21. SERANGAN
22
BAB 22. MELAWAN
23
BAB 23. BANTUAN
24
BAB 24. MIMPI BURUK
25
BAB 25. KETAKUTAN
26
BAB 26. SORAK SORAI
27
BAB 27. PEDANG UNTUK ELARA
28
BAB 28. ELARA JADI BOCAH?!
29
BAB 29. MENGGEMASKAN
30
BAB 30. SI CADEL ELARA
31
BAB 31. RAMAINYA RUMAH
32
BAB 32. ELARA KEMBALI BESAR
33
BAB 33. LUNARIS
34
BAB 34. LATIHAN
35
BAB 35. MIASMA
36
BAB 36. RENCANA SINGKAT
37
BAB 37. MIMPI DARI ZAMAN TERLUPAKAN
38
BAB 38. SIUMAN
39
BAB 39. MENCARI TAHU
40
BAB 40. TAKDIR ELARA?
41
BAB 41. PERASAAN
42
BAB 42. KEMBALI KE AKADEMI
43
BAB 43. TENTANG TITANIA
44
BAB 44. REUNI KELUARGA
45
BAB 45. OBROLAN PARA ORANG TUA
46
BAB 46. SOSOK WANITA ASING
47
BAB 47. PENGUMUMAN UJIAN
48
BAB 48. NIAT TAK JUJUR
49
BAB 49. GANJIL
50
BAB 50. KETAHUAN
51
BAB 51. SEDIKIT PENJELASAN
52
BAB 52. ILUSI YANG TERASA NYATA
53
BAB 53. PERTANYAAN PENTING
54
BAB 54. MARAH
55
BAB 55. HARI UJIAN KENAIKAN RANK
56
BAB 56. TAHAP PERTAMA UJIAN
57
BAB 57. UJIAN TAHAP KEDUA
58
BAB 58. BANTUAN
59
BAB 59. AARON VS ELARA
60
BAB 60. MENANG!
61
BAB 61. AKHIR JAMUAN
62
BAB 62. AMBANG PILIHAN
63
BAB 63. KEMATIAN
64
BAB 64. RESTORASI
65
BAB 65. ALASAN
66
BAB 66. ASGARD DAN HARMONIA
67
BAB 67. DUKA ASGARD DAN HARMONIA
68
BAB 68. KENANGAN
69
BAB 69. SAMA SEPERTI DULU
70
BAB 70. HILANGNYA SIHIR ELARA
71
BAB 71. PERASAAN YANG KURANG
72
BAB 72. LATIHAN DAN TERIAKAN
73
BAB 73. KERIBUTAN
74
BAB 74. TERTUDUH
75
BAB 75. DIADILI
76
BAB 76. KEPUTUSAN
77
BAB 77. LELAH
78
BAB 78. KENCAN DAN YANG TAK DIDUGA
79
BAB 79. BAHAYA DATANG
80
BAB 80. SOSOK BERJUBAH DAN WYVERN
81
BAB 81. BENDA ASING DI AKADEMI
82
BAB 82. MENYERANG
83
BAB 83. MUSUH SEBENARNYA
84
BAB 84. KESATRIA DAN PENYIHIR
85
BAB 85. SIHIR AARON
86
BAB 86. JEDA HENING
87
BAB 87. AMBANG PERANG
88
BAB 88. BERKUMPUL KEMBALI
89
BAB 89. DUEL RINGAN
90
BAB 90. PERANG DIMULAI
91
BAB 91. SEMANGAT YANG MEMUDAR
92
BAB 92. SEMANGAT YANG KEMBALI
93
BAB 93. PERLAWANAN YANG KUAT
94
BAB 94. SERANGAN TERAKHIR
95
BAB 95. RAMALAN JADI NYATA
96
BAB 96. TITANIA
97
BAB 97. BANTUAN
98
BAB 98. SEKUTU TERKUAT
99
BAB 99. PETARUNG VETERAN
100
BAB 100. PELAHAP DARI NERAKA
101
BAB 101. KEAJAIBAN DATANG
102
BAB 102. PERANG BELUM USAI
103
BAB 103. TERTELAN
104
BAB 104. HUKUMAN LANGIT
105
BAB 105. SELESAINYA PERANG
106
BAB 106. PAGI SETELAH PERANG
107
BAB 107. DUKA YANG TAK SEMBUH
108
BAB 108. KEMBALI KE AKADEMI
109
BAB 109. HARI KELULUSAN
110
BAB 110. PERMINTAAN AARON
111
BAB 111. MOMEN IBU DAN PUTRINYA
112
BAB 112. HARI PERNIKAHAN
113
BAB 113. IKRAR SUCI
114
BAB 114. MALAM PERTAMA
115
BAB 115. RUMAH YANG AKAN DIRINDUKAN
116
BAB 116. PAMIT
117
SIDE STORY 1. ELARA KECIL MENUJU OBERYN
118
SIDE STORY 2. SAMPAI DI OBERYN
119
SIDE STORY 3. SANG MAHA TAHU
120
SIDE STORY 4. ELARA MENGHILANG
121
SIDE STORY 5. ELARA TERSESAT
122
SIDE STORY 6. ELARA PULANG KE RUMAH
123
SUDE STORY 7. PULANG DAN KABAR BAIK
124
SIDE STORY 8. HARI YANG DITUNGGU
125
SIDE STORY 9. KEBAHAGIAAN

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!