BAB 4. MELAWAN MONSTER

Langit senja berubah menjadi merah tua, seperti disiram darah.

Debu masih berputar di udara ketika Elara Ravens berdiri di tengah reruntuhan bar 'Kuali Besi Berderak'. Jantungnya berdebar keras. Bukan karena latihan atau karena duel, melainkan karena sesuatu yang jauh lebih dalam dari itu.

Ketakutan.

Ini pertama kalinya Elara berhadapan langsung dengan monster.

Bukan boneka latihan atau simulasi kelas teori, apalagi makhluk kecil yang ditangkap untuk praktik dasar.

Ini raksasa.

Tubuh monster menjulang melebihi atap bangunan dua lantai. Kulitnya seperti batu retak dengan cahaya merah menyala di sela-selanya. Setiap napasnya mengembuskan uap panas berbau belerang.

Dan Elara tidak membawa pedang. Pedangnya disita saat skorsing ditetapkan.

Tangan gadis itu kosong. Lututnya gemetar.

Ini gila. Aku bahkan tidak bisa bertahan tiga lawan satu di akademi, pikir Elara.

Monster itu menggeram. Suara rendahnya membuat puing-puing bergetar.

Di belakang Elara, Mirena tergeletak tak sadarkan diri. Darah di pelipisnya mengalir tipis.

Elara menelan ludah.

Tak ada waktu untuk takut.

Elara menggenggam potongan kayu panjang yang tadi terjatuh di dekatnya, rapuh, kasar, bukan senjata sungguhan.

Namun gadis itu tetap melemparkannya sekuat tenaga ke arah kepala monster itu.

"HEI!"

Kayu itu membentur pipi monster dan patah tanpa arti.

Namun cukup untuk menarik perhatian.

Monster itu menoleh. Matanya yang kuning menyala menatap langsung pada Elara.

Udara terasa membeku.

Dengan gerakan cepat, Elara berbalik dan berlari ke arah Mirena. Ia berlutut, menarik puing kayu yang menindih tubuh perempuan itu.

"Ayo ... ayo ...," ucap Elara panik.

Elara menyentuh leher Mirena. Masih ada denyut begitu pula dengan napas wanita itu. Syukur yang begitu dalam hampir membuat Elara menangis.

Seorang pelanggan tetap, pria paruh baya berlari mendekat.

"Tuan Putri?!"

"Bantu aku!" Elara terengah.

Pria itu membantu mengangkat Mirena.

"Tuan Putri!" teriak seseorang dari luar. "Monster itu bergerak lagi!"

Elara menoleh.

Raksasa itu mulai melangkah, menghancurkan sisa-sisa bangunan. Ia melihat mereka.

Tanpa ragu, Elara menyerahkan Mirena pada pria itu.

"Bawa dia pergi! Dan lari sejauh mungkin!" perintah Elara tegas.

"Lalu Anda-"

"Aku akan mengalihkan perhatiannya!" kata Elara.

Tanpa menunggu jawaban, Elara berlari ke arah berlawanan.

"HEI! DI SINI!" teriak sang gadis. Ia mengambil batu dan melemparkannya ke kaki monster.

Batu itu memantul, namun cukup membuat makhluk itu menoleh. Matanya kembali mengunci pada Elara.

Bagus.

Lebih baik Elara dari pada warga lain.

Elara berlari melewati jalan sempit, melompati gerobak yang terbalik.

Monster itu mengejarnya. Setiap langkah besar sang monster membuat tanah retak.

Elara berlari sekuat tenaga, napasnya mulai berat. Setidaknya Elara harus bertahan sampai kesatria datang. Ia menoleh sekilas, mencari sesuatu.

Apa pun. Sesuatu yang bisa dijadikan senjata.

Mata Elara menangkap tiang besi penyangga lentera jalan yang patah setengah akibat getaran tadi.

Gadis itu berlari ke sana, menariknya dengan susah payah.

Berat. Namun cukup tajam di ujungnya.

Monster itu mengayunkan tangan dengan cepat.

BRAK!

Tanah di dekat Elara hancur.

Tubuh gadis itu terpental, berguling beberapa kali. Sakit menjalar di punggung Elara. Namun Elara segera bangkit ketika bayangan besar menutupinya.

Kaki raksasa itu terangkat, hendak menginjak gadis tersebut.

Elara berguling cepat.

Kaki itu menghantam tanah tepat di tempat Elara tadi berdiri.

Tanah retak.

Debu membubung.

Dengan teriakan, Elara menusukkan tiang besi itu ke retakan merah di kaki monster.

Ssssst!

Asap tipis keluar.

Monster itu mengaum kesakitan.

Berhasil! pikir Elara.

Namun hanya sesaat.

Tangan besar si monster menyapu sekitar.

Elara kembali terpental, menghantam dinding bangunan. Udara terhempas dari paru-parunya.

Beberapa warga yang berlindung di balik kereta kuda berteriak histeris.

"Dia akan mati! Siapa pun tolong Tuan Putri!"

"Mana kesatria kerajaan?!"

Elara bangkit lagi. Tangannya gemetar. Namun Elara tetap menyerang kaki monster itu, lagi dan lagi, mengincar titik retakan merah yang tampak lebih lunak.

Ia mundur perlahan, menarik monster itu menjauh dari deretan toko.

Menuju alun-alun kota yang lebih luas.

Jika harus bertarung maka lebih baik di tempat terbuka. Setidaknya kerusakan bangunan bisa diminimalkan.

Fokus, Elara. Fokus! batin gadis itu.

Napas Elara semakin pendek. Jantungnya berdetak terlalu cepat.

Namun ia tak peduli.

Elara melompat ketika cakar raksasa hampir merobek tanah di bawahnya.

Tiang besinya mulai bengkok.

Tubuhnya terasa remuk.

"Bangkitlah, Tuan Putri! Lari saja! Anda bisa mati!" teriak seseorang dari kejauhan menangis histeris.

Elara nyaris tertawa pahit.

Tuan Putri yang bahkan tak bisa ikut ujian ranking kini harus lari? Tidak akan! batin Elara.

Monster itu kembali mengayun.

Tiang besi di tangan Elara patah sepenuhnya. Sekarang ia benar-benar tanpa senjata.

Monster itu meraung dan mengangkat kedua tangannya.

Serangan berikutnya menghantam Elara langsung.

Tubuh Elara terlempar ke tengah alun-alun. Punggungnya menghantam batu. Ia merasakan rasa logam di mulutnya.

Darah.

Beberapa warga yang berlindung di sudut alun-alun berteriak.

Elara memaksakan diri bangkit.

"APA ADA YANG PUNYA PEDANG?!" teriak Elara serak.

Hening sepersekian detik.

Lalu seorang pria muda berteriak, "ADA!"

Pria itu melemparkan pedang besi dari kejauhan.

Pedang itu berputar di udara.

Elara berlari dan menangkapnya nyaris terlepas. Genggamannya terasa akrab. Berat yang ia kenal. Seolah bagian tubuhnya kembali utuh.

Monster itu menyerang lagi.

Kali ini, Elara bergerak berbeda. Lebih cepat dan gesit.

Elara menebas retakan di kaki monster.

Luka itu memercikkan darah hitam.

Monster meraung hebat.

Elara melompat, menancapkan pedangnya lebih dalam.

Namun tangan besar monster itu menghantam sang gadis lagi.

Elara jatuh terguling tanpa kontrol. Seluruh tubuhnya berdenyut nyeri.

Namun ia bangkit.

Lagi.

Dan lagi.

Hingga akhirnya saat ia berdiri setelah satu hantaman keras ... Elara membeku.

DEG!

Jantungnya berdetak tak wajar. Terlalu cepat dan keras. Seolah ingin meledak dari dada Elara.

"Agh!"

Dunia berputar.

Gadis itu terhuyung. Darah mengalir dari sudut bibirnya. Ia memuntahkan darah ke tanah batu alun-alun.

Elara mencengkeram dadanya yg untuk memudarkan rasa sakit yang luar biasa itu. Tapi tidak berhasil. Seolah sesuatu di dalam dada Elara retak dan tidak bisa gadis itu tahan.

Monster tersebut berhenti menyerang Elara. Makhluk itu menoleh ke arah lain sekarang.

Ke arah warga yang terjebak di ujung alun-alun, jalur mereka tertutup oleh tubuh raksasa itu.

"TIDAK!" seseorang berteriak panik.

Monster itu mengulurkan tangannya.

Seorang pria tua tak sempat lari. Ia tertangkap.

"Tidak," ucap Elara seakan memohon.

Elara mencoba berdiri.

DEG!

Namun jantungnya kembali berdetak kencang. Nyeri menusuk dadanya.

Elara jatuh berlutut. Keringat dingin membasahi wajahnya. Ia menatap dengan horor ketika pria itu menjerit.

"TOLOOONG!"

Monster itu membuka mulutnya. Dan dalam sekejap menelan pria itu.

Jeritan terhenti.

Hening.

Lalu jeritan warga lainnya pecah.

Elara membelalak. Sesuatu di dalam dirinya pecah seketika.

"AAAAAAAAA!!!" Teriakan Elara menggema di seluruh alun-alun.

Dan pada detik itu dunia seperti terbelah.

Dari dalam dada Elara, bukan rasa sakit yang ia rasa. Melainkan ledakan.

Cahaya menyilaukan meletup dari tubuh Elara.

Gelombang kejut menghantam tanah.

Batu-batu terangkat.

Udara bergetar hebat.

Monster itu meraung kesakitan ketika cahaya putih keemasan menghantam tubuhnya. Retakan merah di kulitnya menyala semakin terang.

Elara berdiri di pusat pusaran energi itu. Rambut hitamnya terangkat oleh angin yang tak terlihat. Mata dan mulutnya terbuka lebar. Bercahaya dari dalam tubuh sang gadis.

Dan untuk sesaat Elara tidak merasakan sakit.

Hanya amarah dan kekosongan.

Hanya satu pikiran yang membakar seluruh kesadarannya;Tidak boleh ada yang mati di depanku.

Monster itu mengaum, langkahnya mundur.

Dan seluruh ibu kota menyaksikan, Putri Duke yang diskors dari akademi kini berlutut seperti dewi perang di tengah alun-alun yang hancur.

Dengan energi yang bahkan belum pernah ia pahami sepenuhnya. Yang justru akan menghancurkan tubuh gadis itu.

Sampai sebuah tebasan lurus dan bersih membelah monster besar itu dari belakang.

Sosok yang hadir menatap Elara penuh ketakutan bahwa ia terlambat.

\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

Note:

Anak-anak Duke dan Duchess yang lahir akan dipanggil Tuan Putri dan Pangeran (Princess And Prince). Karena kedudukan dan status Duke dan Duchess sama tingginya dengan Kaisar dan Permaisuri dalam sebuah kerajaan.

Terpopuler

Comments

ͩ☠ᵏᵋᶜᶟ⏤͟͟͞R•Dee 💕

ͩ☠ᵏᵋᶜᶟ⏤͟͟͞R•Dee 💕

kejadian terulang saat dia masih kecil.. dan yg waktu itu ditutup sama ksatria pemyihir terbuka nih kayaknya

2026-08-18

1

Wynne a.m

Wynne a.m

mohon maaf kak, status duke/duchess itu di bawah kaisar/permaisuri. jika ada grand duke/grand duchess, itu di atasnya duke/duchess biasa

2026-07-12

0

Wisnu Mahendra

Wisnu Mahendra

jaman kerajaan kok manggil papa mama? lebih pantas ayah ibu, atau ayahanda bunda

2026-05-07

0

lihat semua
Episodes
1 BAB 1. ANJING GILA
2 BAB 2. HUKUMAN
3 BAB 3. KEGAGALAN
4 BAB 4. MELAWAN MONSTER
5 BAB 5. SEGEL YANG RETAK
6 BAB 6. AMBANG KEMATIAN
7 BAB 7. PILIHAN
8 BAB 8. SIUMAN
9 BAB 9. HUKUMAN DAN HARGA DIRI
10 BAB 10. KEBERANGKATAN
11 BAB 11. KERAJAAN OBERYN
12 BAB 12. AKADEMI SIHIR OBERYN
13 BAB 13. TES KECIL
14 BAB 14. TAMPARAN ELARA
15 BAB 15. HUKUMAN DAN TEMAN
16 BAB 16. CEMBURU?
17 BAB 17. BELAJAR SIHIR
18 BAB 18. DUEL
19 BAB 19. MURKA
20 BAB 20. MINTA MAAF
21 BAB 21. SERANGAN
22 BAB 22. MELAWAN
23 BAB 23. BANTUAN
24 BAB 24. MIMPI BURUK
25 BAB 25. KETAKUTAN
26 BAB 26. SORAK SORAI
27 BAB 27. PEDANG UNTUK ELARA
28 BAB 28. ELARA JADI BOCAH?!
29 BAB 29. MENGGEMASKAN
30 BAB 30. SI CADEL ELARA
31 BAB 31. RAMAINYA RUMAH
32 BAB 32. ELARA KEMBALI BESAR
33 BAB 33. LUNARIS
34 BAB 34. LATIHAN
35 BAB 35. MIASMA
36 BAB 36. RENCANA SINGKAT
37 BAB 37. MIMPI DARI ZAMAN TERLUPAKAN
38 BAB 38. SIUMAN
39 BAB 39. MENCARI TAHU
40 BAB 40. TAKDIR ELARA?
41 BAB 41. PERASAAN
42 BAB 42. KEMBALI KE AKADEMI
43 BAB 43. TENTANG TITANIA
44 BAB 44. REUNI KELUARGA
45 BAB 45. OBROLAN PARA ORANG TUA
46 BAB 46. SOSOK WANITA ASING
47 BAB 47. PENGUMUMAN UJIAN
48 BAB 48. NIAT TAK JUJUR
49 BAB 49. GANJIL
50 BAB 50. KETAHUAN
51 BAB 51. SEDIKIT PENJELASAN
52 BAB 52. ILUSI YANG TERASA NYATA
53 BAB 53. PERTANYAAN PENTING
54 BAB 54. MARAH
55 BAB 55. HARI UJIAN KENAIKAN RANK
56 BAB 56. TAHAP PERTAMA UJIAN
57 BAB 57. UJIAN TAHAP KEDUA
58 BAB 58. BANTUAN
59 BAB 59. AARON VS ELARA
60 BAB 60. MENANG!
61 BAB 61. AKHIR JAMUAN
62 BAB 62. AMBANG PILIHAN
63 BAB 63. KEMATIAN
64 BAB 64. RESTORASI
65 BAB 65. ALASAN
66 BAB 66. ASGARD DAN HARMONIA
67 BAB 67. DUKA ASGARD DAN HARMONIA
68 BAB 68. KENANGAN
69 BAB 69. SAMA SEPERTI DULU
70 BAB 70. HILANGNYA SIHIR ELARA
71 BAB 71. PERASAAN YANG KURANG
72 BAB 72. LATIHAN DAN TERIAKAN
73 BAB 73. KERIBUTAN
74 BAB 74. TERTUDUH
75 BAB 75. DIADILI
76 BAB 76. KEPUTUSAN
77 BAB 77. LELAH
78 BAB 78. KENCAN DAN YANG TAK DIDUGA
79 BAB 79. BAHAYA DATANG
80 BAB 80. SOSOK BERJUBAH DAN WYVERN
81 BAB 81. BENDA ASING DI AKADEMI
82 BAB 82. MENYERANG
83 BAB 83. MUSUH SEBENARNYA
84 BAB 84. KESATRIA DAN PENYIHIR
85 BAB 85. SIHIR AARON
86 BAB 86. JEDA HENING
87 BAB 87. AMBANG PERANG
88 BAB 88. BERKUMPUL KEMBALI
89 BAB 89. DUEL RINGAN
90 BAB 90. PERANG DIMULAI
91 BAB 91. SEMANGAT YANG MEMUDAR
92 BAB 92. SEMANGAT YANG KEMBALI
93 BAB 93. PERLAWANAN YANG KUAT
94 BAB 94. SERANGAN TERAKHIR
95 BAB 95. RAMALAN JADI NYATA
96 BAB 96. TITANIA
97 BAB 97. BANTUAN
98 BAB 98. SEKUTU TERKUAT
99 BAB 99. PETARUNG VETERAN
100 BAB 100. PELAHAP DARI NERAKA
101 BAB 101. KEAJAIBAN DATANG
102 BAB 102. PERANG BELUM USAI
103 BAB 103. TERTELAN
104 BAB 104. HUKUMAN LANGIT
105 BAB 105. SELESAINYA PERANG
106 BAB 106. PAGI SETELAH PERANG
107 BAB 107. DUKA YANG TAK SEMBUH
108 BAB 108. KEMBALI KE AKADEMI
109 BAB 109. HARI KELULUSAN
110 BAB 110. PERMINTAAN AARON
111 BAB 111. MOMEN IBU DAN PUTRINYA
112 BAB 112. HARI PERNIKAHAN
113 BAB 113. IKRAR SUCI
114 BAB 114. MALAM PERTAMA
115 BAB 115. RUMAH YANG AKAN DIRINDUKAN
116 BAB 116. PAMIT
117 SIDE STORY 1. ELARA KECIL MENUJU OBERYN
118 SIDE STORY 2. SAMPAI DI OBERYN
119 SIDE STORY 3. SANG MAHA TAHU
120 SIDE STORY 4. ELARA MENGHILANG
121 SIDE STORY 5. ELARA TERSESAT
122 SIDE STORY 6. ELARA PULANG KE RUMAH
123 SUDE STORY 7. PULANG DAN KABAR BAIK
124 SIDE STORY 8. HARI YANG DITUNGGU
125 SIDE STORY 9. KEBAHAGIAAN
Episodes

Updated 125 Episodes

1
BAB 1. ANJING GILA
2
BAB 2. HUKUMAN
3
BAB 3. KEGAGALAN
4
BAB 4. MELAWAN MONSTER
5
BAB 5. SEGEL YANG RETAK
6
BAB 6. AMBANG KEMATIAN
7
BAB 7. PILIHAN
8
BAB 8. SIUMAN
9
BAB 9. HUKUMAN DAN HARGA DIRI
10
BAB 10. KEBERANGKATAN
11
BAB 11. KERAJAAN OBERYN
12
BAB 12. AKADEMI SIHIR OBERYN
13
BAB 13. TES KECIL
14
BAB 14. TAMPARAN ELARA
15
BAB 15. HUKUMAN DAN TEMAN
16
BAB 16. CEMBURU?
17
BAB 17. BELAJAR SIHIR
18
BAB 18. DUEL
19
BAB 19. MURKA
20
BAB 20. MINTA MAAF
21
BAB 21. SERANGAN
22
BAB 22. MELAWAN
23
BAB 23. BANTUAN
24
BAB 24. MIMPI BURUK
25
BAB 25. KETAKUTAN
26
BAB 26. SORAK SORAI
27
BAB 27. PEDANG UNTUK ELARA
28
BAB 28. ELARA JADI BOCAH?!
29
BAB 29. MENGGEMASKAN
30
BAB 30. SI CADEL ELARA
31
BAB 31. RAMAINYA RUMAH
32
BAB 32. ELARA KEMBALI BESAR
33
BAB 33. LUNARIS
34
BAB 34. LATIHAN
35
BAB 35. MIASMA
36
BAB 36. RENCANA SINGKAT
37
BAB 37. MIMPI DARI ZAMAN TERLUPAKAN
38
BAB 38. SIUMAN
39
BAB 39. MENCARI TAHU
40
BAB 40. TAKDIR ELARA?
41
BAB 41. PERASAAN
42
BAB 42. KEMBALI KE AKADEMI
43
BAB 43. TENTANG TITANIA
44
BAB 44. REUNI KELUARGA
45
BAB 45. OBROLAN PARA ORANG TUA
46
BAB 46. SOSOK WANITA ASING
47
BAB 47. PENGUMUMAN UJIAN
48
BAB 48. NIAT TAK JUJUR
49
BAB 49. GANJIL
50
BAB 50. KETAHUAN
51
BAB 51. SEDIKIT PENJELASAN
52
BAB 52. ILUSI YANG TERASA NYATA
53
BAB 53. PERTANYAAN PENTING
54
BAB 54. MARAH
55
BAB 55. HARI UJIAN KENAIKAN RANK
56
BAB 56. TAHAP PERTAMA UJIAN
57
BAB 57. UJIAN TAHAP KEDUA
58
BAB 58. BANTUAN
59
BAB 59. AARON VS ELARA
60
BAB 60. MENANG!
61
BAB 61. AKHIR JAMUAN
62
BAB 62. AMBANG PILIHAN
63
BAB 63. KEMATIAN
64
BAB 64. RESTORASI
65
BAB 65. ALASAN
66
BAB 66. ASGARD DAN HARMONIA
67
BAB 67. DUKA ASGARD DAN HARMONIA
68
BAB 68. KENANGAN
69
BAB 69. SAMA SEPERTI DULU
70
BAB 70. HILANGNYA SIHIR ELARA
71
BAB 71. PERASAAN YANG KURANG
72
BAB 72. LATIHAN DAN TERIAKAN
73
BAB 73. KERIBUTAN
74
BAB 74. TERTUDUH
75
BAB 75. DIADILI
76
BAB 76. KEPUTUSAN
77
BAB 77. LELAH
78
BAB 78. KENCAN DAN YANG TAK DIDUGA
79
BAB 79. BAHAYA DATANG
80
BAB 80. SOSOK BERJUBAH DAN WYVERN
81
BAB 81. BENDA ASING DI AKADEMI
82
BAB 82. MENYERANG
83
BAB 83. MUSUH SEBENARNYA
84
BAB 84. KESATRIA DAN PENYIHIR
85
BAB 85. SIHIR AARON
86
BAB 86. JEDA HENING
87
BAB 87. AMBANG PERANG
88
BAB 88. BERKUMPUL KEMBALI
89
BAB 89. DUEL RINGAN
90
BAB 90. PERANG DIMULAI
91
BAB 91. SEMANGAT YANG MEMUDAR
92
BAB 92. SEMANGAT YANG KEMBALI
93
BAB 93. PERLAWANAN YANG KUAT
94
BAB 94. SERANGAN TERAKHIR
95
BAB 95. RAMALAN JADI NYATA
96
BAB 96. TITANIA
97
BAB 97. BANTUAN
98
BAB 98. SEKUTU TERKUAT
99
BAB 99. PETARUNG VETERAN
100
BAB 100. PELAHAP DARI NERAKA
101
BAB 101. KEAJAIBAN DATANG
102
BAB 102. PERANG BELUM USAI
103
BAB 103. TERTELAN
104
BAB 104. HUKUMAN LANGIT
105
BAB 105. SELESAINYA PERANG
106
BAB 106. PAGI SETELAH PERANG
107
BAB 107. DUKA YANG TAK SEMBUH
108
BAB 108. KEMBALI KE AKADEMI
109
BAB 109. HARI KELULUSAN
110
BAB 110. PERMINTAAN AARON
111
BAB 111. MOMEN IBU DAN PUTRINYA
112
BAB 112. HARI PERNIKAHAN
113
BAB 113. IKRAR SUCI
114
BAB 114. MALAM PERTAMA
115
BAB 115. RUMAH YANG AKAN DIRINDUKAN
116
BAB 116. PAMIT
117
SIDE STORY 1. ELARA KECIL MENUJU OBERYN
118
SIDE STORY 2. SAMPAI DI OBERYN
119
SIDE STORY 3. SANG MAHA TAHU
120
SIDE STORY 4. ELARA MENGHILANG
121
SIDE STORY 5. ELARA TERSESAT
122
SIDE STORY 6. ELARA PULANG KE RUMAH
123
SUDE STORY 7. PULANG DAN KABAR BAIK
124
SIDE STORY 8. HARI YANG DITUNGGU
125
SIDE STORY 9. KEBAHAGIAAN

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!