Tara

Hari ini tidak terlalu banyak kegiatan,dan sekarang kami di perbolehkan istirahat di kantin sampai bel pulang berbunyi.

   Aku berkenalan dengan beberapa anak cewek yang menjadi anggota kelompokku kemarin, kami cukup akrab dan mereka sangat menyenangkan di ajak ngobrol.

   "Kita duduk disini aja."

Saat ini Aku sedang mencari tempat duduk di kantin bersama Salma,Adit dan juga Dika, syukurlah masih ada bangku dan kursi yang kosong sehingga bisa kami duduki.

    "Biar gue yang pesan, kalian mau apa."

Adit menawarkan diri untuk memesankan kami semua makanan, dan kami dengan senang hati langsung melihat buku menu dan menyebut pesanan masing masing.

   Adit menulis pesanan kami pada ponselnya, setelah itu barulah dia melangkah pergi menuju kasir untuk memesan makanan.

   "Sal, nanti kita main lagi ya." Aku menatap Salma yang sedang sibuk ber selfie dengan berbagai macam gaya, maklum anak muda haha.

   Salma yang mendengar perkataanku menurunkan ponselnya dan menoleh ke arahku.

"Tapi gue hari ini ada janji jalan sama Adit hehe." Salma nyengir ke arahku sehingga menampakkan deretan giginya sambil mengangkat tangannya sebagai isyarat maaf.

   "Ouhhh,,, ya udah deh, entar gue ajak Ayah aja." Ucapku akhirnya, Aku tidak ingin mengganggu agenda kedua sejoli itu.

   "Jalan sama gue aja Ra."

Tiba tiba Dika yang sejak tadi diam sambil bermain ponsel nyeletuk sehingga membuat Aku dan Salma menoleh ke arahnya.

   "Lo mau ngajak gue jalan?" Aku menatap Dika sambil menunjuk wajahku sendiri.

   "Iya, kebetulan gue punya dua tiket nonton, tadinya mau nonton sama adek gue,tapi tadi dia bilang mau keluar sama temannya." Dika menjelaskan alasannya mengajakku keluar,dan ya tentu saja aku tidak akan menolak kesempatan yang datang.

   Selama ayah di luar kota, Aku seperti burung yang terkurung di dalam sangkar, dan sekarang datang kesempatan untuk aku bebas selama beberapa waktu sebelum nanti kembali lagi seperti semula, so Aku akan menikmati waktu ini sebaik mungkin.

   "Oke deh, demen gue kalau dapat geratisan hehe." Aku mengacungkan jempolku sambil tertawa kesenengan, kapan lagi di teraktir nonton sama Dika.

   Setelah itu, kami kembali berbincang dengan topik yang berbeda, dan tidak lama Adit kembali dari kasir, tapi kali ini dia tidak sendiri.

   Adit terlihat berjalan bersama seorang laki laki yang begitu Aku kenal, seketika dadaku berdetak kencang seiring dengan langkah mereka yang semakin mendekat.

    "Aduhh wajah gue masih fresh gak ya?, jangan sampai kelihatan butek di depan crush gue."

 Aku memperbaiki sedikit rambutku yang sedikit berantakan dan segera mengambil tisu untuk mengelap sedikit keringat di wajahku.

   Dika tidak memperhatikan tingkahku Karena dia Fokus ke arah Adit yang sudah berjarak beberapa centi dari meja kami, sedangkan Salma kini malah sedang menatapku dengan mata memincing.

   "Ngapain lu tiba tiba memperbaiki penampilan kayak gitu." Salma bertanya dengan mata memincing tajam ke arahku.

   Aku yang di tanya sedikit salah tingkah, Aku belum siap memberitahu Salma tentang perasaanku yang tiba tiba muncul kepada kak Andre, Aku mau memastikan dulu bahwa ini memang tertarik karena cinta atau hanya sekedar tertarik mata saja.

    "Ahh enggak kok, gue cuma merasa sedikit gerah aja makannya gue lap wajah juga." Aku berkilah dengan begitu yakin, semoga saja Salma tidak curiga.

    "Ohhh." Ucap Salma sambil mengangguk tanda mengerti.

  Dalam hati, Aku bernapas dengan lega , setidaknya untuk saat ini tidak ada yang boleh tahu dulu tentang kegelisahan hatiku setiap kali memikirkan kak Andre.

    "Hay bang."

 Dika berdiri dan langsung menyapa kak Andre begitu mereka berdua sampai di tempat kami duduk.

    "Hy Dik."

 Kak Andre menyambut tangan Dika yang terulur sambil tersenyum kecil, saking kecilnya, senyum itu tidak akan terlihat jika hanya di lihat sekilas.

   "Ohh ya bang, ini Salma dan Tara."

Kak Andre menoleh ke arah kami berdua begitu Adit memperkenalkan nama kami, tatapannya mungkin biasa aja ya, namun karena matanya memang tajam jadilah Aku dan Salma merasa kikuk.

   "Hay, kak." Aku dan Salma melambaikan tangan ke arah kak Andre dengan senyum kikuk. Mata tajamnya benar benar terlihat menakutkan padahal dia memakai kacamata.

   "Hy, salam kenal."

Kak Andre membalas sapaan kami sambil mengangguk kecil, nada bicaranya begitu datar, sedatar wajahnya yang kayak papan triplek, untung ganteng hehehe.

     Setelah itu, kami semua akhirnya duduk karena kebetulan makanan dan minuman kami juga sudah datang.

   Aku makan sambil sesekali mencuri pandang ke arah kak Andre, dalam hati aku merutuki perkataanku tempo hari yang mengatakan akan mudah mendekati kak Andre.

   Kalau sifatnya kaku kayak gini gimana cara deketinnya ya Tuhan, Aku mengehala napas lesu mencoba memikirkan cara menggaet hati ketos tampan ini.

   Di saat Aku sedang mencuri pandang ke arah kak Andre, tanpa sengaja aku melihat dia tersenyum sambil memainkan ponselnya.

   "Uhukk...uhukkk...uhukkk."

  Senyum lebarnya ternyata sangat berbahaya untuk jantungku karena menambah seribu persen kadar kegantengannya sehingga sekarang aku tersedak karena makananku tiba tiba terasa masuk ke dalam hidungku.

   "Ehh Ra hati hati astaga."

  Salma yang tadinya sibuk berbicara dengan Adit kini langsung menoleh dengan panik dan menepuk nepuk tengkukku dengan lembut.

   "Minum."

Sebotol air mineral yang sudah terbuka terulur di depan wajahku, Aku mendongak menatap wajah kak Andre pelaku yang sekarang sedang mengulurkan botol air itu.

   Dengan tangan sedikit gemetar Aku segera menerima botol itu dan segera meminumnya hingga tenggorokanku merasa lega.

   " Terima kasih kak." Aku menunduk sebagai isyarat terima kasih ke arah kak Andre yang hanya mengangguk tanpa mau bicara lagi.

    "Gimana?, udah baikan." Salma menatapku dengan raut wajah khawatir.

   "Udah gak papa Sal, hidung gue aja yang masih sedikit perih." Aku tersenyum agar Salma tidak khawatir lagi, setidaknya tenggorokanku sudah tidak sakit walaupun hidungku sedikit perih karena makananku agak pedes.

   "Coba lu mendengus agar hidung lu segera membaik." Dika memberikan saran untuk meredakan rasa perih pada hidungku.

   "Nih pakai tisu." Adit mengeluarkan beberapa lembar tisu dari tempatnya dan menberikannya kepadaku.

   Aku segera melakukan saran Dika sambil sedikit memberikan pijatan pada area hidungku, syukurlah cara itu manjur dan setelahnya keadaan kembali normal.

    Kami kembali melanjutkan makan, Aku kembali melirik kak Andre diam diam, namun sekarang dia sudah tidak senyum senyum lagi seperti tadi, wajahnya sekarang kembali datar.

    "Tadi dia senyum kenapa ya?, apa dia sedang membalas chat pacarnya ya?"

  Moodku seketika ambyar karena membayangkan kalau kak Andre sekarang sedang menjalin hubungan dengan seorang perempuan.

   Kalau benar begitu Aku tidak akan bisa berusaha lagi, karena tentu saja Aku tidak ingin merebut pacar orang lain.

Terpopuler

Comments

Sarifah_Aini97

Sarifah_Aini97

Tara ini apasih maksudnya??? bertanya dengan kekepoanku yang meronta-ronta 🤭

2026-08-03

0

Sarifah_Aini97

Sarifah_Aini97

Boleh tambahkan koma sebelum nama panggilan di dialog: "Jalan sama gue aja, Ra."

2026-08-03

0

MULIANA 💦

MULIANA 💦

usaha aja dulu tara, masalah hasil serahkan sama yg di atas /Facepalm/ jalur langit juga bisa di tempoh loh 🤭

2026-05-05

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!