Bel pulang akhirnya berbunyi tepat pukul dua belas siang, Aku segera menghubungi Ayah untuk menjemputku setelah berpamitan pada Salma yang kini sudah pulang lebih dulu bersama Adit.
Saat ini aku hanya sendirian menunggu di depan gerbang, Dika tadi sebenarnya sudah sempat menawarkan diri untuk mengantarku pulang, tapi aku menolak karena ingin di jemput oleh Ayah secara langsung.
Beberapa menit menunggu, Ayah akhirnya datang, Aku tersenyum lebar begitu melihat mobil Ayah mendekat, namun senyumku langsung luntur begitu melihat di kursi belakang sudah ada Zahra yang duduk manis sambil diam diam tersenyum miring ke arahku.
"Maaf sayang kamu lama menunggu, tadi Ayah jemput adik kamu dulu yang sekolahnya lebih dekat dari rumah."
Ayah langsung turun dari mobil dengan wajah merasa bersalah dan langsung meminta maaf karena sudah membuatku menunggu lama. Aku rasanya ingin sekali marah dan mengatakan pada Ayah, bahwa aku muak dengan keberadaan Zahra maupun Helena, tapi semuanya harus Aku tahan demi kebahagiaan Ayah.
"Tidak papa Yah, ayo pulang, Tara capek." Aku memaksakan bibirku untuk tersenyum agar Ayah tidak lagi merasa bersalah.
Ayah terlihat tersenyum lega melihat Aku tidak marah, beliau dengan lembut mengelus puncak kepalaku sambil berkata. "Ya udah ayo pulang, kamu duduk di depan ya."
Aku mengangguk antusias, yang aku suka dari Ayah, beliau dari dulu selalu lebih mengutamakan aku daripada Zahra, walaupun kadang di mata orang orang kasih sayang Ayah setara antara ke Aku dan Zahra, namun aku sediri yang merasakan perbedaan sikap Ayah.
Beberapa menit dalam perjalanan, kini kami akhirnya sampai di rumah, Aku segera masuk untik membersihkan badan sebelum makan siang dan menunggu Dika datang untuk menjemputku.
Aku segera naik ke lantai dua setelah berpamitan pada ayah yang berdiam diri di ruang keluarga.
Aku berjalan tanpa melihat ke belakang sehingga Aku tidak tahu, entah sejak kapan Zahra berada di belakang tubuhku.
"Senengkan lo bisa bersantai santai selama seminggu ke depan."
Aku dengan cepat menoleh ke belakang begitu mendengar suara dengan nada ketus menyapa indra pendengaranku.
Aku menatap Zahra dengan wajah malas. "Terus, emang kenapa kalau gue bersantai?, masalah buat lo." Ucapku sambil bersedekap dada.
Wajah Zahra terlihat memerah karena geram mendengar perkataanku. "Awas aja lo nanti." Ucap Zahra dengan geram, bahkan kini telunjuknya tepat berada di depan wajahku.
Aku langsung menangkap jari telunjuk Zahra dan memelintirnya sehingga membuatnya meringis kesakitan.
"Lepasin tangan gue bangsat." Zahra meronta mencoba melepaskan jarinya dari genggamanku.
Dengan sekuat tenaga, Aku menahan tanganku yang menggenggam jari Zahra, Aku menatap Zahra dengan tajam dan berkata. " Jangan lo pikir gue takut sama lo dan ibu lo itu, selama ini gue diam hanya karena tidak ingin membuat keributan."
Aku menjeda ucapanku untuk sekedar menghela napas. " Lo dan ibu lo itu sama sama benalu yang gak tau diri, udah di pungut tapi tetap aja kelakuan kalian kayak sampah." Aku kembali melanjutkan ucapanku dan dengan kasar mendorong tubuh Zahra hingga terjatuh di lantai.
Setelah itu, Aku langsung kembali melanjutkan langkah menuju kamarku tanpa memperdulikan Zahra yang saat ini sedang meringis kesakitan.
Tepat pukul dua siang, Dika akhirnya datang dan meminta izin untuk mengajakku keluar kepada Ayah.
Dika mengajakku ke sebuah mall yang cukup besar, dan kami langsung menuju bioskop begitu sampai di sana.
Ternyata genre yang di pilih Dika romance sehingga sepanjang nonton Aku terus saja baper dan setiap aku baper Aku refleks memukul tangan Dika sehingga membuatnya merenggut kesal.
"Baper baper aja, gak usah sambil mukul kali... dasar betina." Dika menggerutu kesal dan Aku tidak peduli, Aku hanya butuh sesuatu untuk melampiaskan rasa baperku karena adengan adengan manis dalam drama yang kami tonton.
Kami menghabiskan waktu selama dua jam untuk menonton drama, dan kini kami sudah keluar dari bioskop dan sedang mencari restoran ramen yang lagi viral.
Awalnya Aku tidak berniat untuk makan di mall, namun karena insiden Aku mendorong Zahra dan sudah pasti dia mengadu kepada si lampir Helena, jadilah sepanjang makan siang, Aku terus di tatap tajam oleh kedua orang itu tanpa sepengetahuan Ayah.
Karena terus di tatap tajam Aku jadi tidak nyaman dan yaa jadilah Aku cuma makan sedikit aja, karena itulah sekarang aku sudah Kembali lapar.
"Lo mau pesan level berapa." Dika menatapku yang sedang melihat lihat buku menu.
"Gue mau level 50." Jawabku dengan semangat.
Dika tampak melotot mendengar perkataanku, dengan cepat dia menggeleng dengan keras. "Gak usah aneh aneh lo ya, bisa koid gue di tangan ayah lo kalau lo kenapa napa abis jalan sama gue." Dika mendengus kesal setelah menyelesaikan kalimatnya.
Sedangkan Aku cemberut karena tidak di izinkan mencoba level 50. "Ya udah level 10 aja, sama tambahin toping telur setengah matang sama ayam." Ucapku dengan tidak ikhlas.
Dika akhirnya setuju, pelayan restoran yang melayani kami segera mencatat semua pesanan kami, setelah itu dia segera berlalu meninggalkan kami berdua.
Aku dan Dika membicarakan tentang sekolah baru kami sambil menunggu makanan datang, sesekali Dika juga melontarkan candaan yang membuat Aku tertawa.
Sedang asyik bercanda, tiba tiba seseorang yang tidak aku harapkan kehadirannya terdengar menyapa Dika.
"Hy Dik, lagi ngedate lo." Ucap orang itu yang saat ini tepat berada di belakangku.
Dika yang di sapa segera menoleh dan tersenyum ke arah orang itu. " Hy bang, lagi ngapain lo disini." Ucap Dika membalas sapaan orang itu.
"Gue tadi ada kerjaan sama teman disini, dan sekarang mau makan dulu."
Aku tidak berani menoleh ke belakang, takut banget riasan wajahku sudah tidak bagus lagi, huwaa kenapa sih harus ketemu sekarang.
"Ya udah duduk disini aja bang."
Ohh god.. Dika malah mengajaknya duduk bersama, pada akhirnya aku hanya bisa pasrah karena dia tidak menolak dan sekarang sudah duduk di sampingku dan Dika.
"Ohh, ini murid baru teman Salma itu ya."
Aku hanya tersenyum canggung mendengar pertanyaan kak Andre sambil yang saat ini sedang menatapku. Iya kalian tidak salah baca, orang itu emang kak Andre.
"Iya bang, namanya Tara kalau lo lupa." Ucap Dika kembali memperkenalkan namaku kepada kak Andre.
"Iya, sorry gue agak lupa karena kita baru dua kali bertemu." Kak Andre menatapku dengan wajah datarnya.
"Iya kak, gak papa." Ucapku dengan gugup.
"Kalian pacaran ya."
Kali ini kak Andre menatap Dika dengan tatapan penuh tanya.
Dika yang di tanya terkekeh kecil. " Enggak bang, Tara hanya teman aja, gue ajak jalan biar gak ngenes aja gue jalan sendiri hehe."
Aku mendengus mendengar perkataan Dika, kurang ajar ternyata dia hanya memanfaatkanku saja supaya tidak terlihat menyedihkan.
Tapi tidak papa, asal semua di bayarin Aku suka di manfaatkan hehe, bercanda guys, ini berlaku buat Dika saja, untung untung nanti bisa jalan sama kak Andre hehehe.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments
Three Flowers
nah, ini yang paling ditakutkan, merusak pasaran karena dikira udah pacaran 😅
2026-05-09
0
PrettyDuck
gpp nemenin jalan doang tapi ditraktir
gak rugi. anggep2 aja hangout sama temen kaya.
2026-05-01
1
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ☕︎⃝❥☠️⃝♛ ⃟$R☪︎⃟⃝𝐇𝐅࿐
betul.... seorang sampah GK seharus nya tinggal di rumah mewah lebih. aik di rongsokan saja🗿
2026-03-31
0