Bab 2: Tetesan Kelangsungan Hidup

Di dalam keheningan kamar batu yang membeku, waktu seolah berhenti berdetak. Genevieve menatap lurus ke arah cangkir keramik yang mengepulkan uap tipis di atas meja nakas.

Pendar biru dari panel Sistem masih melayang teguh di sudut pandangannya, menampilkan hitung mundur waktu yang perlahan menyusut. Tiga belas jam, lima puluh delapan menit tersisa sebelum tubuh ini menyerah pada akumulasi racun dan kelaparan.

Kepanikan adalah reaksi alami manusia saat dihadapkan pada kematian, namun bagi jiwa yang kini mendiami tubuh Lady Genevieve, kepanikan adalah kemewahan yang tidak bisa ia beli.

Di kehidupan sebelumnya, ia telah terlatih untuk selalu mencari jalan keluar dari situasi yang paling mencekik sekalipun. Ia menarik napas panjang, membiarkan udara sedingin es mengisi paru-parunya yang ringkih, lalu menghembuskannya perlahan. Pikirannya, yang tajam dan taktis, mulai membedah situasi dengan presisi seorang pembedah.

*Jika aku tidak meminumnya, Martha akan tahu bahwa aku mencurigainya,* batin Genevieve. Matanya menyapu sekeliling ruangan dengan gerakan bola mata yang terukur, tidak ingin membuang sedikit pun sisa kalori dengan menggerakkan lehernya tanpa perlu. *Jika aku membuangnya ke perapian, sisa cairan itu akan mendesis dan menimbulkan bau herbal yang hangus. Membuangnya ke luar jendela juga bukan pilihan; noda cokelat kehitaman dari teh ini akan sangat kontras di atas tumpukan salju abadi di bawah sana, dan para penjaga yang berpatroli pasti akan melihatnya.*

Genevieve menolak untuk mengambil tindakan gegabah. Ia membutuhkan solusi yang tidak hanya menyelamatkan nyawanya pagi ini, tetapi juga memberikannya keunggulan taktis untuk langkah selanjutnya.

Matanya akhirnya tertuju pada meja rias kayu ek yang berdebu di sudut ruangan. Di atasnya, berserakan beberapa botol kaca kecil—bekas tempat parfum murahan dan botol-botol obat lama milik Genevieve yang asli.

Dengan susah payah, ia menyibakkan selimut tebal yang kasar itu. Udara dingin Kastil Ravenscroft langsung menerkam kulitnya yang hanya dibalut gaun tidur linen tipis, membuatnya menggigil hebat hingga giginya bergemeretak.

Mengabaikan protes dari otot-ototnya yang melemah, ia memaksakan diri untuk turun dari ranjang. Telapak kakinya yang pucat menyentuh lantai batu, mengirimkan sensasi beku yang menjalar langsung ke sumsum tulang belakangnya.

Genevieve melangkah tertatih-tatih, bertumpu pada tiang ranjang, lalu pada punggung kursi kayu, hingga akhirnya ia mencapai meja rias. Tangannya yang gemetar meraih sebuah botol kaca gelap berukuran kecil yang sudah kosong. Ia membuka sumbat gabusnya dengan jemari yang kaku, lalu mengendusnya.

Bau apek obat batuk tua menyengat hidungnya. Sempurna. Kaca gelap ini akan menyembunyikan warna cairan apa pun yang ada di dalamnya.

Ia berjalan kembali ke meja nakas dengan botol kosong itu di tangan kirinya. Kini datang bagian tersulitnya. Ia harus memindahkan teh beracun itu tanpa meneteskannya sedikit pun ke atas meja atau lantai.

Genevieve menutup matanya sejenak, mengumpulkan seluruh fokus dan konsentrasinya. Saat matanya terbuka, kilatan kelemahan dari tubuh itu menghilang, digantikan oleh ketajaman yang membara.

Dengan kedua tangan yang saling menopang untuk mengurangi gemetar, ia mengangkat cangkir keramik itu. Secara perlahan, sangat perlahan, ia menuangkan teh herbal tersebut ke dalam mulut botol kaca kecil. Suara gemericik pelan terdengar, nyaris tenggelam oleh deru angin musim dingin di luar jendela.

Setetes demi setetes, cairan mematikan itu berpindah tempat. Genevieve tidak menghabiskan semuanya. Ia menyisakan sekitar dua tegukan di dasar cangkir.

Dengan hati-hati, ia menutup rapat botol kaca berisi racun itu dan menyembunyikannya ke dalam saku dalam gaun tidurnya. Racun ini bukan lagi ancaman; di tangannya yang cerdas, cairan ini kini berubah menjadi barang bukti, dan mungkin, sebuah senjata mematikan untuk masa depan.

Untuk menyempurnakan ilusinya, Genevieve menyelupkan ujung jari telunjuknya ke dalam sisa teh di cangkir, lalu mengoleskannya dengan rapi di sepanjang tepi bibir cangkir.

Siapa pun yang melihat cangkir ini nanti akan menyimpulkan dengan pasti bahwa seseorang telah meminum isinya langsung dari pinggiran keramik tersebut.

Setelah memastikan tidak ada satu tetes pun yang tumpah, ia kembali menatap panel biru di depannya.

"Sistem," bisik Genevieve parau, suaranya nyaris seperti desiran angin. "Pindai bubur ini."

Panel biru itu berkedip sesaat, dan rentetan teks perak baru muncul menggantikan peringatan bahaya sebelumnya.

**[Pemindaian Objek: Bubur Gandum Encer.]**

**[Kandungan Toksin: Negatif. Objek aman untuk dikonsumsi.]**

**[Nilai Nutrisi: Sangat Rendah. Diperkirakan hanya memberikan perpanjangan waktu bertahan hidup selama 2 jam.]**

Genevieve tersenyum getir melihat tulisan itu. Pelayan bernama Martha itu cukup pintar. Sang dalang di balik semua ini tidak menaruh racun di dalam makanan, melainkan di dalam teh yang disamarkan sebagai 'obat' untuk batuknya.

Menaruh racun di makanan terlalu berisiko karena makanan memiliki tekstur dan rasa yang lebih mudah dicurigai, sedangkan teh herbal yang pahit adalah medium yang sempurna untuk menutupi rasa aneh dari akar Silvershade.

Tanpa membuang waktu, Genevieve meraih mangkuk kayu berisi bubur yang sudah sedingin es itu. Bentuknya lebih menyerupai air cucian beras yang dicampur dengan segenggam gandum kasar. Tidak ada garam, tidak ada rasa. Namun, bagi Genevieve saat ini, ini adalah bahan bakar untuk otaknya.

Ia mengambil sendok kayu dan mulai menyuapkan bubur hambar itu ke dalam mulutnya. Tenggorokannya yang meradang memberontak, menolak tekstur kasar yang menggores dinding kerongkongannya. Rasa mual seketika menyergap perutnya yang sudah lama menyusut. Ia memejamkan mata, memaksakan rahangnya untuk mengunyah, dan menelan paksa makanan itu.

Setiap suapan adalah pertempuran melawan kelemahan fisiknya sendiri. Ia mengulanginya lagi, dan lagi, mengabaikan air mata fisiologis yang menggenang di sudut matanya akibat rasa sakit saat menelan. Ia tidak makan untuk menikmati; ia makan murni untuk bertahan hidup.

Setelah mangkuk itu bersih tak bersisa, Genevieve segera meletakkannya kembali di atas nampan.

Tubuhnya terasa sedikit lebih hangat, meski tenaganya masih sangat terbatas. Ia berjalan tertatih kembali ke ranjang, menarik selimut kasar itu hingga menutupi tubuhnya, dan menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang.

Ia melirik ke arah cermin kusam di seberang ruangan. Pantulan seorang wanita muda dengan wajah sepucat mayat balas menatapnya.

Tulang pipinya menonjol tajam di bawah kulit yang kehilangan cahayanya, dan lingkaran hitam yang dalam menghiasi sepasang mata biru kristal yang indah namun merana. Genevieve yang asli telah menyerah pada dunia yang menolak kehadirannya.

Namun, mata biru di cermin itu kini memancarkan aura yang sama sekali berbeda. Tidak ada lagi keputusasaan di sana. Yang ada hanyalah perhitungan yang dingin, sebuah kalkulasi rasional dari seorang predator yang sedang menunggu mangsanya lengah.

Suaminya yang kejam, Duke Alistair, mungkin telah membuangnya ke ujung dunia. Para pelayannya mungkin berpikir mereka bisa mencabut nyawanya seperti mencabut rumput liar. Mereka semua salah besar. Mereka telah membunuh seorang wanita yang hancur, namun tanpa sengaja mengundang masuk seorang penyintas yang tidak kenal ampun.

**[Misi Tutorial Selesai: Menetralisir ancaman teh beracun tanpa menimbulkan kecurigaan.]**

**[Hadiah Misi: +10 Poin Energi Vital, +1 Pemetaan Ruang Dasar (Radius 5 meter).]**

**[Waktu Bertahan Hidup Diperbarui: 14 Jam.]**

Sebuah gelombang hangat tiba-tiba mengalir dari dadanya, menyebar ke seluruh pembuluh darahnya seperti aliran listrik statis yang lembut. Rasa pusing yang sedari tadi meremukkan kepalanya sedikit mereda, dan napasnya terasa jauh lebih panjang.

Genevieve mengepalkan tangannya di balik selimut. Sepuluh poin energi ini mungkin tidak banyak, tetapi cukup baginya untuk tidak pingsan saat berdiri.

Suara langkah kaki yang diseret kembali terdengar bergema dari lorong di luar pintu.

Genevieve segera bereaksi. Ia merosotkan tubuhnya ke bawah selimut, memiringkan kepalanya ke samping menghadap meja nakas, dan mengatur napasnya menjadi pendek dan serak, seolah ia sedang berada di ambang ketidaksadaran.

Ia membiarkan matanya setengah terpejam, menciptakan ilusi sempurna seorang wanita pesakitan yang nyaris kehilangan pijakannya pada kehidupan.

Pintu ek itu berderit terbuka, kali ini tanpa ketukan sama sekali.

Martha melangkah masuk. Hawa dingin dari lorong ikut menerobos masuk bersama kehadirannya.

Pelayan itu berjalan langsung menuju meja di samping ranjang. Melalui celah bulu matanya, Genevieve mengawasi setiap pergerakan sekecil apa pun dari wanita itu.

Mata Martha langsung tertuju pada cangkir keramik. Saat melihat cangkir itu hampir kosong, dengan sisa tetesan yang sengaja ditinggalkan

Genevieve di dasar dan tepiannya, sudut bibir Martha berkedut membentuk sebuah senyum tipis yang sarat akan kekejaman yang murni. Itu adalah senyuman seseorang yang merasa misinya telah berhasil. Senyuman seorang algojo yang melihat korbannya masuk ke dalam jerat tali.

"Nyonya?" panggil Martha. Suaranya tidak lagi datar, melainkan sengaja dipelankan, mencoba mencari tahu apakah majikannya masih memiliki kesadaran.

Genevieve mengerang pelan, suara seraknya terdengar sangat rapuh dan menyedihkan. Ia sengaja menggeser kepalanya sedikit, menampakkan wajahnya yang pucat pasi seolah sedang menahan rasa sakit yang luar biasa di dadanya.

Kepuasan di wajah Martha semakin terlihat jelas. Tanpa mengatakan apa-apa lagi, pelayan itu meraih nampan kayu tersebut, mengambil cangkir dan mangkuk kosong itu dengan cepat, dan berbalik pergi.

Langkah kakinya terdengar jauh lebih ringan dan bersemangat dibandingkan saat ia masuk tadi pagi.

Pintu ditutup dengan suara debuman keras, meninggalkan Genevieve kembali dalam kesunyian yang dingin.

Begitu suara langkah Martha menghilang, Genevieve membuka matanya sepenuhnya. Ilusi kelemahan itu menguap seketika dari tatapannya. Ia telah berhasil melewati rintangan pertama.

Martha yakin bahwa racun itu telah masuk ke dalam tubuhnya, yang berarti mereka tidak akan mengirim pembunuh atau metode lain setidaknya sampai besok pagi, menunggu racun itu bereaksi.

Ia telah mengamankan waktu empat belas jam. Malam ini, saat kastil ini tertidur, ia tidak akan berdiam diri menanti maut di ranjang ini.

Ia akan memburu rahasia yang disembunyikan oleh dinding-dinding batu Ravenscroft, dan mencari tahu siapa sebenarnya yang menginginkan nyawanya—sekaligus mencari makanan sungguhan yang bisa memperpanjang waktunya di dunia ini.

Permainan bertahan hidup baru saja dimulai.

Terpopuler

Comments

Heni Setiyaningsih

Heni Setiyaningsih

penasaran

2026-05-07

0

Memyr 67

Memyr 67

𝗆𝖾𝗇𝖺𝗋𝗂𝗄

2026-03-13

18

Wahyuningsih

Wahyuningsih

thor buat suaminya menyesal d buat segan matipun tk mau biar nyakho dia n buat bbadaz abuz biar mkin keren

2026-03-13

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Fajar di Kastil Ravenscroft
2 Bab 2: Tetesan Kelangsungan Hidup
3 Bab 3: Bayang-Bayang Ravenscroft
4 BAB 4
5 Bab 5: Tirai Fajar yang Membeku
6 BAB 6
7 Bab 7: Kontrak Darah dan Silvershade
8 BAB 8
9 Bab 9: Perjamuan di Bawah Bayang-Bayang Kematian
10 BAB 10
11 Bab 11 : Perangkap di Ujung Jarum
12 bab 12
13 Bab 13: Tuan Atas Nyawa dan Kematian
14 Bab 14: Perjalanan Menuju Dasar Jurang Hitam
15 Bab 15: Predator di Dasar Neraka Putih
16 bab 16
17 Bab 17: Fajar Berdarah di Perut Bumi
18 Bab 18: Reruntuhan yang Terlupakan di Sungai Umbra
19 bab 19
20 Bab 20: Pemangsa di Balik Kabut Belerang
21 bab 21
22 Bab 22 Gema dari Peradaban yang Tenggelam
23 Bab 23
24 Bab 24 Suaka yang Terlupakan Waktu
25 Bab 25
26 Bab 26 Bisikan dari Balik Tirai Tidur
27 Bab 27
28 Bab 28 Perjanjian di Atas Altar Pengkhianatan
29 Bab 29
30 Bab 30 Cetak Biru Sang Predator
31 Jeritan Besi yang Patah
32 Terlempar ke Dalam Distrik Karat
33 Kota Tanpa Matahari
34 Hukum Para Buangan
35 Ujian Pertama di Distrik Karat
36 Menyembunyikan Taring Malam
37 Penguasa Bayangan Pasar Gelap
38 Bab 38
39 Penyakit yang Menggerogoti Batu
40 Pion-Pion Bermata Kosong
41 Membeli Kesetiaan dengan Roti dan Darah
42 Pemberontakan di Sektor Bawah
43 Bayangan yang Menjahit Luka
44 bab 44
45 Menguji Benih Inti Kegelapan
46 bab 46
47 Utusan dari Permukaan
48 bab 48
49 Menangkap Burung Nazar
50 bab 50
51 Rahasia Tambang Obsidian
52 bab 52
53 Surat Palsu untuk Tuan Gideon
54 Faksi-Faksi yang Terbelah
55 bab 55
56 Menari di Atas Tali Kematian
57 bab 57
58 Ratu Tanpa Mahkota di Kota Bawah
59 bab 59
60 Bayangan di Kapel Tua
61 bab 61
62 Simfoni Kematian di Balik Kaca Patri
63 -
64 Teror Nyata di Lorong Sayap Timur
65 -
66 Tegukan Pahit di Bawah Bayang-Bayang Kematian
67 -
68 Simfoni Keputusasaan di Menara Utama
69 -
70 Keadilan Beku di Ujung Kematian
71 -
72 Mahakarya Darah dan Kesunyian Beku
73 -
74 Tirai Fajar di Atas Panggung Keputusasaan
75 -
76 Kesombongan yang Membeku di Bawah Fajar
77 -
78 Takhta Es dan Runtuhnya Kesombongan
79 -
80 Pertukaran Takdir di Atas Singgasana Kesunyian
81 -
82 Cawan Kebinasaan di Menara Barat
83 -
84 Surat Berdarah untuk Sang Duke
85 Mengepakkan Sayap Kematian ke Jantung Kemunafikan
86 -
87 -
88 -
89 Gema Keputusasaan di Gerbang Kematian
90 -
91 Labirin Kabut dan Gema Penyesalan
92 -
93 Rantai Keputusasaan di Dasar Ravenscroft
94 -
95 Tarian Ilusi di Dasar Keputusasaan
96 -
97 Kepakan Sayap Kematian di Dasar Ravenscroft
98 -
99 Ratapan Menggema di Ujung Lorong Kematian
100 Arus Keputusasaan di Lorong Kutukan
101 Labirin Gema Penyesalan yang Tak Berujung
102 -
103 Gema Ratapan di Dasar Aethelgard
104 -
105 Singgasana Debu dan Ilusi Keagungan
106 -
107 Jeruji Kutukan di Dasar Keputusasaan
108 -
109 Anak Tangga Menuju Kekosongan Abadi
110 -
111 Gema Kehancuran di Aula Utama
112 -
113 Mahkota Debu dan Gema Keputusasaan
114 -
115 Penjara Kaca dan Gema Penghakiman
116 -
117 Retakan Kewarasan di Balik Kaca Es
118 Belenggu Es dan Denyut Nadi Keputusasaan
119 -
120 Simfoni Kehancuran di Atas Lantai Pualam
121 -
122 Cawan Racun di Atas Meja Bayangan
123 -
124 Labirin Cermin dan Tarian Debu Kematian
125 -
126 Nyanyian Bisu di Balik Dinding Keputusasaan
127 -
128 Cengkeraman Es di Atas Pualam Hitam
129 -
130 Kunci Darah Sang Leluhur
131 -
132 Kebangkitan Ordo Naga
133 -
134 Surat Berdarah ke Ibukota
135 -
136 Pelarian di Tengah Badai
137 -
138 Hukuman Jenderal Pengkhianat
139 Rahasia Gereja Cahaya
140 -
141 Tarian Ilusi di Hutan Pinus
142 -
143 Runtuhnya Iman Sang Ksatria
144 Boneka Rusak Melangkah Pulang
145 Parade Menuju Aethelgard
146 Pesta Topeng yang Membeku
147 -
148 Hadiah dari Utara
149 Kebenaran yang Merobek Telinga
150 -
151 Pengadilan Darah di Ruang Tahta
152 -
153 Perlawanan Terakhir Uskup Agung
154 Runtuhnya Pilar Kesombongan
155 -
156 Perjamuan Darah di Aula Emas
157 Gema Rahasia dari Lorong Bawah Tanah
158 -
159 Gema Kehampaan di Alun-Alun Pualam
160 Gerhana Pembawa Sayap Kematian
161 Panji Putih di Bawah Langit Memar
162 Runtuhnya Cahaya di Lembah Keputusasaan
163 Runtuhnya Pilar-Pilar Langit
164 -
165 Malam Terakhir Dewa Palsu
166 -
167 Fajar Abadi di Bawah Naungan Sayap Bayangan
Episodes

Updated 167 Episodes

1
Bab 1: Fajar di Kastil Ravenscroft
2
Bab 2: Tetesan Kelangsungan Hidup
3
Bab 3: Bayang-Bayang Ravenscroft
4
BAB 4
5
Bab 5: Tirai Fajar yang Membeku
6
BAB 6
7
Bab 7: Kontrak Darah dan Silvershade
8
BAB 8
9
Bab 9: Perjamuan di Bawah Bayang-Bayang Kematian
10
BAB 10
11
Bab 11 : Perangkap di Ujung Jarum
12
bab 12
13
Bab 13: Tuan Atas Nyawa dan Kematian
14
Bab 14: Perjalanan Menuju Dasar Jurang Hitam
15
Bab 15: Predator di Dasar Neraka Putih
16
bab 16
17
Bab 17: Fajar Berdarah di Perut Bumi
18
Bab 18: Reruntuhan yang Terlupakan di Sungai Umbra
19
bab 19
20
Bab 20: Pemangsa di Balik Kabut Belerang
21
bab 21
22
Bab 22 Gema dari Peradaban yang Tenggelam
23
Bab 23
24
Bab 24 Suaka yang Terlupakan Waktu
25
Bab 25
26
Bab 26 Bisikan dari Balik Tirai Tidur
27
Bab 27
28
Bab 28 Perjanjian di Atas Altar Pengkhianatan
29
Bab 29
30
Bab 30 Cetak Biru Sang Predator
31
Jeritan Besi yang Patah
32
Terlempar ke Dalam Distrik Karat
33
Kota Tanpa Matahari
34
Hukum Para Buangan
35
Ujian Pertama di Distrik Karat
36
Menyembunyikan Taring Malam
37
Penguasa Bayangan Pasar Gelap
38
Bab 38
39
Penyakit yang Menggerogoti Batu
40
Pion-Pion Bermata Kosong
41
Membeli Kesetiaan dengan Roti dan Darah
42
Pemberontakan di Sektor Bawah
43
Bayangan yang Menjahit Luka
44
bab 44
45
Menguji Benih Inti Kegelapan
46
bab 46
47
Utusan dari Permukaan
48
bab 48
49
Menangkap Burung Nazar
50
bab 50
51
Rahasia Tambang Obsidian
52
bab 52
53
Surat Palsu untuk Tuan Gideon
54
Faksi-Faksi yang Terbelah
55
bab 55
56
Menari di Atas Tali Kematian
57
bab 57
58
Ratu Tanpa Mahkota di Kota Bawah
59
bab 59
60
Bayangan di Kapel Tua
61
bab 61
62
Simfoni Kematian di Balik Kaca Patri
63
-
64
Teror Nyata di Lorong Sayap Timur
65
-
66
Tegukan Pahit di Bawah Bayang-Bayang Kematian
67
-
68
Simfoni Keputusasaan di Menara Utama
69
-
70
Keadilan Beku di Ujung Kematian
71
-
72
Mahakarya Darah dan Kesunyian Beku
73
-
74
Tirai Fajar di Atas Panggung Keputusasaan
75
-
76
Kesombongan yang Membeku di Bawah Fajar
77
-
78
Takhta Es dan Runtuhnya Kesombongan
79
-
80
Pertukaran Takdir di Atas Singgasana Kesunyian
81
-
82
Cawan Kebinasaan di Menara Barat
83
-
84
Surat Berdarah untuk Sang Duke
85
Mengepakkan Sayap Kematian ke Jantung Kemunafikan
86
-
87
-
88
-
89
Gema Keputusasaan di Gerbang Kematian
90
-
91
Labirin Kabut dan Gema Penyesalan
92
-
93
Rantai Keputusasaan di Dasar Ravenscroft
94
-
95
Tarian Ilusi di Dasar Keputusasaan
96
-
97
Kepakan Sayap Kematian di Dasar Ravenscroft
98
-
99
Ratapan Menggema di Ujung Lorong Kematian
100
Arus Keputusasaan di Lorong Kutukan
101
Labirin Gema Penyesalan yang Tak Berujung
102
-
103
Gema Ratapan di Dasar Aethelgard
104
-
105
Singgasana Debu dan Ilusi Keagungan
106
-
107
Jeruji Kutukan di Dasar Keputusasaan
108
-
109
Anak Tangga Menuju Kekosongan Abadi
110
-
111
Gema Kehancuran di Aula Utama
112
-
113
Mahkota Debu dan Gema Keputusasaan
114
-
115
Penjara Kaca dan Gema Penghakiman
116
-
117
Retakan Kewarasan di Balik Kaca Es
118
Belenggu Es dan Denyut Nadi Keputusasaan
119
-
120
Simfoni Kehancuran di Atas Lantai Pualam
121
-
122
Cawan Racun di Atas Meja Bayangan
123
-
124
Labirin Cermin dan Tarian Debu Kematian
125
-
126
Nyanyian Bisu di Balik Dinding Keputusasaan
127
-
128
Cengkeraman Es di Atas Pualam Hitam
129
-
130
Kunci Darah Sang Leluhur
131
-
132
Kebangkitan Ordo Naga
133
-
134
Surat Berdarah ke Ibukota
135
-
136
Pelarian di Tengah Badai
137
-
138
Hukuman Jenderal Pengkhianat
139
Rahasia Gereja Cahaya
140
-
141
Tarian Ilusi di Hutan Pinus
142
-
143
Runtuhnya Iman Sang Ksatria
144
Boneka Rusak Melangkah Pulang
145
Parade Menuju Aethelgard
146
Pesta Topeng yang Membeku
147
-
148
Hadiah dari Utara
149
Kebenaran yang Merobek Telinga
150
-
151
Pengadilan Darah di Ruang Tahta
152
-
153
Perlawanan Terakhir Uskup Agung
154
Runtuhnya Pilar Kesombongan
155
-
156
Perjamuan Darah di Aula Emas
157
Gema Rahasia dari Lorong Bawah Tanah
158
-
159
Gema Kehampaan di Alun-Alun Pualam
160
Gerhana Pembawa Sayap Kematian
161
Panji Putih di Bawah Langit Memar
162
Runtuhnya Cahaya di Lembah Keputusasaan
163
Runtuhnya Pilar-Pilar Langit
164
-
165
Malam Terakhir Dewa Palsu
166
-
167
Fajar Abadi di Bawah Naungan Sayap Bayangan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!