Genevieve mengambil satu langkah panjang dan mantap ke depan, menghentakkan ujung sepatu botnya ke atas papan kayu jembatan yang lapuk. Hentakan itu sama sekali tidak keras terdengar, namun efek gaib kultivasinya merambat cepat ke seluruh struktur Jembatan Umbra. Tali-tali rami raksasa penahan jembatan itu tiba-tiba bergetar luar biasa hebat layaknya tersengat aliran petir yang tidak terlihat mata.
"Cabikan Bayangan," bisik Genevieve dengan suara resonansi ganda yang terdengar seperti mantra kutukan kuno langsung dari kedalaman neraka.
Ratusan paku bayangan hitam pekat meletus ke atas secara bersamaan dari celah-celah bebatuan di bawah kaki pasukan Kael berdiri. Sihir mematikan itu tidak diarahkan untuk menembus daging prajurit, melainkan menyambar untuk melilit kuat bayangan mereka sendiri di tanah. Bayangan para prajurit pemberontak itu seolah hidup dan meronta, mengunci kaki fisik mereka ke tanah dengan cengkeraman sihir absolut.
Jeritan panik mulai meledak dari barisan depan pasukan Kael saat para pria itu menyadari bahwa tubuh mereka sepenuhnya membeku kaku. Mereka meronta-ronta dengan sisa tenaga otot yang ada, namun kekuatan sihir Genevieve kini telah mencapai tahap Kultivasi Menengah yang luar biasa murni. Ikatan bayangan gaib itu mustahil bisa diputuskan hanya dengan mengandalkan tenaga otot manusia fana yang ketakutan.
Kael membelalakkan matanya ngeri melihat separuh pasukannya tiba-tiba lumpuh secara bersamaan tanpa ada satu pun sentuhan fisik dari musuh. Pria gempal itu beruntung berdiri sedikit lebih jauh di belakang pasukannya, terhindar mutlak dari radius ledakan sihir area pertama tersebut. Ia segera menyadari dengan panik bahwa berhadapan langsung dengan sihir level kegelapan ini adalah sebuah tindakan bunuh diri massal.
"Mundur dari jembatan dan putuskan tali penahannya sekarang juga!" teriak Kael histeris, membuang habis sisa-sisa harga diri perangnya ke dasar jurang. Ia memerintahkan sisa pasukannya yang masih bebas bergerak untuk menghancurkan satu-satunya jalan penghubung mematikan tersebut. Ia jauh lebih memilih mengorbankan barisan depannya yang terikat gaib daripada membiarkan monster wanita itu menyeberang hidup-hidup.
Beberapa prajurit yang nyalinya telah ciut segera mengayunkan pedang dan kapak mereka ke arah simpul tali utama jembatan di ujung tebing. Serat rami tebal yang sudah dimakan usia itu mulai putus terurai satu per satu dengan bunyi robekan panjang yang mengerikan. Jembatan Umbra mulai kehilangan titik keseimbangannya secara drastis, miring tajam ke satu sisi dan siap memuntahkan isinya ke dalam pusaran air.
Para prajurit di barisan depan yang kakinya masih terikat sihir bayangan menjerit histeris meminta pertolongan kepada komandan mereka sendiri. Tubuh kekar mereka tergantung tak berdaya di atas kemiringan yang sangat ekstrem, menu…
Fajar Kedua Sang Lady
bab 57
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 167 Episodes
Comments