Bab 5: Tirai Fajar yang Membeku

Perjalanan kembali dari dapur menuju kamar menara sayap barat terasa seratus kali lipat lebih menyiksa daripada saat ia turun tadi. Adrenalin yang sempat memompa jantung Genevieve di dalam pantri kini perlahan surut, meninggalkan realitas pahit akan kondisi fisiknya yang sebenarnya. Tubuh Lady Genevieve yang malang ini sudah berada di ambang batas kehancuran. Setiap kali ia mengangkat kaki untuk menaiki anak tangga batu spiral, otot-otot pahanya menjerit memprotes, bergetar hebat seolah ribuan jarum tak kasat mata ditusukkan ke dalam dagingnya.

Namun, ia tidak berhenti. Ia tidak membiarkan dirinya bersandar terlalu lama pada dinding batu yang basah oleh embun beku. Di dalam dadanya, sebuah tungku api baru telah menyala—sebuah tekad kelangsungan hidup yang dibakar oleh rahasia kotor yang baru saja ia dengar. Kastil Ravenscroft ini bukanlah tempat pengasingan yang sunyi; tempat ini adalah arena eksekusi yang dirancang dengan sangat rapi.

Angin malam yang menyusup melalui celah-celah jendela lorong melolong panjang, suaranya terdengar seperti tangisan roh-roh penasaran yang terperangkap di dalam dinding kuno ini. Sesekali, suara itu menutupi derap langkah kakinya yang diseret pelan. Genevieve menarik jubah wol usangnya lebih rapat, menyembunyikan wajah pucatnya di balik tudung, menyerupai hantu yang bergentayangan di koridor perbatasannya sendiri.

Ketika ia akhirnya berhasil mendorong pintu ek raksasa kamarnya dan menutupnya kembali tanpa suara, Genevieve membiarkan tubuhnya merosot perlahan hingga terduduk di lantai batu. Napasnya memburu cepat, memecah kesunyian kamar dengan suara seraknya. Keringat dingin sebesar biji jagung mengalir dari pelipisnya, membeku seketika saat bersentuhan dengan udara ruangan. Ia memejamkan mata, memusatkan seluruh sisa tenaganya untuk mengendalikan detak jantungnya yang liar. Ia tidak boleh pingsan. Belum saatnya.

Dengan gerakan lambat yang penuh kehati-hatian, ia merogoh saku jubahnya dan mengeluarkan sisa roti gandum hitam yang ia curi dari dapur. Ia membawanya ke bibir, menggigit teksturnya yang sekeras kayu, dan membiarkan air liurnya melembutkan makanan kasar itu sebelum mengunyahnya. Tidak ada rasa nikmat, hanya rasa ragi tua dan debu, namun bagi Genevieve, ini adalah asupan kehidupan. Sambil mengunyah dalam diam, pikirannya yang tajam mulai membedah jaring laba-laba politik yang kini menjerat lehernya.

Duke Alistair, suaminya yang dingin dan tak tersentuh. Memori dari tubuh aslinya hanya merekam tatapan benci dan rasa jijik pria itu. Namun, kecerdasan Genevieve yang baru menolak untuk menerima informasi mentah begitu saja. Jika Alistair benar-benar menginginkan kematiannya secara langsung, pria dengan kekuasaan militer absolut seperti Sang Duke bisa saja memenggal kepalanya di alun-alun ibukota atas tuduhan pengkhianatan. Mengapa repot-repot mengirimnya ke ujung utara Aethelgard? Apakah pengasingan ini adalah bentuk hukuman yang paling sadis, ataukah... sebuah manuver politik yang gegabah untuk menjauhkannya dari pusat konflik?

Dan kemudian, ada sang Nyonya Besar. Ibu suri House Blackwood. Wanita yang bahkan tidak pernah tersenyum dalam memori Genevieve yang asli. Jika Nyonya Besar adalah dalang di balik racun Silvershade ini, itu berarti konspirasi yang menjebak Genevieve di ibukota kemungkinan besar dirancang dari dalam keluarganya sendiri. Nyonya Besar tidak hanya ingin menyingkirkan menantunya, tapi ia ingin memastikan akar keberadaan Genevieve terhapus dari sejarah tanpa meninggalkan jejak pembunuhan yang mencurigakan di tangan House Blackwood. Itulah mengapa mereka menggunakan racun pelemah, dan itulah mengapa Gideon—sang kepala pelayan—sangat ketakutan akan ancaman dari ibukota.

Genevieve menelan sisa roti terakhirnya. Matanya yang biru kristal terbuka perlahan, menatap tajam ke arah kegelapan kamar. Pandangannya kini bukan lagi pandangan seorang korban, melainkan seorang ahli strategi yang sedang menatap papan catur.

"Sistem," panggilnya lirih ke ruang hampa.

**[Sistem Bertahan Hidup Siaga. Memproses perintah Tuan Rumah.]**

Panel biru seketika berpendar di udara, memberikan sedikit penerangan artifisial pada wajah Genevieve yang tirus.

"Tampilkan status fisikku secara detail. Berapa banyak tenaga yang kumiliki untuk melakukan satu gerakan fisik yang sangat cepat?"

Teks perak pada layar berkedip dan berubah bentuk menjadi deretan diagram dan angka yang bergerak cepat.

**[Analisis Fisik Tuan Rumah:]**

**[Kekuatan Otot: 12% dari batas normal wanita dewasa.]**

**[Kapasitas Paru-paru: Terganggu oleh residu awal Silvershade (Efisiensi 60%).]**

**[Tingkat Respons Saraf: Meningkat drastis berkat sinkronisasi jiwa (110%).]**

**[Kalkulasi Taktis: Tuan Rumah hanya memiliki cadangan energi untuk SATU ledakan tenaga maksimal berdurasi kurang dari 4 detik. Setelah itu, risiko kolaps otot dan pingsan mencapai 95%.]**

"Empat detik," bisik Genevieve, sebuah senyum tipis yang mematikan dan nyaris tak terlihat melengkung di sudut bibirnya yang pucat. "Empat detik adalah waktu yang sangat panjang jika kau tahu di mana harus menancapkan pisaumu."

Ia memaksa dirinya berdiri, berpegangan pada tiang ranjang yang berukir rumit. Ia tidak memiliki kemewahan untuk tidur malam ini. Setiap detiknya harus digunakan untuk mempersiapkan panggung pertunjukan untuk esok pagi.

Genevieve mulai bergerak dengan efisiensi yang mengerikan. Pertama, ia melepas jubah wolnya dan menyembunyikannya kembali ke dasar lemari, memastikan tidak ada lipatan yang terlihat janggal. Kedua, ia berjalan ke meja rias dan mengambil tusuk konde perak murni yang ia temukan di bawah lantai. Ia menimbang benda itu di tangannya; ujungnya yang runcing memantulkan cahaya redup, cukup tajam untuk menembus kulit dan pembuluh darah jika diarahkan dengan tepat. Ia menyelipkan senjata rahasia itu di bawah bantalnya, pada posisi yang paling mudah dijangkau oleh tangan kanannya hanya dengan satu kedutan jari.

Langkah ketiga adalah racun itu sendiri. Ia mengeluarkan botol kaca gelap berisi sisa teh beracun dosis tinggi dari balik pakaiannya. Jika besok pagi Martha akan datang membawa racun yang dosisnya digandakan, Genevieve membutuhkan sesuatu untuk membuat pelayan itu lengah. Ia meletakkan botol kecil itu tepat di bawah lipatan selimut di sisi kiri pinggangnya, tersembunyi namun siap ditarik kapan saja.

Terakhir, ia menata dirinya sendiri. Ini adalah mahakaryanya. Ia meremas ujung-ujung gaun linen tipisnya hingga kusut masai. Ia sengaja menggosok matanya kuat-kuat hingga area sekitarnya memerah dan tampak bengkak, meniru gejala demam tinggi dan kurang tidur yang ekstrem. Ia membasahi bibirnya dengan sedikit ludah, lalu menggigitnya keras-keras hingga mengering dan meninggalkan bercak darah kecil yang tampak seperti luka pecah-pecah karena dehidrasi parah.

Setelah panggungnya siap, Genevieve membaringkan tubuhnya di atas ranjang yang dingin. Ia menarik selimut kasarnya hingga sebatas dada, membiarkan lengannya tergeletak lemas di kedua sisi tubuhnya.

Kelopak matanya setengah terpejam, menampakkan garis tipis iris yang tampak kehilangan fokus. Pandangannya kosong, mengarah pada langit-langit kamar yang kusam, tetapi tanpa benar-benar melihat apa pun. Wajahnya dipertahankan dalam ekspresi pucat dan letih, seolah kehidupan di dalam dirinya benar-benar sedang meredup. Posturnya adalah perwujudan sempurna dari seorang wanita yang napasnya tinggal menghitung jam.

Kini, yang tersisa hanyalah menunggu.

Terpopuler

Comments

Turki Salman

Turki Salman

baguss

2026-05-03

9

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Fajar di Kastil Ravenscroft
2 Bab 2: Tetesan Kelangsungan Hidup
3 Bab 3: Bayang-Bayang Ravenscroft
4 BAB 4
5 Bab 5: Tirai Fajar yang Membeku
6 BAB 6
7 Bab 7: Kontrak Darah dan Silvershade
8 BAB 8
9 Bab 9: Perjamuan di Bawah Bayang-Bayang Kematian
10 BAB 10
11 Bab 11 : Perangkap di Ujung Jarum
12 bab 12
13 Bab 13: Tuan Atas Nyawa dan Kematian
14 Bab 14: Perjalanan Menuju Dasar Jurang Hitam
15 Bab 15: Predator di Dasar Neraka Putih
16 bab 16
17 Bab 17: Fajar Berdarah di Perut Bumi
18 Bab 18: Reruntuhan yang Terlupakan di Sungai Umbra
19 bab 19
20 Bab 20: Pemangsa di Balik Kabut Belerang
21 bab 21
22 Bab 22 Gema dari Peradaban yang Tenggelam
23 Bab 23
24 Bab 24 Suaka yang Terlupakan Waktu
25 Bab 25
26 Bab 26 Bisikan dari Balik Tirai Tidur
27 Bab 27
28 Bab 28 Perjanjian di Atas Altar Pengkhianatan
29 Bab 29
30 Bab 30 Cetak Biru Sang Predator
31 Jeritan Besi yang Patah
32 Terlempar ke Dalam Distrik Karat
33 Kota Tanpa Matahari
34 Hukum Para Buangan
35 Ujian Pertama di Distrik Karat
36 Menyembunyikan Taring Malam
37 Penguasa Bayangan Pasar Gelap
38 Bab 38
39 Penyakit yang Menggerogoti Batu
40 Pion-Pion Bermata Kosong
41 Membeli Kesetiaan dengan Roti dan Darah
42 Pemberontakan di Sektor Bawah
43 Bayangan yang Menjahit Luka
44 bab 44
45 Menguji Benih Inti Kegelapan
46 bab 46
47 Utusan dari Permukaan
48 bab 48
49 Menangkap Burung Nazar
50 bab 50
51 Rahasia Tambang Obsidian
52 bab 52
53 Surat Palsu untuk Tuan Gideon
54 Faksi-Faksi yang Terbelah
55 bab 55
56 Menari di Atas Tali Kematian
57 bab 57
58 Ratu Tanpa Mahkota di Kota Bawah
59 bab 59
60 Bayangan di Kapel Tua
61 bab 61
62 Simfoni Kematian di Balik Kaca Patri
63 -
64 Teror Nyata di Lorong Sayap Timur
65 -
66 Tegukan Pahit di Bawah Bayang-Bayang Kematian
67 -
68 Simfoni Keputusasaan di Menara Utama
69 -
70 Keadilan Beku di Ujung Kematian
71 -
72 Mahakarya Darah dan Kesunyian Beku
73 -
74 Tirai Fajar di Atas Panggung Keputusasaan
75 -
76 Kesombongan yang Membeku di Bawah Fajar
77 -
78 Takhta Es dan Runtuhnya Kesombongan
79 -
80 Pertukaran Takdir di Atas Singgasana Kesunyian
81 -
82 Cawan Kebinasaan di Menara Barat
83 -
84 Surat Berdarah untuk Sang Duke
85 Mengepakkan Sayap Kematian ke Jantung Kemunafikan
86 -
87 -
88 -
89 Gema Keputusasaan di Gerbang Kematian
90 -
91 Labirin Kabut dan Gema Penyesalan
92 -
93 Rantai Keputusasaan di Dasar Ravenscroft
94 -
95 Tarian Ilusi di Dasar Keputusasaan
96 -
97 Kepakan Sayap Kematian di Dasar Ravenscroft
98 -
99 Ratapan Menggema di Ujung Lorong Kematian
100 Arus Keputusasaan di Lorong Kutukan
101 Labirin Gema Penyesalan yang Tak Berujung
102 -
103 Gema Ratapan di Dasar Aethelgard
104 -
105 Singgasana Debu dan Ilusi Keagungan
106 -
107 Jeruji Kutukan di Dasar Keputusasaan
108 -
109 Anak Tangga Menuju Kekosongan Abadi
110 -
111 Gema Kehancuran di Aula Utama
112 -
113 Mahkota Debu dan Gema Keputusasaan
114 -
115 Penjara Kaca dan Gema Penghakiman
116 -
117 Retakan Kewarasan di Balik Kaca Es
118 Belenggu Es dan Denyut Nadi Keputusasaan
119 -
120 Simfoni Kehancuran di Atas Lantai Pualam
121 -
122 Cawan Racun di Atas Meja Bayangan
123 -
124 Labirin Cermin dan Tarian Debu Kematian
125 -
126 Nyanyian Bisu di Balik Dinding Keputusasaan
127 -
128 Cengkeraman Es di Atas Pualam Hitam
129 -
130 Kunci Darah Sang Leluhur
131 -
132 Kebangkitan Ordo Naga
133 -
134 Surat Berdarah ke Ibukota
135 -
136 Pelarian di Tengah Badai
137 -
138 Hukuman Jenderal Pengkhianat
139 Rahasia Gereja Cahaya
140 -
141 Tarian Ilusi di Hutan Pinus
142 -
143 Runtuhnya Iman Sang Ksatria
144 Boneka Rusak Melangkah Pulang
145 Parade Menuju Aethelgard
146 Pesta Topeng yang Membeku
147 -
148 Hadiah dari Utara
149 Kebenaran yang Merobek Telinga
150 -
151 Pengadilan Darah di Ruang Tahta
152 -
153 Perlawanan Terakhir Uskup Agung
154 Runtuhnya Pilar Kesombongan
155 -
156 Perjamuan Darah di Aula Emas
157 Gema Rahasia dari Lorong Bawah Tanah
158 -
159 Gema Kehampaan di Alun-Alun Pualam
160 Gerhana Pembawa Sayap Kematian
161 Panji Putih di Bawah Langit Memar
162 Runtuhnya Cahaya di Lembah Keputusasaan
163 Runtuhnya Pilar-Pilar Langit
164 -
165 Malam Terakhir Dewa Palsu
166 -
167 Fajar Abadi di Bawah Naungan Sayap Bayangan
Episodes

Updated 167 Episodes

1
Bab 1: Fajar di Kastil Ravenscroft
2
Bab 2: Tetesan Kelangsungan Hidup
3
Bab 3: Bayang-Bayang Ravenscroft
4
BAB 4
5
Bab 5: Tirai Fajar yang Membeku
6
BAB 6
7
Bab 7: Kontrak Darah dan Silvershade
8
BAB 8
9
Bab 9: Perjamuan di Bawah Bayang-Bayang Kematian
10
BAB 10
11
Bab 11 : Perangkap di Ujung Jarum
12
bab 12
13
Bab 13: Tuan Atas Nyawa dan Kematian
14
Bab 14: Perjalanan Menuju Dasar Jurang Hitam
15
Bab 15: Predator di Dasar Neraka Putih
16
bab 16
17
Bab 17: Fajar Berdarah di Perut Bumi
18
Bab 18: Reruntuhan yang Terlupakan di Sungai Umbra
19
bab 19
20
Bab 20: Pemangsa di Balik Kabut Belerang
21
bab 21
22
Bab 22 Gema dari Peradaban yang Tenggelam
23
Bab 23
24
Bab 24 Suaka yang Terlupakan Waktu
25
Bab 25
26
Bab 26 Bisikan dari Balik Tirai Tidur
27
Bab 27
28
Bab 28 Perjanjian di Atas Altar Pengkhianatan
29
Bab 29
30
Bab 30 Cetak Biru Sang Predator
31
Jeritan Besi yang Patah
32
Terlempar ke Dalam Distrik Karat
33
Kota Tanpa Matahari
34
Hukum Para Buangan
35
Ujian Pertama di Distrik Karat
36
Menyembunyikan Taring Malam
37
Penguasa Bayangan Pasar Gelap
38
Bab 38
39
Penyakit yang Menggerogoti Batu
40
Pion-Pion Bermata Kosong
41
Membeli Kesetiaan dengan Roti dan Darah
42
Pemberontakan di Sektor Bawah
43
Bayangan yang Menjahit Luka
44
bab 44
45
Menguji Benih Inti Kegelapan
46
bab 46
47
Utusan dari Permukaan
48
bab 48
49
Menangkap Burung Nazar
50
bab 50
51
Rahasia Tambang Obsidian
52
bab 52
53
Surat Palsu untuk Tuan Gideon
54
Faksi-Faksi yang Terbelah
55
bab 55
56
Menari di Atas Tali Kematian
57
bab 57
58
Ratu Tanpa Mahkota di Kota Bawah
59
bab 59
60
Bayangan di Kapel Tua
61
bab 61
62
Simfoni Kematian di Balik Kaca Patri
63
-
64
Teror Nyata di Lorong Sayap Timur
65
-
66
Tegukan Pahit di Bawah Bayang-Bayang Kematian
67
-
68
Simfoni Keputusasaan di Menara Utama
69
-
70
Keadilan Beku di Ujung Kematian
71
-
72
Mahakarya Darah dan Kesunyian Beku
73
-
74
Tirai Fajar di Atas Panggung Keputusasaan
75
-
76
Kesombongan yang Membeku di Bawah Fajar
77
-
78
Takhta Es dan Runtuhnya Kesombongan
79
-
80
Pertukaran Takdir di Atas Singgasana Kesunyian
81
-
82
Cawan Kebinasaan di Menara Barat
83
-
84
Surat Berdarah untuk Sang Duke
85
Mengepakkan Sayap Kematian ke Jantung Kemunafikan
86
-
87
-
88
-
89
Gema Keputusasaan di Gerbang Kematian
90
-
91
Labirin Kabut dan Gema Penyesalan
92
-
93
Rantai Keputusasaan di Dasar Ravenscroft
94
-
95
Tarian Ilusi di Dasar Keputusasaan
96
-
97
Kepakan Sayap Kematian di Dasar Ravenscroft
98
-
99
Ratapan Menggema di Ujung Lorong Kematian
100
Arus Keputusasaan di Lorong Kutukan
101
Labirin Gema Penyesalan yang Tak Berujung
102
-
103
Gema Ratapan di Dasar Aethelgard
104
-
105
Singgasana Debu dan Ilusi Keagungan
106
-
107
Jeruji Kutukan di Dasar Keputusasaan
108
-
109
Anak Tangga Menuju Kekosongan Abadi
110
-
111
Gema Kehancuran di Aula Utama
112
-
113
Mahkota Debu dan Gema Keputusasaan
114
-
115
Penjara Kaca dan Gema Penghakiman
116
-
117
Retakan Kewarasan di Balik Kaca Es
118
Belenggu Es dan Denyut Nadi Keputusasaan
119
-
120
Simfoni Kehancuran di Atas Lantai Pualam
121
-
122
Cawan Racun di Atas Meja Bayangan
123
-
124
Labirin Cermin dan Tarian Debu Kematian
125
-
126
Nyanyian Bisu di Balik Dinding Keputusasaan
127
-
128
Cengkeraman Es di Atas Pualam Hitam
129
-
130
Kunci Darah Sang Leluhur
131
-
132
Kebangkitan Ordo Naga
133
-
134
Surat Berdarah ke Ibukota
135
-
136
Pelarian di Tengah Badai
137
-
138
Hukuman Jenderal Pengkhianat
139
Rahasia Gereja Cahaya
140
-
141
Tarian Ilusi di Hutan Pinus
142
-
143
Runtuhnya Iman Sang Ksatria
144
Boneka Rusak Melangkah Pulang
145
Parade Menuju Aethelgard
146
Pesta Topeng yang Membeku
147
-
148
Hadiah dari Utara
149
Kebenaran yang Merobek Telinga
150
-
151
Pengadilan Darah di Ruang Tahta
152
-
153
Perlawanan Terakhir Uskup Agung
154
Runtuhnya Pilar Kesombongan
155
-
156
Perjamuan Darah di Aula Emas
157
Gema Rahasia dari Lorong Bawah Tanah
158
-
159
Gema Kehampaan di Alun-Alun Pualam
160
Gerhana Pembawa Sayap Kematian
161
Panji Putih di Bawah Langit Memar
162
Runtuhnya Cahaya di Lembah Keputusasaan
163
Runtuhnya Pilar-Pilar Langit
164
-
165
Malam Terakhir Dewa Palsu
166
-
167
Fajar Abadi di Bawah Naungan Sayap Bayangan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!