Fajar Kedua Sang Lady

Fajar Kedua Sang Lady

Bab 1: Fajar di Kastil Ravenscroft

Rasa dingin adalah hal pertama yang menyapanya. Bukan sekadar dingin yang menembus permukaan kulit, melainkan hawa beku yang seolah merayap perlahan dari ujung jari kaki, menelusup tajam ke dalam sumsum tulang, dan bersarang tanpa ampun di dadanya.

Udara di sekitarnya terasa sangat berat, membawa aroma apak dari lumut batu yang lembap dan sisa kayu basah yang dibakar berjam-jam lalu. Ia mencoba menarik napas dalam, tetapi tenggorokannya terasa seperti disayat oleh ribuan pecahan kaca kecil.

Setiap tarikan napas adalah siksaan yang memaksanya untuk tetap memejamkan mata, mati-matian menahan erangan yang tertahan di pangkal kerongkongan.

Jari-jarinya, yang bergerak di luar kesadaran, mencengkeram kain di bawahnya. Kain itu terasa kasar, tebal, dan berdebu—sangat jauh berbeda dari selimut katun lembut yang biasa ia gunakan di apartemen kecilnya di dunia asalnya.

Cengkeramannya menguat perlahan hingga buku-buku jarinya memutih, mencoba mencari jangkar pada realitas yang tiba-tiba terasa begitu asing.

Ada denyut menyakitkan yang berdetak di pelipisnya, menyerupai palu godam tak kasat mata yang menghantam kepalanya berulang kali. Bersamaan dengan rasa sakit itu, kepingan-kepingan ingatan asing membanjiri otaknya.

Perlahan, dengan sisa tenaga yang entah dari mana asalnya, ia memaksa kelopak matanya terbuka.

Cahaya kelabu yang suram menyelinap masuk melalui celah jendela batu yang tinggi dan sempit, menerangi debu-debu yang menari lambat di udara. Matanya menyapu sekitar.

Ruangan ini... ini jelas bukan kamarnya. Ini adalah sebuah kamar tidur raksasa dengan dinding-dinding batu telanjang yang memancarkan hawa suram.

Di atas tubuhnya, menjulang kanopi tempat tidur yang terbuat dari beludru merah tua. Kain itu tampak kusam, berdebu, dan sobek di beberapa bagian, kehilangan seluruh sisa kejayaannya di masa lampau.

Ia mencoba bangkit, menumpukan beban tubuhnya pada sikunya yang ringkih, tetapi otot-ototnya menjerit protes.

Tubuh ini begitu lemah dan ringan, seolah kekurangan nutrisi berbulan-bulan lamanya. Saat ia menundukkan kepala, napasnya tercekat melihat sepasang tangan yang gemetar di atas selimut. Tangan itu pucat pasi, terlalu kurus, dengan kulit yang hampir transparan hingga urat-urat halus kebiruan terlihat begitu jelas.

Ini bukan tangannya. Tangannya yang dulu sedikit kecokelatan dan memiliki kapalan halus karena sering bekerja di depan layar. Tangan yang kini berada di hadapannya adalah tangan rapuh seseorang yang tidak pernah mengenal pekerjaan kasar seumur hidupnya.

Lalu, memori itu menghantamnya secara utuh seperti gelombang pasang. Rasa sesak yang tajam membuat napasnya tersentak keras, memaksa tangannya meremas dada kirinya.

Genevieve. Mulai detik ini, namanya adalah Genevieve. Lebih tepatnya, Lady Genevieve dari House Blackwood.

Potongan-potongan adegan melintas brutal di benaknya, diiringi oleh rasa sakit di dada yang begitu nyata hingga ia nyaris menitikkan air mata. Ia melihat kilatan tatapan dingin dan penuh kebencian dari seorang pria jangkung berambut gagak—Duke Alistair, suaminya.

Ia merasakan kembali rasa penghinaan yang membakar wajahnya saat dituduh melakukan pengkhianatan di aula utama istana, sebuah fitnah keji yang dilemparkan oleh musuh-musuh politiknya di ibukota Aethelgard.

Dan yang paling menyakitkan, ia merasakan keputusasaan yang absolut saat kereta kuda membawanya ke Kastil Ravenscroft—sebuah benteng batu terisolasi di ujung wilayah utara yang selalu tertutup salju abadi. Ia dibuang, diasingkan, dan dilupakan oleh dunia.

Genevieve yang asli telah menyerah pada nasibnya. Ia membiarkan kesedihan, rasa lapar, dan hawa dingin menggerogoti jiwanya hingga akhirnya malam tadi, wanita malang itu menghembuskan napas terakhirnya dalam kesepian yang menyayat hati.

Dan kini, jiwa modernnya terbangun, terjebak di dalam cangkang rapuh yang telah hancur ini.

Genevieve mengusap wajahnya yang basah oleh keringat dingin. Emosi dari tubuh aslinya masih tertinggal pekat, bermanifestasi dalam bentuk air mata yang tiba-tiba menggenang dan jatuh membasahi pipinya. Ia buru-buru menghapus air mata itu dengan punggung tangannya yang gemetar.

Menangis tidak akan mengubah fakta sedikit pun bahwa ia kini terjebak di dunia fantasi kuno yang tidak kenal ampun ini.

Suara derit logam yang beradu keras dengan kayu memecah kesunyian ruangan yang sedari tadi mencekam. Seseorang sedang memutar pegangan pintu kamarnya yang berat.

Genevieve seketika menahan napas, tubuhnya menegang secara instingtif. Ia menarik selimut kasarnya hingga sebatas leher, menyembunyikan sebagian besar tubuhnya yang gemetar, matanya menatap tajam penuh kewaspadaan ke arah pintu ek raksasa di ujung ruangan.

Seorang wanita muda dengan pakaian seragam pelayan musim dingin melangkah masuk. Wajah pelayan itu biasa saja, dipenuhi bintik hitam di sekitar hidungnya, namun ada sesuatu dalam postur dan cara berjalannya yang membuat Genevieve mengerutkan kening dalam.

Pelayan itu, yang dari ingatan memori Genevieve diketahui bernama Martha, sama sekali tidak mengetuk pintu. Martha berjalan masuk dengan langkah yang diseret kasar—terlalu berisik untuk ukuran seorang pelayan yang bertugas melayani istri seorang Duke.

Sepasang mata Martha tidak memancarkan rasa hormat sedikit pun, melainkan sebuah arogansi menjijikkan yang disembunyikan dengan sangat buruk.

Martha membawa sebuah nampan kayu yang warnanya sudah memudar. Di atas nampan itu terdapat semangkuk bubur yang terlihat sangat encer dan memucat, serta secangkir teh herbal yang mengepulkan asap tipis.

Pelayan itu meletakkan nampan tersebut di atas meja kecil di samping tempat tidur. Ia tidak meletakkannya dengan pelan, melainkan menjatuhkannya sedikit keras hingga terdengar bunyi bantingan kayu yang memekakkan telinga.

"Sarapan Anda, Nyonya," ucap Martha. Nada suaranya datar, monoton, dan terburu-buru, namun sepasang matanya menatap Genevieve dengan kilat meremehkan dari sudut matanya.

Tidak ada sapaan selamat pagi, tidak ada basa-basi hormat layaknya pelayan pada majikannya.

Genevieve menatap mangkuk bubur itu. Perutnya tiba-tiba bergejolak perih. Rasa lapar memang melilitnya dengan hebat, tetapi ada sesuatu dalam gerak-gerik dan tatapan Martha yang membuat insting bahaya di kepalanya berdering nyaring.

Tubuh Genevieve yang asli selalu memakan apa pun yang dihidangkan tanpa pernah memprotes, terlalu larut dalam depresinya untuk sekadar peduli pada rasanya yang hambar dan porsinya yang tak manusiawi. Namun, jiwa yang baru menempati tubuh ini memiliki insting bertahan hidup yang tak bisa dibohongi.

"Taruh saja di situ," suara Genevieve keluar. Terdengar serak, parau, dan sangat pelan. Ia segera berdehem pelan, menguatkan tenggorokannya, berusaha mengumpulkan sisa wibawa aristokratnya. Ia memicingkan matanya, menatap lurus ke kedalaman pupil mata Martha, menolak untuk menunduk. "Aku belum berselera."

Martha mengangkat kedua bahunya dengan gerakan yang terlampau santai, nyaris tidak sopan. "Terserah Anda saja. Saya akan kembali untuk mengambil nampannya menjelang siang nanti. Pastikan tehnya Anda habiskan. Itu obat racikan dari tabib kastil untuk mengatasi batuk Anda yang memburuk semalam."

Tanpa repot-repot menundukkan badan atau memberi hormat, pelayan itu memutar tubuhnya dan berjalan keluar.

Ia bahkan membanting pintu ek itu saat menutupnya, menimbulkan gema dentuman keras yang beresonansi di seluruh dinding ruangan kosong tersebut.

Begitu suara langkah kaki Martha perlahan menghilang di ujung lorong batu, Genevieve menghela napas panjang yang sedari tadi ditahannya rapat-rapat.

Seluruh tubuhnya kini gemetar parah, bukan hanya karena hawa dingin kastil yang menyengat, tapi karena ketegangan luar biasa yang baru saja ia lalui. Ia sendirian. Terjebak di sarang serigala yang mengintai nyawanya.

Ia menoleh ke arah secangkir teh yang masih mengepul itu. Aroma herbalnya menguar, terasa agak aneh; manis yang berlebihan namun ada sentuhan bau tanah basah di belakangnya. Ia perlahan mengulurkan tangannya yang gemetar dari balik selimut, berniat untuk menyentuh permukaan cangkir keramik itu untuk memeriksa suhunya.

Tepat sebelum ujung jarinya menyentuh keramik panas tersebut, matanya menangkap sebuah fenomena yang tidak masuk akal.

Sebuah pendar cahaya biru terang meletus tanpa suara di udara kosong, tepat sepuluh sentimeter di depan wajahnya. Cahaya itu berkedip-kedip cepat sejenak sebelum perlahan memadat, membentuk sebuah panel persegi panjang transparan dengan teks-teks berwarna perak yang bersinar terang dalam keremangan kamar.

Genevieve tersentak mundur dengan kasar hingga punggungnya menabrak sandaran tempat tidur kayu. Jantungnya berdebar liar, memompa darah ke telinganya layaknya genderang perang.

Matanya terbelalak lebar, napasnya memburu cepat saat ia memaksa dirinya membaca deretan kalimat bercahaya yang melayang di hadapannya.

**[Inisialisasi Sistem Bertahan Hidup... Selesai.]**

**[Status Tuan Rumah: Jiwa berhasil tersinkronisasi 100% dengan fisik Lady Genevieve dari House Blackwood.]**

**[PERINGATAN BAHAYA TINGKAT TINGGI DETEKSI OTOMATIS]**

**[Mendeteksi substansi beracun mematikan dalam radius 1 meter dari Tuan Rumah.]**

**[Analisis Objek: Teh Herbal. Kandungan Utama: Ekstrak Akar Silvershade (Kategori: Racun Pembunuh Lambat). Efek: Melemahkan fungsi organ vital secara bertahap, menyebabkan kematian yang tampak seperti penyakit alami parah. Akumulasi racun dalam tubuh Tuan Rumah saat ini: 85%. Kritis.]**

Darah di sekujur tubuh Genevieve seolah membeku seketika. Ia menatap layar panel biru itu dengan mulut sedikit terbuka, lalu pandangannya perlahan turun menatap cangkir teh tak berdosa di atas meja. Nafasnya tertahan kuat di tenggorokan, dadanya terasa nyeri.

Kebenaran yang mengerikan menghantamnya tanpa ampun. Tubuh ini tidak mati karena patah hati. Ia tidak mati karena kedinginan atau diabaikan oleh suaminya. Genevieve yang asli telah diracuni perlahan-lahan, dari hari ke hari, tetes demi tetes.

Dan si pembunuh rahasia—siapapun yang memerintahkan pelayan bernama Martha itu—baru saja menyajikan cangkir kematiannya yang kesekian kalinya pagi ini.

Jika ia meminumnya, nyawa yang baru saja ia dapatkan ini tidak akan bertahan untuk melihat fajar keesokan harinya.

Keheningan di dalam kamar batu itu mendadak terasa memekakkan telinga. Genevieve memeluk kedua lututnya, menyembunyikan wajahnya di antara lipatan selimut.

Kepanikan yang luar biasa mencoba menguasai akal sehatnya. Ia sangat ingin berteriak kencang, memaki takdir yang melemparnya ke dalam tubuh yang nyaris mati ini.

Suaminya telah membuangnya, para pelayannya mengkhianatinya, dan ia sama sekali tidak memiliki satu pun sekutu di ujung dunia yang tertutup salju ini.

Namun, tepat saat air mata keputusasaan hampir jatuh lagi dari pelupuk matanya, sebuah percikan amarah yang panas dan membara tiba-tiba menyala di dadanya.

Amarah dari kehidupan masa lalunya yang selalu menolak untuk menyerah, dicampur dengan rasa ketidakadilan yang luar biasa yang ditinggalkan oleh memori Genevieve yang asli.

*Tidak,* batinnya berteriak keras. Tangannya kembali mencengkeram erat seprai kasar itu. *Aku tidak dibawa terbang sejauh ini, melintasi ruang dan waktu, hanya untuk mati membusuk dibunuh oleh teh sialan dan pelayan rendahan.*

Ia mengangkat kepalanya secara perlahan. Sepasang matanya yang beberapa menit lalu redup dan pasrah, kini memancarkan kilau tekad yang tajam, jernih, dan sedingin es. Ia mengamati panel Sistem biru yang masih melayang sabar di udara, menunggunya.

Jika Sistem ini adalah satu-satunya senjata yang diberikan padanya, ia bersumpah akan menggunakannya hingga tetes darah penghabisan untuk bertahan hidup dan membalas dendam.

Genevieve perlahan menurunkan kakinya yang telanjang ke lantai batu. Ia meringis menahan perih luar biasa yang menjalar dari telapak kakinya yang membeku, namun ia memaksakan tubuh kurus itu untuk berdiri tegak.

Langkahnya sangat goyah, pandangannya sedikit berkunang-kunang, tetapi ia berhasil mendekati meja kecil itu. Ia menatap cangkir teh tersebut. Pikirannya berputar cepat layaknya roda gigi.

Jika ia membiarkan teh itu utuh, Martha akan langsung curiga bahwa ia menyadari racunnya. Jika ia membuangnya sembarangan, jejak cairan atau bekasnya di tanah akan terlihat. Ia harus bertindak sangat cerdas dan terukur.

Ia harus mulai memutar balikkan papan catur mematikan ini dengan senyap, tanpa ada satupun musuhnya yang menyadari bahwa pion rapuh yang mereka anggap hampir mati, kini telah bangkit sebagai seorang ratu yang merencanakan kejatuhan mereka.

Genevieve mengulurkan jari telunjuknya, menyentuh lembut layar biru yang melayang itu. Layar tersebut bereaksi seperti permukaan air yang disentuh, memunculkan sebuah notifikasi jendela baru:

**[Misi Tutorial Terbuka: Menetralisir ancaman teh beracun tanpa menimbulkan kecurigaan. Waktu yang tersisa sebelum kondisi fisik Tuan Rumah kolaps total akibat lapar dan racun bawaan: 12 jam.]**

Terpopuler

Comments

Yuu Li

Yuu Li

😍😍😍

2026-05-02

2

Memyr 67

Memyr 67

𝗌𝗂𝖺𝗉𝖺 𝗒𝗀 𝗆𝖺𝗎 𝗆𝖾𝗆𝖻𝗎𝗇𝗎𝗁 𝗀𝖾𝗇𝖾𝗏𝗂𝖾𝗏𝖾?

2026-05-02

20

Murni Dewita

Murni Dewita

👣

2026-03-20

4

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Fajar di Kastil Ravenscroft
2 Bab 2: Tetesan Kelangsungan Hidup
3 Bab 3: Bayang-Bayang Ravenscroft
4 BAB 4
5 Bab 5: Tirai Fajar yang Membeku
6 BAB 6
7 Bab 7: Kontrak Darah dan Silvershade
8 BAB 8
9 Bab 9: Perjamuan di Bawah Bayang-Bayang Kematian
10 BAB 10
11 Bab 11 : Perangkap di Ujung Jarum
12 bab 12
13 Bab 13: Tuan Atas Nyawa dan Kematian
14 Bab 14: Perjalanan Menuju Dasar Jurang Hitam
15 Bab 15: Predator di Dasar Neraka Putih
16 bab 16
17 Bab 17: Fajar Berdarah di Perut Bumi
18 Bab 18: Reruntuhan yang Terlupakan di Sungai Umbra
19 bab 19
20 Bab 20: Pemangsa di Balik Kabut Belerang
21 bab 21
22 Bab 22 Gema dari Peradaban yang Tenggelam
23 Bab 23
24 Bab 24 Suaka yang Terlupakan Waktu
25 Bab 25
26 Bab 26 Bisikan dari Balik Tirai Tidur
27 Bab 27
28 Bab 28 Perjanjian di Atas Altar Pengkhianatan
29 Bab 29
30 Bab 30 Cetak Biru Sang Predator
31 Jeritan Besi yang Patah
32 Terlempar ke Dalam Distrik Karat
33 Kota Tanpa Matahari
34 Hukum Para Buangan
35 Ujian Pertama di Distrik Karat
36 Menyembunyikan Taring Malam
37 Penguasa Bayangan Pasar Gelap
38 Bab 38
39 Penyakit yang Menggerogoti Batu
40 Pion-Pion Bermata Kosong
41 Membeli Kesetiaan dengan Roti dan Darah
42 Pemberontakan di Sektor Bawah
43 Bayangan yang Menjahit Luka
44 bab 44
45 Menguji Benih Inti Kegelapan
46 bab 46
47 Utusan dari Permukaan
48 bab 48
49 Menangkap Burung Nazar
50 bab 50
51 Rahasia Tambang Obsidian
52 bab 52
53 Surat Palsu untuk Tuan Gideon
54 Faksi-Faksi yang Terbelah
55 bab 55
56 Menari di Atas Tali Kematian
57 bab 57
58 Ratu Tanpa Mahkota di Kota Bawah
59 bab 59
60 Bayangan di Kapel Tua
61 bab 61
62 Simfoni Kematian di Balik Kaca Patri
63 -
64 Teror Nyata di Lorong Sayap Timur
65 -
66 Tegukan Pahit di Bawah Bayang-Bayang Kematian
67 -
68 Simfoni Keputusasaan di Menara Utama
69 -
70 Keadilan Beku di Ujung Kematian
71 -
72 Mahakarya Darah dan Kesunyian Beku
73 -
74 Tirai Fajar di Atas Panggung Keputusasaan
75 -
76 Kesombongan yang Membeku di Bawah Fajar
77 -
78 Takhta Es dan Runtuhnya Kesombongan
79 -
80 Pertukaran Takdir di Atas Singgasana Kesunyian
81 -
82 Cawan Kebinasaan di Menara Barat
83 -
84 Surat Berdarah untuk Sang Duke
85 Mengepakkan Sayap Kematian ke Jantung Kemunafikan
86 -
87 -
88 -
89 Gema Keputusasaan di Gerbang Kematian
90 -
91 Labirin Kabut dan Gema Penyesalan
92 -
93 Rantai Keputusasaan di Dasar Ravenscroft
94 -
95 Tarian Ilusi di Dasar Keputusasaan
96 -
97 Kepakan Sayap Kematian di Dasar Ravenscroft
98 -
99 Ratapan Menggema di Ujung Lorong Kematian
100 Arus Keputusasaan di Lorong Kutukan
101 Labirin Gema Penyesalan yang Tak Berujung
102 -
103 Gema Ratapan di Dasar Aethelgard
104 -
105 Singgasana Debu dan Ilusi Keagungan
106 -
107 Jeruji Kutukan di Dasar Keputusasaan
108 -
109 Anak Tangga Menuju Kekosongan Abadi
110 -
111 Gema Kehancuran di Aula Utama
112 -
113 Mahkota Debu dan Gema Keputusasaan
114 -
115 Penjara Kaca dan Gema Penghakiman
116 -
117 Retakan Kewarasan di Balik Kaca Es
118 Belenggu Es dan Denyut Nadi Keputusasaan
119 -
120 Simfoni Kehancuran di Atas Lantai Pualam
121 -
122 Cawan Racun di Atas Meja Bayangan
123 -
124 Labirin Cermin dan Tarian Debu Kematian
125 -
126 Nyanyian Bisu di Balik Dinding Keputusasaan
127 -
128 Cengkeraman Es di Atas Pualam Hitam
129 -
130 Kunci Darah Sang Leluhur
131 -
132 Kebangkitan Ordo Naga
133 -
134 Surat Berdarah ke Ibukota
135 -
136 Pelarian di Tengah Badai
137 -
138 Hukuman Jenderal Pengkhianat
139 Rahasia Gereja Cahaya
140 -
141 Tarian Ilusi di Hutan Pinus
142 -
143 Runtuhnya Iman Sang Ksatria
144 Boneka Rusak Melangkah Pulang
145 Parade Menuju Aethelgard
146 Pesta Topeng yang Membeku
147 -
148 Hadiah dari Utara
149 Kebenaran yang Merobek Telinga
150 -
151 Pengadilan Darah di Ruang Tahta
152 -
153 Perlawanan Terakhir Uskup Agung
154 Runtuhnya Pilar Kesombongan
155 -
156 Perjamuan Darah di Aula Emas
157 Gema Rahasia dari Lorong Bawah Tanah
158 -
159 Gema Kehampaan di Alun-Alun Pualam
160 Gerhana Pembawa Sayap Kematian
161 Panji Putih di Bawah Langit Memar
162 Runtuhnya Cahaya di Lembah Keputusasaan
163 Runtuhnya Pilar-Pilar Langit
164 -
165 Malam Terakhir Dewa Palsu
166 -
167 Fajar Abadi di Bawah Naungan Sayap Bayangan
Episodes

Updated 167 Episodes

1
Bab 1: Fajar di Kastil Ravenscroft
2
Bab 2: Tetesan Kelangsungan Hidup
3
Bab 3: Bayang-Bayang Ravenscroft
4
BAB 4
5
Bab 5: Tirai Fajar yang Membeku
6
BAB 6
7
Bab 7: Kontrak Darah dan Silvershade
8
BAB 8
9
Bab 9: Perjamuan di Bawah Bayang-Bayang Kematian
10
BAB 10
11
Bab 11 : Perangkap di Ujung Jarum
12
bab 12
13
Bab 13: Tuan Atas Nyawa dan Kematian
14
Bab 14: Perjalanan Menuju Dasar Jurang Hitam
15
Bab 15: Predator di Dasar Neraka Putih
16
bab 16
17
Bab 17: Fajar Berdarah di Perut Bumi
18
Bab 18: Reruntuhan yang Terlupakan di Sungai Umbra
19
bab 19
20
Bab 20: Pemangsa di Balik Kabut Belerang
21
bab 21
22
Bab 22 Gema dari Peradaban yang Tenggelam
23
Bab 23
24
Bab 24 Suaka yang Terlupakan Waktu
25
Bab 25
26
Bab 26 Bisikan dari Balik Tirai Tidur
27
Bab 27
28
Bab 28 Perjanjian di Atas Altar Pengkhianatan
29
Bab 29
30
Bab 30 Cetak Biru Sang Predator
31
Jeritan Besi yang Patah
32
Terlempar ke Dalam Distrik Karat
33
Kota Tanpa Matahari
34
Hukum Para Buangan
35
Ujian Pertama di Distrik Karat
36
Menyembunyikan Taring Malam
37
Penguasa Bayangan Pasar Gelap
38
Bab 38
39
Penyakit yang Menggerogoti Batu
40
Pion-Pion Bermata Kosong
41
Membeli Kesetiaan dengan Roti dan Darah
42
Pemberontakan di Sektor Bawah
43
Bayangan yang Menjahit Luka
44
bab 44
45
Menguji Benih Inti Kegelapan
46
bab 46
47
Utusan dari Permukaan
48
bab 48
49
Menangkap Burung Nazar
50
bab 50
51
Rahasia Tambang Obsidian
52
bab 52
53
Surat Palsu untuk Tuan Gideon
54
Faksi-Faksi yang Terbelah
55
bab 55
56
Menari di Atas Tali Kematian
57
bab 57
58
Ratu Tanpa Mahkota di Kota Bawah
59
bab 59
60
Bayangan di Kapel Tua
61
bab 61
62
Simfoni Kematian di Balik Kaca Patri
63
-
64
Teror Nyata di Lorong Sayap Timur
65
-
66
Tegukan Pahit di Bawah Bayang-Bayang Kematian
67
-
68
Simfoni Keputusasaan di Menara Utama
69
-
70
Keadilan Beku di Ujung Kematian
71
-
72
Mahakarya Darah dan Kesunyian Beku
73
-
74
Tirai Fajar di Atas Panggung Keputusasaan
75
-
76
Kesombongan yang Membeku di Bawah Fajar
77
-
78
Takhta Es dan Runtuhnya Kesombongan
79
-
80
Pertukaran Takdir di Atas Singgasana Kesunyian
81
-
82
Cawan Kebinasaan di Menara Barat
83
-
84
Surat Berdarah untuk Sang Duke
85
Mengepakkan Sayap Kematian ke Jantung Kemunafikan
86
-
87
-
88
-
89
Gema Keputusasaan di Gerbang Kematian
90
-
91
Labirin Kabut dan Gema Penyesalan
92
-
93
Rantai Keputusasaan di Dasar Ravenscroft
94
-
95
Tarian Ilusi di Dasar Keputusasaan
96
-
97
Kepakan Sayap Kematian di Dasar Ravenscroft
98
-
99
Ratapan Menggema di Ujung Lorong Kematian
100
Arus Keputusasaan di Lorong Kutukan
101
Labirin Gema Penyesalan yang Tak Berujung
102
-
103
Gema Ratapan di Dasar Aethelgard
104
-
105
Singgasana Debu dan Ilusi Keagungan
106
-
107
Jeruji Kutukan di Dasar Keputusasaan
108
-
109
Anak Tangga Menuju Kekosongan Abadi
110
-
111
Gema Kehancuran di Aula Utama
112
-
113
Mahkota Debu dan Gema Keputusasaan
114
-
115
Penjara Kaca dan Gema Penghakiman
116
-
117
Retakan Kewarasan di Balik Kaca Es
118
Belenggu Es dan Denyut Nadi Keputusasaan
119
-
120
Simfoni Kehancuran di Atas Lantai Pualam
121
-
122
Cawan Racun di Atas Meja Bayangan
123
-
124
Labirin Cermin dan Tarian Debu Kematian
125
-
126
Nyanyian Bisu di Balik Dinding Keputusasaan
127
-
128
Cengkeraman Es di Atas Pualam Hitam
129
-
130
Kunci Darah Sang Leluhur
131
-
132
Kebangkitan Ordo Naga
133
-
134
Surat Berdarah ke Ibukota
135
-
136
Pelarian di Tengah Badai
137
-
138
Hukuman Jenderal Pengkhianat
139
Rahasia Gereja Cahaya
140
-
141
Tarian Ilusi di Hutan Pinus
142
-
143
Runtuhnya Iman Sang Ksatria
144
Boneka Rusak Melangkah Pulang
145
Parade Menuju Aethelgard
146
Pesta Topeng yang Membeku
147
-
148
Hadiah dari Utara
149
Kebenaran yang Merobek Telinga
150
-
151
Pengadilan Darah di Ruang Tahta
152
-
153
Perlawanan Terakhir Uskup Agung
154
Runtuhnya Pilar Kesombongan
155
-
156
Perjamuan Darah di Aula Emas
157
Gema Rahasia dari Lorong Bawah Tanah
158
-
159
Gema Kehampaan di Alun-Alun Pualam
160
Gerhana Pembawa Sayap Kematian
161
Panji Putih di Bawah Langit Memar
162
Runtuhnya Cahaya di Lembah Keputusasaan
163
Runtuhnya Pilar-Pilar Langit
164
-
165
Malam Terakhir Dewa Palsu
166
-
167
Fajar Abadi di Bawah Naungan Sayap Bayangan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!