Bab 3: Bayang-Bayang Ravenscroft

Matahari sore merayap turun dengan sangat lambat di balik cakrawala Aethelgard, meninggalkan jejak cahaya kelabu kemerahan yang perlahan tertelan oleh pekatnya malam musim dingin.

Dari balik jendela batu yang sempit, angin utara melolong panjang bak serigala kelaparan, menghantam dinding-dinding Kastil Ravenscroft dengan kekuatan yang membuat bingkai kayu tua berderak memprotes.

Genevieve masih berbaring di atas ranjang kanopinya yang berdebu. Ia tidak tertidur sedikit pun.

Selama berjam-jam sejak pelayan bernama Martha itu keluar membawa cangkir kosongnya, Genevieve memaksakan dirinya untuk tetap diam, menghemat setiap kalori yang tersisa dari bubur encer yang ia telan paksa tadi pagi.

Napasnya ditarik dan dihembuskan dengan ritme yang sangat teratur. Matanya yang berwarna biru kristal menatap lurus ke langit-langit beludru yang koyak, menelusuri pola benang emas yang memudar di sana sambil membiarkan pikirannya bekerja seperti mesin jam yang presisi.

Di sudut pandangannya, panel biru semi-transparan dari Sistem berkedip redup, menampilkan hitung mundur waktu bertahan hidupnya yang kini menunjukkan angka sepuluh jam, dua belas menit.

"Sistem," bisik Genevieve, suaranya nyaris tenggelam oleh deru angin di luar. Bibirnya kering dan pecah-pecah. "Aktifkan Pemetaan Ruang Dasar."

**[Mengaktifkan Pemetaan Ruang Dasar... Radius: 5 Meter.]**

**[Memproses struktur bangunan dan anomali material.]**

Tiba-tiba, pandangan Genevieve berubah. Dunia fisik di sekitarnya tidak menghilang, melainkan tertimpa oleh sebuah jaring-jaring bercahaya perak yang membentuk kerangka tiga dimensi dari kamar tersebut. Ia bisa melihat ketebalan dinding batu di sisi kirinya.

Ia bisa melihat struktur kayu penyangga di bawah lantai tempat tidurnya. Namun, yang paling menarik perhatiannya adalah sebuah titik terang kecil berwarna emas yang berkedip tepat di bawah papan lantai di dekat meja rias.

Dengan susah payah, Genevieve menyibakkan selimutnya. Udara malam yang membeku langsung menyergap kulitnya yang pucat, membuat bulu romanya meremang dan giginya bergemeretak pelan. Mengabaikan protes dari persendiannya yang kaku, ia merosot turun dari ranjang.

Telapak kakinya yang telanjang menyentuh lantai batu sedingin es, mengirimkan sensasi kebas yang merayap naik ke betisnya. Ia melangkah tanpa suara, memusatkan berat badannya pada ujung-ujung jari kaki untuk menghindari bunyi gesekan.

Ia berlutut di depan meja rias, tangannya yang kurus meraba papan lantai kayu ek yang ditunjukkan oleh jaring-jaring perak Sistem. Salah satu papan itu terasa sedikit lebih longgar dibandingkan yang lain. Genevieve menyelipkan kuku jempolnya yang rapuh ke celah papan, mengertakkan rahang menahan perih, dan mencongkelnya ke atas.

Papan itu terangkat dengan bunyi derit yang sangat pelan. Di dalam rongga berdebu yang dipenuhi sarang laba-laba itu, tergeletak sebuah benda logam yang dingin. Genevieve meraihnya, membersihkan debu tebal yang menempelinya dengan ujung gaun tidurnya.

Itu adalah sebuah tusuk konde perak murni sepanjang jengkal tangan orang dewasa. Ujungnya sangat runcing, nyaris menyerupai belati kecil, dengan ukiran mawar hitam yang rumit di bagian kepalanya.

Memori Genevieve yang asli tidak mengenali benda ini; kemungkinan besar ini adalah peninggalan dari nyonya kastil generasi sebelumnya yang sengaja disembunyikan.

Bagi Genevieve saat ini, benda itu bukan sekadar perhiasan tua. Ujungnya yang tajam adalah senjata pertahanan diri pertamanya di dunia yang kejam ini.

Ia menyelipkan tusuk konde perak itu ke balik ikat pinggang gaun tidurnya yang longgar, tepat di sebelah botol kaca kecil berisi teh beracun yang ia simpan tadi pagi. Setelah mengembalikan papan lantai ke posisi semula, ia beralih ke lemari kayu mahoni raksasa di sudut ruangan.

Pintu lemari itu terbuka dengan suara lenguhan kayu yang berat. Bau kapur barus tua dan debu langsung menyengat hidungnya. Di dalamnya, hanya tergantung beberapa helai gaun linen yang terlalu tipis untuk cuaca utara, membuktikan betapa suaminya, Duke Alistair, benar-benar membuangnya tanpa persiapan apa pun.

Namun, di tumpukan paling bawah, matanya menangkap sebuah jubah wol tebal berwarna biru tua. Jubah itu sudah usang, dengan beberapa bagian tepi yang termakan ngengat, tetapi kainnya sangat tebal dan hangat.

Genevieve segera menarik jubah itu dan membungkus tubuhnya yang menggigil. Tudung jubahnya yang besar ia tarik hingga menutupi separuh wajahnya, menyembunyikan rambut peraknya yang kusut dan wajahnya yang pucat.

Ia mengencangkan simpul di lehernya, merasakan sedikit kehangatan mulai mengaliri aliran darahnya yang melambat.

Waktu terus berjalan. Suara dentang lonceng dari menara pengawas di luar memecah kesunyian malam, berdentang sebanyak tiga kali. Tengah malam.

Waktu pergantian penjaga, dan waktu di mana para pelayan biasanya telah tertidur lelap setelah seharian bekerja keras.

Genevieve berjalan mendekati pintu ek raksasa kamarnya. Ia tidak langsung memutar gagang besi itu.

Di kehidupan sebelumnya, ia tahu betul bahwa engsel tua akan menjerit jika ditarik begitu saja. Ia menempelkan telinganya ke permukaan kayu yang dingin, menahan napasnya, dan mendengarkan dengan saksama.

Hanya ada keheningan, diselingi oleh suara angin yang menyapu lorong di luar.

Tangannya mencengkeram gagang pintu. Alih-alih langsung menariknya, Genevieve mengangkat gagang itu sedikit ke atas untuk mengurangi tekanan pada engsel bawah, barulah ia memutarnya dengan gerakan yang sangat lambat dan stabil. Pintu terbuka dengan celah kecil, nyaris tanpa suara.

Lorong di luar sangat gelap, hanya diterangi oleh obor-obor yang dipasang berjauhan di dinding batu, memancarkan cahaya jingga redup yang membuat bayangan pilar-pilar batu menari-nari seperti sosok monster yang mengintai.

Udara di lorong ini terasa lebih dingin dan lembap, membawa aroma lumut tua dan besi berkarat.

Genevieve melangkah keluar, menutup pintu di belakangnya dengan kehati-hatian yang sama. Jaring-jaring perak dari Sistem masih aktif di benaknya, memberitahukan lekuk-lekuk dinding dan memastikan tidak ada pijakan batu yang longgar di depannya.

Matanya yang tajam menyapu setiap sudut bayangan. Langkahnya seringan embusan angin, jubah wolnya menyapu lantai tanpa menimbulkan suara gesekan yang berarti.

Tujuannya malam ini hanya satu: dapur kastil. Waktu bertahan hidupnya akan habis jika ia tidak menemukan kalori yang cukup untuk menggerakkan tubuh yang diracun ini.

Menelusuri lorong sayap barat, ia menuruni tangga batu spiral yang curam. Tangan kirinya terus merayap di sepanjang dinding yang dingin, mencari keseimbangan saat rasa pusing sesekali menyerang kepalanya.

Ia harus berhenti dua kali di sudut gelap yang terlindung dari cahaya obor ketika pendengarannya menangkap suara sepatu bot besi dari kejauhan.

Penjaga malam. Genevieve menekan punggungnya rapat-rapat ke dinding batu kasar, menahan napasnya hingga paru-parunya terasa panas terbakar, menunggu hingga suara derap langkah itu menghilang di persimpangan lorong.

Ketakutan sama sekali tidak menguasai matanya; yang ada hanyalah ketajaman observasi seorang pemburu yang sedang membaca medan pertempuran.

Terpopuler

Comments

Ysya Jeje

Ysya Jeje

baguas

2026-05-02

15

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Fajar di Kastil Ravenscroft
2 Bab 2: Tetesan Kelangsungan Hidup
3 Bab 3: Bayang-Bayang Ravenscroft
4 BAB 4
5 Bab 5: Tirai Fajar yang Membeku
6 BAB 6
7 Bab 7: Kontrak Darah dan Silvershade
8 BAB 8
9 Bab 9: Perjamuan di Bawah Bayang-Bayang Kematian
10 BAB 10
11 Bab 11 : Perangkap di Ujung Jarum
12 bab 12
13 Bab 13: Tuan Atas Nyawa dan Kematian
14 Bab 14: Perjalanan Menuju Dasar Jurang Hitam
15 Bab 15: Predator di Dasar Neraka Putih
16 bab 16
17 Bab 17: Fajar Berdarah di Perut Bumi
18 Bab 18: Reruntuhan yang Terlupakan di Sungai Umbra
19 bab 19
20 Bab 20: Pemangsa di Balik Kabut Belerang
21 bab 21
22 Bab 22 Gema dari Peradaban yang Tenggelam
23 Bab 23
24 Bab 24 Suaka yang Terlupakan Waktu
25 Bab 25
26 Bab 26 Bisikan dari Balik Tirai Tidur
27 Bab 27
28 Bab 28 Perjanjian di Atas Altar Pengkhianatan
29 Bab 29
30 Bab 30 Cetak Biru Sang Predator
31 Jeritan Besi yang Patah
32 Terlempar ke Dalam Distrik Karat
33 Kota Tanpa Matahari
34 Hukum Para Buangan
35 Ujian Pertama di Distrik Karat
36 Menyembunyikan Taring Malam
37 Penguasa Bayangan Pasar Gelap
38 Bab 38
39 Penyakit yang Menggerogoti Batu
40 Pion-Pion Bermata Kosong
41 Membeli Kesetiaan dengan Roti dan Darah
42 Pemberontakan di Sektor Bawah
43 Bayangan yang Menjahit Luka
44 bab 44
45 Menguji Benih Inti Kegelapan
46 bab 46
47 Utusan dari Permukaan
48 bab 48
49 Menangkap Burung Nazar
50 bab 50
51 Rahasia Tambang Obsidian
52 bab 52
53 Surat Palsu untuk Tuan Gideon
54 Faksi-Faksi yang Terbelah
55 bab 55
56 Menari di Atas Tali Kematian
57 bab 57
58 Ratu Tanpa Mahkota di Kota Bawah
59 bab 59
60 Bayangan di Kapel Tua
61 bab 61
62 Simfoni Kematian di Balik Kaca Patri
63 -
64 Teror Nyata di Lorong Sayap Timur
65 -
66 Tegukan Pahit di Bawah Bayang-Bayang Kematian
67 -
68 Simfoni Keputusasaan di Menara Utama
69 -
70 Keadilan Beku di Ujung Kematian
71 -
72 Mahakarya Darah dan Kesunyian Beku
73 -
74 Tirai Fajar di Atas Panggung Keputusasaan
75 -
76 Kesombongan yang Membeku di Bawah Fajar
77 -
78 Takhta Es dan Runtuhnya Kesombongan
79 -
80 Pertukaran Takdir di Atas Singgasana Kesunyian
81 -
82 Cawan Kebinasaan di Menara Barat
83 -
84 Surat Berdarah untuk Sang Duke
85 Mengepakkan Sayap Kematian ke Jantung Kemunafikan
86 -
87 -
88 -
89 Gema Keputusasaan di Gerbang Kematian
90 -
91 Labirin Kabut dan Gema Penyesalan
92 -
93 Rantai Keputusasaan di Dasar Ravenscroft
94 -
95 Tarian Ilusi di Dasar Keputusasaan
96 -
97 Kepakan Sayap Kematian di Dasar Ravenscroft
98 -
99 Ratapan Menggema di Ujung Lorong Kematian
100 Arus Keputusasaan di Lorong Kutukan
101 Labirin Gema Penyesalan yang Tak Berujung
102 -
103 Gema Ratapan di Dasar Aethelgard
104 -
105 Singgasana Debu dan Ilusi Keagungan
106 -
107 Jeruji Kutukan di Dasar Keputusasaan
108 -
109 Anak Tangga Menuju Kekosongan Abadi
110 -
111 Gema Kehancuran di Aula Utama
112 -
113 Mahkota Debu dan Gema Keputusasaan
114 -
115 Penjara Kaca dan Gema Penghakiman
116 -
117 Retakan Kewarasan di Balik Kaca Es
118 Belenggu Es dan Denyut Nadi Keputusasaan
119 -
120 Simfoni Kehancuran di Atas Lantai Pualam
121 -
122 Cawan Racun di Atas Meja Bayangan
123 -
124 Labirin Cermin dan Tarian Debu Kematian
125 -
126 Nyanyian Bisu di Balik Dinding Keputusasaan
127 -
128 Cengkeraman Es di Atas Pualam Hitam
129 -
130 Kunci Darah Sang Leluhur
131 -
132 Kebangkitan Ordo Naga
133 -
134 Surat Berdarah ke Ibukota
135 -
136 Pelarian di Tengah Badai
137 -
138 Hukuman Jenderal Pengkhianat
139 Rahasia Gereja Cahaya
140 -
141 Tarian Ilusi di Hutan Pinus
142 -
143 Runtuhnya Iman Sang Ksatria
144 Boneka Rusak Melangkah Pulang
145 Parade Menuju Aethelgard
146 Pesta Topeng yang Membeku
147 -
148 Hadiah dari Utara
149 Kebenaran yang Merobek Telinga
150 -
151 Pengadilan Darah di Ruang Tahta
152 -
153 Perlawanan Terakhir Uskup Agung
154 Runtuhnya Pilar Kesombongan
155 -
156 Perjamuan Darah di Aula Emas
157 Gema Rahasia dari Lorong Bawah Tanah
158 -
159 Gema Kehampaan di Alun-Alun Pualam
160 Gerhana Pembawa Sayap Kematian
161 Panji Putih di Bawah Langit Memar
162 Runtuhnya Cahaya di Lembah Keputusasaan
163 Runtuhnya Pilar-Pilar Langit
164 -
165 Malam Terakhir Dewa Palsu
166 -
167 Fajar Abadi di Bawah Naungan Sayap Bayangan
Episodes

Updated 167 Episodes

1
Bab 1: Fajar di Kastil Ravenscroft
2
Bab 2: Tetesan Kelangsungan Hidup
3
Bab 3: Bayang-Bayang Ravenscroft
4
BAB 4
5
Bab 5: Tirai Fajar yang Membeku
6
BAB 6
7
Bab 7: Kontrak Darah dan Silvershade
8
BAB 8
9
Bab 9: Perjamuan di Bawah Bayang-Bayang Kematian
10
BAB 10
11
Bab 11 : Perangkap di Ujung Jarum
12
bab 12
13
Bab 13: Tuan Atas Nyawa dan Kematian
14
Bab 14: Perjalanan Menuju Dasar Jurang Hitam
15
Bab 15: Predator di Dasar Neraka Putih
16
bab 16
17
Bab 17: Fajar Berdarah di Perut Bumi
18
Bab 18: Reruntuhan yang Terlupakan di Sungai Umbra
19
bab 19
20
Bab 20: Pemangsa di Balik Kabut Belerang
21
bab 21
22
Bab 22 Gema dari Peradaban yang Tenggelam
23
Bab 23
24
Bab 24 Suaka yang Terlupakan Waktu
25
Bab 25
26
Bab 26 Bisikan dari Balik Tirai Tidur
27
Bab 27
28
Bab 28 Perjanjian di Atas Altar Pengkhianatan
29
Bab 29
30
Bab 30 Cetak Biru Sang Predator
31
Jeritan Besi yang Patah
32
Terlempar ke Dalam Distrik Karat
33
Kota Tanpa Matahari
34
Hukum Para Buangan
35
Ujian Pertama di Distrik Karat
36
Menyembunyikan Taring Malam
37
Penguasa Bayangan Pasar Gelap
38
Bab 38
39
Penyakit yang Menggerogoti Batu
40
Pion-Pion Bermata Kosong
41
Membeli Kesetiaan dengan Roti dan Darah
42
Pemberontakan di Sektor Bawah
43
Bayangan yang Menjahit Luka
44
bab 44
45
Menguji Benih Inti Kegelapan
46
bab 46
47
Utusan dari Permukaan
48
bab 48
49
Menangkap Burung Nazar
50
bab 50
51
Rahasia Tambang Obsidian
52
bab 52
53
Surat Palsu untuk Tuan Gideon
54
Faksi-Faksi yang Terbelah
55
bab 55
56
Menari di Atas Tali Kematian
57
bab 57
58
Ratu Tanpa Mahkota di Kota Bawah
59
bab 59
60
Bayangan di Kapel Tua
61
bab 61
62
Simfoni Kematian di Balik Kaca Patri
63
-
64
Teror Nyata di Lorong Sayap Timur
65
-
66
Tegukan Pahit di Bawah Bayang-Bayang Kematian
67
-
68
Simfoni Keputusasaan di Menara Utama
69
-
70
Keadilan Beku di Ujung Kematian
71
-
72
Mahakarya Darah dan Kesunyian Beku
73
-
74
Tirai Fajar di Atas Panggung Keputusasaan
75
-
76
Kesombongan yang Membeku di Bawah Fajar
77
-
78
Takhta Es dan Runtuhnya Kesombongan
79
-
80
Pertukaran Takdir di Atas Singgasana Kesunyian
81
-
82
Cawan Kebinasaan di Menara Barat
83
-
84
Surat Berdarah untuk Sang Duke
85
Mengepakkan Sayap Kematian ke Jantung Kemunafikan
86
-
87
-
88
-
89
Gema Keputusasaan di Gerbang Kematian
90
-
91
Labirin Kabut dan Gema Penyesalan
92
-
93
Rantai Keputusasaan di Dasar Ravenscroft
94
-
95
Tarian Ilusi di Dasar Keputusasaan
96
-
97
Kepakan Sayap Kematian di Dasar Ravenscroft
98
-
99
Ratapan Menggema di Ujung Lorong Kematian
100
Arus Keputusasaan di Lorong Kutukan
101
Labirin Gema Penyesalan yang Tak Berujung
102
-
103
Gema Ratapan di Dasar Aethelgard
104
-
105
Singgasana Debu dan Ilusi Keagungan
106
-
107
Jeruji Kutukan di Dasar Keputusasaan
108
-
109
Anak Tangga Menuju Kekosongan Abadi
110
-
111
Gema Kehancuran di Aula Utama
112
-
113
Mahkota Debu dan Gema Keputusasaan
114
-
115
Penjara Kaca dan Gema Penghakiman
116
-
117
Retakan Kewarasan di Balik Kaca Es
118
Belenggu Es dan Denyut Nadi Keputusasaan
119
-
120
Simfoni Kehancuran di Atas Lantai Pualam
121
-
122
Cawan Racun di Atas Meja Bayangan
123
-
124
Labirin Cermin dan Tarian Debu Kematian
125
-
126
Nyanyian Bisu di Balik Dinding Keputusasaan
127
-
128
Cengkeraman Es di Atas Pualam Hitam
129
-
130
Kunci Darah Sang Leluhur
131
-
132
Kebangkitan Ordo Naga
133
-
134
Surat Berdarah ke Ibukota
135
-
136
Pelarian di Tengah Badai
137
-
138
Hukuman Jenderal Pengkhianat
139
Rahasia Gereja Cahaya
140
-
141
Tarian Ilusi di Hutan Pinus
142
-
143
Runtuhnya Iman Sang Ksatria
144
Boneka Rusak Melangkah Pulang
145
Parade Menuju Aethelgard
146
Pesta Topeng yang Membeku
147
-
148
Hadiah dari Utara
149
Kebenaran yang Merobek Telinga
150
-
151
Pengadilan Darah di Ruang Tahta
152
-
153
Perlawanan Terakhir Uskup Agung
154
Runtuhnya Pilar Kesombongan
155
-
156
Perjamuan Darah di Aula Emas
157
Gema Rahasia dari Lorong Bawah Tanah
158
-
159
Gema Kehampaan di Alun-Alun Pualam
160
Gerhana Pembawa Sayap Kematian
161
Panji Putih di Bawah Langit Memar
162
Runtuhnya Cahaya di Lembah Keputusasaan
163
Runtuhnya Pilar-Pilar Langit
164
-
165
Malam Terakhir Dewa Palsu
166
-
167
Fajar Abadi di Bawah Naungan Sayap Bayangan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!