Chapter 2

Valerie sudah tidak tahan lagi. Bukan hanya karena ia merasa sesak, tapi karena pria ini seolah-olah mulai hanyut dan menikmati apa yang ia lakukan. Dengan sisa tenaga dan emosi yang meluap, Valerie menggigit bibir bawah pria itu sekuat mungkin.

"Akh!" Pria itu mengerang pelan, melepaskan pagutannya seketika.

Valerie menggunakan kesempatan itu untuk mendorong dada bidang pria itu sekuat tenaga hingga pria itu terhuyung ke belakang. Napas Valerie memburu, wajahnya memerah bukan karena malu, melainkan karena amarah yang meledak.

"Hey! Apa-apaan kau? Main cium sembarangan, sudah gila ya?!" bentak Valerie dengan suara tertahan namun tajam.

Ia mengusap bibirnya dengan kasar menggunakan punggung tangan. Meskipun ini bukan ciuman pertamanya, tetap saja Valerie merasa kecolongan. Gadis sekelas dia tidak seharusnya diperlakukan seperti ini di sebuah gang gelap oleh orang asing.

Pria itu meringis, menyentuh bibirnya yang kini mengeluarkan sedikit darah akibat gigitan Valerie.

Namun, bukannya merasa bersalah, ia malah berdiri tegak dan menyeringai tipis—sebuah senyum yang terlihat berbahaya di bawah remang lampu jalan.

Sebelum Valerie sempat melangkah pergi, pria itu bergerak lebih cepat. Ia kembali merapat, mengunci tubuh Valerie ke dinding. Kali ini, ia menarik kedua tangan Valerie dan menahannya di atas kepala gadis itu dengan satu tangan besarnya.

Valerie tersentak, mencoba berontak, namun terkunci rapat.

"Manis, tolonglah aku," bisik pria itu dengan suara serak yang sangat dalam dan mengintimidasi.

Tatapannya tajam, menembus langsung ke mata Valerie. "Jika kau mau menolongku, aku akan memberikan apa pun yang kau inginkan. Apa pun."

Valerie terdiam. Jantungnya berdegup kencang, bukan lagi karena takut, tapi karena aura dominan yang dipancarkan pria ini. Meski suaranya terdengar mengancam, Valerie yang pintar bisa menangkap nada urgensi di sana.

Pria ini memang sedang terdesak, dan entah kenapa, naluri keberanian Valerie justru tertantang oleh tawaran tersebut.

"Apa pun?" tanya Valerie dengan nada angkuh yang mulai kembali, meski posisinya masih terkurung.

Valerie mendengus remeh, mencoba menutupi debar jantungnya yang tak keruan. "Bagaimana mungkin aku bisa menolongmu? Aku bahkan tidak tahu siapa namamu," tantangnya kemudian.

Pria itu tidak langsung menjawab. Perlahan, ia melepaskan satu tangannya yang tadi mengunci tangan Valerie, lalu menggerakkannya untuk membelai pipi Valerie dengan lembut. Sentuhan itu terasa kontras dengan situasi mereka yang mencekam.

"Aku membutuhkan tubuhmu... sekarang," bisik pria itu dengan tatapan yang sulit diartikan.

Mata Valerie membelalak sempurna. "Apa???"

Ia seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Darahnya mendidih seketika. Bagaimana mungkin pria asing yang baru saja menyeretnya ke dalam masalah ini, dengan tidak tahu malu meminta hal seperti itu?

"Kau pikir aku ini siapa?!" Valerie mendesis penuh amarah, ia berusaha meronta lebih keras. "Apa tampangku terlihat seperti wanita panggilan yang bisa kau beli begitu saja? Kau benar-benar sudah gila!"

Valerie merasa sangat terhina. Sebagai seorang yang berkelas, ia terbiasa dipuja, bukan ditawar dengan cara serendah ini di sebuah lorong gelap.

Rasa waspada gadis itu bangkit sepenuhnya; ia tidak akan membiarkan pria misterius ini berpikir bahwa dia bisa memiliki Valerie hanya dengan sebuah janji "memberikan apa pun".

Namun, di tengah kemarahannya, Valerie menyadari sesuatu. Napas pria itu semakin memburu dan suhu tubuhnya terasa tidak normal.

Pria itu menatap Valerie dengan pandangan sayu, matanya mulai kehilangan fokus. "Arrgh, brengsek!" makinya pada diri sendiri sambil mengerang frustrasi. "Aku sudah tidak tahan lagi..."

Ia kembali merunduk, mencoba meraih bibir Valerie untuk yang kedua kalinya. Namun kali ini, Valerie lebih sigap.

Ia segera menempelkan telapak tangannya di depan bibir pria itu, menahan gerakannya. Sebagai mahasiswi yang pintar, Valerie mulai menyadari ada yang tidak beres dengan reaksi fisik pria ini.

"Tunggu sebentar," sela Valerie tenang. "Apa kau sedang dibius obat perangsang?"

Pria itu tertegun sejenak, lalu menyeringai tipis meski napasnya semakin berat. "Gadis pintar... Jadi, kau mau kan menolongku?"

Bukannya takut, Valerie justru menunjukkan senyum liciknya. —ia tahu sekarang dialah yang memegang kendali. "Baiklah, aku akan menolongmu. Tapi tidak di sini," ujarnya tegas.

Pria itu mengerutkan kening, tampak bingung di tengah gejolak yang menyerangnya. "Apa maksudmu?"

"Bagaimana kalau kita cari hotel terdekat? Setelah itu, aku bisa menolongmu dengan layak," jawab Valerie santai.

Mendengar tawaran itu, pria tersebut perlahan melepaskan cengkeramannya pada tangan Valerie. Ia tampak setuju, atau mungkin sudah terlalu lemah untuk berdebat.

Valerie kemudian berbalik dan berjalan lebih dulu, memberi isyarat agar pria itu mengikutinya menuju ujung lorong yang mengarah ke jalan raya utama.

Begitu mereka keluar dari kegelapan dan sampai di bawah sinar lampu jalan yang terang, Valerie berhenti dan menoleh. Ia ingin melihat dengan jelas siapa sebenarnya pria yang baru saja menciumnya dengan sembarangan tadi.

Seketika, Valerie terdiam.

Di bawah cahaya lampu yang kekuningan, pria itu ternyata luar biasa tampan. Rambutnya yang sedikit berantakan justru menambah kesan maskulin.

Matanya yang berwarna cokelat gelap menatap tajam, dan wajahnya yang tegas kini nampak kemerahan—sebuah efek dari obat yang mulai bekerja maksimal di dalam tubuhnya, membuatnya terlihat menawan sekaligus berbahaya.

Di sisi lain, pria itu pun tertegun. Di bawah lampu jalan yang terang, kecantikan Valerie terpancar sempurna. Gadis di depannya bukan hanya berani dan angkuh, tapi juga memiliki daya tarik yang membuat pria mana pun akan bertekuk lutut.

Beruntung bagi Valerie, sebuah taksi lewat tepat saat mereka sampai di tepi jalan raya. Ia segera melambai, lalu dengan sigap menuntun pria misterius itu masuk ke kursi belakang. Valerie ikut menyelinap masuk dan menutup pintu dengan rapat.

"Pak, ke hotel terdekat ya," perintah Valerie pada sopir taksi. Sopir itu hanya mengangguk pelan, seolah sudah biasa melihat pasangan muda keluar dari area klub di jam-jam seperti ini.

Namun, baru beberapa menit mobil melaju, Valerie melihat papan neon sebuah apotek yang masih buka 24 jam. "Pak, berhenti sebentar di depan sana," pintanya.

Saat Valerie hendak membuka pintu, sebuah tangan yang panas dan bergetar menahan lengannya dengan kuat. Pria itu menatapnya dengan curiga, seolah takut Valerie akan melarikan diri dan membiarkannya menderita sendirian.

Valerie mendekatkan wajahnya, berbisik tepat di telinga pria itu dengan nada menggoda namun tegas. "Tenanglah. Aku harus membeli 'pengaman', kan? Kau tidak ingin kita melakukannya tanpa persiapan, bukan?"

Mendengar itu, cengkeraman pria tersebut perlahan mengendur. Ia mengangguk lemah, membiarkan Valerie keluar dari taksi.

Valerie melangkah masuk ke apotek dengan santai, seolah apa yang ia beli adalah hal paling wajar di dunia. Tak butuh waktu lama, ia kembali ke taksi dengan sebuah bungkusan plastik kecil.

Di dalam plastik itu, memang ada kotak pengaman seperti yang ia katakan tadi. Namun, di balik itu, Valerie juga menyelipkan beberapa butir obat tidur dosis tinggi.

Ia tahu, meskipun pria ini tampan, ia tetaplah orang asing yang berbahaya. Sebagai gadis yang tidak ingin mengambil risiko, Valerie sudah menyiapkan rencana cadangan untuk "menidurkan" pria ini jika situasi mulai tak terkendali di hotel nanti.

"Jalan lagi, Pak," ucap Valerie sambil melirik pria di sampingnya yang kini terlihat semakin kepayahan menahan gejolak dalam tubuhnya.

Terpopuler

Comments

neni onet

neni onet

keren Valerie 😁

2026-04-12

0

lihat semua
Episodes
1 Chapter 1
2 Chapter 2
3 Chapter 3
4 Chapter 4
5 Chapter 5
6 Chapter 6
7 Chapter 7
8 Chapter 8
9 Chapter 9
10 Chapter 10
11 Chapter 11
12 Chapter 12
13 Chapter 13
14 Chapter 14
15 Chapter 15
16 Chapter 16
17 Chapter 17
18 Chapter 18
19 Chapter 19
20 Chapter 20
21 Chapter 21
22 Chapter 22
23 Chapter 23
24 Chapter 24
25 Chapter 25
26 Chapter 26
27 Chapter 27
28 Chapter 28
29 Chapter 29
30 Chapter 30
31 Chapter 31
32 Chapter 32
33 Chapter 33
34 Chapter 34
35 Chapter 35
36 Chapter 36
37 Chapter 37
38 Chapter 38
39 Chapter 39
40 Chapter 40
41 Chapter 41
42 Chapter 42
43 Chapter 43
44 Chapter 44
45 Chapter 45
46 Chapter 46
47 Chapter 47
48 Chapter 48
49 Chapter 49
50 Chapter 50
51 Chapter 51
52 Chapter 52
53 Chapter 53
54 Chapter 54
55 Chapter 55
56 Chapter 56
57 Chapter 57
58 Chapter 58
59 Chapter 59
60 Chapter 60
61 Chapter 61
62 Chapter 62
63 Chapter 63
64 Chapter 64
65 Chapter 65
66 Chapter 66
67 Chapter 67
68 Chapter 68
69 Chapter 69
70 Chapter 70
71 Chapter 71
72 Chapter 72
73 Chapter 73
74 Chapter 74
75 Chapter 75
76 Chapter 76
77 Chapter 77
78 Chapter 78
79 Chapter 79
80 Chapter 80
81 Chapter 81
82 Chapter 82
83 Chapter 83
84 Chapter 84
85 Bab 85
86 Chapter 86
87 Chapter 87
88 Chapter 88
89 Chapter 89
90 Chapter 90
91 Chapter 91
92 Chapter 92
93 Chapter 93
94 Chapter 94
95 Chapter 95
96 Chapter 96
97 Chapter 97
98 Chapter 98
99 Chapter 99
100 chapter 100
101 Chapter 101
102 Chapter 102
103 Chapter 103
Episodes

Updated 103 Episodes

1
Chapter 1
2
Chapter 2
3
Chapter 3
4
Chapter 4
5
Chapter 5
6
Chapter 6
7
Chapter 7
8
Chapter 8
9
Chapter 9
10
Chapter 10
11
Chapter 11
12
Chapter 12
13
Chapter 13
14
Chapter 14
15
Chapter 15
16
Chapter 16
17
Chapter 17
18
Chapter 18
19
Chapter 19
20
Chapter 20
21
Chapter 21
22
Chapter 22
23
Chapter 23
24
Chapter 24
25
Chapter 25
26
Chapter 26
27
Chapter 27
28
Chapter 28
29
Chapter 29
30
Chapter 30
31
Chapter 31
32
Chapter 32
33
Chapter 33
34
Chapter 34
35
Chapter 35
36
Chapter 36
37
Chapter 37
38
Chapter 38
39
Chapter 39
40
Chapter 40
41
Chapter 41
42
Chapter 42
43
Chapter 43
44
Chapter 44
45
Chapter 45
46
Chapter 46
47
Chapter 47
48
Chapter 48
49
Chapter 49
50
Chapter 50
51
Chapter 51
52
Chapter 52
53
Chapter 53
54
Chapter 54
55
Chapter 55
56
Chapter 56
57
Chapter 57
58
Chapter 58
59
Chapter 59
60
Chapter 60
61
Chapter 61
62
Chapter 62
63
Chapter 63
64
Chapter 64
65
Chapter 65
66
Chapter 66
67
Chapter 67
68
Chapter 68
69
Chapter 69
70
Chapter 70
71
Chapter 71
72
Chapter 72
73
Chapter 73
74
Chapter 74
75
Chapter 75
76
Chapter 76
77
Chapter 77
78
Chapter 78
79
Chapter 79
80
Chapter 80
81
Chapter 81
82
Chapter 82
83
Chapter 83
84
Chapter 84
85
Bab 85
86
Chapter 86
87
Chapter 87
88
Chapter 88
89
Chapter 89
90
Chapter 90
91
Chapter 91
92
Chapter 92
93
Chapter 93
94
Chapter 94
95
Chapter 95
96
Chapter 96
97
Chapter 97
98
Chapter 98
99
Chapter 99
100
chapter 100
101
Chapter 101
102
Chapter 102
103
Chapter 103

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!