Chapter 5

Dering alarm dari ponsel Valerie bergetar hebat di atas nakas, suaranya seolah menembus gendang telinga dan memaksa masuk ke dalam mimpinya. Valerie masih tertidur menelungkup, tenggelam dalam bantal empuknya.

Rambut panjangnya terurai berantakan menutupi wajah, dan dress tanpa lengan yang ia kenakan semalam masih melekat di tubuhnya—bahkan belum sempat ia ganti saking lelahnya.

Dengan mata yang masih terpejam rapat, tangan Valerie meraba-raba permukaan kasur, mencari sumber suara yang sangat mengganggu itu.

Kepalanya terasa berat, dan ia merasa waktu tidurnya baru saja dimulai beberapa menit yang lalu. Kejadian di kamar 120 semalam benar-benar menguras seluruh energinya.

Valerie akhirnya berhasil menyambar ponselnya. Ia mengintip sedikit dari balik kelopak mata yang berat. Angka 07.30 terpampang nyata di layar.

"Ya ampun..." gumamnya parau.

Dengan berat hati, ia mencoba bangkit dan duduk di tepi ranjang, berusaha mengumpulkan nyawanya yang masih tertinggal di alam mimpi.

Kalau saja pagi ini bukan jadwal mata kuliah penting, Valerie pasti sudah membanting ponselnya dan lanjut tidur sampai siang. Tapi sebagai mahasiswi baru di Universitas Arthemis, ia tidak boleh menghancurkan reputasinya begitu saja.

Meski masih merasa sedikit pening dan jalannya masih sempoyongan, Valerie akhirnya menyeret tubuh rampingnya menuju kamar mandi.

Sambil berjalan, ia sempat melirik sekilas ke arah tas mininya yang tergeletak di meja, tidak menyadari bahwa ada sesuatu yang sangat penting tertinggal di tangan seorang pria bernama Damian.

Valerie berdiri dengan tatapan kosong di depan lobi apartemennya, sesekali menguap kecil untuk mengusir rasa kantuk yang masih menggelayuti matanya. Sinar matahari pagi terasa terlalu terang bagi matanya yang lelah.

Karena apartemennya terletak di area strategis ibukota, ia tak perlu menunggu lama untuk mendapatkan taksi. Namun, sebelum taksi pertama muncul, sebuah raungan mesin motor sport memecah keheningan lobi.

Motor itu berhenti tepat di depan Valerie. Pengendaranya mengenakan seragam universitas yang sama, namun dibalut dengan jaket branded yang terlihat mahal.

Pria itu membuka helmnya, menampakkan wajah tampan blasteran Jawa-Amerika yang sudah sangat dikenal di seluruh penjuru Universitas Arthemis.

Dia adalah Aiden Draven, ketua klub paling bergengsi di kampus, kaya raya, dan baru satu bulan ini resmi menyandang status sebagai kekasih Valerie.

Aiden melemparkan senyum manis yang biasanya membuat banyak gadis di kampus histeris.

"Selamat pagi, sayang. Kok mukanya bete gitu sih?" tanya Aiden, sedikit heran melihat kekasihnya yang biasanya tampak segar kini terlihat sangat lesu.

Valerie berusaha memaksakan senyum tipis, lalu melangkah mendekati Aiden. Ia meraih helm cadangan yang disodorkan Aiden. "Pagi juga, sayang. Bukan bete, aku hanya mengantuk berat," jawab Valerie singkat.

Ia tidak mungkin menceritakan petualangan gilanya di kamar 120 semalam.

Valerie naik ke kursi penumpang dan berpegangan pada bahu kokoh Aiden. Begitu ia duduk dengan nyaman, ia langsung melingkarkan tangannya di perut Aiden dan menyandarkan kepalanya di punggung pria itu, mencari posisi paling nyaman untuk memejamkan mata sejenak.

Aiden sempat ingin bertanya lebih jauh—penasaran mengapa Valerie bisa sekelelahan itu—namun melihat Valerie yang sudah bersandar manja, ia mengurungkan niatnya. Ia mengusap lembut tangan Valerie yang melingkar di perutnya sebelum menarik gas perlahan menuju Kampus Arthemis.

Motor sport Aiden menderu pelan saat memasuki gerbang megah Kampus Arthemis. Arsitektur bangunannya yang modern dan elit menjadi simbol prestige di ibukota; tempat di mana masa depan para anak pejabat dan pewaris tahta pengusaha dirancang.

Di antara kerumunan kendaraan mewah lainnya, kehadiran Aiden dan Valerie tetap menjadi pusat perhatian.

Aiden, yang merupakan senior di sana, masih ingat betul bagaimana jantungnya berdebar saat pertama kali melihat Valerie di masa orientasi.

Bagi Aiden, Valerie bukan sekadar mahasiswi baru yang cantik. Ada aura pemberani dan sifat cuek yang justru terlihat sangat berkelas di matanya.

Keangkuhan Valerie yang alami bukanlah sesuatu yang menyebalkan, melainkan sebuah tantangan yang membuatnya terpikat setengah mati hingga akhirnya berhasil menjadikan gadis itu kekasihnya.

Begitu motor berhenti di area parkir khusus, beberapa pasang mata langsung melirik ke arah mereka. Hubungan Aiden dan Valerie sudah menjadi rahasia umum yang memicu rasa iri sekaligus segan.

Aiden memang sangat protektif; tatapan tajamnya seolah memberi peringatan kepada siapa pun yang mencoba mendekati Valerie.

Sejauh ini, tidak ada satu pun mahasiswa yang cukup nekat untuk mencari masalah dengan sang ketua klub bergengsi itu hanya untuk sekadar menyapa Valerie.

"Sudah sampai, Sayang," bisik Aiden lembut sambil menoleh ke belakang, menyadari Valerie masih setia bersandar di punggungnya.

Valerie perlahan membuka matanya, mencoba mengumpulkan kesadarannya yang masih tertinggal di bantal apartemen.

Aiden mematikan mesin motornya, lalu segera menyusul Valerie yang baru saja turun. Tanpa banyak bicara, Aiden langsung meraih jemari mungil Valerie, menautkan jari mereka dengan erat, dan menuntun gadis itu menuju gedung fakultasnya.

Valerie hanya mengikuti dengan langkah yang masih agak malas, sesekali matanya terpejam sekejap untuk menghalau rasa kantuk yang membandel.

Aiden menghentikan langkahnya sebentar, menatap wajah Valerie dengan dahi berkerut cemas. Ia tidak tega melihat kekasihnya yang biasanya bersemangat kini terlihat sangat lesu.

"Sayang, kalau kamu memang sengantuk itu, tidur saja lagi di apartemen. Tidak usah masuk kelas dulu, ya?" saran Aiden lembut, suaranya penuh perhatian.

Valerie menggeleng pelan, mencoba menegakkan punggungnya. Sifat perfeksionis dan totalitasnya tidak mengizinkan dia untuk kalah oleh rasa kantuk. "Aku baik-baik saja, Aiden. Aku tidak akan membolos hanya karena kurang tidur," jawabnya tegas, meski suaranya terdengar sedikit parau.

Aiden hanya bisa tersenyum tipis mendengar jawaban itu. Itulah Valerie yang ia kenal—gadis kesayangannya yang tidak pernah mau terlihat lemah.

Saat mereka tiba di depan ruang kelas Valerie, Aiden melepaskan genggaman tangannya. "Masuklah. Yang semangat ya belajarnya. Oh iya, jam istirahat nanti temui aku di markas, ya?" ucap Aiden sambil mengacak rambut Valerie dengan gemas.

"Aiden! Berantakan tahu!" Valerie memanyunkan bibirnya, mencoba merapikan kembali rambutnya yang sedikit kacau akibat ulah gemas kekasihnya itu. Pemandangan itu justru membuat Aiden tertawa pelan.

"Baiklah, sampai nanti," sahut Valerie akhirnya, memberikan lambaian tangan kecil sebelum melangkah masuk ke dalam kelas.

Valerie segera menuju bangku favoritnya dan duduk. Ia berniat mengambil buku catatan dari dalam tasnya, dan mencoba fokus meski saat ini rasanya ia ingin menghilang dari ruangan itu dan melanjutkan tidurnya.

Episodes
1 Chapter 1
2 Chapter 2
3 Chapter 3
4 Chapter 4
5 Chapter 5
6 Chapter 6
7 Chapter 7
8 Chapter 8
9 Chapter 9
10 Chapter 10
11 Chapter 11
12 Chapter 12
13 Chapter 13
14 Chapter 14
15 Chapter 15
16 Chapter 16
17 Chapter 17
18 Chapter 18
19 Chapter 19
20 Chapter 20
21 Chapter 21
22 Chapter 22
23 Chapter 23
24 Chapter 24
25 Chapter 25
26 Chapter 26
27 Chapter 27
28 Chapter 28
29 Chapter 29
30 Chapter 30
31 Chapter 31
32 Chapter 32
33 Chapter 33
34 Chapter 34
35 Chapter 35
36 Chapter 36
37 Chapter 37
38 Chapter 38
39 Chapter 39
40 Chapter 40
41 Chapter 41
42 Chapter 42
43 Chapter 43
44 Chapter 44
45 Chapter 45
46 Chapter 46
47 Chapter 47
48 Chapter 48
49 Chapter 49
50 Chapter 50
51 Chapter 51
52 Chapter 52
53 Chapter 53
54 Chapter 54
55 Chapter 55
56 Chapter 56
57 Chapter 57
58 Chapter 58
59 Chapter 59
60 Chapter 60
61 Chapter 61
62 Chapter 62
63 Chapter 63
64 Chapter 64
65 Chapter 65
66 Chapter 66
67 Chapter 67
68 Chapter 68
69 Chapter 69
70 Chapter 70
71 Chapter 71
72 Chapter 72
73 Chapter 73
74 Chapter 74
75 Chapter 75
76 Chapter 76
77 Chapter 77
78 Chapter 78
79 Chapter 79
80 Chapter 80
81 Chapter 81
82 Chapter 82
83 Chapter 83
84 Chapter 84
85 Bab 85
86 Chapter 86
87 Chapter 87
88 Chapter 88
89 Chapter 89
90 Chapter 90
91 Chapter 91
92 Chapter 92
93 Chapter 93
94 Chapter 94
95 Chapter 95
96 Chapter 96
97 Chapter 97
98 Chapter 98
99 Chapter 99
100 chapter 100
101 Chapter 101
102 Chapter 102
103 Chapter 103
Episodes

Updated 103 Episodes

1
Chapter 1
2
Chapter 2
3
Chapter 3
4
Chapter 4
5
Chapter 5
6
Chapter 6
7
Chapter 7
8
Chapter 8
9
Chapter 9
10
Chapter 10
11
Chapter 11
12
Chapter 12
13
Chapter 13
14
Chapter 14
15
Chapter 15
16
Chapter 16
17
Chapter 17
18
Chapter 18
19
Chapter 19
20
Chapter 20
21
Chapter 21
22
Chapter 22
23
Chapter 23
24
Chapter 24
25
Chapter 25
26
Chapter 26
27
Chapter 27
28
Chapter 28
29
Chapter 29
30
Chapter 30
31
Chapter 31
32
Chapter 32
33
Chapter 33
34
Chapter 34
35
Chapter 35
36
Chapter 36
37
Chapter 37
38
Chapter 38
39
Chapter 39
40
Chapter 40
41
Chapter 41
42
Chapter 42
43
Chapter 43
44
Chapter 44
45
Chapter 45
46
Chapter 46
47
Chapter 47
48
Chapter 48
49
Chapter 49
50
Chapter 50
51
Chapter 51
52
Chapter 52
53
Chapter 53
54
Chapter 54
55
Chapter 55
56
Chapter 56
57
Chapter 57
58
Chapter 58
59
Chapter 59
60
Chapter 60
61
Chapter 61
62
Chapter 62
63
Chapter 63
64
Chapter 64
65
Chapter 65
66
Chapter 66
67
Chapter 67
68
Chapter 68
69
Chapter 69
70
Chapter 70
71
Chapter 71
72
Chapter 72
73
Chapter 73
74
Chapter 74
75
Chapter 75
76
Chapter 76
77
Chapter 77
78
Chapter 78
79
Chapter 79
80
Chapter 80
81
Chapter 81
82
Chapter 82
83
Chapter 83
84
Chapter 84
85
Bab 85
86
Chapter 86
87
Chapter 87
88
Chapter 88
89
Chapter 89
90
Chapter 90
91
Chapter 91
92
Chapter 92
93
Chapter 93
94
Chapter 94
95
Chapter 95
96
Chapter 96
97
Chapter 97
98
Chapter 98
99
Chapter 99
100
chapter 100
101
Chapter 101
102
Chapter 102
103
Chapter 103

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!