Chapter 3

Valerie menarik napas panjang saat taksi meninggalkan pelataran hotel bintang tiga yang nampak sederhana itu. Dengan tenaga yang tersisa, ia memapah tubuh pria asing yang terasa semakin berat dan panas menuju meja resepsionis.

Setelah proses administrasi yang singkat, mereka akhirnya sampai di depan kamar bernomor 120.

Begitu pintu terbuka, Valerie menuntun pria itu masuk dan merebahkannya di atas single bed yang untungnya berukuran cukup besar.

Namun, saat Valerie hendak berdiri untuk menjauh, sebuah tarikan kuat di lengannya membuat ia kehilangan keseimbangan.

"A-akh!"

Tubuh ramping Valerie terhuyung dan jatuh tepat di atas dada bidang pria itu. Untuk sesaat, waktu seolah berhenti. Valerie bisa merasakan detak jantung pria itu yang berpacu liar, seirama dengan miliknya yang kini sudah tidak karuan.

Mata cokelat pria itu menatapnya dengan lapar, sebuah tatapan predator yang sudah kehilangan akal sehat akibat pengaruh obat.

Di bawah sana, Valerie merasakan sesuatu yang mengeras—sebuah tanda bahwa pria ini sudah berada di ambang batas pertahanannya.

Valerie menelan ludah, mencoba menguasai kegugupan yang luar biasa. Bagaimanapun, ini adalah pertama kalinya ia berada dalam posisi seintim ini dengan seorang pria.

Namun, otaknya yang encer segera mengambil alih. Ia tidak boleh kalah.

"Tunggu dulu..." bisik Valerie dengan suara yang dibuat sedayu dan menggoda mungkin tepat di depan wajah pria itu. "Aku haus sekali. Biarkan aku minum sebentar, setelah itu aku akan kembali padamu."

Ia memberikan senyum tipis yang memikat. "Sambil menungguku, kenapa kau tidak buka dulu bajumu? Hmm?"

Pria yang kesadarannya sudah hampir habis itu hanya bisa mengangguk pasrah. "Cepatlah kembali... aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi," gumamnya dengan suara serak.

Valerie bangkit dengan perlahan, merasakan hembusan napas lega saat cengkeraman pria itu terlepas. Ia melangkah menuju nakas di pojok ruangan, tempat dua botol air mineral disediakan oleh pihak hotel.

Di belakangnya, terdengar suara gesekan kain saat pria itu mulai menanggalkan pakaiannya satu per satu, memperlihatkan otot-otot tubuhnya yang kokoh di bawah cahaya lampu kamar yang temaram.

Sementara itu, tangan Valerie bergerak cepat membuka bungkusan obat tidur dari apotek tadi, siap untuk mencampurkannya ke dalam botol air mineral.

Pemandangan di atas kasur itu sungguh menguji pertahanan Valerie. Cahaya lampu kamar yang remang menyoroti lekuk otot perut pria itu yang sempurna, berpadu dengan kulit yang sedikit berkeringat.

Valerie tertegun, pandangannya sempat terkunci pada bagian bawah yang tampak begitu menonjol di balik boxer ketat pria itu.

"Sial, pria ini sangat menggoda," gumam Valerie dalam hati. Ia menggigit bibir bawahnya, merasakan desiran aneh yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Namun, Valerie adalah gadis yang logis. Ia segera menggeleng pelan, mengusir pikiran kotor yang mulai merayap, dan kembali fokus pada misinya.

Ia meletakkan tas selempang mahalnya di atas nakas dengan anggun, lalu duduk di tepi ranjang, tepat di samping pria yang kini menatapnya dengan pandangan yang semakin menggelap.

"Nampaknya kau juga kehausan, kan? Minumlah dulu," ucap Valerie dengan nada lembut yang menenangkan, sambil menyodorkan botol air mineral yang sudah "diracik" tadi.

Pria itu berusaha bangkit untuk duduk, meski gerakannya tampak agak berat. Ia menatap Valerie sejenak, ada binar terima kasih di matanya yang sayu. "Terima kasih... aku memang sangat haus," suaranya terdengar sangat parau.

Tanpa curiga sedikit pun, pria itu menerima botol tersebut. Ia meneguknya dengan rakus, seolah air itu adalah satu-satunya hal yang bisa mendinginkan suhu tubuhnya yang membara. Valerie memperhatikan jakun pria itu yang naik turun saat menelan air sampai tetes terakhir.

Tandas.

Valerie menghela napas panjang dalam hati. Umpannya sudah dimakan. Sekarang, ia hanya perlu menunggu beberapa saat sampai obat tidur dosis tinggi itu bekerja dan menumbangkan sang predator yang ada di depannya.

"Sekarang... kemarilah," gumam pria itu pelan setelah meletakkan botol kosong ke lantai, sambil kembali merentangkan tangannya ke arah Valerie.

Valerie menahan napas, menghitung detik demi detik di dalam kepalanya. Ia berharap obat tidur dosis tinggi itu segera menyerang sistem saraf sang pria sebelum situasi ini melangkah terlalu jauh.

Namun, untuk sekarang, ia harus benar-benar totalitas dalam perannya. Jika ia menolak terlalu keras, pria ini mungkin akan curiga.

Valerie merangkak naik ke atas kasur, memposisikan dirinya lebih rapat. Tanpa menunggu aba-aba, pria itu seolah mendapatkan tambahan energi terakhirnya. Ia mendorong tubuh Valerie hingga gadis itu jatuh terlentang di atas sprei putih yang dingin.

"Akh—"

Pria itu langsung menindihnya, mengunci kedua pergelangan tangan Valerie di atas kepala dengan satu tangan yang terasa seperti borgol besi.

Detik berikutnya, ia langsung melumat bibir Valerie dengan penuh gairah yang tak tertahankan. Valerie memejamkan mata rapat-rapat, mencoba tetap tenang dan bersabar di tengah badai ciuman yang menghantamnya.

Dari bibir, pria itu mulai turun, membenamkan wajahnya di ceruk leher jenjang Valerie. Deru napas panasnya membakar kulit Valerie, sementara kecupan-kecupan basah itu membuat jantung Valerie seakan sedang berdisko dengan irama yang kacau.

Valerie tercekat. Rasa asing yang menggelitik sekaligus mengintimidasi ini hampir membuatnya kehilangan kendali. Kedua tangannya meremas sprei hotel dengan kuat, mencoba mencari pegangan agar kewarasannya tidak ikut tenggelam dalam permainan yang ia buat sendiri.

"Sebentar lagi... sebentar lagi dia akan tumbang," batin Valerie menyemangati dirinya sendiri, meski tubuhnya gemetar hebat di bawah kuasa pria misterius itu.

Tiba-tiba, gerakan pria itu mulai melambat. Ciumannya di leher Valerie tidak lagi seintens tadi.

Kepalanya terasa semakin berat di bahu Valerie, dan deru napasnya yang semula memburu perlahan berubah menjadi hembusan napas yang panjang dan dalam.

Rencana Valerie berhasil! Pria itu mulai kehilangan kesadarannya tepat di atas tubuh Valerie.

Suasana kamar yang tadinya panas dan penuh gejolak seketika berubah sunyi, hanya menyisakan suara detak jam dinding dan deru napas teratur dari pria yang kini sudah terlelap total.

Kepala pria itu terkulai lemas di atas kasur, tepat di posisi Valerie berbaring tadi. Obat tidur dosis tinggi itu rupanya bekerja tepat pada waktunya.

Valerie menahan napas sejenak, memastikan pria di sampingnya tidak akan terbangun dalam waktu dekat.

Tubuhnya terasa pegal karena harus menahan bobot tubuh pria yang jauh lebih besar darinya. Dengan sekuat tenaga, ia menyikut dan menggeser tubuh pria itu hingga benar-benar telentang di atas sprei.

Bruk.

Begitu berhasil membebaskan diri, Valerie segera bangkit dan duduk di tepi ranjang. Ia menghembuskan napas dengan kasar, mencoba membuang sisa-sisa ketegangan yang masih menyangkut di dadanya.

"Gila... benar-benar gila," gumam Valerie sambil merapikan gaunnya yang sedikit berantakan.

Ia menyeka lehernya yang masih terasa basah dan panas akibat ciuman pria tadi. Jantungnya masih berdegup lebih kencang dari biasanya.

Valerie menoleh, menatap sosok yang kini nampak tak berdaya itu. Jika tidak ingat betapa berbahayanya situasi tadi, mungkin Valerie akan mengagumi betapa damainya wajah pria tampan itu saat sedang tidur.

Namun, naluri kewaspadaannya kini mengalahkan rasa terpesonanya.

Ia tidak mungkin membiarkan pria misterius ini tanpa tahu dia siapa dengan mudah merenggut kesuciannya—

Dia juga bahkan tidak tahu kenapa pria ini sedang dikejar-kejar segrombolan orang asing dan saat ini berakhir dengan obat perangsang.

Episodes
1 Chapter 1
2 Chapter 2
3 Chapter 3
4 Chapter 4
5 Chapter 5
6 Chapter 6
7 Chapter 7
8 Chapter 8
9 Chapter 9
10 Chapter 10
11 Chapter 11
12 Chapter 12
13 Chapter 13
14 Chapter 14
15 Chapter 15
16 Chapter 16
17 Chapter 17
18 Chapter 18
19 Chapter 19
20 Chapter 20
21 Chapter 21
22 Chapter 22
23 Chapter 23
24 Chapter 24
25 Chapter 25
26 Chapter 26
27 Chapter 27
28 Chapter 28
29 Chapter 29
30 Chapter 30
31 Chapter 31
32 Chapter 32
33 Chapter 33
34 Chapter 34
35 Chapter 35
36 Chapter 36
37 Chapter 37
38 Chapter 38
39 Chapter 39
40 Chapter 40
41 Chapter 41
42 Chapter 42
43 Chapter 43
44 Chapter 44
45 Chapter 45
46 Chapter 46
47 Chapter 47
48 Chapter 48
49 Chapter 49
50 Chapter 50
51 Chapter 51
52 Chapter 52
53 Chapter 53
54 Chapter 54
55 Chapter 55
56 Chapter 56
57 Chapter 57
58 Chapter 58
59 Chapter 59
60 Chapter 60
61 Chapter 61
62 Chapter 62
63 Chapter 63
64 Chapter 64
65 Chapter 65
66 Chapter 66
67 Chapter 67
68 Chapter 68
69 Chapter 69
70 Chapter 70
71 Chapter 71
72 Chapter 72
73 Chapter 73
74 Chapter 74
75 Chapter 75
76 Chapter 76
77 Chapter 77
78 Chapter 78
79 Chapter 79
80 Chapter 80
81 Chapter 81
82 Chapter 82
83 Chapter 83
84 Chapter 84
85 Bab 85
86 Chapter 86
87 Chapter 87
88 Chapter 88
89 Chapter 89
90 Chapter 90
91 Chapter 91
92 Chapter 92
93 Chapter 93
94 Chapter 94
95 Chapter 95
96 Chapter 96
97 Chapter 97
98 Chapter 98
99 Chapter 99
100 chapter 100
101 Chapter 101
102 Chapter 102
103 Chapter 103
Episodes

Updated 103 Episodes

1
Chapter 1
2
Chapter 2
3
Chapter 3
4
Chapter 4
5
Chapter 5
6
Chapter 6
7
Chapter 7
8
Chapter 8
9
Chapter 9
10
Chapter 10
11
Chapter 11
12
Chapter 12
13
Chapter 13
14
Chapter 14
15
Chapter 15
16
Chapter 16
17
Chapter 17
18
Chapter 18
19
Chapter 19
20
Chapter 20
21
Chapter 21
22
Chapter 22
23
Chapter 23
24
Chapter 24
25
Chapter 25
26
Chapter 26
27
Chapter 27
28
Chapter 28
29
Chapter 29
30
Chapter 30
31
Chapter 31
32
Chapter 32
33
Chapter 33
34
Chapter 34
35
Chapter 35
36
Chapter 36
37
Chapter 37
38
Chapter 38
39
Chapter 39
40
Chapter 40
41
Chapter 41
42
Chapter 42
43
Chapter 43
44
Chapter 44
45
Chapter 45
46
Chapter 46
47
Chapter 47
48
Chapter 48
49
Chapter 49
50
Chapter 50
51
Chapter 51
52
Chapter 52
53
Chapter 53
54
Chapter 54
55
Chapter 55
56
Chapter 56
57
Chapter 57
58
Chapter 58
59
Chapter 59
60
Chapter 60
61
Chapter 61
62
Chapter 62
63
Chapter 63
64
Chapter 64
65
Chapter 65
66
Chapter 66
67
Chapter 67
68
Chapter 68
69
Chapter 69
70
Chapter 70
71
Chapter 71
72
Chapter 72
73
Chapter 73
74
Chapter 74
75
Chapter 75
76
Chapter 76
77
Chapter 77
78
Chapter 78
79
Chapter 79
80
Chapter 80
81
Chapter 81
82
Chapter 82
83
Chapter 83
84
Chapter 84
85
Bab 85
86
Chapter 86
87
Chapter 87
88
Chapter 88
89
Chapter 89
90
Chapter 90
91
Chapter 91
92
Chapter 92
93
Chapter 93
94
Chapter 94
95
Chapter 95
96
Chapter 96
97
Chapter 97
98
Chapter 98
99
Chapter 99
100
chapter 100
101
Chapter 101
102
Chapter 102
103
Chapter 103

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!