My Possessiv Damian

My Possessiv Damian

Chapter 1

Dentum musik techno dari dalam klub perlahan memudar, digantikan oleh kesunyian udara malam yang menusuk kulit. Valerie melangkah keluar dengan kepala yang terasa sedikit mengambang.

Gaun selutut tanpa lengan yang melekat di tubuhnya tampak kontras dengan aspal jalanan yang gelap, namun ia tetap berusaha menjaga punggungnya tetap tegak.

Malam ini adalah pesta penyambutan mahasiswi baru, dan sebagai mahasiswi yang baru saja menginjakkan kaki di dunia kampus, dia pun ikut serta dalam perayaan itu.

Begitu kesadarannya mulai terasa tipis akibat beberapa gelas cocktail, Valerie tahu kapan harus berhenti. ia langsung memutuskan untuk angkat kaki dari ruangan itu, yang di penuhi para mahasiswa baru yang sebagian sudah teler.

Ia terlalu pintar untuk membiarkan dirinya menjadi sasaran empuk pria-pria hidung belang di dalam sana.

"Gila, kalau aku pingsan di dalam, bisa habis aku diterkam mereka," gumamnya pelan sambil bergidik ngeri.

Valerie mendengus kesal saat melirik jam tangan mewahnya. Sudah pukul dua belas malam. Ia berdiri di pinggir jalan, berusaha memindai keberadaan taksi, namun jalanan di depan klub itu tampak mati. Hanya ada beberapa kendaraan pribadi yang melintas cepat.

Kakinya mulai terasa pegal. Heels setinggi 7 sentimeter yang ia kenakan memang membuatnya tampak jenjang dan berkelas, tapi berjalan sempoyongan dengan sepatu itu bukanlah ide yang bagus.

"Ck, kenapa susah sekali cari taksi di sini?"

Valerie teringat sesuatu. Di samping gedung klub ini, ada sebuah gang yang berfungsi sebagai jalan pintas menuju jalan raya utama di sisi lain. Setahunya, jalan di seberang sana jauh lebih ramai dan peluang mendapatkan taksi akan lebih besar.

Meski kepalanya masih berputar, keberaniannya tidak luntur. Ia memutar arah menuju jalan tikus tersebut. Ia hanya ingin cepat sampai di apartemen, melempar sepatu mahalnya, dan tidur.

Tanpa ragu, Valerie melangkah masuk ke dalam kegelapan jalan pintas itu, tidak menyadari apa yang mungkin menunggunya di balik bayang-bayang tembok tua di sana.

Langkah kaki Valerie yang mengenakan heels terdengar bergema di antara dinding beton jalan tikus yang sempit itu. Suaranya seolah menjadi satu-satunya tanda kehidupan di sana.

Ia melangkah dengan harap-harap cemas, sesekali memegang dinding untuk menjaga keseimbangan.

"Jangan sampai ketemu orang mabuk.." bisiknya merapal doa dalam hati.

Tiba-tiba, rasa pening menghantam kepalanya lebih keras dari sebelumnya. Pandangan Valerie mengabur, membuat garis-garis dinding di sekitarnya tampak bergoyang.

Ia terpaksa berhenti sejenak, memejamkan mata rapat-rapat, dan menarik napas dalam-dalam untuk menormalkan penglihatannya.

Saat ia kembali membuka mata, jantungnya seakan merosot ke perut.

Di pertengahan jalan yang hanya diterangi satu lampu redup yang berkedip-kedip, Valerie menangkap sebuah bayangan. Ada siluet tubuh yang bersandar santai di tembok gedung.

Valerie mematung. Ia mengucek matanya dengan kasar, memastikan apakah alkohol tadi membuatnya berhalusinasi.

"Itu... manusia atau hantu?" pikirnya dengan bulu kuduk yang mulai meremang.

Logikanya berperang hebat. Haruskah ia berbalik arah dan kembali ke depan klub yang sepi, atau terus maju? Ujung jalan raya yang lebih ramai sudah terlihat di depan sana, hanya tinggal beberapa belas meter lagi.

Valerie menegakkan bahu, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya, lalu melangkah perlahan mendekati siluet tersebut.

Semakin dekat, ia mulai menyadari bahwa itu adalah sosok seorang pria dewasa. Postur tubuhnya tegap, namun wajahnya masih tertutup bayangan kegelapan lorong.

Pria itu diam tak bergerak, seolah-olah memang sedang menunggu seseorang—atau mungkin hanya sedang menikmati kesunyian malam dengan cara yang sangat mencurigakan.

Valerie menahan napas, berusaha melewati pria itu tanpa kontak mata, meski rasa penasaran dan waspadanya mencapai puncak.

Langkah Valerie melambat. Meski kepalanya masih terasa berat, instingnya menangkap ada sesuatu yang tidak beres dengan pria itu. Alih-alih lari menjauh, sisi kemanusiaan—dan mungkin sedikit sifat keras kepalanya—mendorong Valerie untuk memastikan keadaan pria misterius itu.

"Permisi... Anda baik-baik saja?" tanya Valerie pelan sambil memberanikan diri menepuk pundak pria itu.

Detik berikutnya, segalanya terjadi begitu cepat.

Pria itu tersentak hebat, napasnya terdengar memburu dan berat, seperti seseorang yang sedang menahan rasa sakit atau emosi yang meluap. Begitu menyadari sosok Valerie berdiri di dekatnya, pria itu bergerak secepat kilat.

Sebelum Valerie sempat bereaksi, tangan kokoh pria itu sudah menarik lengannya dan mendorong tubuh ramping Valerie ke dinding beton yang dingin.

Brak!

Sentakan itu begitu keras hingga rasa pusing akibat cocktail yang dirasakan Valerie menguap seketika, digantikan oleh adrenalin yang memuncak. Matanya terbelalak lebar, jantungnya berdegup kencang hingga terasa ingin melompat keluar.

"Hei! Apa yang kau laku—"

Kalimat Valerie terputus di udara. Sebuah tangan besar yang hangat langsung membekap mulutnya dengan rapat, meredam teriakan yang hampir lolos dari bibirnya.

Tidak berhenti di situ, pria itu semakin menghimpit tubuh Valerie, menindihnya hingga tidak ada celah di antara mereka.

Dalam jarak sedekat itu, Valerie bisa merasakan panas tubuh pria itu dan deru napasnya yang tidak beraturan tepat di telinganya.

Aroma maskulin yang tajam bercampur dengan sesuatu yang misterius menusuk indra penciuman Valerie, membuatnya mematung dalam dekapan yang terasa sangat mengintimidasi sekaligus menyesakkan.

Valerie mencoba memberontak, namun kekuatan pria ini jauh di atasnya. Di lorong yang remang-remang itu, ia hanya bisa menatap tajam ke arah pria misterius yang kini telah mengunci pergerakannya.

"Ssst... jangan berisik," bisik pria itu tepat di telinga Valerie. Suara berat dan seraknya mengirimkan getaran dingin yang membuat bulu kuduk Valerie meremang seketika.

Valerie terpaku, matanya masih membulat sempurna, menatap bayangan pria di depannya dengan penuh tanda tanya. Apa-apaan ini? Siapa dia? Pikirannya berputar mencoba mencerna situasi yang mendadak berubah menjadi film aksi ini.

Tak lama kemudian, terdengar suara langkah sepatu bot yang berat dari ujung lorong. Beberapa pria berpakaian serba hitam muncul, bergerak taktis seperti sedang memburu seseorang.

Mereka berpencar, dan dua di antaranya mulai melangkah masuk ke dalam lorong gelap tempat Valerie dan pria misterius itu bersembunyi.

Saat kedua pria asing itu semakin mendekat, pria yang masih menghimpit tubuh Valerie itu kembali berbisik. Kali ini suaranya terdengar lebih rendah, hampir seperti gumaman putus asa.

"Maaf..."

Valerie mengerutkan kening. Maaf? Untuk apa dia meminta maaf—

Belum sempat logika Valerie menjawab, tangan besar yang membekap mulutnya terlepas. Namun, sebelum Valerie sempat menarik napas untuk berteriak, pria itu langsung membungkam bibirnya dengan sebuah ciuman yang dalam dan menuntut.

Valerie terkejut bukan main. Tubuhnya menegang, ia mencoba meronta dan mendorong dada bidang pria itu, namun tenaganya kalah telak.

Pria itu justru semakin menekan tubuh Valerie ke dinding, memperdalam lumatannya seolah mereka adalah sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara di tengah kegelapan malam.

Di sudut matanya yang masih terbuka karena syok, Valerie melihat dua orang asing tadi berhenti hanya beberapa meter dari posisi mereka. Kedua orang itu tampak mondar-mandir sejenak, memperhatikan sekeliling dengan waspada.

Namun, melihat "sepasang kekasih" yang sedang asyik berciuman panas di pojok lorong, mereka mendengus dan mengalihkan pandangan.

Merasa orang yang mereka cari tidak ada di sana, kedua pria itu akhirnya berbalik dan kembali ke ujung jalan raya untuk bergabung dengan kelompok mereka yang lain.

Suasana kembali sunyi, hanya menyisakan deru napas yang saling beradu di antara Valerie dan pria misterius yang masih belum melepaskan pagutannya.

Terpopuler

Comments

@RearthaZ

@RearthaZ

awalan cerita yang bagus kak

2026-03-21

0

lihat semua
Episodes
1 Chapter 1
2 Chapter 2
3 Chapter 3
4 Chapter 4
5 Chapter 5
6 Chapter 6
7 Chapter 7
8 Chapter 8
9 Chapter 9
10 Chapter 10
11 Chapter 11
12 Chapter 12
13 Chapter 13
14 Chapter 14
15 Chapter 15
16 Chapter 16
17 Chapter 17
18 Chapter 18
19 Chapter 19
20 Chapter 20
21 Chapter 21
22 Chapter 22
23 Chapter 23
24 Chapter 24
25 Chapter 25
26 Chapter 26
27 Chapter 27
28 Chapter 28
29 Chapter 29
30 Chapter 30
31 Chapter 31
32 Chapter 32
33 Chapter 33
34 Chapter 34
35 Chapter 35
36 Chapter 36
37 Chapter 37
38 Chapter 38
39 Chapter 39
40 Chapter 40
41 Chapter 41
42 Chapter 42
43 Chapter 43
44 Chapter 44
45 Chapter 45
46 Chapter 46
47 Chapter 47
48 Chapter 48
49 Chapter 49
50 Chapter 50
51 Chapter 51
52 Chapter 52
53 Chapter 53
54 Chapter 54
55 Chapter 55
56 Chapter 56
57 Chapter 57
58 Chapter 58
59 Chapter 59
60 Chapter 60
61 Chapter 61
62 Chapter 62
63 Chapter 63
64 Chapter 64
65 Chapter 65
66 Chapter 66
67 Chapter 67
68 Chapter 68
69 Chapter 69
70 Chapter 70
71 Chapter 71
72 Chapter 72
73 Chapter 73
74 Chapter 74
75 Chapter 75
76 Chapter 76
77 Chapter 77
78 Chapter 78
79 Chapter 79
80 Chapter 80
81 Chapter 81
82 Chapter 82
83 Chapter 83
84 Chapter 84
85 Bab 85
86 Chapter 86
87 Chapter 87
88 Chapter 88
89 Chapter 89
90 Chapter 90
91 Chapter 91
92 Chapter 92
93 Chapter 93
94 Chapter 94
95 Chapter 95
96 Chapter 96
97 Chapter 97
98 Chapter 98
99 Chapter 99
100 chapter 100
101 Chapter 101
102 Chapter 102
103 Chapter 103
Episodes

Updated 103 Episodes

1
Chapter 1
2
Chapter 2
3
Chapter 3
4
Chapter 4
5
Chapter 5
6
Chapter 6
7
Chapter 7
8
Chapter 8
9
Chapter 9
10
Chapter 10
11
Chapter 11
12
Chapter 12
13
Chapter 13
14
Chapter 14
15
Chapter 15
16
Chapter 16
17
Chapter 17
18
Chapter 18
19
Chapter 19
20
Chapter 20
21
Chapter 21
22
Chapter 22
23
Chapter 23
24
Chapter 24
25
Chapter 25
26
Chapter 26
27
Chapter 27
28
Chapter 28
29
Chapter 29
30
Chapter 30
31
Chapter 31
32
Chapter 32
33
Chapter 33
34
Chapter 34
35
Chapter 35
36
Chapter 36
37
Chapter 37
38
Chapter 38
39
Chapter 39
40
Chapter 40
41
Chapter 41
42
Chapter 42
43
Chapter 43
44
Chapter 44
45
Chapter 45
46
Chapter 46
47
Chapter 47
48
Chapter 48
49
Chapter 49
50
Chapter 50
51
Chapter 51
52
Chapter 52
53
Chapter 53
54
Chapter 54
55
Chapter 55
56
Chapter 56
57
Chapter 57
58
Chapter 58
59
Chapter 59
60
Chapter 60
61
Chapter 61
62
Chapter 62
63
Chapter 63
64
Chapter 64
65
Chapter 65
66
Chapter 66
67
Chapter 67
68
Chapter 68
69
Chapter 69
70
Chapter 70
71
Chapter 71
72
Chapter 72
73
Chapter 73
74
Chapter 74
75
Chapter 75
76
Chapter 76
77
Chapter 77
78
Chapter 78
79
Chapter 79
80
Chapter 80
81
Chapter 81
82
Chapter 82
83
Chapter 83
84
Chapter 84
85
Bab 85
86
Chapter 86
87
Chapter 87
88
Chapter 88
89
Chapter 89
90
Chapter 90
91
Chapter 91
92
Chapter 92
93
Chapter 93
94
Chapter 94
95
Chapter 95
96
Chapter 96
97
Chapter 97
98
Chapter 98
99
Chapter 99
100
chapter 100
101
Chapter 101
102
Chapter 102
103
Chapter 103

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!