Wulan tidak pernah melihat Joko seperti ini.
Selama tujuh belas tahun, pria itu selalu tenang, berbicara dengan nada terkendali, menjaga sikap di depan siapa pun. Bahkan ketika marah, ia tidak pernah kehilangan bentuknya. Namun sekarang, semua itu runtuh hanya karena selembar foto.
Joko merampas foto itu dengan kasar, lalu segera merapikannya dengan hati-hati. Tangannya bergerak perlahan, menghaluskan lipatan yang tadi terbentuk saat Wulan menggenggamnya terlalu kuat. Gerakannya lembut, penuh perhatian, seolah benda itu jauh lebih berharga daripada apa pun di ruangan itu.
Wulan memperhatikan setiap detail.
Cara Joko menatap foto itu.
Cara ia mengusap permukaannya.
Cara ia memastikan tidak ada kerusakan yang tersisa.
Perlakuan itu terasa seperti pisau yang menembus dadanya tanpa suara.
“Kenapa?” suara Wulan akhirnya pecah. Tidak lagi tertahan. “Kenapa kamu lakukan ini padaku?”
Ia melangkah maju, suaranya semakin keras, napasnya tidak teratur. “Tujuh belas tahun, Joko! Tujuh belas tahun aku hidup seperti orang bodoh!”
Joko tidak langsung menjawab. Ia masih memegang foto itu, matanya turun sebentar sebelum akhirnya mengangkat kepala. Ada sesuatu yang melintas di matanya—rasa bersalah, mungkin. Tapi juga ada hal lain yang lebih dingin, lebih tajam.
Ketidaksabaran.
Ia mengalihkan pandangan sejenak, seolah sedang menimbang sesuatu. Dalam kepalanya, perhitungan berjalan cepat. Posisi di rumah sakit. Penilaian jabatan. Reputasi yang selama ini ia jaga.
Masalah ini tidak boleh keluar.
Tidak boleh membesar.
Tidak boleh sampai orang lain tahu.
Tanpa berkata apa-apa, ia menyelipkan foto itu ke dalam laci meja, menutupnya dengan cepat. Lalu ia berjalan ke pintu, menutupnya rapat, memastikan tidak ada celah suara keluar ke koridor.
Baru setelah itu, ia kembali mendekati Wulan.
Ia menurunkan tubuhnya perlahan, berjongkok di depan istrinya, lalu meraih bahu Wulan dan menariknya ke dalam pelukan.
Gerakannya tiba-tiba berubah lembut.
“Sudah,” katanya pelan, mencoba menurunkan suasana. “Itu cuma masa lalu.”
Wulan tidak membalas pelukan itu. Tubuhnya kaku.
“Itu dulu sekali,” lanjut Joko. “Aku dan Siti... itu waktu kami masih muda. Sekarang sudah tidak ada apa-apa. Kami hanya teman biasa.”
Wulan menatap kosong ke depan, tidak berkedip.
“Teman biasa?” ulangnya pelan.
Ia menarik tubuhnya mundur, melepaskan diri dari pelukan Joko.
Kalimat itu terdengar terlalu ringan. Terlalu rapi. Tidak cocok dengan apa yang ia lihat di foto itu.
“Kalau cuma teman,” katanya, menatap langsung ke mata Joko, “kenapa ada Arif di foto itu?”
Joko terdiam.
Hanya beberapa detik, tetapi cukup untuk mengubah segalanya.
Wulan melihat jeda itu. Melihat keraguan yang tidak bisa disembunyikan sepenuhnya.
“Arif itu siapa?” desaknya. “Jawab aku.”
Joko menarik napas dalam. Wajahnya mengeras sedikit demi sedikit, seolah memutuskan untuk tidak lagi menghindar.
“Itu anakku,” katanya akhirnya.
Ruangan menjadi sunyi.
Tidak ada suara lain.
Wulan tidak bergerak. Kata-kata itu masuk ke telinganya dengan jelas, tetapi butuh waktu untuk benar-benar sampai ke pikirannya.
“Anakmu...” ia mengulang perlahan. “Dengan siapa?”
Joko tidak menjawab.
Wulan tertawa pelan, kali ini lebih pahit.
“Dengan Siti, ya?”
Joko menutup mata sejenak, lalu membukanya lagi.
“Ya.”
Jawaban itu pendek. Tidak berusaha membela diri. Tidak berusaha memperhalus.
Seperti fakta yang tidak perlu diperdebatkan.
Tubuh Wulan goyah sedikit. Ia mundur satu langkah, lalu berhenti.
“Jadi... selama ini...” suaranya melemah. “Aku membesarkan anakmu dengan dia?”
Joko menghela napas, lalu berdiri. Sikapnya berubah lagi—tidak lagi mencoba menenangkan, melainkan mulai defensif.
“Kamu tidak perlu membesar-besarkan,” katanya. “Arif tetap anak kita sekarang.”
“Bukan!” Wulan menggeleng keras. “Dia anakmu dengan perempuan lain!”
Joko menatapnya tajam.
“Lalu kamu mau apa?” balasnya, nada suaranya mulai naik. “Kamu mau aku buang dia?”
Wulan terdiam.
Pertanyaan itu datang tiba-tiba, memotong arah pikirannya.
“Aku—”
“Selama ini siapa yang tidak bisa punya anak?” potong Joko cepat.
Kalimat itu jatuh seperti pukulan.
Wulan membeku.
Joko melangkah lebih dekat, suaranya semakin keras, semakin tajam.
“Kamu!” katanya. “Kamu yang tidak bisa melahirkan!”
Setiap kata diucapkan dengan jelas, tanpa ragu.
“Aku sudah coba sabar. Aku sudah lindungi kamu dari omongan keluargaku. Aku yang bilang tidak masalah kalau kita tidak punya anak!” lanjutnya. “Tapi kenyataannya? Kita tetap butuh anak!”
Wulan tidak bisa menjawab.
Dadanya terasa sesak.
“Arif datang ke rumah ini bukan untuk menyakiti kamu,” kata Joko, kini dengan nada yang seolah logis. “Itu solusi. Solusi untuk kita berdua.”
“Solusi?” suara Wulan hampir tidak terdengar.
“Kalau waktu itu aku bilang yang sebenarnya, kamu pikir kamu masih mau menikah denganku?” tanya Joko balik. “Kamu sudah dalam keadaan seperti itu. Kamu butuh jalan keluar.”
Ia berhenti sejenak, menatap Wulan dengan mata dingin.
“Aku juga.”
Kalimat itu menggantung di udara.
“Jadi kamu bohong?” tanya Wulan.
Joko tidak menjawab langsung.
“Aku hanya tidak bilang semuanya,” katanya akhirnya.
Wulan menutup mata.
“Dan kamu pikir itu tidak apa-apa?”
Joko mengangkat bahu sedikit.
“Aku melakukan ini untuk menjaga semuanya tetap berjalan,” jawabnya. “Termasuk kamu.”
Wulan tertawa lagi. Kali ini tidak ada suara.
Kata-kata itu masuk ke dalam pikirannya, berputar tanpa henti.
Dia tidak bisa melahirkan.
Itu fakta.
Selama ini ia selalu merasa bersalah karena itu.
Selalu merasa kurang.
Selalu merasa harus membayar dengan kerja keras, dengan kesabaran, dengan pengorbanan.
Dan sekarang—
Semua kesalahan itu seperti dilemparkan kembali kepadanya.
Seolah semua yang terjadi adalah akibat dari kekurangannya sendiri.
Wulan membuka mata perlahan. Pandangannya kosong.
“Aku yang salah...” gumamnya pelan.
Joko tidak membantah.
Ia hanya berdiri diam, membiarkan kalimat itu mengendap.
Di luar, suara langkah kaki mulai terdengar di koridor. Tetangga-tetangga mulai bangun, aktivitas pagi dimulai. Beberapa suara bisik terdengar samar, jelas menyadari bahwa sesuatu terjadi di dalam unit itu.
Namun pintu tetap tertutup.
Beberapa menit kemudian, Wulan bergerak.
Ia tidak menangis lagi. Tidak berteriak. Ia hanya berjalan keluar kamar, menuju dapur.
Kompor sudah dingin. Bubur yang tadi meluap mengering di panci.
Tanpa berkata apa-apa, ia mengambil bahan lain. Tepung, air, daun bawang. Tangannya mulai bekerja lagi, mencampur adonan, menguleni, membentuk.
Gerakannya stabil.
Seolah tidak ada yang terjadi.
Di koridor sempit, beberapa tetangga sudah berkumpul, berpura-pura melakukan hal lain sambil mencuri dengar. Begitu Wulan muncul dengan wajan dan adonan, mereka langsung diam, tetapi mata mereka tetap mengikuti setiap gerakan.
Salah satu dari mereka, Nenek Sumiati, mendekat dengan langkah pelan.
“Wulan, kamu tidak apa-apa?” tanyanya dengan nada penuh perhatian yang dibuat-buat.
Namun matanya tidak melihat wajah Wulan.
Matanya tertuju pada wajan.
Aroma roti goreng bawang mulai menyebar, menggoda.
Wulan tidak menjawab pertanyaan itu.
Ia hanya melanjutkan pekerjaannya, membalik adonan di atas wajan panas. Minyak berdesis, suara itu mengisi keheningan yang canggung.
Beberapa detik berlalu.
Wulan mengambil dua potong roti goreng yang sudah matang, membungkusnya dengan kertas, lalu menyerahkannya kepada Nenek Sumiati.
“Ini,” katanya singkat.
Nenek Sumiati tersenyum lebar, segera menerimanya.
“Ah, kamu memang baik sekali,” katanya cepat, lalu berbalik pergi tanpa bertanya lagi.
Kerumunan kecil itu perlahan bubar.
Wulan kembali masuk ke dalam rumah, membawa sisa makanan.
Joko sudah duduk di meja, seolah tidak ada yang berubah. Ia mengambil piring, mulai makan tanpa banyak bicara.
Beberapa menit berlalu dalam diam.
“Ada yang dengar tadi?” tanya Joko tiba-tiba.
Wulan menggeleng pelan.
Ia tidak mengatakan apa pun kepada siapa pun.
Tidak tentang foto.
Tidak tentang Arif.
Tidak tentang Siti.
Joko menghela napas panjang, jelas lega.
“Bagus,” katanya singkat.
Ia melanjutkan makan, lalu setelah selesai, berdiri dan merapikan bajunya.
“Kita tidak perlu membahas ini lagi,” tambahnya, nada suaranya kembali tenang seperti biasa. “Jaga rumah seperti biasa.”
Tanpa menunggu jawaban, ia berjalan menuju kamar utama dan menutup pintu.
Suara itu terdengar lebih keras dari biasanya.
Wulan tetap duduk di kursinya.
Tangannya terdiam di atas meja.
Ia menatap pintu yang baru saja tertutup.
Untuk pertama kalinya, pikirannya tidak lagi dipenuhi oleh rasa bersalah saja.
Ada sesuatu yang lain mulai muncul.
Sebuah pertanyaan yang selama ini tidak pernah ia berani pikirkan.
Ia dan Joko sudah tidak tidur satu kamar selama enam atau tujuh tahun terakhir.
Alasannya selalu sederhana—jadwal kerja, kelelahan, kebiasaan.
Wulan tidak pernah mempertanyakannya.
Ia menganggap itu hal yang wajar.
Namun sekarang, ketika ia memikirkan kembali—
Joko adalah pria yang sehat.
Pria normal.
Namun selama bertahun-tahun, ia tidak pernah sekalipun mencoba mendekatinya sebagai suami.
Tidak pernah.
Pikiran itu muncul perlahan, tetapi tidak bisa dihentikan.
Wulan menunduk, menatap tangannya sendiri.
Ada sesuatu yang salah.
Dan mungkin, itu sudah salah sejak lama.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 120 Episodes
Comments
Tamirah
Dia Hanya memanfaatkan mu sebagai babu anaknya,buat apa dipertahankan tinggal kan rumah itu cari kehidupan yg lebih baik.Sesama wanita bila diperlakukan spt itu jelas ngenes.
2026-05-27
0
Dewiendahsetiowati
buang aja itu suami durhakim
2026-04-05
0