Episode 2

Wulan tidak pernah melihat Joko seperti ini.

Selama tujuh belas tahun, pria itu selalu tenang, berbicara dengan nada terkendali, menjaga sikap di depan siapa pun. Bahkan ketika marah, ia tidak pernah kehilangan bentuknya. Namun sekarang, semua itu runtuh hanya karena selembar foto.

Joko merampas foto itu dengan kasar, lalu segera merapikannya dengan hati-hati. Tangannya bergerak perlahan, menghaluskan lipatan yang tadi terbentuk saat Wulan menggenggamnya terlalu kuat. Gerakannya lembut, penuh perhatian, seolah benda itu jauh lebih berharga daripada apa pun di ruangan itu.

Wulan memperhatikan setiap detail.

Cara Joko menatap foto itu.

Cara ia mengusap permukaannya.

Cara ia memastikan tidak ada kerusakan yang tersisa.

Perlakuan itu terasa seperti pisau yang menembus dadanya tanpa suara.

“Kenapa?” suara Wulan akhirnya pecah. Tidak lagi tertahan. “Kenapa kamu lakukan ini padaku?”

Ia melangkah maju, suaranya semakin keras, napasnya tidak teratur. “Tujuh belas tahun, Joko! Tujuh belas tahun aku hidup seperti orang bodoh!”

Joko tidak langsung menjawab. Ia masih memegang foto itu, matanya turun sebentar sebelum akhirnya mengangkat kepala. Ada sesuatu yang melintas di matanya—rasa bersalah, mungkin. Tapi juga ada hal lain yang lebih dingin, lebih tajam.

Ketidaksabaran.

Ia mengalihkan pandangan sejenak, seolah sedang menimbang sesuatu. Dalam kepalanya, perhitungan berjalan cepat. Posisi di rumah sakit. Penilaian jabatan. Reputasi yang selama ini ia jaga.

Masalah ini tidak boleh keluar.

Tidak boleh membesar.

Tidak boleh sampai orang lain tahu.

Tanpa berkata apa-apa, ia menyelipkan foto itu ke dalam laci meja, menutupnya dengan cepat. Lalu ia berjalan ke pintu, menutupnya rapat, memastikan tidak ada celah suara keluar ke koridor.

Baru setelah itu, ia kembali mendekati Wulan.

Ia menurunkan tubuhnya perlahan, berjongkok di depan istrinya, lalu meraih bahu Wulan dan menariknya ke dalam pelukan.

Gerakannya tiba-tiba berubah lembut.

“Sudah,” katanya pelan, mencoba menurunkan suasana. “Itu cuma masa lalu.”

Wulan tidak membalas pelukan itu. Tubuhnya kaku.

“Itu dulu sekali,” lanjut Joko. “Aku dan Siti... itu waktu kami masih muda. Sekarang sudah tidak ada apa-apa. Kami hanya teman biasa.”

Wulan menatap kosong ke depan, tidak berkedip.

“Teman biasa?” ulangnya pelan.

Ia menarik tubuhnya mundur, melepaskan diri dari pelukan Joko.

Kalimat itu terdengar terlalu ringan. Terlalu rapi. Tidak cocok dengan apa yang ia lihat di foto itu.

“Kalau cuma teman,” katanya, menatap langsung ke mata Joko, “kenapa ada Arif di foto itu?”

Joko terdiam.

Hanya beberapa detik, tetapi cukup untuk mengubah segalanya.

Wulan melihat jeda itu. Melihat keraguan yang tidak bisa disembunyikan sepenuhnya.

“Arif itu siapa?” desaknya. “Jawab aku.”

Joko menarik napas dalam. Wajahnya mengeras sedikit demi sedikit, seolah memutuskan untuk tidak lagi menghindar.

“Itu anakku,” katanya akhirnya.

Ruangan menjadi sunyi.

Tidak ada suara lain.

Wulan tidak bergerak. Kata-kata itu masuk ke telinganya dengan jelas, tetapi butuh waktu untuk benar-benar sampai ke pikirannya.

“Anakmu...” ia mengulang perlahan. “Dengan siapa?”

Joko tidak menjawab.

Wulan tertawa pelan, kali ini lebih pahit.

“Dengan Siti, ya?”

Joko menutup mata sejenak, lalu membukanya lagi.

“Ya.”

Jawaban itu pendek. Tidak berusaha membela diri. Tidak berusaha memperhalus.

Seperti fakta yang tidak perlu diperdebatkan.

Tubuh Wulan goyah sedikit. Ia mundur satu langkah, lalu berhenti.

“Jadi... selama ini...” suaranya melemah. “Aku membesarkan anakmu dengan dia?”

Joko menghela napas, lalu berdiri. Sikapnya berubah lagi—tidak lagi mencoba menenangkan, melainkan mulai defensif.

“Kamu tidak perlu membesar-besarkan,” katanya. “Arif tetap anak kita sekarang.”

“Bukan!” Wulan menggeleng keras. “Dia anakmu dengan perempuan lain!”

Joko menatapnya tajam.

“Lalu kamu mau apa?” balasnya, nada suaranya mulai naik. “Kamu mau aku buang dia?”

Wulan terdiam.

Pertanyaan itu datang tiba-tiba, memotong arah pikirannya.

“Aku—”

“Selama ini siapa yang tidak bisa punya anak?” potong Joko cepat.

Kalimat itu jatuh seperti pukulan.

Wulan membeku.

Joko melangkah lebih dekat, suaranya semakin keras, semakin tajam.

“Kamu!” katanya. “Kamu yang tidak bisa melahirkan!”

Setiap kata diucapkan dengan jelas, tanpa ragu.

“Aku sudah coba sabar. Aku sudah lindungi kamu dari omongan keluargaku. Aku yang bilang tidak masalah kalau kita tidak punya anak!” lanjutnya. “Tapi kenyataannya? Kita tetap butuh anak!”

Wulan tidak bisa menjawab.

Dadanya terasa sesak.

“Arif datang ke rumah ini bukan untuk menyakiti kamu,” kata Joko, kini dengan nada yang seolah logis. “Itu solusi. Solusi untuk kita berdua.”

“Solusi?” suara Wulan hampir tidak terdengar.

“Kalau waktu itu aku bilang yang sebenarnya, kamu pikir kamu masih mau menikah denganku?” tanya Joko balik. “Kamu sudah dalam keadaan seperti itu. Kamu butuh jalan keluar.”

Ia berhenti sejenak, menatap Wulan dengan mata dingin.

“Aku juga.”

Kalimat itu menggantung di udara.

“Jadi kamu bohong?” tanya Wulan.

Joko tidak menjawab langsung.

“Aku hanya tidak bilang semuanya,” katanya akhirnya.

Wulan menutup mata.

“Dan kamu pikir itu tidak apa-apa?”

Joko mengangkat bahu sedikit.

“Aku melakukan ini untuk menjaga semuanya tetap berjalan,” jawabnya. “Termasuk kamu.”

Wulan tertawa lagi. Kali ini tidak ada suara.

Kata-kata itu masuk ke dalam pikirannya, berputar tanpa henti.

Dia tidak bisa melahirkan.

Itu fakta.

Selama ini ia selalu merasa bersalah karena itu.

Selalu merasa kurang.

Selalu merasa harus membayar dengan kerja keras, dengan kesabaran, dengan pengorbanan.

Dan sekarang—

Semua kesalahan itu seperti dilemparkan kembali kepadanya.

Seolah semua yang terjadi adalah akibat dari kekurangannya sendiri.

Wulan membuka mata perlahan. Pandangannya kosong.

“Aku yang salah...” gumamnya pelan.

Joko tidak membantah.

Ia hanya berdiri diam, membiarkan kalimat itu mengendap.

Di luar, suara langkah kaki mulai terdengar di koridor. Tetangga-tetangga mulai bangun, aktivitas pagi dimulai. Beberapa suara bisik terdengar samar, jelas menyadari bahwa sesuatu terjadi di dalam unit itu.

Namun pintu tetap tertutup.

Beberapa menit kemudian, Wulan bergerak.

Ia tidak menangis lagi. Tidak berteriak. Ia hanya berjalan keluar kamar, menuju dapur.

Kompor sudah dingin. Bubur yang tadi meluap mengering di panci.

Tanpa berkata apa-apa, ia mengambil bahan lain. Tepung, air, daun bawang. Tangannya mulai bekerja lagi, mencampur adonan, menguleni, membentuk.

Gerakannya stabil.

Seolah tidak ada yang terjadi.

Di koridor sempit, beberapa tetangga sudah berkumpul, berpura-pura melakukan hal lain sambil mencuri dengar. Begitu Wulan muncul dengan wajan dan adonan, mereka langsung diam, tetapi mata mereka tetap mengikuti setiap gerakan.

Salah satu dari mereka, Nenek Sumiati, mendekat dengan langkah pelan.

“Wulan, kamu tidak apa-apa?” tanyanya dengan nada penuh perhatian yang dibuat-buat.

Namun matanya tidak melihat wajah Wulan.

Matanya tertuju pada wajan.

Aroma roti goreng bawang mulai menyebar, menggoda.

Wulan tidak menjawab pertanyaan itu.

Ia hanya melanjutkan pekerjaannya, membalik adonan di atas wajan panas. Minyak berdesis, suara itu mengisi keheningan yang canggung.

Beberapa detik berlalu.

Wulan mengambil dua potong roti goreng yang sudah matang, membungkusnya dengan kertas, lalu menyerahkannya kepada Nenek Sumiati.

“Ini,” katanya singkat.

Nenek Sumiati tersenyum lebar, segera menerimanya.

“Ah, kamu memang baik sekali,” katanya cepat, lalu berbalik pergi tanpa bertanya lagi.

Kerumunan kecil itu perlahan bubar.

Wulan kembali masuk ke dalam rumah, membawa sisa makanan.

Joko sudah duduk di meja, seolah tidak ada yang berubah. Ia mengambil piring, mulai makan tanpa banyak bicara.

Beberapa menit berlalu dalam diam.

“Ada yang dengar tadi?” tanya Joko tiba-tiba.

Wulan menggeleng pelan.

Ia tidak mengatakan apa pun kepada siapa pun.

Tidak tentang foto.

Tidak tentang Arif.

Tidak tentang Siti.

Joko menghela napas panjang, jelas lega.

“Bagus,” katanya singkat.

Ia melanjutkan makan, lalu setelah selesai, berdiri dan merapikan bajunya.

“Kita tidak perlu membahas ini lagi,” tambahnya, nada suaranya kembali tenang seperti biasa. “Jaga rumah seperti biasa.”

Tanpa menunggu jawaban, ia berjalan menuju kamar utama dan menutup pintu.

Suara itu terdengar lebih keras dari biasanya.

Wulan tetap duduk di kursinya.

Tangannya terdiam di atas meja.

Ia menatap pintu yang baru saja tertutup.

Untuk pertama kalinya, pikirannya tidak lagi dipenuhi oleh rasa bersalah saja.

Ada sesuatu yang lain mulai muncul.

Sebuah pertanyaan yang selama ini tidak pernah ia berani pikirkan.

Ia dan Joko sudah tidak tidur satu kamar selama enam atau tujuh tahun terakhir.

Alasannya selalu sederhana—jadwal kerja, kelelahan, kebiasaan.

Wulan tidak pernah mempertanyakannya.

Ia menganggap itu hal yang wajar.

Namun sekarang, ketika ia memikirkan kembali—

Joko adalah pria yang sehat.

Pria normal.

Namun selama bertahun-tahun, ia tidak pernah sekalipun mencoba mendekatinya sebagai suami.

Tidak pernah.

Pikiran itu muncul perlahan, tetapi tidak bisa dihentikan.

Wulan menunduk, menatap tangannya sendiri.

Ada sesuatu yang salah.

Dan mungkin, itu sudah salah sejak lama.

Terpopuler

Comments

Tamirah

Tamirah

Dia Hanya memanfaatkan mu sebagai babu anaknya,buat apa dipertahankan tinggal kan rumah itu cari kehidupan yg lebih baik.Sesama wanita bila diperlakukan spt itu jelas ngenes.

2026-05-27

0

Dewiendahsetiowati

Dewiendahsetiowati

buang aja itu suami durhakim

2026-04-05

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
Episodes

Updated 120 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!