Episode 4

Jeep militer itu masih berhenti di tengah jalan. Suasana tegang belum benar-benar mereda ketika pria berseragam yang baru turun itu berdiri tegak di samping kendaraan.

Pengemudi yang tadi berteriak langsung berubah sikap.

“Sersan Joko, siap!” katanya sambil memberi hormat cepat. Suaranya tidak lagi kasar, melainkan penuh disiplin. “Maaf, Pak! Situasi mendadak, wanita ini tiba-tiba masuk ke jalan—”

“Cukup.”

Perintah itu tidak keras, tetapi langsung memotong kalimatnya.

Pria itu—Mayor Andika Pratama—tidak menoleh ke arah Sersan Joko. Alisnya sedikit berkerut, jelas tidak tertarik pada penjelasan yang bertele-tele. Ia melangkah melewati depan jeep, langsung menuju Wulan yang masih duduk di aspal.

Langkahnya mantap.

Tidak tergesa, tetapi juga tidak lambat.

Ia berhenti di depan Wulan, menatapnya sejenak untuk memastikan kondisinya.

“Kamu bisa dengar saya?” tanyanya singkat.

Wulan berkedip, mencoba fokus. Dunia di sekitarnya perlahan kembali jelas.

“Iya...” jawabnya pelan.

“Terlanggar di mana?” tanya Andika lagi.

Wulan menggeleng. “Tidak... hanya kaget...”

Andika menatapnya beberapa detik lagi, memastikan tidak ada luka serius yang terlihat.

“Mau ke rumah sakit?” tanyanya.

Wulan kembali menggeleng.

“Bisa berdiri?” lanjutnya.

Pertanyaan itu membuat Wulan terdiam sejenak. Ia mencoba menggerakkan kakinya, lalu menumpu tubuhnya untuk bangkit.

Namun begitu ia memberi tekanan, lututnya langsung lemas.

Ia jatuh kembali, tangannya menahan tubuh di tanah.

Wajahnya langsung memerah.

Ia mencoba lagi.

Gagal.

Kakinya tidak mau menopang tubuhnya. Rasa takut yang tadi menahan napasnya kini berubah menjadi sisa getaran yang belum hilang dari ototnya.

Rina berdiri tidak jauh, terlihat panik tetapi tidak tahu harus berbuat apa.

Wulan menggertakkan gigi, mencoba sekali lagi.

Tetap tidak berhasil.

Ia menunduk, merasa malu.

Tanpa berkata apa-apa, Andika mengulurkan tangan.

Gerakannya sederhana, tanpa banyak gestur.

Wulan menatap tangan itu sejenak, ragu sepersekian detik, lalu akhirnya meraihnya.

Dalam satu tarikan, Andika mengangkatnya berdiri.

Tidak ada usaha berlebihan. Tidak ada goyangan. Seolah tubuh Wulan yang cukup besar itu tidak memberi beban berarti.

Wulan terkejut.

Ia berdiri tegak sebelum sempat menyadari apa yang terjadi.

Tangannya masih berada dalam genggaman Andika selama satu detik, lalu dilepas begitu ia benar-benar stabil.

Andika mundur setengah langkah, memberi jarak.

“Bisa berdiri?” tanyanya lagi.

Wulan mengangguk cepat. “Bisa.”

Andika memperhatikan posturnya beberapa detik. Tidak ada tanda ia akan jatuh lagi.

Ia mengangguk sekali.

“Baik.”

Tanpa menambahkan kata lain, ia berbalik.

“Sersan,” panggilnya singkat.

“Siap, Pak!”

“Jalan.”

“Siap!”

Sersan Joko segera kembali ke kursi pengemudi. Andika naik ke bagian belakang jeep tanpa melihat lagi ke arah Wulan.

Mesin dinyalakan.

Kendaraan itu bergerak pergi, meninggalkan suara mesin yang perlahan menjauh.

Wulan tetap berdiri di tempat.

Napasnya sudah lebih teratur sekarang, tetapi jantungnya masih berdetak cepat.

Ia menatap ke arah jeep yang semakin kecil di kejauhan.

Di tengah kekacauan pagi itu—

Ada satu hal yang terasa jelas.

Pria itu tidak banyak bicara.

Tidak menunjukkan emosi berlebihan.

Tetapi tindakannya tepat.

Langsung.

Tanpa kepentingan lain.

Wulan menunduk sedikit.

“Dia orang baik...” gumamnya pelan.

Rina mendekat. “Kamu benar-benar tidak apa-apa?”

Wulan mengangguk.

“Aku harus pulang,” kata Rina cepat. “Aku belum masak. Kalau aku terlambat—”

Ia tidak melanjutkan kalimatnya.

Wulan mengerti.

“Pergilah,” katanya pelan.

Rina ragu sebentar, lalu akhirnya pergi dengan langkah cepat.

Wulan berdiri sendiri di pinggir jalan.

Beberapa detik berlalu sebelum ia mulai berjalan pulang.

Langkahnya lebih lambat sekarang.

Lebih berat.

Pintu rumah terbuka.

Joko sudah ada di dalam.

Ia menoleh sekilas ketika melihat Wulan masuk, lalu kembali ke kursinya seolah tidak ada yang penting.

“Kamu dari mana?” tanyanya datar.

Wulan tidak langsung menjawab. Ia meletakkan barangnya, lalu berdiri di dekat meja.

Joko mendecak pelan.

“Masih mau diam saja?” katanya. “Masih soal tadi pagi?”

Tidak ada nada menenangkan.

Tidak ada usaha memperbaiki.

Hanya ketidaksabaran.

“Kalau sudah selesai marah, cepat masak,” lanjutnya. “Aku lapar.”

Wulan menatapnya, tetapi tidak berkata apa-apa.

Joko berdiri, mengambil tasnya.

“Oh ya,” katanya seolah baru ingat. “Arif libur hari ini. Dia pulang.”

Langkah Wulan berhenti.

“Masak yang dia suka,” tambah Joko. “Jangan asal.”

Ia berjalan ke pintu tanpa menunggu respon.

“Jangan bikin masalah lagi,” katanya sebelum keluar.

Pintu tertutup.

Rumah kembali sunyi.

Wulan berdiri di tempatnya beberapa saat.

Kemudian ia bergerak.

Ia berjalan ke pintu depan, memutarnya, lalu menguncinya dari dalam.

Sekali.

Dua kali.

Ia memastikan benar-benar terkunci.

Setelah itu, ia menarik sebuah kursi ke depan lemari besar di kamar utama.

Lemari itu tinggi, hampir menyentuh plafon.

Di bagian atasnya, ada sebuah kotak kayu tua.

Wulan naik ke kursi, lalu menjangkau kotak itu.

Ia menurunkannya perlahan, meletakkannya di lantai.

Kotak itu terkunci.

Dengan kode.

Wulan duduk di depan kotak itu, menatapnya beberapa detik.

Lalu ia mulai mencoba.

Tanggal lahirnya sendiri.

Tidak terbuka.

Tanggal lahir Joko.

Tidak.

Tanggal lahir Arif.

Masih tidak.

Ia berhenti sejenak.

Pikirannya bergerak pelan.

Kemudian, tanpa ekspresi, ia memasukkan angka lain.

Tanggal lahir Siti.

Klik.

Kunci terbuka.

Wulan tidak bergerak selama beberapa detik.

Tangannya masih berada di atas kotak.

Tidak perlu penjelasan lagi.

Ia membuka tutupnya.

Di dalamnya, tersusun beberapa benda.

Foto itu ada di sana.

Diletakkan rapi.

Bukan disembunyikan dengan tergesa.

Disimpan.

Seperti sesuatu yang berharga.

Wulan mengambilnya, melihatnya sekali lagi.

Tidak ada kejutan lagi.

Hanya konfirmasi.

Ia meletakkannya kembali.

Tangannya bergerak ke benda lain.

Sebuah buku tabungan.

Ia membukanya.

Baris demi baris angka terlihat jelas.

Matanya berhenti pada transaksi terakhir.

Penarikan tunai.

Rp 15.000.000.

Saldo tersisa—

Kurang dari Rp 8.000.

Wulan menutup buku itu perlahan.

Tidak ada lagi ruang untuk menyangkal.

Rumah di Dago Heritage.

Siti.

Semua terhubung.

Joko tidak hanya menyimpan kenangan.

Ia masih memberi.

Masih terlibat.

Masih memilih.

Dan pilihan itu bukan dirinya.

Wulan duduk diam di lantai.

Tangannya terkulai.

Semua yang selama ini ia bangun—

Semua yang ia pertahankan—

Tidak pernah benar-benar miliknya.

Air mata akhirnya jatuh.

Diam.

Tanpa suara.

Beberapa menit berlalu.

Atau mungkin lebih.

Wulan tidak menghitung.

Ketika ia akhirnya bergerak, wajahnya sudah kering.

Ia menutup kotak itu, menguncinya kembali, lalu mengembalikannya ke atas lemari.

Kursi didorong kembali ke tempat semula.

Tidak ada jejak.

Seolah tidak ada yang terjadi.

Ia mengambil keranjang, lalu keluar rumah.

Pintu kembali terkunci.

Langkahnya menuju pasar.

Pasar tradisional Kramat sudah ramai.

Suara tawar-menawar, aroma rempah, dan teriakan pedagang bercampur menjadi satu.

Wulan berjalan di antara kerumunan, matanya mencari bahan-bahan yang biasa ia beli.

Pikirannya masih penuh.

Namun satu hal tetap jelas.

Arif pulang hari ini.

Perasaannya terhadap anak itu kini rumit.

Bingung.

Berat.

Namun tangannya tetap memilih bahan terbaik.

Kebiasaan tidak berubah.

Ia tidak bisa berubah secepat itu.

Ketika ia hendak masuk lebih dalam ke pasar, sebuah suara memanggilnya.

“Wulan?”

Ia berhenti.

Menoleh.

Di dekat pintu masuk, seorang wanita berdiri di balik lapak pakaian.

Pakaiannya rapi, modis, berbeda dari kebanyakan pedagang di sana. Rambutnya ditata, wajahnya dirawat dengan baik.

Ia tersenyum.

Seolah sudah lama menunggu momen ini.

Wulan mengernyit sedikit.

Ia mengenal suara itu.

Namun butuh satu detik lebih lama untuk mengenali wajahnya.

Dan ketika ia akhirnya sadar—

Langkahnya berhenti sepenuhnya.

Terpopuler

Comments

Deni Susanti

Deni Susanti

ala alahhh tur terlalu dramatis bahasa nya,,padahal cuman menjelaskan kebodohan Wulan Masi mau bertahan,,,

2026-04-29

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
Episodes

Updated 120 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!