Jeep militer itu masih berhenti di tengah jalan. Suasana tegang belum benar-benar mereda ketika pria berseragam yang baru turun itu berdiri tegak di samping kendaraan.
Pengemudi yang tadi berteriak langsung berubah sikap.
“Sersan Joko, siap!” katanya sambil memberi hormat cepat. Suaranya tidak lagi kasar, melainkan penuh disiplin. “Maaf, Pak! Situasi mendadak, wanita ini tiba-tiba masuk ke jalan—”
“Cukup.”
Perintah itu tidak keras, tetapi langsung memotong kalimatnya.
Pria itu—Mayor Andika Pratama—tidak menoleh ke arah Sersan Joko. Alisnya sedikit berkerut, jelas tidak tertarik pada penjelasan yang bertele-tele. Ia melangkah melewati depan jeep, langsung menuju Wulan yang masih duduk di aspal.
Langkahnya mantap.
Tidak tergesa, tetapi juga tidak lambat.
Ia berhenti di depan Wulan, menatapnya sejenak untuk memastikan kondisinya.
“Kamu bisa dengar saya?” tanyanya singkat.
Wulan berkedip, mencoba fokus. Dunia di sekitarnya perlahan kembali jelas.
“Iya...” jawabnya pelan.
“Terlanggar di mana?” tanya Andika lagi.
Wulan menggeleng. “Tidak... hanya kaget...”
Andika menatapnya beberapa detik lagi, memastikan tidak ada luka serius yang terlihat.
“Mau ke rumah sakit?” tanyanya.
Wulan kembali menggeleng.
“Bisa berdiri?” lanjutnya.
Pertanyaan itu membuat Wulan terdiam sejenak. Ia mencoba menggerakkan kakinya, lalu menumpu tubuhnya untuk bangkit.
Namun begitu ia memberi tekanan, lututnya langsung lemas.
Ia jatuh kembali, tangannya menahan tubuh di tanah.
Wajahnya langsung memerah.
Ia mencoba lagi.
Gagal.
Kakinya tidak mau menopang tubuhnya. Rasa takut yang tadi menahan napasnya kini berubah menjadi sisa getaran yang belum hilang dari ototnya.
Rina berdiri tidak jauh, terlihat panik tetapi tidak tahu harus berbuat apa.
Wulan menggertakkan gigi, mencoba sekali lagi.
Tetap tidak berhasil.
Ia menunduk, merasa malu.
Tanpa berkata apa-apa, Andika mengulurkan tangan.
Gerakannya sederhana, tanpa banyak gestur.
Wulan menatap tangan itu sejenak, ragu sepersekian detik, lalu akhirnya meraihnya.
Dalam satu tarikan, Andika mengangkatnya berdiri.
Tidak ada usaha berlebihan. Tidak ada goyangan. Seolah tubuh Wulan yang cukup besar itu tidak memberi beban berarti.
Wulan terkejut.
Ia berdiri tegak sebelum sempat menyadari apa yang terjadi.
Tangannya masih berada dalam genggaman Andika selama satu detik, lalu dilepas begitu ia benar-benar stabil.
Andika mundur setengah langkah, memberi jarak.
“Bisa berdiri?” tanyanya lagi.
Wulan mengangguk cepat. “Bisa.”
Andika memperhatikan posturnya beberapa detik. Tidak ada tanda ia akan jatuh lagi.
Ia mengangguk sekali.
“Baik.”
Tanpa menambahkan kata lain, ia berbalik.
“Sersan,” panggilnya singkat.
“Siap, Pak!”
“Jalan.”
“Siap!”
Sersan Joko segera kembali ke kursi pengemudi. Andika naik ke bagian belakang jeep tanpa melihat lagi ke arah Wulan.
Mesin dinyalakan.
Kendaraan itu bergerak pergi, meninggalkan suara mesin yang perlahan menjauh.
Wulan tetap berdiri di tempat.
Napasnya sudah lebih teratur sekarang, tetapi jantungnya masih berdetak cepat.
Ia menatap ke arah jeep yang semakin kecil di kejauhan.
Di tengah kekacauan pagi itu—
Ada satu hal yang terasa jelas.
Pria itu tidak banyak bicara.
Tidak menunjukkan emosi berlebihan.
Tetapi tindakannya tepat.
Langsung.
Tanpa kepentingan lain.
Wulan menunduk sedikit.
“Dia orang baik...” gumamnya pelan.
Rina mendekat. “Kamu benar-benar tidak apa-apa?”
Wulan mengangguk.
“Aku harus pulang,” kata Rina cepat. “Aku belum masak. Kalau aku terlambat—”
Ia tidak melanjutkan kalimatnya.
Wulan mengerti.
“Pergilah,” katanya pelan.
Rina ragu sebentar, lalu akhirnya pergi dengan langkah cepat.
Wulan berdiri sendiri di pinggir jalan.
Beberapa detik berlalu sebelum ia mulai berjalan pulang.
Langkahnya lebih lambat sekarang.
Lebih berat.
Pintu rumah terbuka.
Joko sudah ada di dalam.
Ia menoleh sekilas ketika melihat Wulan masuk, lalu kembali ke kursinya seolah tidak ada yang penting.
“Kamu dari mana?” tanyanya datar.
Wulan tidak langsung menjawab. Ia meletakkan barangnya, lalu berdiri di dekat meja.
Joko mendecak pelan.
“Masih mau diam saja?” katanya. “Masih soal tadi pagi?”
Tidak ada nada menenangkan.
Tidak ada usaha memperbaiki.
Hanya ketidaksabaran.
“Kalau sudah selesai marah, cepat masak,” lanjutnya. “Aku lapar.”
Wulan menatapnya, tetapi tidak berkata apa-apa.
Joko berdiri, mengambil tasnya.
“Oh ya,” katanya seolah baru ingat. “Arif libur hari ini. Dia pulang.”
Langkah Wulan berhenti.
“Masak yang dia suka,” tambah Joko. “Jangan asal.”
Ia berjalan ke pintu tanpa menunggu respon.
“Jangan bikin masalah lagi,” katanya sebelum keluar.
Pintu tertutup.
Rumah kembali sunyi.
Wulan berdiri di tempatnya beberapa saat.
Kemudian ia bergerak.
Ia berjalan ke pintu depan, memutarnya, lalu menguncinya dari dalam.
Sekali.
Dua kali.
Ia memastikan benar-benar terkunci.
Setelah itu, ia menarik sebuah kursi ke depan lemari besar di kamar utama.
Lemari itu tinggi, hampir menyentuh plafon.
Di bagian atasnya, ada sebuah kotak kayu tua.
Wulan naik ke kursi, lalu menjangkau kotak itu.
Ia menurunkannya perlahan, meletakkannya di lantai.
Kotak itu terkunci.
Dengan kode.
Wulan duduk di depan kotak itu, menatapnya beberapa detik.
Lalu ia mulai mencoba.
Tanggal lahirnya sendiri.
Tidak terbuka.
Tanggal lahir Joko.
Tidak.
Tanggal lahir Arif.
Masih tidak.
Ia berhenti sejenak.
Pikirannya bergerak pelan.
Kemudian, tanpa ekspresi, ia memasukkan angka lain.
Tanggal lahir Siti.
Klik.
Kunci terbuka.
Wulan tidak bergerak selama beberapa detik.
Tangannya masih berada di atas kotak.
Tidak perlu penjelasan lagi.
Ia membuka tutupnya.
Di dalamnya, tersusun beberapa benda.
Foto itu ada di sana.
Diletakkan rapi.
Bukan disembunyikan dengan tergesa.
Disimpan.
Seperti sesuatu yang berharga.
Wulan mengambilnya, melihatnya sekali lagi.
Tidak ada kejutan lagi.
Hanya konfirmasi.
Ia meletakkannya kembali.
Tangannya bergerak ke benda lain.
Sebuah buku tabungan.
Ia membukanya.
Baris demi baris angka terlihat jelas.
Matanya berhenti pada transaksi terakhir.
Penarikan tunai.
Rp 15.000.000.
Saldo tersisa—
Kurang dari Rp 8.000.
Wulan menutup buku itu perlahan.
Tidak ada lagi ruang untuk menyangkal.
Rumah di Dago Heritage.
Siti.
Semua terhubung.
Joko tidak hanya menyimpan kenangan.
Ia masih memberi.
Masih terlibat.
Masih memilih.
Dan pilihan itu bukan dirinya.
Wulan duduk diam di lantai.
Tangannya terkulai.
Semua yang selama ini ia bangun—
Semua yang ia pertahankan—
Tidak pernah benar-benar miliknya.
Air mata akhirnya jatuh.
Diam.
Tanpa suara.
Beberapa menit berlalu.
Atau mungkin lebih.
Wulan tidak menghitung.
Ketika ia akhirnya bergerak, wajahnya sudah kering.
Ia menutup kotak itu, menguncinya kembali, lalu mengembalikannya ke atas lemari.
Kursi didorong kembali ke tempat semula.
Tidak ada jejak.
Seolah tidak ada yang terjadi.
Ia mengambil keranjang, lalu keluar rumah.
Pintu kembali terkunci.
Langkahnya menuju pasar.
Pasar tradisional Kramat sudah ramai.
Suara tawar-menawar, aroma rempah, dan teriakan pedagang bercampur menjadi satu.
Wulan berjalan di antara kerumunan, matanya mencari bahan-bahan yang biasa ia beli.
Pikirannya masih penuh.
Namun satu hal tetap jelas.
Arif pulang hari ini.
Perasaannya terhadap anak itu kini rumit.
Bingung.
Berat.
Namun tangannya tetap memilih bahan terbaik.
Kebiasaan tidak berubah.
Ia tidak bisa berubah secepat itu.
Ketika ia hendak masuk lebih dalam ke pasar, sebuah suara memanggilnya.
“Wulan?”
Ia berhenti.
Menoleh.
Di dekat pintu masuk, seorang wanita berdiri di balik lapak pakaian.
Pakaiannya rapi, modis, berbeda dari kebanyakan pedagang di sana. Rambutnya ditata, wajahnya dirawat dengan baik.
Ia tersenyum.
Seolah sudah lama menunggu momen ini.
Wulan mengernyit sedikit.
Ia mengenal suara itu.
Namun butuh satu detik lebih lama untuk mengenali wajahnya.
Dan ketika ia akhirnya sadar—
Langkahnya berhenti sepenuhnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 120 Episodes
Comments
Deni Susanti
ala alahhh tur terlalu dramatis bahasa nya,,padahal cuman menjelaskan kebodohan Wulan Masi mau bertahan,,,
2026-04-29
0