Pikiran itu tidak berhenti.
Setelah percakapan pagi itu, setiap potongan kejadian yang selama ini terasa biasa mulai berubah bentuk di kepala Wulan. Joko yang jarang pulang. Joko yang tidak lagi tidur sekamar. Joko yang tidak pernah menyentuhnya selama bertahun-tahun.
Dan sekarang, foto itu.
Siti.
Arif.
Semuanya tersambung menjadi satu garis lurus yang jelas.
Joko tidak pernah benar-benar meninggalkan Siti.
Kesimpulan itu muncul tanpa perlu dipaksakan.
Wulan duduk di meja makan, tetapi tangannya tidak bergerak. Makanan di depannya tetap utuh. Ia menatap kosong, napasnya terasa berat, seolah ada sesuatu yang menekan dadanya dari dalam.
Ia mencoba menarik napas dalam, tetapi tidak cukup.
Dada itu semakin sesak.
Semakin sempit.
Pikirannya berputar semakin cepat, memaksa tubuhnya ikut menegang. Ia berdiri mendadak, kursi bergeser keras ke belakang. Tanpa melihat lagi ke meja, ia mulai membereskan piring dan mangkuk dengan gerakan cepat, hampir kasar.
Air mengalir deras di wastafel. Ia mencuci tanpa benar-benar memperhatikan apa yang sedang ia lakukan. Tangannya bergerak otomatis, tetapi pikirannya tidak ada di sana.
Begitu selesai, ia mengelap tangannya, lalu langsung mengambil kunci.
Ia tidak ingin berada di rumah itu lebih lama.
Tidak satu menit pun.
Pintu terbuka, lalu tertutup di belakangnya tanpa suara.
Udara luar terasa lebih dingin, tetapi juga lebih ringan. Wulan melangkah keluar dari gedung apartemen tua itu tanpa tujuan yang jelas. Kakinya bergerak sendiri, menjauh dari tempat yang baru saja runtuh baginya.
Belum jauh ia berjalan, sebuah suara memanggil namanya.
“Wulan!”
Ia berhenti, menoleh.
Rina Wulandari berdiri beberapa meter darinya.
Namun yang pertama kali dilihat Wulan bukan wajahnya, melainkan air mata yang tidak berhenti mengalir. Rina berjalan cepat mendekat, lalu langsung memeluknya erat sebelum Wulan sempat berkata apa pun.
Tangisnya pecah tanpa kendali.
“Aku tidak tahan lagi...” suaranya tersendat.
Wulan kaku sejenak, lalu perlahan menepuk punggung Rina. “Ada apa?”
Rina mundur sedikit, tetapi tangannya masih mencengkeram lengan Wulan seolah takut kehilangan pegangan.
“Budi...” katanya, napasnya tidak teratur. “Dia pukul aku lagi...”
Wulan tidak terkejut, tetapi tetap diam menunggu.
Rina menarik napas panjang, mencoba bicara lebih jelas.
“Hanya karena aku pakai terlalu banyak sabun cuci,” katanya, suaranya bergetar. “Ibunya lihat, lalu mulai marah-marah. Bilang aku boros, tidak tahu diri...”
Ia mengusap air matanya dengan kasar.
“Aku cuma jawab sedikit. Aku bilang itu tidak seberapa. Tapi dia langsung teriak-teriak, bilang aku tidak sopan, tidak menghormati orang tua... lalu dia... dia pura-pura jatuh, teriak-teriak seolah aku yang dorong dia...”
Wulan menatapnya tanpa berkedip.
“Budi percaya?” tanyanya.
Rina tertawa pahit.
“Dia bukan cuma percaya,” katanya. “Dia suruh aku minta maaf.”
Wulan tidak berkata apa-apa.
“Aku tidak mau,” lanjut Rina. “Aku tahu aku tidak salah. Tapi dia... dia tampar aku... sekali... dua kali...” suaranya mulai pecah lagi. “Lalu dia bilang aku harus keluar dari rumah kalau tidak mau minta maaf.”
Tangannya gemetar.
“Aku keluar... tapi aku tidak tahu harus ke mana.”
Wulan merasakan sesuatu bergerak di dalam dadanya. Bukan hanya karena cerita Rina, tetapi karena kata-kata itu terasa terlalu dekat.
Tidak tahu harus ke mana.
“Kenapa kamu tidak pulang saja ke rumah orang tuamu?” tanya Wulan.
Rina menggeleng keras.
“Aku tidak punya apa-apa,” katanya cepat. “Aku tidak kerja. Tidak punya uang. Selama ini aku cuma di rumah, masak, cuci, bersih-bersih...”
Ia menatap Wulan dengan mata merah.
“Kalau aku tinggalkan Budi, aku hidup dari apa?”
Wulan tidak bisa menjawab.
Pertanyaan itu terlalu berat.
Mereka mulai berjalan tanpa arah. Tidak ada tujuan yang jelas, hanya mengikuti jalan yang terbentang di depan.
Rina masih berbicara, sesekali mengeluh, sesekali terdiam. Sementara Wulan mendengarkan tanpa benar-benar menyerap semua kata.
Pikirannya sendiri sudah terlalu penuh.
Dulu, ia pernah merasa beruntung.
Setidaknya, ia tidak seperti Rina.
Suaminya tidak memukulnya. Tidak mempermalukannya di depan orang lain. Ia punya rumah yang stabil, kehidupan yang terlihat tenang.
Namun sekarang—
Semua itu terasa seperti lelucon.
Tujuh belas tahun kebohongan.
Tujuh belas tahun hidup dalam sesuatu yang tidak pernah nyata.
Dadanya kembali terasa sakit. Bukan sesak seperti tadi, tetapi seperti ditarik dari dalam.
“Wulan,” suara Rina memotong pikirannya. “Kamu itu beruntung, tahu.”
Wulan menoleh sedikit.
“Joko itu baik,” lanjut Rina. “Tidak seperti Budi. Kamu punya hidup yang enak.”
Wulan berhenti berjalan sejenak.
Ia ingin tertawa.
Atau menangis.
Tetapi tidak ada yang keluar.
Ia hanya mengangkat sudut bibirnya sedikit, sesuatu yang bahkan tidak bisa disebut senyuman.
Ia tidak menjawab.
Mereka kembali berjalan.
Beberapa saat kemudian, Rina menunjuk ke arah depan.
“Lihat itu,” katanya.
Wulan mengikuti arah jarinya.
Di kejauhan, berdiri kompleks perumahan yang berbeda dari sekitarnya. Bangunan-bangunan itu lebih baru, lebih besar, tertata rapi dengan pagar tinggi dan jalan yang bersih.
“Dago Heritage,” kata Rina. “Orang kaya semua tinggal di situ.”
Wulan hanya melihat sekilas, tanpa minat.
“Katanya Siti tinggal di sana sekarang,” lanjut Rina, nada suaranya berubah sedikit, seperti sedang berbagi gosip. “Bulan lalu dia beli rumah di situ. Tiga kamar, hampir seratus meter.”
Langkah Wulan terhenti.
“Apa?” suaranya keluar tanpa sadar.
Rina mengangguk.
“Iya. Orang-orang bilang begitu. Hebat ya dia.”
Namun Wulan tidak lagi mendengar kelanjutan kalimat itu.
Siti.
Rumah di Dago Heritage.
Ia tahu pasti berapa penghasilan Siti.
Tidak mungkin.
Tidak masuk akal.
Kecuali—
Pikirannya berhenti di sana, tetapi tubuhnya sudah mulai bereaksi. Dunia di sekitarnya terasa goyah. Suara menjadi jauh. Langkahnya tidak lagi stabil.
Ia terus berjalan tanpa arah, tanpa sadar bahwa ia sudah keluar dari trotoar.
Ke tengah jalan.
Sebuah suara klakson keras memecah udara.
Terlambat.
Sebuah jeep militer melaju cepat ke arahnya. Sopir langsung menginjak rem, ban berdecit keras di aspal.
Wulan membeku di tempat.
Tubuhnya tidak bergerak.
Dalam satu detik itu, semua suara hilang.
Hanya ada satu pikiran yang lewat.
Selesai.
Namun benturan tidak pernah datang.
Jeep berhenti hanya beberapa sentimeter di depannya.
Wulan terjatuh ke belakang, tubuhnya menghantam aspal. Tangannya menahan, tetapi tidak cukup untuk mencegah benturan keras.
Napasnya terputus.
Jantungnya berdetak liar, tidak teratur.
Ia duduk di tanah, tidak bergerak.
Keringat dingin mengalir di punggungnya meski udara pagi masih sejuk.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya—
Ia benar-benar merasakan kematian begitu dekat.
“Gila kamu?!” suara kasar memecah keheningan.
Pengemudi jeep membuka pintu dengan keras, turun dengan wajah penuh amarah. Seragam militernya rapi, tetapi ekspresinya tidak menyisakan kesabaran.
“Kamu mau mati ya?!” bentaknya.
Wulan tidak menjawab.
Ia masih duduk di tanah, napasnya belum stabil.
Pria itu melangkah mendekat, menunjuknya dengan tajam.
“Ini jalan raya! Pakai mata kalau jalan!”
Suaranya semakin keras, menarik perhatian orang-orang di sekitar.
Namun sebelum ia bisa melanjutkan, sebuah suara lain terdengar dari belakang jeep.
“Cukup.”
Nada suaranya tidak keras, tetapi tegas.
Pengemudi itu langsung berhenti.
Pintu belakang jeep terbuka.
Seorang pria turun perlahan.
Seragamnya lebih rapi, pangkat di bahunya menunjukkan posisi yang lebih tinggi. Langkahnya tenang, tetapi setiap gerakannya membawa tekanan yang tidak terlihat.
Ia berdiri di samping jeep, matanya langsung tertuju pada Wulan.
Tatapannya tajam.
Terukur.
Berbeda dari kemarahan kasar pengemudi tadi, pria ini tidak menunjukkan emosi berlebihan.
Namun justru itu yang membuat suasana berubah.
Pengemudi tadi mundur satu langkah, sikapnya langsung menegang.
Wulan masih duduk di tanah, tetapi tanpa sadar ia mengangkat kepala.
Mata mereka bertemu.
Untuk beberapa detik, tidak ada yang berbicara.
Dan untuk pertama kalinya sejak pagi itu—
Pikiran Wulan berhenti berputar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 120 Episodes
Comments