Dicerai Karena Mandul, Menikah Perwira Dapat Tiga Anak

Dicerai Karena Mandul, Menikah Perwira Dapat Tiga Anak

Episode 1

Fajar belum menyentuh langit Bandung pada Maret 1995. Udara dingin merayap melalui celah-celah jendela apartemen tua itu, meresap ke dalam tulang. Wulan Hartati sudah bangun sejak lama. Tangannya cekatan menyalakan kompor minyak yang berderit, meniup api kecil hingga menyala stabil. Tanpa membuang waktu, ia menuangkan beras ke dalam panci, menambahkan air, dan mulai memasak bubur.

Setiap pagi berjalan dengan pola yang sama, tanpa perubahan. Ia tidak pernah menunggu alarm, tubuhnya seakan sudah terlatih oleh kebiasaan bertahun-tahun. Ia harus memastikan sarapan siap sebelum suaminya, Joko Prasetyo, pulang dari shift malam di rumah sakit umum kota. Ia juga harus menyiapkan makanan untuk anak mereka, Arif, sebelum anak itu bangun dan bersiap ke sekolah.

Selama tujuh belas tahun pernikahan, Wulan tidak pernah mengeluh. Ia menyerahkan kamar utama yang luas kepada suaminya dan Arif. Ia sendiri tinggal di ruang sempit yang dipisahkan dari ruang tamu dengan sekat kayu tipis. Ruangan itu bahkan tidak cukup untuk berjalan lurus tanpa menyentuh dinding. Namun ia tetap menjaga kebersihan dan keteraturan, memastikan setiap sudut rumah rapi seperti baru.

Ia mengaduk bubur perlahan, lalu memanfaatkan waktu untuk membersihkan rumah. Kain lap di tangannya bergerak cepat, menghapus debu dari meja, kursi, hingga rak buku di kamar utama. Gerakannya terlatih, efisien, tanpa ragu. Ia tidak pernah berhenti di satu titik terlalu lama.

Ketika ia mengelap rak buku yang penuh dengan buku medis milik Joko, lengannya tanpa sengaja menyenggol beberapa buku yang tersusun tidak rapi. Tumpukan itu jatuh dengan suara pelan, memecah kesunyian pagi. Wulan berhenti sejenak, lalu berjongkok untuk memungut buku-buku itu.

Saat ia mengangkat salah satu buku yang sudah usang, sesuatu terlepas dari sela-sela halaman. Sebuah foto lama jatuh ke lantai.

Wulan memungutnya tanpa berpikir. Foto itu sudah menguning di tepinya, tanda usia yang panjang. Ia memandanginya sekilas, awalnya tanpa emosi. Namun matanya segera berhenti, napasnya tertahan.

Di dalam foto itu, seorang pria muda berdiri dengan wajah yang sangat ia kenal—Joko. Wajahnya lebih segar, senyumnya lebih lepas dibanding sekarang. Di sampingnya, seorang wanita bersandar dengan dekat, hampir melekat. Wanita itu adalah Siti Aminah.

Wulan tidak perlu berpikir untuk mengenalinya. Siti adalah sahabat lamanya, orang yang dulu menjadi perantara pernikahannya dengan Joko.

Namun yang membuat Wulan tidak bisa mengalihkan pandangan bukan hanya kedekatan mereka dalam foto itu. Di pelukan Siti, ada seorang bayi.

Bayi itu tampak berusia beberapa bulan, dibungkus kain tipis. Joko berdiri di samping mereka, tangannya menyentuh bahu Siti dengan cara yang tidak asing, tidak canggung, seolah itu adalah kebiasaan yang sudah lama.

Wulan membalik foto itu dengan tangan gemetar.

Tulisan tangan Joko tertera jelas di belakangnya.

“September 1977. Aku, Siti, dan anak kami, Arif.”

Tangan Wulan berhenti bergerak. Dunia di sekitarnya seakan membeku.

Panci bubur di dapur mulai mendidih lebih keras, tetapi ia tidak mendengarnya. Pikirannya bergerak mundur, menelusuri ingatan yang selama ini ia anggap benar.

Tahun 1977.

Itu adalah tahun yang tidak pernah ia lupakan.

Saat itu, hidupnya berada di titik terendah. Kekasihnya meninggalkannya tanpa penjelasan, keluarganya menekan agar ia menikah dengan pria yang tidak ia kenal—bahkan dikatakan memiliki keterbelakangan mental. Ia tidak punya pilihan, tidak punya tempat untuk lari.

Siti datang pada saat itu.

Siti berbicara dengan tenang, menawarkan solusi yang tampak seperti jalan keluar. Ia memperkenalkan Joko, seorang dokter muda yang stabil, sopan, dan tampak bertanggung jawab. Wulan tidak banyak berpikir. Ia hanya ingin keluar dari situasi itu.

Mereka menikah pada akhir tahun 1977.

Semua terjadi cepat. Terlalu cepat untuk dipertanyakan.

Setelah menikah, kehidupan berjalan seperti yang diharapkan. Joko jarang di rumah karena pekerjaannya, tetapi ia tidak pernah kasar. Ia memenuhi kebutuhan finansial, tidak pernah mengangkat suara tanpa alasan.

Masalah muncul ketika Wulan tidak kunjung hamil.

Bertahun-tahun berlalu tanpa tanda-tanda. Keluarga Joko mulai menunjukkan ketidaksabaran mereka. Sindiran datang secara halus, lalu semakin terang-terangan. Wulan menunduk setiap kali itu terjadi.

Namun Joko selalu membelanya.

Ia berkata tidak masalah jika mereka tidak punya anak. Ia bahkan mengusulkan untuk mengadopsi anak dari “kerabat jauh” yang tidak mampu merawat bayinya.

Wulan menerima tanpa ragu.

Ketika Arif datang ke dalam hidupnya, ia mencurahkan seluruh perasaannya. Ia merawatnya, membesarkannya, mengajarinya berjalan, berbicara, dan membaca. Ia menghabiskan lima belas tahun hidupnya untuk anak itu.

Ia selalu merasa bersalah.

Merasa dirinya tidak cukup sebagai istri karena tidak bisa melahirkan anak. Merasa harus menebus kekurangan itu dengan bekerja lebih keras, melayani lebih baik.

Dan sekarang—

Semua itu runtuh dalam satu detik.

Arif bukan anak adopsi.

Arif adalah anak kandung Joko.

Dan Siti.

Wulan berdiri perlahan. Tubuhnya terasa ringan sekaligus berat. Ia mencoba menarik napas, tetapi dadanya terasa sempit.

Dari dapur, suara bubur meluap terdengar jelas sekarang. Air mendidih meluber ke atas kompor, mengeluarkan bau hangus. Wulan tidak bergerak untuk mematikannya.

Pintu depan terbuka dengan suara kunci diputar.

Joko masuk dengan langkah cepat, masih mengenakan jas dokter yang kusut setelah shift malam. Ia meletakkan tasnya dengan sedikit keras, lalu melihat ke arah dapur.

“Apa yang kamu lakukan? Kenapa sarapan belum siap?” suaranya terdengar kesal, tanpa menyadari apa yang sedang terjadi.

Wulan tidak menjawab.

Ia berdiri di tengah ruang tamu, memegang foto itu.

Joko melangkah mendekat, awalnya masih dengan ekspresi kesal. Namun ketika pandangannya jatuh pada benda di tangan Wulan, wajahnya berubah dalam sekejap.

Ia berhenti.

Mata mereka bertemu.

Dalam satu detik yang sunyi, tidak ada kata yang diucapkan, tetapi segalanya sudah jelas.

Joko bergerak cepat.

Ia meraih foto itu dari tangan Wulan dengan kasar, hampir merobeknya. Gerakannya tegas, tanpa ragu, seolah tindakan itu sudah dipikirkan sebelumnya.

“Kamu ngapain pegang barangku?” suaranya keras, penuh tekanan.

Wulan mundur satu langkah, bukan karena takut, tetapi karena tubuhnya bereaksi lebih cepat dari pikirannya.

“Itu... apa?” suaranya keluar pelan, serak.

Joko tidak menjawab langsung. Ia menyelipkan foto itu ke dalam saku jasnya, lalu menatap Wulan dengan mata tajam.

“Kamu tidak punya hak untuk mengacak-acak barangku,” katanya dingin.

Wulan menatapnya, matanya mulai basah, tetapi tidak ada air mata yang jatuh.

“Arif...” ia berhenti sejenak, mencoba mengumpulkan kata-kata. “Arif itu siapa?”

Joko menghela napas, seperti seseorang yang kesal karena harus menjelaskan sesuatu yang menurutnya tidak perlu.

“Dia anak kita,” jawabnya singkat.

Wulan menggeleng pelan.

“Bukan itu yang tertulis di foto.”

Joko terdiam.

Untuk pertama kalinya sejak ia masuk, ada keraguan kecil di wajahnya. Namun itu hanya berlangsung sesaat. Ia segera mengeraskan ekspresinya kembali.

“Kamu salah paham.”

“Tidak,” potong Wulan, suaranya lebih tegas. “Tulisan itu jelas. Itu tulisanmu.”

Joko melangkah lebih dekat. “Sudah cukup.”

Nada suaranya berubah, bukan lagi sekadar kesal, tetapi mengandung ancaman yang halus.

Wulan tidak mundur kali ini.

“Tujuh belas tahun,” katanya perlahan. “Aku hidup dengan percaya semua yang kamu katakan.”

Joko menatapnya tanpa ekspresi.

“Aku menerima semuanya. Aku menahan semua hinaan dari keluargamu. Aku merawat Arif seperti anakku sendiri.” Suaranya mulai bergetar, tetapi ia tetap berdiri tegak. “Dan sekarang kamu bilang aku salah paham?”

Joko mengalihkan pandangannya sejenak, lalu kembali menatap Wulan.

“Itu masa lalu,” katanya.

Wulan tertawa pelan. Suara itu kering, tanpa emosi.

“Masa lalu?” ia mengulang. “Itu hidupku.”

Tidak ada yang bergerak. Tidak ada suara selain desis kompor dari dapur.

Wulan menatap pria di depannya—pria yang selama ini ia anggap sebagai suami, sebagai tempat bergantung.

Sekarang, ia melihat seseorang yang sama sekali berbeda.

Seseorang yang mampu menyembunyikan kebenaran selama tujuh belas tahun tanpa ragu.

Seseorang yang membiarkannya hidup dalam kebohongan, menanggung rasa bersalah yang bukan miliknya.

Joko berbalik, berjalan menuju kamar utama seolah pembicaraan itu sudah selesai. Ia tidak mencoba menjelaskan, tidak mencoba meminta maaf.

Tindakan itu lebih jelas daripada kata-kata apa pun.

Wulan tetap berdiri di tempatnya.

Api di dapur akhirnya padam sendiri setelah kehabisan bahan bakar. Bau hangus memenuhi ruangan.

Pagi mulai datang perlahan, cahaya redup masuk melalui jendela.

Namun bagi Wulan, tidak ada yang berubah menjadi terang.

Segalanya justru menjadi gelap.

Ia tidak menangis.

Ia tidak berteriak.

Ia hanya berdiri, menyadari bahwa tujuh belas tahun hidupnya telah dibangun di atas kebohongan yang rapi—dan sekarang, semuanya runtuh tanpa suara.

Terpopuler

Comments

Uthie

Uthie

tadinya cerita nya menarik untuk mampir disimak 👍
namun... paling aga gimana gtu kalau rentan waktunya kelamaan 😁
alias tokoh cerita nya secara usia udah aga tua 😁
pingin nya rentan waktu hanya beberapa tahun aja...jadi masih pada muda kalau pun harus ganti pasangan lagiiii 😁🙏🙏🙏

2026-05-06

0

Rahma Lia

Rahma Lia

sepertinya menarik,mampir dl disini

2026-07-29

0

Someone

Someone

hadir tor.. 💪

2026-06-23

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
Episodes

Updated 120 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!