Episode 5

Wulan berdiri di depan pintu masuk pasar Kramat ketika suara itu memanggil namanya sekali lagi, lebih jelas dari sebelumnya.

“Wulan!”

Kali ini ia langsung berhenti.

Ia menoleh perlahan, matanya menyapu deretan lapak, hingga akhirnya berhenti pada seorang wanita di balik meja pakaian.

Wanita itu tersenyum, matanya menyipit sedikit seperti sedang memastikan.

Wulan melangkah mendekat, alisnya sedikit berkerut. Ia merasa mengenal wajah itu, tetapi ingatannya tidak langsung menyambung.

Wanita itu tidak menunggu.

“Kamu benar Wulan, kan?”

Nada suaranya ringan, tetapi penuh kepastian.

Wulan berhenti tepat di depan lapak. Ia menatap lebih lama, memperhatikan garis wajah, cara berdiri, bahkan cara tersenyum.

Lalu sesuatu tersambung.

“Lestari?” suaranya pelan, hampir seperti bertanya pada dirinya sendiri.

Senyum wanita itu melebar.

“Akhirnya kamu ingat juga.”

Wulan tidak langsung bicara.

Perubahan di depan matanya terlalu besar.

Dalam ingatannya, Lestari adalah gadis kecil yang kurus, bahunya sempit, langkahnya ringan karena terlalu sering menahan lapar. Rambutnya selalu diikat seadanya, seragamnya lusuh, dan wajahnya hampir tidak pernah benar-benar cerah.

Ia ingat satu kejadian dengan jelas.

Siang hari, setelah jam pelajaran selesai, ia pernah melihat Lestari duduk di tepi kolam belakang sekolah. Wulan mengira ia sedang bermain, sampai ia melihat Lestari menunduk dan meneguk air kolam dengan tangan.

Hari itu, tanpa banyak bicara, Wulan membagi makan siangnya.

Setengah untuk dirinya.

Setengah untuk Lestari.

Setelah itu, kebiasaan itu berulang.

Tanpa kesepakatan.

Tanpa kata terima kasih berlebihan.

Hanya dilakukan.

Dan selesai.

Namun sekarang—

Wanita di depannya berdiri tegak, tubuhnya sehat, pakaiannya rapi dan mengikuti tren kota. Bahkan cara ia mengatur barang dagangan menunjukkan pengalaman, bukan sekadar mencoba.

“Kamu benar-benar berubah,” kata Wulan akhirnya.

Lestari tertawa kecil.

“Kamu juga. Cuma kamu tidak sadar.”

Wulan tidak menjawab.

Ia sadar perubahan dalam dirinya tidak terlihat dari luar.

Lestari mengambil satu jaket tebal dari gantungan, mengibaskannya sedikit untuk merapikan lipatan.

“Kamu cocok pakai ini,” katanya, lalu langsung menyerahkannya.

Wulan refleks mundur sedikit.

“Tidak perlu—”

“Aku tidak tanya,” potong Lestari ringan, tetapi tegas. “Aku kasih.”

Wulan menggeleng.

“Aku tidak bisa terima gratis.”

Lestari berhenti sebentar, menatapnya.

“Masih sama,” gumamnya.

Ia berpikir sejenak, lalu menghela napas.

“Baik. Kamu bayar harga modal.”

“Berapa?”

“Rp 15.000.”

Wulan langsung mengambil uang dari dompetnya tanpa menawar. Ia menyerahkannya dengan cepat, seolah ingin menjaga batas yang jelas.

Lestari menerima, tetapi tidak berhenti di situ.

Ia mengambil kantong plastik, memasukkan jaket itu, lalu tanpa berkata apa-apa menambahkan tiga pasang kaus kaki.

Wulan melihatnya.

“Aku sudah bayar.”

“Ini bukan baju,” jawab Lestari singkat. “Ini yang aku mau kasih.”

Nada suaranya tidak memberi ruang untuk ditolak.

Wulan tidak melanjutkan.

Saat itu juga, beberapa pembeli datang mendekat. Mata mereka tertarik pada pakaian yang tergantung rapi.

Lestari langsung bergerak.

Ia mengambil ukuran, menunjukkan model, menjawab pertanyaan dengan cepat dan jelas. Gerakannya efisien, tidak ada waktu terbuang.

Dalam beberapa menit, lapak itu menjadi ramai.

Wulan berdiri di samping, memperhatikan.

Kemudian, tanpa diminta, ia ikut bergerak.

Ia mengambil pakaian yang diminta, menghitung uang, memberikan kembalian. Tangannya bekerja otomatis, seperti saat ia mengurus rumah—cepat, tepat, tanpa kesalahan.

Lestari meliriknya sebentar, lalu melanjutkan pekerjaannya tanpa komentar.

Kerja sama itu terjadi begitu saja.

Tidak direncanakan.

Namun berjalan lancar.

Waktu berlalu tanpa terasa.

Satu jam.

Dua jam.

Langit mulai berubah warna.

Di sela-sela jeda singkat, Lestari berkata, “Aku sudah cerai.”

Kalimat itu keluar begitu saja, tanpa pembukaan.

Wulan berhenti sepersekian detik.

“Kenapa?” tanyanya.

“Dia selingkuh.”

Tidak ada penjelasan tambahan.

“Lalu?” tanya Wulan.

“Aku pergi.”

Sederhana.

Lestari melipat pakaian, memasukkannya ke dalam kantong, menerima uang dari pelanggan berikutnya.

“Aku ambil bagianku, pulang ke Bandung, mulai dari nol lagi.”

Nada suaranya stabil.

Tidak ada sisa luka.

“Kamu tidak takut?” tanya Wulan.

Lestari menoleh.

“Takut apa?”

“Hidup sendiri.”

Lestari tersenyum tipis.

“Aku bisa kerja. Selama aku tidak malas, aku tidak akan mati kelaparan.”

Kalimat itu jatuh ringan.

Namun bagi Wulan, beratnya berbeda.

Ia tidak menjawab.

Tangannya tetap bekerja, tetapi pikirannya bergerak ke arah lain.

Sore berganti malam.

Lampu pasar menyala satu per satu.

Akhirnya, ketika pembeli mulai berkurang, Lestari menarik napas panjang.

“Hari ini lumayan,” katanya.

Ia menoleh ke Wulan.

“Ayo makan. Aku traktir.”

Wulan membeku.

Arif.

Ia langsung melihat sekeliling.

Sudah gelap.

“Aku harus pulang,” katanya cepat.

Ia melepas diri dari pekerjaan itu, mengambil kantongnya.

“Lain kali.”

Lestari mengangguk.

“Jangan lama-lama hilang lagi.”

Wulan tidak menjawab. Ia langsung berbalik dan masuk ke dalam pasar, membeli bahan dengan cepat.

Ketika ia membuka pintu rumah, suasana di dalam sudah berat.

Joko duduk di kursi, wajahnya gelap.

“Kamu dari mana?” tanyanya tanpa basa-basi.

Wulan belum sempat menjawab.

“Bu.”

Suara Arif datang dari samping.

Wulan menoleh.

Arif berdiri, lebih tinggi dari terakhir kali ia ingat. Tatapannya langsung turun ke kantong plastik di tangan Wulan.

“Apa itu?”

“Baju.”

Arif berjalan mendekat, langsung mengambil kantong itu. Ia mengeluarkan bajunya, melihatnya dari depan ke belakang.

“Beli?”

“Iya.”

“Berapa?”

“Rp 15.000.”

Keheningan hanya berlangsung satu detik.

“Apa?!” suara mereka berdua langsung naik.

Joko berdiri.

“Kamu pikir uang itu jatuh dari langit?” bentaknya.

Wulan diam.

Arif mengangkat jaket itu sedikit lebih tinggi.

“Kamu bahkan tidak kerja,” katanya dingin. “Buat apa beli beginian?”

Setiap kata jelas.

Tidak ragu.

Tidak tertahan.

Wulan menatapnya.

Joko melanjutkan, “Kamu tahu berapa biaya hidup sekarang? Kamu tidak pernah pikir!”

Rp 15.000.

Angka itu kembali muncul.

Bertabrakan dengan angka lain.

Rp 15.000.000.

Wulan tidak bicara.

Arif menghela napas pendek, lalu berkata dengan nada merendahkan, “Lihat badanmu.”

Wulan tidak bergerak.

“Kamu sebesar ini,” lanjutnya, menatap tanpa menyembunyikan penilaian, “pantas pakai baju semahal ini?”

Tidak ada yang menghentikannya.

Tidak ada yang membela.

Kalimat itu jatuh, dan tidak ditarik kembali.

Ruangan menjadi sunyi.

Wulan berdiri di tengahnya.

Perlahan, sesuatu di dalam dirinya berubah.

Bukan ledakan.

Bukan amarah.

Tetapi sesuatu yang lebih dingin.

Lebih jelas.

Ia mengangkat kepala.

Menatap Arif.

Lama.

Cukup lama hingga Arif sendiri mulai tidak nyaman.

Lalu akhirnya, Wulan berbicara.

Suaranya pelan.

Tetapi tidak goyah.

“Kalau aku tidak pantas,” katanya, “siapa yang pantas?”

Tidak ada yang menjawab.

Namun kali ini—

Wulan tidak menunduk.

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
Episodes

Updated 120 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!