Janji di kontrakan kumuh

"Hmm!!"

Sekar tersentak karena suara itu. Suara yang paling membuatnya ketakutan di rumah milik keluarga Subroto.

"I-ibu" Sudah dua bulan Sekar tinggal di rumah keluarga Subroto, namun rasa takut masih saja ada ketika harus berhadapan dengan Nyonya rumah itu.

"Lebih baik masak daripada ngalamun kaya gitu!" Bu Broto tampak melirik Sekar dengan sinis.

"Baik Bu"

Dari awal Sekara melangkahkan kakinya masuk ke rumah dengan lantai marmer itu, Sekar tidak pernah mendapatkan sambutan hangat dari Ibu mertuanya.

Bu Broto memang menerima pernikahan mereka. Tapi, itu hanya sebatas untuk membersihkan namanya yang sempat tercoreng dengan kejadian di gudang toko bangunan malam itu. Bukan karena dia menerima Sekar dengan ikhlas menjadi menantunya.

Selain itu, Sekar yang hanya buruh penimbang paku, tidak akan mungkin bisa diterima oleh Bu Broto yang kaya raya dan terpandang di kecamatan sekecamatan.

🏵️🏵️🏵️

Hujan tak pernah berhenti di kota kecil itu. Suaranya yang ritmis menghantam atap seng kontrakan Sekar yang bocor di tiga titik. Di dalam ruangan sempit berukuran tiga kali empat meter itu, Sekar duduk meringkuk di atas dipan kayu tipis, memegangi selembar kertas hasil laboratorium dari puskesmas kecamatan. Dua garis merah itu terasa seperti vonis mati, bukan anugerah.

​Ia tidak punya siapa-siapa lagi untuk mengadu. Ibunya sudah meninggal lima tahun lalu karena kelelahan dan asma yang tak terobati, sementara ayahnya hanyalah sosok bayangan yang pergi meninggalkan mereka sejak Sekar masih balita untuk mengadu nasib di Malaysia dan tak pernah kembali. Sekar sendirian. Ia hanyalah wanita yang menyambung hidup dengan menjadi tukang cuci baju tetangga di pagi hari dan menjadi buruh penimbang paku serta semen di toko bangunan Sumber Rejeki milik keluarga Danu di sore hari.

​Suara ketukan di pintu kayu yang sudah lapuk itu mengejutkannya. Sekar buru-buru menyembunyikan kertas itu di bawah bantal.

​"Sekar? Ini aku, Danu"

​Jantung Sekar seakan berhenti. Ia membuka pintu dengan tangan gemetar. Di sana berdiri Danu, basah kuyup dengan jaket parasut yang meneteskan air, namun sorot matanya tajam dan penuh determinasi.

​"Mas Danu, ke-kenapa ke sini? Malam-malam, hujan..."

​"Aku tahu, Sekar. Aku sudah tahu!" Potong Danu. Suaranya rendah tapi berat, menembus deru hujan di belakangnya.

"Kenapa kamu nggak bilang langsung ke aku? Kenapa aku harus dengar dari Bu Bidan kalau ada karyawanku yang datang periksa dengan wajah pucat pasi?"

​Sekar menunduk, air matanya jatuh tanpa permisi.

"Ini salah saya, Mas. Saya yang tidak tahu diri malam itu. Mas sedang mabuk, harusnya saya tidak membiarkan Mas..." Sekar tampak berhenti sejenak, seperti sedang meralat kata yang ingin keluar dari bibirnya.

"Saya harusnya berusaha lebih keras lagi untuk mendorong Mas Danu. Saya harusnya bisa lari saat itu. Saya tahu posisi saya, Mas. Saya tidak akan menuntut apa-apa"

​Danu melangkah masuk ke dalam kontrakan yang sempit itu tanpa dipersilakan. Ruangan itu pengap, berbau sabun cuci murah dan kemiskinan yang nyata. Pemandangan itu seolah menampar wajah Danu. Pria berusia tiga puluh dua tahun itu menghela napas panjang, lalu duduk di kursi plastik satu-satunya di sana.

​"Kita menikah minggu depan!" Ucap Danu datar.

​Sekar tersentak. Dia jelas sekali menghindari ikatan yang ingin dibuat oleh Danu, makanya dia berusaha menyembunyikan kehamilannya sampai Danu akhirnya mendengar dari Bu Bidan.

"Nggak bisa, Mas! Mas punya Mbak Lidya. Dia cantik, dia sarjana, dia anak orang terpandang di kota. Kalau Mas nikah sama saya, apa kata orang tua Mas? Apa kata orang pasar? Saya cuma buruh penimbang paku, Mas. Saya tidak selevel dengan Mas Danu"

​Danu menatapnya lama. Tatapan itu sulit dibaca tapi jelas ada rasa bersalah, ada kewajiban, tapi tak ada ledakan emosi.

"Ibu sudah tahu. Aku sudah bicara semuanya tadi sore!"

​Mendengar itu, tubuh Sekar lemas. Ibu Danu, Bu Subroto, adalah sosok yang disegani di pasar. Wanita itu selalu memakai perhiasan emas yang mencolok dan sangat bangga pada Danu, putra tunggalnya yang sukses mengelola usaha keluarga.

​"Pasti pasti Bu Broto marah besar" bisik Sekar.

​"Ibu kecewa. Itu wajar" jawab Danu jujur, kejujuran yang justru menyayat hati Sekar.

"Tapi beliau lebih kecewa kalau punya anak laki-laki pengecut yang membiarkan darah dagingnya tumbuh tanpa nama ayah. Ibu setuju, Sekar. Tapi dengan syarat, pernikahan ini dilakukan secara sederhana, hanya di KUA dan syukuran kecil di rumah. Tidak ada pesta"

​Sekar menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Ia bisa membayangkan betapa hinanya ia di mata keluarga Danu. Sebuah kecelakaan yang harus dibersihkan.

​"Mas Danu, kita tidak saling mencintai" Sekar berujar di balik jemarinya.

"Mas hanya kasihan dan merasa bersalah. Mas mengorbankan masa depan Mas bersama Mbak Lidya hanya karena tanggung jawab. Mas akan membenciku seumur hidup jika kita meneruskan ini"

​Danu bangkit, melangkah mendekati Sekar hingga aroma hujan dan kayu putih dari tubuhnya tercium jelas. Ia memegang kedua lengan Sekar, memaksanya untuk mendongak.

​"Dengarkan aku, Sekar. Aku bukan pria yang suka mengumbar janji manis. Aku memang nggak bisa memberikanmu pesta mewah atau pernyataan cinta yang berapi-api sekarang. Tapi aku janji, selama kamu menjadi istriku, nggak akan ada orang yang boleh menghinamu. Kamu nggak perlu lagi mencuci baju orang lain sampai tanganmu pecah-pecah, kamu juga nggak perlu lagi menimbang paku sampai larut malam. Kamu akan tinggal di rumahku, makan apa yang aku makan, dan anak itu... dia akan punya namaku di akta kelahirannya"

​"Tapi Mbak Lidya..."

​"Lidya sudah selesai" Potong Danu cepat, ada nada pahit yang terselip di sana.

"Dia tidak bisa menerima ini. Dan itu wajar. Aku yang brengsek di sini, bukan kamu. Jadi, berhenti menyalahkan dirimu sendiri. Pokoknya Minggu depan kita menikah!"

🏵️🏵️🏵️

​Pernikahan itu akhirnya terjadi tepat tujuh hari kemudian. Benar kata Danu, itu sangat sunyi. Tidak ada janur kuning yang melengkung di depan toko Sumber Rejeki. Hanya ada ijab kabul di kantor KUA yang dingin, disaksikan oleh Pak RT dan dua kerabat jauh Danu.

Tidak ada kerabat Sekar sama sekali karena sekarang memang sengaja tidak memberitahu Pakdenya di Desa. Dia tidak mau karena aibnya akan membuat Pakdenya malu. Hanya ada Ibas, teman yang juga bekerja di toko bangunan sebagai saksi untuknya.

​Bu Subroto hadir dengan kebaya cokelat tua. Sepanjang acara, wanita itu tidak pernah benar-benar menatap mata Sekar. Saat Sekar mencium tangannya setelah sah menjadi menantu, tangan tua itu terasa kaku dan dingin.

​"Sudah jadi garis tanganmu, Sekar" Ucap Bu Subroto lirih, nadanya tidak kasar, tapi penuh dengan nada pasrah yang menyakitkan.

"Jaga anakmu baik-baik. Jangan buat malu Danu lebih dari ini. Dia sudah mengorbankan banyak hal untukmu"

​Kalimat itu menjadi hantu bagi Sekar. Mengorbankan banyak hal.

​Setelah sah, Danu memboyongnya ke rumah besar di belakang toko. Rumah itu sangat jauh lebih layak dari kontrakannya, tapi bagi Sekar, setiap sudut rumah itu terasa seperti pengingat bahwa ia adalah penyusup.

​Malam pertama mereka dilewati tanpa banyak kata. Danu tidur di sisi ranjang yang sama, namun mereka tidak bersentuhan. Danu hanya menyelimuti Sekar sebelum mematikan lampu.

​"Tidurlah. Besok hidupmu sudah berbeda" hanya Itu yang Danu katakan saat malam pertama mereka.

​Kini, Sekar menatap susu yang sudah telanjur dingin pemberian Danu tadi, Sekar menyadari satu hal. Danu memang menepati janjinya. Ia memberikan perlindungan, ia memberikan kecukupan, ia bahkan memberikan kelembutan yang tak terduga. Namun, di balik semua kebaikan itu, Sekar merasa Danu sedang membangun benteng tinggi.

​Pria itu memperlakukannya seperti porselen retak yang harus dijaga agar tidak semakin hancur, bukan seperti wanita yang ia cintai. Dan fakta bahwa Danu memutuskan hubungan dengan Lidya, wanita yang begitu sempurna, hanya demi dirinya, membuat Sekar merasa berutang nyawa seumur hidup.

​Ia sering bertanya-tanya dalam diam, jika malam itu tidak pernah terjadi, apakah Mas Danu akan pernah melirik wanita seperti dirinya? Jawabannya selalu sama dan selalu menyakitkan, TIDAK.

​Sekar menghabiskan susunya, sebelum Bu Broto menegurnya lagi. Ia harus mulai terbiasa dengan rasa pahit di balik manisnya perlakuan Danu. Di kota kecil ini, rahasia mungkin bisa disimpan di bawah atap, tapi rasa rendah diri Sekar sudah mengakar lebih dalam dari fondasi rumah manapun yang pernah dibangun Danu.

Terpopuler

Comments

Agnezz

Agnezz

yu hu novel baru kak Shanti👍

2026-03-19

0

🌷Vnyjkb🌷

🌷Vnyjkb🌷

ya, d satu sisi, emang benar didikan ibu si danu, pria sejati hrs tggjawab dg perbuatannya,

2026-03-19

1

Agnezz

Agnezz

nasibmu Sekar, tapi patut disyukuri mas Danu mau bertanggung jawab

2026-03-19

1

lihat semua
Episodes
1 Atap yang terasa asing
2 Janji di kontrakan kumuh
3 Air mata Sekar
4 Wanita dengan sandal jepit
5 Rasa bersalah
6 Tamu perusak hati
7 Desas-desus di pasar
8 Permintaan di balik pintu kamar
9 Sentuhan di bawah malam
10 Bisik-bisik di balik tumpukan semen
11 Kekaguman di bawah lampu kamar
12 Mas Danu yang manis
13 Hadiah kecil dari Mas Danu
14 Pembelaan Danu
15 Kepanikan Danu
16 Kuah bakso yang hangat
17 Kehangatan dalam perhatian Mas Danu
18 Adik ipar
19 Sekar yang cantik
20 Sayangnya Mas Danua
21 Botakan
22 Botakin rambutan
23 Hadiah diantara keriuhan malam
24 Ketakutan Sekar
25 Hadiah sederhana untuk Mas Danu
26 Ketenangan jiwa
27 Krisan putih dan kenangannya
28 Bayang masa lalu yang selalu mengganggu
29 Bayangan yang tak kunjung padam
30 Dinding yang kembali tercipta
31 Luka yang semakin terkoyak
32 Diammu membunuhku
33 Ancaman Danu
34 Julukan yang mendarah daging
35 Tamu tak diundang
36 Rumah pelarian
37 Pagi pertama di rumah tua
38 Usaha Danu
39 Ayam goreng dalam ember
40 Makan siang dan masa lalu
41 Tidur siang
42 Gelang tali berwarna merah
43 Berbanding terbalik
44 Langkah baru
45 Dinginnya malam dan hangatnya jahe
46 Hari libur membawa petaka
47 Penebusan Riana
48 Badai untuk Sekar
49 Hadiah untuk Danu
50 Diratukan Mas Danu
51 Rencana Bu Subroto
52 Batas kesabaran Danu
53 Penjaga jodohku
54 Hobi baru Danu
55 Kerikil kecil
56 Siasat Bu Subroto
57 Sentuhan menggetarkan jiwa
58 Jarak yang memisahkan
59 Rindu yang manis
60 Sayap patah
61 Pelabuhan di tengah prahara
62 Kemarahan Danu
63 Jawaban sakral
64 Alasan Danu
65 Keberuntungan terbesar
66 Bebek goreng
67 Perasaan terselubung
68 Cahaya di balik kebencian
69 Pintu yang tertutup rapat
70 Pengakuan sang pelindung
71 Penyatuan dua jiwa
72 Jawaban ambigu
73 Di bawah cahaya bulan
74 Menuntut jawaban di tepi pantai
75 Mahar rasa bersalah
76 Hampir sempurna
77 Cairan di atas aspal
78 Penantian
79 Perjuangan dan harapan
80 Ketakutan yang sirna
81 Pelepas Rindu
82 Sah kedua kalinya
83 Malam setelah pernikahan
84 Penuntas dahaga
85 Gendongan Ayah
86 Kabar buruk
87 Penentu hidup Riana
88 Buah dari kekhilafan
89 Alasan Baskara
90 Ancaman Danu
91 Satu kosong
92 Pernikahan amanah
93 Gangguan jiwa
94 Status tersembunyi
95 Riana yang gamang
96 Perhatian
97 Nafkah semampunya
98 Perhatian berbalut kecanggungan
99 Takut disalahkan
100 Permintaan Riana
101 Pertemuan
102 Teman lama
103 Keputusan ada di tanganmu
104 Ketakutan Riana
105 Kedatangan masa lalu
106 Keingintahuan Riana
107 Perasaan aneh
108 Keputusan Riana
109 Mantan kekasih
110 Pertama kali
111 Tawar menawar
112 Pilihan Riana
113 Jarak
114 Pilihan yang menyakitkan
115 Kepulangan Riana
116 Perasaan yang sebenarnya
117 Kebohongan Ibas
118 Penyesalan termanis
119 ?????
120 Tangis penyesalan
121 Menerima segalanya
122 Istri bijak
123 Perubahan Riana
124 Kejutan
125 Kebahagiaan Riana
126 Manja
127 Mahar rasa bersalah
128 KARYA BARU (Dosa Di Balik Gaun Sutra)
Episodes

Updated 128 Episodes

1
Atap yang terasa asing
2
Janji di kontrakan kumuh
3
Air mata Sekar
4
Wanita dengan sandal jepit
5
Rasa bersalah
6
Tamu perusak hati
7
Desas-desus di pasar
8
Permintaan di balik pintu kamar
9
Sentuhan di bawah malam
10
Bisik-bisik di balik tumpukan semen
11
Kekaguman di bawah lampu kamar
12
Mas Danu yang manis
13
Hadiah kecil dari Mas Danu
14
Pembelaan Danu
15
Kepanikan Danu
16
Kuah bakso yang hangat
17
Kehangatan dalam perhatian Mas Danu
18
Adik ipar
19
Sekar yang cantik
20
Sayangnya Mas Danua
21
Botakan
22
Botakin rambutan
23
Hadiah diantara keriuhan malam
24
Ketakutan Sekar
25
Hadiah sederhana untuk Mas Danu
26
Ketenangan jiwa
27
Krisan putih dan kenangannya
28
Bayang masa lalu yang selalu mengganggu
29
Bayangan yang tak kunjung padam
30
Dinding yang kembali tercipta
31
Luka yang semakin terkoyak
32
Diammu membunuhku
33
Ancaman Danu
34
Julukan yang mendarah daging
35
Tamu tak diundang
36
Rumah pelarian
37
Pagi pertama di rumah tua
38
Usaha Danu
39
Ayam goreng dalam ember
40
Makan siang dan masa lalu
41
Tidur siang
42
Gelang tali berwarna merah
43
Berbanding terbalik
44
Langkah baru
45
Dinginnya malam dan hangatnya jahe
46
Hari libur membawa petaka
47
Penebusan Riana
48
Badai untuk Sekar
49
Hadiah untuk Danu
50
Diratukan Mas Danu
51
Rencana Bu Subroto
52
Batas kesabaran Danu
53
Penjaga jodohku
54
Hobi baru Danu
55
Kerikil kecil
56
Siasat Bu Subroto
57
Sentuhan menggetarkan jiwa
58
Jarak yang memisahkan
59
Rindu yang manis
60
Sayap patah
61
Pelabuhan di tengah prahara
62
Kemarahan Danu
63
Jawaban sakral
64
Alasan Danu
65
Keberuntungan terbesar
66
Bebek goreng
67
Perasaan terselubung
68
Cahaya di balik kebencian
69
Pintu yang tertutup rapat
70
Pengakuan sang pelindung
71
Penyatuan dua jiwa
72
Jawaban ambigu
73
Di bawah cahaya bulan
74
Menuntut jawaban di tepi pantai
75
Mahar rasa bersalah
76
Hampir sempurna
77
Cairan di atas aspal
78
Penantian
79
Perjuangan dan harapan
80
Ketakutan yang sirna
81
Pelepas Rindu
82
Sah kedua kalinya
83
Malam setelah pernikahan
84
Penuntas dahaga
85
Gendongan Ayah
86
Kabar buruk
87
Penentu hidup Riana
88
Buah dari kekhilafan
89
Alasan Baskara
90
Ancaman Danu
91
Satu kosong
92
Pernikahan amanah
93
Gangguan jiwa
94
Status tersembunyi
95
Riana yang gamang
96
Perhatian
97
Nafkah semampunya
98
Perhatian berbalut kecanggungan
99
Takut disalahkan
100
Permintaan Riana
101
Pertemuan
102
Teman lama
103
Keputusan ada di tanganmu
104
Ketakutan Riana
105
Kedatangan masa lalu
106
Keingintahuan Riana
107
Perasaan aneh
108
Keputusan Riana
109
Mantan kekasih
110
Pertama kali
111
Tawar menawar
112
Pilihan Riana
113
Jarak
114
Pilihan yang menyakitkan
115
Kepulangan Riana
116
Perasaan yang sebenarnya
117
Kebohongan Ibas
118
Penyesalan termanis
119
?????
120
Tangis penyesalan
121
Menerima segalanya
122
Istri bijak
123
Perubahan Riana
124
Kejutan
125
Kebahagiaan Riana
126
Manja
127
Mahar rasa bersalah
128
KARYA BARU (Dosa Di Balik Gaun Sutra)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!