Mahar Rasa Bersalah

Mahar Rasa Bersalah

Atap yang terasa asing

​Pagi di kota kecil ini selalu dimulai dengan aroma yang sama, bau tanah basah, asap dari kayu bakar tetangga yang masih memasak air, dan bunyi gesekan sapu lidi di halaman.

Namun bagi Sekar, pagi ini terasa benar-benar asing. Ia terbangun bukan di kamarnya yang sempit dengan dinding triplek yang lembap, melainkan di sebuah kamar dengan ranjang kayu jati yang kokoh dan seprai beraroma detergen mahal.

​Sekar mengerjapkan mata, menatap langit-langit kamar yang tinggi. Di sampingnya, sisi ranjang sudah kosong. Hanya ada bekas lekukan tubuh yang menandakan bahwa beberapa saat lalu, ada orang lain di sana.

​Ia bangkit perlahan, merapikan daster batiknya yang sudah mulai terasa sempit di bagian perut. Usia kandungannya baru memasuki bulan ketiga, tapi Sekar merasa beban di perutnya jauh lebih berat karena rasa bersalah yang ia pikul. Ia melangkah keluar kamar dengan ragu, seolah-olah ia adalah pencuri di rumah gedong yang sudah sangat mewah baginya itu.

​Di dapur, ia melihat punggung lebar itu. Pria yang tadi menempati sisi di lain di ranjangnya, sedang berdiri di depan kompor, membelakanginya saat ini.

Pria itu hanya mengenakan kaos kutang putih dan celana pendek selutut. Otot-otot lengannya yang kecokelatan karena sering turun tangan mengecek material di gudang terlihat menegang saat ia menuang air panas ke dalam cangkir.

​"Sudah bangun?" Suara berat milik pria itu memecah keheningan. Ia tidak menoleh, tapi seolah tahu Sekar sedang memperhatikannya.

​Sekar tersentak, jemarinya meremas pinggiran meja makan kayu yang mengkilap.

"Iya, Mas. Maaf, saya kesiangan. Harusnya saya yang siapkan sarapan"

​Pria itu berbalik. Wajahnya tenang, tidak ada guratan amarah atau kekesalan. Ia hanya tersenyum tipis, jenis senyum yang selalu membuat Sekar merasa kecil.

"Tidak apa-apa. Kamu butuh istirahat lebih banyak. Dokter bilang jangan terlalu capek, kan?"

​Pria yang dua bulan lalu menikahinya itu meletakkan secangkir susu hangat di depan Sekar.

"Minum ini. Aku tadi beli nasi uduk di depan pasar. Masih hangat"

​Sekar menatap cangkir susu itu dengan pandangan nanar. Di matanya, kebaikan pria itu adalah sembilu.

"Mas tidak perlu repot-repot. Saya bisa jalan sendiri ke depan kalau mau makan"

​"Sekarang kamu tanggung jawabku, Sekar" Sahut pria itu pendek. Ia kemudian duduk di kursi seberang Sekar, menyesap kopinya sambil menatap keluar jendela ke arah halaman samping yang dipenuhi tumpukan batu bata.

"​Tanggung jawab" Kata itu bergema di kepala Sekar.

​Setiap kali suaminya melakukan sesuatu yang manis, Sekar selalu menerjemahkannya sebagai bentuk penebusan dosa.

"Suami?" Entahlah, apa Sekar pantas memangilnya sebagai suaminya.

Pria itu adalah Danu, atasannya sendiri di toko bangunan Sumber Rejeki, tempat bekerja menjadi buruh penimbang paku. Danu adalah pria yang baik, pria yang dididik untuk tidak melarikan diri dari kesalahan. Dan pernikahan ini adalah cara Danu membereskan kekacauan yang mereka buat di gudang toko malam itu.

​"Mas..." panggil Sekar lirih.

​"Ya?" Danu menjawabnya setelah menurunkan cangkirnya dari bibirnya.

​"Mbak Lidya, apa dia masih sering telepon?"

​Pertanyaan itu keluar begitu saja, seperti bisul yang pecah. Sekar segera menyesalinya saat melihat perubahan kecil di wajah Danu. Rahang pria itu mengeras sejenak, meski matanya tetap datar.

​"Kenapa tanya itu?" Tanya Danu kembali.

​"Saya cuma merasa, saya sudah merusak banyak hal buat Mas. Mas harusnya punya kehidupan yang lebih bagus di kota. Mbak Lidya itu cantik, pinter, dia..."

​"Sekar" Danu memotong dengan nada yang tidak tinggi, namun tegas.

"Makan sarapanmu. Jangan bahas yang sudah lewat. Kita sudah menikah, dan itu keputusan yang aku ambil!" ​Danu bangkit dari kursi, mengambil kunci motor di atas meja.

"Aku ke toko dulu. Ada kiriman semen yang datang pagi ini. Kalau ada apa-apa, telepon aja. Jangan pergi kemana-mana tanpa kasih tau dulu!" ​Tanpa menunggu jawaban, Danu melangkah keluar. Suara motor Honda tuanya menderu di halaman, lalu perlahan menghilang ditelan jarak.

​Sekar terduduk lesu. Nasi uduk yang ada di depannya mendadak terasa hambar. Ia tahu, Danu tidak menjawab pertanyaannya tentang Lidya. Dan bagi Sekar, diamnya Danu adalah jawaban yang paling jujur.

Danu masih mencintai wanita itu. Danu hanya sedang berusaha menjadi pria hebat yang memikul beban akibat kesalahan satu malam bersama seorang buruh penimbang paku seperti dirinya.

​Ia membelai perutnya yang masih cukup rata diusia kehamilannya yang sudah menginjak usia tiga bulan.

"Maafin Ibu, Nak. Kita cuma menjadi beban untuk Ayahmu saja. Ayahmu menikahi Ibu hanya untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Tapi dalam hatinya tentu masih mencintai Mbak Lidya"

​Di kota kecil yang sepi ini, Sekar merasa dirinya lebih terasing daripada saat ia masih hidup luntang-lantung di kontrakan kumuhnya. Di sini, di rumah yang nyaman ini, ia hanyalah seorang tamu yang terjebak dalam rasa syukur yang menyakitkan.

Dia tidak pernah menginginkan posisinya saat ini. Saat dia tau kejadian malam kelam itu menghadirkan nyawa di dalam rahimnya, Sekar lebih memilih diam. Dia tidak berani meminta tanggung jawab dari Danu. Dia juga tidak mau menikah dengan Danu dengan status sosial mereka berdua yang begitu jauh.

Selain itu, semua karyawan di toko bangunan "Sumber Rejeki" dan juga seluruh penghuni pasar yang letaknya di samping toko bangunan, mereka semua tau kalau Danu sudah menjalin hubungan dengan Lidya. Wanita cantik dan pintar yang tinggal di kota dengan status sosial yang setara dengan Danu. Lidya bahkan mempunyai butik yang cukup sukses di kota kecil itu.

"Hmm!!"

Sekar tersentak karena suara itu. Suara yang paling membuatnya ketakutan di rumah milik keluarga Subroto.

Terpopuler

Comments

Aprisya

Aprisya

maaf kak baru sempat hadir,, sibuk lebaran,, minal Aidin walfaizin kak santi🙏

2026-04-03

3

pipi gemoy

pipi gemoy

hadir Thor

2026-07-31

0

juwita

juwita

mampir

2026-07-20

0

lihat semua
Episodes
1 Atap yang terasa asing
2 Janji di kontrakan kumuh
3 Air mata Sekar
4 Wanita dengan sandal jepit
5 Rasa bersalah
6 Tamu perusak hati
7 Desas-desus di pasar
8 Permintaan di balik pintu kamar
9 Sentuhan di bawah malam
10 Bisik-bisik di balik tumpukan semen
11 Kekaguman di bawah lampu kamar
12 Mas Danu yang manis
13 Hadiah kecil dari Mas Danu
14 Pembelaan Danu
15 Kepanikan Danu
16 Kuah bakso yang hangat
17 Kehangatan dalam perhatian Mas Danu
18 Adik ipar
19 Sekar yang cantik
20 Sayangnya Mas Danua
21 Botakan
22 Botakin rambutan
23 Hadiah diantara keriuhan malam
24 Ketakutan Sekar
25 Hadiah sederhana untuk Mas Danu
26 Ketenangan jiwa
27 Krisan putih dan kenangannya
28 Bayang masa lalu yang selalu mengganggu
29 Bayangan yang tak kunjung padam
30 Dinding yang kembali tercipta
31 Luka yang semakin terkoyak
32 Diammu membunuhku
33 Ancaman Danu
34 Julukan yang mendarah daging
35 Tamu tak diundang
36 Rumah pelarian
37 Pagi pertama di rumah tua
38 Usaha Danu
39 Ayam goreng dalam ember
40 Makan siang dan masa lalu
41 Tidur siang
42 Gelang tali berwarna merah
43 Berbanding terbalik
44 Langkah baru
45 Dinginnya malam dan hangatnya jahe
46 Hari libur membawa petaka
47 Penebusan Riana
48 Badai untuk Sekar
49 Hadiah untuk Danu
50 Diratukan Mas Danu
51 Rencana Bu Subroto
52 Batas kesabaran Danu
53 Penjaga jodohku
54 Hobi baru Danu
55 Kerikil kecil
56 Siasat Bu Subroto
57 Sentuhan menggetarkan jiwa
58 Jarak yang memisahkan
59 Rindu yang manis
60 Sayap patah
61 Pelabuhan di tengah prahara
62 Kemarahan Danu
63 Jawaban sakral
64 Alasan Danu
65 Keberuntungan terbesar
66 Bebek goreng
67 Perasaan terselubung
68 Cahaya di balik kebencian
69 Pintu yang tertutup rapat
70 Pengakuan sang pelindung
71 Penyatuan dua jiwa
72 Jawaban ambigu
73 Di bawah cahaya bulan
74 Menuntut jawaban di tepi pantai
75 Mahar rasa bersalah
76 Hampir sempurna
77 Cairan di atas aspal
78 Penantian
79 Perjuangan dan harapan
80 Ketakutan yang sirna
81 Pelepas Rindu
82 Sah kedua kalinya
83 Malam setelah pernikahan
84 Penuntas dahaga
85 Gendongan Ayah
86 Kabar buruk
87 Penentu hidup Riana
88 Buah dari kekhilafan
89 Alasan Baskara
90 Ancaman Danu
91 Satu kosong
92 Pernikahan amanah
93 Gangguan jiwa
94 Status tersembunyi
95 Riana yang gamang
96 Perhatian
97 Nafkah semampunya
98 Perhatian berbalut kecanggungan
99 Takut disalahkan
100 Permintaan Riana
101 Pertemuan
102 Teman lama
103 Keputusan ada di tanganmu
104 Ketakutan Riana
105 Kedatangan masa lalu
106 Keingintahuan Riana
107 Perasaan aneh
108 Keputusan Riana
109 Mantan kekasih
110 Pertama kali
111 Tawar menawar
112 Pilihan Riana
113 Jarak
114 Pilihan yang menyakitkan
115 Kepulangan Riana
116 Perasaan yang sebenarnya
117 Kebohongan Ibas
118 Penyesalan termanis
119 ?????
120 Tangis penyesalan
121 Menerima segalanya
122 Istri bijak
123 Perubahan Riana
124 Kejutan
125 Kebahagiaan Riana
126 Manja
127 Mahar rasa bersalah
128 KARYA BARU (Dosa Di Balik Gaun Sutra)
Episodes

Updated 128 Episodes

1
Atap yang terasa asing
2
Janji di kontrakan kumuh
3
Air mata Sekar
4
Wanita dengan sandal jepit
5
Rasa bersalah
6
Tamu perusak hati
7
Desas-desus di pasar
8
Permintaan di balik pintu kamar
9
Sentuhan di bawah malam
10
Bisik-bisik di balik tumpukan semen
11
Kekaguman di bawah lampu kamar
12
Mas Danu yang manis
13
Hadiah kecil dari Mas Danu
14
Pembelaan Danu
15
Kepanikan Danu
16
Kuah bakso yang hangat
17
Kehangatan dalam perhatian Mas Danu
18
Adik ipar
19
Sekar yang cantik
20
Sayangnya Mas Danua
21
Botakan
22
Botakin rambutan
23
Hadiah diantara keriuhan malam
24
Ketakutan Sekar
25
Hadiah sederhana untuk Mas Danu
26
Ketenangan jiwa
27
Krisan putih dan kenangannya
28
Bayang masa lalu yang selalu mengganggu
29
Bayangan yang tak kunjung padam
30
Dinding yang kembali tercipta
31
Luka yang semakin terkoyak
32
Diammu membunuhku
33
Ancaman Danu
34
Julukan yang mendarah daging
35
Tamu tak diundang
36
Rumah pelarian
37
Pagi pertama di rumah tua
38
Usaha Danu
39
Ayam goreng dalam ember
40
Makan siang dan masa lalu
41
Tidur siang
42
Gelang tali berwarna merah
43
Berbanding terbalik
44
Langkah baru
45
Dinginnya malam dan hangatnya jahe
46
Hari libur membawa petaka
47
Penebusan Riana
48
Badai untuk Sekar
49
Hadiah untuk Danu
50
Diratukan Mas Danu
51
Rencana Bu Subroto
52
Batas kesabaran Danu
53
Penjaga jodohku
54
Hobi baru Danu
55
Kerikil kecil
56
Siasat Bu Subroto
57
Sentuhan menggetarkan jiwa
58
Jarak yang memisahkan
59
Rindu yang manis
60
Sayap patah
61
Pelabuhan di tengah prahara
62
Kemarahan Danu
63
Jawaban sakral
64
Alasan Danu
65
Keberuntungan terbesar
66
Bebek goreng
67
Perasaan terselubung
68
Cahaya di balik kebencian
69
Pintu yang tertutup rapat
70
Pengakuan sang pelindung
71
Penyatuan dua jiwa
72
Jawaban ambigu
73
Di bawah cahaya bulan
74
Menuntut jawaban di tepi pantai
75
Mahar rasa bersalah
76
Hampir sempurna
77
Cairan di atas aspal
78
Penantian
79
Perjuangan dan harapan
80
Ketakutan yang sirna
81
Pelepas Rindu
82
Sah kedua kalinya
83
Malam setelah pernikahan
84
Penuntas dahaga
85
Gendongan Ayah
86
Kabar buruk
87
Penentu hidup Riana
88
Buah dari kekhilafan
89
Alasan Baskara
90
Ancaman Danu
91
Satu kosong
92
Pernikahan amanah
93
Gangguan jiwa
94
Status tersembunyi
95
Riana yang gamang
96
Perhatian
97
Nafkah semampunya
98
Perhatian berbalut kecanggungan
99
Takut disalahkan
100
Permintaan Riana
101
Pertemuan
102
Teman lama
103
Keputusan ada di tanganmu
104
Ketakutan Riana
105
Kedatangan masa lalu
106
Keingintahuan Riana
107
Perasaan aneh
108
Keputusan Riana
109
Mantan kekasih
110
Pertama kali
111
Tawar menawar
112
Pilihan Riana
113
Jarak
114
Pilihan yang menyakitkan
115
Kepulangan Riana
116
Perasaan yang sebenarnya
117
Kebohongan Ibas
118
Penyesalan termanis
119
?????
120
Tangis penyesalan
121
Menerima segalanya
122
Istri bijak
123
Perubahan Riana
124
Kejutan
125
Kebahagiaan Riana
126
Manja
127
Mahar rasa bersalah
128
KARYA BARU (Dosa Di Balik Gaun Sutra)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!