Air mata Sekar

​Dinding rumah Mas Danu dicat dengan warna krem yang bersih, sangat berbeda dengan dinding kontrakan Sekar yang penuh noda jamur dan kupasan cat. Namun, bagi Sekar, tembok-tembok bersih ini terasa seperti jeruji penjara yang siap menghimpitnya kapan saja. Dua bulan sudah ia menyandang status sebagai istri Danu, namun setiap pagi ia terbangun dengan perasaan yang sama, ia adalah seorang penyusup yang tidak diinginkan.

​Baginya, Danu tetaplah Mas Bos, pria yang membayar gajinya dulu, bukan suami yang ia cintai. Tidak ada ruang untuk cinta di hati Sekar saat ini, yang ada hanyalah ketakutan bahwa suatu saat Danu akan terbangun dan sadar betapa ruginya ia menikahi wanita seperti dirinya. Terutama pagi ini, saat langkah kaki yang berat dan berwibawa itu terdengar kembali mendekat ke arah dapur.

​Bu Subroto, ibu mertuanya, muncul dengan sanggul rapi tidak seperti tadi. Ia mengenakan daster sutra bermotif bunga yang tampak mahal. Matanya yang tajam langsung menyapu meja makan, lalu beralih ke arah Sekar yang sedang gemetar mencuci piring di wastafel.

​"Sudah kubilang berapa kali, Sekar. Kalau mencuci piring itu jangan sampai beradu bunyinya. Keramik ini mahal, bukan piring plastik yang biasa kamu pakai di kontrakan dulu!" Suara Bu Subroto datar, namun ketajamannya seperti silet yang mengiris sisa-sisa harga diri Sekar.

​Prang.....

​Saking terkejutnya, piring yang sedang dibilas Sekar terlepas dari tangannya dan pecah berkeping-keping di lantai porselen. Sekar mematung. Wajahnya seketika pucat pasi. Jantungnya berdegup kencang hingga ia merasa mual. Bukan karena ia takut kehilangan piring itu, tapi ia takut pada tatapan menghina yang akan ia terima.

​"Ma-maaf, Bu. Saya, saya tidak sengaja. Saya akan bersihkan segera!" Bisik Sekar dengan suara yang bergetar hebat. Ia langsung berjongkok, mencoba memunguti pecahan keramik itu dengan tangan telanjang. Ia tidak peduli jika tangannya terluka, ia hanya ingin kepingan-kepingan itu hilang dari hadapan mertuanya.

​"Jangan pakai tangan! Bodoh sekali, nanti tanganmu luka dan Danu akan menyalahkanku lagi karena tidak menjagamu!" Bentak Bu Subroto, meski nadanya tidak berteriak. Ia hanya berdiri di sana, menjulang di atas Sekar yang merangkak di lantai.

"Duduk! Biar Mbok Sum yang bereskan nanti. Kamu ini kenapa sih? Penakut sekali. Sedikit-sedikit gemetar, sedikit-sedikit mau menangis. Bagaimana kamu mau jadi istri pemilik toko kalau mentalmu mental kacung?"

​Air mata yang sejak tadi ditahan Sekar akhirnya jatuh juga. Ia menangis bukan karena cinta yang tersakiti, tapi karena ia merasa begitu kecil dan tidak berdaya. Ia merasa dirinya adalah kesalahan terbesar dalam hidup keluarga ini.

​"Maaf, Bu. Maaf" Hanya itu yang bisa keluar dari bibirnya yang kelu.

​"Berhenti minta maaf. Telingaku panas mendengarnya" Bu Subroto menarik kursi dan duduk dengan anggun.

"Dengar, Sekar. Danu menikahimu karena dia pria yang bertanggung jawab. Tapi jangan pernah berpikir karena kamu mengandung anaknya, kamu bisa duduk manis saja di rumah ini. Kamu harus tahu diri. Kalau bukan karena perutmu itu, Danu sekarang sudah bertunangan dengan Lidya di Jakarta"

​Setiap kata Lidya disebutkan, Sekar merasa dadanya dihantam benda tumpul. Ia tahu ia telah mencuri posisi wanita itu. Ia merasa seperti parasit. Ia tidak membenci Lidya sebaliknya, ia merasa kasihan pada Lidya karena harus kehilangan pria sebaik Danu gara-gara kecerobohannya.

​"Lidya itu, ah sudahlah. Tidak ada gunanya dibanding-bandingkan" Lanjut Bu Subroto tanpa ampun.

"Sekarang, hapus air matamu. Jangan sampai Danu lihat kamu cengeng begini, dia sudah cukup stres mengurus toko!"

​Sekar menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Ia ingin menghilang saja. Tiba-tiba, suara motor Honda tua terdengar berhenti di halaman. Danu pulang lebih awal.

​Pria itu melangkah masuk ke dapur, masih mengenakan kemeja kerjanya yang berbau debu dan kayu. Langkahnya terhenti saat melihat Sekar yang terduduk di lantai dan ibunya yang bersedekap dengan wajah ketus.

​"Ada apa ini?" Suara Danu rendah, matanya menatap pecahan piring di lantai.

​"Istrimu ini, Nu. Pecah piring terus nangis. Manja sekali" Sahut Bu Subroto enteng.

​Danu tidak menyahut ibunya. Ia melangkah mendekat, lalu mengulurkan tangan ke arah Sekar.

"Bangun, Sekar. Ke kamar saja!"

​Sekar ragu-ragu menyambut tangan suaminya. Saat kulit mereka bersentuhan, Sekar merasa asing. Tidak ada getaran cinta, yang ada hanyalah rasa sungkan yang luar biasa. Ia merasa seperti beban yang harus terus-menerus dibela.

​"Maaf, Mas. Saya sudah merusak piringnya" Ucap Sekar tanpa berani menatap mata Danu.

​"Itu hanya piring. Sudah, masuk ke kamar!" Perintah Danu pelan.

​Begitu sampai di kamar, Sekar langsung duduk di pinggiran ranjang. Danu tidak mengikutinya masuk, pria itu masih di dapur, terdengar sedang berbicara dengan nada rendah kepada ibunya. Sekar tidak ingin tahu apa yang mereka bicarakan. Ia hanya ingin tidur dan berharap nanti ia bangun di kontrakannya yang dulu, meski miskin tapi ia tidak perlu merasa menjadi pencuri hidup orang lain.

​Ia mengusap perutnya yang mulai menonjol sedikit. Ia tidak merasakan kebahagiaan menjadi seorang ibu. Yang ia rasakan hanyalah tanggung jawab yang sangat berat.

​Dia tidak mencintai Danu, pikirnya dalam hati. Dia hanya takut padanya. Dia takut pada kebaikannya yang terasa seperti tuntutan agar dia tahu diri selamanya.

​Tak lama kemudian, Danu masuk ke kamar membawa segelas air putih, makanan dan vitamin. Ia meletakkannya di atas nakas, lalu duduk di kursi kayu di pojok kamar, cukup jauh dari Sekar. Itulah yang Sekar sukai dari Danu sebulan ini, pria itu memberikan jarak. Danu tidak pernah menuntut haknya sebagai suami, ia seolah paham bahwa Sekar butuh waktu untuk bernapas.

​"Ibu memang bicaranya keras, Sekar. Jangan dimasukkan ke hati" Ucap Danu menatap Sekar yang terpaut jarak.

​"Ibu benar, Mas. Saya memang tidak pantas di sini" Sahut Sekar lirih.

"Kamu sudah di sini. Pantas atau tidak, kamu istriku sekarang. Ayo lekas makan lalu minum vitaminnya. Kamu pasti nggak nyaman ketemu Ibu sekarang, jadi saya bawakan makan siang ke sini"

​Sekar sampai lupa kalau sekarang adalah jam makan siang. Harusnya dia melayani Danu yang memang pulang untuk makan siang seperti biasa.

"Astaga. Maafkan saya Mas, saya lupa kalau sekarang jam makan siang" Sekar terlihat panik.

"Tidak papa, barusan saya sudah makan duluan di bawah. Sekarang makanlah, nanti piringnya biar saya bawa turun ke bawah sekalian saya berangkat lagi ke depan"

"Tapi Mas..."

"Apa mau saya suapi?" Potong Danu membuat bibir Sekar langsung tertutup rapat.

Terpopuler

Comments

@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸

@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸

mertuanya nyinyir, sudah tau sekar takut, malah direpetin. walaupun dia benar, apakah tidak bisa bicara lebih lembut?

2026-04-29

0

🌹Fina Soe🌹

🌹Fina Soe🌹

haduh Bu Broto...Sekar juga cukup tau diri kok bu...
ayo sekar semangat jangan lemah seperti itu...

2026-03-22

0

Endang Sulistiyowati

Endang Sulistiyowati

masih bingung sama sikap Danu, sebenernya dia itu baik beneran atau ada udang di balik batu.

2026-03-19

0

lihat semua
Episodes
1 Atap yang terasa asing
2 Janji di kontrakan kumuh
3 Air mata Sekar
4 Wanita dengan sandal jepit
5 Rasa bersalah
6 Tamu perusak hati
7 Desas-desus di pasar
8 Permintaan di balik pintu kamar
9 Sentuhan di bawah malam
10 Bisik-bisik di balik tumpukan semen
11 Kekaguman di bawah lampu kamar
12 Mas Danu yang manis
13 Hadiah kecil dari Mas Danu
14 Pembelaan Danu
15 Kepanikan Danu
16 Kuah bakso yang hangat
17 Kehangatan dalam perhatian Mas Danu
18 Adik ipar
19 Sekar yang cantik
20 Sayangnya Mas Danua
21 Botakan
22 Botakin rambutan
23 Hadiah diantara keriuhan malam
24 Ketakutan Sekar
25 Hadiah sederhana untuk Mas Danu
26 Ketenangan jiwa
27 Krisan putih dan kenangannya
28 Bayang masa lalu yang selalu mengganggu
29 Bayangan yang tak kunjung padam
30 Dinding yang kembali tercipta
31 Luka yang semakin terkoyak
32 Diammu membunuhku
33 Ancaman Danu
34 Julukan yang mendarah daging
35 Tamu tak diundang
36 Rumah pelarian
37 Pagi pertama di rumah tua
38 Usaha Danu
39 Ayam goreng dalam ember
40 Makan siang dan masa lalu
41 Tidur siang
42 Gelang tali berwarna merah
43 Berbanding terbalik
44 Langkah baru
45 Dinginnya malam dan hangatnya jahe
46 Hari libur membawa petaka
47 Penebusan Riana
48 Badai untuk Sekar
49 Hadiah untuk Danu
50 Diratukan Mas Danu
51 Rencana Bu Subroto
52 Batas kesabaran Danu
53 Penjaga jodohku
54 Hobi baru Danu
55 Kerikil kecil
56 Siasat Bu Subroto
57 Sentuhan menggetarkan jiwa
58 Jarak yang memisahkan
59 Rindu yang manis
60 Sayap patah
61 Pelabuhan di tengah prahara
62 Kemarahan Danu
63 Jawaban sakral
64 Alasan Danu
65 Keberuntungan terbesar
66 Bebek goreng
67 Perasaan terselubung
68 Cahaya di balik kebencian
69 Pintu yang tertutup rapat
70 Pengakuan sang pelindung
71 Penyatuan dua jiwa
72 Jawaban ambigu
73 Di bawah cahaya bulan
74 Menuntut jawaban di tepi pantai
75 Mahar rasa bersalah
76 Hampir sempurna
77 Cairan di atas aspal
78 Penantian
79 Perjuangan dan harapan
80 Ketakutan yang sirna
81 Pelepas Rindu
82 Sah kedua kalinya
83 Malam setelah pernikahan
84 Penuntas dahaga
85 Gendongan Ayah
86 Kabar buruk
87 Penentu hidup Riana
88 Buah dari kekhilafan
89 Alasan Baskara
90 Ancaman Danu
91 Satu kosong
92 Pernikahan amanah
93 Gangguan jiwa
94 Status tersembunyi
95 Riana yang gamang
96 Perhatian
97 Nafkah semampunya
98 Perhatian berbalut kecanggungan
99 Takut disalahkan
100 Permintaan Riana
101 Pertemuan
102 Teman lama
103 Keputusan ada di tanganmu
104 Ketakutan Riana
105 Kedatangan masa lalu
106 Keingintahuan Riana
107 Perasaan aneh
108 Keputusan Riana
109 Mantan kekasih
110 Pertama kali
111 Tawar menawar
112 Pilihan Riana
113 Jarak
114 Pilihan yang menyakitkan
115 Kepulangan Riana
116 Perasaan yang sebenarnya
117 Kebohongan Ibas
118 Penyesalan termanis
119 ?????
120 Tangis penyesalan
121 Menerima segalanya
122 Istri bijak
123 Perubahan Riana
124 Kejutan
125 Kebahagiaan Riana
126 Manja
127 Mahar rasa bersalah
128 KARYA BARU (Dosa Di Balik Gaun Sutra)
Episodes

Updated 128 Episodes

1
Atap yang terasa asing
2
Janji di kontrakan kumuh
3
Air mata Sekar
4
Wanita dengan sandal jepit
5
Rasa bersalah
6
Tamu perusak hati
7
Desas-desus di pasar
8
Permintaan di balik pintu kamar
9
Sentuhan di bawah malam
10
Bisik-bisik di balik tumpukan semen
11
Kekaguman di bawah lampu kamar
12
Mas Danu yang manis
13
Hadiah kecil dari Mas Danu
14
Pembelaan Danu
15
Kepanikan Danu
16
Kuah bakso yang hangat
17
Kehangatan dalam perhatian Mas Danu
18
Adik ipar
19
Sekar yang cantik
20
Sayangnya Mas Danua
21
Botakan
22
Botakin rambutan
23
Hadiah diantara keriuhan malam
24
Ketakutan Sekar
25
Hadiah sederhana untuk Mas Danu
26
Ketenangan jiwa
27
Krisan putih dan kenangannya
28
Bayang masa lalu yang selalu mengganggu
29
Bayangan yang tak kunjung padam
30
Dinding yang kembali tercipta
31
Luka yang semakin terkoyak
32
Diammu membunuhku
33
Ancaman Danu
34
Julukan yang mendarah daging
35
Tamu tak diundang
36
Rumah pelarian
37
Pagi pertama di rumah tua
38
Usaha Danu
39
Ayam goreng dalam ember
40
Makan siang dan masa lalu
41
Tidur siang
42
Gelang tali berwarna merah
43
Berbanding terbalik
44
Langkah baru
45
Dinginnya malam dan hangatnya jahe
46
Hari libur membawa petaka
47
Penebusan Riana
48
Badai untuk Sekar
49
Hadiah untuk Danu
50
Diratukan Mas Danu
51
Rencana Bu Subroto
52
Batas kesabaran Danu
53
Penjaga jodohku
54
Hobi baru Danu
55
Kerikil kecil
56
Siasat Bu Subroto
57
Sentuhan menggetarkan jiwa
58
Jarak yang memisahkan
59
Rindu yang manis
60
Sayap patah
61
Pelabuhan di tengah prahara
62
Kemarahan Danu
63
Jawaban sakral
64
Alasan Danu
65
Keberuntungan terbesar
66
Bebek goreng
67
Perasaan terselubung
68
Cahaya di balik kebencian
69
Pintu yang tertutup rapat
70
Pengakuan sang pelindung
71
Penyatuan dua jiwa
72
Jawaban ambigu
73
Di bawah cahaya bulan
74
Menuntut jawaban di tepi pantai
75
Mahar rasa bersalah
76
Hampir sempurna
77
Cairan di atas aspal
78
Penantian
79
Perjuangan dan harapan
80
Ketakutan yang sirna
81
Pelepas Rindu
82
Sah kedua kalinya
83
Malam setelah pernikahan
84
Penuntas dahaga
85
Gendongan Ayah
86
Kabar buruk
87
Penentu hidup Riana
88
Buah dari kekhilafan
89
Alasan Baskara
90
Ancaman Danu
91
Satu kosong
92
Pernikahan amanah
93
Gangguan jiwa
94
Status tersembunyi
95
Riana yang gamang
96
Perhatian
97
Nafkah semampunya
98
Perhatian berbalut kecanggungan
99
Takut disalahkan
100
Permintaan Riana
101
Pertemuan
102
Teman lama
103
Keputusan ada di tanganmu
104
Ketakutan Riana
105
Kedatangan masa lalu
106
Keingintahuan Riana
107
Perasaan aneh
108
Keputusan Riana
109
Mantan kekasih
110
Pertama kali
111
Tawar menawar
112
Pilihan Riana
113
Jarak
114
Pilihan yang menyakitkan
115
Kepulangan Riana
116
Perasaan yang sebenarnya
117
Kebohongan Ibas
118
Penyesalan termanis
119
?????
120
Tangis penyesalan
121
Menerima segalanya
122
Istri bijak
123
Perubahan Riana
124
Kejutan
125
Kebahagiaan Riana
126
Manja
127
Mahar rasa bersalah
128
KARYA BARU (Dosa Di Balik Gaun Sutra)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!