Wanita dengan sandal jepit

Minggu pagi di kota kecil ini biasanya berarti pasar tumpah yang riuh, namun di kamar utama rumah Mas Danu, suasana masih diselimuti keheningan yang menyesakkan. Sekar terbangun lebih awal, seperti biasanya. Ia sudah selesai mandi dan kini sedang duduk di pinggiran ranjang, menyisir rambut hitamnya yang panjang dan dan berkilau meski jarang dirawat dengan vitamin.

​Di sisi ranjang yang lain, Danu masih bergelung di balik selimut abu-abunya. Sekar memperhatikan punggung lebar itu melalui pantulan cermin rias. Dua bulan ini mereka tidur di ranjang yang sama, namun ada dinding transparan yang sangat tebal di antara mereka. Danu tidak pernah menyentuhnya lebih dari sekadar ketidaksengajaan, dan Sekar selalu memastikan dirinya tidur di tepian ranjang paling ujung agar tidak mengganggu suaminya.

​Suara gesekan kain terdengar. Danu berbalik, matanya terbuka dan langsung tertuju pada Sekar yang sedang mencepol rambutnya asal. Pria itu segera bangkit, duduk sambil mengusap wajahnya yang masih kasar karena bangun tidur.

​"Ganti bajumu, Sekar. Kita keluar sebentar" Ucap Danu. Suaranya serak khas orang baru bangun tidur, terdengar jauh lebih berat dari biasanya.

​Sekar sedikit tersentak, tangannya berhenti merapikan rambut.

"Keluar ke mana, Mas? Masih banyak cucian di belakang yang belum saya setrika. Masakan untuk Ibu juga belum saya siapkan"

​"Biarkan saja. Nanti biar Mbok Sum yang urus. Pakai baju yang paling bagus, kita ke kota!" Danu berdiri, berjalan menuju lemari dan mengambil handuk. Ia tidak menoleh lagi, seolah keputusannya adalah titah yang tak boleh dibantah.

​Sekar mematut diri di cermin saat Danu sudah berada di kamar mandi.

"Baju paling bagus" Sekar bergumam miris.

Dia hanya punya beberapa potong dress selutut berbahan katun murah yang warnanya sudah memudar dan beberapa daster batik untuk tidur. Akhirnya, ia memilih sebuah dress berlengan pendek berwarna biru tua dengan motif bunga kecil-kecil yang sudah agak kusam. Dress itu adalah pakaian terbaiknya yang biasa ia pakai jika ada hajatan di kampung dulu.

Setelah itu, Sekar bergegas menyiapkan baju untuk Danu. Dia ingat waktu pertama kali dia mulai menyiapkan kebutuhan Danu. Saat itu, baru satu Minggu pernikahan mereka. Sekar merasa sungkan kalau hanya duduk diam di rumah itu tanpa melakukan apa pun untuk Danu.

"Mas, a-apa boleh saya bantu siapkan baju untuk Mas?" Saat itu Sekar begitu ragu, takut Danu tak sudi barang-barangnya disentuh oleh tangan kasar Sekar.

"Lalukan apa pun selama menurutmu itu tidak membebanimu. Aku suamimu dan aku tidak melarang itu!"

Mulai saat itu, Sekar selalu melayani kebutuhan Danu. Mencuci baju milik Danu, menyetrika, menyiapkan baju untuk Danu, menyiapkan makan, pokoknya apa pun Sekar lakukan untuk Danu. Sekalian karena kewajibannya sebagai istri, Sekar menganggap itu sebagai satu bentuk balas budi karena Danu sudah menampungnya dan memberi makanan padanya secara gratis.

​Saat ia sedang menyisir rambutnya agar lebih rapi lagi, Danu keluar dari kamar mandi hanya dengan lilitan handuk di pinggang. Sekar segera menundukkan wajahnya dalam-dalam, dadanya berdegup kencang karena rasa sungkan yang luar biasa. Meski sudah pernah melihat seluruh tubuh Danu, bahkan sudah merasakan kerasnya tubuh Danu itu, Ia merasa sangat tidak pantas berada dalam satu ruang pribadi dengan pria seperti Danu. Ia segera berjalan menuju teras kamar, menunggu suaminya berganti pakaian di dalam.

​Mereka berangkat menggunakan mobil pick-up kabin ganda milik toko. Sepanjang perjalanan, Sekar hanya diam menatap keluar jendela, memilin ujung dressnya yang terasa sedikit sempit karena berat badannya yang mulai naik. Danu menghentikan mobil di depan sebuah butik pakaian yang cukup ternama di pusat kabupaten.

​"Kenapa ke sini, Mas?" Tanya Sekar, suaranya mencicit saat melihat papan nama butik tersebut. Ia melirik kakinya yang hanya memakai sandal jepit karet tipis.

​"Baju-bajumu sudah mulai sempit, kan? Kamu butuh baju hamil yang lebih layak supaya perutmu tidak tertekan" Danu turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Sekar, sebuah gestur yang justru membuat Sekar merasa semakin canggung.

​Saat masuk, aroma pengharum ruangan yang elegan langsung menyambut mereka. Sekar merasa sangat kontras, ia berdiri di sana dengan rambut yang hanya diikat seadanya dan dress katun murah, di antara manekin-manekin yang mengenakan pakaian seharga gaji sebulan miliknya dulu.

​"Selamat siang, Pak Danu. Wah, sudah lama tidak mampir" Sapa seorang pelayan dengan ramah, namun matanya sempat menyapu penampilan Sekar dengan tatapan meremehkan yang sangat tipis, tapi cukup untuk membuat Sekar ingin menangis.

"Pelayan itu kelihatan dekat dengan Mas Danu, mungkin duku Mas Danu sering mengantar Mbak Lidya ke sini" Batin Sekar.

​"Siang. Tolong carikan beberapa potong baju hamil yang bahannya dingin untuk istri saya"

​Kata istri saya keluar begitu saja, tapi dampaknya luar biasa bagi Sekar. Ia merasa ingin menghilang. Pelayan itu menyodorkan sebuah terusan berwarna biru muda yang tampak sangat lembut. Sekar melihat label harganya, Enam ratus ribu rupiah.

​"Mas, ini mahal sekali" Bisik Sekar sambil menarik ujung kemeja Danu. Wajahnya sudah memerah karena malu.

"Cari di pasar saja, Mas. Di sana lima puluh ribu sudah dapat dua"

​Danu menoleh, menatap Sekar dengan pandangan yang dalam. Ada sedikit kerutan di dahinya.

"Kamu bukan buruh cuci dan penimbang paku lagi, Sekar. Kamu istriku, jangan pikirkan harganya. Cobalah!"

Dengan terpaksa akhirnya Sekar menerima baju pilihan Danu itu. ​Sekar masuk ke ruang ganti. Di dalam sana, ia menatap bayangannya di cermin besar. Ia terlihat begitu menyedihkan. Ia merasa Danu sedang berusaha memperbaiki penampilannya agar tidak memalukan jika dilihat orang lain. Ia merasa kebaikan Danu ini bukan untuk kenyamanan dirinya, melainkan demi menjaga martabat pria itu sebagai pemilik usaha yang sukses.

​Saat ia keluar mengenakan baju baru itu, Danu sedang duduk menunggu. Pria itu mendongak, matanya tertuju pada Sekar selama beberapa detik. Tak ada pujian, ia hanya mengangguk pelan.

"Bagus. Ambil itu, dan cari tiga lagi yang senada"

​Saat Danu sedang membayar di kasir, pintu butik terbuka. Dua wanita paruh baya glamor masuk dan langsung mengenali Danu.

​"Lho, Mas Danu? Apa kabar?" Salah satu wanita itu menyapa dengan suara nyaring.

"Lama tidak kelihatan. Eh, ini siapa?" Mata wanita itu tertuju pada Sekar yang berdiri kaku, jemarinya yang kasar karena sering terkena detergen kini terlihat sangat jelas saat ia memegang tas belanjaan.

​"Ini Sekar, istri saya" Jawab Danu tenang.

​Wanita itu membelalakkan mata, melirik Sekar dari rambut hingga sandal jepitnya dengan tatapan yang sangat menghina.

"Istri? Jadi benar kabar itu? Padahal kita semua mengira kamu bakal sama Lidya, ya? Kasihan Lidya"

​Sekar merasa dunianya runtuh. Nama Lidya kembali muncul seperti sembilu. Ia melihat rahang Danu mengeras.

"Lidya nanti akan punya jalannya sendiri, Tante. Saya duluan" ucap Danu pendek sambil menarik pergelangan tangan Sekar menuju mobil.

​Di dalam mobil, tangis Sekar pecah, dia tidak bisa menahannya lagi.

"Maaf Mas, gara-gara saya, Mas jadi omongan orang. Harusnya Mas tidak usah menikahi saya. Mas bisa bayar saya untuk pergi jauh, Mas tidak perlu hidup susah begini sama saya"

​Danu tidak segera menjalankan mobilnya. Ia menyandarkan punggung, menatap lurus ke depan. Tangannya memegang kemudi dengan erat hingga buku jarinya memutih.

​"Berhenti bicara omong kosong, Sekar," suara Danu terdengar sangat lelah. "Aku tidak merasa susah. Ini pilihanku. Kamu juga tidak salah karena aku yang memaksamu malam itu!"

​"Tapi Mas masih mencintai Mbak Lidya, kan?" pertanyaan itu terlontar begitu saja dari bibir Sekar yang bergetar.

​Danu menoleh. Matanya yang tajam mengunci pandangan Sekar yang sembab. Selama beberapa saat, keheningan menyergap. Danu tidak membantah, tapi juga tidak mengiyakan. Ia hanya menghela napas panjang dan mulai menjalankan mobilnya.

​"Memang masih butuh waktu untuk melupakan hubungan yang sudah lama terjalin, tapi aku menjalani pernikahan ini dengan ikhlas. Yang artinya aku sudah memilih untuk melupakan meski perlahan, dan memulai yang baru dengan perlahan juga!"

"Pakai sabuk pengamanmu, kita pulang!" Lanjut Danu karena Sekar hanya bisa menangis saat ini.

Dan di sepanjang jalan pulang, Sekar bersumpah dalam hati, ia tidak akan pernah membiarkan dirinya jatuh cinta pada Danu. Sebab, mencintai Danu hanya akan menambah beban bagi pria itu. Ia akan tetap menjadi Sekar yang tahu diri, wanita miskin dengan sandal jepit yang hanya numpang di hidup pria sempurna seperti Danu.

Tapi siapa yang tau? Hati memang milik Sekar sendiri, tapi bukan Sekar yang mengendalikannya. Bisa saja nanti malam atau besok pagi Sekar sudah jatuh cinta pada Danu. Perasaan itu bisa berubah semudah membalikkan telapak tangan kalau pengendali-Nya sudah berkehendak.

Terpopuler

Comments

Nar Sih

Nar Sih

semagatt sekarr💪maaf kak ketinggaln jdi bca nya pelan,,ditgh kesibukan dunia nyata dan kisah sekar sangat sedih

2026-04-03

1

Herman Lim

Herman Lim

waduh Sekar jgn lemah bgt sih coba lah jadi wanita yg lebih pantas buat Danu belanjar lah lebih dewasa agar ga di pandang rendah sama org

2026-03-20

2

🌷Vnyjkb🌷

🌷Vnyjkb🌷

wes sekar, jgn overthinking,,, pokok terima ,slma danu tdk menyakitimu,, jaga pikiranmu sekar, nikmati kehamilan dg sukacita,,, fokus ( pikiran ) pd kehamilanmu aja😍

2026-03-20

1

lihat semua
Episodes
1 Atap yang terasa asing
2 Janji di kontrakan kumuh
3 Air mata Sekar
4 Wanita dengan sandal jepit
5 Rasa bersalah
6 Tamu perusak hati
7 Desas-desus di pasar
8 Permintaan di balik pintu kamar
9 Sentuhan di bawah malam
10 Bisik-bisik di balik tumpukan semen
11 Kekaguman di bawah lampu kamar
12 Mas Danu yang manis
13 Hadiah kecil dari Mas Danu
14 Pembelaan Danu
15 Kepanikan Danu
16 Kuah bakso yang hangat
17 Kehangatan dalam perhatian Mas Danu
18 Adik ipar
19 Sekar yang cantik
20 Sayangnya Mas Danua
21 Botakan
22 Botakin rambutan
23 Hadiah diantara keriuhan malam
24 Ketakutan Sekar
25 Hadiah sederhana untuk Mas Danu
26 Ketenangan jiwa
27 Krisan putih dan kenangannya
28 Bayang masa lalu yang selalu mengganggu
29 Bayangan yang tak kunjung padam
30 Dinding yang kembali tercipta
31 Luka yang semakin terkoyak
32 Diammu membunuhku
33 Ancaman Danu
34 Julukan yang mendarah daging
35 Tamu tak diundang
36 Rumah pelarian
37 Pagi pertama di rumah tua
38 Usaha Danu
39 Ayam goreng dalam ember
40 Makan siang dan masa lalu
41 Tidur siang
42 Gelang tali berwarna merah
43 Berbanding terbalik
44 Langkah baru
45 Dinginnya malam dan hangatnya jahe
46 Hari libur membawa petaka
47 Penebusan Riana
48 Badai untuk Sekar
49 Hadiah untuk Danu
50 Diratukan Mas Danu
51 Rencana Bu Subroto
52 Batas kesabaran Danu
53 Penjaga jodohku
54 Hobi baru Danu
55 Kerikil kecil
56 Siasat Bu Subroto
57 Sentuhan menggetarkan jiwa
58 Jarak yang memisahkan
59 Rindu yang manis
60 Sayap patah
61 Pelabuhan di tengah prahara
62 Kemarahan Danu
63 Jawaban sakral
64 Alasan Danu
65 Keberuntungan terbesar
66 Bebek goreng
67 Perasaan terselubung
68 Cahaya di balik kebencian
69 Pintu yang tertutup rapat
70 Pengakuan sang pelindung
71 Penyatuan dua jiwa
72 Jawaban ambigu
73 Di bawah cahaya bulan
74 Menuntut jawaban di tepi pantai
75 Mahar rasa bersalah
76 Hampir sempurna
77 Cairan di atas aspal
78 Penantian
79 Perjuangan dan harapan
80 Ketakutan yang sirna
81 Pelepas Rindu
82 Sah kedua kalinya
83 Malam setelah pernikahan
84 Penuntas dahaga
85 Gendongan Ayah
86 Kabar buruk
87 Penentu hidup Riana
88 Buah dari kekhilafan
89 Alasan Baskara
90 Ancaman Danu
91 Satu kosong
92 Pernikahan amanah
93 Gangguan jiwa
94 Status tersembunyi
95 Riana yang gamang
96 Perhatian
97 Nafkah semampunya
98 Perhatian berbalut kecanggungan
99 Takut disalahkan
100 Permintaan Riana
101 Pertemuan
102 Teman lama
103 Keputusan ada di tanganmu
104 Ketakutan Riana
105 Kedatangan masa lalu
106 Keingintahuan Riana
107 Perasaan aneh
108 Keputusan Riana
109 Mantan kekasih
110 Pertama kali
111 Tawar menawar
112 Pilihan Riana
113 Jarak
114 Pilihan yang menyakitkan
115 Kepulangan Riana
116 Perasaan yang sebenarnya
117 Kebohongan Ibas
118 Penyesalan termanis
119 ?????
120 Tangis penyesalan
121 Menerima segalanya
122 Istri bijak
123 Perubahan Riana
124 Kejutan
125 Kebahagiaan Riana
126 Manja
127 Mahar rasa bersalah
128 KARYA BARU (Dosa Di Balik Gaun Sutra)
Episodes

Updated 128 Episodes

1
Atap yang terasa asing
2
Janji di kontrakan kumuh
3
Air mata Sekar
4
Wanita dengan sandal jepit
5
Rasa bersalah
6
Tamu perusak hati
7
Desas-desus di pasar
8
Permintaan di balik pintu kamar
9
Sentuhan di bawah malam
10
Bisik-bisik di balik tumpukan semen
11
Kekaguman di bawah lampu kamar
12
Mas Danu yang manis
13
Hadiah kecil dari Mas Danu
14
Pembelaan Danu
15
Kepanikan Danu
16
Kuah bakso yang hangat
17
Kehangatan dalam perhatian Mas Danu
18
Adik ipar
19
Sekar yang cantik
20
Sayangnya Mas Danua
21
Botakan
22
Botakin rambutan
23
Hadiah diantara keriuhan malam
24
Ketakutan Sekar
25
Hadiah sederhana untuk Mas Danu
26
Ketenangan jiwa
27
Krisan putih dan kenangannya
28
Bayang masa lalu yang selalu mengganggu
29
Bayangan yang tak kunjung padam
30
Dinding yang kembali tercipta
31
Luka yang semakin terkoyak
32
Diammu membunuhku
33
Ancaman Danu
34
Julukan yang mendarah daging
35
Tamu tak diundang
36
Rumah pelarian
37
Pagi pertama di rumah tua
38
Usaha Danu
39
Ayam goreng dalam ember
40
Makan siang dan masa lalu
41
Tidur siang
42
Gelang tali berwarna merah
43
Berbanding terbalik
44
Langkah baru
45
Dinginnya malam dan hangatnya jahe
46
Hari libur membawa petaka
47
Penebusan Riana
48
Badai untuk Sekar
49
Hadiah untuk Danu
50
Diratukan Mas Danu
51
Rencana Bu Subroto
52
Batas kesabaran Danu
53
Penjaga jodohku
54
Hobi baru Danu
55
Kerikil kecil
56
Siasat Bu Subroto
57
Sentuhan menggetarkan jiwa
58
Jarak yang memisahkan
59
Rindu yang manis
60
Sayap patah
61
Pelabuhan di tengah prahara
62
Kemarahan Danu
63
Jawaban sakral
64
Alasan Danu
65
Keberuntungan terbesar
66
Bebek goreng
67
Perasaan terselubung
68
Cahaya di balik kebencian
69
Pintu yang tertutup rapat
70
Pengakuan sang pelindung
71
Penyatuan dua jiwa
72
Jawaban ambigu
73
Di bawah cahaya bulan
74
Menuntut jawaban di tepi pantai
75
Mahar rasa bersalah
76
Hampir sempurna
77
Cairan di atas aspal
78
Penantian
79
Perjuangan dan harapan
80
Ketakutan yang sirna
81
Pelepas Rindu
82
Sah kedua kalinya
83
Malam setelah pernikahan
84
Penuntas dahaga
85
Gendongan Ayah
86
Kabar buruk
87
Penentu hidup Riana
88
Buah dari kekhilafan
89
Alasan Baskara
90
Ancaman Danu
91
Satu kosong
92
Pernikahan amanah
93
Gangguan jiwa
94
Status tersembunyi
95
Riana yang gamang
96
Perhatian
97
Nafkah semampunya
98
Perhatian berbalut kecanggungan
99
Takut disalahkan
100
Permintaan Riana
101
Pertemuan
102
Teman lama
103
Keputusan ada di tanganmu
104
Ketakutan Riana
105
Kedatangan masa lalu
106
Keingintahuan Riana
107
Perasaan aneh
108
Keputusan Riana
109
Mantan kekasih
110
Pertama kali
111
Tawar menawar
112
Pilihan Riana
113
Jarak
114
Pilihan yang menyakitkan
115
Kepulangan Riana
116
Perasaan yang sebenarnya
117
Kebohongan Ibas
118
Penyesalan termanis
119
?????
120
Tangis penyesalan
121
Menerima segalanya
122
Istri bijak
123
Perubahan Riana
124
Kejutan
125
Kebahagiaan Riana
126
Manja
127
Mahar rasa bersalah
128
KARYA BARU (Dosa Di Balik Gaun Sutra)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!