Rasa bersalah

​Pagi itu, udara di kota kecil ini terasa lebih lembap dari biasanya. Sisa hujan semalam masih meninggalkan genangan di halaman toko Sumber Rejeki. Namun bagi Sekar, bukan udara dingin yang membuatnya menggigil, melainkan rasa mual yang luar biasa hebat yang menghantam perutnya sejak matanya terbuka.

​Ia mencoba bangkit dari ranjang dengan gerakan pelan, berusaha tidak membangunkan Danu yang masih tertidur di sisi lain. Namun, baru saja kakinya menyentuh lantai dingin, gelombang mual itu kembali datang. Sekar menutup mulutnya rapat-rapat, berlari kecil menuju kamar mandi di dalam kamar mereka.

​Huek... huek...

​Sekar bertumpu pada pinggiran wastafel porselen putih itu. Perutnya terasa dikocok-kocok, namun hanya cairan bening pahit yang keluar. Tubuhnya gemetar hebat, keringat dingin mulai membasahi dahi dan tengkuknya. Ia merasa sangat lemah, seolah seluruh tenaganya tersedot habis oleh nyawa kecil yang sedang tumbuh di dalam rahimnya.

​Tiba-tiba, ia merasakan sebuah tangan besar dan hangat menyentuh tengkuknya. Tangan itu memijat perlahan dengan gerakan yang sangat lembut. Sekar tersentak, mencoba menjauh, namun rasa lemas membuatnya hampir jatuh jika tangan Danu tidak segera beralih menahan pinggangnya.

​"Maaf jadi membangunkanmu Mas" Bisik Sekar dengan suara serak. Ia merasa sangat malu karena Danu harus melihatnya dalam kondisi yang berantakan seperti ini, wajah pucat, rambut kusut, dan aroma muntahan.

​Danu tidak menjawab. Pria itu justru mengambil handuk kecil, membasahinya dengan air hangat, lalu mengusap sisa-sisa air mata dan keringat di wajah Sekar.

"Sudah lebih baik?" Tanya Danu pendek. Matanya menatap intens ke arah mata Sekar yang sembab.

​"Sudah, Mas. Saya cuma butuh duduk sebentar" Jawab Sekar sambil mencoba melepaskan diri dari pegangan Danu. Ia merasa sangat tidak pantas diperlakukan semanis ini oleh Danu. Setiap sentuhan pria itu terasa seperti beban baru baginya.

​Tapi Danu malah membimbingnya kembali ke ranjang, mendudukkannya dengan hati-hati. Tanpa berkata apa-apa, Danu keluar kamar dan kembali beberapa menit kemudian membawa segelas air hangat yang dicampur madu dan seiris lemon.

​"Minum ini pelan-pelan, Kata Mbok Sum ini bisa meredakan mual" Perintah Danu.

​Sekar menerimanya dengan tangan gemetar. Menerima perhatian Danu seperti itu, dia merasa tidak pantas.

"Mas tidak perlu repot-repot. Mas harus segera ke toko, kan? Ini hari Senin, biasanya banyak kiriman barang datang"

​"Toko bisa menunggu" Sahut Danu singkat. Ia duduk di kursi kayu di pojok kamar, memperhatikan Sekar yang sedang menyesap minumannya.

"Aku sudah bilang ke Mbok Sum untuk membuatkan bubur sumsum. Jangan makan yang berminyak dulu!"

​Namun, kehangatan di kamar itu segera pecah oleh suara ketukan keras di pintu.

​"Danu! Kamu sudah bangun belum? Itu truk semen sudah antre di depan gerbang. Siapa yang mau terima barang kalau kamu masih di dalam?" Suara melengking Bu Subroto menembus pintu kayu jati yang tebal.

​Danu menghela napas, ia bangkit dan membuka pintu sedikit.

"Ibu, pelankan suaranya. Sekar sedang sakit, dia mual-mual parah"

​Bu Subroto tidak beranjak. Ia justru mendorong pintu hingga terbuka lebih lebar, matanya melirik tajam ke arah Sekar yang sedang meringkuk di ranjang.

 "Sakit? Halah, Nu. Namanya orang hamil ya memang begitu. Ibu dulu waktu hamil kamu tetap ke pasar, tetap angkat-angkat barang. Jangan mau dibohongi sama aktingnya. Dia cuma mau cari perhatian kamu supaya kamu tidak kerja"

​"Ibu, tolong. Jangan samakan Sekar sama Ibu!" Suara Danu mulai meninggi, ada nada peringatan di sana.

​"Danu, dengar! Toko itu masa depanmu. Jangan gara-gara wanita ini kamu jadi malas-malasan. Dia itu sudah beruntung kamu bawa ke rumah ini, makan enak, tidur nyenyak. Harusnya dia tahu diri, bukan malah merepotkan suaminya terus!" Bu Subroto menunjuk ke arah Sekar dengan jari yang dihiasi cincin emas besar.

​Sekar merasa dadanya sesak. Air mata kembali menggenang di pelupuk matanya. Setiap kata yang diucapkan mertuanya seperti palu yang menghantam martabatnya yang sudah hancur. Ia benar-benar merasa menjadi parasit.

​"Mas, pergilah ke depan!" Ucap Sekar lirih, suaranya bergetar.

"Saya tidak apa-apa. Saya bisa istirahat sendiri. Ibu benar, Mas jangan terlambat karena saya!"

​Danu menoleh ke arah Sekar, lalu kembali menatap ibunya. Wajahnya terlihat sangat tegang.

"Ibu pergi ke depan dulu. Suruh Ibas yang terima semennya. Aku akan keluar setelah memastikan Sekar tenang"

​Bu Subroto mendengus kencang, menatap Sekar dengan pandangan benci sebelum akhirnya melangkah pergi dengan hentakan kaki yang keras.

​Setelah ibunya pergi, Danu kembali mendekati ranjang. Ia melihat Sekar yang sudah menunduk dalam, air mata jatuh membasahi sprei.

​"Jangan didengarkan" Ucap Danu. Tangannya terangkat, mengusap kepala Sekar

"Ibu memang begitu bicaranya"

​"Ibu tidak salah, Mas," Isak Sekar pecah justru karena usapan tangan Danu yang begitu lembut di kepalanya.

"Saya memang merepotkan. Saya merusak rencana pernikahan Mas dengan Mbak Lidya, dan sekarang saya merusak jam kerja Mas. Saya ini pembawa sial buat Mas Danu"

​Danu terdiam. Ia berdiri mematung di samping ranjang. Cahaya matahari pagi yang masuk dari sela-sela gorden menyinari wajahnya yang tampak kaku.

"Kamu bukan pembawa sial, Sekar. Berhenti menganggap dirimu serendah itu. Justru aku yang membuatmu hidup seperti ini!"

​"Tapi Mas tidak bahagia sama saya!" Teriak Sekar tertahan, keberaniannya muncul karena rasa sakit yang memuncak.

"Seharusnya memang kita tidak usah menikah Mas. Biar saya rawat sendiri anak ini, nanti saya tidak akan melarang Mas Danu kalau memang mau melihatnya!" Pikiran konyol itu melintas di kepala Sekar. Padahal mereka sudah menikah, tentu saja pikiran seperti itu tidak akan terjadi.

"Aku tidak akan pernah membiarkan itu terjadi Sekar. Aku tidak mau anakku lahir tanpa Ayah!"

​Suasana kamar mendadak menjadi sangat dingin. Danu menatap Sekar dengan tatapan yang sulit diartikan, ada kemarahan karena ucapan Sekar, ada kelelahan, tapi juga ada sesuatu yang terkunci rapat di balik matanya yang cokelat gelap.

​"Istirahatlah, Sekar. Nanti aku akan pulang saat makan siang" Hanya itu yang Danu katakan. Ia berbalik dan melangkah keluar kamar, menutup pintu dengan perlahan.

​Sekar luruh ke atas bantal. Rasa mual di perutnya kini berganti dengan rasa sakit di dadanya. Ia tahu, ia telah melewati batas dengan menyinggung perasaan Danu. Namun, ia merasa lebih baik dibenci daripada terus-menerus diberi harapan semu melalui kebaikan yang berlandaskan rasa tanggung jawab.

​Di luar, ia bisa mendengar suara Danu yang mulai memberikan instruksi pada para kuli angkut di toko. Suaranya terdengar tegas, profesional, seolah tidak terjadi apa-apa di dalam kamar.

​Dia pria yang hebat, pikir Sekar. Dan aku hanyalah kerikil kecil yang tidak sengaja masuk ke dalam sepatunya. Menyakitkan, mengganggu, dan harus segera dibuang jika waktunya sudah tiba.

​Sekar memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan rasa mual dan rasa bersalah itu menelan dirinya dalam kegelapan pagi yang sunyi. Ia tahu, di rumah ini, ia tidak akan pernah benar-benar menjadi Nyonya. Ia tetaplah Sekar, buruh cuci dan penimbang paku yang terjebak dalam sangkar emas milik pria yang masih merindukan wanita lain.

Terpopuler

Comments

ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢

ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢

ya coba aja ibu hamil lagi siapa tau skrg hamil nya kayak sekar 😂 lagian orang hamil juga beda2, mbak ipar ku lho hamil dia sampe ga bisa cium bau nasi

2026-08-12

0

Pudkeciput

Pudkeciput

danu cari rumah sendiri napa
hidup ber 2 dg istrimu tanpa campur tangan orang lain istrimu stress

2026-04-21

1

@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸

@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸

coba ubah mindset mu sekar. kamu berharga.

2026-04-30

0

lihat semua
Episodes
1 Atap yang terasa asing
2 Janji di kontrakan kumuh
3 Air mata Sekar
4 Wanita dengan sandal jepit
5 Rasa bersalah
6 Tamu perusak hati
7 Desas-desus di pasar
8 Permintaan di balik pintu kamar
9 Sentuhan di bawah malam
10 Bisik-bisik di balik tumpukan semen
11 Kekaguman di bawah lampu kamar
12 Mas Danu yang manis
13 Hadiah kecil dari Mas Danu
14 Pembelaan Danu
15 Kepanikan Danu
16 Kuah bakso yang hangat
17 Kehangatan dalam perhatian Mas Danu
18 Adik ipar
19 Sekar yang cantik
20 Sayangnya Mas Danua
21 Botakan
22 Botakin rambutan
23 Hadiah diantara keriuhan malam
24 Ketakutan Sekar
25 Hadiah sederhana untuk Mas Danu
26 Ketenangan jiwa
27 Krisan putih dan kenangannya
28 Bayang masa lalu yang selalu mengganggu
29 Bayangan yang tak kunjung padam
30 Dinding yang kembali tercipta
31 Luka yang semakin terkoyak
32 Diammu membunuhku
33 Ancaman Danu
34 Julukan yang mendarah daging
35 Tamu tak diundang
36 Rumah pelarian
37 Pagi pertama di rumah tua
38 Usaha Danu
39 Ayam goreng dalam ember
40 Makan siang dan masa lalu
41 Tidur siang
42 Gelang tali berwarna merah
43 Berbanding terbalik
44 Langkah baru
45 Dinginnya malam dan hangatnya jahe
46 Hari libur membawa petaka
47 Penebusan Riana
48 Badai untuk Sekar
49 Hadiah untuk Danu
50 Diratukan Mas Danu
51 Rencana Bu Subroto
52 Batas kesabaran Danu
53 Penjaga jodohku
54 Hobi baru Danu
55 Kerikil kecil
56 Siasat Bu Subroto
57 Sentuhan menggetarkan jiwa
58 Jarak yang memisahkan
59 Rindu yang manis
60 Sayap patah
61 Pelabuhan di tengah prahara
62 Kemarahan Danu
63 Jawaban sakral
64 Alasan Danu
65 Keberuntungan terbesar
66 Bebek goreng
67 Perasaan terselubung
68 Cahaya di balik kebencian
69 Pintu yang tertutup rapat
70 Pengakuan sang pelindung
71 Penyatuan dua jiwa
72 Jawaban ambigu
73 Di bawah cahaya bulan
74 Menuntut jawaban di tepi pantai
75 Mahar rasa bersalah
76 Hampir sempurna
77 Cairan di atas aspal
78 Penantian
79 Perjuangan dan harapan
80 Ketakutan yang sirna
81 Pelepas Rindu
82 Sah kedua kalinya
83 Malam setelah pernikahan
84 Penuntas dahaga
85 Gendongan Ayah
86 Kabar buruk
87 Penentu hidup Riana
88 Buah dari kekhilafan
89 Alasan Baskara
90 Ancaman Danu
91 Satu kosong
92 Pernikahan amanah
93 Gangguan jiwa
94 Status tersembunyi
95 Riana yang gamang
96 Perhatian
97 Nafkah semampunya
98 Perhatian berbalut kecanggungan
99 Takut disalahkan
100 Permintaan Riana
101 Pertemuan
102 Teman lama
103 Keputusan ada di tanganmu
104 Ketakutan Riana
105 Kedatangan masa lalu
106 Keingintahuan Riana
107 Perasaan aneh
108 Keputusan Riana
109 Mantan kekasih
110 Pertama kali
111 Tawar menawar
112 Pilihan Riana
113 Jarak
114 Pilihan yang menyakitkan
115 Kepulangan Riana
116 Perasaan yang sebenarnya
117 Kebohongan Ibas
118 Penyesalan termanis
119 ?????
120 Tangis penyesalan
121 Menerima segalanya
122 Istri bijak
123 Perubahan Riana
124 Kejutan
125 Kebahagiaan Riana
126 Manja
127 Mahar rasa bersalah
128 KARYA BARU (Dosa Di Balik Gaun Sutra)
Episodes

Updated 128 Episodes

1
Atap yang terasa asing
2
Janji di kontrakan kumuh
3
Air mata Sekar
4
Wanita dengan sandal jepit
5
Rasa bersalah
6
Tamu perusak hati
7
Desas-desus di pasar
8
Permintaan di balik pintu kamar
9
Sentuhan di bawah malam
10
Bisik-bisik di balik tumpukan semen
11
Kekaguman di bawah lampu kamar
12
Mas Danu yang manis
13
Hadiah kecil dari Mas Danu
14
Pembelaan Danu
15
Kepanikan Danu
16
Kuah bakso yang hangat
17
Kehangatan dalam perhatian Mas Danu
18
Adik ipar
19
Sekar yang cantik
20
Sayangnya Mas Danua
21
Botakan
22
Botakin rambutan
23
Hadiah diantara keriuhan malam
24
Ketakutan Sekar
25
Hadiah sederhana untuk Mas Danu
26
Ketenangan jiwa
27
Krisan putih dan kenangannya
28
Bayang masa lalu yang selalu mengganggu
29
Bayangan yang tak kunjung padam
30
Dinding yang kembali tercipta
31
Luka yang semakin terkoyak
32
Diammu membunuhku
33
Ancaman Danu
34
Julukan yang mendarah daging
35
Tamu tak diundang
36
Rumah pelarian
37
Pagi pertama di rumah tua
38
Usaha Danu
39
Ayam goreng dalam ember
40
Makan siang dan masa lalu
41
Tidur siang
42
Gelang tali berwarna merah
43
Berbanding terbalik
44
Langkah baru
45
Dinginnya malam dan hangatnya jahe
46
Hari libur membawa petaka
47
Penebusan Riana
48
Badai untuk Sekar
49
Hadiah untuk Danu
50
Diratukan Mas Danu
51
Rencana Bu Subroto
52
Batas kesabaran Danu
53
Penjaga jodohku
54
Hobi baru Danu
55
Kerikil kecil
56
Siasat Bu Subroto
57
Sentuhan menggetarkan jiwa
58
Jarak yang memisahkan
59
Rindu yang manis
60
Sayap patah
61
Pelabuhan di tengah prahara
62
Kemarahan Danu
63
Jawaban sakral
64
Alasan Danu
65
Keberuntungan terbesar
66
Bebek goreng
67
Perasaan terselubung
68
Cahaya di balik kebencian
69
Pintu yang tertutup rapat
70
Pengakuan sang pelindung
71
Penyatuan dua jiwa
72
Jawaban ambigu
73
Di bawah cahaya bulan
74
Menuntut jawaban di tepi pantai
75
Mahar rasa bersalah
76
Hampir sempurna
77
Cairan di atas aspal
78
Penantian
79
Perjuangan dan harapan
80
Ketakutan yang sirna
81
Pelepas Rindu
82
Sah kedua kalinya
83
Malam setelah pernikahan
84
Penuntas dahaga
85
Gendongan Ayah
86
Kabar buruk
87
Penentu hidup Riana
88
Buah dari kekhilafan
89
Alasan Baskara
90
Ancaman Danu
91
Satu kosong
92
Pernikahan amanah
93
Gangguan jiwa
94
Status tersembunyi
95
Riana yang gamang
96
Perhatian
97
Nafkah semampunya
98
Perhatian berbalut kecanggungan
99
Takut disalahkan
100
Permintaan Riana
101
Pertemuan
102
Teman lama
103
Keputusan ada di tanganmu
104
Ketakutan Riana
105
Kedatangan masa lalu
106
Keingintahuan Riana
107
Perasaan aneh
108
Keputusan Riana
109
Mantan kekasih
110
Pertama kali
111
Tawar menawar
112
Pilihan Riana
113
Jarak
114
Pilihan yang menyakitkan
115
Kepulangan Riana
116
Perasaan yang sebenarnya
117
Kebohongan Ibas
118
Penyesalan termanis
119
?????
120
Tangis penyesalan
121
Menerima segalanya
122
Istri bijak
123
Perubahan Riana
124
Kejutan
125
Kebahagiaan Riana
126
Manja
127
Mahar rasa bersalah
128
KARYA BARU (Dosa Di Balik Gaun Sutra)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!