Anniv 2. Menunggu

Ganis memasuki sebuah ruangan di mana terdapat beberapa box anak berjajar di sana. Hatinya mendadak mengharu biru kala ia lihat wajah bayi-bayi tak berdosa itu tengah tertidur begitu lelap. Bahkan bayi-bayi yang terbangun pun mereka nampak begitu tenang dengan botol susu yang diberikan oleh pengasuh yang ditugaskan di panti ini.

"Bayi ini baru sepuluh hari yang lalu kami temukan di sebuah kardus yang di letakkan di depan gerbang panti, Mbak."

Pandangan Ganis tertuju pada bayi kecil yang digendong oleh Ambar. Bayi prempuan dengan bola mata lebar dan berbulu mata lentik. Nampak cantik sekali.

"Boleh saya gendong, Bu?" tanya Ganis meminta izin.

"Tentu boleh, Mbak."

Ambar memberikan bayi yang berada dalam gendongannya kepada Ganis. Wajah Ganis nampak begitu bahagia melihat wajah bayi kecil ini lebih dekat.

"MashaAllah... Cantik sekali kamu, Nak."

"Betui Mbak, di antara bayi-bayi yang ada di panti ini, bayi inilah yang paling cantik."

"Kalau saja mas Krisna mengizinkan saya untuk mengadopsi anak, pilihan saya pasti akan jatuh pada bayi ini, Bu," ucap Ganis lirih dengan pandangan yang meremang.

"Memangnya mas Krisna tidak mengizinkan mbak Ganis untuk mengadopsi bayi ya?" tanya Ambar dibalut dengan rasa penasarannya. "Padahal kalau kata orang-orang zaman dulu, mengadopsi anak itu bisa sebagai pancingan untuk mendapatkan keturunan lho Mbak."

"Hah... Entahlah Bu, dulu sempat ada pembicaraan kami perihal adopsi bayi, tapi enam bulan terakhir ini ketika saya membuka obrolan lagi tentang adopsi anak, mas Krisna dengan lantang menolak. Katanya ia hanya mau mengurus anak yang berasal dari darah dagingnya sendiri."

Tatapan mata Ganis menerawang, teringat kembali apa yang menjadi pembahasannya bersama sang suami beberapa bulan yang lalu. Entah mengapa kala itu respon sang suami terlihat tidak senang kala mendengar kata adopsi. Sangat jauh berbeda dari tahun-tahun awal mereka memasuki usia pernikahan.

"Oh begitu ya Mbak? Kalau memang seperti itu ya jangan dipaksakan untuk adopsi anak, takutnya malah menimbulkan masalah," ucap Ambar mengemukakan pendapatnya.

"Selain itu mas Krisna juga khawatir akan nasab dari si anak yang akan kami adopsi, Bu. Takutnya anak yang kami adopsi berasal dari orang tua yang memiliki akhlak kurang baik."

"Hmmmmmm ya sudah Mbak, apapun keputusan dari mbak Ganis dan mas Krisna semoga setelah ini Allah segerakan menitipkan amanah di dalam rahim mbak Ganis."

"Aamiin, amiin, Bu. Sambung doa ya."

"Sudah pasti itu Mbak. Mbak Ganis itu salah satu donatur tetap di panti ini, hal itu menunjukkan kalau mbak Ganis adalah sosok yang tidak perhitungan dalam memenuhi kebutuhan anak dan siap juga layak untuk mendapatkan keturunan. Saya yakin Allah pasti segera menitipkan amanah di dalam rahim mbak Ganis."

"Aamiin.. Amiin... Amiin..."

Ganis kembali menatap mata bulat bayi cantik yang ada di dalam gendongannya ini. Merasakan sensasi rasa bahagia di saat ia bisa menggendong anak seperti yang selama ini ia dambakan.

Di antara tujuh puluh tujuh pertanyaan itu, mengapa kamu tidak memilih aku saja yang menjadi orang tuamu, Nak? Mengapa justru kamu memilih rahim dari seorang ibu yang sama sekali tidak mau bertanggungjawab atas kelahiranmu.

*****

Ganis mematut tubuhnya di depan cermin. Melihat dengan seksama pantulan wajah yang tercetak di sana. Wajah yang ia poles dengan riasan tipis namun tidak meninggalkan kesan cantik natural. Senyum penuh kebahagiaan tergambar jelas di wajahnya. Senyum penuh rasa syukur karena ia mendapatkan sosok seorang suami seperti Krisna.

Sosok lelaki sholeh yang selama ini sudah menjadi imam yang baik untuknya. Sosok lelaki yang senantiasa bersikap lembut dan tak pernah sekalipun bermain tangan ataupun berkata dengan nada kasar. Dan seorang suami yang setia berada di sisinya meskipun sampai saat ini masih belum ada riuh suara tangis dan gelak tawa seorang anak yang menghiasi rumah tangganya. Ganis merasa ada banyak hal yang harus selalu ia syukuri dalam pernikahannya bersama Krisna meskipun perihal keturunan ia memang belum beruntung.

"Kok sudah jam segini mas Krisna belum sampai rumah juga?"

Ganis meraih ponsel yang ia letakkan di atas nakas. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam namun sang suami sepertinya belum menunjukkan tanda-tanda akan tiba di rumah. Ia buka fitur chat sang suami dan dahinya sedikit mengernyit kala last seen di whatsapp sang suami menunjukkan pukul 18.40.

"Last seen 18.40, jika di jam itu mas Krisna dalam perjalanan pulang ke rumah, masa iya sampai jam segini mas Krisna belum sampai juga? Padahal jarak Jogja-Magelang hanya kisaran satu sampai satu setengah jam saja."

Ganis berkata lirih sembari menatap lekat layar gawai. Bermacam-macam pertanyaan muncul memenuhi isi kepala dan membuat perasaan gundah di dalam hati. Tak ayal membuat prasangka-prasangka buruk juga turut merajai.

Ganis mengayunkan tungkai kaki menuju jendela kamar yang tirainya sengaja ia buka lebar-lebar. Ia biarkan cahaya lembut sang rembulan menelusup masuk ke dalam kamar hingga suasana hangat terasa membelai kulit tubuhnya.

Ganis berdiri di balik jendela. Wajahnya mendongak, melihat ke angkasa. Nampak hamparan langit malam menyapa para penghuni bumi dengan begitu ramah. Cahaya rembulan yang terasa begitu lembut dengan dihiasi goresan awan tipis seakan menjadi lukisan malam terindah dari Yang Maha Pencipta.

Hati yang sebelumnya dipenuhi oleh kuncup-kuncup rasa bahagia dan tinggal menunggu mekarnya menyambut perayaan ke sepuluh ulang tahun pernikahan bersama sang suami, nampaknya kini sedikit berubah menjadi benih-benih prasangka buruk yang siap bersemi. Membawanya dalam perasaan kalut yang mungkin tak bertepi.

Ganis menghela napas dalam-dalam untuk kemudian ia hembuskan kasar. Merasa bosan karena terlalu lama berada di dalam kamar, pada akhirnya wanita itu memilih untuk turun ke lantai bawah.

"Loh, bu Ganis belum tidur?"

Suara Maryati, asisten rumah tangga di rumah Ganis terdengar lirih menyambut Ganis yang baru saja akan menuju ruang makan.

Ganis tersenyum kecut dengan hati yang terasa kalut. Ia geser kursi makan dan ia daratkan bokongnya di sana.

"Belum Bu, aku masih menunggu mas Krisna. Bu Mar belum tidur juga?"

"Saya tadi sudah tidur Bu, tapi tiba-tiba terbangun dan teringat pintu belakang belum dikunci, maka dari itu saya bangun untuk mengunci pintu belakang."

"Oh begitu. Ya sudah, bu Mar lebih baik lanjut tidur, sudah malam soalnya."

"Bu Ganis sendiri masih menunggu pak Krisna kah? Atau perlu saya temani sembari menunggu pak Krisna sampai rumah?" tawar Maryati.

Ganis menggeleng. "Tidak perlu Bu. Bu Mar istirahat saja. Sebentar lagi mas Krisna sampai rumah kok."

"Baiklah kalau begitu Bu, saya kembali ke kamar ya."

"Silakan Bu."

Maryati kembali ke kamar dan meninggalkan Ganis yang duduk termenung sendirian di meja makan. Di hadapannya sudah ada kue yang siang tadi ia buat yang rencananya ingin ia potong bersama sang suami.

Malam kian merangkak larut. Bola mata yang sebelumnya membulat sempurna perlahan mulai sayu dan terasa begitu berat. Ganis meletakkan kepalanya di atas meja makan. Sesekali wanita itu menguap, sebagai isyarat benteng pertahanannya dalam menunggu kepulangan sang suami sudah berada pada batasnya. Dan benar saja, tak memerlukan waktu lama, wanita itu perlahan mulai tenggelam dalam lautan mimpinya.

.

.

.

Terpopuler

Comments

☠novi¹Kᵝ⃟ᴸ

☠novi¹Kᵝ⃟ᴸ

kasian sampai ketiduran gitu.. padahal suaminya lagi ehem-ehem sama istri keduanya

2026-04-15

0

Fumiko Sora

Fumiko Sora

saking lamanya menunggu, sampe ketiduran ya Nis.. sabar ya, suamimu lg sama istri muda

2026-03-28

0

El Jasmin

El Jasmin

kasian udah dandan cantik buat menyambut sang suami, eh malah terlambat pulang

2026-04-11

0

lihat semua
Episodes
1 Anniv 1. Sebuah Berita
2 Anniv 2. Menunggu
3 Anniv 3. Maaf
4 Anniv 4. Selembar Foto USG
5 Anniv 5. Teman Lama
6 Anniv 6. Selimut Dusta
7 Anniv 7. Memastikan
8 Anniv 8. Rencana ke Magelang
9 Anniv 9. Menagih Janji
10 Anniv 10. Terkuak
11 Anniv 11. Meminta Bagian
12 Anniv 12. Bertemu
13 Anniv 13. Sandiwara?
14 Anniv 14. Tersisih
15 Anniv 15. Terus Melangkah
16 Anniv 16. Pindah Kamar
17 Anniv 17. Mertua Mesum
18 Anniv 18. Drama Queen
19 Anniv 19. Memulai (Lagi)
20 Anniv 20. Larut Dalam Hasrat
21 Anniv 21. Suasana Hangat
22 Anniv 22. Sebuah Rencana (Jahat)
23 Anniv 23. Kamu Cemburu, Mas?
24 Anniv 24. Paket Kiriman
25 Anniv 25. Bahagia yang Sementara?
26 Anniv 26. Kekesalan Istri Muda
27 Anniv 27. Terkesima
28 Anniv 28. Memancing Emosi Istri Muda
29 Anniv 29. Mendesak Lewat Mertua
30 Anniv 30. Laporan Sang Asisten Rumah Tangga
31 Anniv 31. Arogan
32 Anniv 32. Apes
33 Anniv 33. Istri Sah Mencuri Start
34 Anniv 34. Pembagian Harta
35 Anniv 35. Menghabiskan Waktu
36 Anniv 36. Masakan Sang Madu
37 Anniv 37. Ego yang Tertampar
38 Anniv 38. Tuduhan
39 Anniv 39. Liburan ke Bali
40 Anniv 40. Berondong Kaya
41 Anniv 41. Anugerah
42 Anniv 42. Terdengar dari Balik Pintu
43 Anniv 43. Bunga-Bunga Asmara
44 Anniv 44. Dirobohkan
45 Anniv 45. Dipermalukan
46 Anniv 46. Sesuai Porsi
47 Anniv 47. Kedatangan Adik Ipar
48 Anniv 48. Perut Rata
49 Anniv 49. Tak Seindah yang Dibayangkan
50 Anniv 50. Kacau Balau
51 Anniv 51. Menjalankan Rencana
52 Anniv 52. Celaka
53 Anniv 53. Tolong Selamatkan!
54 Anniv 54. Masih dalam Perlindungan Tuhan
55 Anniv 55. Kecewa Tak Sesuai Rencana
56 Anniv 56. Pindah Rumah
57 Anniv 57. Memasang Iklan
58 Anniv 58. Ada Kelainan
59 Anniv 59. Silakan Keluar dari Rumah Ini!
60 Anniv 60. Beda Istri Beda Rezeki
61 Anniv 61. Gubuk Derita
62 Anniv 62. Undangan
63 Anniv 63. Jejak Kenang
64 Anniv 64. Istri Ke-dua Kalah Lagi
65 Anniv 65. Terjual Dua Miliar
66 Anniv 66. Kontraksi
67 Anniv 67. Keracunan dan Kelahiran
68 Anniv 68. Tak Bisa Menerima Kenyataan
69 Anniv 69. Harus Mengakhiri
70 Anniv 70. Kabur
71 Anniv 71. Ditahan Polisi
72 Anniv 72. Kembali Kepada Sang Pencipta
73 Anniv 73. Sebuah Permintaan
74 Anniv 74. Dilema
75 Anniv 75. Satu Keputusan
76 Anniv 76. Menyambangi
77 Anniv 77. Jemputlah Kebahagiaanmu
78 Anniv 78. Kejutan di Lampu Merah
79 Anniv 79. Meregang Nyawa?
80 Anniv 80. Bebas
81 Anniv 81. Menutup Lembar Kisah
82 Anniv 82. Sang Penipu Ulung
83 Anniv 83. Black Card
84 Anniv 84. Melarikan Diri
85 Anniv 85. Dipermalukan
86 Anniv 86. Diusir
87 Anniv 87. Tertangkap
88 Anniv 88. Pintu Maaf
89 Anniv 89. Tak Terduga
90 Anniv 90. Bahagia
91 Novel Baru
Episodes

Updated 91 Episodes

1
Anniv 1. Sebuah Berita
2
Anniv 2. Menunggu
3
Anniv 3. Maaf
4
Anniv 4. Selembar Foto USG
5
Anniv 5. Teman Lama
6
Anniv 6. Selimut Dusta
7
Anniv 7. Memastikan
8
Anniv 8. Rencana ke Magelang
9
Anniv 9. Menagih Janji
10
Anniv 10. Terkuak
11
Anniv 11. Meminta Bagian
12
Anniv 12. Bertemu
13
Anniv 13. Sandiwara?
14
Anniv 14. Tersisih
15
Anniv 15. Terus Melangkah
16
Anniv 16. Pindah Kamar
17
Anniv 17. Mertua Mesum
18
Anniv 18. Drama Queen
19
Anniv 19. Memulai (Lagi)
20
Anniv 20. Larut Dalam Hasrat
21
Anniv 21. Suasana Hangat
22
Anniv 22. Sebuah Rencana (Jahat)
23
Anniv 23. Kamu Cemburu, Mas?
24
Anniv 24. Paket Kiriman
25
Anniv 25. Bahagia yang Sementara?
26
Anniv 26. Kekesalan Istri Muda
27
Anniv 27. Terkesima
28
Anniv 28. Memancing Emosi Istri Muda
29
Anniv 29. Mendesak Lewat Mertua
30
Anniv 30. Laporan Sang Asisten Rumah Tangga
31
Anniv 31. Arogan
32
Anniv 32. Apes
33
Anniv 33. Istri Sah Mencuri Start
34
Anniv 34. Pembagian Harta
35
Anniv 35. Menghabiskan Waktu
36
Anniv 36. Masakan Sang Madu
37
Anniv 37. Ego yang Tertampar
38
Anniv 38. Tuduhan
39
Anniv 39. Liburan ke Bali
40
Anniv 40. Berondong Kaya
41
Anniv 41. Anugerah
42
Anniv 42. Terdengar dari Balik Pintu
43
Anniv 43. Bunga-Bunga Asmara
44
Anniv 44. Dirobohkan
45
Anniv 45. Dipermalukan
46
Anniv 46. Sesuai Porsi
47
Anniv 47. Kedatangan Adik Ipar
48
Anniv 48. Perut Rata
49
Anniv 49. Tak Seindah yang Dibayangkan
50
Anniv 50. Kacau Balau
51
Anniv 51. Menjalankan Rencana
52
Anniv 52. Celaka
53
Anniv 53. Tolong Selamatkan!
54
Anniv 54. Masih dalam Perlindungan Tuhan
55
Anniv 55. Kecewa Tak Sesuai Rencana
56
Anniv 56. Pindah Rumah
57
Anniv 57. Memasang Iklan
58
Anniv 58. Ada Kelainan
59
Anniv 59. Silakan Keluar dari Rumah Ini!
60
Anniv 60. Beda Istri Beda Rezeki
61
Anniv 61. Gubuk Derita
62
Anniv 62. Undangan
63
Anniv 63. Jejak Kenang
64
Anniv 64. Istri Ke-dua Kalah Lagi
65
Anniv 65. Terjual Dua Miliar
66
Anniv 66. Kontraksi
67
Anniv 67. Keracunan dan Kelahiran
68
Anniv 68. Tak Bisa Menerima Kenyataan
69
Anniv 69. Harus Mengakhiri
70
Anniv 70. Kabur
71
Anniv 71. Ditahan Polisi
72
Anniv 72. Kembali Kepada Sang Pencipta
73
Anniv 73. Sebuah Permintaan
74
Anniv 74. Dilema
75
Anniv 75. Satu Keputusan
76
Anniv 76. Menyambangi
77
Anniv 77. Jemputlah Kebahagiaanmu
78
Anniv 78. Kejutan di Lampu Merah
79
Anniv 79. Meregang Nyawa?
80
Anniv 80. Bebas
81
Anniv 81. Menutup Lembar Kisah
82
Anniv 82. Sang Penipu Ulung
83
Anniv 83. Black Card
84
Anniv 84. Melarikan Diri
85
Anniv 85. Dipermalukan
86
Anniv 86. Diusir
87
Anniv 87. Tertangkap
88
Anniv 88. Pintu Maaf
89
Anniv 89. Tak Terduga
90
Anniv 90. Bahagia
91
Novel Baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!