10th Anniversary

10th Anniversary

Anniv 1. Sebuah Berita

Senyum manis tiada henti mengembang di bibir Ganis kala kue black forest yang ia buat sudah tersaji di atas meja. Sedari tadi wanita berusia tiga puluh lima tahun itu sibuk di dapur toko kue miliknya untuk membuat kue spesial yang akan ia berikan untuk sang suami malam nanti.

"Untuk acara apa sih Bu kue itu? Kok kami sama sedari tadi tidak diperbolehkan untuk membantu bu Ganis dalam membuatnya?"

Pertanyaan dari Rani, salah satu karyawan yang ada di toko kue miliknya membuat perhatian Ganis sedikit terpecah. Tatapan matanya yang sejak tadi fokus pada kesempurnaan black forest yang ia buat kini teralih pada pertanyaan sang karyawan.

"Untuk acara anniversary ku bersama mas Krisna, Ran. Hari ini tepat sepuluh tahun kami menikah. Dan rencananya malam nanti aku akan memberikan kue ini untuk mas Krisna," ucap Ganis dengan wajah yang berbinar.

Pikiran wanita itu sudah berkelana jauh, membayangkan bagaimana bahagianya malam nanti ketika ia merayakan anniversary ke sepuluh tahun bersama sang suami.

"Waahhh... Ternyata bu Ganis mau merayakan anniversary?" Rani mendekat ke arah Rengganis dan ia ulurkan tangannya. "Selamat ya bu Ganis, semoga pernikahan bu Ganis senantiasa dicurahi oleh kebahagiaan dan keberkahan dari Allah, dan semoga cepat dika....."

Rani memangkas ucapannya. Kedua bola matanya terbelalak ketika ia menyadari akan satu hal.

"Emmmm... Maaf Bu Ganis, saya tidak bermaksud untuk..."

Ganis terkekeh pelan. "Kenapa doamu tidak dilanjutkan Ran?"

"Maaf Bu, saya tidak bermaksud untuk menyinggung perasaan bu Ganis. Saya khawatir kalau doa saya nanti justru membuat bu Ganis semakin sedih," ucap Rani seraya menundukkan wajahnya.

Ganis tersenyum simpul. Ia paham betul apa yang ditakutkan oleh Rani. Rani pasti merasa tidak enak hati jika doa semoga segera diberikan momongan akan melukai hati pejuang garis dua seperti dirinya ini. Ganis menepuk pundak Rani yang mendadak menunduk dalam.

"Tidak apa-apa Ran. Lanjutkan saja doamu, siapa tahu doa darimu lah yang diijabah oleh Allah."

Rani mengangkat wajahnya. "Serius bu Ganis tidak marah?"

"Untuk apa marah, Rani? Aku dan mas Krisna sudah berdamai dengan keadaan. Sudah pasrah sama takdir Allah, kapan Dia akan ngasih kepercayaan kepada kami."

"MashaAllah bu Ganis.... Semoga Allah benar-benar segera menitipkan malaikat kecil dalam rahim bu Ganis ya."

Ganis menganggukkan kepala. "Aamiin Ran. Terima kasih atas doa-doa baik yang sudah kamu panjatkan untukku."

"Sama-sama Bu..."

"Oh iya, bagaimana stok kue di depan? Apa masih banyak yang belum sold?"

"Masih lumayan Bu. Bagaimana? Apa perlu kita refil lagi?"

Ganis sejenak berpikir. "Tidak perlu Ran. Untuk hari ini kita habiskan saja stok yang ada di display ya. Tapi kalau sampai jam lima sore stok di display belum habis boleh kalian bawa pulang. Khusus hari ini kita buka sampai jam lima sore saja."

"Kok tumben Bu?" tanya Rani dengan kerutan di kening.

"Anggap saja kalian ikut merayakan kebahagiaanku dengan berkumpul bersama keluarga lebih awal, Ran."

"MashaAllah... Terima kasih banyak bu Ganis. Ibu benar-benar berhati malaikat. Pak Krisna pasti beruntung sekali memiliki istri seperti bu Ganis," puji Rani.

"Jangan berlebihan, Rani. Aku ini hanya manusia biasa."

"Tepatnya manusia berhati malaikat, Bu," pungkas Rani seraya melenggang pergi dari hadapan Ganis.

Ganis hanya menggeleng-gelengkan kepala. Seharusnya ia yang bersyukur karena mendapatkan suami seperti Krisna. Sosok seorang suami yang penuh dengan kelembutan dan kesabaran. Selama sepuluh tahun pernikahan, lelaki itu selalu memperlakukannya dengan baik. Dan yang paling membuatnya bersyukur adalah ketika Krisna tidak terlalu mempermasalahkan pernikahannya yang sampai saat ini belum juga diberikan keturunan.

Sosok lelaki yang sangat langka di zaman sekarang ketika melihat istrinya belum bisa memberikan keturunan. Biasanya lelaki di luar sana memilih menceraikan atau mencari madu demi keturunan yang diinginkan. Namun hal itu tidak terjadi pada Krisna. Sampai menginjak usia pernikahannya sepuluh tahun, lelaki itu selalu berperilaku baik dan tidak pernah mempermasalahkan perihal keturunan.

Ganis melirik jam dinding yang menempel di satu sudut dinding dapur toko kue miliknya. Hari masih siang, dan seutas senyum terbit di bibirnya.

Sepertinya tidak terlalu buruk jika aku mampir ke panti terlebih dahulu sekaligus memberikan beberapa kebutuhan anak-anak yang ada di sana.

***

Mobil warna putih yang dikemudikan oleh Rengganis tiba di pelataran sebuah panti asuhan yang berada di kota ini. Wanita itu turun dari mobil. Sebuah bangunan yang tak begitu luas dengan pelakat bertuliskan Panti Asuhan 'Kasih Bunda' berdiri kokoh di hadapan Ganis. Dengan langkah perlahan, Ganis memasuki panti asuhan ini.

"Mbak Ganis!"

Suara seorang wanita paruh baya terdengar lembut menyambut kedatangan Ganis. Wanita berusia enam puluh tahun dengan mengenakan jilbab berwarna cokelat nampak begitu ceria melihat Ganis yang berkunjung ke pantinya.

"Bu Ambar..," sapa balik Ganis seraya mengulurkan tangannya.

"MashaAllah... Mimpi apa saya semalam? Hari ini tiba-tiba kedatangan tamu istimewa," ucap Ambar dengan gelak tawa kecil yang keluar dari bibirnya.

"Tamu istimewa apa sih Bu? Biasa saja," kilah Ganis merasa ucapan Ambar ini terlalu berlebihan. "Oh iya, di bagasi ada beberapa kebutuhan yang saya belikan untuk anak-anak panti, Bu. Bisa minta tolong pak Dirman untuk mengambilnya?"

"Nah ini yang saya maksud tamu istimewa karena setiap kali mbak Ganis kemari selalu saja membawa kebahagiaan," ucap Ambar mengemukakan argumennya. Wanita itupun mengedarkan pandangannya ke sekeliling. "Pak Dirman!"

Dirman yang tengah menyiram taman samping bergegas menghampiri Ambar dan juga Ganis.

"Iya bu Ambar," ucap Dirman. "Loh, mbak Ganis tidak ikut suaminya ke Magelang kah?"

Dahi Ganis mengernyit. Merasa sedikit aneh dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Dirman. Sejatinya pengurus panti tidak ada yang mengetahui jika sang suami sedang berada di Magelang, namun mengapa pria berusia lima puluh tahun ini tahu kalau suaminya sedang berada di Magelang.

"Loh, pak Dirman kok tahu kalau suami saya sedang berada di Magelang?"

"Kemarin lusa saya pulang kampung di Magelang, Mbak. Kebetulan saat itu saya ada di pusat perbelanjaan yang ada di kota dan saya bertemu dengan mas Krisna."

"Pak Dirman sempat berbincang dengan suami saya?" tanya Ganis penasaran.

"Itu dia Mbak. Waktu itu saya bertemu di pelataran parkiran. Saya sempat memanggil-manggil mas Krisna tapi tidak dengar dan di samping kursi kemudi, saya lihat ada seorang wanita, saya kira itu mbak Ganis."

Tubuh Ganis sedikit terhenyak mendengar penuturan Dirman. Suaminya berada di Magelang, berbelanja di pusat perbelanjaan dan bersama seorang wanita. Sungguh sebuah kabar yang sangat sukar untuk ia mengerti. Tanpa sadar, Ganis malah nampak bengong dan hanyut dalam pikirannya sendiri.

"Ah bisa jadi kamu salah lihat, Pak. Mana mungkin itu pak Krisna? Jelas-jelas mbak Ganis ada di Jogja. Aku yakin kamu salah lihat, Pak," ucap Ambar mencoba untuk mematahkan penglihatan Dirman setelah raut wajah Ganis yang sedikit berubah.

"Tapi mobil yang dipakai sama dengan mobil yang sering dibawa mas Krisna dan mbak Ganis kemari, Bu," ujar Dirman semakin menguatkan argumennya.

Ambar melirik ke arah Ganis. Wanita itu masih menampakkan ekspresi wajah yang dipenuhi oleh tanda tanya besar akan apa yang disampaikan oleh Dirman. Ambar paham betul apa yang saat ini dirasakan oleh Ganis.

"Mbak sudah, jangan dipikirkan ucapan pak Dirman, saya yakin pak Dirman salah lihat," ucap Ambar sembari memegang lengan tangan Ganis. "Pak, tolong barang-barang yang ada di bagasi mobil mbak Ganis dibawa ke ruangan saya ya."

"Siap Bu."

Dirman mengayunkan tungkai kakinya. Lelaki paruh baya itu nampak bersemangat tatkala menghampiri barang-barang yang di bawa oleh donatur yang pastinya bermanfaat banyak untuk kebutuhan anak-anak panti.

"Mbak Ganis, mari ke ruangan saya," ajak Ambar sembari menggandeng tangan Ganis.

Tubuh Ganis sedikit terkesiap. Tidak ia sadari jika sudah lumayan lama ia termenung sendiri. Wanita itupun mengekor di belakang tubuh Ambar dengan pikiran yang melanglang buana sampai mana-mana.

Siapa wanita itu? Apakah ia salah satu rekan kerja mas Krisna?

.

.

.

Terpopuler

Comments

linda

linda

baru bab pertama udah dibuat penasaran... sepertinya pak dirman gak salah lihat... semangat Nis

2026-04-03

0

Serena Violetta

Serena Violetta

sungguh awal yang bikin bertanya2.. siapa kiranya yang dilihat oleh pak Dirman?

2026-04-05

0

Laviolla

Laviolla

selamat membaca semua.. jangan lupa like, komen, share dan subscribe ya... terimakasih

2026-03-26

0

lihat semua
Episodes
1 Anniv 1. Sebuah Berita
2 Anniv 2. Menunggu
3 Anniv 3. Maaf
4 Anniv 4. Selembar Foto USG
5 Anniv 5. Teman Lama
6 Anniv 6. Selimut Dusta
7 Anniv 7. Memastikan
8 Anniv 8. Rencana ke Magelang
9 Anniv 9. Menagih Janji
10 Anniv 10. Terkuak
11 Anniv 11. Meminta Bagian
12 Anniv 12. Bertemu
13 Anniv 13. Sandiwara?
14 Anniv 14. Tersisih
15 Anniv 15. Terus Melangkah
16 Anniv 16. Pindah Kamar
17 Anniv 17. Mertua Mesum
18 Anniv 18. Drama Queen
19 Anniv 19. Memulai (Lagi)
20 Anniv 20. Larut Dalam Hasrat
21 Anniv 21. Suasana Hangat
22 Anniv 22. Sebuah Rencana (Jahat)
23 Anniv 23. Kamu Cemburu, Mas?
24 Anniv 24. Paket Kiriman
25 Anniv 25. Bahagia yang Sementara?
26 Anniv 26. Kekesalan Istri Muda
27 Anniv 27. Terkesima
28 Anniv 28. Memancing Emosi Istri Muda
29 Anniv 29. Mendesak Lewat Mertua
30 Anniv 30. Laporan Sang Asisten Rumah Tangga
31 Anniv 31. Arogan
32 Anniv 32. Apes
33 Anniv 33. Istri Sah Mencuri Start
34 Anniv 34. Pembagian Harta
35 Anniv 35. Menghabiskan Waktu
36 Anniv 36. Masakan Sang Madu
37 Anniv 37. Ego yang Tertampar
38 Anniv 38. Tuduhan
39 Anniv 39. Liburan ke Bali
40 Anniv 40. Berondong Kaya
41 Anniv 41. Anugerah
42 Anniv 42. Terdengar dari Balik Pintu
43 Anniv 43. Bunga-Bunga Asmara
44 Anniv 44. Dirobohkan
45 Anniv 45. Dipermalukan
46 Anniv 46. Sesuai Porsi
47 Anniv 47. Kedatangan Adik Ipar
48 Anniv 48. Perut Rata
49 Anniv 49. Tak Seindah yang Dibayangkan
50 Anniv 50. Kacau Balau
51 Anniv 51. Menjalankan Rencana
52 Anniv 52. Celaka
53 Anniv 53. Tolong Selamatkan!
54 Anniv 54. Masih dalam Perlindungan Tuhan
55 Anniv 55. Kecewa Tak Sesuai Rencana
56 Anniv 56. Pindah Rumah
57 Anniv 57. Memasang Iklan
58 Anniv 58. Ada Kelainan
59 Anniv 59. Silakan Keluar dari Rumah Ini!
60 Anniv 60. Beda Istri Beda Rezeki
61 Anniv 61. Gubuk Derita
62 Anniv 62. Undangan
63 Anniv 63. Jejak Kenang
64 Anniv 64. Istri Ke-dua Kalah Lagi
65 Anniv 65. Terjual Dua Miliar
66 Anniv 66. Kontraksi
67 Anniv 67. Keracunan dan Kelahiran
68 Anniv 68. Tak Bisa Menerima Kenyataan
69 Anniv 69. Harus Mengakhiri
70 Anniv 70. Kabur
71 Anniv 71. Ditahan Polisi
72 Anniv 72. Kembali Kepada Sang Pencipta
73 Anniv 73. Sebuah Permintaan
74 Anniv 74. Dilema
75 Anniv 75. Satu Keputusan
76 Anniv 76. Menyambangi
77 Anniv 77. Jemputlah Kebahagiaanmu
78 Anniv 78. Kejutan di Lampu Merah
79 Anniv 79. Meregang Nyawa?
80 Anniv 80. Bebas
81 Anniv 81. Menutup Lembar Kisah
82 Anniv 82. Sang Penipu Ulung
83 Anniv 83. Black Card
84 Anniv 84. Melarikan Diri
85 Anniv 85. Dipermalukan
86 Anniv 86. Diusir
87 Anniv 87. Tertangkap
88 Anniv 88. Pintu Maaf
89 Anniv 89. Tak Terduga
90 Anniv 90. Bahagia
91 Novel Baru
Episodes

Updated 91 Episodes

1
Anniv 1. Sebuah Berita
2
Anniv 2. Menunggu
3
Anniv 3. Maaf
4
Anniv 4. Selembar Foto USG
5
Anniv 5. Teman Lama
6
Anniv 6. Selimut Dusta
7
Anniv 7. Memastikan
8
Anniv 8. Rencana ke Magelang
9
Anniv 9. Menagih Janji
10
Anniv 10. Terkuak
11
Anniv 11. Meminta Bagian
12
Anniv 12. Bertemu
13
Anniv 13. Sandiwara?
14
Anniv 14. Tersisih
15
Anniv 15. Terus Melangkah
16
Anniv 16. Pindah Kamar
17
Anniv 17. Mertua Mesum
18
Anniv 18. Drama Queen
19
Anniv 19. Memulai (Lagi)
20
Anniv 20. Larut Dalam Hasrat
21
Anniv 21. Suasana Hangat
22
Anniv 22. Sebuah Rencana (Jahat)
23
Anniv 23. Kamu Cemburu, Mas?
24
Anniv 24. Paket Kiriman
25
Anniv 25. Bahagia yang Sementara?
26
Anniv 26. Kekesalan Istri Muda
27
Anniv 27. Terkesima
28
Anniv 28. Memancing Emosi Istri Muda
29
Anniv 29. Mendesak Lewat Mertua
30
Anniv 30. Laporan Sang Asisten Rumah Tangga
31
Anniv 31. Arogan
32
Anniv 32. Apes
33
Anniv 33. Istri Sah Mencuri Start
34
Anniv 34. Pembagian Harta
35
Anniv 35. Menghabiskan Waktu
36
Anniv 36. Masakan Sang Madu
37
Anniv 37. Ego yang Tertampar
38
Anniv 38. Tuduhan
39
Anniv 39. Liburan ke Bali
40
Anniv 40. Berondong Kaya
41
Anniv 41. Anugerah
42
Anniv 42. Terdengar dari Balik Pintu
43
Anniv 43. Bunga-Bunga Asmara
44
Anniv 44. Dirobohkan
45
Anniv 45. Dipermalukan
46
Anniv 46. Sesuai Porsi
47
Anniv 47. Kedatangan Adik Ipar
48
Anniv 48. Perut Rata
49
Anniv 49. Tak Seindah yang Dibayangkan
50
Anniv 50. Kacau Balau
51
Anniv 51. Menjalankan Rencana
52
Anniv 52. Celaka
53
Anniv 53. Tolong Selamatkan!
54
Anniv 54. Masih dalam Perlindungan Tuhan
55
Anniv 55. Kecewa Tak Sesuai Rencana
56
Anniv 56. Pindah Rumah
57
Anniv 57. Memasang Iklan
58
Anniv 58. Ada Kelainan
59
Anniv 59. Silakan Keluar dari Rumah Ini!
60
Anniv 60. Beda Istri Beda Rezeki
61
Anniv 61. Gubuk Derita
62
Anniv 62. Undangan
63
Anniv 63. Jejak Kenang
64
Anniv 64. Istri Ke-dua Kalah Lagi
65
Anniv 65. Terjual Dua Miliar
66
Anniv 66. Kontraksi
67
Anniv 67. Keracunan dan Kelahiran
68
Anniv 68. Tak Bisa Menerima Kenyataan
69
Anniv 69. Harus Mengakhiri
70
Anniv 70. Kabur
71
Anniv 71. Ditahan Polisi
72
Anniv 72. Kembali Kepada Sang Pencipta
73
Anniv 73. Sebuah Permintaan
74
Anniv 74. Dilema
75
Anniv 75. Satu Keputusan
76
Anniv 76. Menyambangi
77
Anniv 77. Jemputlah Kebahagiaanmu
78
Anniv 78. Kejutan di Lampu Merah
79
Anniv 79. Meregang Nyawa?
80
Anniv 80. Bebas
81
Anniv 81. Menutup Lembar Kisah
82
Anniv 82. Sang Penipu Ulung
83
Anniv 83. Black Card
84
Anniv 84. Melarikan Diri
85
Anniv 85. Dipermalukan
86
Anniv 86. Diusir
87
Anniv 87. Tertangkap
88
Anniv 88. Pintu Maaf
89
Anniv 89. Tak Terduga
90
Anniv 90. Bahagia
91
Novel Baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!