Harga Diri Tinggi

Seorang pria jangkung dengan kemeja hitam yang lengannya masih tergulung masuk ke dalam ruangan.

Aluna terpaku, ia mengenali pria ini. Ini adalah Om Raline yang sering diceritakan sebagai sosok bos besar yang menyeramkan, namun di mata Aluna saat ini pria itu tampak seperti sosok yang sangat berwibawa.

"Aluna ini Om Kayvan dan dia yang tadi gendong kamu dari kafe sampai ke sini." bisik Raline.

Aluna merasa pipinya sedikit memanas karena malu.

Kayvan berdiri di ujung tempat tidur dan memasukkan kedua tangannya ke saku celana bahan yang ia kenakan.

Matanya menatap Aluna dengan intens membuat gadis itu merasa seolah sedang diinterogasi.

"Terima kasih Om Kayvan, terima kasih sudah menolong saya, saya akan segera mengganti biaya rumah sakitnya setelah saya keluar." ucap Aluna dengan nada yang tetap sopan tapi penuh harga diri.

Kayvan menaikkan sebelah alisnya, ia jarang menemukan orang yang dalam kondisi lemah masih memikirkan soal utang dan harga diri.

Kebanyakan orang akan langsung merasa lega jika dibantu oleh keluarga Madhava.

"Fokus saja pada kesehatanmu, masalah biaya bukan hal yang harus dibahas sekarang." kata Kayvan singkat.

"Raline ayo pulang, biar perawat yang menjaga dia karena kamu harus istirahat karena besok ada kuliah pagi." ajak Kayvan kepada ponakannya itu.

"Tapi Om...." rengek Raline tidak mau.

"Tidak ada bantahan Raline, Aluna butuh ketenangan bukan ocehanmu." potong Kayvan telak.

Raline cemberut tapi akhirnya menurut, sebelum keluar ia membisikkan sesuatu pada Aluna.

"Nanti aku balik lagi ya, jangan khawatir Om Kayvan itu cuma luarnya saja yang kayak es kutub aslinya dia orangnya... ya tetap kaku sih tapi baik kok." bisik Raline.

Aluna hanya bisa tersenyum lemah, sepeninggal mereka ruangan menjadi sangat sunyi.

Aluna menatap langit-langit kamar rumah sakit yang putih bersih, ia merasa sangat kecil di tengah kemewahan ini.

Ia tidak tahu bahwa kejadian sore ini adalah awal dari sebuah rencana besar yang sudah disiapkan oleh takdir atau lebih tepatnya, disiapkan oleh seorang pria tua di kediaman Madhava yang sedang tersenyum licik sambil memegang foto Aluna di tangannya.

"Gadis yang mandiri, dia cocok untuk menjinakkan si kaku Kayvan." gumam Tuan Baskara Madhava di rumahnya sembari menyeruput teh hangat dengan wajah yang sama sekali tidak terlihat sedang sakit jantung.

...****************...

Pagi itu, sinar matahari menerobos masuk melalui celah gorden kamar rumah sakit kelas VIP yang ditempati Aluna.

Ruangan itu sangat luas bahkan lebih luas daripada seluruh petak kontrakan Aluna di pinggiran kota.

Harum bunga lili segar di atas meja nakas sempat membuat Aluna bingung saat pertama kali membuka mata.

Ia terbiasa bangun dengan suara bising knalpot motor tetangga dan aroma lembap dari dinding kamarnya bukan kesunyian yang mewah seperti ini.

Aluna mencoba duduk perlahan, rasa pusingnya sudah jauh berkurang meski badannya masih terasa agak pegal.

Ia menatap selang infus yang masih terpasang di punggung tangannya, pikirannya langsung melayang pada satu hal yaitu biaya.

"Rumah sakit ini... pasti mahal sekali." gumamnya pelan dengan penuh khawatir.

Pintu ruangan terbuka sedikit, Aluna mengira itu adalah perawat yang datang untuk memeriksa suhu tubuhnya namun ternyata sosok pria jangkung dengan kemeja putih bersih yang bagian lengannya digulung rapi muncul dari balik pintu.

Kayvan Dipta Madhava, pria itu membawa sebuah tas kertas kecil bermerek restoran ternama.

Aluna sempat tertegun sesaat, Kayvan tampak berbeda dari kemarin sore.

Wajahnya tetap kaku dan tidak berekspresi namun entah kenapa kehadirannya yang mendominasi ruangan tidak lagi terasa semenakutkan saat di kafe kemarin.

"Sudah bangun?" suara Kayvan terdengar rendah, mengisi kesunyian kamar.

"Sudah Om..." jawab Aluna canggung.

Kayvan tidak membalas sapaan itu dengan senyuman, ia hanya berjalan mendekat dan meletakkan tas kertas itu di meja lipat di atas tempat tidur Aluna.

"Raline sedang ada kelas pagi, dan dia tidak bisa datang sekarang jadi dia menitipkan ini, katanya kau benci bubur rumah sakit yang hambar." ucap Kayvan dengan dingin.

Aluna melihat isi tas itu, ada semangkuk sup ayam hangat dan jus buah segar.

Matanya sedikit berkaca-kaca. Perhatian kecil seperti ini adalah hal yang sangat mewah baginya.

"Terima kasih banyak Om, tapi sebenarnya Om tidak perlu repot-repot..." ucap Aluna sudah terpotong oleh ucapan Kayvan.

"Jangan banyak bicara, makan saja. Kau harus segera pulih agar tidak merepotkan Raline terus-menerus." potong Kayvan.

Kalimatnya terdengar ketus namun ia justru membantu membukakan tutup mangkuk sup itu untuk Aluna.

Aluna terdiam dan merasa sedikit tertohok dengan kata merepotkan.

Ia memang paling takut menjadi beban bagi orang lain, dengan tangan yang sedikit gemetar Aluna meraih sendok dan mulai menyuap sup itu perlahan.

Kayvan tidak pergi tapi ia justru duduk di sofa tunggal di sudut ruangan sambil membuka tablet kerjanya seolah-olah ia sedang menunggu Aluna selesai makan.

Suasana menjadi sangat sunyi hanya terdengar denting sendok yang beradu dengan mangkuk porselen.

Aluna merasa sangat tidak nyaman diperhatikan seperti itu, ia memberanikan diri untuk memecah keheningan.

"Om Kayvan... soal biaya rumah sakit ini apakah saya bisa mencicilnya?" tanya Aluna dengan suara pelan namun tegas.

Ia tidak ingin Kayvan menganggapnya sebagai gadis yang hanya ingin menumpang kekayaan keluarga Madhava.

Kayvan mengalihkan pandangannya dari tablet ke arah Aluna, matanya yang tajam menatap Aluna lurus-lurus.

"Mencicil? Kau tahu berapa biaya satu malam di kamar ini?" tanya Kayvan terdengar sedang menyindir Aluna.

Aluna menelan ludah karena dia tahu harganya pasti tidak akan murah apa lagi kamar yang dia tempati begitu mewah.

"Saya tahu itu pasti mahal, tapi saya punya tabungan sedikit dan saya bisa bekerja lebih keras lagi setelah sembuh, saya tidak mau punya utang budi yang terlalu besar." ucap Aluna.

Kayvan menutup tabletnya dengan bunyi klik yang cukup keras, ia berdiri dan melangkah menuju tempat tidur Aluna dan membuat Aluna refleks menarik punggungnya lebih mundur.

Kayvan bersedekap dan menatap gadis di depannya dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Kau punya harga diri yang tinggi Aluna dan itu bagus." ujar Kayvan datar.

"Tapi terkadang harga diri tidak bisa membayar tagihan rumah sakit atau biaya kuliahmu yang sudah menunggak dua bulan bukan?"

Aluna tersentak, bagaimana pria ini bisa tahu? apalagi dia tidak pernah mengatakan hal tersebut kepada siapapun bahkan kepada Raline sebisa mungkin Aluna akan diam namun karang Raline juga menyadari itu.

"Om... memeriksa latar belakang saya?"

"Itu prosedur standar keluarga Madhava sebelum membawa orang asing ke fasilitas pribadi kami." jawab Kayvan tanpa rasa bersalah sedikit pun.

"Kau mahasiswi berprestasi tapi kau memaksakan diri bekerja di tiga tempat sekaligus, itu bodoh bukan mandiri dan kau menghancurkan tubuhmu sendiri." seru Kayvan.

Aluna mengepalkan tangannya di balik selimut dan ia merasa telanjang di depan pria ini, semua rahasia kemiskinannya terungkap begitu saja.

"Saya tidak punya pilihan lain Om, saya tidak punya siapa-siapa lagi."

Melihat gurat kesedihan sekaligus keras kepala di wajah Aluna, ada sesuatu yang berdenyut di dada Kayvan.

Ia teringat percakapannya dengan sang ayah tadi malam yaitu ayahnya, Tuan Baskara Madhava secara terang-terangan memuji Aluna dan memintanya untuk terus memantau gadis itu.

Kayvan awalnya menganggap itu hanya keinginan aneh ayahnya yang sedang mencari hiburan di masa tua tapi setelah melihat Aluna secara langsung seperti ini dan ia mulai mengerti apa yang dilihat ayahnya.

"Habiskan makanmu, setelah ini dokter akan memeriksamu sekali lagi, dan jika sudah stabil kau boleh pulang." ucap Kayvan mengalihkan pembicaraan agar suasana tidak semakin tegang.

"Benarkah? Saya sudah boleh pulang hari ini?" tanya Aluna dengan mata berbinar, ia sangat merindukan pekerjaannya di kafe.

"Pulang ke rumah Raline, bukan ke kontrakanmu yang tidak layak itu." tegas Kayvan.

"Apa? Tidak Om! Saya tidak bisa tinggal di rumah Raline, itu terlalu berlebihan. Saya punya tempat tinggal sendiri!" protes Aluna.

Kayvan menatapnya dengan tatapan jangan-membantah yang biasa ia gunakan di ruang rapat.

"Ini perintah dari Ayah saya dan beliau ingin bertemu denganmu secara langsung, Raline sudah menyiapkan semuanya dan kau tidak punya hak untuk menolak tamu yang sudah membiayai pengobatanmu." seru Kayvan.

Aluna terdiam seribu bahasa ia merasa terpojok, di satu sisi ia sangat ingin menolak tapi di sisi lain ucapan Kayvan soal utang budi benar-benar menusuk hatinya dan pada akhirnya ia hanya bisa mengangguk pasrah.

.

.

Cerita Belum Selesai.....

Terpopuler

Comments

Amanah Subardiyana

Amanah Subardiyana

keluarga mahardh8ka adalah keluarga kaya dan terpandang tapi msh punya kepedulian terhadap sesama

2026-07-20

0

Dartihuti

Dartihuti

Kanebo kering kl ngomong gk ada basa basi pd intinya...lgsg nusuk🤭

2026-04-02

1

Atoen Bumz Bums

Atoen Bumz Bums

gak jadi sedih karna sakit hati

2026-06-22

0

lihat semua
Episodes
1 Pingsan
2 Harga Diri Tinggi
3 Menginap
4 Kartu Nama
5 Aku Akan Mencobanya
6 Menikahlah Denganku
7 Memantaunya
8 Ancam Tuan Baskara
9 Manipulasi Manis
10 Batalkan
11 Sedikit Trauma
12 Panti Asuhan
13 Diusir
14 Menikahlah Dengaku
15 Perlindungan
16 Layak Mendapatkannya
17 Bros Kecil
18 Sah
19 Aku Suamimu Sekarang
20 Menjalankan Peran
21 Sarapan Bersama
22 Dia Pasti Sibuk
23 Benar-benar Lupa
24 Jamuan Formal?
25 Bukan Sekadar Panggilan Formalitas
26 Tidak Nyaman
27 Gelar Kehormatan
28 Keputusan Terbaik
29 Gosip Kampus
30 Pusat Dari Dunianya
31 Pisang Goreng
32 Tante Aluna Yang Cantik!
33 Hal Terbaik
34 Bintang Baru Kita?
35 Tempat Untuk Bersandar
36 Selamat Malam Sayang
37 Tanya Suami
38 Cari Kegiatan Lain
39 Kenyamananmu
40 Protektif
41 Dia Kembali
42 Ratu Di Hati
43 Jam Tangan Antik
44 Anggun Tapi Licik
45 Jadilah Aluna Yang Sekarang
46 Jamuan Bisnis
47 Kenangan Masa Kecil
48 Makan Malam Lesehan
49 Mencari Inspirasi
50 Porselen Kuno
51 Seperti Anugerah
52 Kayvan Sakit
53 Obat Paling Ampuh
54 Variabel Paling Tepat
55 Benar-benar Sudah Runtuh
56 Kotak Misterius
57 Penggemar Rahasia
58 Terima Kasih Sudah Memilihku
59 Rasa Syukur Yang Luar Biasa
60 Risiko Bisnis
61 Itu Sudah Lebih Dari Cukup
62 Lebih Dari Cukup
63 Mas Cemburu?
64 Pesan Video
65 Mencintai Impian Dan Dunianya
66 Itu Namanya Cemburu
67 Ancaman Yang Sangat Halus
68 Secara Terang-terangan
69 New Story: Benih Rahasia Sang Dokter
70 Terima Kasih Sudah Menungguku
71 Olahraga Pagi
72 Player Tingkat Pro!
73 Harmoni Yang Sempurna
74 Suami Yang Perhatian
75 Ambang Pintu Terakhir
76 Sarjana Baru
77 Wisuda
78 Flight Destination
79 Masih Seperti Mimpi
80 Fasilitas Pribadi
81 First Class Cabin
82 Salju Pertama
83 New Story: Di Bawah Kuasa Mantan Suami
84 New Story: Istri Figuran Sang Pewaris
Episodes

Updated 84 Episodes

1
Pingsan
2
Harga Diri Tinggi
3
Menginap
4
Kartu Nama
5
Aku Akan Mencobanya
6
Menikahlah Denganku
7
Memantaunya
8
Ancam Tuan Baskara
9
Manipulasi Manis
10
Batalkan
11
Sedikit Trauma
12
Panti Asuhan
13
Diusir
14
Menikahlah Dengaku
15
Perlindungan
16
Layak Mendapatkannya
17
Bros Kecil
18
Sah
19
Aku Suamimu Sekarang
20
Menjalankan Peran
21
Sarapan Bersama
22
Dia Pasti Sibuk
23
Benar-benar Lupa
24
Jamuan Formal?
25
Bukan Sekadar Panggilan Formalitas
26
Tidak Nyaman
27
Gelar Kehormatan
28
Keputusan Terbaik
29
Gosip Kampus
30
Pusat Dari Dunianya
31
Pisang Goreng
32
Tante Aluna Yang Cantik!
33
Hal Terbaik
34
Bintang Baru Kita?
35
Tempat Untuk Bersandar
36
Selamat Malam Sayang
37
Tanya Suami
38
Cari Kegiatan Lain
39
Kenyamananmu
40
Protektif
41
Dia Kembali
42
Ratu Di Hati
43
Jam Tangan Antik
44
Anggun Tapi Licik
45
Jadilah Aluna Yang Sekarang
46
Jamuan Bisnis
47
Kenangan Masa Kecil
48
Makan Malam Lesehan
49
Mencari Inspirasi
50
Porselen Kuno
51
Seperti Anugerah
52
Kayvan Sakit
53
Obat Paling Ampuh
54
Variabel Paling Tepat
55
Benar-benar Sudah Runtuh
56
Kotak Misterius
57
Penggemar Rahasia
58
Terima Kasih Sudah Memilihku
59
Rasa Syukur Yang Luar Biasa
60
Risiko Bisnis
61
Itu Sudah Lebih Dari Cukup
62
Lebih Dari Cukup
63
Mas Cemburu?
64
Pesan Video
65
Mencintai Impian Dan Dunianya
66
Itu Namanya Cemburu
67
Ancaman Yang Sangat Halus
68
Secara Terang-terangan
69
New Story: Benih Rahasia Sang Dokter
70
Terima Kasih Sudah Menungguku
71
Olahraga Pagi
72
Player Tingkat Pro!
73
Harmoni Yang Sempurna
74
Suami Yang Perhatian
75
Ambang Pintu Terakhir
76
Sarjana Baru
77
Wisuda
78
Flight Destination
79
Masih Seperti Mimpi
80
Fasilitas Pribadi
81
First Class Cabin
82
Salju Pertama
83
New Story: Di Bawah Kuasa Mantan Suami
84
New Story: Istri Figuran Sang Pewaris

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!