Aku Akan Mencobanya

Sore harinya, Aluna nekat kembali ke kafe, meski belum sepenuhnya fit tapi ia butuh uang tips harian untuk setidaknya menyambung nyawa dan mencicil utang kontrakannya.

"Aluna? Kamu kok sudah masuk? Bukannya Raline bilang kamu harus istirahat seminggu?" Mila, rekan kerjanya menghampiri dengan wajah khawatir saat melihat Aluna sedang mengenakan apron.

"Aku sudah mendingan Mil, kalau cuma di kamar terus kepalaku malah tambah pusing." kilah Aluna sambil memaksakan senyum.

Pekerjaan sore itu terasa jauh lebih berat dari biasanya, mungkin karena fisiknya memang belum pulih total.

Saat ia sedang mengelap meja di area luar sebuah mobil yang sangat familiar berhenti di depannya.

Bukan sedan hitam kemarin tapi melainkan sebuah mobil sport berwarna biru tua yang elegan.

Pintu terbuka dan Raline keluar dari sana dengan wajah cemberutnya.

"Aluna Putri! Kamu benar-benar keras kepala ya!" omel Raline sambil menghampiri sahabatnya itu.

"Aku cari ke kosan nggak ada, ternyata kamu malah di sini! Kamu mau pingsan lagi?!" teriak Raline lagi dengan marah dan kesal namun tetap wajah khawatir tergambar jelas di sana.

Aluna terkekeh kecil melihat ekspresi Raline yang menurutnya begitu menggemaskan.

"Aku butuh gerak Lin, lagipula bos sudah baik banget kasih izin kemarin aku nggak mau enak-enakan." tutur Aluna.

"Nggak ada enak-enakan! Pokoknya hari ini kamu ikut aku pulang ke rumah karena Opa kangen dan katanya mau ajak kamu main catur." ujar Raline sambil menarik tangan Aluna.

"Lin, aku masih kerja..." ucapnya namun terpotong oleh Raline.

"Aku sudah bilang sama manajer kamu, aku pinjam kamu sebentar. Ayo!" ajaknya.

Tanpa bisa menolak, Aluna akhirnya terseret mengikuti Raline.

Namun saat mereka sampai di kediaman Madhava, suasana terasa sedikit berbeda.

Di ruang tengah bukan hanya ada Tuan Baskara yang menyambut, tapi ada Kayvan yang duduk di sofa panjang sambil menatap laptopnya.

Kayvan mendongak saat mereka masuk dan matanya tertuju pada apron kafe yang masih tersampir di tas Aluna membuat alisnya bertaut.

"Kau kembali bekerja?" tnya Kayvan dengan wajah dinginnya.

Suara rendah itu membuat Aluna menciut seketika.

"Hanya sebentar Om Kayvan." jawab Aluna dengan lirih.

"Sebentar tapi mukamu pucat lagi." potong Kayvan, ia menutup laptopnya dan berdiri.

"Raline bawa dia ke ruang makan, biar dia makan sesuatu yang bergizi bukan hanya roti kafe." tegas Kayvan namun terdengar perhatian.

Interaksi itu terasa hangat namun kaku, Tuan Baskara Madhava yang muncul dari arah taman belakang langsung tertawa melihat keributan kecil itu.

"Nah itu dia calon kawan catur Opa. Aluna, sini duduk. Kay jangan galak-galak sama tamu nanti dia takut main ke sini lagi." tegur Tuan Baskara kepada sang anak.

Kayvan tidak menjawab, ia hanya berjalan menuju dapur dan kembali dengan segelas air hangat yang ia letakkan di depan Aluna.

"Minum." perintahnya singkat.

Sikap protektif Kayvan yang dilakukan dengan cara dingin itu mulai membuat Aluna merasa aneh.

Ada perasaan hangat yang menyelinap yaitu sebuah perasaan yang selama ini ia kunci rapat karena ia pikir tidak akan pernah ada orang yang peduli padanya sedalam itu.

Malam itu, setelah makan malam yang penuh canda tawa bersama Tuan Baskara dan Raline dimana Kayvan lebih banyak menjadi pendengar meski tatapannya tak pernah lepas dari Aluna, Aluna berpamitan untuk pulang.

"Biar Kayvan yang antar." ujar Tuan Baskara mutlak.

"Opa, saya bisa naik ojek..." seru Aluna belum selesai namun sudah ditolak oleh Tuan Baskara.

"Malam-malam begini bahaya Aluna, apalagi kamu bawa tas berat. Kay antar dia sampai depan kamarnya." perintah Tuan Baskara sambil memberikan kode kerlingan pada putranya.

Kayvan bangkit tanpa protes, di dalam mobil suasana kembali hening dan Aluna merasa tidak enak hati karena terus-menerus merepotkan pria sibuk ini.

"Maaf ya om jadi bolak-balik antar jemput saya." ucap Aluna pelan saat mobil mulai memasuki area pemukiman padat tempat kosnya berada.

"Tidak masalah." jawab Kayvan singkat.

"Aluna, soal yang aku katakan kemarin di mobil..." ucapnya terjeda.

"Iya?"

"Kenapa kau tidak menghubungiku soal masalah kontrakannya?" tanya Kayvan dengan penasaran.

Aluna tersentak, kepalanya menoleh cepat ke arah Kayvan.

"Bagaimana Om tahu?" tanya Aluna dengan terkejut.

Kayvan menghentikan mobilnya di depan gerbang kayu usang tempat kos Aluna, ia menatap Aluna dengan tatapan yang sulit dibaca.

"Aku sudah bilang, aku tahu segalanya tentang orang-orang di sekitar keluargaku. Pemilik kontrakanmu itu sempat menghubungiku....ah maksudku orang-orangku mencari tahu." ucapnya.

Sebenarnya, Kayvan sendiri yang meminta asistennya untuk memantau situasi Aluna.

Ia tidak tahan membayangkan gadis ini harus luntang-lantung di jalanan jika diusir.

"Om Kayvan, saya menghargai perhatian Kakak tapi tolong jangan campuri urusan pribadi saya lebih jauh, saya akan menyelesaikannya sendiri." ucap Aluna dengan nada yang sedikit bergetar karena emosi bercampur malu.

"Bagaimana caranya? Dengan bekerja sampai pingsan lagi? Atau dengan tidak makan tiga hari?" suara Kayvan naik satu oktav, bukan karena marah tapi karena frustrasi melihat keras kepalanya Aluna.

"Kau pikir harga diri bisa memberimu tempat berteduh?" lanjutnya.

Aluna terdiam dan air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.

"Saya hanya tidak ingin berutang budi yang tidak bisa saya bayar Om, dan saya tidak punya apa-apa untuk ditukar dengan kebaikan Om." ujar Aluna.

Kayvan menatap wajah Aluna yang diterangi lampu jalan yang remang-remang.

Kerapuhan gadis itu tampak jelas malam ini dan tanpa sadar tangan Kayvan terangkat, jemarinya mengusap air mata yang jatuh di pipi Aluna.

Gerakannya sangat lembut dan sangat kontras dengan suaranya yang tegas.

Aluna terpaku, sentuhan itu terasa sangat tulus dan begitu lembut menyentuh pipinya.

"Siapa bilang kau harus membayar dengan uang?" bisik Kayvan.

Ia menarik kembali tangannya, seolah tersadar dengan apa yang baru saja ia lakukan.

"Masuklah dan pikirkan tawaran bantuanku, jangan biarkan dirimu menderita hanya karena gengsi." ujar Kayvan.

Aluna turun dari mobil dengan perasaan yang berkecamuk, ia berjalan masuk ke dalam kosannya tanpa menoleh lagi.

Di dalam kamar yang sempit, ia terduduk di lantai dan memeluk lututnya.

Di luar ia mendengar suara mesin mobil Kayvan yang perlahan menjauh.

Di sisi lain, Kayvan tidak langsung pulang tapi ia memarkirkan mobilnya di pinggir jalan raya yang agak sepi dan menyalakan sebatang rokok yaitu hal yang jarang ia lakukan kecuali sedang sangat pusing.

Ia menatap kartu identitas mahasiswa milik Aluna yang tertinggal di dasbor mobilnya.

Foto Aluna yang tersenyum tipis di sana seolah mengejeknya.

Ponsel Kayvan berdering dan itu dari sang papa.

Tuan Baskara: [Kay, papa baru saja bicara dengan pemilik kontrakan itu dan papa sudah melunasi semuanya untuk setahun ke depan, tapi papa rasa itu tidak cukup, gadis itu butuh perlindungan yang lebih permanen. Kau tahu maksud Opa, kan?]

Kayvan mengembuskan asap rokoknya ke udara malam.

^^^Kayvan: [Aku tahu pa, tapi dia tidak semudah itu, dia bukan wanita-wanita kolega bisnisku yang akan langsung sujud syukur kalau aku lamar.]^^^

Tuan Baskara: [Makanya, gunakan cara yang elegan, tarik ulur Kay dan biarkan dia yang merasa butuh padamu tapi pastikan kau selalu ada saat dia jatuh dan satu lagi... jangan terlalu dingin nanti dia beku beneran.]

Kayvan terkekeh kecil yaitu sebuah tawa langka yang hanya muncul saat berbicara dengan ayahnya.

^^^Kayvan: [Aku akan mencobanya, pa.]^^^

Malam itu, takdir mulai merajut jaring yang lebih rapat, Aluna yang merasa terpojok oleh keadaan dan Kayvan yang mulai menyadari bahwa ia tidak hanya ingin menolong tapi ingin memiliki.

Interaksi yang hangat dengan keluarga Madhava mulai menjadi candu bagi Aluna, sementara Kayvan mulai mempelajari bahwa mendekati Aluna bukan soal perintah perusahaan tapi soal memenangkan hati yang terkunci rapat oleh trauma masa lalu.

Besok pagi, sebuah kejutan lain akan menunggu Aluna di kampus yaitu sesuatu yang akan membuatnya menyadari bahwa lari dari Kayvan Dipta Madhava adalah hal yang mustahil.

.

.

Cerita Belum Selesai.....

Terpopuler

Comments

🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍

🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍

Bener jangan terlalu dingin tar yang ada Aluna ikutan Beku, bukannya mencair... di angetin dulu dengan Ngopi Kayv biarga kaku.🤣🤣🤣

2026-07-09

0

Amanah Subardiyana

Amanah Subardiyana

Aluna seorang wanita yg mandiri yg punya harga diri sehingga tdk.mudah menaklukkanya

2026-07-20

0

Nur Janah

Nur Janah

Kayvan mulai tertarik ma Aluna vi ga mau kentara,,🤭🤭🤭

2026-04-20

0

lihat semua
Episodes
1 Pingsan
2 Harga Diri Tinggi
3 Menginap
4 Kartu Nama
5 Aku Akan Mencobanya
6 Menikahlah Denganku
7 Memantaunya
8 Ancam Tuan Baskara
9 Manipulasi Manis
10 Batalkan
11 Sedikit Trauma
12 Panti Asuhan
13 Diusir
14 Menikahlah Dengaku
15 Perlindungan
16 Layak Mendapatkannya
17 Bros Kecil
18 Sah
19 Aku Suamimu Sekarang
20 Menjalankan Peran
21 Sarapan Bersama
22 Dia Pasti Sibuk
23 Benar-benar Lupa
24 Jamuan Formal?
25 Bukan Sekadar Panggilan Formalitas
26 Tidak Nyaman
27 Gelar Kehormatan
28 Keputusan Terbaik
29 Gosip Kampus
30 Pusat Dari Dunianya
31 Pisang Goreng
32 Tante Aluna Yang Cantik!
33 Hal Terbaik
34 Bintang Baru Kita?
35 Tempat Untuk Bersandar
36 Selamat Malam Sayang
37 Tanya Suami
38 Cari Kegiatan Lain
39 Kenyamananmu
40 Protektif
41 Dia Kembali
42 Ratu Di Hati
43 Jam Tangan Antik
44 Anggun Tapi Licik
45 Jadilah Aluna Yang Sekarang
46 Jamuan Bisnis
47 Kenangan Masa Kecil
48 Makan Malam Lesehan
49 Mencari Inspirasi
50 Porselen Kuno
51 Seperti Anugerah
52 Kayvan Sakit
53 Obat Paling Ampuh
54 Variabel Paling Tepat
55 Benar-benar Sudah Runtuh
56 Kotak Misterius
57 Penggemar Rahasia
58 Terima Kasih Sudah Memilihku
59 Rasa Syukur Yang Luar Biasa
60 Risiko Bisnis
61 Itu Sudah Lebih Dari Cukup
62 Lebih Dari Cukup
63 Mas Cemburu?
64 Pesan Video
65 Mencintai Impian Dan Dunianya
66 Itu Namanya Cemburu
67 Ancaman Yang Sangat Halus
68 Secara Terang-terangan
69 New Story: Benih Rahasia Sang Dokter
70 Terima Kasih Sudah Menungguku
71 Olahraga Pagi
72 Player Tingkat Pro!
73 Harmoni Yang Sempurna
74 Suami Yang Perhatian
75 Ambang Pintu Terakhir
76 Sarjana Baru
77 Wisuda
78 Flight Destination
79 Masih Seperti Mimpi
80 Fasilitas Pribadi
81 First Class Cabin
82 Salju Pertama
83 New Story: Di Bawah Kuasa Mantan Suami
84 New Story: Istri Figuran Sang Pewaris
Episodes

Updated 84 Episodes

1
Pingsan
2
Harga Diri Tinggi
3
Menginap
4
Kartu Nama
5
Aku Akan Mencobanya
6
Menikahlah Denganku
7
Memantaunya
8
Ancam Tuan Baskara
9
Manipulasi Manis
10
Batalkan
11
Sedikit Trauma
12
Panti Asuhan
13
Diusir
14
Menikahlah Dengaku
15
Perlindungan
16
Layak Mendapatkannya
17
Bros Kecil
18
Sah
19
Aku Suamimu Sekarang
20
Menjalankan Peran
21
Sarapan Bersama
22
Dia Pasti Sibuk
23
Benar-benar Lupa
24
Jamuan Formal?
25
Bukan Sekadar Panggilan Formalitas
26
Tidak Nyaman
27
Gelar Kehormatan
28
Keputusan Terbaik
29
Gosip Kampus
30
Pusat Dari Dunianya
31
Pisang Goreng
32
Tante Aluna Yang Cantik!
33
Hal Terbaik
34
Bintang Baru Kita?
35
Tempat Untuk Bersandar
36
Selamat Malam Sayang
37
Tanya Suami
38
Cari Kegiatan Lain
39
Kenyamananmu
40
Protektif
41
Dia Kembali
42
Ratu Di Hati
43
Jam Tangan Antik
44
Anggun Tapi Licik
45
Jadilah Aluna Yang Sekarang
46
Jamuan Bisnis
47
Kenangan Masa Kecil
48
Makan Malam Lesehan
49
Mencari Inspirasi
50
Porselen Kuno
51
Seperti Anugerah
52
Kayvan Sakit
53
Obat Paling Ampuh
54
Variabel Paling Tepat
55
Benar-benar Sudah Runtuh
56
Kotak Misterius
57
Penggemar Rahasia
58
Terima Kasih Sudah Memilihku
59
Rasa Syukur Yang Luar Biasa
60
Risiko Bisnis
61
Itu Sudah Lebih Dari Cukup
62
Lebih Dari Cukup
63
Mas Cemburu?
64
Pesan Video
65
Mencintai Impian Dan Dunianya
66
Itu Namanya Cemburu
67
Ancaman Yang Sangat Halus
68
Secara Terang-terangan
69
New Story: Benih Rahasia Sang Dokter
70
Terima Kasih Sudah Menungguku
71
Olahraga Pagi
72
Player Tingkat Pro!
73
Harmoni Yang Sempurna
74
Suami Yang Perhatian
75
Ambang Pintu Terakhir
76
Sarjana Baru
77
Wisuda
78
Flight Destination
79
Masih Seperti Mimpi
80
Fasilitas Pribadi
81
First Class Cabin
82
Salju Pertama
83
New Story: Di Bawah Kuasa Mantan Suami
84
New Story: Istri Figuran Sang Pewaris

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!