Menginap

Sore harinya, sebuah mobil mewah berwarna perak menjemput Aluna.

Aluna mengenakan baju paling rapi yang ia miliki yaitu sebuah kemeja flanel sederhana dan celana bahan yang sudah mulai pudar warnanya, ia merasa sangat kontras dengan kemewahan interior mobil itu.

Sesampainya di kediaman besar keluarga Madhava, Aluna merasa seperti masuk ke dalam istana di buku dongeng.

Halamannya sangat luas dengan rumput yang dipangkas rapi dan bangunan rumahnya bergaya klasik modern yang megah.

"Aluna! Akhirnya sampai juga!" Raline berlari keluar dari pintu utama dan langsung memeluk sahabatnya itu dengan hati-hati.

"Ayo masuk! Opa sudah nungguin kamu dari tadi, beliau bahkan minta koki masak besar hari ini." seru Raline begitu gembira karena sahabatnya datang ke rumahnya.

Aluna berjalan masuk dengan langkah ragu, di ruang keluarga yang luas, seorang pria tua dengan rambut yang sudah memutih seluruhnya namun masih tampak segar sedang duduk di kursi goyangnya.

Itu adalah Tuan Baskara Madhava, begitu melihat Aluna wajah tua itu langsung cerah.

"Oh jadi ini Aluna? Gadis yang selalu Raline ceritakan?" tanya tuan Baskara dengan suara yang hangat dan jenaka.

Aluna membungkukkan badannya dengan hormat dan begitu segan dengan kakek dari Raline.

"Iya tuan, nama saya Aluna Putri. Mohon maaf jika kedatangan saya merepotkan keluarga Madhava." ucap Aluna dengan formal.

"Panggil Opa saja sama seperti Raline." sahut tuan Baskara.

"Merepotkan apa? Rumah ini terlalu sepi, Aluna, hanya ada aku yang sudah tua ini dan anak kaku itu." Opa menunjuk Kayvan yang baru saja masuk ke ruangan dengan dagunya.

Kayvan hanya memutar bola matanya malas dan duduk di sofa seberang ayahnya.

"Dia baru sembuh pa, jangan diajak mengobrol terlalu banyak dulu." seru Kayvan.

"Kau ini dingin sekali pada tamu, sini Aluna duduk di dekat Opa," ajak tuan Baskara Madhava sambil menepuk kursi di sebelahnya.

Malam itu Aluna merasakan kehangatan yang sudah lama hilang dari hidupnya.

Meskipun ia merasa canggung karena status sosial mereka yang berbeda jauh tapi tuan Baskara Madhava memperlakukannya dengan sangat baik.

Beliau menanyakan soal kuliah Aluna, hobinya, hingga makanan kesukaannya.

Sementara itu, Kayvan lebih banyak diam namun Aluna sesekali menangkap basah pria itu sedang memperhatikannya dari balik cangkir kopinya.

Setiap kali mata mereka bertemu, Kayvan akan segera membuang muka atau kembali menatap tabletnya.

Aluna merasa pria itu sangat misterius, di balik sikap cueknya Kayvan adalah orang yang menggendongnya saat ia pingsan dan orang yang memastikan ia makan dengan benar di rumah sakit.

Setelah makan malam selesai, Raline mengantar Aluna ke kamar tamu yang sudah disiapkan.

Kamar itu sangat cantik, dengan balkon yang menghadap ke arah taman belakang.

"Al, kamu menginap di sini beberapa hari ya sampai benar-benar sehat, jangan mikirin kerjaan dulu, aku sudah bilang ke manajer kafe kalau kamu izin sakit seminggu." kata Raline sambil merapikan bantal untuk Aluna.

"Lin makasih ya, aku nggak tahu harus balas kebaikan kalian gimana." ucap Aluna tulus.

"Balasnya gampang kok, kamu sehat aja aku udah senang." balas Raline riang sebelum keluar dari kamar.

Aluna berdiri di balkon kamarnya dan menatap bulan yang bersinar terang.

Di bawah sana, ia melihat bayangan seseorang sedang berjalan di taman.

Itu Kayvan, pria itu tampak sedang menelepon seseorang, suaranya terdengar tegas saat membicarakan masalah bisnis.

Tiba-tiba, Kayvan mendongak dan pandangan mereka bertemu di bawah cahaya bulan.

Aluna terpaku, jantungnya berdegup sedikit lebih kencang tanpa alasan yang jelas.

Kayvan tidak mengalihkan pandangannya kali ini, ia menatap Aluna selama beberapa detik lalu memberikan sebuah anggukan kecil yang sangat tipis sebelum berbalik masuk ke dalam rumah.

Aluna masuk kembali ke kamarnya dengan perasaan campur aduk, ia tidak tahu bahwa di ruang kerja lantai bawah Tuan Baskara Madhava dan Kayvan sedang terlibat pembicaraan serius.

"Dia gadis yang baik Kay, berhenti menatapnya seperti kau ingin memecat karyawan." tegur Tuan Baskara pada putranya.

"Aku tidak menatapnya seperti itu pa." sanggah Kayvan dingin.

"Aku tahu kau mengamatinya sejak lama Kay, sejak Raline pertama kali menunjukkan fotonya padamu setahun yang lalu. Jangan kira aku tidak tahu alasan kenapa kau tiba-tiba rajin menjemput Raline ke kafe belakangan ini." ujar Tuan Baskara sambil tersenyum penuh arti.

Kayvan terdiam, ia tidak menyangkal tapi juga tidak membenarkan, ia hanya menatap pintu ruang kerjanya yang tertutup rapat dan membayangkan gadis yatim piatu yang kini tidur di bawah atap yang sama dengannya.

Gadis yang tampak begitu rapuh namun memiliki binar mata yang sanggup mengusik ketenangan hatinya yang selama ini membeku.

Malam itu, Aluna tertidur dengan perasaan asing yaitu perasaan aman yang selama tiga tahun ini tidak pernah ia rasakan sejak orang tuanya tiada.

Ia tidak menyadari bahwa di balik pintu mewah yang tertutup ada sebuah jaring takdir mulai ditenun oleh keluarga Madhava untuk mengikatnya selamanya.

...****************...

Suasana pagi di kediaman besar keluarga Madhava sangat kontras dengan hiruk-pikuk kos-kosan sempit tempat Aluna tinggal.

Jika di kosan ia harus mengantre kamar mandi dengan suara bising air dari ember plastik, di sini hanya ada keheningan yang elegan.

Aluna terbangun pukul lima pagi yaitu kebiasaan tubuhnya yang sudah disetel untuk segera bersiap bekerja namun ia sempat terpaku menatap langit-langit kamar tamu yang dihiasi lampu kristal kecil yang cantik.

Ia segera bangkit dan merapikan tempat tidur hingga tak ada satu pun lipatan yang tersisa.

Aluna merasa tidak enak jika harus merepotkan pelayan di rumah ini.

Setelah mandi dan mengenakan kemeja katun biru langit miliknya yang sudah dicuci bersih, ia melangkah keluar kamar dengan ragu.

Harum kopi yang sangat kuat dan aroma roti panggang mulai tercium saat ia menuruni tangga melingkar yang megah.

Di ujung tangga, ia melihat seorang pria tua sedang duduk santai sambil membaca koran fisik, itu Tuan Baskara Madhava, ayah dari Kayvan.

"Eh, sudah bangun, Cah Ayu?" sapa tuan Baskara dengan senyum lebar yang membuat kerutan di wajahnya tampak ramah.

"Sini sini, jangan berdiri di situ seperti patung selamat datang, duduk sebelah Opa." ujar Tuan Baskara.

Aluna tersenyum canggung dan mendekat kearah tuan Baskara.

"Selamat pagi Opa, maaf kalau saya bangunnya kesiangan."

"Kesiangan apa? Ini baru jam enam kurang, si Kayvan saja baru selesai olahraga di belakang." jawab Tuan Baskara sambil melipat korannya.

"Gimana tidurnya? Nyenyak? Kasurnya nggak keras, kan?" tanya Tuan Baskara dengan penuh perhatian.

"Sangat nyenyak Opa, malah saya merasa ini kasur paling empuk yang pernah saya tiduri." jawab Aluna jujur yang mengundang tawa kecil dari pria tua itu.

Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki yang mantap, sosok jangkung muncul dari arah taman belakang.

Kayvan Dipta Madhava masuk dengan kaos olahraga hitam yang sedikit basah oleh keringat.

Handuk kecil tersampir di lehernya dan rambutnya yang biasanya tertata rapi kini sedikit berantakan jatuh menutupi sebagian dahinya.

Aluna refleks menunduk karena merasa tidak sopan menatap pria itu terlalu lama.

Namun ia bisa merasakan kehadiran Kayvan yang mendominasi ruangan.

"Pagi pa." sapa Kayvan singkat pada ayahnya, kemudian matanya kemudian beralih pada Aluna.

"Sudah lebih baik?" tanyanya dengan dingin namun perhatian.

"Sudah Om, terima kasih." jawab Aluna sopan.

Kayvan tidak membalas dan ia hanya mengangguk tipis lalu berjalan menuju lantai atas untuk bersiap-siap ke kantor.

"Jangan hiraukan dia Aluna, anak itu memang irit bicara kalau pagi, mungkin baterainya belum terisi penuh kalau belum minum kopi." bisik Opa sambil terkekeh dan membuat Aluna ikut tersenyum kecil.

.

.

Cerita Belum Selesai.....

Terpopuler

Comments

Dartihuti

Dartihuti

Kanebo keringnya mode drow baterai...tp dlm hatinya ada sisi yg mulai terisi...

2026-04-02

1

Supryatin 123

Supryatin 123

awal masih mode kanebo ntar lama2 posesif tu orang🤣🤣 lnjut thor 💪💪

2026-04-02

1

Rahma Inayah

Rahma Inayah

kaivan diam2 menghanyutkan 🤭🤭 diam 2 perhatian walau SPT kanebo kaku dan keras 🤭🤭

2026-04-08

0

lihat semua
Episodes
1 Pingsan
2 Harga Diri Tinggi
3 Menginap
4 Kartu Nama
5 Aku Akan Mencobanya
6 Menikahlah Denganku
7 Memantaunya
8 Ancam Tuan Baskara
9 Manipulasi Manis
10 Batalkan
11 Sedikit Trauma
12 Panti Asuhan
13 Diusir
14 Menikahlah Dengaku
15 Perlindungan
16 Layak Mendapatkannya
17 Bros Kecil
18 Sah
19 Aku Suamimu Sekarang
20 Menjalankan Peran
21 Sarapan Bersama
22 Dia Pasti Sibuk
23 Benar-benar Lupa
24 Jamuan Formal?
25 Bukan Sekadar Panggilan Formalitas
26 Tidak Nyaman
27 Gelar Kehormatan
28 Keputusan Terbaik
29 Gosip Kampus
30 Pusat Dari Dunianya
31 Pisang Goreng
32 Tante Aluna Yang Cantik!
33 Hal Terbaik
34 Bintang Baru Kita?
35 Tempat Untuk Bersandar
36 Selamat Malam Sayang
37 Tanya Suami
38 Cari Kegiatan Lain
39 Kenyamananmu
40 Protektif
41 Dia Kembali
42 Ratu Di Hati
43 Jam Tangan Antik
44 Anggun Tapi Licik
45 Jadilah Aluna Yang Sekarang
46 Jamuan Bisnis
47 Kenangan Masa Kecil
48 Makan Malam Lesehan
49 Mencari Inspirasi
50 Porselen Kuno
51 Seperti Anugerah
52 Kayvan Sakit
53 Obat Paling Ampuh
54 Variabel Paling Tepat
55 Benar-benar Sudah Runtuh
56 Kotak Misterius
57 Penggemar Rahasia
58 Terima Kasih Sudah Memilihku
59 Rasa Syukur Yang Luar Biasa
60 Risiko Bisnis
61 Itu Sudah Lebih Dari Cukup
62 Lebih Dari Cukup
63 Mas Cemburu?
64 Pesan Video
65 Mencintai Impian Dan Dunianya
66 Itu Namanya Cemburu
67 Ancaman Yang Sangat Halus
68 Secara Terang-terangan
69 New Story: Benih Rahasia Sang Dokter
70 Terima Kasih Sudah Menungguku
71 Olahraga Pagi
72 Player Tingkat Pro!
73 Harmoni Yang Sempurna
74 Suami Yang Perhatian
75 Ambang Pintu Terakhir
76 Sarjana Baru
77 Wisuda
78 Flight Destination
79 Masih Seperti Mimpi
80 Fasilitas Pribadi
81 First Class Cabin
82 Salju Pertama
83 New Story: Di Bawah Kuasa Mantan Suami
84 New Story: Istri Figuran Sang Pewaris
Episodes

Updated 84 Episodes

1
Pingsan
2
Harga Diri Tinggi
3
Menginap
4
Kartu Nama
5
Aku Akan Mencobanya
6
Menikahlah Denganku
7
Memantaunya
8
Ancam Tuan Baskara
9
Manipulasi Manis
10
Batalkan
11
Sedikit Trauma
12
Panti Asuhan
13
Diusir
14
Menikahlah Dengaku
15
Perlindungan
16
Layak Mendapatkannya
17
Bros Kecil
18
Sah
19
Aku Suamimu Sekarang
20
Menjalankan Peran
21
Sarapan Bersama
22
Dia Pasti Sibuk
23
Benar-benar Lupa
24
Jamuan Formal?
25
Bukan Sekadar Panggilan Formalitas
26
Tidak Nyaman
27
Gelar Kehormatan
28
Keputusan Terbaik
29
Gosip Kampus
30
Pusat Dari Dunianya
31
Pisang Goreng
32
Tante Aluna Yang Cantik!
33
Hal Terbaik
34
Bintang Baru Kita?
35
Tempat Untuk Bersandar
36
Selamat Malam Sayang
37
Tanya Suami
38
Cari Kegiatan Lain
39
Kenyamananmu
40
Protektif
41
Dia Kembali
42
Ratu Di Hati
43
Jam Tangan Antik
44
Anggun Tapi Licik
45
Jadilah Aluna Yang Sekarang
46
Jamuan Bisnis
47
Kenangan Masa Kecil
48
Makan Malam Lesehan
49
Mencari Inspirasi
50
Porselen Kuno
51
Seperti Anugerah
52
Kayvan Sakit
53
Obat Paling Ampuh
54
Variabel Paling Tepat
55
Benar-benar Sudah Runtuh
56
Kotak Misterius
57
Penggemar Rahasia
58
Terima Kasih Sudah Memilihku
59
Rasa Syukur Yang Luar Biasa
60
Risiko Bisnis
61
Itu Sudah Lebih Dari Cukup
62
Lebih Dari Cukup
63
Mas Cemburu?
64
Pesan Video
65
Mencintai Impian Dan Dunianya
66
Itu Namanya Cemburu
67
Ancaman Yang Sangat Halus
68
Secara Terang-terangan
69
New Story: Benih Rahasia Sang Dokter
70
Terima Kasih Sudah Menungguku
71
Olahraga Pagi
72
Player Tingkat Pro!
73
Harmoni Yang Sempurna
74
Suami Yang Perhatian
75
Ambang Pintu Terakhir
76
Sarjana Baru
77
Wisuda
78
Flight Destination
79
Masih Seperti Mimpi
80
Fasilitas Pribadi
81
First Class Cabin
82
Salju Pertama
83
New Story: Di Bawah Kuasa Mantan Suami
84
New Story: Istri Figuran Sang Pewaris

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!