Kartu Nama

Tiga puluh menit kemudian, mereka bertiga sudah berkumpul di meja makan.

Raline belum terlihat karena menurut Tuan Baskara, cucunya itu baru bisa bangun setelah alarm kelima berbunyi.

Meja makan itu penuh dengan hidangan yang luar biasa yaitu omelet keju, sosis premium, buah-buahan segar, hingga bubur ayam yang tampak sangat lembut.

Kayvan sudah kembali dengan setelan jas kerjanya yang sempurna, ia duduk di kepala meja, memotong sosisnya dengan gerakan yang sangat efisien dan rapi.

"Makan yang banyak Aluna, Raline bilang kamu itu sering lupa makan kalau sudah sibuk kuliah dan kerja." ujar Tuan Baskara sambil menyodorkan piring berisi buah potong.

"Terima kasih Opa, tapi ini terlalu banyak..." tutur Aluna merasa sungkan.

"Habiskan." suara rendah Kayvan memotong kalimat Aluna, pria itu tidak menatapnya dan fokus pada piringnya sendiri.

"Kau baru sembuh, jangan sampai merepotkan orang lain dengan pingsan di jalan lagi." seru Kayvan dengan dingin.

Aluna tertegun, kalimat Kayvan terdengar ketus dan begitu menyebalkan sekali, namun Aluna tetap menutupi ucapan dari om sahabatnya itu.

"Kay hari ini kamu yang antar Aluna ke kampus ya?" pinta Tuan Baskara tiba-tiba.

Kayvan menghentikan gerakannya sejenak setelah mendengar ucapan sang papa.

"Sopir bisa mengantarnya pa." tolak Kayvan.

"Sopir sedang antar Raline ke kampus pagi-pagi sekali karena ada latihan tambahan, lagipula kantormu searah dengan kampus Aluna kan?" tuan Baskara memberikan alasan yang sebenarnya dibuat-buat karena ia tahu persis arah kantor Kayvan justru berlawanan.

Kayvan melirik jam tangannya, lalu menatap Aluna yang tampak sangat ingin menolak tapi tidak enak hati.

"Cepat habiskan makanmu, aku tidak suka menunggu." serunya.

"Eh? Om Kayvan saya bisa naik ojek online saja..." ucap Aluna merasa tidak enak karena merepotkan seorang Kayvan.

"Aku tidak menerima penolakan Aluna Putri." ucap Kayvan final sambil berdiri dari kursinya.

Di dalam mobil mewah milik Kayvan, suasana menjadi sangat hening.

Aluna hanya berani menatap keluar jendela sementara Kayvan fokus pada kemudi, wangi parfum Kayvan yang maskulin memenuhi kabin mobil membuat Aluna merasa sedikit gugup.

"Aluna." panggil Kayvan tiba-tiba.

"I-iya, Om?"

Kayvan melirik sekilas lewat spion tengah, ia melihat jari-jari Aluna yang saling bertautan di pangkuannya tanda gadis itu sedang cemas.

"Raline bercerita kau bekerja sebagai tutor privat juga?" seru Kayvan.

"Iya om, untuk anak-anak SD di sekitar kampus, lumayan untuk tambahan biaya makan sehari-hari." ucap Aluna sambil menganggukkan kepalanya kecil.

"Kenapa kau tidak meminta bantuan pada Raline? Dia punya lebih dari cukup untuk membantumu." tanya Kayvan dengan suaranya yang kini terdengar sedikit lebih lunak.

Aluna menghela napas pendek, pasti orang-orang juga berpikiran seperti Kayvan.

"Raline sudah sangat baik, dia sering membawakan saya makanan dan meminjamkan buku, tapi kalau soal uang... saya punya harga diri om, saya masih punya tenaga untuk bekerja dan saya tidak mau persahabatan kami rusak karena saya merasa berutang budi terlalu dalam." ucap Aluna dengan prinsipnya.

Kayvan terdiam, jawaban Aluna membuatnya sedikit terkesan karena di dunianya orang-orang akan melakukan apa saja untuk mendapatkan secuil kekayaan Madhava.

Namun gadis di sampingnya ini justru berusaha keras untuk menjauhinya.

Mobil berhenti tepat di depan gerbang kampus Aluna, kehadiran mobil mewah itu seketika menarik perhatian mahasiswa yang sedang berjalan masuk.

"Terima kasih untuk tumpangannya Om Kayvan dan maaf sudah merepotkan." ucap Aluna sambil bersiap turun.

"Aluna." panggil Kayvan lagi sebelum Aluna membuka pintu, pria itu merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah kartu nama berwarna hitam dengan tulisan emas yang elegan.

"Simpan ini." ucapnya sambil menyodorkan kartu tersebut.

Aluna menerima kartu itu dengan bingung dan tidak tahu maksud dari om sahabatnya itu.

"Ini...?"

"Nomor pribadiku, jika terjadi sesuatu atau jika kau butuh bantuan mendesak hubungi aku, jangan menunggu sampai kau pingsan lagi." tegas Kayvan.

Aluna menatap kartu nama itu, lalu menatap mata tajam Kayvan.

"Terima kasih om, tapi saya rasa saya tidak akan..." ucap Aluna namun terpotong oleh Kayvan yang sudah berbicara terlebih dahulu.

"Simpan saja, itu perintah." potong Kayvan tegas.

Aluna akhirnya mengangguk dan turun dari mobil, ia berdiri di pinggir jalan memperhatikan mobil Kayvan yang perlahan menjauh dan menghilang di belokan jalan.

Ia tidak menyadari bahwa dari kejauhan, Kayvan memperhatikannya melalui spion dan memastikan gadis itu masuk ke dalam gedung kampus dengan aman.

Malam harinya, di ruang kerja yang sunyi, Kayvan sedang menatap sebuah laporan di layar monitornya.

Namun pikirannya tidak tertuju pada angka-angka saham, tapi ia justru teringat ucapan ayahnya tadi sore saat ia baru pulang kantor.

"Kay, papa rasa Aluna adalah gadis yang tepat. Dia mandiri, punya prinsip, dan yang paling penting, dia tidak melihat kita sebagai tumpukan uang dan papa ingin kamu menikahinya."

Kayvan sempat menolak keras ide itu, ia merasa perjodohan adalah hal kuno.

Namun saat ia melihat kartu nama pribadinya sudah tersimpan di tas Aluna tadi pagi ada perasaan aneh yang menyelinap di hatinya.

Perasaan ingin melindungi dan ingin memastikan bahwa gadis yang banting tulang sendirian itu tidak perlu lagi merasa kesepian.

Ia menyandarkan punggungnya ke kursi kerja dan memijat pangkal hidungnya, bayangan Aluna yang tersenyum pada ayahnya tadi pagi kembali melintas.

"Menikah ya?" gumamnya pelan.

Kayvan mengambil ponselnya dan mencari kontak Raline, ia butuh tahu lebih banyak tentang Aluna.

Tanpa ia sadari dinding es yang selama ini ia bangun mulai menunjukkan retakan kecil, hanya karena seorang gadis yatim piatu yang menolak bantuan uangnya namun menerima tumpangannya dengan wajah penuh rasa sungkan.

Di sisi lain kota, di kamar kosnya yang sempit (karena Aluna memaksa pulang sore itu dengan alasan ingin mengerjakan tugas), Aluna menatap kartu nama hitam di atas meja belajarnya.

Ia menghela napas panjang, gidupnya sudah cukup rumit dan ia merasa masuk ke dalam lingkaran keluarga Madhava hanya akan membuat segalanya semakin tak terkendali.

Namun takdir punya caranya sendiri, Aluna tidak tahu bahwa besok sebuah masalah besar akan datang menghantamnya dan memaksa dirinya untuk mencari nomor telepon di atas kartu nama hitam itu.

...****************...

Pagi itu kampus terasa sedikit berbeda bagi Aluna, sejak turun dari mobil mewah Kayvan kemarin ia merasa ada beberapa pasang mata yang memperhatikannya dengan tatapan penuh tanya.

Aluna mencoba mengabaikan hal itu dan ia memilih untuk menenggelamkan diri di perpustakaan berkutat dengan tumpukan buku referensi untuk tugas metodologi penelitian yang tenggat waktunya tinggal dua hari lagi.

Namun fokusnya buyar saat ponsel usangnya bergetar di atas meja kayu, sebuah pesan masuk dari pemilik kontrakan.

[Aluna, ini sudah lewat tiga hari dari tanggal yang kita sepakati. Kalau sampai besok sore belum ada pembayaran maka bapak minta maaf kamu harus segera kosongkan kamar itu karena sudah ada mahasiswa baru yang mau masuk dan langsung bayar setahun.]

Aluna memejamkan mata rapat-rapat, jantungnya berdegup kencang, rasa sesak mulai menghimpit dadanya.

Uang yang seharusnya ia gunakan untuk membayar kontrakan terpaksa ia pakai sebagian untuk menebus obat-obatan pasca keluar dari rumah sakit kemarin.

Sisa tabungannya benar-benar menipis, ia belum bisa kembali bekerja di kafe karena badannya masih terasa lemas dan jadwal tutor privatnya pun baru akan dimulai lusa.

"Apa yang harus aku lakukan?" bisiknya pada diri sendiri.

Ia merogoh tasnya, mencari dompet kecilnya dan saat itulah jarinya menyentuh sebuah benda kecil dengan tekstur premium.

Kartu nama hitam dengan tulisan emas yaitu Kayvan Dipta Madhava.

Aluna menatap kartu itu cukup lama, wajah kaku pria itu terbayang di benaknya.

“Jika ada sesuatu yang mendesak, hubungi aku langsung.”

Kalimat itu terngiang kembali, tapi harga diri Aluna yang setinggi langit segera menepis keinginan untuk menelepon.

Ia tidak ingin dianggap sebagai gadis peminta-minta, apalagi oleh pria sekelas Kayvan yang seolah bisa membeli dunia dengan sekali jentikan jari.

.

.

Cerita Belum Selesai.....

Terpopuler

Comments

Rahma Inayah

Rahma Inayah

tlp aja luna ..bilg ke kaivan pinjm walau GK mkn juga dia mau dikembikan uang yg SDH dia kasih ke km buat bayar kontrakan

2026-04-08

1

Supryatin 123

Supryatin 123

telp minta bantuan tapi malah d suruh pindah k rumah si om🤭🤭 lnjut thor 💪💪

2026-04-02

0

🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍

🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍

Baru nyambung baca lagi karna sempet lupa.🤭

2026-07-09

0

lihat semua
Episodes
1 Pingsan
2 Harga Diri Tinggi
3 Menginap
4 Kartu Nama
5 Aku Akan Mencobanya
6 Menikahlah Denganku
7 Memantaunya
8 Ancam Tuan Baskara
9 Manipulasi Manis
10 Batalkan
11 Sedikit Trauma
12 Panti Asuhan
13 Diusir
14 Menikahlah Dengaku
15 Perlindungan
16 Layak Mendapatkannya
17 Bros Kecil
18 Sah
19 Aku Suamimu Sekarang
20 Menjalankan Peran
21 Sarapan Bersama
22 Dia Pasti Sibuk
23 Benar-benar Lupa
24 Jamuan Formal?
25 Bukan Sekadar Panggilan Formalitas
26 Tidak Nyaman
27 Gelar Kehormatan
28 Keputusan Terbaik
29 Gosip Kampus
30 Pusat Dari Dunianya
31 Pisang Goreng
32 Tante Aluna Yang Cantik!
33 Hal Terbaik
34 Bintang Baru Kita?
35 Tempat Untuk Bersandar
36 Selamat Malam Sayang
37 Tanya Suami
38 Cari Kegiatan Lain
39 Kenyamananmu
40 Protektif
41 Dia Kembali
42 Ratu Di Hati
43 Jam Tangan Antik
44 Anggun Tapi Licik
45 Jadilah Aluna Yang Sekarang
46 Jamuan Bisnis
47 Kenangan Masa Kecil
48 Makan Malam Lesehan
49 Mencari Inspirasi
50 Porselen Kuno
51 Seperti Anugerah
52 Kayvan Sakit
53 Obat Paling Ampuh
54 Variabel Paling Tepat
55 Benar-benar Sudah Runtuh
56 Kotak Misterius
57 Penggemar Rahasia
58 Terima Kasih Sudah Memilihku
59 Rasa Syukur Yang Luar Biasa
60 Risiko Bisnis
61 Itu Sudah Lebih Dari Cukup
62 Lebih Dari Cukup
63 Mas Cemburu?
64 Pesan Video
65 Mencintai Impian Dan Dunianya
66 Itu Namanya Cemburu
67 Ancaman Yang Sangat Halus
68 Secara Terang-terangan
69 New Story: Benih Rahasia Sang Dokter
70 Terima Kasih Sudah Menungguku
71 Olahraga Pagi
72 Player Tingkat Pro!
73 Harmoni Yang Sempurna
74 Suami Yang Perhatian
75 Ambang Pintu Terakhir
76 Sarjana Baru
77 Wisuda
78 Flight Destination
79 Masih Seperti Mimpi
80 Fasilitas Pribadi
81 First Class Cabin
82 Salju Pertama
83 New Story: Di Bawah Kuasa Mantan Suami
84 New Story: Istri Figuran Sang Pewaris
Episodes

Updated 84 Episodes

1
Pingsan
2
Harga Diri Tinggi
3
Menginap
4
Kartu Nama
5
Aku Akan Mencobanya
6
Menikahlah Denganku
7
Memantaunya
8
Ancam Tuan Baskara
9
Manipulasi Manis
10
Batalkan
11
Sedikit Trauma
12
Panti Asuhan
13
Diusir
14
Menikahlah Dengaku
15
Perlindungan
16
Layak Mendapatkannya
17
Bros Kecil
18
Sah
19
Aku Suamimu Sekarang
20
Menjalankan Peran
21
Sarapan Bersama
22
Dia Pasti Sibuk
23
Benar-benar Lupa
24
Jamuan Formal?
25
Bukan Sekadar Panggilan Formalitas
26
Tidak Nyaman
27
Gelar Kehormatan
28
Keputusan Terbaik
29
Gosip Kampus
30
Pusat Dari Dunianya
31
Pisang Goreng
32
Tante Aluna Yang Cantik!
33
Hal Terbaik
34
Bintang Baru Kita?
35
Tempat Untuk Bersandar
36
Selamat Malam Sayang
37
Tanya Suami
38
Cari Kegiatan Lain
39
Kenyamananmu
40
Protektif
41
Dia Kembali
42
Ratu Di Hati
43
Jam Tangan Antik
44
Anggun Tapi Licik
45
Jadilah Aluna Yang Sekarang
46
Jamuan Bisnis
47
Kenangan Masa Kecil
48
Makan Malam Lesehan
49
Mencari Inspirasi
50
Porselen Kuno
51
Seperti Anugerah
52
Kayvan Sakit
53
Obat Paling Ampuh
54
Variabel Paling Tepat
55
Benar-benar Sudah Runtuh
56
Kotak Misterius
57
Penggemar Rahasia
58
Terima Kasih Sudah Memilihku
59
Rasa Syukur Yang Luar Biasa
60
Risiko Bisnis
61
Itu Sudah Lebih Dari Cukup
62
Lebih Dari Cukup
63
Mas Cemburu?
64
Pesan Video
65
Mencintai Impian Dan Dunianya
66
Itu Namanya Cemburu
67
Ancaman Yang Sangat Halus
68
Secara Terang-terangan
69
New Story: Benih Rahasia Sang Dokter
70
Terima Kasih Sudah Menungguku
71
Olahraga Pagi
72
Player Tingkat Pro!
73
Harmoni Yang Sempurna
74
Suami Yang Perhatian
75
Ambang Pintu Terakhir
76
Sarjana Baru
77
Wisuda
78
Flight Destination
79
Masih Seperti Mimpi
80
Fasilitas Pribadi
81
First Class Cabin
82
Salju Pertama
83
New Story: Di Bawah Kuasa Mantan Suami
84
New Story: Istri Figuran Sang Pewaris

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!