PP Bab 4 - Tak Sejalan

Hari-hari berikutnya berjalan lebih cepat dari yang Aluna bayangkan. Waktu seolah dipaksa berlari tanpa memberinya kesempatan untuk berhenti dan berpikir.

Persiapan pernikahan dimulai dengan begitu cepat, seakan seluruh dunia ikut bergerak hanya untuk menyempurnakan satu acara yang bahkan tidak benar-benar Aluna inginkan.

Dari pemilihan gedung, dekorasi, hingga daftar tamu, semuanya ditentukan dengan standar terbaik. Nama keluarga Myles dan Harold terlalu besar untuk membiarkan satu detail pun terlewat.

Aluna kini berdiri di depan cermin ruang fitting dengan gaun putih yang menjuntai indah di tubuhnya, kain mahal membentuk siluet anggun yang begitu memukau.

"Nona Aluna, anda sangat cantik," puji sang desainer. Ini bahkan bukan pujian pertama yang ia lontarkan. Sudah berulang kali beliau mengatakan tentang kecantikan Aluna tersebut. Bahkan menyebutnya seperti putri yang turun dari negeri dongeng.

Namun di balik pantulan cermin itu, Aluna justru menatap dirinya sendiri dengan perasaan yang entah. Senyum itu tetap ada, lembut dan sempurna, tetapi matanya nampak kosong, tak ada sedikitpun kebahagiaan yang seharusnya ia rasakan.

Di sisi lain Davion berdiri beberapa langkah darinya, mengenakan setelan jas yang dibuat khusus untuknya. Ia tampak sempurna seperti biasa, wajah tampan dengan wibawa yang tak terbantahkan, pria yang menjadi impian banyak wanita.

Namun sejak awal hingga akhir sesi fitting, tidak sekali pun Davion benar-benar menatap Aluna dengan ketertarikan.

Tatapannya hanya sekilas, bahkan cenderung acuh. Karena baginya semua ini hanyalah formalitas yang harus ia lalui.

Momen pemilihan cincin pun tak jauh berbeda. Di tengah kilauan berlian yang memantul di bawah cahaya lampu butik perhiasan, Aluna berdiri di samping Davion dengan sikap anggun yang tak pernah goyah.

Para staf dengan antusias menawarkan berbagai pilihan cincin terbaik, menyebutkan desain eksklusif dan makna simbolis di baliknya. Tapi bagi Aluna, cincin itu terasa seperti lingkaran yang akan mengikatnya pada sesuatu yang tidak pasti.

“Yang ini saja,” ucap Davion singkat tanpa banyak pertimbangan, menunjuk salah satu cincin yang terlihat paling tak mencolok di matanya.

Aluna menoleh sekilas, lalu mengangguk pelan. “Iya,” jawabnya lembut, tanpa penolakan sedikit pun.

Sikap itu kembali membuat Davion mengerutkan kening. Padahal sejak tadi Aluna memandang cincin yang lain, tapi tetap saja dia tetap patuh pada pilihannya.

Tidak ada bantahan, tidak ada keinginan dan bahkan tidak ada pendapat. Dan entah kenapa hal itu justru membuatnya semakin tidak nyaman. Dia benci Aluna yang patuh, dia benci betapa Aluna sangat sempurna tanpa ada kekurangan sedikitpun.

Kabar perjodohan mereka pun dengan cepat menyebar ke publik. Media sosial dipenuhi dengan pujian, artikel, dan spekulasi tentang dua keluarga besar yang akhirnya bersatu.

Nama Davion Harold dan Aluna Myles menjadi perbincangan hangat. Banyak yang menyebut mereka sebagai pasangan sempurna, setara dalam status, seimbang dalam penampilan, dan dianggap sebagai definisi nyata dari pernikahan impian.

Foto-foto Aluna yang selalu terlihat anggun dan lembut tersebar luas, membuat banyak orang iri pada kehidupan yang tampak begitu sempurna.

Gaun mahal, perhiasan berkilau, senyum yang tak pernah luntur, semuanya membentuk citra yang begitu indah di mata dunia.

Namun tidak ada satu pun dari mereka yang tahu bahwa di balik semua itu, Aluna sedang berjalan di atas perasaan yang rapuh. Bahwa setiap senyum yang ia tampilkan adalah hasil dari kebiasaan, bukan kebahagiaan. Bahwa setiap langkah yang ia ambil adalah bentuk kepatuhan, bukan pilihannya sendiri.

Waktu terus berjalan hingga akhirnya hanya tersisa satu minggu sebelum hari pernikahan.

Pagi ini Aluna dipanggil kedua orang tuanya untuk menghadap di ruang keluarga. Mama Sarah membawa satu set perhiasan yang kemudian ia serahkan pada putrinya.

"Sayang, di pesta pernikahan nanti kamu harus menggunakan perhiasan ini. Sejak dulu Mama selalu bermimpi Jesselyn menggunakan perhiasan ini dihari pernikahannya," ucap mama Sarah dengan sendu, bercampur bahagia karena keinginannya akan dikabulkan oleh sang anak angkat.

Aluna menatap satu set perhiasan itu dengan tatapan nanar, selalu saja tentang Jesselyn.

"Iya, Ma. Aku akan melakukan apapun untuk membuat Mama bahagia," jawab Aluna tulus.

Mama Sarah segera memeluk Aluna dengan lembut, papa Pieter yang melihat pemandangan itupun ikut tersenyum juga. Bersyukur semuanya berjalan dengan baik seperti rencana mereka sejak awal.

"Aluna, nanti setelah menikah kamu tidak perlu menunda momongan. Mama justru ingin kamu secepatnya hamil," kata mama Sarah lagi.

Jantung Aluna makin berdenyut nyeri saat mendengar hal itu. Mana mungkin dia bisa hamil disaat Davion bahkan tak pernah benar-benar menerimanya. Bahkan Davion telah merencanakan perpisahan mereka.

Tapi... apakah Aluna memiliki keberanian untuk menolaknya? Tentu saja jawabannya adalah tidak.

"Pernikahan kalian akan semakin sempurna jika kamu secepatnya hamil, iya kan?" tanya mama Sarah dan akhirnya Aluna hanya mampu menganggukkan kepalanya.

"Benar apa kata mamamu, Sayang. Jika kamu hamil, Aston Harold dan Ivana juga pasti akan semakin menyayangi mu," sahut papa Pieter.

Namun bukannya merasa senang, Aluna justru sangat ingin menangis sekarang. Hatinya terasa sangat hampa, seolah di dunia ini dia hanya sendirian.

Sarah kemudian memeluk Aluna sekali lagi, "Mama sangat bangga padamu Sayang, sangat," ucapnya lirih.

Air mata Aluna akhirnya jatuh juga, namun dengan cepat segera dia hapus. Karena kata mama Sarah, Jesselyn bahkan tak pernah menangis.

"Iya Ma, Pa. Aku akan melakukan yang terbaik," jawab Aluna.

Tak berselang lama kemudian Aluna menerima kabar dari pelayan bahwa ia diminta untuk bersiap. Asisten pribadi Davion datang menjemputnya. Tidak ada penjelasan apapun, hanya permintaan singkat yang tidak memberinya ruang untuk menolak.

Perjalanan menuju Harold Kingdom terasa sangat panjang, ini adalah kali pertama Aluna akan menginjakkan kaki di tempat itu. Gedung perusahaan menjulang megah, mencerminkan kekuasaan dan pengaruh keluarga Harold yang tak terbantahkan.

Saat Aluna melangkah masuk, banyak pasang mata yang langsung memperhatikannya dengan kagum. Calon nyonya muda Harold, begitulah bisikan yang terdengar di sekitarnya.

Langkah Aluna akhirnya berhenti di depan ruang kerja Davion. Pintu besar itu terbuka setelah diketuk pelan, memperlihatkan sosok pria yang duduk di balik meja dengan aura dingin yang sama seperti biasanya.

Davion bahkan tidak menyambutnya dengan kata-kata. Ia hanya mengangkat pandangannya sekilas, lalu melemparkan sebuah map ke atas meja di hadapan Aluna.

Map itu bergeser pelan, berhenti tepat di depan tangannya. "Apa ini?" tanya Aluna.

“Bacalah,” ucap Davion singkat, selalu bicara tanpa minat.

Aluna menatap map itu beberapa detik sebelum akhirnya mengambilnya. Jarinya yang halus membuka perlahan, dan saat matanya mulai membaca isi di dalamnya, napasnya seketika tertahan.

Surat kontrak pernikahan.

Isinya tertulis dengan jelas bahwa pernikahan ini bukan tentang hubungan, bukan tentang perasaan, melainkan kesepakatan.

Batasan, kewajiban, dan bahkan perpisahan sudah tertulis rapi di dalamnya, seolah semuanya telah direncanakan sejak awal tanpa pernah melibatkan hati.

Jari Aluna sedikit gemetar saat memegang kertas itu, namun ia berusaha keras untuk tetap tenang. Perlahan ia mengangkat wajahnya dan menatap Davion.

Tatapan mereka bertemu seperti garis lurus. Pikiran dan hati Aluna kini benar-benar bimbang, karena keinginan kedua orang tuanya tak sejalan dengan apa yang dikehendaki oleh Davion.

Sementara Aluna hanyalah bidak yang tak punya kuasa.

"Baik, dimana aku harus tanda tangan?" tanya Aluna akhirnya.

Terpopuler

Comments

Fittar

Fittar

sayangnya mama sarah dan papa peter bukan pada aluna tapi pada bayang bayang jesellyn yang tak tau rimbanya dimana. aluna itu bukan boneka kenapa tega sekali

2026-04-05

1

Ny Rudi Harianto

Ny Rudi Harianto

wiiiih..... seberat apapun itu ttp harus d laksana kan....Aluna ttp harus bersabar menghadapi si kulkas

2026-04-05

2

💥💚 Sany ❤💕

💥💚 Sany ❤💕

Lama-lama muak juga ma mama Sarah, napa setiap hal yg Aluna lakukan selalu harus disertai nama Jesselyn.

2026-04-21

1

lihat semua
Episodes
1 PP Bab 1 - Putri Pengganti
2 PP Bab 2 - Patuhi Aku
3 PP Bab 3 - Calon Menantu Yang Sempurna
4 PP Bab 4 - Tak Sejalan
5 PP Bab 5 - Ditukar Dengan Sejumlah Uang
6 PP Bab 6 - Apa Dia Robot?
7 PP Bab 7 - Bohong
8 PP Bab 8 - Frustasi
9 PP Bab 9 - Apa Masih Bisa Diam
10 PP Bab 10 - Kamu Mau?
11 PP Bab 11 - Harapan
12 PP Bab 12 - Anjingku
13 PP Bab 13 - Pil KB Darurat
14 PP Bab 14 - Perintah Seseorang
15 PP Bab 15 - Siapa Dirimu Sebenarnya
16 PP Bab 16 - Lepas Bajuku
17 PP Bab 17 - Tak Perlu Sepatuh Itu
18 PP Bab 18 - Kering Dengan Sendirinya
19 PP Bab 19 - Bagaimana Jika Aku Tidak Bisa Hamil?
20 PP Bab 20 - Datang Dengan Misi Baru
21 PP Bab 21 - Setelah Semuanya Selesai
22 PP Bab 22 - Tawa Kecil
23 PP Bab 23 - Aku Bonekamu
24 PP Bab 24 - Sapa Dulu Adik Mu
25 PP Bab 25 - Bolehkah Aku Memelukmu?
26 PP Bab 26 - Lehernya, Pundaknya
27 PP Bab 27 - Jam 2 Dini Hari
28 PP Bab 28 - Aku Tidak Bisa Melakukan Apa-apa
29 PP Bab 29 - Semua Orang Boleh Tertipu
30 PP Bab 30 - Setelah Jesselyn Ditemukan
31 PP Bab 31 - Putus Aluna
32 PP Bab 32 - Di Tangan Davion
33 PP Bab 33 - Rekaman
34 PP Bab 34 - Hai, Aku Clara
35 PP Bab 35 - Bersama Kami
36 PP Bab 36 - Pergilah
37 PP Bab 37 - Sumber Masalah
38 PP Bab 38 - Kamu Tidak Akan Pernah Mulai, Aluna
39 PP Bab 39 - Melepas Nama Myles
40 PP Bab 40 - Dav, Aku Ingin Kita Cerai
41 PP Bab 41 - Mommy Akan Mensyukuri Perceraian ku Dengan Aluna
42 PP Bab 42 - Jangan Bercanda
43 PP Bab 43 - Jesselyn Myles
44 PP Bab 44 - Hanya Aku Yang Boleh
45 PP Bab 45 - Sudah Atau Belum?
46 PP Bab 46 - Betapa Liciknya Wanita Itu
47 PP Bab 47 - Sangat Memalukan
48 PP Bab 48 - Aku Tidak Kenal
49 PP Bab 49 - Boneka Keluarga Myles
50 PP Bab 50 - Aku Sangat Sibuk
51 PP Bab 51 - Siapa Yang Datang?
52 PP Bab 52 - Aku Tidak Mengerti
53 PP Bab 53 - Membatalkan Perceraian Kita
54 PP Bab 54 - TIDAK
55 PP Bab 55 - Menu Spesial
56 PP Bab 56 - Sangat Paham Pria Itu
57 PP Bab 57 - Itu Tugasmu
58 PP Bab 58 - Kamu Harus Bisa
59 PP Bab 59 - Membuatnya Malu
60 PP Bab 60 - Buat Gaun Aluna Basah
61 PP Bab 61 - Aku Hanya Rindu
62 PP Bab 62 - Aku Harus Apa lagi?
63 PP Bab 63 - Tidak Bisakah
64 PP Bab 64 - Boleh Aku Menciummu?
65 PP Bab 65 - Aku Tidak Bisa Tidur
66 PP Bab 66 - Tak Pernah Sejajar
67 PP Bab 67 - Tidak Boleh
68 PP Bab 68 - Penjelasan Lain
69 PP Bab 69 - Tak Ada Ikatan Batin
70 PP Bab 70 - Hanya Penggantiku
71 PP Bab 71 - Tidak Sepenting Itu
72 PP Bab 72 - Bisakah Hubungan Kita Berubah?
73 PP Bab 73 - Berdiri Di Sana
74 PP Bab 74 - Membuatmu Tidak Takut Lagi Padaku
75 PP Bab 75 - Asing Dengan Sentuhan Lembbut Davion
76 PP Bab 76 - Jangan Ganggu Aluna
77 PP Bab 77 - Yang Mampu Merubah
78 PP Bab 78 - Selama Tiga Bulan
79 PP Bab 79 - Biar Aku Yang Buka Pintunya
80 PP Bab 80 - Sebelum Kamu Izinkan
81 PP Bab 81 - Boleh Aku Menciummu? (2)
82 PP Bab 82 - Boleh Aku Menciummu? (3)
83 PP Bab 83 - Pernah Tidur Bersama
84 PP Bab 84 - Aura Bad Boy
85 PP Bab 85 - Kosongkan Ruangan Direktur Utama
86 Seribu Dolar Untuk Semalam
87 PP Bab 86 - Pesan Bibi Emma
88 PP Bab 87 - Meyakinkan Diri Sendiri
89 PP Bab 88 - Menyesal Telah Menemukan mu
90 PP Bab 89 - Kusimpan Dulu Izinnya Untuk Nanti Malam
91 PP Bab 90 - Mencoba Menebus
92 PP Bab 91 - Mengikis Jarak
93 PP Bab 92 - Bagaimana Kabarmu, Al?
94 PP Bab 93 - Memilih Diriku Sendiri
95 PP Bab 94 - Lampu Merah
96 PP Bab 95 - Rahasia
97 PP Bab 96 - Ke Luar Negeri
98 PP Bab 97 - Mengakui Semua Kesalahannya
99 PP Bab 98 - Benang Merah
100 PP Bab 98 - Cara Yang Benar
101 PP Bab 100 - Aku Yang Salah
102 PP Bab 101 - Kamu Mau Apa?
103 PP Bab 102 - Patuh Tanpa Tekanan
104 PP Bab 103 - Haris Terdiam
105 PP Bab 104 - Malam Terakhir
106 PP Bab 105 - Kehilangan Sebagian Jiwanya
107 PP Bab 106 - Katakan
108 PP Bab 107 - Priaku
109 PP Bab 108 - Sangat Merindukanmu
110 PP Bab 109 - Maukah Kamu Menikah Denganku?
111 PP Bab 110 - Mau Kubuat Terasa Nyata?
112 PP Bab 111 - Astaga
113 PP Bab 112 - Tekad Jesselyn
114 PP Bab 113 - Adalah Aku
115 PP Bab 114 - Kenapa Malah Makin Tampan?
116 PP Bab 115 - Cup!
117 PP Bab 116 - Malam Perttama
118 PP Bab 117 - Rumah Sakit Medistra
119 PP Bab 118 - Menangislah
120 PP Bab 119 - Kamu Pulang Cepat, Ya
121 PP Bab 120 - Selamat Datang, Sayang
122 PP Bab 121 - Begitu Liarr
123 PP Bab 122 - Kamu Sudah Puas Belum?
124 PP Bab 123 - Aluna Meleleh
125 PP Bab 124 - Jangan Ragukan Kekuatanku
126 PP Bab 125 - Aluna Myles
127 Istri Idiot Sang Jenderal
Episodes

Updated 127 Episodes

1
PP Bab 1 - Putri Pengganti
2
PP Bab 2 - Patuhi Aku
3
PP Bab 3 - Calon Menantu Yang Sempurna
4
PP Bab 4 - Tak Sejalan
5
PP Bab 5 - Ditukar Dengan Sejumlah Uang
6
PP Bab 6 - Apa Dia Robot?
7
PP Bab 7 - Bohong
8
PP Bab 8 - Frustasi
9
PP Bab 9 - Apa Masih Bisa Diam
10
PP Bab 10 - Kamu Mau?
11
PP Bab 11 - Harapan
12
PP Bab 12 - Anjingku
13
PP Bab 13 - Pil KB Darurat
14
PP Bab 14 - Perintah Seseorang
15
PP Bab 15 - Siapa Dirimu Sebenarnya
16
PP Bab 16 - Lepas Bajuku
17
PP Bab 17 - Tak Perlu Sepatuh Itu
18
PP Bab 18 - Kering Dengan Sendirinya
19
PP Bab 19 - Bagaimana Jika Aku Tidak Bisa Hamil?
20
PP Bab 20 - Datang Dengan Misi Baru
21
PP Bab 21 - Setelah Semuanya Selesai
22
PP Bab 22 - Tawa Kecil
23
PP Bab 23 - Aku Bonekamu
24
PP Bab 24 - Sapa Dulu Adik Mu
25
PP Bab 25 - Bolehkah Aku Memelukmu?
26
PP Bab 26 - Lehernya, Pundaknya
27
PP Bab 27 - Jam 2 Dini Hari
28
PP Bab 28 - Aku Tidak Bisa Melakukan Apa-apa
29
PP Bab 29 - Semua Orang Boleh Tertipu
30
PP Bab 30 - Setelah Jesselyn Ditemukan
31
PP Bab 31 - Putus Aluna
32
PP Bab 32 - Di Tangan Davion
33
PP Bab 33 - Rekaman
34
PP Bab 34 - Hai, Aku Clara
35
PP Bab 35 - Bersama Kami
36
PP Bab 36 - Pergilah
37
PP Bab 37 - Sumber Masalah
38
PP Bab 38 - Kamu Tidak Akan Pernah Mulai, Aluna
39
PP Bab 39 - Melepas Nama Myles
40
PP Bab 40 - Dav, Aku Ingin Kita Cerai
41
PP Bab 41 - Mommy Akan Mensyukuri Perceraian ku Dengan Aluna
42
PP Bab 42 - Jangan Bercanda
43
PP Bab 43 - Jesselyn Myles
44
PP Bab 44 - Hanya Aku Yang Boleh
45
PP Bab 45 - Sudah Atau Belum?
46
PP Bab 46 - Betapa Liciknya Wanita Itu
47
PP Bab 47 - Sangat Memalukan
48
PP Bab 48 - Aku Tidak Kenal
49
PP Bab 49 - Boneka Keluarga Myles
50
PP Bab 50 - Aku Sangat Sibuk
51
PP Bab 51 - Siapa Yang Datang?
52
PP Bab 52 - Aku Tidak Mengerti
53
PP Bab 53 - Membatalkan Perceraian Kita
54
PP Bab 54 - TIDAK
55
PP Bab 55 - Menu Spesial
56
PP Bab 56 - Sangat Paham Pria Itu
57
PP Bab 57 - Itu Tugasmu
58
PP Bab 58 - Kamu Harus Bisa
59
PP Bab 59 - Membuatnya Malu
60
PP Bab 60 - Buat Gaun Aluna Basah
61
PP Bab 61 - Aku Hanya Rindu
62
PP Bab 62 - Aku Harus Apa lagi?
63
PP Bab 63 - Tidak Bisakah
64
PP Bab 64 - Boleh Aku Menciummu?
65
PP Bab 65 - Aku Tidak Bisa Tidur
66
PP Bab 66 - Tak Pernah Sejajar
67
PP Bab 67 - Tidak Boleh
68
PP Bab 68 - Penjelasan Lain
69
PP Bab 69 - Tak Ada Ikatan Batin
70
PP Bab 70 - Hanya Penggantiku
71
PP Bab 71 - Tidak Sepenting Itu
72
PP Bab 72 - Bisakah Hubungan Kita Berubah?
73
PP Bab 73 - Berdiri Di Sana
74
PP Bab 74 - Membuatmu Tidak Takut Lagi Padaku
75
PP Bab 75 - Asing Dengan Sentuhan Lembbut Davion
76
PP Bab 76 - Jangan Ganggu Aluna
77
PP Bab 77 - Yang Mampu Merubah
78
PP Bab 78 - Selama Tiga Bulan
79
PP Bab 79 - Biar Aku Yang Buka Pintunya
80
PP Bab 80 - Sebelum Kamu Izinkan
81
PP Bab 81 - Boleh Aku Menciummu? (2)
82
PP Bab 82 - Boleh Aku Menciummu? (3)
83
PP Bab 83 - Pernah Tidur Bersama
84
PP Bab 84 - Aura Bad Boy
85
PP Bab 85 - Kosongkan Ruangan Direktur Utama
86
Seribu Dolar Untuk Semalam
87
PP Bab 86 - Pesan Bibi Emma
88
PP Bab 87 - Meyakinkan Diri Sendiri
89
PP Bab 88 - Menyesal Telah Menemukan mu
90
PP Bab 89 - Kusimpan Dulu Izinnya Untuk Nanti Malam
91
PP Bab 90 - Mencoba Menebus
92
PP Bab 91 - Mengikis Jarak
93
PP Bab 92 - Bagaimana Kabarmu, Al?
94
PP Bab 93 - Memilih Diriku Sendiri
95
PP Bab 94 - Lampu Merah
96
PP Bab 95 - Rahasia
97
PP Bab 96 - Ke Luar Negeri
98
PP Bab 97 - Mengakui Semua Kesalahannya
99
PP Bab 98 - Benang Merah
100
PP Bab 98 - Cara Yang Benar
101
PP Bab 100 - Aku Yang Salah
102
PP Bab 101 - Kamu Mau Apa?
103
PP Bab 102 - Patuh Tanpa Tekanan
104
PP Bab 103 - Haris Terdiam
105
PP Bab 104 - Malam Terakhir
106
PP Bab 105 - Kehilangan Sebagian Jiwanya
107
PP Bab 106 - Katakan
108
PP Bab 107 - Priaku
109
PP Bab 108 - Sangat Merindukanmu
110
PP Bab 109 - Maukah Kamu Menikah Denganku?
111
PP Bab 110 - Mau Kubuat Terasa Nyata?
112
PP Bab 111 - Astaga
113
PP Bab 112 - Tekad Jesselyn
114
PP Bab 113 - Adalah Aku
115
PP Bab 114 - Kenapa Malah Makin Tampan?
116
PP Bab 115 - Cup!
117
PP Bab 116 - Malam Perttama
118
PP Bab 117 - Rumah Sakit Medistra
119
PP Bab 118 - Menangislah
120
PP Bab 119 - Kamu Pulang Cepat, Ya
121
PP Bab 120 - Selamat Datang, Sayang
122
PP Bab 121 - Begitu Liarr
123
PP Bab 122 - Kamu Sudah Puas Belum?
124
PP Bab 123 - Aluna Meleleh
125
PP Bab 124 - Jangan Ragukan Kekuatanku
126
PP Bab 125 - Aluna Myles
127
Istri Idiot Sang Jenderal

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!