PP Bab 5 - Ditukar Dengan Sejumlah Uang

Jantung Aluna masih berdebar cepat ketika akhirnya dia keluar dari ruangan Davion. Tangannya masih gemetar setelah menandatangani surat perjanjian pernikahan mereka.

Tapi saat ini Aluna benar-benar tak tahu apa yang harus dia lakukan sekarang, kedua orang tuanya dan Davion memaksanya untuk berjalan di jalur yang berbeda, sementara Aluna adalah seseorang yang tak pernah bisa menentukan pilihannya sendiri.

Di sepanjang koridor Harold Kingdom Aluna berjalan dengan kepala tegak, menjaga citra yang selama ini ia bangun dengan baik. Namun di dalam dirinya semua terasa kacau. Suara langkah sepatu haknya terdengar jelas, menjadi satu-satunya bukti bahwa ia masih bergerak maju.

'Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan sekarang,' batinnya lirih.

Lift terbuka dengan dan Aluna melangkah masuk tanpa ragu. Pintu kembali menutup, memantulkan bayangannya sendiri di dinding logam. Ia menatap dirinya cukup lama, wanita yang terlihat sempurna, anggun, dan tenang. Namun hanya Aluna yang tahu bahwa di balik itu semua ia hanyalah seseorang yang sedang tersesat di hidupnya sendiri.

Kini Aluna bukan hanya harus patuh pada mama Sarah dan papa Pieter, tetapi juga pada Davion. Dan di tengah semua itu Aluna hanya berdiri sendirian, tanpa arah yang jelas.

Hari pernikahan akhirnya tiba.

Segala sesuatu yang dipersiapkan selama berminggu-minggu itu menjelma menjadi sebuah perayaan yang begitu megah dan sempurna. Gedung besar dihiasi dengan dekorasi bunga putih yang indah, lampu kristal berkilauan di setiap sudut, dan para tamu undangan dari kalangan elit memenuhi ruangan dengan gaun dan jas terbaik mereka.

Musik mengalun lembut, menambah suasana sakral yang seharusnya penuh kebahagiaan.

Aluna berjalan menuju altar dengan gaun pengantin yang luar biasa indah. Semua mata tertuju padanya, memuji kecantikannya dan mengagumi keanggunannya.

Di sisi lain, Davion berdiri dengan setelan jas hitam yang membuatnya tampak begitu tampan dan mempesona, pasangan yang terlihat sangar sempurna di mata dunia.

Janji pernikahan terucap dan cincin terpasang di jari manis keduanya. Semua orang bertepuk tangan kecil sebagai bentuk kebahagiaan.

Kecuali hati Aluna yang justru terasa semakin hampa.

Pesta berlangsung hingga malam hari, dipenuhi ucapan selamat, dan doa-doa yang terus mengalir dari para tamu. Mommy Ivana berulang kali mendekati Aluna dan bertanya apakah menantu kesayangan itu merasa lelah, dan Aluna selalu menjawab bahwa dia baik-baik saja.

Begitu acara selesai, Aluna langsung dibawa ke rumah keluarga Harold. Rumah besar itu kini akan menjadi tempat tinggalnya.

Tempat yang akan Aluna sebut sebagai rumah, meskipun hatinya belum benar-benar merasa tinggal di sini.

Mama Sarah dan papa Pieter ikut mengantar, memastikan semuanya berjalan sesuai rencana mereka.

"Davion, segera bawa Aluna ke kamar kalian. Kalian langsung istirahat saja," ucap mommy Ivana.

"Iya Nak, mama dan papa juga akan segera pulang setelah mengobrol sebentar," sahut mama Sarah pula.

Davion hanya mengangguk dan berjalan di depan tanpa banyak bicara. Aluna mengikuti di belakang dengan langkah sedikit tertatih, sebenarnya dia lelah sekali hari ini, karena harus berdiri lama dengan menggunakan sepatu hak tinggi. Tapi Aluna sekalipun tak pernah menunjukkan rasa lelahnya, di hadapan semua orang dia harus selalu terlihat sempurna.

Diam-diam Aluna menghela nafasnya dengan kasar, merasa gaun pengantin yang membalutnya kini terasa begitu berat.

Tak berselang lama kemudian mereka tiba di kamar, pintu terbuka memperlihatkan ruangan luas dengan interior elegan yang begitu mewah. Namun kehangatan tidak terasa di sana.

Davion masuk lebih dulu, lalu menoleh sekilas pada Aluna. "Ingat untuk selalu menjaga jarak dariku," ucap Davion.

Aluna menganggukkan kepalanya kecil, karena dalam perjanjian Mereka pun tertulis jelas bahwa Aluna harus menjaga jarak setidaknya 2 meter jika mereka hanya berdua.

Dengan susah payah Aluna menuju ruang ganti dan melepas gaun pengantinnya sendiri. Dia melihat kakinya sendiri yang ternyata terluka. Membekas merah yang terasa begitu perih. Tapi Aluna hanya bisa menghela nafas melihat luka tersebut, tak bisa mengobatinya.

Di dalam walk in closet telah penuh berisi pakaiannya, tas, sepatu, perhiasan dan segala pernak pernik untuknya. Semua benar-benar telah dipersiapkan dengan baik. Tapi semua kemewahan ini sedikitpun tidak membuatnya bahagia. Aluna kemudian melepas perhiasan yang masih menempel di tubuhnya, satu set perhiasan yang harusnya digunakan oleh Jesselyn.

Begitu selesai Aluna pun segera keluar, melihat Davion yang masih berdiri di samping ranjang dengan memegang ponselnya.

“Dav, Aku keluar sebentar,” ucap Aluna akhirnya, suaranya pelan namun tetap terjaga.

Davion tidak menahan, tak ingin tahu juga kepentingan apa yang membuat Aluna harus keluar dari dalam kamar. Dia hanya diam membiarkan keheningan menjadi jawaban.

Aluna kemudian berbalik dan melangkah keluar dari kamar, Ia ingin mencari mama Sarah dan papa Pieter, setidaknya untuk berpamitan sebelum mereka pulang.

Namun langkahnya tiba-tiba terhenti di lorong yang sedikit sepi, sebuah pintu terlihat tidak tertutup rapat. Dan dari dalam terdengar suara percakapan yang suaranya sangat familiar, yaitu suara papa Pieter.

Aluna tidak berniat menguping.

Namun kakinya seakan membeku di tempat saat ia mendengar satu kalimat yang membuat jantungnya terasa berhenti berdetak ...

“Sekarang Aluna sudah resmi menikah dengan Davion, jadi segera kirim uang yang sudah kita sepakati untuk membantu perusahaan Myles," ucap Pieter.

Napas Aluna tercekat, apa yang dia dengar saat ini adalah sesuatu hal yang tak pernah Aluna ketahui sebelumnya. Yang Aluna tahu pernikahan ini adalah murni perjodohan demi kebaikannya sendiri, tapi siapa sangka ternyata ada kesepakatan lain di dalamnya.

Aluna berdiri diam, tak mampu bergerak, tak mampu berpikir banyak.

“Kamu tenang saja, Pieter. Aku pasti akan segera mengirimnya,” jawab Daddy Aston. "Tapi jujur saja, aku tidak menyukai cara ini. Aku benar-benar menerima Aluna sebagai menantuku, tapi kamu seperti menjual putrimu sendiri," timpal Aston.

Dunia Aluna runtuh dalam diam saat mendengar kalimat panjang tersebut. Tangannya perlahan terangkat, menutup mulutnya sendiri agar tidak mengeluarkan suara. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh tanpa bisa dibendung lagi.

Sebelum tangisnya makin menjadi Aluna melangkah mundur dengan pelan, urung niatnya untuk menemui mama Sarah dan papa Pieter. Pada akhirnya dia kembali memasuki kamar yang belum lama Aluna tinggalkan.

Dan di sana dia kembali di sambut dengan tatapan Davion yang dingin.

Aluna membeku, air matanya masih mengalir di wajahnya yang putih. Tak terlihat jelas saat air mata itu jatuh, yang mampu Davion tangkap hanyalah kedua mata Aluna yang nampak merah dan basah.

"Dav," panggil Aluna lirih, tatapan Davion yang seperti itu benar-benar membuatnya tak berdaya.

"Lakukan apapun yang kamu mau, tapi jangan pernah mengusik ku." Davion segera pergi menuju ruang ganti, tak peduli dan tak ingin tahu kenapa wanita itu menangis tiba-tiba.

Aluna mengigit bibir bawahnya kuat-kuat, kedua tangannya berusaha menghapus semua air mata. "Tidak boleh, aku tidak boleh menangis. Jesselyn bahkan tidak pernah menangis," ucap Aluna tanpa sadar, bahkan di bawah alam sadarnya pun dia selalu berpikir bahwa dia harus jadi Jesselyn.

Beberapa saat kemudian terdengar suara pintu kamar diketuk. Begitu pintu Aluna buka ternyata yang berdiri di sana adalah mama Sarah.

"Ma," panggil Aluna, hatinya kembali berdenyut nyeri saat mengetahui bahwa ternyata ia juga dijual.

Mama Sarah tersenyum menatap putrinya, "Sayang, Mama dan papa akan pergi sekarang," ucap mama Sarah kemudian. Suaranya lembut sekali, membuat Aluna selalu bimbang. Benarkah dia disayang atau tidak? Benarkah dia dianggap putri atau tidak?

Namun Aluna tak pernah punya keberanian untuk mempertanyakan itu semua. Dia hanya bisa pasrah bahkan setelah mengetahui bahwa dia di tukar dengan sejumlah uang.

"Mama lihat Davion masih bersikap dingin padamu, tapi itu bukan masalah. Lambat Laun dia akan menerima pernikahan ini."

Aluna mengangguk.

"Aluna, apapun yang terjadi kamu harus tetap bertahan jadi nyonya muda keluarga Harold. Ini permintaan Mama dan Papa," tegas mama Sarah lagi.

Dan Aluna hanya mampu terus mengangguk.

Sebelum pergi Sarah memeluk Aluna untuk sesaat, lalu meminta putrinya untuk kembali masuk ke dalam kamar.

Aluna masih berdiri di balik pintu, di tangannya memegang sebuah paper bag yang mama Sarah tadi berikan, paper bag berisi lingerie berwarna putih.

Terpopuler

Comments

🎀𝔸ᥣᥙᥒᥲ🎀

🎀𝔸ᥣᥙᥒᥲ🎀

Berharap Aluna anak orang kaya, lebih berkuasa dari keluarga Aston. Kasihan dia, Tidak beruntung dikehidupannya, Entah apa yang terjadi dikehidupannya dulu.

2026-04-05

4

ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ

ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ

hiattttt ciatttt 🤺 Gemessss aku sama kamu aluna 😫 yakin deh! kalau ada aluna di realita, sudah aku Cek3kk 🤣 habisnya gregetan sih! tak perlu terlihat sempurna, jika kesempurnaan yang kamu perlihatkan palsu aluna. bisa jadi akan mempermalukan dirimu sendiri, suatu saat. di mata mamermu kamu yang selalu nurut dan kalem bak bidadari, tiba2 berubah jadi Sumalaa gitu 😂 apa enggak shock mommy ivana wkwkw

2026-04-05

2

ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ

ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ

bodohhhhhh 🤣🤣 jadi pingin jambakk rambut kamu aluna 😫 Jadi manusia kok sudah kayak Anying peliharaan. anying saja bisa menggigit Tuannya, bahkan Anying setia sekalipun, jika Merasa tersakiti, Terancam dan Setres. lahhh kamu! sebagai manusia yang sudah di kasih akal, pikiran, napcuh malah cuma diam dan pasrahh. ini hidup kamu aluna, kamu punya hak untuk berkata Tidak, jika tidak sejalan dengan pikiran kamu. jangan mempertaruhkan hidupmu untuk selalu di atur dan di kendalikan sama orang lain. OK lah..kamu mau membalas budi sama mama sarah dan papa pieter. tapi enggak harus jadi Robot 😫🤣 kok malah aku yang ngamuk2 wkwkwk

2026-04-05

5

lihat semua
Episodes
1 PP Bab 1 - Putri Pengganti
2 PP Bab 2 - Patuhi Aku
3 PP Bab 3 - Calon Menantu Yang Sempurna
4 PP Bab 4 - Tak Sejalan
5 PP Bab 5 - Ditukar Dengan Sejumlah Uang
6 PP Bab 6 - Apa Dia Robot?
7 PP Bab 7 - Bohong
8 PP Bab 8 - Frustasi
9 PP Bab 9 - Apa Masih Bisa Diam
10 PP Bab 10 - Kamu Mau?
11 PP Bab 11 - Harapan
12 PP Bab 12 - Anjingku
13 PP Bab 13 - Pil KB Darurat
14 PP Bab 14 - Perintah Seseorang
15 PP Bab 15 - Siapa Dirimu Sebenarnya
16 PP Bab 16 - Lepas Bajuku
17 PP Bab 17 - Tak Perlu Sepatuh Itu
18 PP Bab 18 - Kering Dengan Sendirinya
19 PP Bab 19 - Bagaimana Jika Aku Tidak Bisa Hamil?
20 PP Bab 20 - Datang Dengan Misi Baru
21 PP Bab 21 - Setelah Semuanya Selesai
22 PP Bab 22 - Tawa Kecil
23 PP Bab 23 - Aku Bonekamu
24 PP Bab 24 - Sapa Dulu Adik Mu
25 PP Bab 25 - Bolehkah Aku Memelukmu?
26 PP Bab 26 - Lehernya, Pundaknya
27 PP Bab 27 - Jam 2 Dini Hari
28 PP Bab 28 - Aku Tidak Bisa Melakukan Apa-apa
29 PP Bab 29 - Semua Orang Boleh Tertipu
30 PP Bab 30 - Setelah Jesselyn Ditemukan
31 PP Bab 31 - Putus Aluna
32 PP Bab 32 - Di Tangan Davion
33 PP Bab 33 - Rekaman
34 PP Bab 34 - Hai, Aku Clara
35 PP Bab 35 - Bersama Kami
36 PP Bab 36 - Pergilah
37 PP Bab 37 - Sumber Masalah
38 PP Bab 38 - Kamu Tidak Akan Pernah Mulai, Aluna
39 PP Bab 39 - Melepas Nama Myles
40 PP Bab 40 - Dav, Aku Ingin Kita Cerai
41 PP Bab 41 - Mommy Akan Mensyukuri Perceraian ku Dengan Aluna
42 PP Bab 42 - Jangan Bercanda
43 PP Bab 43 - Jesselyn Myles
44 PP Bab 44 - Hanya Aku Yang Boleh
45 PP Bab 45 - Sudah Atau Belum?
46 PP Bab 46 - Betapa Liciknya Wanita Itu
47 PP Bab 47 - Sangat Memalukan
48 PP Bab 48 - Aku Tidak Kenal
49 PP Bab 49 - Boneka Keluarga Myles
50 PP Bab 50 - Aku Sangat Sibuk
51 PP Bab 51 - Siapa Yang Datang?
52 PP Bab 52 - Aku Tidak Mengerti
53 PP Bab 53 - Membatalkan Perceraian Kita
54 PP Bab 54 - TIDAK
55 PP Bab 55 - Menu Spesial
56 PP Bab 56 - Sangat Paham Pria Itu
57 PP Bab 57 - Itu Tugasmu
58 PP Bab 58 - Kamu Harus Bisa
59 PP Bab 59 - Membuatnya Malu
60 PP Bab 60 - Buat Gaun Aluna Basah
61 PP Bab 61 - Aku Hanya Rindu
62 PP Bab 62 - Aku Harus Apa lagi?
63 PP Bab 63 - Tidak Bisakah
64 PP Bab 64 - Boleh Aku Menciummu?
65 PP Bab 65 - Aku Tidak Bisa Tidur
66 PP Bab 66 - Tak Pernah Sejajar
67 PP Bab 67 - Tidak Boleh
68 PP Bab 68 - Penjelasan Lain
69 PP Bab 69 - Tak Ada Ikatan Batin
70 PP Bab 70 - Hanya Penggantiku
71 PP Bab 71 - Tidak Sepenting Itu
72 PP Bab 72 - Bisakah Hubungan Kita Berubah?
73 PP Bab 73 - Berdiri Di Sana
74 PP Bab 74 - Membuatmu Tidak Takut Lagi Padaku
75 PP Bab 75 - Asing Dengan Sentuhan Lembbut Davion
76 PP Bab 76 - Jangan Ganggu Aluna
77 PP Bab 77 - Yang Mampu Merubah
78 PP Bab 78 - Selama Tiga Bulan
79 PP Bab 79 - Biar Aku Yang Buka Pintunya
80 PP Bab 80 - Sebelum Kamu Izinkan
81 PP Bab 81 - Boleh Aku Menciummu? (2)
82 PP Bab 82 - Boleh Aku Menciummu? (3)
83 PP Bab 83 - Pernah Tidur Bersama
84 PP Bab 84 - Aura Bad Boy
85 PP Bab 85 - Kosongkan Ruangan Direktur Utama
86 Seribu Dolar Untuk Semalam
87 PP Bab 86 - Pesan Bibi Emma
88 PP Bab 87 - Meyakinkan Diri Sendiri
89 PP Bab 88 - Menyesal Telah Menemukan mu
90 PP Bab 89 - Kusimpan Dulu Izinnya Untuk Nanti Malam
91 PP Bab 90 - Mencoba Menebus
92 PP Bab 91 - Mengikis Jarak
93 PP Bab 92 - Bagaimana Kabarmu, Al?
94 PP Bab 93 - Memilih Diriku Sendiri
95 PP Bab 94 - Lampu Merah
96 PP Bab 95 - Rahasia
97 PP Bab 96 - Ke Luar Negeri
98 PP Bab 97 - Mengakui Semua Kesalahannya
99 PP Bab 98 - Benang Merah
100 PP Bab 98 - Cara Yang Benar
101 PP Bab 100 - Aku Yang Salah
102 PP Bab 101 - Kamu Mau Apa?
103 PP Bab 102 - Patuh Tanpa Tekanan
104 PP Bab 103 - Haris Terdiam
105 PP Bab 104 - Malam Terakhir
106 PP Bab 105 - Kehilangan Sebagian Jiwanya
107 PP Bab 106 - Katakan
108 PP Bab 107 - Priaku
109 PP Bab 108 - Sangat Merindukanmu
110 PP Bab 109 - Maukah Kamu Menikah Denganku?
111 PP Bab 110 - Mau Kubuat Terasa Nyata?
112 PP Bab 111 - Astaga
113 PP Bab 112 - Tekad Jesselyn
114 PP Bab 113 - Adalah Aku
115 PP Bab 114 - Kenapa Malah Makin Tampan?
116 PP Bab 115 - Cup!
117 PP Bab 116 - Malam Perttama
118 PP Bab 117 - Rumah Sakit Medistra
119 PP Bab 118 - Menangislah
120 PP Bab 119 - Kamu Pulang Cepat, Ya
121 PP Bab 120 - Selamat Datang, Sayang
122 PP Bab 121 - Begitu Liarr
123 PP Bab 122 - Kamu Sudah Puas Belum?
124 PP Bab 123 - Aluna Meleleh
125 PP Bab 124 - Jangan Ragukan Kekuatanku
126 PP Bab 125 - Aluna Myles
127 Istri Idiot Sang Jenderal
Episodes

Updated 127 Episodes

1
PP Bab 1 - Putri Pengganti
2
PP Bab 2 - Patuhi Aku
3
PP Bab 3 - Calon Menantu Yang Sempurna
4
PP Bab 4 - Tak Sejalan
5
PP Bab 5 - Ditukar Dengan Sejumlah Uang
6
PP Bab 6 - Apa Dia Robot?
7
PP Bab 7 - Bohong
8
PP Bab 8 - Frustasi
9
PP Bab 9 - Apa Masih Bisa Diam
10
PP Bab 10 - Kamu Mau?
11
PP Bab 11 - Harapan
12
PP Bab 12 - Anjingku
13
PP Bab 13 - Pil KB Darurat
14
PP Bab 14 - Perintah Seseorang
15
PP Bab 15 - Siapa Dirimu Sebenarnya
16
PP Bab 16 - Lepas Bajuku
17
PP Bab 17 - Tak Perlu Sepatuh Itu
18
PP Bab 18 - Kering Dengan Sendirinya
19
PP Bab 19 - Bagaimana Jika Aku Tidak Bisa Hamil?
20
PP Bab 20 - Datang Dengan Misi Baru
21
PP Bab 21 - Setelah Semuanya Selesai
22
PP Bab 22 - Tawa Kecil
23
PP Bab 23 - Aku Bonekamu
24
PP Bab 24 - Sapa Dulu Adik Mu
25
PP Bab 25 - Bolehkah Aku Memelukmu?
26
PP Bab 26 - Lehernya, Pundaknya
27
PP Bab 27 - Jam 2 Dini Hari
28
PP Bab 28 - Aku Tidak Bisa Melakukan Apa-apa
29
PP Bab 29 - Semua Orang Boleh Tertipu
30
PP Bab 30 - Setelah Jesselyn Ditemukan
31
PP Bab 31 - Putus Aluna
32
PP Bab 32 - Di Tangan Davion
33
PP Bab 33 - Rekaman
34
PP Bab 34 - Hai, Aku Clara
35
PP Bab 35 - Bersama Kami
36
PP Bab 36 - Pergilah
37
PP Bab 37 - Sumber Masalah
38
PP Bab 38 - Kamu Tidak Akan Pernah Mulai, Aluna
39
PP Bab 39 - Melepas Nama Myles
40
PP Bab 40 - Dav, Aku Ingin Kita Cerai
41
PP Bab 41 - Mommy Akan Mensyukuri Perceraian ku Dengan Aluna
42
PP Bab 42 - Jangan Bercanda
43
PP Bab 43 - Jesselyn Myles
44
PP Bab 44 - Hanya Aku Yang Boleh
45
PP Bab 45 - Sudah Atau Belum?
46
PP Bab 46 - Betapa Liciknya Wanita Itu
47
PP Bab 47 - Sangat Memalukan
48
PP Bab 48 - Aku Tidak Kenal
49
PP Bab 49 - Boneka Keluarga Myles
50
PP Bab 50 - Aku Sangat Sibuk
51
PP Bab 51 - Siapa Yang Datang?
52
PP Bab 52 - Aku Tidak Mengerti
53
PP Bab 53 - Membatalkan Perceraian Kita
54
PP Bab 54 - TIDAK
55
PP Bab 55 - Menu Spesial
56
PP Bab 56 - Sangat Paham Pria Itu
57
PP Bab 57 - Itu Tugasmu
58
PP Bab 58 - Kamu Harus Bisa
59
PP Bab 59 - Membuatnya Malu
60
PP Bab 60 - Buat Gaun Aluna Basah
61
PP Bab 61 - Aku Hanya Rindu
62
PP Bab 62 - Aku Harus Apa lagi?
63
PP Bab 63 - Tidak Bisakah
64
PP Bab 64 - Boleh Aku Menciummu?
65
PP Bab 65 - Aku Tidak Bisa Tidur
66
PP Bab 66 - Tak Pernah Sejajar
67
PP Bab 67 - Tidak Boleh
68
PP Bab 68 - Penjelasan Lain
69
PP Bab 69 - Tak Ada Ikatan Batin
70
PP Bab 70 - Hanya Penggantiku
71
PP Bab 71 - Tidak Sepenting Itu
72
PP Bab 72 - Bisakah Hubungan Kita Berubah?
73
PP Bab 73 - Berdiri Di Sana
74
PP Bab 74 - Membuatmu Tidak Takut Lagi Padaku
75
PP Bab 75 - Asing Dengan Sentuhan Lembbut Davion
76
PP Bab 76 - Jangan Ganggu Aluna
77
PP Bab 77 - Yang Mampu Merubah
78
PP Bab 78 - Selama Tiga Bulan
79
PP Bab 79 - Biar Aku Yang Buka Pintunya
80
PP Bab 80 - Sebelum Kamu Izinkan
81
PP Bab 81 - Boleh Aku Menciummu? (2)
82
PP Bab 82 - Boleh Aku Menciummu? (3)
83
PP Bab 83 - Pernah Tidur Bersama
84
PP Bab 84 - Aura Bad Boy
85
PP Bab 85 - Kosongkan Ruangan Direktur Utama
86
Seribu Dolar Untuk Semalam
87
PP Bab 86 - Pesan Bibi Emma
88
PP Bab 87 - Meyakinkan Diri Sendiri
89
PP Bab 88 - Menyesal Telah Menemukan mu
90
PP Bab 89 - Kusimpan Dulu Izinnya Untuk Nanti Malam
91
PP Bab 90 - Mencoba Menebus
92
PP Bab 91 - Mengikis Jarak
93
PP Bab 92 - Bagaimana Kabarmu, Al?
94
PP Bab 93 - Memilih Diriku Sendiri
95
PP Bab 94 - Lampu Merah
96
PP Bab 95 - Rahasia
97
PP Bab 96 - Ke Luar Negeri
98
PP Bab 97 - Mengakui Semua Kesalahannya
99
PP Bab 98 - Benang Merah
100
PP Bab 98 - Cara Yang Benar
101
PP Bab 100 - Aku Yang Salah
102
PP Bab 101 - Kamu Mau Apa?
103
PP Bab 102 - Patuh Tanpa Tekanan
104
PP Bab 103 - Haris Terdiam
105
PP Bab 104 - Malam Terakhir
106
PP Bab 105 - Kehilangan Sebagian Jiwanya
107
PP Bab 106 - Katakan
108
PP Bab 107 - Priaku
109
PP Bab 108 - Sangat Merindukanmu
110
PP Bab 109 - Maukah Kamu Menikah Denganku?
111
PP Bab 110 - Mau Kubuat Terasa Nyata?
112
PP Bab 111 - Astaga
113
PP Bab 112 - Tekad Jesselyn
114
PP Bab 113 - Adalah Aku
115
PP Bab 114 - Kenapa Malah Makin Tampan?
116
PP Bab 115 - Cup!
117
PP Bab 116 - Malam Perttama
118
PP Bab 117 - Rumah Sakit Medistra
119
PP Bab 118 - Menangislah
120
PP Bab 119 - Kamu Pulang Cepat, Ya
121
PP Bab 120 - Selamat Datang, Sayang
122
PP Bab 121 - Begitu Liarr
123
PP Bab 122 - Kamu Sudah Puas Belum?
124
PP Bab 123 - Aluna Meleleh
125
PP Bab 124 - Jangan Ragukan Kekuatanku
126
PP Bab 125 - Aluna Myles
127
Istri Idiot Sang Jenderal

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!