Senang di atas Derita 02

"Kok kamu ke sini, Mas? Apa Arimbi nggak nanyain kepergian kamu?"

"Dia udah tahu, nggak tahu gimana caranya dia tahu. Tapi dia udah tahu semuanya."

Apa?

Seorang wanita dengan pakaian tidur tipis itu awalnya hanya merasa heran, kenapa pria yang tak pernah datang saat malam di hari biasa tiba-tiba muncul. Namun ketika mendengar ucapan pria tersebut, sang wanita kini nampak benar-benar terkejut.

Bukan hanya terkejut tapi wajahnya kini menunjukkan raut penuh tanya. Pertanyaan yang sudah sangat jelaa hingga Amar pun bisa menjawabnya tanpa harus terucap dari bibir.

"Seperti yang aku bilang tadi, dia udah tahu. Tapi aku juga nggak tahu kenapa dia bisa tahu. Pas aku balik tadi, dia langsung ngomong tentang aku dan kamu. Farrah, apa mungkin kamu ngespill tentang kita?"

Farrah Ratnawati, wanita berusia 32 tahun itu menggelengkan kepalanya dengan cepat ketika mendengar pertanyaan Amar. Dia memang suka membuat konten di akun media sosialnya, akan tetapi ia sama sekali tidak pernah menunjukkan tentang hubungannya dengan Amar.

Tiga tahun mereka menjalani rumah tangga secara sembunyi-sembunyi, dan selama tiga tahun itu juga Farrah tak pernah mengungkapkan tentang hubungan pernikahannya dengan Amar.

Memang ia sering membagikan momen ketika mereka bersama, entah saat liburan, babymoon, dan juga kelahiran putri mereka, namun Farrah sama sekali tidak pernah memperlihatkan sosok Amar meski itu hany sekedar bagian tangan, kaki atau bagian lainnya.

Banyak sekali pengikut Farrah yang bertanya-tanya tentang sosok suami Farrah, namun wanita itu tak pernah menjelaskan. Ia bahkan hanya membuat keterangan dengan kata-kata yang membangun atau kata-kata yang bersifat religius. Terlebih di media sosial, sosok Farrah terkenal sebagai sosok yang alim karena pakaian yang dikenakan longgar dan jilbab pun besar.

"Aku beneran nggak pernah nunjukin apapun, Mas."

"Ya udah kalau gitu. Ayo tidur, aku ngantuk dan capek banget sayang."

Amar meraih pinggang Farrah dan menuntunnya ke kamar. Di dalam kamar, ada sebuah box bayi yang mana terdapat anak mereka berdua.

Amar melakukan ciuman lembut di kening sang putri dan membisikkan kata sayang serta cinta. Tatapan pria itu begitu lembut, terlihat sekali bahwa ia sangat mencintai putrinya.

"Anak kita itu, Mas," ucap Farrah sambil memeluk pinggang Amar dari samping.

"Iya, itu anak kita. Hasil cinta aku dan kamu. Makasih sayang karena udah ngasih aku putri yang begitu cantiknya," balas Amar.

Tatapan yang berbinar dan penuh cinta. Amar terlihat sekali sangat mencintai Farrah dan Afira, nama anak mereka. Berbeda dengan tatapan yang ia layangkan terhadap istri sahnya, Arimbi.

Ketika menatap Arimbi, mata Amar hanya dingin dan tak acuh. Seolah Arimbi hanyalah orang asing yang hidup di sisinya.

Malam penuh cinta. Amar tidak peduli sama sekali dengan rasa sakit yang ia berikan terhadap istrinya. Saat ini, dia tengah meneguk kenikmatan bersama istri rahasianya. Suara desahann dua insan yang dimabuk asmara itu mengabaikan seorang manusia yang saat ini tengah mereka zalim.

Bahkan saat ini wanita itu tengah berkutat dengan pekerjaannya. Ya disaat suaminya tengah bergelung nikmat dengan wanita lain, ia saat ini sedang pusing dengan pekerjaan yang ternyata begitu banyaknya.

"Kenapa ini bisa banyak banget yang delay pengirimannya? Kalian bisa kerja nggak sih, hah!" Pekik Arimbi. Ia tak pernah bicara seperti ini sebelumnya. Tapi kali ini kontrol emosinya lepas sehingga ia bicara demikian.

"A-anu, itu Bu. Siolnya uang jalan yang seharusnya sudah turun belum turun juga. Jadi supir juga tidak bisa segera berangkat," jawab penanggungjawab gudang yang bernama Surya.

"Kok bisa?"

Mata Arimbi memicing, keningnya berkerut dan nafasnya memburu. Amarah benar-benar menguasai seluruh hati dan pikirannya. Bak gunung berapi, lahar itu sudah ingin meluap. Namun Arimbi masih bisa menahannya sedikit lagi.

Ia langsung menghubungi pihak keuangan untuk menanyakan tentang hal tersebut. Orang yang dihubungi Arimbi nampaknya menjawab dengan sedikit ragu membuatnya berpikir bahwa ada sesuatu yang tidak beres.

"Segera kirimkan biaya operasionalnya."

"T-tapi, Bu."

"SEKARANG!!!"

Degh!

Semua yang ada di gudang terkejut mendengar teriakan Arimbi. Dan tentu saja orang yang tengah ditelpon nya juga terkejut. Mereka tak pernah tahu sekaligus tidak menyangka bahwa wanita yang begitu lembut dan tenang itu bisa berteriak seperti ini.

"B-baik, Bu."

"Bagus, besok temui aku di kantor."

"Baik."

Arimbi mengambil nafasnya dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Dia tidak pernah menyangka ada masalah seperti ini di lapangan. Sebagai Direktur Utama, Arimbi seharusnya menerima semua laporan. Tapi mungkin ada laporan yang dikecualikan untuknya. Atau kemungkinan lain ada yang hendak 'bermain' dengannya.

"A-apa Ibu akan ada di sini?" tanya Surya dengan hati-hati. Meski tidak diucapkan, ia jelas bisa melihat bahwa saat ini suasana hati atasannya itu sedang sangat buruk.

"Ya aku akan ada di sini sampai semua barang di gudang ini bersih. Lakukan pekerjaanmu, abaikan saja aku," jawab Arimbi sambil melenggang menuju ke sebuah kursi kosong yang berada tepat di depan sebuah depan kantor kecil tempat dimana Surya mengurus segala administrasi gudang.

Surya hanya bisa pasrah, dia tak berani menginterupsi Arimbi. Wanita yang merupakan istri dari bos utama sekaligus juga pemilik dari FAE ini merupakan orang penting kedua di perusahaan. Semua tahu bahwa Arimbi memiliki kekuasaan yang absolut juga di dalam FAE.

Surya pun memilih untuk kembali bekerja. Dia mulai mengirim supir-supir ekspedisi ke lokasi masing-masing yang telah ditentukan. Namun selama bekerja, pandangan perhatian dan tatapan mata pria itu sesekali terarah kepada Arimbi. Ada sesuatu yang menurutnya janggal dari sang majikan.

"Bu Arimbi kok kayak lain ya?" gumamnya lirih. Sering bertemu meski hanya sekedar urusan pekerjaan, Surya cukup mengetahui sikap dan perangai Arimbi. Terlebih dia bekerja di FAE juga sudah empat tahun lamanya. Sehingga Surya sedikit banyak tahu tentang Arimbi.

Menurutnya Arimbi bukan orang yang gemar melamun seperti ini, ya sedar tadi dia melihat wanita itu memiliki pandangan yang kosong. Dan juga, Surya juga bisa melihat mata sang atasan yang sembab.

Bukan hal yang luar biasa untuk mengetahui apakah seseorang baru saja menangis atau tidak. Surya yang memang selalu fokus dengan lawan bicara bisa melihat dengan jelas bahwa Arimbi baru saja menangis. Wajah yang tampak kusut, mata yang sembab dan jujur penampilan Arimbi kali ini sungguh sangat berantakan.

"Ada apa sebenarnya? Aku nggak pernah lihat Ibu kayak gitu. Meski buru-buru buat ngelihat pekerjaan, Bu Arimbi pasti akan mengenakan pakaian yang rapi. Tapi kali ini dia pakai bajunya kayak asal. Dan bukannya itu piyama?"

Karena ketegangan pembicaraan tadi, Surya tidak terlalu memerhatikan pakaian yang dikenakan Arimbi. Baru setelah ketegangan berakhir, sekarang dia sadar bahwa Arimbi datang ke gudang hanya mengenakan setelan piyama dan jilbab instan saja.

TBC

Terpopuler

Comments

Tamirah

Tamirah

Kok para penulis novel membuat cerita selalu ujung ujung nya perselingkuhan dibandingkan cerita cerita lain.Apa ceritanya gak seru kalau gak mengangkat kehidupan yg berbau selingkuh.... wesss angelllll Thor..!

2026-07-08

0

Dibalik Senja

Dibalik Senja

Amarah tdk akan menyelasaikan masalah arimbi km harus fokus dan kuat jngn tunjukkan kesedihanmu dan kerapuhanmu kpd mantan suami dan pelakor itu...harus bermain cantik jngn mau diinjak2 oleh laki2 laknat itu

2026-04-08

2

dewi rofiqoh

dewi rofiqoh

Dikala istri menemani, mendukung, membantu untuk kehidupan yang lebih baik. Namun dikala jaya, istri dilupakan dan mencari yang lain. Pengen dibejek laki-laki kayak gitu

2026-04-09

0

lihat semua
Episodes
1 Tega! 01
2 Senang di atas Derita 02
3 Tak Tahu Diri 03
4 Ancaman 04
5 Nggak Penting 05
6 Dua Handphone 06
7 Sholihah Hanya Kedok 07
8 Sama Aja 08
9 Jangan Menyentuhku 09
10 Kapan Cerai? 10
11 Curiga 11
12 Sumpah, Ndak Bohong 12
13 Tega Volume Dua 13
14 Tuduhan 14
15 Kulakukan Sesuai Tuduhanmu 15
16 Hajar!!! 16
17 Nasib Kurang Baik & Ramai 17
18 Grebek 18
19 Serbuan 19
20 Ngeri 20
21 Kenalkan 21
22 Persiapan Cerai 22
23 Down Grade 23
24 Kejutan Mengejutkan 24
25 Kejut Lagi 25
26 Berita 26
27 Melayat 27
28 Mau Apa? 28
29 Sulit 29
30 Sesama Korban 30
31 Ditolak 31
32 Tidak Sadar 32
33 Ketuk Palu 33
34 Sampah ... Dibuang Lah 34
35 Lah Kesel? 35
36 Hadiah 36
37 Sakit? 37
38 Pokoknya 38
39 PD Banget 39
40 Kepo 40
41 Siapa Kamu? 41
42 Ngacir 42
43 Nggak Tahu Diri 43
44 Balikin!! 44
45 Kamu Gila! 45
46 Tamu Tak Diundang 46
47 Nggak Mungkin 47
48 Nggak Percaya 48
49 Jangan Ngarep 49
50 Yakin?
51 Biang Kerok 51
52 Lebih Segalanya 52
53 Luluh 53
54 Kenapa? 54
55 Ide Gila 55
56 Sombong Dong 56
57 Shik Shak Shok 57
58 Permainan 'sayang' 58
59 Orang Ini ... 59
60 Tak Setebal Kertas Buram 60
61 Aku Nggak Mau! 61
62 Ready, Yank? 62
63 Coba Bayangin 63
64 Tunggu Aja 64
65 Adu Mulut? 65
66 Brondong Itu Mau Apa? 66
67 Gadis atau Janda 67
68 Nanti Malam 68
69 Sah Agama dan Negara 69
70 Jebakan Jodoh 70
71 Rencana Bhumi 71
72 Ohoooo 72
73 Jatuh Sejatuhnya 73
74 Obsesi 74
75 Takut 75
76 Pindah 76
77 Ini Nggak Guna 77
78 Peristiwa 78
79 Tidak Terduga 79
80 Jelaskan Di Kantor 80
81 Kenapa Begini? 81
82 Sengsara Bersama 82
83 Dua Ribu Dua Puluh Enam Dollar 83
84 Kalian Kan Hepi 84
85 Cuma Meluk 85
86 Tidak Tertolong 86
87 Rahasia Tuhan 87
88 Udah Cinta? 88
89 Bhimara 89
90 Side Story (SS) 01
91 Side Story 02
92 Side Story 03
93 Side Story 04
94 Side Story 05
95 Side Story 06
Episodes

Updated 95 Episodes

1
Tega! 01
2
Senang di atas Derita 02
3
Tak Tahu Diri 03
4
Ancaman 04
5
Nggak Penting 05
6
Dua Handphone 06
7
Sholihah Hanya Kedok 07
8
Sama Aja 08
9
Jangan Menyentuhku 09
10
Kapan Cerai? 10
11
Curiga 11
12
Sumpah, Ndak Bohong 12
13
Tega Volume Dua 13
14
Tuduhan 14
15
Kulakukan Sesuai Tuduhanmu 15
16
Hajar!!! 16
17
Nasib Kurang Baik & Ramai 17
18
Grebek 18
19
Serbuan 19
20
Ngeri 20
21
Kenalkan 21
22
Persiapan Cerai 22
23
Down Grade 23
24
Kejutan Mengejutkan 24
25
Kejut Lagi 25
26
Berita 26
27
Melayat 27
28
Mau Apa? 28
29
Sulit 29
30
Sesama Korban 30
31
Ditolak 31
32
Tidak Sadar 32
33
Ketuk Palu 33
34
Sampah ... Dibuang Lah 34
35
Lah Kesel? 35
36
Hadiah 36
37
Sakit? 37
38
Pokoknya 38
39
PD Banget 39
40
Kepo 40
41
Siapa Kamu? 41
42
Ngacir 42
43
Nggak Tahu Diri 43
44
Balikin!! 44
45
Kamu Gila! 45
46
Tamu Tak Diundang 46
47
Nggak Mungkin 47
48
Nggak Percaya 48
49
Jangan Ngarep 49
50
Yakin?
51
Biang Kerok 51
52
Lebih Segalanya 52
53
Luluh 53
54
Kenapa? 54
55
Ide Gila 55
56
Sombong Dong 56
57
Shik Shak Shok 57
58
Permainan 'sayang' 58
59
Orang Ini ... 59
60
Tak Setebal Kertas Buram 60
61
Aku Nggak Mau! 61
62
Ready, Yank? 62
63
Coba Bayangin 63
64
Tunggu Aja 64
65
Adu Mulut? 65
66
Brondong Itu Mau Apa? 66
67
Gadis atau Janda 67
68
Nanti Malam 68
69
Sah Agama dan Negara 69
70
Jebakan Jodoh 70
71
Rencana Bhumi 71
72
Ohoooo 72
73
Jatuh Sejatuhnya 73
74
Obsesi 74
75
Takut 75
76
Pindah 76
77
Ini Nggak Guna 77
78
Peristiwa 78
79
Tidak Terduga 79
80
Jelaskan Di Kantor 80
81
Kenapa Begini? 81
82
Sengsara Bersama 82
83
Dua Ribu Dua Puluh Enam Dollar 83
84
Kalian Kan Hepi 84
85
Cuma Meluk 85
86
Tidak Tertolong 86
87
Rahasia Tuhan 87
88
Udah Cinta? 88
89
Bhimara 89
90
Side Story (SS) 01
91
Side Story 02
92
Side Story 03
93
Side Story 04
94
Side Story 05
95
Side Story 06

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!