Nggak Penting 05

"Ugh kemana ya enaknya. Ke Korea, Jepang, atau London. Ah aku beneran nggak sabar buat pergi."

Amara nampak sangat bersemangat ketika tengah memilih kemana tempat yang akan ia habiskan untuk berlibur bersama anak dan suaminya. Dia selalu merasa sangat senang setiap kali waktunya untuk pergi melancong. Bahkan sudah dari beberapa hari kemarin dirinya sibuk memilih dan menghubungi agen perjalanan.

Namun itu semua sebelum sang kakak mengatakan sesuatu yang membuatnya terperangah tidak percaya.

Amar yang merupakan kakak satu-satunya tiba-tiba datang keruangan nya dan berkata bahwa dirinya dipecat.

"Apa dipecat, jangan ngelawak deh kamu Mas,"ucap Amara tidak percaya. Meskipun terkejut dia masih berpikir positif yakni sang kakak saat ini bicara demikian hanya sekedar bercanda saja.

"Aku nggak ada ngelawak ya, Mara. Pokoknya sekarang cepet kamu pergi dari FAE. Bawa semua barang-barangmu itu. Panggil Tasya, dan serahkan semua kerjaan mu ke dia. Lagian selama ini emang Tasya kan yang ngerjain pekerjaanmu,"jawab Amar tegas. Perkataan Arimbi terus terngiang di kepalanya soal ia yang akan menjebloskan Amara ke penjara jika tidak segera di keluarkan dari perusahaan ini.

Amar tentu lebih memilih memecat Amara. Dia tidak mau nama baiknya tercoreng dengan kesalahan yang Amara buat.

"Kenapa, kenapa aku harus dipecat? Nggak bisa, aku nggak bisa terima ini. Siapa yang menyuruh Mas Amar buat mecat aku. Oh pasti wanita itu kan? Sialan, aku akan nemuin dia. Berani-beraninya dia mecat aku kayak gini."

Amara terlihat marah. Pikirannya langsung tertuju kepada Arimbi. Dia yakin bahwa kakak iparnya itu yang melakukannya.

Selama ini hubungan mereka memang kurang baik. Namun Amara sama sekali tidak menyangka bahwa Arimbi akan melakukan ini terhadapnya.

Sreeet

Amara mendorong kursinya, ia beranjak dari sana dan melenggang meninggalkan ruangannya. Namun tangan Amara ditarik oleh Amar sehingga membuat langkah wanita tersebut terhenti.

"Jangan halangi aku,"ucap Amara dengan mata yang melotot.

"Mau apa kamu, protes ke Arimbi? Ya sana lakuin aja, tapi aku yakin kamu bakalan di masukkan ke penjara sama dia. Asal kamu tahu Amara, Arimbi sudah mengantongi semua bukti kesalahan yang kamu lakukan. Kamu, kamu mengambil uang perusahaan kan? Dia udah tahu. Dan kamu pikir buat apa aku datang kemari hah!

Degh!

Perkataan Amar membuat Amara sangat terkejut. Dia yang tadi sudah sangat menggebu-gebu akan melabrak sang kakak ipar, akhirnya hanya diam lalu terdiam membeku.

"Haah, udah paham kan sejauh ini. Sekarang silakan pilih aja. Kamu mau ngelabrak Arimbi dengan berakhir masuk penjara, atau keluar dari FAE sekarang juga tapi aman."

Amara tak bisa menjawab pilihan yang diberikan oleh kakak lelakinya tersebut. Bagaimanapun berat rasanya meninggalkan FAE. Gaji yang diterimanya di sini cukup besar. Dengan berada di sini, ia bisa memiliki banyak hal yang diinginkan dimana sebelumnya sulit untuk dia miliki.

Suami Amara yang merupakan seorang perawat, tentu tak mampu memenuhi banyak permintaan Amara. Sehingga bekerja di FAE merupakan jalan keluar dari masalahnya.

Akan tetapi rasa tidak puas yang membelenggu diri Amara terhadap apa yang didapatkannya membawanya terjerumus ke jurang kesalahan.

"Dah nggak usah bengong, cepet beresin semua barangmu dan pulang. Kan bagus kamu bisa dirumah buat ngerawat anakmu."

"Tunggu!!"

Suara itu bukan milik Amara, melainkan milik Arimbi. Arimbi datang ke ruangan Amara masih dengan penampilan seperti tadi. Hal tersebut membuat Amara menatap Arimbi dengan kening berkerut.

"Cih, dasar nggak tahu sopan. Masa ke perusahaan dengan pakaian kayak gini. Lihat aja dia, kucel kayak gitu. Gimana nggak Mas Amar punya selingkuhan coba?"

Perkataan itu diucapkan Amara hanya di dalam hati. Dia tidak mungkin benar-benar mengucapkan perkataan tersebut di bibirnya.

"Enak aja main pergi aja. Nih baca, semua uang yang udah kamu ambil kembalikan cepat. Aku tahu semuanya udah dalam wujud barang, jadi sebelum kamu sepenuhnya keluar dari sini, maka kembalikan semuanya. Mobil, iphone, perhiasan, semua barang yang kamu beli menggunakan uang perusahaan segera kembalikan. Aku kasih waktu 1X24 jam. Kalau semua barang itu belum ada di sini, maka siap-siap aja kantor polisi memanggil mu. Inget Amara, aku masih baik mengingat kita pernah jadi ipar meski kau selalu benci aku. Tapi aku nggak akan baik dua kali, jadi lakukan semuanya dengan cepat."

Grttttt

Gigi Amara bergemelutuk karena terlalu marah terhadap semua yang dikatakan oleh Arimbi. Akan tetapi dia tidak bisa membalas ucapan Arimbi barang sepatah kata pun.

Alhasil Amara hanya diam sambil menatap kepergian Arimbi. Sorot matanya yang tajam yang mengarah ke Arimbi penuh denga kebencian.

Sedari dulu Amara tidak suka dengan Arimbi. Bisa dibilang dia tidak setuju Amar menikah dengan Arimbi. Sehingga hubungan mereka pun sama sekali tidak dekat.

Terlebih sudah tujuh tahun lamanya Amar dan Arimbi menikah namun belum juga memiliki anak. Itu seolah menjadi senjata Amara untuk mencibir Arimbi.

Tapi sekarang, Amara tidak bisa berkutik di depan Arimbi. Dia bak seekor tikus yang tertangkap oleh kucing galak.

"Mas tolong aku. Aku nggak mau dipenjara tapi aku juga nggak bisa balikin semua barang itu. Nanti kalau temen-temenku pada nanya gimana. Bantu aku, Mas,"rengek Amara kepada Amar.

"Cih, bukan urusan aku. Kamu yang berbuat jadi seharunya kamu juga bisa bertanggung jawab. Balikin barang ya tinggal balikin kok. Udah bagus itu Arimbi nggak ngelaporin kamu ke polisi. Inget ya Amara, kamu udah berkeluarga. Umurmu udah 27 tahun, jadi kamu udah sangat dewasa dalam mengambil sebuah keputusan."

Setelah bicara demikian, Amar meninggalkan ruangan sang adik. Baginya itu sudah bukan urusannya. Saat ini yang terpenting dia sudah menyampaikan keinginan Arimbi untuk memecat Amara.

Awalanya Amar memang merasa keberatan namun mengingat apa yang diambil oleh adiknya itu tidak sedikit, maka pilihan untuk memecat Amara adalah sebuah pilihan yang tepat.

Arghhhh

Amara berteriak, dia meluapkan rasa marahnya. Namun semua ungkapan marah itu tentu tidak berarti apa-apa, karena dia harus segera melakukan tindakan pengembalian barang ke perusahaan atas uang yang diambilnya.

Lalu Amar, dia yang meninggalkan ruangan sang adik bukannya kembali ke ruangannya sendiri melainkan menuju ke ruangan Arimbi. Di dalam sana, Arimbi tengah bersama Surya (kepala gudang) dan Tasya ( staf keuangan yang ternyata sekretaris Amara) lalu Dina yang merupakan staf HRD. Nampaknya Arimbi tengah melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap perusahaannya tersebut.

"Aku mau bicara sama kamu," ucap Amar yang saat ini masih berdiri diambang pintu.

"Kalau nggak penting, nanti aja. Urusanku masih banyak. Dimana semua ini adalah ketidakbecusan mu sebagai Vice president FAE. Entah apa yang kamu lakuin selama ini sampai-sampai semua yang ada di dalam berantakan kayak gini. Tugas ku dan tugasmu sangat jelas, tapi kayaknya kamu sama sekali nggak ngelakuin bagianmu. Aaah aku tahu, kamu sibuk sama~"

"ARIMBI!!"

TBC

Terpopuler

Comments

Lela Angraini

Lela Angraini

baguuss arimbi,,lanjutkan. tak dukung sikapmu yg tegas itu,,jgn mau di sakitin lagi. balas semua rasa sakitmu dgn tindakan nyata biar mereka semua menyesal tlah menyiakan,meremehkan dn jga merendahkanmu. huufftt sampe greget aku nulis ini,,penuh penjiwaan aku 🤣🤣

2026-04-10

5

Shee_👚

Shee_👚

bagus rimbi, kasih paham orang serakah kaya begitu.
sekarang tinggal depak amar dari hidup kamu.cari laki-laki yang jauh lebih mapan dan tampan dari ba jingan tengik itu

2026-04-13

0

Mardiana

Mardiana

perempuan tetap yg kerja keras lelah dan tersakiti.... Arimbi perempuan kuat jatuhkan dan hempaskan laki laki model amar 😔

2026-04-10

1

lihat semua
Episodes
1 Tega! 01
2 Senang di atas Derita 02
3 Tak Tahu Diri 03
4 Ancaman 04
5 Nggak Penting 05
6 Dua Handphone 06
7 Sholihah Hanya Kedok 07
8 Sama Aja 08
9 Jangan Menyentuhku 09
10 Kapan Cerai? 10
11 Curiga 11
12 Sumpah, Ndak Bohong 12
13 Tega Volume Dua 13
14 Tuduhan 14
15 Kulakukan Sesuai Tuduhanmu 15
16 Hajar!!! 16
17 Nasib Kurang Baik & Ramai 17
18 Grebek 18
19 Serbuan 19
20 Ngeri 20
21 Kenalkan 21
22 Persiapan Cerai 22
23 Down Grade 23
24 Kejutan Mengejutkan 24
25 Kejut Lagi 25
26 Berita 26
27 Melayat 27
28 Mau Apa? 28
29 Sulit 29
30 Sesama Korban 30
31 Ditolak 31
32 Tidak Sadar 32
33 Ketuk Palu 33
34 Sampah ... Dibuang Lah 34
35 Lah Kesel? 35
36 Hadiah 36
37 Sakit? 37
38 Pokoknya 38
39 PD Banget 39
40 Kepo 40
41 Siapa Kamu? 41
42 Ngacir 42
43 Nggak Tahu Diri 43
44 Balikin!! 44
45 Kamu Gila! 45
46 Tamu Tak Diundang 46
47 Nggak Mungkin 47
48 Nggak Percaya 48
49 Jangan Ngarep 49
50 Yakin?
51 Biang Kerok 51
52 Lebih Segalanya 52
53 Luluh 53
54 Kenapa? 54
55 Ide Gila 55
56 Sombong Dong 56
57 Shik Shak Shok 57
58 Permainan 'sayang' 58
59 Orang Ini ... 59
60 Tak Setebal Kertas Buram 60
61 Aku Nggak Mau! 61
62 Ready, Yank? 62
63 Coba Bayangin 63
64 Tunggu Aja 64
65 Adu Mulut? 65
66 Brondong Itu Mau Apa? 66
67 Gadis atau Janda 67
68 Nanti Malam 68
69 Sah Agama dan Negara 69
70 Jebakan Jodoh 70
71 Rencana Bhumi 71
72 Ohoooo 72
73 Jatuh Sejatuhnya 73
74 Obsesi 74
75 Takut 75
76 Pindah 76
77 Ini Nggak Guna 77
78 Peristiwa 78
79 Tidak Terduga 79
80 Jelaskan Di Kantor 80
81 Kenapa Begini? 81
82 Sengsara Bersama 82
83 Dua Ribu Dua Puluh Enam Dollar 83
84 Kalian Kan Hepi 84
85 Cuma Meluk 85
86 Tidak Tertolong 86
87 Rahasia Tuhan 87
88 Udah Cinta? 88
89 Bhimara 89
90 Side Story (SS) 01
91 Side Story 02
92 Side Story 03
93 Side Story 04
94 Side Story 05
95 Side Story 06
Episodes

Updated 95 Episodes

1
Tega! 01
2
Senang di atas Derita 02
3
Tak Tahu Diri 03
4
Ancaman 04
5
Nggak Penting 05
6
Dua Handphone 06
7
Sholihah Hanya Kedok 07
8
Sama Aja 08
9
Jangan Menyentuhku 09
10
Kapan Cerai? 10
11
Curiga 11
12
Sumpah, Ndak Bohong 12
13
Tega Volume Dua 13
14
Tuduhan 14
15
Kulakukan Sesuai Tuduhanmu 15
16
Hajar!!! 16
17
Nasib Kurang Baik & Ramai 17
18
Grebek 18
19
Serbuan 19
20
Ngeri 20
21
Kenalkan 21
22
Persiapan Cerai 22
23
Down Grade 23
24
Kejutan Mengejutkan 24
25
Kejut Lagi 25
26
Berita 26
27
Melayat 27
28
Mau Apa? 28
29
Sulit 29
30
Sesama Korban 30
31
Ditolak 31
32
Tidak Sadar 32
33
Ketuk Palu 33
34
Sampah ... Dibuang Lah 34
35
Lah Kesel? 35
36
Hadiah 36
37
Sakit? 37
38
Pokoknya 38
39
PD Banget 39
40
Kepo 40
41
Siapa Kamu? 41
42
Ngacir 42
43
Nggak Tahu Diri 43
44
Balikin!! 44
45
Kamu Gila! 45
46
Tamu Tak Diundang 46
47
Nggak Mungkin 47
48
Nggak Percaya 48
49
Jangan Ngarep 49
50
Yakin?
51
Biang Kerok 51
52
Lebih Segalanya 52
53
Luluh 53
54
Kenapa? 54
55
Ide Gila 55
56
Sombong Dong 56
57
Shik Shak Shok 57
58
Permainan 'sayang' 58
59
Orang Ini ... 59
60
Tak Setebal Kertas Buram 60
61
Aku Nggak Mau! 61
62
Ready, Yank? 62
63
Coba Bayangin 63
64
Tunggu Aja 64
65
Adu Mulut? 65
66
Brondong Itu Mau Apa? 66
67
Gadis atau Janda 67
68
Nanti Malam 68
69
Sah Agama dan Negara 69
70
Jebakan Jodoh 70
71
Rencana Bhumi 71
72
Ohoooo 72
73
Jatuh Sejatuhnya 73
74
Obsesi 74
75
Takut 75
76
Pindah 76
77
Ini Nggak Guna 77
78
Peristiwa 78
79
Tidak Terduga 79
80
Jelaskan Di Kantor 80
81
Kenapa Begini? 81
82
Sengsara Bersama 82
83
Dua Ribu Dua Puluh Enam Dollar 83
84
Kalian Kan Hepi 84
85
Cuma Meluk 85
86
Tidak Tertolong 86
87
Rahasia Tuhan 87
88
Udah Cinta? 88
89
Bhimara 89
90
Side Story (SS) 01
91
Side Story 02
92
Side Story 03
93
Side Story 04
94
Side Story 05
95
Side Story 06

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!