Ancaman 04

"Sebenarnya apa yang kamu lakuin, Arimbi? Dan apa-apaan baju kamu ini hah!"

Amar memekik dengan keras ketika sampai di ruangannya. Dia melihat Arimbi yang mengobrak-abrik file-file fisik di kantornya. Selain itu, Arimbi yang berdiri di dengan banyak kertas itu masih mengenakan pakaian semalam ketika dia meninggalkan rumah.

Pakaian yang dikenakan Arimbi adalah setelan piyama panjang berwana navy dan jilbab instan berwarna hitam. Wajah Arimbi juga terlihat pucat karena sama sekali tidak mengenakan riasan.

Amar benar-benar tak habis pikir dengan wanita yang berdiri di ruangannya itu. Bagaimana bisa dia berpenampilan seperti sekarang ini di kantor.

"Kenapa, masalah. Ah maaf ya, aku mah emang nggak sempet mandi. Boro-boro mandi, urusan pekerjaan dari semalem aja nggak kelar-kelar. Beda banget ya sama pak si-i-o yang udah seger. Pasti semalem abis asik-asikan ya sama gundik, sampai-samapi nggak peduli dengan apa yang terjadi di perusahaan. Dan paling menjijikan juga kejam, kamu bahkan nggak peduli sama sekali dengan perasaan aku. Ah iya buat apa peduli ya, kan matamu penuh nafsu menjijikkan sama wanita jalangg itu. Terlebih udah nikah, belum nikah aja berani cek-in di hotel."

Duaaaaar

Amar sangat terkejut dengan apa yang dikatakan oleh istrinya. Kata-kata itu, sungguh mengguncangkan hati dan pikirannya.

Sedangkan Arimbi, ia menyunggingkan bibirnya membentuk sebuah seringai. Seringai yang penuh makna. Arimbi juga merasa sangat puas dengan ekspresi wajah pucat yang tergambar di wajah Amar saat ini.

"Kenapa, kaget ya? haaah, sekarang mending segera urus perceraian kita. Dari pada aku yang ngajuin, semua aib mu bakalan kebongkar. Aku peringatin ya, hati-hati dalam memilih masalah untuk pengajuan perceraian. Kalau kamu sampai bikin permasalah baru yang sama sekali nggak aku lakuin, aku bakalan nguliti sifat bejat mu dan gundikmu itu sampai habis. Nah sekarang, pecat adikmu dari perusahaan ini. SEKARANG!!!"

Mata Amar membulat sempurna mendengar setiap kata yang terucap pada bibir istrinya tersebut. Semuanya, tanpa terkecuali dan yang paling membuatnya terkejut adalah tentang pemecatan adik kandungnya.

Amara Subagyo wanita berusia 27 yang disebut oleh Arimbi sebagai adik Amar adalah benar adik kandung Amar. Amara menduduki jabatan sebagai kepala bagian keuangan di FAE.

Baru saja, Arimbi meminta Amar untuk memecat adiknya. Itu sungguh tidak bisa dimengerti dan diterima oleh Amar. Bagaimana bisa dia memecat sang adik begitu saja. Terlebih Amara sudah bekerja bersama mereka selama tiga tahun.

"Kamu gila ya, Rimbi. Gimana bisa kamu nyuruh aku mecat Amara. Dia kan adikku, yang bener aja!" sahut Amar. Rahangnya mengeras merasakan kemarahan terhadap istrinya.

Slaap!

Arimbi melempar sebuah tumpukan kertas yang di dalamnya terdapat beberapa file dokumen. Sedari malam dia berada di FAE tentu saja banyak hal yang dilakukannya, terutama memeriksa tentang keuangan FAE yang dikepalai oleh adik iparnya.

Salah satu staf yang semalam dihubungi oleh Arimbi, dengan kesadaran diri bergegas datang menemui menemuinya. Disaat itulah Arimbi memeriksa semua. Banyak hal yang ditemukan sehingga tibalah kata-kata Arimbi kepada Amar untuk memecat Amara.

"Apa ini?"

"Lihat aja sendiri."

Arimbi melipat kedua tangannya di depan dada sambil melihat Amar yang membaca satu demi satu tumpukan kertas yang tadi dia lemparkan di atas meja.

Wanita itu menyeringai, ketika melihat pria yang sebentar lagi akan jadi mantan suaminya itu membuat ekspresi terkejut pada wajahnya.

Terang saja Amar terkejut, ia membaca banyak hal yang salah dalam laporan berwujud tulisan itu. Laporan yang menjelaskan bahwa banyak sekali aliran dana perusahaan yang masuk dalam rekening pribadi seorang Amara Subagyo.

"G-gimana ini bisa terjadi?"

"Halah nggak usah sok pura-pura kaget. Kamu pasti udah tahu kan? Dan kamu ngebiarin adikmu ngelakuin itu semua. Kamu membiarkan adikmu mengambil uang perusahaan. Haaah, brengsek banget kalian ini. Kakak adik sama aja kurang ajarnya. Penipu dan pengkhianat."

"Rimbi!!"

Amar marah, tangannya mengepal dengan begitu erat. Pria itu tidak terima dengan ucapan Arimbi. Dia merasa terhina sekali dengan perkataan istrinya tersebut.

Karena saking marahnya, Amar mencengkeram erat lengan Arimbi. Akan tetapi, Arimbi hanya diam saja. Bukannya ketakutan melihat Amar yang amarahnya meluap-luap, wanita itu malah menyunggingkan senyuman.

"Kenapa, nggak terima dikatain gitu? Padahal fakta lho ini. Pecat Amara sekarang juga, kalau kamu nggak bisa ngelakuin itu maka siap-siap adikmu di seret ke penjara," ucap Arimbu tenang. Namun nada suaranya jelas mengandung sebuah tantangan.

"Rimbi, sadar sama ucapan kamu. Gimanapun juga Amara adalah adik iparmu, yang mana berarti saudaramu. Kamu tega ngancem kayak gini?" jawab Amar tak habis pikir dengan perkataan Arimbi.

"Lah saudara? Itu kalau aku masih jadi istrimu, sekarang kan aku on the way mantan. Jadi adik mu itu nggak lagi jadi adik iparku. Segala yang berhubungan dengan mu bukan lagi jadi urusanku. Dan apa kamu tadi tega? Lucu kamu Mas, kamu bilang tega ke aku padahal kamu lebih tega lagi dalam segala hal. Aisssh udahlah capek aku ngomong kayak gini terus. Pokoknya pecat Amara hari ini juga. Kalau kamu nggak ngelakuin itu, besok pagi adikmu pasti udah di seret ke penjara. Camkan itu baik-baik, aku nggak pernah main-main dengan ucapanku, Mas Amar."

Bukan permintaan, apa yang dikatakan oleh Arimbi kepada Amar merupakan sebuah perintah dan juga peringatan.

Amar menghembuskan nafasnya kasar melihat Arimbi melenggang pergi meninggalkan ruangannya. Amar memijit keningnya yang seketika berdenyut. Ia pikir semua telah usai. Dimana hari Arimbi mengetahui segalanya, Amar pikir itu akan jadi akhir urusannya bersama dengan Arimbi dan bisa menyusun masa depan bersama Farrah dan Afira. Namun ternyata belum ada sehari, masalah sudah menerpanya.

"Dasar Amara bodoh. Bisa-bisanya dia ngelakuin hal kayak gitu. Mana ketahuan sama Arimbi pas waktu-waktu kayak gini lagi. Sialan! Aku tahu banget Arimbi, dia bakalan bener ngelakuin apa yang diucapinnya. Sialan!"

Amar berjalan cepat. Tujuan utamanya adalah menemui sang adik di ruangannya.

Blak!

Amar membuka pintu ruangan Amara dengan sangat kencang. Ia melihat Amara tengah sibuk memilih brosur yang ada di atas mejanya. Brosur tersebut berisi flyer liburan luar negeri. Agaknya Amara sedang merencanakan liburan ke luar negeri.

"Lagi apa kamu?" tanya Amar dengan ketus.

"Oh ini Mas, lagi milih-milih buat liburan nanti sama anak. Kan bentar lagi libur sekolah. Di luar negeri juga banyak yang lagi winter jadi aku lagi milih tempat yang cocok kira-kira mau ke eropa atau asia sini aja."

"Stop, kamu nggak bisa ngelakuin itu. Amara, dengerin baik-baik. Kamu dipecat dari sini. Sekarang cepet beresin semua barang kamu, lalu serahin semua kerjaan kamu ke asisten kamu."

"Apa, dipecat. Jangan ngelawak Mas Amar!"

TBC

Terpopuler

Comments

Dibalik Senja

Dibalik Senja

Jngn kasih ampun arimbi satu persatu harus di diambil alih...FAE gnti jngn pkai nm itu krn nama gundiky amar ....jaga kesehatan arimbi jngn smpai kau tumpang krn menghadapi laki2 bejat itu juga butuh tenaga

2026-04-09

1

nunik rahyuni

nunik rahyuni

g ada hubungan darah dalam pekerjaan..klo dia merugikan ya tetep harus di tindak..klo mementingkan kekeluargaan yang ada usaha bakal hancur

2026-04-09

2

dewi rofiqoh

dewi rofiqoh

Sepertinya hidup amar bakalan jungkir balik deh, sebab telah berkhianat dan kebobrokannya dan keluarganya sedikit-sedikit terungkap

2026-04-09

0

lihat semua
Episodes
1 Tega! 01
2 Senang di atas Derita 02
3 Tak Tahu Diri 03
4 Ancaman 04
5 Nggak Penting 05
6 Dua Handphone 06
7 Sholihah Hanya Kedok 07
8 Sama Aja 08
9 Jangan Menyentuhku 09
10 Kapan Cerai? 10
11 Curiga 11
12 Sumpah, Ndak Bohong 12
13 Tega Volume Dua 13
14 Tuduhan 14
15 Kulakukan Sesuai Tuduhanmu 15
16 Hajar!!! 16
17 Nasib Kurang Baik & Ramai 17
18 Grebek 18
19 Serbuan 19
20 Ngeri 20
21 Kenalkan 21
22 Persiapan Cerai 22
23 Down Grade 23
24 Kejutan Mengejutkan 24
25 Kejut Lagi 25
26 Berita 26
27 Melayat 27
28 Mau Apa? 28
29 Sulit 29
30 Sesama Korban 30
31 Ditolak 31
32 Tidak Sadar 32
33 Ketuk Palu 33
34 Sampah ... Dibuang Lah 34
35 Lah Kesel? 35
36 Hadiah 36
37 Sakit? 37
38 Pokoknya 38
39 PD Banget 39
40 Kepo 40
41 Siapa Kamu? 41
42 Ngacir 42
43 Nggak Tahu Diri 43
44 Balikin!! 44
45 Kamu Gila! 45
46 Tamu Tak Diundang 46
47 Nggak Mungkin 47
48 Nggak Percaya 48
49 Jangan Ngarep 49
50 Yakin?
51 Biang Kerok 51
52 Lebih Segalanya 52
53 Luluh 53
54 Kenapa? 54
55 Ide Gila 55
56 Sombong Dong 56
57 Shik Shak Shok 57
58 Permainan 'sayang' 58
59 Orang Ini ... 59
60 Tak Setebal Kertas Buram 60
61 Aku Nggak Mau! 61
62 Ready, Yank? 62
63 Coba Bayangin 63
64 Tunggu Aja 64
65 Adu Mulut? 65
66 Brondong Itu Mau Apa? 66
67 Gadis atau Janda 67
68 Nanti Malam 68
69 Sah Agama dan Negara 69
70 Jebakan Jodoh 70
71 Rencana Bhumi 71
72 Ohoooo 72
73 Jatuh Sejatuhnya 73
74 Obsesi 74
75 Takut 75
76 Pindah 76
77 Ini Nggak Guna 77
78 Peristiwa 78
79 Tidak Terduga 79
80 Jelaskan Di Kantor 80
81 Kenapa Begini? 81
82 Sengsara Bersama 82
83 Dua Ribu Dua Puluh Enam Dollar 83
84 Kalian Kan Hepi 84
85 Cuma Meluk 85
86 Tidak Tertolong 86
87 Rahasia Tuhan 87
88 Udah Cinta? 88
89 Bhimara 89
90 Side Story (SS) 01
91 Side Story 02
92 Side Story 03
93 Side Story 04
94 Side Story 05
95 Side Story 06
Episodes

Updated 95 Episodes

1
Tega! 01
2
Senang di atas Derita 02
3
Tak Tahu Diri 03
4
Ancaman 04
5
Nggak Penting 05
6
Dua Handphone 06
7
Sholihah Hanya Kedok 07
8
Sama Aja 08
9
Jangan Menyentuhku 09
10
Kapan Cerai? 10
11
Curiga 11
12
Sumpah, Ndak Bohong 12
13
Tega Volume Dua 13
14
Tuduhan 14
15
Kulakukan Sesuai Tuduhanmu 15
16
Hajar!!! 16
17
Nasib Kurang Baik & Ramai 17
18
Grebek 18
19
Serbuan 19
20
Ngeri 20
21
Kenalkan 21
22
Persiapan Cerai 22
23
Down Grade 23
24
Kejutan Mengejutkan 24
25
Kejut Lagi 25
26
Berita 26
27
Melayat 27
28
Mau Apa? 28
29
Sulit 29
30
Sesama Korban 30
31
Ditolak 31
32
Tidak Sadar 32
33
Ketuk Palu 33
34
Sampah ... Dibuang Lah 34
35
Lah Kesel? 35
36
Hadiah 36
37
Sakit? 37
38
Pokoknya 38
39
PD Banget 39
40
Kepo 40
41
Siapa Kamu? 41
42
Ngacir 42
43
Nggak Tahu Diri 43
44
Balikin!! 44
45
Kamu Gila! 45
46
Tamu Tak Diundang 46
47
Nggak Mungkin 47
48
Nggak Percaya 48
49
Jangan Ngarep 49
50
Yakin?
51
Biang Kerok 51
52
Lebih Segalanya 52
53
Luluh 53
54
Kenapa? 54
55
Ide Gila 55
56
Sombong Dong 56
57
Shik Shak Shok 57
58
Permainan 'sayang' 58
59
Orang Ini ... 59
60
Tak Setebal Kertas Buram 60
61
Aku Nggak Mau! 61
62
Ready, Yank? 62
63
Coba Bayangin 63
64
Tunggu Aja 64
65
Adu Mulut? 65
66
Brondong Itu Mau Apa? 66
67
Gadis atau Janda 67
68
Nanti Malam 68
69
Sah Agama dan Negara 69
70
Jebakan Jodoh 70
71
Rencana Bhumi 71
72
Ohoooo 72
73
Jatuh Sejatuhnya 73
74
Obsesi 74
75
Takut 75
76
Pindah 76
77
Ini Nggak Guna 77
78
Peristiwa 78
79
Tidak Terduga 79
80
Jelaskan Di Kantor 80
81
Kenapa Begini? 81
82
Sengsara Bersama 82
83
Dua Ribu Dua Puluh Enam Dollar 83
84
Kalian Kan Hepi 84
85
Cuma Meluk 85
86
Tidak Tertolong 86
87
Rahasia Tuhan 87
88
Udah Cinta? 88
89
Bhimara 89
90
Side Story (SS) 01
91
Side Story 02
92
Side Story 03
93
Side Story 04
94
Side Story 05
95
Side Story 06

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!