Tak Tahu Diri 03

"Pagi sayang?"

"Pagi Mas."

Amar memeluk Farrah dari belakang ketika wanita itu tengah memasak di dapur. Seolah tidak puas dengan apa yang mereka lakukan tadi malam, Amar meraup bibir Farrah sehingga ciuman dalam tak terelakan.

Farrah juga terlena dengan kelembutan bibir dan permainan lidah Amar. Namun suara tangis Afira membuatnya harus mendorong dada Amar. Farrah mendorong lembut suaminya, lalu dirinya melenggang pergi menuju ke kamar dan mengambil sang putri.

"Sayangnya Bunda udah bangun. Haus ya hmmm?"ucap Farrah sambil membawa Afira kedalam pelukannya. Ia lalu duduk di tepi ranjang, menurunkan tali gaun malamnya dan mengeluarkan payuudaranya untuk diberikan kepada sang putri. Dengan lahap, Afira menyedot ASI milik Farrah. Bayi berusia satu setengah tahun itu terlihat mengerjapkan matanya, pertanda bahwa dia tengah senang.

"Aihhh Ayah padahal mah belum beneran puas, Ra. Kamu nyabotase mulu ih,"cibir Amar ketika melihat pemandangan tersebut.

"Kamu mah ada-ada aja, Mas. Oh iya Mas, terus gimana soal Arimbi? Sekarang apa yang harus kita lakukan?"

Wajah Farrah yang sejak tadi bersinar kini tiba-tiba redup ketika membicarakan istri pertama suaminya. Ia sendiri tidak tahu apa yang tengah dipikirkan oleh kepalanya itu, tapi yang pasti saat ini Farrah kebingungan.

Hubungannya dengan Amar yang merupakan suami Arimbi telah diketahui oleh Arimbi. Ada perasaan takut, namun yang paling jelas adalah kebingungan.

Tidak tahu apa yang dipikirkan oleh wanita itu saat menerima ajakan menikah Amar yang jelas-jelas sudah memiliki istri. Atau mungkin, dia tidak peduli terhdap status sang pria karena sudah diliputi dengan hawa nafsuu.

Sangat berdosa ketika seseorang menjadi pengganggu dalam hubungan rumah tangga orang lain. Apalagi Farrah di sini tahu dengan sangat jelas bahwa pria yang mendekatinya dan kini menjadi suaminya adalah pria beristri.

Memang benar, besar kecilnya dosa seseorang itu adalah hak preogratif atau kekuasaan mutlak yang dimiliki oleh Tuhan yang diberikan kepada hambanya. Namun manusia seharusnya juga bisa mengukurnya sendiri atas perbuatan yang dilakukan.

Farrah di sini adalah seroang wanita. Sesama wanita seharusnya lebih tahu dan lebih bisa mengerti, apa itu rasa sakit karena dikhianati. Tapi Farrah sepertinya mengabaikan hal tersebut. Faktanya dia bahagia, menjalani pernikahan tersembunyi dengan pria yang jelas beristri. Ditambah pernikahan mereka sudah berjalan tiga tahun lamanya dan dikaruniai satu orang anak.

"Kamu nggak usah mikirin itu sayang. Soal Arimbi, biar aku yang urus. Kamu hanya perlu jalanin hari kayak biasa aja. Ngurus Afira dengan baik dan yang jelas, selalu cinta sama aku. Udah gitu aja. Ah iya, nggak usah masak. Nanti kita beli aja. Kalau gitu, aku siap-siap ya buat berangkat ke kantor."

"Iya Mas."

Meski Amar berkata demikian. Meski pria itu berkata kepadanya untuk tenang, tapi Farrah tidak bisa bersikap tenang sekarang ini.

Arimbi yang telah mengetahui semuanya, pasti tidak akan tinggal diam. Selintas ada ketakutan yang menghampirinya, ketakutan jikalau nama baiknya mungkin saja akan tercoreng.

"Ah nggak, pasti Mas Amar akan ngurus semuanya dengan baik. Kita nggak perlu khawatir ya, sayang. Semua pasti akan baik-baik saja,"ucap Farrah sembari mencium kening putrinya yang masih terus menyusuu.

Tak lama kemudian, Afira kembali tidur. Sedangkan Amar dan Farrah saat ini sedang menikmati sarapan paginya. Tak banyak yang mereka perbincangkan. Farrah juga tidak menyinggung perihal Arimbi karena Amar sudah berjanji akan mengurus dengan baik.

Drtzzzz

Ponsel milik Amar yang berada di atas meja berbunyi salah satunya. Amar memiliki dua ponsel, dan semuanya selalu dibawa olehnya. Farrah jelas tahu akan hal itu, karena ponsel yang satunya adalah ponsel khusus yang digunakan Amar untuk berkomunikasi dengan dirinya.

Inilah yang tidak diketahui oleh Arimbi. Maka dari itu, Farrah sangat penasaran bagaimana Arimbi bisa mengetahui tentang dirinya dan Amar.

"Siapa Mas?"tanya Farrah ketika Amar tak kunjung menjawab panggilan itu meskipun sudah beberapa kali ponselnya berdering.

"Arimbi, biarin aja,"jawab Amar santai. Dia mengabaikan panggilan dari wanita yang masih berstatus sebagai istrinya. Bagaimana tidak, Amar belum menjatuhkan talak kepada Arimbi sehingga sampai detik ini mereka masih merupakan pasangan suami istri.

Drtzzzz

Lagi, suara ponsel itu berdering. Tapi kali bukan dari ponsel yang tadi melainkan ponsel satunya. Terang saja Amar terkejut, pun dengan Farrah.

Jelas-jelas ponsel satunya hanya diantara mereka yang tahu. Jadi sangat mengejutkan Arimbi bisa menghubungi Amar menggunakan ponsel yang itu.

"Kamu?"

"Kenapa, kaget ya? Haaah nggak usah sok syok gitu. Nggak usah bertanya-tanya tentang gimana aku mendapatkan nomor hape yang kamu pake buat ngubungin gundikmu. Dan seharusnya kamu tahu lah Mas, jika aku udah megang nomor ponsel mu yang ini, maka berarti aku tahu segala hal yang ada di dalamnya. Dah lah, males banget aku pagi-pagi ngomong bajingan kayak kamu dan gundikmu itu. Cepet ke kantor, ada hal penting yang aku kudu omongin. Meski aku males dan jijik buat lihat wajahmu, tapi aku harus ketemu kamu karena aku nggak mau perusahan yang aku ikut membangun di dalamnya hancur. Cepetan, aku nggak punya kesabaran yang luas."

Tuuuuuuut

Setelah mengatakan kepentingan tentang perusahaan namun dilengkapi dengan cacian, Arimbi memutuskan panggilan telepon itu secara sepihak. Arimbi yang bicara tanpa filter itu, cukup membuat wajah Amar merah padam karena marah.

Akan tetapi rasa marah yang dirasakan tidak sebanyak rasa cemas dalam hatinya.

Kata-kata Arimbi tadi ada yang Amar garis bawahi, yakni tentang 'isi ponsel' itu benar-benar cukup mengganggunya.

"Mas?" panggil Farrah ketika melihat Amar tengah melamun. Dia bisa melihat raut kebingungan di wajah suaminya tersebut.

"Ada apa?"

"Maaf Far, aku harus buru-buru ke perusahan."

Amar bangkit dari duduknya dan bergegas pergi. Terlihat sekali pria itu terburu-buru dimana hal tersebut cukup membuat Farrah merasa sedih. Pasalnya, Amar tak pernah meninggalkan meja makan dalam keadaan makanan masih banyak di piring. Selain itu, Amar tak pernah lupa mencium kening atau pipi Farrah ketika akan pergi. Tapi pagi ini, Amar melupakannya. Amar melupakan kebiasaan yang selama ini dilakukannya.

"Apa sepenting itu sampai-sampai dia lari tunggang langgang,"gerutunya.

Sebuah rasa cemburu muncul di hatinya. Ya saat ini Farrah merasa cemburu dengan perlakuan Amar yang sangat terburu-buru menemui Arimbi.

Satu lagi, ada hal yang paling mengganjal dalam hati dan pikiran Farrah. Meski Arimbi sudah mengetahui tentang hubungan Farrah dan Amar, tapi Arimbi tidak langsung minta cerai juga talak. Dan sebaliknya, Amar juga tidak langsung menjatuhkan talak kepada istri pertamanya itu.

"Kenapa nggak langsung selesai aja sih. Biar lebih gampang semuanya."

TBC

Terpopuler

Comments

❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️

❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️

ya gampang menurut kamu itu... sekarang kamu merasa bahagia diatas penderitaan orang lain, nanti suatu saat semua itu akan berbalik sama kamu, kamu akan merasakan bagaimana jika kamu berada diposisi terbalik, baru tahu kamu rasanya hancur berkeping2.....

2026-04-09

0

Dibalik Senja

Dibalik Senja

Itu tugasmu farrah bikin suami munafikmu menceraikan arimbi krn arimbi juga sdh muakk dngn suami tdk tau dirimu itu....klu mantan suamimu masih kekeh tdk mau menceraikamu arimbi ancam pkai video mesumnya biar yahu tuh laki2 lknatt

2026-04-09

0

nunik rahyuni

nunik rahyuni

enak di kamu dong ...trus jd kebiasan ditiru org jd pelakor....kmu tau agama...kok ya masih tega masuk kedlm rumh tangg orang...brati kan kmu itu setan berujud manusia alim😡

2026-04-09

0

lihat semua
Episodes
1 Tega! 01
2 Senang di atas Derita 02
3 Tak Tahu Diri 03
4 Ancaman 04
5 Nggak Penting 05
6 Dua Handphone 06
7 Sholihah Hanya Kedok 07
8 Sama Aja 08
9 Jangan Menyentuhku 09
10 Kapan Cerai? 10
11 Curiga 11
12 Sumpah, Ndak Bohong 12
13 Tega Volume Dua 13
14 Tuduhan 14
15 Kulakukan Sesuai Tuduhanmu 15
16 Hajar!!! 16
17 Nasib Kurang Baik & Ramai 17
18 Grebek 18
19 Serbuan 19
20 Ngeri 20
21 Kenalkan 21
22 Persiapan Cerai 22
23 Down Grade 23
24 Kejutan Mengejutkan 24
25 Kejut Lagi 25
26 Berita 26
27 Melayat 27
28 Mau Apa? 28
29 Sulit 29
30 Sesama Korban 30
31 Ditolak 31
32 Tidak Sadar 32
33 Ketuk Palu 33
34 Sampah ... Dibuang Lah 34
35 Lah Kesel? 35
36 Hadiah 36
37 Sakit? 37
38 Pokoknya 38
39 PD Banget 39
40 Kepo 40
41 Siapa Kamu? 41
42 Ngacir 42
43 Nggak Tahu Diri 43
44 Balikin!! 44
45 Kamu Gila! 45
46 Tamu Tak Diundang 46
47 Nggak Mungkin 47
48 Nggak Percaya 48
49 Jangan Ngarep 49
50 Yakin?
51 Biang Kerok 51
52 Lebih Segalanya 52
53 Luluh 53
54 Kenapa? 54
55 Ide Gila 55
56 Sombong Dong 56
57 Shik Shak Shok 57
58 Permainan 'sayang' 58
59 Orang Ini ... 59
60 Tak Setebal Kertas Buram 60
61 Aku Nggak Mau! 61
62 Ready, Yank? 62
63 Coba Bayangin 63
64 Tunggu Aja 64
65 Adu Mulut? 65
66 Brondong Itu Mau Apa? 66
67 Gadis atau Janda 67
68 Nanti Malam 68
69 Sah Agama dan Negara 69
70 Jebakan Jodoh 70
71 Rencana Bhumi 71
72 Ohoooo 72
73 Jatuh Sejatuhnya 73
74 Obsesi 74
75 Takut 75
76 Pindah 76
77 Ini Nggak Guna 77
78 Peristiwa 78
79 Tidak Terduga 79
80 Jelaskan Di Kantor 80
81 Kenapa Begini? 81
82 Sengsara Bersama 82
83 Dua Ribu Dua Puluh Enam Dollar 83
84 Kalian Kan Hepi 84
85 Cuma Meluk 85
86 Tidak Tertolong 86
87 Rahasia Tuhan 87
88 Udah Cinta? 88
89 Bhimara 89
90 Side Story (SS) 01
91 Side Story 02
92 Side Story 03
93 Side Story 04
94 Side Story 05
95 Side Story 06
Episodes

Updated 95 Episodes

1
Tega! 01
2
Senang di atas Derita 02
3
Tak Tahu Diri 03
4
Ancaman 04
5
Nggak Penting 05
6
Dua Handphone 06
7
Sholihah Hanya Kedok 07
8
Sama Aja 08
9
Jangan Menyentuhku 09
10
Kapan Cerai? 10
11
Curiga 11
12
Sumpah, Ndak Bohong 12
13
Tega Volume Dua 13
14
Tuduhan 14
15
Kulakukan Sesuai Tuduhanmu 15
16
Hajar!!! 16
17
Nasib Kurang Baik & Ramai 17
18
Grebek 18
19
Serbuan 19
20
Ngeri 20
21
Kenalkan 21
22
Persiapan Cerai 22
23
Down Grade 23
24
Kejutan Mengejutkan 24
25
Kejut Lagi 25
26
Berita 26
27
Melayat 27
28
Mau Apa? 28
29
Sulit 29
30
Sesama Korban 30
31
Ditolak 31
32
Tidak Sadar 32
33
Ketuk Palu 33
34
Sampah ... Dibuang Lah 34
35
Lah Kesel? 35
36
Hadiah 36
37
Sakit? 37
38
Pokoknya 38
39
PD Banget 39
40
Kepo 40
41
Siapa Kamu? 41
42
Ngacir 42
43
Nggak Tahu Diri 43
44
Balikin!! 44
45
Kamu Gila! 45
46
Tamu Tak Diundang 46
47
Nggak Mungkin 47
48
Nggak Percaya 48
49
Jangan Ngarep 49
50
Yakin?
51
Biang Kerok 51
52
Lebih Segalanya 52
53
Luluh 53
54
Kenapa? 54
55
Ide Gila 55
56
Sombong Dong 56
57
Shik Shak Shok 57
58
Permainan 'sayang' 58
59
Orang Ini ... 59
60
Tak Setebal Kertas Buram 60
61
Aku Nggak Mau! 61
62
Ready, Yank? 62
63
Coba Bayangin 63
64
Tunggu Aja 64
65
Adu Mulut? 65
66
Brondong Itu Mau Apa? 66
67
Gadis atau Janda 67
68
Nanti Malam 68
69
Sah Agama dan Negara 69
70
Jebakan Jodoh 70
71
Rencana Bhumi 71
72
Ohoooo 72
73
Jatuh Sejatuhnya 73
74
Obsesi 74
75
Takut 75
76
Pindah 76
77
Ini Nggak Guna 77
78
Peristiwa 78
79
Tidak Terduga 79
80
Jelaskan Di Kantor 80
81
Kenapa Begini? 81
82
Sengsara Bersama 82
83
Dua Ribu Dua Puluh Enam Dollar 83
84
Kalian Kan Hepi 84
85
Cuma Meluk 85
86
Tidak Tertolong 86
87
Rahasia Tuhan 87
88
Udah Cinta? 88
89
Bhimara 89
90
Side Story (SS) 01
91
Side Story 02
92
Side Story 03
93
Side Story 04
94
Side Story 05
95
Side Story 06

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!