TEGA!

TEGA!

Tega! 01

"Tega kamu Mas, kamu tega memperlakukan aku kayak gini? Apa salahku Mas, apa salahku ke kamu sampai kamu tega menyakiti aku kayak gini?'

Tangis Arimbi pecah. Hari ini tepat tujuh tahun usia pernikahannya dengan Amar Subagyo. Bukan hadiah manis yang ia terima, bukan juga sebuket bunga lili kesukaannya, akan tetapi sebuah fakta yang sangat mengejutkan.

Amar, suaminya yang ia sangat hormati dan juga dicintai ternyata memiliki wanita lain. Tak hanya sekedar wanita idaman lain, akan tetapi istri tersembunyi.

Dan yang lebih mengejutkan lagi, mereka sudah punya seorang anak perempuan yang usianya satu setengah tahun.

Dunia Arimbi seketika luluh lantah, dadanya sesak, hatinya sakit dan bahkan dia merasa bahwa tak mampu lagi untuk berdiri.

Sedangkan Amar, pria itu membisu. Tak ada satu katapun yang keluar dari mulutnya. Tatapannya juga bukannya menyesal, melainkan acuh tak acuh.

"Kalau kamu udah nggak cinta sama aku, kalau kamu udah nggak ingin aku jadi istrimu, kenapa nggak kamu kembalikan saja aku ke orang tuaku?Kenapa harus nyakitin aku kayak gini, Mas? Kenapa?"

Arimbi berteriak. Marah, sedih, sakit, kecewa, itulah perasaannya sekarang. Suami yang begitu dia andalkan, pria yang ia anggap rumah itu, ternyata menyakitinya sedalam ini.

"Dan, katanya kamu nggak pengen punya anak dulu karena kita masih sama-sama muda. Kamu bilang kayak gitu karena katanya kita lagi merintis usaha. Bahkan sampai semua keluargamu mengatakan bahwa aku mandul. Tapi ini apa, ini apa Mas? Kamu punya anak dengan perempuan lain? Sehina itu kah aku di matamu sampai kamu nggak mau aku melahirkan anakmu? Terus kenapa, kenapa kamu nikahin aku hah!"

Arimbi benar-benar lepas kontrol. Dia mengucapkan semuanya tersebut sambil menarik baju Amar.

Namun lagi-lagi Amar hanya diam, dia diam seribu bahasa melihat istrinya histeris.

Mungkin hatinya sudah mati terhadap Arimbi. Dan mungkin hatinya sudah terpatri kepada selingkuhannya.

"Baiklah, baiklah kalau itu yang kamu mau Mas. Kamu nggak akan bicara kan, oke kalau gitu. Sekarang apa mau kamu? Pasti kamu mau cerai kan sama aku? Oke lakukan, tapi aku nggak akan mau ngajuin ke pengadilan. Silakan kamu yang ngajuin. Lalu perusahaan, mari bagi dua perusahaan itu."

"Mana bisa gitu? Itu perusahaan sepenuhnya punya aku! Aku yang memajukan perusahaan itu sampai sebesar sekarang."

Akhirnya Amar bicara juga dan Arimbi hanya menyeringai. Arimbi menghapus air matanya yang dirasa percuma untuk ia tumpahkan.

"Haaaah kamu bari buka mulut pas aku nyinggung soal perusahaan. Memang benar bahwa itu adalah kamu yang membesarkan. Tapi jangan lupa Mas, ada sebagian harta ku di sana. Harta yang ku berikan hasil menjual tanah yang orang tuaku berikan. Dan jangan lupa, aku adalah direktur di sana. Jika kita cerai, aku akan meminta bagian dari perusahaan itu sesuai hukum harta gono-gini. Inget ya Mas, bahwa FA Express (FAE) adalah perusahaan yang kita dirikan bersama setelah kita menikah. Jadi jangan serakah dan culas. Sekarang, pergi dari rumah ini! Atau kamu malah mau ngusir aku? Nggak masalah, baik aku yang akan pergi."

Arimbi meraih hijab instannya. Sekarang rasanya dia tak bisa menunjukkan rambutnya kepada Amar. Hubungan yang sudah akan berakhir itu, membuat Arimbi memantapkan hati untuk menganggap Amar bukan lagi suaminya meski belum ada kata talak dari pria itu.

Arimbi masuk ke kamarnya, dia mengambil koper memasukkan semua baju dan juga barang berharga miliknya. Dua buah koper besar dan sebuah dufle bag ia bawa dari dalam kamar.

Amar bergeming, melihat Arimbi melintas di depannya dengan semua barang-barang itu tak membuat ia bergerak. Hati Amar benar-benar sudah mati. Atau mungkin dia sudah tak punya hati.

Klak

Brummm

Arimbi meninggalkan rumah yang sudah 7 tahun ditempatinya. Ia tidak pernah mengira bahwa ia akan melakukan ini juga.

Hiks hiks Aaaah

Tangis Arimbi pecah lagi, dan kali ini lebih keras dari pada tadi. Hatinya yang amat sangat sakit membuatnya tak lagi mampu menahannya.

Tidak ingin terjadi sesuatu pada dirinya, Arimbi yang sadar bahwa saat ini emosinya tengah tidak stabil memilih untuk menepi. Dia meluapkan semua rasanya itu dengan menangis sejadi-jadinya di pinggir jalan.

Drtzzzz

Ponselnya berdering. Arimbi melirik sekilas ke arah ponsel itu. Nomor Amar yang masih belum ia ganti di buku teleponnya dengan nama 'suamiku' membuatnya geram sendiri. Alhasil Arimbi langsung mengganti dengan nama tanpa embel-embel apapun saat itu juga.

Drtzzz

Lagi, ponselnya kembali berdering. Tapi kali ini bukan dari Amar melainkan dari sang klien.

Arimbi sebenarnya tidak ingin menjawabnya sekarang ini. Akan tetapi ia harus tetap profesional dengan pekerjaannya. Meski sebenarnya sekarang ini sudah tidak berada di jam operasional.

Pukul sepuluh malam, waktu yang seharusnya digunakan untuk istirahat, namun Arimbi masih berkutat dengan kemalangan yang menimpa rumah tangganya. Lalu sekarang, dia pun harus mengerjakan pekerjaan dadakan.

"Selamat malam, Bu. Saya Ibnu dari AbChia Design (ACD). Mohon maaf mengganggu waktu Bu Arimbi malam-malam begini. Saya ingin menanyakan paket yang kami kirimkan. Paket tersebut amat penting dan sedang ditunggu oleh si penerima. sudah tiga hari ini paket milik kami tidak bergerak dan statusnya ada di gudang hub Jakarta. Kira-kira kapan kami akan mendapatkan paket kami. Saya menghubungi Bu Arimbi karena kami sudah bekerja sama dengan FAE selama setahun belakangan ini. Kami percaya penuh dengan FAE, hanya saja kali ini terlalu lama. Meski paket itu bersifat pribadi, tapi itu adalah paket urgent."

Arimbi mengucapkan istigfar dengan lirih, rasanya sungguh lelah saat ini. Ingin rasanya dia berteriak terhadap orang yang menghubunginya itu. Ia ingin berkata, "Gue capek!! Please jangan dulu ngomong apa-apa. Gue butuh sendiri, gue butuh tenang!" Ya Arimbi ingin berkata demikian. Namun tentu saja itu semua hanya sebatas angannya saja.

Bagaimanapun yang namanya urusan pribadi tak boleh dilibatkan dalam urusan pekerjaan. Mau sebutek apapun isi kepalanya saat ini, Arimbi harus bisa melakukan pemecahan masalah yang berkaitan dengan pekerjaan.

"Mohon maaf Pak Ibnu, saya sungguh merasa menyesal mendengar hal tersebut. Saya akan langsung memeriksanya saat ini juga. Dan saya akan memberikan jaminan barang sampai sesuai dengan estimasi pengiriman. Tolong sampaikan permintaan maaf saya kepada Pak Bhumi. Sekali lagi saya mohon maaf yang sebesar-besarnya."

"Baik Bu Arimbi, terimakasih untuk follow-up nya. Saya akan sampaikan hal tersebut kepada Pak Bhumi. Kami tunggu kabar baiknya. Mohon maaf mengganggu waktu Anda malam-malam begini. Terimakasih dan selamat malam."

Haaaah

Arimbi menghela nafasnya panjang. Dia juga memejamkan matanya sejenak. Air mata yang masih terasa basah di mata dan pipi itu segera ia singkirkan. Ada hal yang lebih penting untuk saat ini yakni tentang pekerjaan.

"Baiklah, selesaikan malam ini juga karena esok, urusannya udah lain. Mas Amar, aku tunggu surat pengadilan darimu karena aku nggak akan pernah ngajuin tuntutan lebih dulu."

TBC

Terpopuler

Comments

Dibalik Senja

Dibalik Senja

Apakah tdk rasa curiga sama sekali sma suamimu gara2 cinta jd buta segalanya ....cari bukti perselingkuhan suamimu arimbi trs ajukan sndiri kepengadilah rebut smua 7thun bkn wkt sebntar jngn mau klh laki2 model bgt hrus dikasih pelajaran

2026-04-07

3

Mardiana

Mardiana

alkhamdulillah launching jg karya barunya.... Arimbi tipe wanita kuat dan berprinsip.. tinggalin suami modelnya begitu... ketahuan banget matrenya begitu di bahas harta baru bereaksi. pernikahan 7 tahun ternyata cuma buat nguras hartamu Arimbi.. hempaskan 🤭

2026-04-08

0

Ariany Sudjana

Ariany Sudjana

bagus Arimbi, kamu harus tegas dan tetap profesional, meskipun rumah tangga kamu hancur. kamu harus kuat dan tetap berdiri tegak, dan jadi perempuan mandiri, jangan seperti jalang peliharaan suami kamu itu

2026-04-07

1

lihat semua
Episodes
1 Tega! 01
2 Senang di atas Derita 02
3 Tak Tahu Diri 03
4 Ancaman 04
5 Nggak Penting 05
6 Dua Handphone 06
7 Sholihah Hanya Kedok 07
8 Sama Aja 08
9 Jangan Menyentuhku 09
10 Kapan Cerai? 10
11 Curiga 11
12 Sumpah, Ndak Bohong 12
13 Tega Volume Dua 13
14 Tuduhan 14
15 Kulakukan Sesuai Tuduhanmu 15
16 Hajar!!! 16
17 Nasib Kurang Baik & Ramai 17
18 Grebek 18
19 Serbuan 19
20 Ngeri 20
21 Kenalkan 21
22 Persiapan Cerai 22
23 Down Grade 23
24 Kejutan Mengejutkan 24
25 Kejut Lagi 25
26 Berita 26
27 Melayat 27
28 Mau Apa? 28
29 Sulit 29
30 Sesama Korban 30
31 Ditolak 31
32 Tidak Sadar 32
33 Ketuk Palu 33
34 Sampah ... Dibuang Lah 34
35 Lah Kesel? 35
36 Hadiah 36
37 Sakit? 37
38 Pokoknya 38
39 PD Banget 39
40 Kepo 40
41 Siapa Kamu? 41
42 Ngacir 42
43 Nggak Tahu Diri 43
44 Balikin!! 44
45 Kamu Gila! 45
46 Tamu Tak Diundang 46
47 Nggak Mungkin 47
48 Nggak Percaya 48
49 Jangan Ngarep 49
50 Yakin?
51 Biang Kerok 51
52 Lebih Segalanya 52
53 Luluh 53
54 Kenapa? 54
55 Ide Gila 55
56 Sombong Dong 56
57 Shik Shak Shok 57
58 Permainan 'sayang' 58
59 Orang Ini ... 59
60 Tak Setebal Kertas Buram 60
61 Aku Nggak Mau! 61
62 Ready, Yank? 62
63 Coba Bayangin 63
64 Tunggu Aja 64
65 Adu Mulut? 65
66 Brondong Itu Mau Apa? 66
67 Gadis atau Janda 67
68 Nanti Malam 68
69 Sah Agama dan Negara 69
70 Jebakan Jodoh 70
71 Rencana Bhumi 71
72 Ohoooo 72
73 Jatuh Sejatuhnya 73
74 Obsesi 74
75 Takut 75
76 Pindah 76
77 Ini Nggak Guna 77
78 Peristiwa 78
79 Tidak Terduga 79
80 Jelaskan Di Kantor 80
81 Kenapa Begini? 81
82 Sengsara Bersama 82
83 Dua Ribu Dua Puluh Enam Dollar 83
84 Kalian Kan Hepi 84
85 Cuma Meluk 85
86 Tidak Tertolong 86
87 Rahasia Tuhan 87
88 Udah Cinta? 88
89 Bhimara 89
90 Side Story (SS) 01
91 Side Story 02
92 Side Story 03
93 Side Story 04
94 Side Story 05
95 Side Story 06
Episodes

Updated 95 Episodes

1
Tega! 01
2
Senang di atas Derita 02
3
Tak Tahu Diri 03
4
Ancaman 04
5
Nggak Penting 05
6
Dua Handphone 06
7
Sholihah Hanya Kedok 07
8
Sama Aja 08
9
Jangan Menyentuhku 09
10
Kapan Cerai? 10
11
Curiga 11
12
Sumpah, Ndak Bohong 12
13
Tega Volume Dua 13
14
Tuduhan 14
15
Kulakukan Sesuai Tuduhanmu 15
16
Hajar!!! 16
17
Nasib Kurang Baik & Ramai 17
18
Grebek 18
19
Serbuan 19
20
Ngeri 20
21
Kenalkan 21
22
Persiapan Cerai 22
23
Down Grade 23
24
Kejutan Mengejutkan 24
25
Kejut Lagi 25
26
Berita 26
27
Melayat 27
28
Mau Apa? 28
29
Sulit 29
30
Sesama Korban 30
31
Ditolak 31
32
Tidak Sadar 32
33
Ketuk Palu 33
34
Sampah ... Dibuang Lah 34
35
Lah Kesel? 35
36
Hadiah 36
37
Sakit? 37
38
Pokoknya 38
39
PD Banget 39
40
Kepo 40
41
Siapa Kamu? 41
42
Ngacir 42
43
Nggak Tahu Diri 43
44
Balikin!! 44
45
Kamu Gila! 45
46
Tamu Tak Diundang 46
47
Nggak Mungkin 47
48
Nggak Percaya 48
49
Jangan Ngarep 49
50
Yakin?
51
Biang Kerok 51
52
Lebih Segalanya 52
53
Luluh 53
54
Kenapa? 54
55
Ide Gila 55
56
Sombong Dong 56
57
Shik Shak Shok 57
58
Permainan 'sayang' 58
59
Orang Ini ... 59
60
Tak Setebal Kertas Buram 60
61
Aku Nggak Mau! 61
62
Ready, Yank? 62
63
Coba Bayangin 63
64
Tunggu Aja 64
65
Adu Mulut? 65
66
Brondong Itu Mau Apa? 66
67
Gadis atau Janda 67
68
Nanti Malam 68
69
Sah Agama dan Negara 69
70
Jebakan Jodoh 70
71
Rencana Bhumi 71
72
Ohoooo 72
73
Jatuh Sejatuhnya 73
74
Obsesi 74
75
Takut 75
76
Pindah 76
77
Ini Nggak Guna 77
78
Peristiwa 78
79
Tidak Terduga 79
80
Jelaskan Di Kantor 80
81
Kenapa Begini? 81
82
Sengsara Bersama 82
83
Dua Ribu Dua Puluh Enam Dollar 83
84
Kalian Kan Hepi 84
85
Cuma Meluk 85
86
Tidak Tertolong 86
87
Rahasia Tuhan 87
88
Udah Cinta? 88
89
Bhimara 89
90
Side Story (SS) 01
91
Side Story 02
92
Side Story 03
93
Side Story 04
94
Side Story 05
95
Side Story 06

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!