2. Tekad Raya

"Cepat bawa ke rumah sakit!”

"Ada mobil di depan.”

Semua bergerak cepat, penuh kepanikan.

Raya masih berdiri mematung beberapa detik, sampai akhirnya seseorang menarik lengannya.

"Raya, ayo, ikut!"

Seolah tersadar dari mimpi buruk, Raya langsung berlari dengan langkah tersaruk. Kakinya terasa lemas, tapi ia memaksakan diri.

Ia naik ke mobil tetangga tanpa berpikir panjang. Pintu ditutup keras, dan mobil langsung melaju kencang meninggalkan rumah yang baru saja menjadi saksi kehancuran hidupnya.

Sementara itu di rumah, Bu Rahma tak kalah panik. Tubuhnya lemas setelah melihat suaminya tumbang dan mendengar ucapan talak yang mengiris hati.

"Bu… Bu Rahma!”

Beberapa wanita memapahnya.

"Astagfirullah… ya Allah…” lirihnya sebelum tubuhnya ikut lunglai.

Ia dibopong masuk ke dalam kamar utama—kamar yang seharusnya menjadi kamar pengantin Raya dan Kamil. Kamar yang tadi dihias indah dengan nuansa bahagia… kini berubah menjadi tempat penuh duka.

Bu Rahma ditidurkan di atas ranjang. Tangannya gemetar, air matanya terus mengalir tanpa suara.

Di dalam mobil, suasana mencekam.

Raya duduk di samping tubuh ayahnya. Tangannya menggenggam tangan Pak Santoso yang dingin.

"Ayah… Ayah bangun…” suaranya bergetar.

Tidak ada jawaban.

Hanya suara mesin mobil dan napas panik orang-orang di dalamnya.

Jalanan hari Minggu cukup lengang. Mobil melaju tanpa hambatan berarti. Namun bagi Raya, perjalanan itu terasa begitu lama… seperti tak pernah sampai.

Ia terus mengusap tangan ayahnya.

"Ayah… Raya di sini… Ayah jangan tinggalin Raya!”

Air matanya jatuh tanpa henti.

Kurang dari satu jam, mobil akhirnya memasuki area rumah sakit. Pintu dibuka dengan tergesa.

"Cepat! Tolong!” teriak seseorang.

Beberapa orang langsung turun dan membuka pintu belakang. Saat itu juga, Om Dani—adik Pak Santoso—yang entah sejak kapan sudah menyusul, berlari keluar dari dalam rumah sakit.

"Mana? Mana Kak Santoso?!” wajahnya panik.

"Di sini, Om!”

Om Dani langsung berteriak ke arah dalam.

"Blankar! Cepat bawa blankar!”

Tenaga medis datang dengan sigap. Pak Santoso segera dipindahkan ke atas brankar dan didorong cepat menuju IGD.

Raya berlari di belakangnya, hampir terjatuh beberapa kali.

"Ayah… tunggu… Ayah!”

Pintu IGD tertutup.

Raya berdiri di depan pintu itu, napasnya terengah. Tangannya gemetar hebat. Dunia terasa sunyi… hanya detak jantungnya yang terdengar begitu keras.

Beberapa menit kemudian—yang terasa seperti berjam-jam—seorang dokter keluar.

Wajahnya serius… lalu perlahan berubah sendu.

"Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun…”

Kalimat itu seperti menghantam Raya tanpa ampun.

"Pasien sudah tidak ada. Beliau… sudah meninggal sebelum sampai ke rumah sakit. Maafkan kami, kami tidak bisa berbuat apa-apa!”

Semua orang terdiam.

Sunyi.

Hancur.

Raya menatap dokter itu dengan mata kosong. Bibirnya bergetar, tapi tak ada suara yang keluar.

Seolah otaknya menolak memahami kenyataan itu.

"Ayah…?” bisiknya lirih.

Lalu dalam sekejap—

"AYAAAAHHHH!!!”

Jeritan Raya menggema di lorong rumah sakit. Suaranya penuh luka, penuh kehilangan, penuh kehancuran.

Tubuhnya limbung.

Dunia benar-benar gelap.

Dan detik berikutnya, Raya jatuh tak sadarkan diri.

Raya tersadar perlahan.

Langit-langit kamar yang familiar menyambut pandangannya. Itu kamar Rana—adik bungsunya. Aroma khas minyak telon dan bedak bayi yang masih tersisa di sudut ruangan membuat dadanya sesak. Sejenak, ia diam… kosong.

Matanya berkedip beberapa kali, mencoba mengumpulkan potongan ingatan yang terasa seperti mimpi buruk.

Akad.

Talak.

Ayah jatuh…

Deg.

Suara gaduh dari luar memecah lamunannya. Tangisan… teriakan… dan suara orang-orang yang saling bersahutan. Suara itu bukan sekadar ramai—itu pilu. Itu kehilangan.

Napas Raya mendadak tercekat.

“...Ayah?”

Tubuhnya bergerak sebelum pikirannya sempat mencerna. Ia bangkit dengan tergesa, hampir terhuyung. Kakinya gemetar saat menyentuh lantai dingin. Tangannya meraih gagang pintu dengan ragu… seolah takut pada kenyataan di baliknya.

Namun saat pintu itu terbuka—

Dunia Raya runtuh untuk kedua kalinya.

Di ruang tengah, terbujur kaku sosok yang paling ia cintai. Tubuh itu sudah diselimuti kain putih. Wajahnya tenang… terlalu tenang.

"Ayah…”

Suara Raya nyaris tak terdengar. Tapi detik berikutnya—

"AYAAAHHH!!!”

Jeritannya memecah udara.

Raya berlari tanpa peduli, menerobos kerumunan orang. Ia menjatuhkan diri di samping jasad ayahnya, memeluk tubuh dingin itu erat, seolah dengan begitu ia bisa mengembalikan kehangatan yang telah hilang.

"Ayaaaah, jangan pergi!” tangisnya pecah, suaranya serak penuh luka. “Ayaaaah… Raya sayang Ayah… bangun Yah… tolong bangun!”

Tangannya gemetar mengguncang pelan tubuh itu, tapi tak ada jawaban. Tak ada gerakan. Tak ada suara.

Hanya diam.

Dan itu yang paling menyakitkan.

Beberapa orang mencoba menarik tubuh Raya, menenangkannya, tapi ia menolak. Ia terus memeluk ayahnya, seolah takut jika dilepas, sosok itu benar-benar pergi selamanya.

Di belakangnya, bisik-bisik mulai terdengar.

"Kasihan ya…”

"Baru aja nikah dan berstatus istri…”

"Langsung jadi janda…”

"Sekarang yatim pula…”

Setiap kata itu seperti pisau. Menyayat tanpa ampun.

Di sisi lain, Rakha dan Rana juga tak kalah hancur. Rakha berusaha tegar, tapi air matanya tetap jatuh tanpa izin. Sementara Rana, si bungsu, menangis histeris, memanggil ayahnya berulang kali dengan suara kecil yang memilukan.

"AYAAAHHH, katanya besok ayah mau nganter Rana lomba menggambar. Ayah bohong, ayah malah pergi ninggalin Rana. Ayaaah, bangun yah!" Rana mengguncang tubuh ayahnya.

Suasana rumah itu dipenuhi duka yang begitu pekat.

Kemudian, sebuah tangan tua menyentuh pundak Raya dengan lembut.

"Sudahlah, Nak…”

Raya menoleh. Kakeknya berdiri di sana, mata tuanya juga basah, tapi berusaha kuat.

"Sadar… semua yang terjadi hari ini adalah garis tangan yang harus kita terima. Ayahmu telah pergi, yang telah pergi tak akan kembali…” ucapnya pelan, namun tegas. “Kamu anak sulung Santoso… kamu harus tegar. Lanjutkan perjuangannya, wujudkan semua cita-cita ayahmu. Bangkitlah Nak, kamu akan bisa melakukan semuanya. Kakek yakin, selalu ada pelangi setelah badai. Inna ma'al usti yusraa. Sesungguhnya setelah kesulitan, pasti ada kemudahan."

Kata-kata itu menembus hati Raya.

Perlahan, tangisnya mereda. Bukan karena sakitnya hilang—tapi karena ia mulai sadar… kini tak ada lagi tempat bersandar.

Ayahnya… benar-benar pergi.

Dengan tangan gemetar, Raya mengusap wajahnya sendiri. Air mata masih mengalir, tapi kini matanya berubah.

Bukan hanya penuh luka.

Tapi juga… penuh tekad.

Raya menggenggam tangan dingin ayahnya erat, seolah tak rela melepaskannya walau satu detik saja. Kepalanya bersandar di sisi tubuh itu, matanya terpejam, sementara air mata terus mengalir tanpa henti.

"Ayah…” suaranya lirih, hampir tak terdengar di antara isak tangis yang masih tersisa.

"Ayah dengar kan… Raya di sini…”

Ia menarik napas panjang, mencoba menguatkan dirinya, meski dadanya terasa seperti diremas.

"Ayah… maafin Raya ya… Raya belum sempat bikin Ayah bangga sepenuhnya. Raya masih sering ngeluh, masih sering manja…” bibirnya bergetar. “Padahal Ayah selalu kuat… selalu jadi sandaran buat kita semua…”

Tangannya semakin menggenggam.

"Tapi Ayah tenang ya…” lanjutnya, suaranya mulai berubah—masih rapuh, tapi ada keteguhan yang perlahan tumbuh. “Mulai hari ini… Raya janji…”

Raya membuka matanya, menatap wajah ayahnya yang kini tak lagi bisa membalas.

"Raya akan mewujudkan semua cita-cita Ayah.”

Air matanya jatuh lagi, tapi kali ini ia tidak terisak. Ia berbicara dengan keyakinan yang pelan namun pasti.

"Raya akan jadi kuat… seperti yang Ayah mau. Raya akan jaga ibu, Rakha… jaga Rana… Raya akan gantiin Ayah semampu Raya.”

Ia mengusap lembut tangan ayahnya, seperti dulu saat ayahnya menenangkannya.

"Raya juga akan buktiin ke dunia… siapa Raya sebenarnya.”

Suaranya sedikit meninggi, bukan karena marah—tapi karena tekad yang mulai menyala.

"Raya bukan perempuan lemah… bukan perempuan yang bisa dihancurkan begitu saja.”

Ia menunduk, dahinya menyentuh tangan ayahnya.

"Suatu hari nanti… Raya akan berdiri di tempat yang tinggi… dan semua orang akan lihat… bahwa Raya adalah anak Ayah… yang tidak pernah menyerah.”

Tangisnya pecah lagi, namun di sela itu terselip senyum tipis yang penuh luka.

"Dan saat hari itu datang…” bisiknya pelan, "Raya mau Ayah bangga… walaupun Ayah gak ada di sini lagi…”

Ia terdiam sejenak.

Lalu, dengan suara yang hampir seperti doa—

"Tunggu Raya ya, Yah… Raya pasti bisa…”

Dalam diam, di tengah isak tangis dan doa yang mulai dilantunkan—

Setelah mengucapkan janji di dekat jasad ayahnya yang terbujur kaku, Raya juga bersumpah. Ia akan membalas semuanya.

Kamil Riza Mahendra adalah awal dari kehancuran hidupnya hari ini.

Dan Raya tidak akan membiarkan itu berlalu begitu saja.

"Hancurku hari ini…” batinnya lirih, "akan kubalas… berkali lipat." Tekad Raya.

Terpopuler

Comments

Jamayah Tambi

Jamayah Tambi

Bagus Raya,jangan mauvdipermalukan lelaki itu.Talak 3 lagi.Kamu tak rugi apa2 Raya.Saman malu Si Kamil,Saman ganti rugi,saman atasckematian ayah mu.Kerana dia ayah mu dierang sakit jantung terus meninggal.Jadi eanita yg tak punya hati lepas ni.Hindarkan rasa cinta dan kadihan pada musuh.

2026-08-26

0

Siti Saodah

Siti Saodah

padahal kalo gak mau di jodohin tolak aja, jangan nunggu akad dlu lalu di cerein klo kaya gitu jahat banget

2026-08-17

0

Ria Gazali Dapson

Ria Gazali Dapson

tega banget c kamil, langsung talak 3, apa kesalahan nya raya n kel

2026-07-21

1

lihat semua
Episodes
1 1. Menikah
2 2. Tekad Raya
3 3. Pemakaman
4 4. Ketika Penyesalan Tak Datang
5 5. Dihujat
6 6. Sesal Bu Rahma
7 7. Doa Raya
8 8. Dipecat
9 9. Demi Ego
10 10. Bu Aida Pergi
11 11. Berawal Dari Percakapan Itu
12 12.Lamunan Raya
13 13. Amarah Kamil
14 14. Pertemuan Pertama
15 15. Menyalahkan Orang Lain
16 16. Pagi Yang Berbeda
17 17. Bukan Siapa-siapa
18 18. Melawan
19 19. Ditahan
20 20. Yang Disalahkan
21 21. Di Kantor Polisi
22 22. Penangguhan Penahanan
23 23. Dipaksa Menjauh
24 24. Permohonan Laporan Dicabut
25 25. Maaf Yang Dipaksakan
26 26. Diterima Kerja
27 27. Bayangan Amanda di Benak Kamil
28 28. Ditinggalkan
29 29. Mengaku Hamil
30 30. Menghubungi Kamil
31 31. Permohonan Amanda
32 32. Diundang Podcast
33 33. Dilamar Amanda
34 34. First Kiss
35 35. Izin Dari dr. Andra
36 36. Ditembak Jadi Narasumber Internal
37 37. Jadi Talent
38 38. Saat Raya Bersinar
39 39. Bukan Sekedar Imajinasi
40 40. Jebakan Yang Tak Terlihat
41 41. Saat Andra Mulai Melunak
42 42. Diantara Luka Lama dan Rasa Baru
43 43. Dari Sketsa Menjadi Nyata
44 44. Akad Yang Tak Terucapkan
45 45. Permainan Yang Terlalu Jauh
46 46. Mematangkan Konsep
47 47. Batas yang Kembali Terlewati
48 48. Wanita Di Masa Lalu Andra
49 49. Rumah Yang Hangat
50 50. Pagi yang Tak Lagi Biasa
51 51. Tiga Tahun yang Hilang
52 52. Ketika Cinta Harus Dipertanggungjawabkan
53 53. Langkah yang Tak Terhenti
54 54. Pak Hasan Kembali Murka
55 55. Pagi yang Penuh Kejutan
56 56. Mengenal Mereka Lebih Dekat
57 57. Badai Tanpa Angin
58 58. Diantara Ingatan Yang Samar
59 59. Cinta di Hadapan Penolakan
60 60. Nama yang Belum Diakui
61 61. Cinta yang Dipertanyakan
62 62. Wanita di Balik Luka
63 63. Obrolan di Ruang Keluarga
64 64. Langkah Nekad Amanda
65 65. Senyum yang Berbeda Arti
66 66. Hati Orang Tua yang Hancur
67 67. Senyum Kecil di Rumah Raya
68 68. Raya di Mata Pak Hasan
69 69. Satu Pengakuan
70 70. Lamaran Demi Menutup Aib
71 71. Hari Ketika Semua Berakhir
72 72. Kembali Ke Indonesia
73 73. Keputusan Yang Tidak Dapat Ditunda
74 74. Malam Penuh Penyesalan
75 75. Wajah dari Masa Lalu
76 76. Salting di Pagi Hari
77 77. Ruang Meeting atau Ruang PDKT?
78 78. Make Over dan Make Baper
79 79. Kejutan Di Pagi Hari
80 80. Antrean Untuk Masa Lalu
81 81. Pasien Bernama Masa Lalu
82 82. Tenang Itu Bernama Raya
83 83. Curhat di Ruang VIP
84 84. Pembuktian Seorang Raya
85 85. Rahasia yang Mulai Tercium
86 86. Jadi Bintang Tamu
87 87. Suara yang Dirindukan
88 88. Tiada Hari Tanpa Dijahili
89 89. Pertemuan dan Perbandingan
90 90. Malam Penuh Pengakuan
91 91. Lampu Hijau untuk Raya
92 92. Ucapan Selamat Tidur
93 93. Wanita Masa Depanku
94 94. Ketika Kenyataan Menampar
95 95. Di Ambang Pintu Maaf
96 96. Panggilan Sebelum Tidur
97 97. Perasaan Kontras Kamil VS Amanda
98 98. Undangan Makan Malam
99 99. Lamaran Tidak Langsung
100 100. Pulang Seorang Diri
101 101. Amanda Mengandung Anakku?
102 102. Semakin Dekat Ke Pelaminan
103 103. Berpacu Dengan Waktu
104 104. Mengaku Mempelai Pria
105 105. Sebuah Suara Lantang
106 106. Disuruh Memilih
107 107. Saat Amanda Menjatuhkan Pilihan
108 108. Dan Ijab Kabul Itu Terucap
109 109. Berita Itu Sampai Ke Raya
110 110. Hari Ketika Keadilan Itu Datang
111 111. Pernikahan yang Menghebohkan Negeri
112 112. Luka yang Diputar Berulang Kali
113 113. Gunting Pita
114 114. Ketika Mimpi dan Cinta Bertemu
115 115. Apa yang Kau Tanam Itulah yang Kau Tuai
116 116. Dibalik Kepanikan Kamil
117 117. Di Balik Topeng Kesedihan
118 118. Tidak Ada Kejahatan yang Sempurna
119 119. Takdir Menemukan Jalannya
Episodes

Updated 119 Episodes

1
1. Menikah
2
2. Tekad Raya
3
3. Pemakaman
4
4. Ketika Penyesalan Tak Datang
5
5. Dihujat
6
6. Sesal Bu Rahma
7
7. Doa Raya
8
8. Dipecat
9
9. Demi Ego
10
10. Bu Aida Pergi
11
11. Berawal Dari Percakapan Itu
12
12.Lamunan Raya
13
13. Amarah Kamil
14
14. Pertemuan Pertama
15
15. Menyalahkan Orang Lain
16
16. Pagi Yang Berbeda
17
17. Bukan Siapa-siapa
18
18. Melawan
19
19. Ditahan
20
20. Yang Disalahkan
21
21. Di Kantor Polisi
22
22. Penangguhan Penahanan
23
23. Dipaksa Menjauh
24
24. Permohonan Laporan Dicabut
25
25. Maaf Yang Dipaksakan
26
26. Diterima Kerja
27
27. Bayangan Amanda di Benak Kamil
28
28. Ditinggalkan
29
29. Mengaku Hamil
30
30. Menghubungi Kamil
31
31. Permohonan Amanda
32
32. Diundang Podcast
33
33. Dilamar Amanda
34
34. First Kiss
35
35. Izin Dari dr. Andra
36
36. Ditembak Jadi Narasumber Internal
37
37. Jadi Talent
38
38. Saat Raya Bersinar
39
39. Bukan Sekedar Imajinasi
40
40. Jebakan Yang Tak Terlihat
41
41. Saat Andra Mulai Melunak
42
42. Diantara Luka Lama dan Rasa Baru
43
43. Dari Sketsa Menjadi Nyata
44
44. Akad Yang Tak Terucapkan
45
45. Permainan Yang Terlalu Jauh
46
46. Mematangkan Konsep
47
47. Batas yang Kembali Terlewati
48
48. Wanita Di Masa Lalu Andra
49
49. Rumah Yang Hangat
50
50. Pagi yang Tak Lagi Biasa
51
51. Tiga Tahun yang Hilang
52
52. Ketika Cinta Harus Dipertanggungjawabkan
53
53. Langkah yang Tak Terhenti
54
54. Pak Hasan Kembali Murka
55
55. Pagi yang Penuh Kejutan
56
56. Mengenal Mereka Lebih Dekat
57
57. Badai Tanpa Angin
58
58. Diantara Ingatan Yang Samar
59
59. Cinta di Hadapan Penolakan
60
60. Nama yang Belum Diakui
61
61. Cinta yang Dipertanyakan
62
62. Wanita di Balik Luka
63
63. Obrolan di Ruang Keluarga
64
64. Langkah Nekad Amanda
65
65. Senyum yang Berbeda Arti
66
66. Hati Orang Tua yang Hancur
67
67. Senyum Kecil di Rumah Raya
68
68. Raya di Mata Pak Hasan
69
69. Satu Pengakuan
70
70. Lamaran Demi Menutup Aib
71
71. Hari Ketika Semua Berakhir
72
72. Kembali Ke Indonesia
73
73. Keputusan Yang Tidak Dapat Ditunda
74
74. Malam Penuh Penyesalan
75
75. Wajah dari Masa Lalu
76
76. Salting di Pagi Hari
77
77. Ruang Meeting atau Ruang PDKT?
78
78. Make Over dan Make Baper
79
79. Kejutan Di Pagi Hari
80
80. Antrean Untuk Masa Lalu
81
81. Pasien Bernama Masa Lalu
82
82. Tenang Itu Bernama Raya
83
83. Curhat di Ruang VIP
84
84. Pembuktian Seorang Raya
85
85. Rahasia yang Mulai Tercium
86
86. Jadi Bintang Tamu
87
87. Suara yang Dirindukan
88
88. Tiada Hari Tanpa Dijahili
89
89. Pertemuan dan Perbandingan
90
90. Malam Penuh Pengakuan
91
91. Lampu Hijau untuk Raya
92
92. Ucapan Selamat Tidur
93
93. Wanita Masa Depanku
94
94. Ketika Kenyataan Menampar
95
95. Di Ambang Pintu Maaf
96
96. Panggilan Sebelum Tidur
97
97. Perasaan Kontras Kamil VS Amanda
98
98. Undangan Makan Malam
99
99. Lamaran Tidak Langsung
100
100. Pulang Seorang Diri
101
101. Amanda Mengandung Anakku?
102
102. Semakin Dekat Ke Pelaminan
103
103. Berpacu Dengan Waktu
104
104. Mengaku Mempelai Pria
105
105. Sebuah Suara Lantang
106
106. Disuruh Memilih
107
107. Saat Amanda Menjatuhkan Pilihan
108
108. Dan Ijab Kabul Itu Terucap
109
109. Berita Itu Sampai Ke Raya
110
110. Hari Ketika Keadilan Itu Datang
111
111. Pernikahan yang Menghebohkan Negeri
112
112. Luka yang Diputar Berulang Kali
113
113. Gunting Pita
114
114. Ketika Mimpi dan Cinta Bertemu
115
115. Apa yang Kau Tanam Itulah yang Kau Tuai
116
116. Dibalik Kepanikan Kamil
117
117. Di Balik Topeng Kesedihan
118
118. Tidak Ada Kejahatan yang Sempurna
119
119. Takdir Menemukan Jalannya

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!